Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Karena Ayah


__ADS_3

Suasana makan malam yang romantis dilengkapi alunan musik piano dengan nyanyian lagu Cinta Luar Biasa yang di lantunkan oleh Arfin teruntuk gadis sang pujaan hati, membuat malam terasa semakin indah. Sang gadis pun dibuat berbunga- bunga dan terus memandangi pria yang tengah menyanyi itu dengan melemparkan senyuman termanisnya seakan terlena dan terbuai dengan lagu yang seolah Arfin tengah mengutarakan perasaannya kepada Naz. Dan ternyata setelah menyelesaikan nyanyian lagu cinta nya tersebut, Arfin langsung menghampiri Naz dan berlutut di hadapannya lalu menyatakan seluruh perasaan cintanya kepada Naz dengan tanpa melepaskan pandangannya dari mata indah Naz.


“Maukah kau menerima cintaku,, Rheanazwa?”, Arfin menanyakan jawaban Naz atas ungkapan cintanya, sedangkan Naz hanya diam mematung karena terkejut dan merasa tidak percaya mendengar semua ungkapan perasaan Arfin padanya, tangannya menjadi dingin, getaran seakan menggelenyar di seluruh tubuhnya, namun matanya masih saling bertatapan dengan Arfin yang masih dalam keadaan berlutut di hadapannya, perasaanya seakan mengharu biru.


“Kak Arfin,,,,,”, Lirihnya pelan, “Kak Arfin aku,,,,,,”,mendadak bibir Naz terasa kaku, seakan sulit untuk mengeluarkan kata- kata, dan saat Naz hendak mengatakan sesuatu, tiba- tiba ia terdiam seolah mengingat sesuatu dan tatapannya berubah sendu seketika pada Arfin. “Kak Arfin,,, Maaf,,, aku,,, aku,,, ku gak bisa”, ucapnya menundukkan pandangan, lalu Naz melepaskan kedua tangannya dari genggaman Arfin, “Maaf,, Kak,,, maafin aku Kak”, ucapnya lalu Naz membalikan badannya hendak beranjak pergi.


Arfin yang mendengar jawaban Naz merasa sangat terkejut bagaikan tersambar petir membuat hatinya hancur seketika. “Kenapa Naz…. Kenapa?”, lirihnya bertanya dan menghentikan langkah Naz.


“Aku gak pantas buat Kak Arfin,,, aku gak pantas Kak,,,”, jawab Naz sambil menempelkan telapak tangan di dadanya seolah tengah menahan sakit yang menyesakkannya.


“Aku hanya menganggap Kak Arfin seperti Kakak ku sendiri, aku menyayangimu selayaknya aku menyayangi Kak Dandy dan Kakak- kakakku yang lainnya,,, maafin aku Kak,,, terimakasih untuk kasih sayangmu, terimakasih untuk perhatian yang selalu kau berikan, terimakasih atas semua pengorbanan mu, terimakasih juga untuk cinta yang kau berikan,,, tapi sekali lagi maaf,, aku tidak bisa membalas nya”, ucapnya tanpa sedikit pun menoleh kembali ke arah Arfin yang berlutut di belakangnya, lalu Naz membekap mulutnya dan langsung berlari meninggalkan tempat itu, Naz berjalan menuruni tangga hinga lantai satu dengan air mata yang terus mengalir dari kedua mata nya. Ia berlari keluar restoran tersebut tanpa mempedulikan orang yang memperhatikannya, ia mengedarkan pandangan di pinggir jalan mencari keberadaan taksi, dan setelah menunggu beberapa saat munculah satu taksi lalu dihentikannya dengan segera Naz menaikinya dan mengatakan alamat tujuannya.


Sepanjang perjalanan Naz terus menangis sambil terus melontarkan kata maaf dari bibirnya,, “Maafin aku Kak,, maafin aku,, hiks hiks,,,”, ucapnya tanpa menghentikan tangisannya sampai ia sesenggukan.


Sementara di dalam restoran Arfin yang masih berlutut tidak bergeming sama sekali dengan wajah yang masih syok atas jawaban yang Naz lontarkan, ia diam termenung dan beberapa saat kemudian ia memerosotkan diri menjatuhkan bokongnya ke lantai panggung, bruk,,,, ia menunduk menahan dengan kedua tangan di depannya sebagai tumpuan,, bughh,,, ia memukul lantai panggung dengan kepalan tangannya.


