Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Keluarga Telenovela


__ADS_3

Sepeninggal ibunya Maira yang membawa Nala ke belakang untuk memandikannya, kini Arfin, Naz dan Maira tengah duduk bertiga di ruang tamu. Tak ada pembicaraan lagi diantara ketiganya, Naz bermain mata dengan Arfin yang duduk di sebelahnya, seolah mengisyaratkan untuk mengatakan soal Nervan yang sudah mengetahui keberadaanya dan Nala disini, namun mereka malah saling tunjuk dengan artian saling melempar untuk mengatakannya pada Maira.


Karena keduanya tidak mau, akhirnya Naz mengajak Arfin untuk melakukan suit dengan bahasa isyarat dan bicara tanpa suara layaknya tuna wicara, dan ia pun menyetujuinya. Suit pertama : batu kertas gunting,, Naz menyodorkan tangan terbuka sedangkan Arfin kepalan tangan sehingga Naz yang menang. Namun Arfin tak terima dan meminta melakukannya 3x dan skor akhir Naz 2x menang sedangkan Arfin 1x, sehingga Naz lah tetap yang menjadi pemenang.


Arfin tetap tidak terima dan mereka masih berbicara tanpa suara, lalu ia mengajukan melakukan suit jari sama halnya dilakukan 3x,, pertama Naz menyodorkan jari telunjuk yang berarti manusia sedangkan Arfin jempol yang berarti gajah, akhirnya Arfin pemenangnya. Untuk sesi kedua, Arfin menyodorkan jempol lagi si gajah sedangkan Naz jari kelingking yaitu si semut,, sehingga pemenang kedua adalah Naz, dan yang terakhir Arfin menyodorkan kelingking sedangkan Naz jari telunjuk, jadi semut kalah oleh manusia, dan eng ing eng,, Naz lah pemenangnya dan ia pun menjadi juara bertahan.


Naz mengangkat kedua tangannya karena senang menjadi pemenang bagaikan anak kecil, sedangkan Arfin hanya menghela nafas kasar dan memutar jengah bola matanya. Beruntung Maira tidak bisa melihat kekonyolan sepasang kekasih yang seperti bocah itu.


Dan sebagai orang yang kalah, maka mau tidak- mau Arfin lah yang harus mengatakan pada Maira soal Nervan, “Ekhem,,,, “, Arfin berdehem, “Maira, eng ,,,,, “, Arfin merasa bingung harus mulai dari mana.


“Iya Ar, kenapa ?”, tanya Maira.


“Eng,,, itu aku ingin mengatakan suatu hal padamu soal, eng soal”, Arfin masih bingung dan belum melanjutkan kata- katanya sedangkan Naz membekap mulutnya karena menahan tawa melihat Arfin yang kikuk.


“Soal apa Ar?”, Maira kembali bertanya, namun Arfin malah diam seperti sedang ancang- ancang untuk bicara, “ Oh iya apa kau sudah tahu kondisi kesehatan Bude yang makin hari malah makin menurun? dan beliau kekeh tidak mau dibawa ke rumah sakit, malah lebih memilih memanggil dokter kemari untuk rutin memeriksanya setiap hari”, Maira malah membicarakan kondisi Bude karena tak kunjung mendengar Arfin bicara lagi, sehingga fokus Arfin jadi teralihkan.


“Apa? Bude sakit ?”, tanya Naz dan Arfin berbarengan.


“Iya ,,, tolong kalian bujuk Bude ya supaya mau dibawa ke rumah sakit,, kami semua tidak berhasil membujuk beliau”, Maira meminta bantuan Naz dan Arfin.


“Yasudah ayok kita temui Bude ke kamarnya”, ajak Naz pada Arfin, kemudian mereka pun bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju kamar Bude dan meninggalkan Maira seorang diri di ruang tamu.


“Hei, Aa masih berhutang ya, nanti setelah menemui Bude harus menjelaskan pada Kak Maira “, ucap Naz berbisik pada Arfin.


“Baiklah,,, Chayaku,,, Aa ingatkan juga ya, urusan soal pembalut juga belum selesai,, kau harus menerima hukuman mu ya”, Arfin pun berbisik di telinga Naz sambil berjalan menuju kamar Bude, sedangkan Naz mendengar itu langsung membulatkan matanya, karena merasa sedikit trauma mendengar kata hukuman, kemudian mereka pun mengetuk pintu kama Bude lalu masuk.


