
Gak usah dipegangin gitu juga kali, Bos,,, orang gak akan terbang ini black bird nya,, hahaha”.
Arfin terperanjat mendengar suara Lutfi, ia pun langsung melepaskan tangannya dari belahan celananya. Ia mengarahkan pandangan pada asal suara yang ia dengar barusan, dan ternyata di depan pintu bukan hanya ada Lutfi, tapi juga Mbak Juminten, asisten rumah tangganya yang sedang cekikikan.
“Sejak kapan kalian di situ?”, Tanyanya yang merasa kesal sekaligus malu karena ia tahu bahwa mereka sedang menertawakan kelakuannya yang mengelus- elus si ujang milknya.
“Sejak lo berteriak memanggil mertua lo tadi,, kirain lo digebukin sama bini lo,, eh ternyata ada berita tendangan si madun”, Lutfi berhenti tertawa sejenak.
“Diam lo,,,!! mana ada anak gue dikasih nama si Madun”, Arfin nampaknya tidak suka anaknya disebut si madun.
“Hahahaha,,, ya jangan dong,, terlalu ndeso nama itu,,”, Lutfi kembali tertawa.
Arfin mendengus kesal, ia hendak membalas perkataan Lutfi, namun diurungkannya saat melihat Naz yang baru keluar dari kamar mandi bersama Bu Rahmi, ia pun segera menghampiri dan kembali memasangkan kaca mata nya.
“Sayang,,, sini Aa gendong ya “, Arfin tak tega melihat istrinya yang nampak lemas.
“Gak usah A,,, aku bisa jalan sendiri kok,,, “, Naz menolak dan ia pun hanya dituntun saja oleh Arfin sampai ke tempat tidur, ia kembali berbaring di tempat tidur.
“Arfin,, sebaiknya selama kamu bersama Naz, itu asesoris jangan dilepas dulu, supaya dia gak mual muntah lagi”, Bu Rahmi memberi saran sambil mengambil minyak kayu putih yang diletakan di atas lemari laci kecil sebelah tempat tidur.
“Iya,, Ma,,,” Arfin mengangguk.
“Mama bikinin larutan gula merah ya,, supaya kamu gak merasa eneg dan gak lemas lagi”, beliau beralih pada Arfin,
“Ar, kamu temani Naz di sini,, tolong balur pungguk nya pakai minyak kayu putih, nih”, Bu Rahmi memberikan botol kayu putih pada Arfin, kemudian beliau pun beranjak pergi untuk membuatkan minum. Lutfi dan Mbak Jum pun ikut keluar setelah melihat Naz baik- baik saja.
Arfin mengoleskan minyak kayu putih pada pungguk Naz, lalu Naz minta sedikit untuk dioleskan pada kepalanya.
“Masih pusing, sayang?”, tanya nya yang masih khawatir.
“He em,,,”, Naz yang nampak lemar menganggukkan kepalanya.
“Kamu istirahat ya,, Aa keluar dulu”, Arfin tak tega jika ia terlalu lama di sana akan membuat istrinya kembali mual muntah.
“Aaahh,,, jangan pergi,,, sini berbaring di sini,,, aku masih kangen sama Aa”, Naz merengek tak mau ditinggalkan oleh suami yang sangat dirindukannya itu.
Arfin pun menuruti keinginan istrinya, karena tak dapat dipungkiri, ia pun sangat merindukan Naz. Arfin naik ke tempat tidur, ia berbaring di sisi lain ranjang tersebut sehingga ada jarak antara dirinya dengan sang istri.
“Kok jauh- jauhan gini,??, sini,,,,”, Naz meminta Arfin agar berdekatan dengannya dengan nada manja.
“Sayang,, kalau kita berdekatan, nanti kamu mual muntah lagi,, Aa gak tega lihatnya,, kamu sampai lemas gitu”, Arfin yang sebenarnya ingin sekali berdekatan dan memeluk istrinya pun menahan dirinya, karena takut Naz kembali mual muntah.
“Kan wajahnya udah ditutup kacamata sama masker, jadi gak kelihatan jelas,, ayok sini mendekat”, Naz terus merengek agar suaminya mendekat padanya.
Arfin pun menuruti keinginan istrinya, walau sebenarnya itu sangat berat baginya, tiduran seranjang berjauhan saja membuat si ujang serasa kesetrum, apalagi harus berdekatan, ia harus mengubur dalam- dalam hasratnya yang sudah ditahan selama satu setengah bulan.
