Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Nala Hilang


__ADS_3

Ini merupakan kali kedua Naz menginjakkan kaki di gedung bertingkat tinggi yang berlogokan Akbarsyah Group, bedanya kali ini Naz tidak perlu mendatangi resepsionis dulu dan para penjaga keamanan pun yang bertemu dengannya menyapa dengan ramah dan segan karena Naz datang bersama Arfin yang menggendong Nala, sementara Naz membawakan tas koper kecil bergambar Barbie dan membawa jaket bulu milik Nala di lengannya. Nampak resepsionis menundukkan kepalanya saat mereka melewatinya, sepertinya dia mengingat Naz yang pernah dikerjainya tempo hari karena Naz saat itu datang dengan menggunakan sandal jepit serta kantong kresek hitam ditangannya.


Arfin langsung membawa mereka ke ruangan Nervan dan mengajak mereka duduk di sofa tamu yang ada di ruangan itu. Naz mengeluarkan buku gambar dan crayon yang ada dalam tas Nala yang sengaja dibawanya agar Nala punya kegiatan dan tidak merasa bosan sehingga nantinya tidak mengganggu Nervan kerja. Buku gambarnya diletakan di atas meja sedangkan Nala menggambarnya sambil berdiri di pinggiran meja tersebut.


“Nala mau gambar apa?”, tanya Naz yang melihat Nala sudah mulai mencorat- coret buku gambar tersebut dengan crayon, sedangkan Arfin nampak sedang memeriksa beberapa berkas yang dibawanya ke meja kerja Nervan.


“Nala mau gambal ikan”, ucap nala sambil mencorat- coret gak jelas bentuknya hingga beberapa saat dan Naz hanya membiarkannya berkreasi sendiri, sedangkan ia memainkan ponselnya sambil duduk bersender di sofa.


Setelah beberapa saat Nala menghampiri Naz, “Kaka,,, Papa mana? Katana Nala kesyini mahu ketemu Papa, kok Papa nya endak ada?”, Tanya Nala yang tak kunjung melihat kehadiran Nervan.


“Sebentar lagi juga Papa datang,, ayo kita gambar lagi,, kaka bantuin ya”, Naz mengalihkan perhatian supaya Nala tidak merasa bete.”Nala mau gambar apa lagi?”, tanya Naz sambil membuka lembaran baru yang kosong karena yang sebelumnya sudah dipenuhi coretan warna- warni gak jelas.


“Nala mahu gambal Mama cama Papa cama Nala”, Nala ternyata ingin menggambar sebuah keluarga yang membuat Naz diam sejenak menatap sendu pada Nala. “Kaka,, ayo,, bikin gambal Mama cama Papa cama Nala”, Nala merengek sambil menarik tangan Naz karena permintaannya tidak digubris oleh.


“Ah,, iya iya ,,, sini tangan Nala nya pegang crayon, nanti kaka bantu gambar ya,,, nah begini,,,”, Naz membantu menggerakkan tangan Nala untuk menggambar sesuai keinginannya dengan gambar ala- ala anak TK, dan setelah melihat hasilnya Nala sangat senang.


“Wah,, Nala syuka Nala syuka ,,,, holeee,,, Nala bisa gambal Mama Papa Nala”, ucapnya sambil jingkrak- jingkrak mengangkat kedua tangannya, “Nanti Nala mahu kacih ini ke Papa, “, ucapnya antusias.


Naz tersenyum bahagia melihatnya, “Eits,, tapi ingat ya,, nanti kalo Papa datang harus manggil apa? Kan kita lagi main rahasia- rahasiaan”, Naz kembali mengingatkan takutnya Nala lupa.


“Panggil Om Evan,,, tapi mana kok Papa beyum ada”, tanya Nala sambil melihat ke arah pintu.


“Em,,, gimana kalo Nala gambar yang lain lagi ya, Naz kembali membuka lembaran baru buku gambarnya, karena khawatir gambar keluarga itu akan dicorat- coret dan Nala pun kembali berkreasi, sedangkan Naz berjalan menghampiri Arfin di meja kerja.


“Aa,,, Bang Evan nya kemana? Kok gak nongol- nongol sih udah jam sembilan gini?”, tanya Naz yang sudah stay di kantor bersama Nala sejak setengah delapan pagi di ruangan kerja Nervan.


