
“Siapa nama kamu?”,tanya nya lalu membuka dokumen yang diberikan Dilara.
“Ujang, Pak”, jawab pria itu yang membuat Arfin terkejut dan tidak jadi membaca dokumen tersebut, ia kemudian beradu pandang dengan istrinya yang sama- sama terkejut. Namun Naz nampak menahan tawanya karena nama panggilan milik suaminya ternyata sama dengan nama orang yang akan menjadi pengawal serta sopir pribadinya.
“Ganti nama kamu,,,, !!”, Arfin mengeluarkan perintah dengan nada tegas, karena ia tak rela jika istrinya akan memanggil sopir baru nya itu dengan panggilan kesayangan sang istri pada si jagoan miliknya.
“Apa?? Ganti nama saya, Pak?”, Ujang yang terkejut memastikan kalau ia tidak salah dengar.
“Iya,, apa ucapan saya kurang jelas?”, Arfin kembali bicara tegas.
“Aduh,, jangan atuh Pak,, itu teh orang tua saya udah susah- susah ngasih nama itu sejak 30 tahun yang lalu, masa iya sekarang harus diganti? mana nama saya teh kembaran sama Bapak saya ”. Ujang keberatan.
“Kamu sudah tanda tangan kontrak kerja kan,, jadi lakukan apa yang saya perintahkan", Arfin bicara dengan entengnya.
“Aduh Pak,, gimana atuh ini teh,, kalau ganti nama nanti saya teh harus merombak dokumen saya habis- habisan atuh Pak. Mulai dari akte kelahiran, ijazah sekolah, KTP, kartu keluarga, surat nikah, buku rekening, sama SIM,, belum lagi harus tumpengan sama membuat bubur beras putih dan beras merah,,".Ujang berpikir sangat jauh.
Naz dan Arfin tercengang mendengar hal itu,
“Saya tidak menyuruh kamu mengganti total nama kamu,, tapi gantilah dengan nama panggilan lain atau bisa dengan nama belakang mu, bisa kan?”. Arfin memperjelas perkataannya.
“Maksud Bapak, saya di panggil Junior gitu ?”, tanya Ujang.
“Apa??”, Naz dan Arfin yang terkejut bertanya serentak.
“Iya , Junior, Pak,, nama lengkap saya teh Ujang Junior..”.
“Heleh,,, kok gak ada mending nya sih?”, cicitnya."Kenapa nama kamu bisa Ujang Junior?"
"Kan tadi saya teh udah bilang kalau nama saya kembaran sama Bapak saya...karena saya anak laki satu- satunya dari 8 bersaudara,, bapak saya namanya Jajang,, saya namanya Ujang karena takut ketuker jadi pake Junior.. keren atuh Pak.. biar mirip opah- opah Korea yang tergabung dalam grup boyband Super Junior", Ujang menjelaskan panjang lebar, kemudian ia menyisir rambut dengan tangannya, "Kalau sudah di golep ginih, Udah mirip belum Pak?", Ujang malah narsis.
"Iya,,, mirip Sarimin yang mau pergi ke pasar", Arfin bicara dengan ekspresi datar.
"Beuh.. atuh Pak eta mah Ronggeng Monyet", Ujang menyadari Sarimin itu nama monyet yang suka ngamen di pinggir jalan.
"Ya sama aja kan boyband,,, pawang nya yang memainkan alat musik, monyet nya yang joged dan beratraksi", ucap Arfin tak mau kalah telak.
"Tapi kan bisa aja monyetnya itu perempuan, bukan laki- laki... jadi kan bukan boyband atuh Pak", Ujang pun protes.
"Berarti itu girlband,,,",Arfin malah terus meladeni, "Apa- apaan sih jadi ngomongin monyet girlband segala ..", Arfin baru menyadari kekonyolannya.
"Etdah ...orang Pak Bos yang mulai" , Ujang berdalih.
Naz malah cekikikan mendengar percakapan dua orang absurd itu, yang menurutnya nama Ujang Junior itu perpaduan nama panggilan kejantanan laki- laki.
“Sudah begini saja,, mulai sekarang nama panggilan mu saat bekerja U.J,, terserah di luaran sana kamu dipanggil apa,, yang pasti saya dan istri saya akan memanggil kamu dengan sebutan UJ”, Arfin memberi nama panggilan.
“UJ kok jadi mirip panggilan ustad Jefri, ya”, Ujang teringat nama beken salah satu ustad yang terkenal di Indonesia, namun sudah meninggal.