“Peluk,,,,..”, Naz merentangkan tangannya sambil bicara dengan nada manja, Arfin pun tak bisa menolaknya, ia pun hanya bisa pasrah terus mengikuti keinginan istrinya.
Keduanya tidur dengan posisi menyamping saling berhadapan, dan kini saling berpelukan.
Setelah beberapa saat, Naz pun melepaskan diri dari pelukan suaminya, dan ia kembali berbaring terlentang. Arfin kemudian mengelus- elus perut istrinya, yang biasa dilakukannya dulu sebelum Naz kabur.
“Sekarang pangling ya,, perut kamu sudah terlihat layaknya wanita hamil pada umumnya”, Arfin tak hentinya mengulas senyum sembari terus mengelus perut Naz.
“Iya,,, dulu kan anaking baru sebesar biji kacang,,, kalau sekarang ada kali sebesar buah apel,, dokter bilang kalau usia kandungan 15 minggu itu, baby nya sekitar 10 cm panjangnya tuh,, tapi kalau pengen lebih jelas lagi nanti sabtu kan waktunya checkup”, Naz memberitahukan sang suami mengenai bayi yang ada dalam kandungannya.
“Berarti kita sudah bisa lihat jenis kelamin anaking, ya? Aa udah gak sabar pengen tahu, hasil karya Aa ini laki- laki atau perempuan”, ucapnya antusias.
“Iya,,, tapi,,, aku gak mau lihat itu sayang? “, Naz nampaknya tak seantusias Arfin.
“Maksudnya? Kamu gak mau lihat anak kita?”, Arfin merasa heran.
“Bukan gitu Aa,, Aku selalu semangat kalau saatnya checkup,, karena akan bertemu anaking walau sekedar melihatnya di layar,,, Tapi aku gak mau lihat jenis kelaminnya,, biar pas lahir nanti kejutan,, yang penting kan kita tahu kalau anaking dalam keadaan sehat dan tanpa kekurangan sesuatu apa pun”, Naz memberi penjelasan maksud dari perkataannya.
“Terus nanti gimana kita beli perlengkapan bayi nya kalau gak tahu jenis kelaminnya? Biasanya kan suka mencari warna yang sesuai jenis kelamin,, misalkan kalau perempuan identik dengan warna pink, kalau laki- laki biasanya warna biru”, Ternyata Arfin sudah berpikir sampai ke sana.
“Ya kita belinya warna netral saja, yang bisa dipakai bayi laki- laki dan juga perempuan,, menurutku tinggal menghindari warna pink saja atau pakaian khusus bayi perempuan,, lagi pula kan kalau pakaian bayi baru lahir ya masih umum kan,, jarang ada rok- rok gitu”, Naz nampaknya sudah sedikit tahu tentang pakaian bayi baru lahir.
“Berarti kita harus menyiapkan dua nama juga dong,, nama untuk anak laki- laki dan perempuan”, Arfin teringat kalau mereka belum pernah membicarakan pemberian nama untuk bayi mereka nanti, karena tidak mungkin ia akan dipanggil anaking jika sudah lahir nanti.
“Iya,, lagi pula kalau salah satu namanya gak terpakai, kan nanti bisa untuk anak kedua kita misalnya”.
“Hah,, ??emangnya kamu mau langsung nambah anak lagi sayang?”, Arfin terkejut mendengarnya.
“Ya enggaklah A,,, dikasih jarak dulu dong,,, kan aku pengen menyelesaikan kuliah dulu sayang kan udah sebulan lebih mulai kuliahnya,,”, Naz memperjelas maksud perkataannya.
__ADS_1
“Sudah mulai kuliah? Maksudnya gimana? Kok Aa tambah bingung”, Arfin berhenti mengelus perut Naz dan menatapnya dengan raut wajah serius serta bingung.
Naz terkekeh melihat ekspresi wajah suaminya, “Iya,, aku udah mulai masuk kuliah, setelah seminggu bedrest, aku checkup ke dokter dan sudah sehat sepenuhnya. Kebetulan sebelumnya udah dikasih tahu jadwal kuliah,, Aku pun mulai masuk kuliah, tapi aku selalu memaki topi dan masker, karena masih mau petak umpet sama Aa yang selalu datang ke kampus mencari ku”, ucapnya kembali terkekeh.
“Apa?? Jadi kamu tahu sering lihat Aa di kampus, terus kenapa gak pernah nyamperin? “, Arfin tak habis pikir dengan kelakuan istrinya yang seolah sengaja mengerjainya.