Saat baru masuk terlihat Bude sedang mengulurkan tangannya seperti ingin menggapai sesuatu di atas lemari laci di sebelah tempat tidur nya, Naz dan Arfin langsung menghampiri Bude.


“Bude mau minum? Biar aku bantu ambilkan ya”, Tanya Naz dan langsung membantu mengambilkan gelas yang dilengkapi tutupnya, sedangkan Arfin membantu Bude bangun dan mendudukkannya karena beliau terlihat kesulitan untuk bangun.


“Ini Bude,,, diminum dulu”, Naz menyodorkan gelas berisi air minum itu, lalu diterima oleh Bude dan beliau pun meminumnya secara perlahan, kemudian beliau menyerahkan kembali gelas yang isinya tinggal setengah itu pada Naz.


“Terimakasih”, ucap Bude dengan suara lemas.


“Bude,,, kenapa kondisi Bude malah seperti ini,,, kita ke rumah sakit yuk,, biar Bude mendapatkan penanganan dan perawatan yang tepat”, Naz langsung membujuk Bude.


“Iya Bude,,, Bude terlihat sangat lemah begini, lebih baik kita ke rumah sakit ya”, Arfin pun ikut membujuk.


“Gak usah,,, disini juga Bude banyak yang menjaga dan mengurus,, dokter pun tiap hari datang kesini, lagi pula Bude lebih nyaman disini “, Bude berbicara dengan lemas dan terus memegang dadanya dengan nafas yang terdengar berat.


Naz dan Arfin terus membujuk dan meyakinkan Bude agar mau dibawa ke rumah sakit dan dirawat di sana.


Sementara itu, di ruang tamu Maira yang tengah duduk sendiri pun bangun dan berdiri hendak berjalan menuju ke kamarnya karena mendengar suara Nala yang sudah selesai mandi nampak sedang berceloteh di sana sepertinya sedang dipakaikan baju oleh iyang uti nya.


Tok tok tok ……. Terdengar suara ketukan pintu yang mengentikan langkah Maira, “Sepertinya ada tamu”, ucapnya berdialog sendiri.


Tok tok tok …… orang tersebut terus mengetuk pintu karena tak kunjung mendapat sahutan atau pun ada yang membukakan pintu. Maira yang hendak ke kamar pun mengurungkan niatnya dan akhirnya berbelok arah dengan meraba- raba sandaran kursi tamu dan pergi ke depan berjalan dengan bantuan tongkatnya untuk membukakan pintu.


Ceklek ,,,,,, Maira membukakan pintu dan setelah terbuka lebar Maira bertanya karena orang tersebut tak mengucapkan sapaan atau salam, “Maaf dengan siapa ya?”, tanya Maira dengan pandangan mata yang lurus ke depan selayaknya orang buta pada umumnya.


“Ternyata kau masih berani untuk kembali”, ucap orang itu.


Maira yang mendengar suara itu langsung membulatkan matanya saking terkejut,


" Suara ini,,, suara ini,,, suara yang sangat ku rindukan selama hampir empat tahun sekarang terdengar lagi ”, lirih Maira dalam hati.


Ia merasa bahagia dan terharu mendengar suara itu, namun perasaan itu tiba- tiba sirna setelah ia mengingat bahwa orang itu sangat membencinya dan tidak mau bertemu lagi dengannya. Rasa bahagia itu berubah seketika menjadi rasa takut, takut orang itu mengetahui soal kebutaannya, takut orang itu akan murka padanya, takut orang itu akan meminta semua penjelasan darinya, dan takut orang itu akan mengambil Nala jika orang itu tahu bahwa Nala adalah anak kandungnya yang selama ini ia sembunyikan keberadaanya.

__ADS_1


Maira merasakan tubuhnya gemetar, jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya, bibirnya pun bergetar seakan ingin mengeluarkan kata namun serasa terkunci, dan ia pun menundukkan kepalanya, kemudian melangkah mundur dan tanpa ia ketahui orang itu pun maju mengikuti langkahnya yang terhenti karena tubuhnya terpentok bagian belakang sandaran kursi.