“Terserah,, mau mirip ustad kek, mirip tukang bakso kek, mirip tukang cendol kek,, pokoknya kami akan memanggil kamu UJ,, paham?”. Arfin mempatenkan nama panggilan Ujang.
“Siap 86, Pak”, Ujang memberi hormat bendera.
“Kamu beneran bisa ilmu bela diri kan? Karena saya bukan hanya butuh sopir pribadi, tapi juga butuh bodyguard untuk istri saya...”.Arfin tidak yakin melihat perawakan Ujang.
“Insya Allah atuh Pak,, dijamin,,, saya teh dulunya pernah mengikuti ajang Asia cup pencak silat”,ucap Ujang bangga.
“Terus menang?”, tanya Arfin.
“Enggak sih Pak,, kalah di babak penyisihan,, hehehe,, tapi kalau melawan penjahat, maling, copet, atau rampok mah saya sudah biasa atuh Pak”. Ujang mempromosikan keahliannya.
“Biasa babak belur maksudnya?”, Arfin malah mengejek.
“Enggak atuh Pak, paling lecet sedikit wajar lah,, mereka bisa dikalahkan sama saya teh dengan jurus pencak silat turun temurun dari leluhur saya, atau Bapak mau uji coba saya seperti Pak Lutfi kemarin?”. Ujang menawarkan test drive.
“Gak usah,, saya percaya saja kalau kamu bisa ngalahin Lutfi berarti kamu emang bisa ilmu bela diri”. Arfin tidak mau membuang tenaga, karena ia baru saja keluar dari rumah sakit.
“Iya atuh,, si Ujang tea”, Ujang membanggakan dirinya lagi.
“Jangan pernah menyebut nama itu di depan saya dan istri saya,, ingat itu”,Arfin mengingatkan.
“Iy,, iya Pak… berarti saya teh dipanggil Uje aja atuh ya“. Ujang yang lupa, lalu cengengesan.
“Terserah kamu saja,,, saya perhatikan sepertinya kamu bukan orang Jawa?”. Arfin tak mendengar Ujang bicara medok yang menandakan orang Jawa.
“Saya mah asli sunda tulen atuh Pak”, jawabnya.
“Terus udah berapa lama di Surabaya?”, Arfin kembali bertanya.
“Saya sudah enam tahun di sini Pak,, dan saya sudah hafal jalan di kota atau pun ke pelosok penjuru Surabaya ini, jalan tikus, jalan curut, jalan kecoa pun saya teh hafal ”, Ucapnya memperinci.
“Baguslah kalau begitu,, besok kamu akan mulai bekerja, tapi masih dalam masa training,,”, ucapnya mengakhiri sesi wawancara absurd nya.
“Siap Pak”, Ujang lalu mengulurkan tangannya.
"Apa maksudnya?",Arfin merasa heran.
"Salim dulu atuh sama Pak Bos ", ucapnya, lalu Arfin membalas uluran tangan Ujang, tak disangka ia malah sun tangan layaknya kepada orang tua dan membuat Arfin terkejut, lalu melepaskan tangannya segera.
__ADS_1
“Dilara,, setelah ini saya tidak ada janji dengan siapa pun kan?”, tanya Arfin pada Dilara.
“Tinggal janji dengan Pak Seno yang kemarin sudah saya temui, dan setelah itu tidak ada jadwal sampai sore,, tapi Bapak, Pak Lutfi dan Pak Purnomo nanti malam ada undangan pesta ulang tahun perusahaan Petra group“, Dilara menguraikan schedule Arfin.
“Oke kalau begitu saya akan pergi sekarang, dan kamu segera hubungi Pak Seno, bilang saya akan segera ke sana“, Arfin kemudian menandatangani dokumen serta surat kontrak kerja dengan Pak Ujang yang mulai sekarang dipanggil Uje itu.
"Ini dokumen nya sudah saya tanda tangani semua", ucapnya menutup dokumen yang ia letakan diatas meja, Dilara pun bangkit dan menghampiri.
"Kamu dari mana sih nemu orang ini? emang gak ada kandidat lain apa ?",bisik Arfin.
" Sebelumnya ada lima kandidat lainnya Pak... cuman yang tiga ganteng banget ,yang dua serem banget wajahnya.. kan kata Bapak jangan yang ganteng- ganteng atau yang serem... ya cuman dia yang sesuai kriteria,, bisa nyetir, bela diri, gak serem, gak ganteng, tapi jujur ", Dilara pun berbisik.