“Aku gak pernah lihat Aa, karena Aa ke kampusnya suka pagi- pagi banget,,, aku tahunya dari Kristina,, terus kami berdua bertemu Uje yang melihat ku saat tak pakai masker”, Naz melanjutkan penjelasannya.
“Apa?? Jadi Uje bertemu dengan mu di kampus? Kenapa dia tidak melapor pada Aa?”, Arfin kembali terkejut.
“Iya,, dia menemukan ku di kampus, tadinya dia mau melapor, tapi aku ngancam akan pergi lebih jauh kalau dia memberitahu keberadaan ku pada Aa,, jadi dia manut saja,", ucap Naz dengan santainya.
“Kurang ajar si Uje,,, beraninya dia membohongiku,, awas saja,,, Aa akan segera memecatnya”, Ucapnya kesal.
“Jangan dipecat sayang,,, kasihan dia harus menghidupi orang tua dan adik- adiknya di kampung,,, lagi pula dia tidak begitu saja menurut padaku, tapi dia ngasih syarat akan tetap merahasiakan keberadaan ku asalkan Uje menjadi sopir dan bodyguard ku serta mengantarkan ku kemana pun aku pergi, karena itulah Aa mempekerjakannya bukan? Jadi dia sudah menjalankan tugasnya dengan baik”, Naz membela sopir pribadi yang sudah menjadi sekutunya itu.
Arfin masih nampak kesal pada Uje yang ia percaya malah menyembunyikan keberadaan istrinya, “Pantas saja Uje gak pernah protes di suruh stay di kampus dari pagi sampai sore,,”.
“Udah deh sayang,, jangan mempermasalahkan Uje lagi ya,, yang penting kan dia sudah menjalankan tugasnya untuk menjaga ku,, meskipun aku diantar kemana- mana memakai mobil Aa,, bukan dengan mobil baru ku,, ih”, Naz protes.
“Salah siapa malah gak ada di rumah saat mobil baru mu datang,,, jadi A yang pakai dehh,, “.
“Kalau sekarang bisa dong tukeran ya,,, “, Naz malah membahas mobil baru yang belum pernah dipakainya.
“Baiklah,, gimana kamu saja sayang,,, “, ucapnya yang kembali mengelus- elus perut istrinya itu, “Oh iya.. berarti sekarang udah mau empat bulan ya, sayang”.
“He eum,”, Naz mengangguk.
“Terus syukuran empat bulanan nya mau kapan?”, tanya Arfin.
“Emm,,, minggu ini kayaknya memasuki 16 minggu,, gimana kalau hari minggu aja,, kan sabtunya kita checkup,, minggunya acara syukuran gitu”, Naz menyarankan.
“Oke,,, kita harus segera mengabari keluarga kita yang di Jakarta,, sekalian ngasih tahu orang tua Aa, kalau kamu sudah ketemu”, Arfin teringat belum mengabari orang tuanya.
“Biar Mama aja nanti yang urus,,, ngapain ngasih tau Papi sama Mami,, orang mereka udah tahu kalau aku ada di rumah ini?”.
“Apa?? Mereka juga tahu? Apa mereka yang menyembunyikan mu di sini?”, Arfin yang terkejut, lalu berpikir orang tuanya terlibat dengan menghilangnya Naz sesuai dugaan Lutfi.
“Iya,, mereka tahu setelah aku gak jadi balik ke rumah”.
“Iya,, dua minggu setelah kepergian ku,, aku pulang saat Aa udah berangkat kerja, tadinya mau ngasih kejutan, tapi saat masuk kamar aku melihat foto pernikahan kita yang dipajang, membuat ku mual muntah,, Tadinya aku gak ngeuh kalau itu karena melihat foto Aa,, tapi karena terus- terusan muntah tiap melihat foto Aa yang di pajang di atas meja, barulah tahu,, makanya aku memutuskan untuk kembali ke sini, karena tidak sanggup melihat foto Aa aja terus- terusan mual muntah, apalagi melihat orangnya,, dan aku takut Aa merasa sedih jika mengetahui hal itu”, Naz menjelaskan panjang lebar.
“Emmm,,, terus aku juga ngambil ponsel dari dalam brankas, karena ponsel ku gak ada,, karena kartu SIM nya sudah hangus, aku beli yang baru,,,”, tambahnya.
“Terus,, dengan ponsel itu kamu menghubungi Mami?”, selidik Arfin.