“Gak tahu,,, biasanya kalo ke makam mama nya gak lama gini,, masa iya dia ketiduran di sana kan gak mungkin,,”,


“Kasihan,, kayaknya Nala sudah mulai jenuh itu, dari tadi nanyain Bang Evan terus”, ucap Naz.


Ceklek ,,,, terdengar suara pintu terbuka dan munculah Nervan dari balik pintu dengan wajah yang nampak kesal dan tengah menahan amarah.


“Om Evan”, Nala yang melihat kedatangan Nervan langsung menyudahi kegiatannya lalu berlari menghampiri Evan kemudian memeluk kakinya.


“Lepaskan,,, !! “, ucapnya pada Nala sambil memelototinya, Naz dan Arfin dibuat kaget melihatnya.


“Om,,,,” Nala memanggil sambil menatap mata Nervan.


“Lepaskan Nala !!”, Nervan kembali menyuruh Nala melepaskan pelukan pada kakinya sambil menggoyangkan kakinya, sedangkan Nala malah semakin erat memeluk kaki Nervan.


“Lepaskan Syanala !!”, Nervan berteriak dan melepaskan tangan Nala dengan kasar dari kakinya hingga tubuh Nala terdorong sampai jatuh.


“Nala ,,,!!”, teriak Naz dan Arfin berbarengan, mereka bergegas menghampiri Nala.


“Huaaaaaaaaaaaaa,,,,,,, Huaaaaaaaaa….. Om jahat,,,,, huaaaaaa”,Nala langsung menangis histeris.


“Lo kenapa sih Bang?”, Tanya Arfin dengan nada kesal.


“Pergi kalian semua dari sini,,,, tinggalkan ruangan ini sekarang juga !! ”, seru Nervan dengan nada tegas sambil menunjuk ke arah pintu.


“Huaaaaa,,,, Papa jahat,,, hwaaaaaaaa”, Nala menangis semakin kencang, lalu Arfin mengajak Naz yang menggendong Nala keluar dari ruangan Nervan.


“Apa Bang Evan selalu begitu setiap di hari ulang tahunnya?”, Tanya Naz sambil berjalan yang kasihan melihat Nala yang menjadi pelampiasan kemarahan Nervan.


Arfin yang terlihat masih syock hanya di tanpa kata, lalu membawa mereka masuk ke ruangannya. Nala terus menangis histeris, Naz dan Arfin pun terus berusaha menenangkannya.


“Hwaaaaaa,,, Papa jahat,,, Papa jahat,,, hwaaaaaa… “.


“Sssssttttt,,,, ssstttt,,, udah sayang jangan nangis lagi,,, Papa gak jahat, Papa baik kok, Papa cuman lagi sedih aja, jadi dia pengen sendirian”, Naz mencoba menenangkan Nala yang duduk di pangkuannya.


“Iya Nala,,, Papa gak jahat kok,, Papa kan sayang sama Nala,,, Nala udahan nangisnya ya,”, Arfin pun ikut menenangkan.


“Huwaaaaaa,,,,,,, huwaaaaaa,,,, “, Nala masih tidak berhenti menangis sampai ia sesenggukan.


“Nala sayang udah dong nangisnya,, nanti kamu capek,,, Papa seperti itu karena sedih sudah gak punya mama lagi soalnya mama nya sudah meninggal sudah di surga, kalo Nala kan masih punya mama,, iya kan?”, ucapan Naz mulai menghentikan tangisan Nala.


“Nala mahu pulang….”, rengeknya sambil sesenggukan.


“Iya,, kita akan pulang ya,, tapi tas sama jaket Nala ada di ruangan Papa,,, nanti diambil dulu ya”, ucap Naz.


“Ndak mahu,,,, Nala ndak mahu kesyana, Nala tatuttt” , Nala menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


" Iya nanti biar kaka saja yang ke sana", ucap Naz.


Tok tok tok….. terdengar ada suara ketukan pintu.


“Masuk,,, !“, seru Arfin.


Masuklah seorang wanita cantik dari balik pintu dan menghampiri Naz dan Arfin yang tengah duduk di sofa, “Maaf Pak, saya mengganggu,,, itu Pak,, emm,,, Pak Arsyad mengamuk di ruangannya dan mengobrak- abrik barang yang ada di sana, mungkin Pak AL bisa menenangkan beliau”, sekertaris Nervan melapor pada Arfin.


“Apa ? “, Tanya Arfin yang terkejut lalu menoleh ke arah Naz, “Aku ke ruangan Bang Evan dulu”.