“Kenapa kau tidak menjawab, Salma?”, tanya orang itu dengan dengan nada lembut yang membuat Maira tak kuasa menahan air matanya yang jatuh bercucuran mendengar orang itu memanggilnya dengan sebutan Salma, “Apa yang membuatmu berani datang kembali, setelah hampir empat tahun kau meninggalkan ku dan bersembunyi dariku yang membuatku hampir gila, hem?”, orang itu kembali bertanya dengan suara pilu.


Maira terkejut ternyata suara itu masih terdengar dekat, “Maaf,,,, Maafkan aku Arsyad”, lirih Maira terisak sambil berlinang air mata.


Nervan menyentuh kedua pipi Maira lalu perlahan menegakkan kepalanya, “Kau masih mengenal suara ku, Salma”, tanyanya yang mencoba menetralkan suaranya agar Maira tidak mengetahui kalau Nervan juga menangis, karena tak kuasa melihat wanita yang dulu amat dicintai dan sempat dibenci olehnya dalam keadaan buta, hatinya terasa hancur saat melihat Maira dalam keadaan seperti itu. Apalagi yang menyebabkan Maira buta adalah dirinya, tapi walau begitu ada rasa bahagia di hatinya yang ternyata Maira masih mengenali suaranya.


Maira sangat terkejut mendengar perkataan Nervan yang seolah telah mengetahui kebutaannya, Nervan melepaskan tangannya dari kedua pipi Maira, kemudian ia berlutut dan memeluk kaki Maira sambil menundukkan kepalanya. “Maafkan aku Salma,,, maafkan aku,,, ini semua salahku“, Nervan yang bersimpuh meminta maaf dengan luapan tangisan penyesalannya.


Tangan Maira meraba- raba mencari keberadaan Nervan lalu kedua tangannya menyentuh pundak Nervan, “Jangan seperti ini,,, ayok bangun,,, aku mohon jangan seperti ini,, kau tidak salah apa- apa,, aku yang salah,, aku yang seharusnya meminta maaf padamu,, aku mohon bangun lah”, ucapnya dengan sesenggukan dan air mata yang masih mengalir deras.


Nervan yang masih menangis pun tidak mendengarkan perkataan Maira, ia malah semakin mengeratkan pelukannya pada kaki Maira, “, Maafkan aku atas semua yang terjadi padamu,,, aku memang pembawa sial,,, ibuku meninggal karena melahirkan ku, adikku hampir meninggal bahkan menjadi cacat karena menyelamatkan ku, dan kamu juga mengalami kebutaan gara- gara aku, bahkan kau harus menderita selama ini gara- gara aku,, maafkan aku,, maafkan aku, Salma”, Nervan benar- benar meluapkan kesedihan dan rasa sakit yang selama ini dipendam nya seorang diri.


Maira kembali meraba untuk menggapai tangan Nervan yang memeluk kakinya, dan setelah berhasil memegangnya Maira menarik dan melepaskan pelukannya perlahan, lalu kembali meraba mencari pundak Nervan dan ia menurunkan tubuhnya perlahan sambil berpegangan pada pundak Nervan sehingga mereka menjadi sejajar. Maira mengalihkan kedua tangannya dari pundak Nervan meraba hingga ke wajahnya, saat kedua tangan sampai di pipi Nervan, Maira menyapukan tangannya untuk menghapus linangan air mata Nervan, padahal air matanya sendiri masih terus bercucuran.


Melihat hal itu membuat Nervan tak bisa menahan diri lagi dan langsung memeluk wanita yang begitu dirindukannya itu, Maira pun membalas pelukannya karena sesungguhnya ia pun lebih merindukan Nervan, mereka saling berpelukan dengan isak tangis dari keduanya dalam keadaan berlutut, “Maafkan aku,,, maafkan aku, Salma,,,, aku sudah tahu semuanya,,, aku sudah tahu,,,, aku sudah tau betapa besar pengorbanan mu untuk ku,,, betapa berat hidupmu menanggung semua beban penderitaan seorang diri,,,, maafkan aku…. maafkan aku tidak ada saat kau membutuhkanku,,, maafkan aku yang tidak bisa melindungi mu,,, maaf aku untuk semuanya ”, Nervan tak berhenti meminta maaf sambil menangis penuh penyesalan, sedangkan Maira hanya bisa mengangguki semua perkataan Nervan, karena tak mampu berbicara sepatah kata pun selain hanya isak tangis yang terdengar dari mulutnya.