Arfin menghela nafas berat, lalu ia bangkit dan ia beranjak pergi mengajak serta istrinya meninggalkan ruangan tersebut.
“Bu,, kenapa atuh Pak Obos teh tidak mau menyebut nama saya ya? perasan teh nama saya mah biasa aja”, Ujang merasa penasaran.
Dilara mengedikkan bahu, “Mungkin nama kamu keramat bagi mereka,,, oh iya ini alamat rumah Pak Arfin, besok pagi kamu harus sudah datang ke sana ya”, Dilara menuliskan alamat rumah Arfin pada sebuah kertas, lalu memberikannya pada Uje.
Keduanya pun beranjak pergi meninggalkan ruangan Arfin, Dilara kembali ke meja nya dan segera menghubungi orang yang disebutkan Arfin tadi, sedangkan Uje pergi untuk kembali pulang.
Saat masuk kedalam lift, Naz akhirnya bisa melepas tawa setelah beberapa menahan tawa nya. Beruntung mereka hanya berdua saja di dalam lift tersebut.
“Hhahhahaa”, Naz tertawa lepas.
“Kamu renyah banget sih ketawanya,, emang ada yang lucu?”, Arfin nampak tersinggung.
“Dari tadi aku pengen ketawa pas Uje bilang namanya Ujang,, aku semakin pengen ketawa saat dia mengatakan nama aslinya Ujang Junior,,, kok namanya pornoo ya,,, hahaha”, Naz kembali tertawa.
“Diam kamu,,, !! gak lucu”, Arfin nampak kesal.
“Hahahaha,,, yang itu namanya Ujang Junior,, yang ini si Ujang”, Naz menunjuk pada si ujang yang bersembunyi di balik celana suaminya.
“Kamu sih ngasih nama kok pasaran banget, itu lagi Dilara kayak gak ada kandidat lain saja,, dan Lutfi lebih parah main asal terima aja lagi tanpa sepengetahuan Aa”, Arfin menggerutu kesal.
“Tapi gak apa- apa kok,, jadi aku ada temen ngobrol bahasa Sunda,, di sini ngomongnya pada medok”, Naz pun berhenti tertawa karena lift nya sudah terbuka, dan keduanya pun keluar.
" Kita kandung pulsng kan?", tanya Naz yang berjalan sambil menggandeng suaminya.
" Enggak..kita mau ke suatu tempat dulu".
“Mau kemana emang?”, Naz merasa penasaran.
“Nanti juga kamu tahu, sayang”, Arfin menoleh padanya lalu tersenyum.
“Aa jangan sampai kecapek-an deh,, kan baru aja sembuh”, Naz mengingatkan.
Keduanya pun pergi meninggalkan kantor tersebut. Selama di perjalanan Naz terus menempel pada suaminya, ia duduk sambil di peluk oleh suaminya, Sesekali ia memainkan jemarinya pada dada bidang milik sang suami, sedangkan tangan Arfin terus mengelus perut Naz.
Mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai di sebuah dealer mobil, Arfin mengajak istrinya turun dan masuk ke dealer tersebut.
“Aa,, kita mau apa ke sini?”, tanya Naz heran.
“Mau beli cilok…. Hahaha”, Arfin malah bercanda.
“Ihhh,, aku nanya bener- bener”, Naz lalu mencubit perut suaminya.
“ Aww... sakit , sayang... ", Arfin meringis.
"Abis Aa jawabnya gak jelas banget, bikin gelay deh", cerocos Naz.
"Ya mau beli mobil dong sayang,, masa iya Aa mencarikan kamu sopir, tapi mobilnya gak ada,, emangnya kalian nanti mau naik apa? digendong sama Uje?”.
“Hahh,,?? Beli mobil?? Apa itu gak berlebihan?? Aku kan punya mobil Di Jakarta, hadiah ulang tahun ku dulu dari Papa sama Opa,, tinggal bawa aja satu ke sini, kan gampang jadi gak usah beli segala,,, jadi uangnya bisa dipakai untuk keperluan lain”, Naz menuruni sifat Bunda yang tak suka pemborosan.
“Gak apa- apa sayang,,, Aa kan pengen beliin kamu mobil dari hasil keringat Aa sendiri”, Arfin benar-benar ingin menyenangkan istrinya.
“Selamat siang Pak Al Arifin”, sapa seorang pria yang ternyata manager di dealer tersebut.
“Selamat siang Pak Seno”, Arfin pun menyapa balik.