Arfin POV


Arghhh,,, kenapa aku bisa sebodoh ini,, apakah yang ku dengar tadi benar- benar nyata,,, Naz bilang dia tidak pantas untuk ku,, kenapa aku bisa sepercaya diri ini untuk menyatakan perasaanku padanya, kenapa aku tidak berfikir Naz menerimaku hanya sebagai seorang Kakak saja,, dia benar… dia memang benar dia tak pantas untukku, karena dia terlalu sempurna untuk aku yang punya banyak kekurangan ini. Kenapa aku bisa berfikir dia akan menerima kekuranganku sebagai pasangannya, tentunya aku yang pincang ini hanya akan membuatnya malu, kenapa aku tidak berfikir sampai di situ,,, arghh,,, cinta memang mampu membuat ku jadi manusia sebodoh ini.


Ternyata aku salah besar, aku salah paham dengan sikapnya terhadapku, Naz tidak memiliki perasaan yang sama denganku, jadi selama ini dia hanya menganggap ku sebagai Kakaknya saja,, tidak,, ini tidak mungkin aku yakin tadi aku salah dengar, aku yakin dia juga mencintaiku, aku yakin dia membalas perasaanku layaknya dua sejoli yang saling mencintai, aku yakin itu. Tidak mungkin dia marah padaku saat aku bersama dengan wanita lain jika itu bukan karena cemburu, aku masih yakin kau mencintaiku Naz,, aku yakin Itu. Ahh,, sebaiknya ku susul dia, pasti belum jauh perginya. Lebih baik aku bangun dan mengejarnya, pasti dia belum pergi jauh dari sini.


Tidak,,, dia sudah menolak ku dan meninggalkan ku, aku tidak akan mengajarnya, aku yang salah, berarti benar perkiraan ku saat dia mengirimkan voice note padaku tempo hari, dia bilang sayang padanya dan menunggunya menyatakan cinta, berarti itu memang bukan aku,, berarti yang dia maksud adalah orang lain, dan yang Ruby katakan bahwa Naz sudah jatuh cinta, berarti itu pun jatuh cinta pada orang lain bukan padaku,,, Kenapa aku tidak berfikir, setelah ia mengirim voice note itu ia sama sekali tidak pernah mencoba menghubungiku, Arghh kenapa aku bisa sebodoh ini, aku terlalu percaya diri dan mengesampingkan logikaku.


Dua kali,,,dua kali aku dekat dengan wanita dan berujung mereka meninggalkanku begitu saja,, mereka sama saja hanya memberikan harapan palsu padaku, dan seharusnya aku menyadari, memang benar tidak akan ada wanita yang mau menerima pria cacat seperti ku yang hanya akan memuat mereka malu, tidak ada yang bisa mencintaiku dengan tulus dan menerima kekuranganku ini. Ya ,, iya sebaiknya memang aku seperti dulu lagi, tidak usah menghiraukan wanita dalam hidupku, tidak usah berharap pada wanita, tidak usah berurusan dengan percintaan, persetan dengan cinta, persetan dengan semuanya. Arghhh….


Naz POV


“Maaf mbak, ini sudah sampai di alamat yang mbak sebutkan tadi”,ucap supir taksi yang sudah menghentikan laju mobilnya itu.


Dan benar saja ternyata aku sudah sampai di depan pintu gerbang rumah, aku pun segera mengambil uang dari tas kecilku kemudian membayar ongkos taksi tersebut, lalu aku segera turun. Aku membuka pintu gerbang yang ternyata belum di gembok, aku masuk degan melangkah gontai sambil terus menghapus air mataku yang masih saja mengalir deras, kulihat belum ada mobil ayah ataupun Bunda, berarti mereka belum pulang. Ting nong ,, ku tekan bel rumah karena aku lupa tidak membawa kunci, tak lama Mbak Iyem pun membukakan pintu untuk ku.


“Loh Neng Naz,,, kenapa? Ko nangis gitu?”, Mbak Iyem langsung bertanya saat melihat kondisiku.


