
Hari menjelang sore, Naz pun sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah Bunda seusai mengikuti bimbel, dan seperti biasa diantarkan oleh Pak Udin. Setelah beberapa saat ia pun sampai di depan pintu gerbang rumah Bunda, Naz kemudian turun, sedangkan Pak Udin kembali melajukan mobilnya.
“Naz,,,, “, terdengar suara seseorang memanggil Naz saat ia baru saja membuka pintu gerbang, kemudian ia membalikan badannya. “Hai Naz,,, kamu baru pulang bimbel ya?”, tanya nya basa- basi.
“Eh,, Kak Bagas,,, iya nih baru pulang,,, ada apa ya Kak?”, ucap Naz yang kemudian bertanya.
“Gimana kalau kita ngobrolnya di teras rumah mu,, kalo di sini rasanya kurang etis, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan sama kamu soalnya”, ucap Bagas.
“Oh iya,,, ayok kita masuk kalau gitu”, ajak Naz dan kemudian mereka pun berjalan memasuki pintu gerbang menuju teras rumah Bunda yang terdapat dua kursi dan ditengahnya dipisahkan oleh meja. “Silahkan duduk Kak”, ucap Naz mempersilahkan, dan Bagas pun duduk. “Ada apa ya Kak? Kok kayaknya ada hal penting?”.
“Gini Naz,,, aku mau ngasih tahu kalau pendaftaran ke UI gelombang pertama sudah dibuka,,, kamu bisa daftar di website resminya,, di sana juga ada pendaftaran untuk ikut beasiswa bidikmisi”, ucapnya mengutarakan maksud dan tujuannya menemui Naz.
“Oh gitu ya Kak,,, sebelumnya terimakasih banyak sudah ngasih tahu aku,, tapi kayaknya aku jadi kuliah di UI deh Kak,,,”, ucap Naz.
“Loh,, kenapa? Kamu mau ke UGM ?? memangnya orang tua mu mengizinkan kamu kuliah diluar Jakarta?”, tanya Bagas merasa heran dan terkejut.
“Enggak Kak,,, rencananya aku akan kuliah di salah satu Universitas di Surabaya”, jawab Naz.
“Hah,,, Surabaya?? Kok malah makin jauh dari Jogja ke Surabaya? Bukannya kamu bilang orang tua mu hanya memperbolehkan mu kuliah di sekitar Jakarta saja?”, Bagas yang masih terkejut kembali bertanya.
“Iya ,, sebelumnya sih gitu,,, cuman kan nanti abis lulus sekolah aku pindah ke Surabaya, Kak”, Naz kembali menjelaskan.
“Hah,,, pindah,,, kok bisa?”, tanya Bagas yang kembali terkejut.
“Iya Kak, soalnya aku mau……….. “.
Ceklek ....
“Eh,,, kirain teh ada siapa di teras,,, dari dalam Bunda teh denger ada suara orang,, ternyata kalian toh”, Bunda yang tiba- tiba datang malah memotong perkataan Naz.
“Eh iya Tante,,, ini Bagas kesini mau ngabarin soal pendaftaran kuliah yang dulu sempat ditanyakan Naz, Tante”, Bagas menjelaskan maksud kedatangannya.
“Oh gitu,,, tapi nanti Naz mah kuliahnya mau di Surabaya, nak Bagas”, ucap Bunda.
“Iya Tante,,, barusan Naz memberi tahu saya,,, emangnya di sana ada keluarga Naz”, tanya Bagas.
“Hah,,, keluarga?? Iya ada,, di sana teh ada adik saya yang dari Bandung,, dia kan nikah sama orang Surabaya jadi ya setelah menikah teh diboyong ke sana”, Bunda menjawab dengan perasaan heran.
“Oh,, gitu ya Tante,,,”, ucap Bagas.
Naz kemudian bangkit dari duduknya, “Aku permisi masuk ya Kak Bagas, badanku rasanya udah lengket, pengen mandi”, ucap Naz.
“Kalau gitu aku juga pamit pulang dulu,,, tadi ke sini cuma mau menyampaikan itu saja kok,, mari Tante, Naz,,, Assalamu’alaikum”, ucapnya lalu pamit pergi.