“Ibu Dilara sudah menghubungi saya, mari saya akan tunjukan beberapa mobil keluaran terbaru”, Pak Seno mengajak Arfin dan Naz melihat beberapa mobil keluaran terbaru yang ada di dealer tersebut.
Saat sampai di sana terdapat beberapa wanita cantik yang menjadi sales. Naz langsung menggandeng suaminya dan bergelayut manja padanya.
“Kenapa sayang,,, ?”, Arfin merasa heran.
“Enggak apa- apa kok,, pengen deket- deket saja sama Aa”, Jawabnya sambil tersenyum.
Pak Seno menunjukan satu persatu mobil dengan menguraikan spesifikasi mobil tersebut dengan dibantu oleh sales cantik untuk menunjukkan bagian dalam mobil tersebut. Arfin pun mendengarkan sambil melihat- lihat bagian dalam mobil tersebut, dan Naz terus mengekor padanya, seolah takut suaminya diambil orang.
Baru saja melihat dua mobil, Naz langsung memilih mobil yang kedua, nampaknya ia tak mau jika suaminya berdekatan lama-lama dengan wanita lain, apalagi sales itu nampak terus tersenyum ramah pada Arfin. Padahal memang sales itu harus ramah kepada calon pembeli, dasar saja Naz yang cemburuan.
“Aku mau yang ini,,, “, Tunjuk Naz saat mereka akan menuju untuk melihat mobil yang ketiga.
“Enggak lihat- lihat yang lain dulu, sayang?”, Arfin menawarkan.
“Gak mau,,, aku mau pulang,,,”, Naz malah merengek.
__ADS_1
“Oke,,, istri saya mau yang ini ya Pak”, Arfin pun mengikuti keinginan sang istri.
“Udah yuk kita pulang”, Naz terus minta pulang.
“Bentar sayang,, ada beberapa berkas yang harus kamu tanda tangani dulu,,”.
“Mari Pak,, kita ke ruangan saya”, Ajak Pak Seno, Arfin dan Naz pun pergi bersama beliau.
“Dilara kemarin sudah transfer kan? Sisanya berapa lagi untuk mobil yang tadi? biar Dilara yang urus semuanya,,, dan kapan mobilnya bisa di kirim ke rumah saya?”, Arfin melontarkan beberapa pertanyaan.
“Iya Pak,, dalam dua atau tiga hari mobilnya baru bisa dikirim Pak,,, dan ini ada beberapa dokumen yang harus ditandatangani oleh Ibu Rheanazwa, sebagai bukti transaksi jual beli dan untuk pembuatan STNK serta BPKB nya nanti, kalau untuk data nya sudah dikirim oleh Bu Dilara,,”, ucapnya lalu Naz pun menandatangani beberapa dokumen tersebut, kemudian mereka pun pamit pergi.
“Sayang,,, kamu capek ya?”, Tebak Arfin.
“Enggak,,,”, Naz menggelengkan kepalanya.
“Kok pengen cepet- cepet pulang? apa pengen ketemu si Ujang ya?”.
“Abisnya Aa kesenengan dilayani sales yang kecentilan itu,, Aa kayaknya gak ngedip- ngedip tuh lihat wanita cantik tadi”, Naz menggerutu.
“Ya ampun sayang,, Aa tadi lihat- lihat bagian dalam mobil nya aja, enggak ngeliatin sales-nya”, Arfin menepis tuduhan istrinya.
“Bohong,,,mentang- mentang dia cantik, sexy, dan langsing,, Aa terus aja ngelihatin dia,, soalnya sekarang aku udah gendut dan jelek lagi, pastinya udah gak menarik lagi di mata Aa kan,, hiks hiks”, Naz yang sejak tadi merasa kesal akhirnya meluapkannya dengan menangis.
“Ehh,, kok malah jadi nangis,, enggak ko sayang,, siapa yang bilang kamu jelek,,, justru karena kamu lagi hamil, aura kecantikan kamu semakin terpancar… jadi lebih cantik”, Arfin mengeluarkan gombalannya.
“Berarti kemarin- kemarin aku jelek,,,huhuhuhu”, Naz malah semakin menangis.
“Ya enggaklah sayang,,, mau kemarin, sekarang, besok, lusa sampai kapan pun kamu tetap sangat cantik,,,”.
“Tapi sekarang aku gendut,,, huhuhu”, Naz terus menangis.