“Gak apa- apa Mba, aku cuman lagi sensi aja karena PMS, jadi pengen marah- marah sama nangis gak karuan”. Jawabku di sambil sesenggukan, ”Ayah sama Bunda belum pulang Mbak?”, tanyaku lalu masuk berjalan melewati Mbak Iyem.


“Belum Neng,, “.


“Mbak,,, jangan bilang sama siapapun aku pulang dalam kondisi seperti ini ya,, aku cuman gak mau semua orang khawatir, mood ku lagi gak bagus aja,, aku ke kamar dulu ya “, ucapku memberi pesan.


“Iya neng”.


Aku pun langsung bergegas pergi ke kamar,, kubuka pintunya lalu masuk dan ku tutup kembali. Ku sandarkan tubuhku di balik pintu, tubuhku serasa lemas merosot begitu saja ke lantai,,, “Hiks,,, hiks,, hiks… maafkan akau Kak Arfin,, maafkan aku,,, hiks hiks hiks,,, maafkan aku sudah melukai hatimu,, maafkan aku sudah menolak cintamu,, maafkan aku yang tak layak bagimu,, maafkan aku,,, hiks hiks… aku juga mencintaimu,, aku juga menyayangimu ”, aku hanya mampu berdialog sendiri sambil memukul- mukul dadaku yang terasa sesak dengan air mataku yang tidak henti- hentinya terus mengalir membasahi pipiku.


Aku sudah berbohong padanya dan itu pasti sangat menyakitkan baginya,,, hanya kata maaf yang bisa terus ku lontarkan untuknya, dan ini adalah hal yang paling menyakitkan bagiku harus menyakiti orang yang kucintai dan sangat mencintaiku. Huhuhuhuhu hikh hiks hiks,,, aku terus menangis hingga tak ku sadari aku tertidur di lantai di balik pintu.


Tok tok tok….. tok tok tok… terdengar suara pintu diketuk berkali- kali seolah menjadi alarm yang membangunkan ku. “Sayang,,, bangun atuh,,, ini teh sudah jam setengah delapan,, ayo kita sarapan bersama,, semua orang teh sudah kelaparan kelamaan nungguin kamu “, suara teriakan Bunda mampu membuat lelembutan ku langsung terkumpul seketika.


“Kalian sarapan duluan aja Bund,,, aku lagi PMS perutku rasanya gak enak banget,,,”, jawabku dari balik pintu tanpa berniat membukanya.


“Oh,,yasudah atuh kalo gitu mah, Bunda, Ayah, sama Dandy sarapan duluan ya,,, kamu istirahat aja, nanti Bunda minta Mbak Iyem saja mengantarkan sarapan kesini ya”.


“Iya, Bund”, jawabku merasa lega karena tidak mungkin aku membiarkan Bunda melihat keadaanku yang seperti ini, aku pun berjalan menuju tempat tidurku, tubuhku rasanya sakit semua setelah semalaman tidur di lantai. Langkah ku terhenti saat melewati cermin twalet, di sana aku terlihat sangat berantakan dengan keadaan masih memakai gaun yang semalam, wajahku sembab dan kusut, mataku bengkak dengan eye liner dan maskara yang meluber seperti kena hujan tinta di bawah mata efek menangis semalaman, ternyata aku tertipu oleh sales yang mengatakan eyeliner dan maskara nya anti air, baru kena air mata saja sudah luntur apalagi kena air segayung, rambut ku pun berantakan seperti singa yang kena sengatan listrik.

__ADS_1


Tiba- tiba ku teringat saat semalam aku bercermin masih dalam keadaan cantik layaknya sang putri dalam dongeng dan kini penampilanku berubah bukan jadi upik abu lagi namun lebih mirip disebut seperti orang gila, air mataku pun kembali menetes membasahi pipiku tanpa permisi, mengingat kejahatan yang sudah kulakukan semalam kepada pria yang sangat ku cintai. Ternyata begini rasanya patah hati, rasanya seolah gugur sebelum berkembang, baru pertama kali jatuh cinta dan belum juga memulai hubungan, sudah berakhir begitu saja, sakiiiiittt. Kenapa begitu sakit,,, kenapa sesakit ini,,, air mata ku terus mengalir tanpa bisa ku rem.