“Wa’alaikumsalam,,,”, jawab Naz dan Bunda, kemudian mereka berdua pun masuk ke dalam rumah.
“Bagas teh kayaknya suka deh sama kamu, Dek,,, tiap kamu ke sini teh pasti suka nyamperin kamu”, Bunda mengutarakan pendapatnya.
“Emang,,, waktu di sekolah juga suka deketin aku,,, tapi aku nya gak mau”, jawab Naz dengan santainya.
“Loh,, emang kenapa atuh,,? kan dia anaknya baik,, ganteng lagi”, tanya Bunda kepo.
“Kan aku udah punya Aa Arfin,,, Bunda suka lupaan deh”.
“Ehh,, bukan sekarang atuh,, maksudnya teh waktu dia masih sekolah jadi kakak kelas mu dulu,, atuh kalau sekarang mah bisa- bisa digorok sama Aa Arfin mu itu”, ucap Bunda terkekeh.
“Kan waktu dia deketin aku, akunya lagi deket sama Aa,, hehhe,, jadi hati akunya udah nyangkut sama Aa Arfin”, Jawab Naz tanpa malu- malu.
“Eh,, kok Bunda baru ngeuh ya,, tumben manggilnya Aa Arfin,, biasanya juga Kak Arfin?”, tanya Bunda yang terus saja kepo.
“Yee,,, udah lama kali aku suka manggil Aa,,, tapi kalo lagi ngobrol sama dia doang,, kalo depan orang- orang mah manggilnya Kak Arfin,, hehehe”, ucap Naz memberitakan.
“Huh,,, dasar kamu mah,,, emangnya Bagas teh udah tahu kalau kamu sebentar lagi mau nikah sama Arfin?”, tanya Bunda lagi.
“Emmm,,, kayaknya enggak deh,,, tadi aku mau ngasih tahu dia,, ehh Bunda keburu dateng dan motong pembicaraan aku”.
“Sebaiknya teh kamu kasih tau dia kalau kamu udah bertunangan dan sebentar lagi mau nikah,, supaya dia tidak berharap sama kamu,, gak enak tau ih kalo di PHP in tuh”, Bunda menyarankan.
“Bunda aja deh yang ngasih tahu,,, hehee,,, oh iya Bunda,, boneka aku yang dulu minta dibuang masih ada gak?”, tanya Naz yang teringat teman bobo-nya dulu.
“Hahaha,, takut Arfin nanyain ya?? “, Bunda malah tertawa,, “Masih ada tuh di gudang”.
“Yaudah aku ke gudang dulu ya”, ucap Naz lalu beranjak pergi ke gudang untuk mengambil bonekanya yang satu tahun lalu minta dibuang, beruntung Mbak Iyem tidak mengikuti permintaan Naz dan malah disimpan di gudang.
Setelah selesai mengambil boneka dan membersihkannya, karena walaupun dibungkus plastik tetap saja dalamnya agak kotor, Naz kembali membungkusnya dengan plastik baru untuk dikirim ke laundry, kemudian ia pun pergi mandi dan setelah itu beristirahat di kamarnya.
***
Hari demi hari telah dilewati dengan berbagai kesibukan, Naz mulai disibukan dengan pelaksanaan Try out kemudian persiapan UN, sedangkan para orang tua sibuk dengan persiapan pernikahan. Arfin pun yang bolak- balik Surabaya- Jakarta hanya mengikuti beberapa pertemuan dengan pihak WO, Designer, juga dengan pihak percetakan undangan. Namun ia pulang hanya dua minggu sekali karena sibuk dengan pekerjaannya juga masih mengikuti terapi yang diinstruksikan oleh dokter dan psikiater yang menangani nya, serta mengurus pendaftaran Naz ke universitas di Surabaya.
Sesuai keinginan Naz, tema pesta pernikahannya nya dengan warna pink dan silver, sedangkan untuk baju pengantin yang akan dikenakan nanti berjumlah tiga pasang, satu untuk akad nikah dengan menggunakan adat Sunda, sedangkan dua lagi untuk resepsi dengan bergaya modern.