“Udah dong sayang,, jangan nangis lagi ya,, mau kamu gendut atau langsing, itu gak akan mengubah perasaan Aa sama kamu,, Aa tetap sayang dan cinta sama kamu”, Arfin berusaha meredakan tangisan Naz.
“Tuh kan bener aku gendut,,,, huaaaa”, Naz sensitif sekali rupanya.
“Sayang,,, namanya juga lagi hamil,,, pasti gendut kan”, Arfin mengiyakan kegendutan Naz.
“Huaaaaaa,,,, kalo aku gendut berarti aku jelek dan gak menarik lagi,,, huhuhu”, Naz menangis semakin kencang.
“Enggak kok sayang,, kamu masih langsing tuh lihat,,, kan masih hamil muda”, Arfin terus berusaha menenangkan Naz.
“Aa gak usah bohong bilang aku langsing segala,, perut aku kan udah mulai gendut... huhuh".
“Aduh ampun,, Ya Allah... gini amat ya... gimana ini,,, ngomong jujur salah,, bohong apalagi,, makin salah... maju kena mundur apalagi, nyungsep”, Arfin menjerit dalam hati.
“Sayang,,, udah dong jangan nangis gini,, kasihan kan anaking nanti ikut sedih loh, lagi pula wajar kan kalau orang hamil gendut, itu berarti menandakan bayi yang ada di dalam kandungan sehat, tumbuh dan berkembang dengan baik,, lagi pula nanti habis melahirkan juga bakalan langsing lagi kan,, udah ya jangan nangis lagi,,”, Arfin kemudian memeluk istrinya untuk menenangkannya.
“Oh iya,, nanti malam Aa akan menghadiri pesta ulang tahun rekan bisnis perusahaan, kamu mau ikut sayang?”, Tanya Arfin yang melihat istrinya sudah berhenti menangis, Naz pun mengangguk tanda setuju.
**
Malamnya setelah shalat isya Naz dan Arfin berangkat untuk memenuhi undangan rekan bisnis nya. Keduanya memakai pakaian senada berwarna hitam.
Kali ini Arfin yang menyetir karena sang sopir jam kerjanya hanya sampai sore. Dan sepanjang perjalanan Naz sibuk memainkan ponselnya, ia berkirim pesan sambil ketawa ketiwi.
“Kamu chating sama siapa sih, sayang? girang amat kayaknya”, Tanya Arfin penasaran.
“Biasa, sama geng bontot,,,”,jawabnya dan tak lama raut wajah nya tiba- tiba berubah, yang tadinya ceria kini nampak agak kesal.
Setelah beberapa saat, keduanya tiba di sebuah hotel bintang lima yang merupakan tempat diadakannya pesta tersebut. Arfin dan Naz memasuki ballroom hotel, dan di sana sudah hadir beberapa tamu undangan yang hampir memenuhi tempat duduk yang sudah disediakan di sana.
“Sayang,, Aa ke toilet dulu ya sebentar, di sini juga ada Dilara, Om Aji dan Lutfi,, tuh di sebelah sana”, Arfin menunjuk ke arah teman sekantornya.
“Aa jangan lama- lama ya", ucap Naz.
“Iya sebentar aja kok,, udah kebelet,, gak apa- apa kamu ke sana nya sendirian?”, Arfin memastikan.
“Gak apa- apa,, lagian gak jauh ini kok”, Naz pun paham karena kasihan melihat suaminya sudah kayak cacing kepanasan.
“Yasudah,, Aa pergi dulu ya,, “, Arfin pun langsung beranjak pergi.
“Iya,,, “, Naz kemudian melangkahkan kakinya menuju meja tempat duduk nya Dilara yang berjarak kira- kira 10 meter dari tempatnya berdiri sebelumnya.
Baru saja beberapa langkah ada yang memegang tangan Naz dari belakang, ia pun menghentikan langkahnya. Ia tersenyum beranggapan suaminya itu kembali lagi karena mengkhawatirkan dirinya dan merasa tak tega membiarkannya pergi sendiri menghampiri Dilara, lalu ia membalikan tubuhnya sambil bicara,
“Kok udah balik lagi sih, say____”, betapa terkejutnya Naz saat melihat orang yang memegang tangannya, hingga ia tak melanjutkan perkataannya. Ia pun berusaha melepaskan tangannya dengan kasar, namun orang itu memegang erat tangan Naz.
“Lepaskan,,,!!!”, Naz berontak dengan memberi tatapan tajam pada orang itu yang akhirnya melepaskan tangan Naz.
--------------- TBC --------------
*********************
Happy Reading…..
__ADS_1