Mereka berpelukan selama beberapa saat, dan setelah keduanya merasa sedikit tenang, Nervan melepaskan pelukannya perlahan, tangannya kini beralih memegang kedua telapak tangan Maira yang di telungkup kan, “Kenapa saat itu kau tidak membiarkan ku mati saja? apa bedanya dengan kau meninggalkanku, memang raga ini tetap hidup, tapi jiwaku serasa mati tanpamu di sisiku,,,, “, ucapan Nervan terhenti sejenak, lalu ia mengangkat kedua tangan Maira yang masih di genggamnya, “Salma,, aku mohon,,, jangan pergi lagi, jangan menghilang lagi, jangan meninggalkan ku lagi,,,, aku rapuh tanpa dirimu, aku lemah tanpa kau yang selalu menguatkan ku,,,, aku mohon kembalilah,,, tetaplah di sisiku dan menjadi pendamping hidupku,, aku masih sangat mencintaimu,,, berikan aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku padamu juga pada anak kita”, Nervan kemudian menciumi kedua punggung tangan Maira berkali- kali, kemudian melepaskannya perlahan.


Maira kembali terkejut karena ternyata Nervan bukan hanya tahu alasannya meninggalkan Nervan, tapi Nervan juga sudah tahu soal anak mereka, “Kamu juga tahu soal anak kita?”, tanya Maira.


“Bukan hanya tahu,,, sudah beberapa hari aku bahkan sudah dekat dengannya, dengan Syanala anak kita”, jawabnya tersenyum di sela tangisannya.


Maira membekap mulutnya dengan telapak tangan, “Huhuhuhuhuhuhuuhu…”, Maira menangis haru , “Ternyata itu yang membuat Nala akhir- akhir ini sangat bahagia,, jadi karena sudah bertemu dengan mu…”, ucapnya tersenyum haru dan Nervan pun demikian.


“Mama,,,,,, !”, Nala berlari menghampiri Maira dan Nervan, sontak menghentikan tangisan mereka dan keduanya pun menghapus air mata dengan tangan masing- masing, kemudian Nala melihat saat Maira menghapus air matanya, “Papa jahat,,, Papa nakal,,, Papa apain Mama,,, napa Mama nangis?”, Nala meneriaki Nervan dengan berkecak pinggang, seolah rasa takutnya pada Nervan hilang karena Nala marah melihat ibunya menangis.


“Papa? “, tanya Maira heran dengan suara hidung mampetnya khas orang habis nangis.


“Oopss”, Nala langsung membekap mulutnya dengan kedua telapak tangannya sambil melotot karena menurutnya ia sudah keceplosan memanggil Nervan dengan sebutan Papa di depan Mamanya, dan itu membuat Nervan terkekeh melihat tingkah lucu anaknya itu.


“Aa,, kok serasa nonton telenovela live streaming ya,,, tapi ini jauh lebih mengharukan dan menguras air mata dibanding film Kabhi Kusi Kabhi Gham”, ucap Naz sambil terisak.


Arfin nampak berpikir sejenak seperti mengingat- ingat sesuatu, “Bukannya itu judul film india ya ?”.


“Masa ??,,, eh iya ya yang diperankan oleh Shahrukh Khan sama Kajol itu ya,,, kalo Telenovela pa atuh judulnya yang bikin menguras air mata? Maria Mercedes, Maria Cinta Yang Hilang, Esmeralda, Esperanza, Marimar atau Rosalinda ayamor ?”, Naz malah membahas judul film,,, yasalam lagi part haru gini malah ngabsen judul telenovela lawas.


Arfin mengedikkan bahunya, “Mana Aa tahu,,, Aa bukan pecinta telenovela, kayak emak- emak aja”.


“Ah sudah lupakan saja,,, omong- ngomong, kenapa mereka ngobrolnya di belakang kursi gitu ya, kan kesannya kayak lagi mojok?”, tanya Naz dengan polosnya.


Arfin terkekeh mendengar perkataan Naz itu, kemudian ia menarik tangan Naz sehingga mereka berdiri saling berhadapan, lalu Arfin mengangkat dagu Naz, “Memang ya kenapa hem,,, apa kau juga ingin kita berdua mojok, Chayaku”, ucapnya dengan tatapan menggoda seangkan Naz membulatkan matanya melihat perlakuan Arfin yang kemudian mendekatkan kepalanya pada nya, semakin dekat lalu Naz pun spontan memejamkan matanya, lalu,,,, Arfin berbisik ditelinga kanan Naz, ” Aku sudah putuskan besok kau akan menjalankan humumanmu, Chaya ku sayang… whussss”, Arfin meniupkan angin ke telinga Naz yang membuatnya bergidik dan secara reflex menggerakan kepalanya ke sisi kanandan ,,, gdukkkkk,,, “Aduh”,, “Aww”, Naz dan Arfin meringis berbarengan karena mulut Arfin kejeduk kepala Naz.