Bunda pun sudah membagikan kain pada semua anggota keluarga untuk pakaian seragam saat acara pernikahan nanti, sehingga mereka bisa membuat pakaian sesuai selera mereka masing- masing, sedangkan untuk keluarga inti Bunda mendesain dan membuatnya di butik yang ia miliki dengan bantuan para pegawainya. Sementara Bu Rahmi bertugas memesan undangan beserta souvernir yang sudah dipilih oleh Naz dan Arfin saat diberikan sampel oleh pihak percetakannya, kalau bapak- bapak mah bagian pengucuran dana saja serta memberi daftar para kolega dan teman- teman yang akan di undang.
***
Tiga bulan telah berlalu Naz yang sudah selesai melaksanakan UN pun kini ikut terlibat dalam persiapan pernikahan, diantaranya mendata teman- teman yang akan di undangnya ke pernikahan nanti, membeli barang- barang hantaran juga maskawin bersama Arfin dan ketiga ibu dari mereka, serta melakukan pemotretan untuk foto prewedding dan untuk kartu undangan.
Sesuai permintaan Naz, foto prewedding dilakukan di tepi danau di tempat mereka awal bertemu dulu. Untuk sesi pertama Naz memakai seragam SD sedangkan Arfin memakai seragam SMA, dilanjutkan dengan Naz yang memakai seragam SMA dan Arfin memakai pakaian kerja lengkap dengan helm proyek, yang sesuai identitas mereka saat ini, Naz yang seorang pelajar SMA dan Arfin yang seorang pengusaha plus arsitek. Setelah itu baru lah Naz memakai gaun dan Arfin memakai stelan jas yang berganti sebanyak dua kali, dan yang terakhir keduanya memakai pakaian santai.
Seperti pasangan pada umumnya, tak jarang terjadi percekcokan diantara kedua calon pasangan pengantin ini hanya gara- gara hal sepele, namun sesuai anjuran sang Mami, Arfin pun selalu mengalah dan bersabar menghadapi Naz yang terkadang emosinya meluap- luap. Arfin tidak merasa aneh dan heran dengan tingkah Naz yang mendadak berubah seperti itu, karena Mami nya terus menasehatinya dan memberitahunya tentang apa saja yang akan terjadi saat persiapan pernikahan serta cara menyikapinya. Ia pun sangat memahami, pastilah Naz tengah banyak pikiran soal persiapan pernikahan mereka. Ditambah pagi ini terjadi masalah lagi di kediaman orang tua Naz yang kembali memperebutkan tempat untuk pelaksanaan pengajian dan siraman.
“Pokoknya acara pengajian dan siraman akan dilaksanakan di rumah ini, titik”, ucap Pak Syarief menegaskan.
__ADS_1
“Enggak bisa Mas,, pokoknya acaranya akan dilaksanakan di rumahku”, Pak Rizal tetap kekeh.
“Kamu gimana sih Zal,, Naz itu anak kandungku dengan Rahmi, tentu saja acara siraman nya akan dilaksanakan di rumah kami”, Pak Syarief terus bersikeras.
“Pokoknya gak bisa Mas,, Naz itu sejak lahir dibesarkan di rumah ku,, dan saat akan menikah pun akan dilepas di rumah ku juga”, Pak Rizal tak mau kalah.
“Sudah- sudah,, kalian teh jangan kayak anak kecil gini atuh,, malu udah pada tuir juga”, Bunda berusaha melerai.
“Iya,,, kalian jangan meributkan hal ini lagi,,, sudah acara pengajian dan siraman nya akan dilaksanakan di sini di rumah kami Zal”, Bu Rahmi malah ikut mendukung suaminya.
“Gak bisa Mbak Rahmi,,, saya gak terima,, pokoknya acaranya harus di rumah saya”, Pak Rizal pun menolak kinginan Kakak iparnya itu.
“Arghhhh,,,, ini semua gara- gara Mira yang sudah memisahkan Naz dari kami dulu,,,”, Bu Rahmi merasa kesal dan mempersalahkan mendiang Bu Mira.
“Mbak,, sudahlah,, jangan menyalahkan yang sudah tiada atuh,, kasihan nanti arwahnya teh gak bisa tenang”, Bunda berusaha menenangkan.