“Aku ikut… aku mau ambil jaket dan tas Nala juga tas dan ponselku di sana,,, nanti aku mau bawa Nala pulang”, Naz berdiri sambil menggendong Nala yang masih sesenggukan pacsa menangis.


“Nala ndak mahu kesyana, tatut….”, Nala merengek sambil sesenggukan.


“Kinar, saya titip Nala sebentar, tolong temani dia disini”, Arfin meminta bantuan Kinar.


“Kalo gitu Nala tunggu sebentar sama tante ini ya,, kaka ambil tas sama jaket Nala dulu biar kita bisa pulang ya”, ucap Naz dan Nala pun mengangguk, lalu Naz mendudukan Nala di sofa ditemani Kinar sekertarisnya Nervan, kemudian Naz pergi bersama Arfin menuju ruangan Nervan.


Saat sampai di depan pintu ruangan Arfin langsung membuka pintu, dan benar saja ruangan itu sangat berantakan, berkas, buku- buku dan barang lainnya berserakan di lantai. Terlihat Nervan tengah duduk di meja kerjanya sambil menundukkan kepala dengan menopang kan kedua tangannya yang memegang kepalanya sepertinya ia nampak frustasi.


Arfin dan Naz melangkah masuk ke dalam dan menghampiri Nervan yang ternyata menyadari kedatangan mereka dan langsung mengangkat kepalanya menatap tajam pada kedua sejoli yang berdiri berdampingan itu, “Apa maksud kalian mendekatkan anak itu dengan ku, hah?”, tanyanya dengan penuh kemarahan.


“Maksud Abang apa?”, tanya Arfin.


Brakkk ,,,, Nervan menggebrak meja lalu berdiri, “ Hehh ,,, tidak usah pura- pura lagi kalian berdua,, aku sudah tahu siapa anak itu sebenarnya”, ucapnya dengan tersenyum sinis.


Naz dan Arfin langung terkejut mendengar perkataan Nervan itu. “Kalau Abang tahu kenapa Abang marah?”, Naz yang takut melihat raut wajah Nervan memberanikan diri bertanya.


Nervan melangkah mendekati Naz dan Arfin sehingga mereka berdiri saling berhadapan, “Bagaimana aku tidak marah, kalian mendekatkan anak dari wanita murahan itu pada ku,, apa maksud kalian hah?”, tanyanya garang.


“Siapa yang Abang bilang wanita murahan, Kak Humaira?”, Naz mulai kesal.


“Diam,,,!! jangan pernah berani- berni menyebut nama wanita murahan itu di hadapanku”, Nervan menunjukkan jari telunjuk ke arah wajah Naz.


“Kenapa harus tidak berani ,,, Kak Humaira,,, kak Maira,, Kak Salma,,, kak Humaira Assalma Pratiwi”, ucap Naz seolah mengolok- olok.


“Diaaaaammmm,,,!! ", Nervan berteriak sambil menutup kedua telinganya lalu membalikan badan nya dengan deru nafasnya yang nampak berat karena sudah dipenuhi amarah.


“Heh,,, kenapa,,,? Apa Abang takut mendengar namanya hah”, tanya Naz seolah menantang.


“Sekarang aku tahu Bang kalau kau hanya seorang pengecut yang hanya mendengar nama seorang wanita saja sudah ketakutan seperti itu”, Naz malah memancing kemarahan Evan.


Nervan kembali membalikan badannya, “Aku tidak takut sama sekali pada wanita murahan itu”, ucap Nervan percaya diri.


“Hah,,, tidak takut Abang bilang,,? Abang itu takut,, takut menghadapi kenyataan karena Abang masih mencintai Kak Maira dibalik kebencian yang Abang rasakan karena mengira dia sudah menghianati Abang, iya kan,,, “, Naz memulai aksinya karena sudah kepalang basah.


“Jangan sok tahu kamu,,, aku sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya, hanya rasa benci yang tersisa”, Nervan menyangkal.


“Heh,,, kalau Abang membencinya, untuk apa Abang menangisinya saat di danau, kalau Abang membencinya kenapa Abang takut untuk meninjakan kaki di Panti asuhan tempat ia tinggal dulu? Abang masih sangat mencintainya dan tidak bisa melupakannya sekeras apa pun Abang berusaha dan sesering apa pun Abang berganti pacar, Abang bukan membencinya tapi hanya marah pada Kak Maira”.