“Aduhh,, bibirku sakit”, Arfin meringis sambil mengusap bibirnya.


“Memangnya kepalaku gak sakit apa,,, maka nya jangan tiup- tiup telingaku,,, aku orangnya gelian ihh”, Naz menggerutu kesal sambil mengusap- usap kepala nya yang terjeduk dengan Arfin tadi.



“Kaka kaka,,,, “, Nala tiba- tiba datang dan menarik- narik baju Naz, kemudian Naz berjongkok untuk menyetarakan dirinya dengan Nala, “Kaka,, apa kita masih main halasia- halasiaan?”, tanya Nala.


“Halasia,,,??”, Naz berusaha mencerna perkataan Nala itu, “Oh,, maksud Nala rahasia- rahasiaan ya?” Tanya Naz memastikan.


“Iya itu…”, jawab Nala.


“Emm,, memangnya kenapa?”, Naz kembali bertanya.

__ADS_1


“Itu disyana ada Papa, tadi Nala bilang Papa, tapi,, tapi disyana ada Mama”, Nala menjelaskan.


Naz terkekeh mendengar anak ini ternyata begitu patuh dengan aturan permainan rahasia- rahasiaan itu, “Enggak kok,, kan udah selasai main rahasia- rahasiaan nya,,, Nala udah baikan ya sama Papa nya”, Tanya Naz sedangkan Nala malah manyun.


“Oh,,, jadi kalian toh dalang nya?”, Tanya Ibunya Maira yang sejak tadi berdiri di depan pintu kamar Maira lalu menghampiri mereka. “Terimakasih”, ucapnya sambil menyentuh pipi Naz sambil tersenyum. “Ayok kita hampiri mereka”, ajak beliau pada Naz dan Arfin.


Mereka pun berjalan ke ruang tamu menghampiri Maira dan Nervan yang sudah berdiri semenjak Nala lari menghampiri Naz.


“Ibu,,, “, ucap Nervan yang melihat ibunya Maira ia langsung menghampiri dan bersimpuh di kaki ibunya Maira,”Saya minta maaf bu,, saya sudah gagal memenuhi janji saya pada Ibu dan mendiang Bapak,, saya sudah membuat Salma mengalami banyak penderitaan,, saya benar- benar minta maaf”, Nervan kembali terisak memeluk kaki ibunya Maira.


“Sudah,, sudah Nak,,, jangan seperti ini,,, ayok bangun,,,”, ibunya Maira membungkuk dan menarik tangan Nervan agar ia bangun, dan ia pun kembali berdiri, “Kamu tidak salah,, ini sudah menjadi suratan takdir,,, tidak ada yang salah diantara kalian, karena kalian hanya korban,,, tapi ibu senang, sekarang kamu sudah mengetahui semuanya,,, ibu hanya berharap kalian bisa bersatu kembali dan bisa hidup bahagia”, ucapnya penuh harap lalu Nervan memeluk ibunya Maira.


“Terimakasih Bu ,,,, terimakasih”, ucap Nervan.


Naz berbisik pada Arfin, “Aa,,, ada lagi gak sapu tangannya ? yang ini udah basah banget, adegan menantu dan mertua itu seperti mengandung bawang merah sekilo, benar- benar keluarga telenovela ”, Naz yang terharu malah ikutan menangis lagi, sedangkan Arfin hanya terkekeh dengan kelakuan gadis tengilnya itu dan ia malah meniup telinga nya lagi sampai Naz kembali bergidik lalu menatap kesal pada Arfin yang malah terkekeh.


Ibunya Maira yang sudah melepaskan pelukannya mengajak semua orang duduk di kursi tamu, Maira bersama Nervan duduk bersebelahan, Naz bersama Arfin, sedangkan Ibunya Maira di kursi tunggal duduk degan Nala dipangkuannya.