“Sudah cukup…..!!”, Naz yang sejak tadi hanya menjadi pendengar kemudian berteriak lalu berdiri,”, Kalau pernikahanku malah jadi bikin kalian ribut terus seperti ini, lebih baik aku gak usah nikah aja,,, batalkan saja pernikahannya”, ucap Naz dengan nada marah, kemudian ia beranjak pergi berlari ke kamarnya, sedangkan keempat orang tuanya merasa terkejut dengan perkataan Naz, lalu Bunda dan Bu Rahmi mengejar Naz.
Ceklek,,,, jebred…..
Naz masuk kemudian membanting pintu dan menguncinya dari dalam, lalu ia tengkurap diatas tempat tidur dan membenamkan wajahnya pada bantal sambil menangis karena merasa kesal dan marah.
Tok tok tok… “Dek,, buka atuh pintunya, geulis,,, kamu teh jangan main- main sama ucapan mu,, pamali ,, “, ucap Bunda dari balik pintu.
“Biarin,,, aku gak usah nikah aja,, kalau malah bikin kalian ribut terus,,, huhuhuhu”, teriak Naz dari dalam kamarnya sambil menangis.
“Jangan gitu atuh, Dek,,, masa iya kamu mau membatalkan pernikahan yang persiapannya udah hampir 85%, bisa malu atuh keluarga kita sama keluarga Arfin nantinya”, Bunda terus membujuk.
“Iya sayang,,, ayok buka pintunya,, jangan kayak gini dong,,, ayok kita bicara baik- baik”, Bu Rahmi pun ikut membujuk putrinya itu.
“Aku gak peduli,,, pokoknya aku gak mau nikah,,, huhuhuhu”, Naz kembali berteriak.
“Aduh,,, gimana atuh ini Mbak,,,?”, Tanya Bunda panik.
“Yasudah kalian ngalah aja sih,, biarin acara pengajian dan siraman nya di rumah ini aja”, Bu Rahmi malah membahas hal itu lagi.
“Ya gak bisa gitu atuh Mbak,,, Mbak teh kan tahu sendiri kalau sejak lahir Naz udah tinggal di rumah kami,, para tetangga juga tahu kalau kami teh punya anak gadis,, jadinya acaranya teh harus di rumah kami,, biar semua orang tahu kalau anak gadis kami teh udah mau nikah, kalau disini mah kan Naz baru tinggal 10 bulanan, para tetangga juga kan tahunya anak gadis Mbak itu Raline”, kini Bunda pun ikutan membela suaminya yang tadinya sempat jadi tim penengah.
“Tapi kan Naz itu anak kandung saya sama Mas Syarief,, pokoknya harus disini”, Bu Rahmi terus kekeh.
“Diam,,,,!!! Kalau mau bertengkar jangan di depan kamarku,,,pergi sana,,, tinggalin aku sendiri !! huhuhuhu”, Naz berteriak dan menangis semakin keras, lalu melempar bantal serta kedua boneknya satu persatu karena merasa sangat kesal dan marah sambil terus menangis, kemudian Bunda dan Mama-nya Naz pun berhenti berdebat dan mereka meninggalkan kamar Naz dengan perasaan khawatir.
Sejak kejadian itu Naz terus mengurung dirinya di dalam kamar dan tidak mau keluar walaupun semua orang di rumah sudah membujuknya, Naz tetap tidak mau membuka pintu untuk siapa pun. Karena merasa khawatir, mereka pun menghubungi Arfin meminta bantuan untuk menghubungi Naz agar membujuknya keluar dari kamarnya, namun Naz sengaja tidak mengaktifkan ponselnya, sehingga tidak ada yang bisa menghubunginya.
Arfin yang tadinya akan berangkat ke Surabaya sore ini, namun mengurungkan niatnya karena merasa khawatir pada Naz yang menurut laporan Bunda sedari pagi hingga sore Naz terus mengurung dirinya di kamar. Ia pun meminta sopir memutar arah tujuannya menuju rumah Naz, dan di perjalanan ia membeli sesuatu yang sangat disukai Naz untuk membujuknya.