“Diaaaaamm,,,,!! jangan sebut nama wanita murahan itu lagi”, teriak Nervan.


“Wanita murahan wanita murahan sejak tadi itu saja yang kau katakan, dia bukan wanita murahan, dan dia punya nama, Humaira Asalma Pratiwi”, Naz mulai marah.


“Lalu sebutan apa yang pantas untuk wanita yang meninggalkan suaminya dalam keadaan koma yang sedang berjuang antara hidup dan mati, sedangkan dia malah pergi bersama laki- laku lain dan megajukan pembatalan nikah, hah? Apalagi selain sebutan wanita murahan ? Pel*cur?”,Nervan mempertanyakan.


Plakkk,,,, Naz yang sudah dipuncak emosi langsung melayangkan tamparan ke pipi kanan Nervan.


“Rheanazwa, jaga batasan mu!”, seru Arfin .


Naz tidak menghiraukan perkataan Arfin dia terus menatap Nervan dangan tatapan kemaarahan, ” Apa kau tau hah,,, apa yang sudah dilakukan wanita yang kau sebut murahan itu untuk mu?,, Apa kau tahu apa alasan sebenarnya wanita yang kau sebut murahan itu meninggalkan mu?,,, “, Naz bertanya dengan menahan amarah di dadanya, sedangkankan Nervan masih diam mematung dengan deru nafas berat.


“Dia meninggalkan mu karena setelah kecelakaan itu dia mengalami kebutaan dan tidak ingin menjadi beban bagimu, Dia meninggalkan mu karena untuk menyelamatkan nyawamu, seseorang memberitahunya bahwa kau mengalami koma dan hanya bisa hidup dengan bantuan alat medis, dan orang itu mengancam Kak Maira, jika dia tidak meninggalkan mu maka semua alat medis penyokong hidupmu akan dilepas. Dia lebih memilih pergi meninggakan mu dari pada membiarkan mu MATI !”, ucap Naz dengan menekankan kata mati, sambil menghapus air matanya saking marahnya sampai menangis.


Nervan berjalan mundur perlahan lalu menyenderkan tubuhnya ke dinding tembok saat mendengar perkataan Naz yang membuatnya sangat terkejut, “Lalu kenapa dalam video itu dia membuat pengakuan seperti itu dan mengirimkan ku surat pembatalan nikah,, dan aku sudah memeriksanya pada pakr telematika jika rekaman video itu asli bukan rekayasa” Nervan tidak percaya pada omongan Naz.


“Ya,,, rekaman itu memang asli, tapi dia melakukaknya karena orang itu mengancam akan melakukan sesuatu pada kandungan Kak Maira dan dia tidak ingin siapapun menyakiti anakmu, Bang,, dan sekarang Abang pasti tahu bagaimana mungkin orang buta bisa menandatangani sebuah surat atau dokumen,,, ”.


“Anakku?”, tanya Arfin yang kembali terkejut.


“Iya,,,, setelah dia pergi meninggalkanmu dia baru tahu kalu dia sedang hamil,,, dan itu anakmu Bang,,, “, Ucap Naz dengan terisak, “Coba Abang pikir, jika memang dia mencintai pria lain dan lari dengan pria itu, bagimana bisa dia mempertahankan anak kalian, bisa saja dia menggugurkannya kan bukan?”, ucap Naz lalu berhenti sejenak,

__ADS_1


“Kak Maira tidak pernah menghianatimu Bang,,, dan dia tetap mempertahankan anak dalam kandungannya meski dengan keterbatasannya,,, Coba Abang bayangkan apa yang dirasakannya dalam keadaan buta di hamil lalu melahirkan dan membesarkan anaknya tanpa Abang di sisinya, sampai detik ini pun dia tidak tahu bagaiman rupa anaknya sendiri Bang. Dia memberi nama anak itu Syanala, sesuai keinginanmu bukan? Saat kalian belum menikah Abang bilang jika menikah dan punya anak nanti Abang ingin punya anak perempuan agar bisa sekuat Kak Maira dan yang bisa menjadi sandaran untuk adik- adiknya kelak, dan Abang ingin memberinya nama Syanala bukan?”, Naz terus berbicara untuk menyadarkan Nervan.