“Enggak,,, setelah aku kembali ke sini, keesokan harinya Mami datang, karena melihat foto selfie ku yang ku kirimkan ke Mama,, dan Mami menyadari tempat aku berfoto itu di pekarangan rumah ini,, terus Mami meminta maaf atas kesalahan Aa dan beliau menemani ku disini sampai semingu. Mami juga yang ngasih aku uang, karena saat pergi aku cuman bawa uang cash dua juta,, ”.
“Sebenarnya kenapa kamu terus sembunyi di sini sayang? Apa yang terjadi setelah Aa pergi malam itu?”, tanya Arfin penasaran.
“Sudahlah,, yang lalu biarlah berlalu, lupakan saja,,, yang penting kan sekarang kita sudah bersama lagi”, Naz nampaknya tak mau membahas kejadian itu.
“Tapi sayang,, selama ini Aa terus bertanya- tanya,, apa kamu pergi memang karena membenci Aa?", Arfin kekeuh minta penjelasan.
“Enggak,,, bukan karena itu A,,, udah ya gak usah dibahas lagi,, aku gak mau menyakiti perasaan Aa nantinya", Naz mengutarakan alasannya.
“Kamu kan udah sering bilang kalau diantara kita gak boleh ada rahasia apa pun, sayang”, Arfin mengingatkan Naz akan perkataannya tempo hari, saat Arfin menyembunyikan sesuatu darinya.
Naz menghela nafas sejenak,
“Baiklah,,, jadi,,, malam itu setelah Aa pergi, aku terus- terusan nangis, lalu datang Mbak Jumin membawakan ku susu,, Saat itu perutku terasa agak sakit, aku pergi ke kamar mandi karena kebelet, dan aku lihat ada darah di CD ku,,, Aku kaget banget ,lalu mengatakannya pada Mbak Jum,, katanya menurut pengalaman Mbak Jum dulu, pendarahan seperti itu normal asalkan darahnya gak keluar banyak,, Tapi, karena aku merasa takut terjadi sesuatu dengan anaking, lalu aku memutuskan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan ku”, Naz mulai menceritakan kejadian di malam itu.
“Apa?? Jadi waktu itu kamu mengalami pendarahan?”, Arfin merasa sangat terkejut.
“Iya,, tapi pendarahan ringan, kok”, ucap Naz.
“Kamu sama siapa ke rumah sakitnya?”, Arfin yang masih terkejut kembali bertanya.
“Aku menghubungi Johan dan memintanya mengantarkan ku ke rumah sakit,,, aku masuk UGD dan kebetulan dokter Sashmita baru selesai tindakan operasi SC, jadi bisa diperiksa langsung olehnya setelah ditangani dokter jaga,,, dan usai di USG alhamdulillah dokter bilang anaking baik- baik saja, dia sangat kuat, katanya pendarahan ringan itu memang kadang terjadi karena adanya pertumbuhan janin, bisa juga karena aku kecapek-an atau stres,, makanya dokter meminta ku untuk bedrest total”,
“Kenapa kamu tidak menghubungi Aa saat itu?”, Arfin merasa terpukul mendengarnya.
“Aku takut Aa masih marah padaku,, Tadinya aku akan menginap di hotel,, tapi Mbak Jum melarang ku karena khawatir, dan akhirnya Mbak Jum menyarankan ku untuk ke rumah ini, karena dia memegang kunci rumah ini,, dan setelah pulang membawa beberapa pakaian serta kunci rumah ini, kami pun kemari diantarkan Johan,,Tapi Johan pulang lagi karena di rumahnya tidak ada siapa- siapa, lagi pada menjenguk eyang uti nya katanya, Dan aku memintanya untuk tidak mengatakan keberadaan ku pada siapa pun,, Jadi aku tinggal disini untuk bedrest sekaligus menenangkan diri, karena aku takut kalau Aa masih marah pada ku”, ucapnya menundukan pandangannya.
“Tapi saat pagi- pagi Aa mencari mu ke sini, kenapa tidak menemukan mu?”.
__ADS_1
“Waktu itu Mbak Jum baru datang membawakan sarapan untukku,, tapi baru saja masuk, Mbak Jum mendengar suara mobil yang berhenti di depan pintu gerbang,,, saat diintip ternyata Aa keluar dari mobil itu dan hendak membuka pintu gerbang,, Mbak Jum langsung bilang padaku yang sedang menikmati udara sejuk di depan jendela yang kubuka, Lalu aku menutup kembali jendelanya dan kami bersembunyi di dalam kamar mandi”.