“Arfin,,,?? Kok kamu teh datang ke sini? Bukannya udah mau terbang ke Surabaya? Kami kan cuman minta tolong kamu menghubunginya saja”, ucap Bunda setelah membukakan pintu untuk Arfin yang baru saja tiba dengan membawa kantong kresek di tangannya, lalu menyalami beliau.
“Ponsel Naz tidak bisa dihubungi, Bunda,,, aku sangat khawatir,,,, kenapa kalian baru ngasih tahu kalau Naz mengurung diri sejak pagi?”, tanya Arfin.
“Kamar Naz di sebelah mana, Bunda?”, tanya Arfin.
“Di atas,, ayok atuh Bunda antar”, ucap Bunda kemudian beliau bersama Arfin menaiki tangga menuju lantai dua dimana tempat kamar Naz berada.
“Bunda,,, biar aku membujuknya sendiri,, Bunda tunggu aja di bawah,, nanti kalau dia tahu Bunda ada di sini malah gak mau keluar lagi”.ucap Arfin berbisik- bisik tetanga.
“Tapi awas ya kamu teh jangan berbuat macam- macam,,, tungu aja satu setengah bulan lagi juga sah, baru boleh segala macam pun”, ucap Bunda memperingatkan sambil berbisik pula.
“Iya Bunda,,, aku enggak akan berani macam- macam,,, nanti bisa digantung oleh Om Syarief dan Om Rizal di pohon cemara”, Arfin malah bercanda.
“Yasudah kalau gitu,, Bunda tinggal dulu,,, “, Bunda pun mengikuti permintaan Arfin, sedangkan Arfin menyimpan kantong kresek yang ia bawa di atas meja, kemudian kembali melangkahkan kaki nya menuju kamar Naz, dan saat sudah di depan pintu, ia pun langsung mengetuknya.
Tok tok tok…
“Pergi,,, tinggalin aku sendiri,, aku gak mau ngomong sama kalian”, teriak Naz sambil sesenggukan dari dalam kamar.
“Sayang,,, ini Aa,,, ayo buka pintunya ya,,,”, bujuk Arfin.
“Aku gak mau keluar,,, “, ucap Naz yang kembali teriak.
“Sayang,,, jangan seperti ini dong,, jangan teriak- teriak gitu,, ayo buka pintunya ya,,, Aa bawa makanan kesukaan kamu loh”, Arfin kembali membujuknya.
“Gak mau,,, pasti di luar ada mereka?”, ucapnya lagi.
“Enggak ada,,, di sini cuman ada Aa aja,,, ayok buka pintunya ya, sayang,, Aa sengaja nih gak jadi pergi ke Surabaya karena pengen nemuin kamu”, Arfin terus membujuk.
Naz kemudian beranjak dari tempat tidurnya berjalan menuju pintu, ia memutar kuncinya… Ceklek,,, Naz membuka pintunya, dan saat melihat calon suaminya berdiri di depan pintu, Naz langsung memeluknya, dan kembali menumpahkan air matanya di pelukan Arfin yang merupakan tempat ternyaman nya untuk berkeluh kesah. “Huaaaaaaa,,,,,, hiks hiks”.
“Ssssttttt,,,, udah,, udah sayang,,, jangan nangis lagi ya”, ucapnya sambil mengusap- usap kepala Naz.
“Aku gak suka dengar mereka bertengkar,,, huhuhu...hiks,, hiks”, ucap Naz sambil menangis.
“Iya,, sudah ya,, kamu jangan nangis lagi ya,,,, Ayok kita duduk,,”, Arfin melepaskan pelukannya perlahan lalu mengajak Naz duduk di sofa yang ada di sana. “Udah sayang,, jangan nangis lagi ya,, emangnya gak capek? Bunda bilang kamu dari pagi nangis dan ngurung diri di kamar,, kenapa hem?”,tanya nya sambil membelai rambut Naz yang duduk di sebelahnya namun saling berhadapan.
“Aku kesal sama mereka yang terus berdebat memperebutkan tempat untuk acara pengajian dan siraman nanti”, ucap Naz sambil sesenggukan.