“Alhamdulillah, ibu senang sekali kesalah pahaman diantara kalian setelah sekian tahun akhirnya terungkap dan bisa terselesaikan, tapi Ibu tidak akan memaksamu untuk menerima Humaira lagi dengan kondisi yang seperti ini, apalagi dulu kalian sudah mengajukan pembatalan pernikahan bukan? karena saat itu kalian baru menikah satu minggu”, ucap Ibu memberi pencerahan.


“Saya sangat berharap kami bisa kembali bersama lagi Bu, tolong beri saya kesempatan untuk menebus semua kesalahan saya selama ini pada Maira, bahkan pada Syanala yang tidak saya ketahui keberadaannya selama ini. Saya ingin bertanggung jawab pada mereka berdua, menjaga serta melindungi mereka pula,,, dan soal masalah pengajuan pembatalan nikah, saya tidak pernah memberikan berkasnya ke pengadilan, bahkan saya merobek- robek dan membakarnya saat itu, Bu”, Nervan menjelaskan.


“Tapi,,,keadaanku sekarang tidak memungkinkan,, aku hanya akn menjadi beban bagimu, juga hanya akan mempermalukan mu saja”, ucap Maira sedih.


“Salma,, aku tidak akan mempermasalahkan itu, kamu seperti ini juga karena gara- gara aku,, jika saja waktu itu aku tidak memeksamu untuk berangkat, mungkin kita tidak akan mengalami kecelakaan itu dan masih tetap bersama,,, “, ucapnya sambil memegang tangan Maira, “ Kita akan mencari dokter spesialis mata terbaik untuk mengobati mata mu, bahkan kalau perlu kita berobat ke luar negri, supaya matamu bisa melihat lagi, bahkan bisa melihat bagaimana wajah Nala”, tambahnya yang kembali berkaca- kaca.


“Sebelumnya kami juga sudah berkonsultasi ke beberapa dokter mata saat di jogja,,, namun semuanya bilang kalo Nala hanya bisa melihat lagi jika dia mendapatkan donor mata”, ibunya Maira menjelaskan kesimpulan hasil pemeriksaan Maira.


“Apa?,,,”, Nervan terkejut, “Kita akan mencari pendonor mata, bahkan jika tidak menemukannya kalo perlu kamu bisa mengambiil mataku, asalkan kamu bisa melihat lagi”, Nervan ingin berkorban.


Maira tersenyum haru mendengarnya, “Jika kamu yang mendonorkan mata untukku, lebih baik aku tidak usah bisa melihat lagi selamanya,,,, bagaimana bisa kau menjaga ku besama Nala jika kau yang tidak bisa melihat”, Maira menolak tawaran Nervan.


“Donol mata itu apa Iyang Uti?”, tanya Nala yang ternyata memperhatikan obrolan mereka.


“Emm,, itu bahasa nya pak dokter Nala gak usah tahu ah, nanti disuntik sama pa dokter”, jawab Ibunyabl Maiira ngasal.


“Iiiiiihhh,,, tatut,,,”, ucap Nala bergidik dan membuat semua orang menertawakan kelucuannya.


“Nala katanya mau ketemu Papa, ini Papa nya sudah di sini kok dari tadi dijauhin terus?”, Tanya Naz.


“Papa nya jahat,,, Papa nakal,,, Nala gak mau ketemu lagi”, ucap Nala sambil manyun sedangkan Nervan menatap sendu putrinya itu, saat ia belum tahu mereka begitu dekat namun saat tahu Nala anaknya malah menjauh.


“Kok Nala gitu sih,,, nanti kalo Papa nya pergi lagi gimana,, nanti Nala gak punya pahlawan Sepilipemen si Manusia Bala- bala itu loh”, Naz mecoba membujuk Nala.


“Iiiihhh,,,, Sepilipemen itu manucia laba- laba bukan bala- bala”, seru Nala dengan Nada cemperngnya dan membuat semua orang kembali tertawa.


Gedebruk …… tiba- tiba terdengar suara seperti pintu yang di dobrak danmengagetkan semua orang.


----------------- TBC -----------------


******************************


Suara apakah itu? apakah ada orang yang datang kesana?


Nantikan jawabannya di episode selanjtnya…… wakwawwwww🤩


Happy Reading😉

__ADS_1


Jangan luva tinggalkan jejakmu, Komen, Like, Vote, Rate bintang 5….


Terimakasih para reader terloveh….😘😘😘


__ADS_2