Ku baringkan tubuhku di atas tempat tidur dengan memeluk kedua boneka pemberiannya,,,”Tedy bear,,, maafkan aku sudah menyakiti Tuan kalian,,, mungkin ini lebih baik untuk Dia kedepannya,, hiks hiks hiks,,,”.


Tak lama Mbak Iyem mengirimkan ku sarapan, dan mengatakan kalau Ayah dan Kak Dandy pergi ke rumah sakit ada panggilan emergency sedangkan Bunda pergi ke Butik karena sedang banyak pesanan. Padahal ini hari minggu mereka masih saja tetap bekerja, namun kali ini beda dari biasanya aku merasa bersyukur karena mereka tidak perlu melihat keadaanku yang menyedihkan seperti ini. Aku terus mengurung diriku di kamar dan meratapi kesedihanku seorang diri, sesekali aku keluar hanya untuk ke kamar mandi, makan pun sampai malam diantarkan ke kamar oleh Mbak Iyem, dan aku berpesan kepada nya untuk tidak memberitahukan keadaanku kepada siapapun, serta memintanya mengirimkan es batu ke kepada ku untuk mengompres mata ku yang bengkak.


Malam ini pun aku masih saja menangisi kesalahanku dengan terus memandang layar ponselku berharap dia akan menghubungiku, ku pikir meski tidak terjalin hubungan sepasang kekasih antara kami masih bisa berhubungan sebagai teman walau mungkin tidak sedekat sebelumnya, tapi itu hanya khayalanku saja, mungkin aku terlalu naif berharap sesuatu yang mustahil.


Keesokan harinya aku pergi ke sekolah seperti biasanya setelah sarapan bersama, dan aku pun berangkat dengan Pak Udin yang sudah ku ancam untuk tidak menuruti Bang Evan lagi. Sesampainya di sekolah aku bertemu dengan ketiga sahabatku dan masuk ke kelas bersama. Saat di kelas aku sesekali melamun dan tidak memperhatikan pelajaran, dan itu pun terjadi di jam istirahat saat aku berkumpul dengan ketiga sahabatku, namun saat ditanya ada apa, kenapa dan sebagainya, aku hanya bisa ngeles dan menyembunyikan kesedihan yang ku rasakan.


Tak terasa seminggu berlalu ku jalani hari- hari yang menyedihkan, ku sembunyikan kesedihanku dari semua orang, setiap malam menangis dengan penyesalan dan harapan yang sama, namun kali ini berbeda, dan membuatku semakin sedih. Saat pulang sekolah ketiga sahabatku mengajakku ke rumah Kiara dengan alasan mengerjakan tugas, dan aku pun bersedia. Sesampainya di rumah Kiara, kami berkumpul di gajebo yang ada di halaman samping rumah Kiara untuk mengerjakan tugas di sana.


“Naz,,, lo kenapa sih, dari tadi ngelemun aja,, dan gue perhatiin lo di kelas juga sering ngelamun,, apa lo punya masalah?”, Ruby bertanya padaku dan aku hanya menggelengkan kepalaku sambil tersenyum. “Naz,, lo lupa ya,, kita bersahabat udah dari TK,,, kita udah saling kenal satu sama lainnya,, kalo sekiranya lo punya masalah atau ada yang mengganjal di hati , lo bisa cerita sama kita, selain itu bisa meringankan perasaan lo, mungkin aja kita bisa bantu”, ucap Ruby mengusap pundak ku, dan entah ada dorongan dari mana tiba- tiba aku merasa tidak tahan lagi.


“Huaaaaaaa,,,huhuhuhu,,, huhuhu,,, “, tiba- tiba tangis ku pecah, aku menangis dengan menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku, aku menangis sejadi- jadinya sekencang yang ku bisa.


“Naz, lo kenapa”,


“Naz kenap itu By”


“Kamu apain Naz sih By”


Aku mendengar ketiga sahabatku yang nampak panik, tapi aku tidak peduli, aku hanya ingin menangis menangis dan menangis untuk melepaskan sesak dari dadaku.


“Naz lo kenapa,, “, Ruby kembali menanyaiku sambil mengusap kepalaku.