“Sayang,,, lain kali kalau ada masalah yang menyangkut soal pernikahan kita, kamu bicarakan sama Aa,, biar kita bisa menyelesaikannya bersama,,, jangan seperti ini lagi ya, kamu malah marah dan mengurung diri di kamar, nanti kamu bisa sakit sayang,,, sedangkan masalahnya sendiri belum teratasi, dan nantinya bisa- bisa nambah masalah baru,,”, ucap Arfin, sementara Naz hanya menunduk sambil sesenggukan dan terus menghapus air matanya.
”Udah dong sayang jangan nangis ya,, nanti kan gak lucu kalau mata kamu bengkak saat kita di foto besok”.
“Difoto?? Buat apa?”, tanya Naz sambil sesenggukan dan menghapus air mata yang membasahi pipinya.
“Buat cover surat Yaasin”, jawab Arfin ngasal.
__ADS_1
“Iiihhh,,, emangnya aku udah mati apa?”, ucap Naz sambil merengek kesal.
“Hahahaa,,,, ya bukan dong sayang,,, buat persyaratan daftar nikah,,, tadinya Aa mau dafarnya nanti aja hari jumat,, tapi karena sekarang gak jadi pulang ke Surabaya,, jadi sekalian aja besok daftar ke KUA nya”, ucapnya menjelaskan, “Eh tapi,, emang kamu masih mau nikah sama Aa? Kata Bunda kamu mau membatalkan rencana pernikahan kita”, Arfin melah menggoda Naz.
“Iiiihhh,,,, itu kan cuman gretakan aja,,,”, ucap Naz dengan nada manja sambil sesenggukan.
“Jadi gak batal nikah nih?”, tanya Arfin usil.
“Enggak”, jawab Naz.
“Beneran?”, Arfin bertanya lagi.
“Iya”, Jawab Naz yakin.
“Cius,,,? mi apah?”, Arfin seolah mengolok- olok.
“Iiihhh,,, nyebelin banget sih”, Naz jadi merasa kesal lalu mencubit perut Arfin.
“Hahaha,,, adududuh,,, kamu suka banget ih nyubit Aa,, kalo kamu gemas sama Aa suka nyubit,, kalau Aa gemas sama kamu suka pengen nyium tau gak”, Arfin terus menggodanya.
“Iiihh,,, dasar mesum”, ucap Naz yang kembali mencubit perut Arfin.
“Aww,,, sakit sayang,,, kamu mah curang Ihh,,, Aa bilang pengen nyium langsung dibilang mesum,, ehh giliran Aa lagi lengah, kamu malah nyosor gitu aja,,, “, Arfin mengingatkan Naz soal dia yang tiba- tiba mencium Arfin.
“Kapan?,,, gak usah ngarang deh”, Naz malah berdalih.
“Eh,,, suka pura- pura lupa kamu ya,,, apaan itu pas Aa nganterin kamu habis acara pertunangan kita waktu itu,, kamu tiba- tiba nyium pipi kiri Aa,,, sampe sekarang pipinya suka sakit sebelah tau gak”, ucap Arfin menujuk ke pipinya sendiri.
“Emangnya kenapa sakit sebelah,,, aku kan gak bervirus”, tanya Naz kesal disela sesenggukan ya.
“Soalnya pipi kanan nya sakit hati karena gak dapat ciuman dari kamu”, ucap Afin sambil nyengir.
“Iiihhh,,, dasar maruk”, Naz kembali mencubit Arfin.
“Hahahahaha,, aduh sakit sayang,,,”, Arfin tertawa tapi sambil meringis, “ Awas ya mulai sekarang Aa akan hitung setiap cubitan yang kamu kasih ke Aa yang nantinya harus dibayar dengan denda satu ciuman untuk sekali cubitan,,,, wahhh tadi aja udah empat cubitan nih,,, lumayan”, Arfin tersenyum licik.
“Nanti aku aduin ke Bunda”, Ancam Naz.
“Biarin,,, orang dendanya mau di tabung,, dan nanti akan ditagih saat kita sudah menikah nanti,,, wow,,, yang sering ya nyubitnya,, biar dendanya makin banyak hahaha”, ucapnya dengan tertawa renyah, kemudian Naz sudah akan mencubitnya lagi namun menghentikannya, “Ayok sayang,, sinih cubit lagi”, Arfin malah sengaja menggoda Naz.