Nervan begitu terpukul mendengar semua perkataan yang dilontarkan Naz, ia pun memerosotkan dirinya duduk di lantai dengan kedua kaki di tekuk dan memnundukan kepalanya menangis sejadi- jadinya meluapkan rasa sakit yag menyesakan dadanya.


Naz pun menjatuhkan dirinya hingga ia duduk dilantai dengan terus menangis seolah perasaanya merasa lega telah mengutarakan kebenarannya kepada Nervan, “Sekarang anak itu sangat sedih dengan perlakuan Abang tadi, dia baru bisa berhenti menangis Bang,,, “, ucapnya memberitahuka soal Nala, dan tanpa ia sadari tenyata buku gambar Nala tergeletak di lantai tepat di hadapannya, “Lihat ini Bang, Nala meminta bantuanku untuk menggambar ini, dia sangat ingin berkumpul dengan kedua orang tuanya”, Naz melemparkan buku gambar itu tepat ke hadapan Nervan yang masih tertunduk menangis dan Naz pun terus menghapus air mata yang kembali mengalir membasahi pipinya dengan kedua telapak tangannya.



Arfin menghampiri Naz lalu berjongkok merangkul pundak Naz, “Sayang,, ayo bangun,,, bukankah kamu ingin mengantarkan Nala pulang”, Arfin mengingtakan Naz soal tujuannya datang ke ruangan Nervan dan Naz pun berdiri dengan perlahan, kemudian mereka hendak berjalan menuju sofa tempat tas Nala dan Naz diletakan, namun mereka dikagetkan dengan kehadiran seseorang yang berdiri di depan pintu yang sejak tadi terbuka.


“Papi,,, sejak kapan Papi disitu ?”, tanya Arfin heran.


Beliau melemparkan senyum, “Sejak Abang mu meneriaki pacarmu”, ucap Beliau lalu melangkah masuk mendekati Arfin dan Naz yang nampak gugup karena malu sudah memarahi Nervan, kemudian beliau mendekati Naz lalu mengangkat tangannya.


Naz sangat terkejut menyangka beliau akan menamparnya dan ia pun memejamkan mata,”Yassalam,,, ini mah alamat bakal nerima tamparan pembalasan karena tadi aku menampar Bang Evan,,, nasib,,, “, ucap Naz dalam hati.


“Terimakasih,,,, ‘”, ucap Pak Latief tersenyum sambil mengusap kepala Naz, dan Naz pun langsung membuka matanya lalu melempar senyum walau nampak agak canggung. Kemudian beliau berjalan melewati Naz hendak menghampiri putranya.


Nervan yang mendengar suara Papi nya, menyudahi tangisannya yang sudah membuatnya sedikit lega, saat ia mengangkat kepalanya dan menghapus air mata dengan telapak tangannya, lalu ia melihat gambar yang disebutkan Naz tadi di lantai tepat di hadapannya, hatinya kembali teriris mengingat perlakuannya tadi pada Nala.


“Pak,,, maaf ,, anak yang tadi hilang,, dia sudah tidak ada di ruangan Pak Al Arifin, tadi saya tinggal sebentar karena Pak Gerar meminta file untuk meeting nanti siang, saat saya kembali anak itu sudah tidak ada, Pak”, Kinar tiba- tiba datang membawa berita buruk.


“Apa??”, Naz dan Arfin bertanya bersamaan.


“Kamu di titipin anak sebentar saja tidak becus menjaganya, cepat panggil petugas keamanan untuk segera datang kemari”, cerocos Arfin pada Kinar dan langsung mengelurkan perintah, dan Kinar pun langsung melaksanakannya.


Kemudian Arfin dan Naz yang dengan cepat mengambil tasnya dari sofa langsung bergegas pergi meninggalkan ruangan Nervan dan berjalan cepat menuju ruangan Arfin. Nervan pun yang mendengar itu langsung bangkit dan berlalri mengikuti Naz dan Arfin. Pak Latief yang nampak bingung pun mengikuti mereka.


“Nala kenapa Al?”, tanya Nervan cemas.


“Kinar bilang Nala hilang, tadi aku menitipkannya pada Kinar saat aku ke ruangan Abang”, Arfin menjelaskan.


“Apa,,, ?bagaimana bisa dia hilang”, Nervan pun kaget dibuatnya.


“Aku juga tidak tahu, lebih baik kita mencarinya”, ucap Arfin yang juga panik.