“Apa?? Kamu bersembunyi di kamar mandi?”.
“Iya,, dan aku pun mendengar semua perkataan Aa yang menyesali apa yang telah Aa lakukan sampai Aa menangis,,, ingin rasanya saat itu aku keluar dan mengatakan padamu jika aku tak membenci mu,, aku tak menyalahkan mu, aku juga tidak ingin menjauh dari mu,,, namun, kaki ku rasanya terasa berat untuk melangkah, seolah ada sesuatu yang menahan ku,,,, Aku teringat perkataan dokter jika aku harus bedrest total,, Jujur saat itu hatiku masih terasa sakit karena dituduh berdekatan dengan lelaki lain, seolah aku ini sudah berselingkuh,, mungkin itu yang membuat ku ingin menenangkan diri di sini dan sementara waktu tak bertemu dengan Aa dulu”.
Arfin merasa terpukul dan bersalah sudah menyakiti istrinya, bahkan hampir membahayakan nyawa calon anaknya sendiri. Sebagai seorang suami, ia merasa tidak berguna, karena sudah menyakiti dan lalai menjaga istrinya, hingga Naz sakit pun malah minta pertolongan orang lain, justru ia lah yang menjadi penyebab istrinya sakit.
Sebagai calon ayah, karena sikap tempramennya membuat ia tak memikirkan akibat fatal yang akan terjadi pada calon anaknya, dengan tanpa berpikir panjang memarahi dan membentak istrinya yang sedang hamil muda, bisa saja saat itu Naz sampai mengalami keguguran, beruntung janin dalam kandungannya kuat.
“Maafkan aku sayang,,, karena kebodohanku, Aa sampai hati menyakiti mu dan anak kita, Aa memang seorang suami yang buruk, bahkan Aa tak pantas disebut seorang ayah, karena sudah membahayakan calon anak kita,,,” , lirih nya yang kembali sedih.
“Aa jangan merasa seperti itu,, aku yang seharusnya meminta maaf, karena ini juga salahku yang tak berterus terang saat aku tahu kalau teman masa kecilku ternyata satu kampus denganku,, wajar saja marah,, dan aku tahu Aa marah bukan karena membenci ku, tapi karena begitu mencintaiku,, ”.Naz berusaha membesarkan hati suaminya.
“Sekarang Aa baru mengerti, mungkin karena itu anaking marah dan belum bisa memaafkan Aa sampai sekarang, jadi tiap kamu melihat wajah Aa, bawaannya mual muntah”, Arfin pun kini tahu alasan ngidam aneh Naz, dan itu membuatnya semakin sedih.
“Aa salah,,, Anaking sayang sama Aa,, setiap malam dia selalu membuat ku gelisah sampai tak bisa tidur, dan itu karena anaking sangat merindukan Aa yang biasanya selalu mengelusnya setiap akan tidur,, makanya keesokan harinya aku meminta Mbak Jum untuk membawa pakaian Aa,, dan benar saja setiap malam aku bisa tidur nyenyak jika memakai baju Aa hehehe”, Naz mengungkapkan hal aneh lain yang dilakukannya.
“Benarkah? Jadi anaking tidak membenciku?”, Arfin kembali tersenyum.
Naz terkekeh mendengar nya, “Tentu saja,, buktinya tadi saat Aa menciumi perut ku, dia langsung menendang, padahal sebelumnya belum pernah nendang loh,,, dan bagaimana dia bisa benci sama Aa,, karena kalau bukan karena Aa,, anaking gak mungkin hadir di dalam rahim ku,,, dia kan hasil mahakarya si ujang yang selalu bekerja keras siang malam,”, ucapnya sambil mengusap si ujang yang sudah ia rindukan itu.
“Jangan dipegang sayang,,, kalau si ujang bangun gimana?”, Arfin menyingkirkan tangan Naz perlahan agar tidak memegang si ujangnya.
“Ya gak apa- apa,,, kan sekarang sudah mulai memasuki trimester kedua,, berarti si ujang udah boleh ketemu si imut,,, emangnya si uajang gak kangen apa sama si imut?”, Naz merasa kecewa karena dilarang memegang benda yang sudah hampir dua bulan tidak dipegang apalagi dilihatnya.
“Jangan ditanya itu mah,,, orang tiap subuh si ujang suka bangun padahal Aa masih tidur, tapi pas sadar si imutnya gak ada, dia melempem lagi,, “, Arfin lalu memegang tangan Naz untuk menjauhkan tangannya dari si Ujang, namun Naz melepaskannya dan kembali memegang si ujang yang masih terbungkus kain celana itu.