“Dasar licik”, Naz mencebikan bibirnya.
“Ya enggak licik dong sayang,, kan dicubit itu sakiit,, jadi ya obatnya dengan di cium”, ucapnya sambil memonyongkan bibirnya seolah ingin mencium.
“Cium aja tembok sana !!”, Naz semakin kesal.
“Gak enak atuh sayang,, keras tembok mah ih,,, beda sama pipi kamu,,, kenyal deh kayaknya seperti marsmellow”, ucapnya yang kembali mencolek pipi Naz.
“Ihhh,, nyebelin banget,, dasar gatel”, Naz menggerutu kesal.
”Hahahaha,,,, udah udah ah jangan ngambek gitu,, Aa suka makin gemas,,, nanti bisa- bisa Aa khilaf lagi,,,,”, ucapnya sambil tertawa renyah,
“Oh,,, iya,, Nih Aa bawain makanan kesukaan kamu,,, dimsum sama jus alpukat,,, ayok makan dulu ya,,, “, ucap Arfin lalu mengambil isian kantong kreseknya dan membuka enam buah tempat makan dari sterofoam yang isisnya dimsum berbagai varian, serta mengeluarkan dua gelas cup yang berisi jus alpukat dari kantong kresek yang satunya lagi.
“Gak mau,,, aku gak lapar”, ucap Naz yang masih dalam mode ngambek.
“Eh,, gak boleh gitu sayang,,, kamu belum makan siang dan ini sudah sore, kamu kan punya penyakit maag, jangan suka nahan lapar ah,, nanti kamu bisa tambah kurus loh”.
“Aku gak kurus tapi langsing”, ucap Naz dengan nada jutek.
“Haha,, iya deh iya langsing,, tapi kalau gak makan, nantinya jadi kurus,,, terus baju pengantinnya nanti bisa- bisa kedodoran dong,,,”, ucapnya lagi terus membujuk, sedangkan Naz malah masih cemberut, “Jangan cemberut terus dong, kamu suka banget ih bikin Aa gemas..”, Ucapnya lalu kembali mencolek pipi Naz.
“Iiih,,, gak usah colak colek,,, pipiku bukan sabun colek”, ucap Naz kesal
“Kalo kamu cemberut terus, Aa bukan cuma mencolek pipi mu,,, tapi …………”.
“Iya,, iya aku mau makan”, ucap Naz langsung memotong kalimat Arfin yang sudah ia ketahui arah pembicaraannya kemana dan itu membuat Arfin terkekeh.
“Aa suapin, mau?”, tanya nya sambil memegang sumpit.
“Gak usah,, aku mau makan sendiri”, ucapnya lalu mengambil sumpit yang lainnya untuk digunakannya mengambil dimsum yang akan dimakannya.
“Nah,, gitu dong… Aa sudah yakin kalau kamu tidak akan kuat menahan godaan dari makanan kesukaan mu ini,,, berbeda sama Aa yang masih kuat nahan godaan kamu yang menggemaskan”, ucapnya terkekeh saat melihat Naz mulai memakan dimsum-nya,
"Makan yang banyak ya, sayang”, ucapnya sambil tersenyum melihat calon istrinya makan sambil sesenggukan karena habis nangis.
“Gak mau,, nanti aku bisa gendut”.
“Mustahil,,, kan katanya di perut mu itu ada anti gendutnya,, jadi kalau makan sebanyak apapun, kamu gak akan gendut- gendut”, ucapnya yang teringat akan kata- kata Naz dulu, dan ia hanya mencebikkan bibirnya tanpa membalas ucapan Arfin.
Dan tanpa mereka ketahui, ada dua pasang mata yang sejak tadi mengawasi keduanya dari ujung tangga.
------------------ TBC ----------------
*************************
Happy Reading,,,, 😉
Jangan luva tinggalkan jejakmu… 😉🤩
Tilimikicih.... aylapyu oll,,,,😘😘😘
__ADS_1