Mereka yang sudah sampai di ruangan Arfin langsung mencari ke setiap sudut ruangan dengan terus memanggil nama Nala, sampai ke kamar mandi juga ke kolong meja pun tak menemukan keberadaan Nala, “Nala dimana A,,, kenapa dia bisa hilang, ini salah ku,, kenapa tadi aku meninggalkannya terlalu lama hiks hiks”, Naz mengkhawatirkan Nala.


“Sudah – sudah jangan menangis,, lebih kita mencarinya ke ruangan lain”, Arfin mengusulkan, kemudian Arfin dan Nervan berpencar mencari Nala ke seluruh ruangan yang ada di lantai 9 tersebut, sedangkan Naz ditemani Dewi sekertarisnya Arfin karena belum tahu selu beluk ruangan disana.


Setelah beberapa saat mereka kembali berkumpul di ruangan Arfin dan tidak ada satupun dari mereka yang menemukan Nala, semuanya nampak panik, dan Naz terus menangis karena takut terjadi sesuatu dengan anak itu, “Gimana ini A,,, dia masih sangat kecil, dia juga baru pertamakali kesini, kalau terjadi sesuatu sama dia gimana,, aku harus bilang apa sama Kak Maira,, hiks hiks… “, Naz yang panik pun kembali menangis.


“Ssstttttt sudah jangan menangis,, kira semua juga menghawatirkannya”, ucap Arfin yang mengusap pundak Naz


“Para penjaga keamanan juga sudah berpencar mencari Nala ke semua tempat di kantor ini, tadi Kinar sudah menyebutkan ciri- ciri Nala dan sempat mengambil fotonya,, jadi masing- masing penjaga sudah memliliki foto Nala. Sebaiknya sekarang kita ke ruang CCTV”, Pak Latief sudah bertindak cepat rupanya.


Mereka pun langsung beregegas ke ruangan CCTV, sesampainya di sana Nervan langsng memerintahkan memutar tayangan setengah jam ke belakang, lalu titahnya itu pun langsung dilaksanakan..


“Yah betul ,, itu dia,,, perbesar tampilan layarnya”, ucap Nervan yang berdiri berempat di belakang sang pemutar video.


Di video tersebut Kinar keluar dari ruangan Arfin dan setelah beberapa saat Nala pun terlihat keluar, kemudian ia berjalan nampak kebingungan melihat kesan kemari, lalu Nala berjalan ke arah lift dimana terdapat beberapa orang yng sedang menunggu lift tersebut, dan saat pintu lift terbuka, Nala pun ikut masuk dengan mereka. Namun setelah itu tidak ada rekamaan Nala keluar dari lift di lantai berapa.


“Kenapa tidak ada yang menunjukan Nala keluar di lantai berapanya,,,,?”, Tanya Naz yang kembali panik.


“Cepat periksa ulang”, titah Nervan.


“Ini sudah semua ruangan Pak,,, tapi… CCTV di lantai 2 dan 5 mengalami kerusakan dan sedang dalam perbaikan sekarang.


“Apa…? kenapa bisa rusak, bodoh?”, Nervan mencengkram kerah baju pegawainya tersebut karena emosi.


“Nervan,, apa yang kau lakukan? Kamera CCTV rusak ya diluar kehendak dia, lepaskan tangan mu,, pikirkan bagaimana cara menemukan anakmu,, dan sekarang bukan waktunya untuk marah- marah”, Pak Latief menasehati.


“Iya Bang,, kalau di rekaman tidak terdeteksi Nala saat turun dari lift, berarti ada kemungkinan dia turun di lantai 2 atau lantai 5, dan sebaiknya kita mencari ke sana,,, “, Arfin menyimpulkan dari hasil rekaman tersebut, lalu ia menoleh ke salah satu penjaga yang ikut dengan mereka, “Reno, perhatikan baik- baik rekaman ini dan panggil orang- orang yang tadi naik lift bersama Nala”, Reno pun melaksanakan titah Arfin sedangkan mereka berempat keluar dari ruang CCTV itu dan hendak berpencar mencari Nala ke lantai 2 dan 5.


Tiba- tiba ponsel Naz berdering dan ia pun segera mengambil ponsel dari dalam tas nya, saat melihat si pemanggil Naz sangat terkejut dan takut menghadapinya,


"Aa,,, Kak Maira menelpon ku,,, bagaimana ini??”, Tanya Naz panik.


.


------------ TBC ----------------

__ADS_1


**********************


Happy reading.....😘


__ADS_2