“Udah ah sayang,, jangan dipegang lagi,,, nanti beneran bangun loh,,”, Arfin menahan tangan Naz.
“Ya biarin bangun juga,, orang yang bangunin juga istri Aa inih,, gampang kan tinggal dipertemukan sama si imut aja ”, Naz malah sengaja membuka resleting celana suaminya.
Arfin kembali menjauhkan tangan Naz, “Udah ah sayang,,, jangan,,, ini masih siang,, belum lagi nanti ada Mama datang membawakan kamu minum,, lagian mana bisa kita bercinta, sedangkan melihat wajah Aa saja kamu mual muntah,, kan gak enak kalau gak pemanasan dulu”, Arfin terus memberi alasan, padahal sebenarnya ia sudah sangat ingin menerkam istrinya itu, namun terus menahan diri.
“Aaahh,, pengen lihat aja sebentar ih,, “, Naz merengek layaknya anak kecil meninginkan sesuatu.
“Kalau nanti Mama tiba- tiba masuk gimana?? Kan malu,, emangnya kamu mau si Ujang dilihat sama orang lain? Nanti aja di rumah ya,,, kita pulang ke rumah yuk,, udah hampir dua bulam loh kamu gak pulang,, emangnya kamu gak kangen rumah apa?”, Arfin membujuk pulang.
“Tapi,, nanti kalau aku masuk kamar kita terus muntah- muntah lagi gimana?”, Naz masih ragu dan enggan masuk ke kamarnya.
“Aa akan mencopot semua foto kita, dan menyimpannya di kamar lain atau di gudang untuk sementara”, ucapnya berinisiatif.
“Jangan,,,mending kita tidur di kamar lain aja,, kan di sana gak ada foto Aa”, Naz nampaknya tak rela foto pernikahan dan kebersamaannya bersama sangat suami disimpan di gudang.
“Emannya kamu mau tidur sama Aa?? Nanti mual muntah lagi gimana?”, Arfin kini yang ragu.
“Kan kalau aku udah tidur, Aa bisa melepas masker nya”.
“Jadi kamu beneran mau pulang?”, Arfin memastikan.
“He eum,,,”, Naz mengangguk, “Tapi ada syaratnya”, ucapnya lagi.
“Syarat apa? “, Arfin merasa was- was, karena takut Naz akan memberikan syarat yang aneh.
“Nanti boleh lihat sama mainin si ujang ya”, Naz kemudian tersenyum karena merasa malu.
Gubrak ,,,,
Arfin tercengang mendengar syarat nya, ia menyesal kenapa tidak sejak kemarin- kemarin menemukan keberadaan istrinya, jika syarat untuk membawanya kembali pulang hanya ingin melihat dan memainkan si ujang miliknya saja, yang tentunya malah sangat menguntungkannya. Tentu saja ia langsung menyetujuinya tanpa pikir panjang.
Naz yang akhirnya sudah memutuskan untuk kembali pulang, memberitahukan hal tersebut pada Bu Rahmi. Beliau pun ikut senang dengan hal itu, karena walau bagaimana pun tempat terbaik seorang istri adalah di sisi suaminya, apalagi saat dalam keadaan hamil. Meskipun sebenarnya masih ada kekhawatiran akan ngidam Naz yang masih mual mngah melihat wajah suaminya, sehingga Bu Rahmi mewanti- wanti pada Arfin agar selalu menggunakan masker saat berdekatan dengan Naz, dan memintanya memaklumi dan bersabar menghadapi ngidam aneh putrinya itu.
Naz bersiap- siap dan mengganti bajunya, sementara Mbak Jumin membantu Bu Rahmi mengemasi barang- barang Naz.
Arfin pergi keluar lebih dulu menemui Lutfi yang sedang duduk di kursi teras depan, tiba- tiba datang seorang dengan mengendarai motor vespa jadul memasuki pintu gerbang yang terbuka, betapa terkejutnya saat orang itu sampai di depan teras rumah melihat keberadaan Arfin dan Lutfi.
Arfin pun sama halnya, ia langsung berdiri dan memberi tatapan tajam pada orang itu, “Kurang ajar,,, berani- beraninya dia datang ke sini !!”.
-------------- TBC ------------------
**************************
Happy Reading....😉
Jangan lubang tinggalkan jejak mu... 😉
__ADS_1
Tilimikicih.... aylapyu oll... 😘😘😘