“Sakiit By,,, sakit,, sakit banget rasanya,,, huhuhu hiks hiks”, ucap ku di sela tangisanku, lalu Ruby memelukku dari samping ,”Menangis lah Naz,,, menangis lah jika itu bisa meringankan rasa sakit mu”, ucapnya mencoba menenangkan ku.


Setelah beberapa saat aku melepaskan telapak tanganku yang sempat menutup wajahku, kuambil tisu yang ternyata sudah mereka siapkan di hadapanku untuk menghapus air mataku yang sudah bercampur dengan ingusku. Mereka seakan mengerti dan tidak bertanya apa pun lagi hingga menungguku tenang.


“Gue udah nyakitin dia ,,,,, gue udah jahat sama dia, hiks hiks ”, ucapku di sela tangisan ku.


“Jahat sama siapa maksud lo… ? jangan bilang lo udah nyelakain orang, terus orang itu mati dan lo gak tanggung jawab?”, Ruby malah bicara ngaco.


“Kak Arfin…”, lirih ku.


“Apaaa??”, mereka bertiga bertanya serentak.


“Kak Arfin nembak gue.. hiks hiks ”.


“Alhamdulillah….”, mereka pun mengucap syukur bersamaan.


“Tapi, gue udah nolak dia mentah- mentah...hiks kuis,,,".


“Apaa…?”, mereka kembali terkejut dan bertanya serentak.


“Gimana sih lo,, katanya lo nungguin dia nyatain cintanya sama lo,, kenapa malah lo tolak?”. Kiara langsung protes padaku dengan raut wajah kecewa.


“Gimana ceritanya, ko lo bisa sampai gitu sih Naz?”, Ruby menanyakan kronologinya.


“Jadi, seminggu yang lalu waktu dia jemput gue ke sekolah, dia ngajakin gue makan malam,, dan ternyata malam itu dia menyatakan perasaanya sam gue,, tapi gue malah nolak dia, hiks hiks ”.


“Tapi kenapa Naz,,, apa alasannya? Bukannya lo juga cinta sama Kak Arfin?”, Kiara kembali bertanya.

__ADS_1


“Naz,, jangan bilang lo terpengaruh sama kata- kata si siluman Gio itu?”, ucap Ruby dengan menyentuh tanganku dan aku pun hanya menggelengkan kepalaku


“Terus kenapa dong Naz,,, kenapa kamu nolak Kak Arfin ,, apa karena Bang Evan?”, Andes pun ikut menanyakan alasanku dan aku kembali menggelengkan kepalaku.


“ Terus karena apa lo nolak Kak Arfin”, Kiara bertanya lagi.


“Karena,,,, karena Ayah, Ra hiks hiks hiks…”.


“Ayah…?? Maksudnya gimana,,, ?”, Kiara merasa heran.


“Ayah minta gue jauhin Kak Arfin…hiks hiks,,,?”


“Apaa,..??”, mereka terkejut kembali.


“Jauhin gimana maksud lo,,, bukannya Ayah sama Bunda udah lama mengenal Kak Arfin,, lo pernah bilang kan kalau Kak Arfin dan Kak Dandy bersahabat sejak TK kayak kita ini,,,


“kenapa bisa gitu Naz,, pastinya Ayah tahu kan kalo Kak Arfin orang baik?", Ruby merasa heran.


“Jadi,, waktu Kak Arfin nganterin gue pulang, Ayah ada di teras menyambut ku, kemudian mengajakku masuk untuk makan siang bersamanya, dan setelah itu Ayah mengajakku ngobrol krena kami sudah lama tidak pernah ngobrol berdua”.


Flashback


“Sayang,, boleh Ayah tanya sesuatu?”, tanya Ayah saat kami baru selesai makan.


“Boleh lah,,, nanya doang kan gak bayar yah,, hehe”, jawabku cengengesan.


“ Sayang,, sudah seberapa jauh hubunganmu dengan Arfin?”, Ayah seolah menginterogasi ku.


“Maksud Ayah?” tanyaku terkejut.


“Saat kita di Bandung ayah sudah melihat kedekatan kalian, ditambah saat kamu hilang dia begitu mencemaskan mu dan mencari mu tanpa henti, apa dia juga orang yang setiap malam sering teleponan dengan mu?”, Ayah kembali mengorek informasi dariku sedangkan aku hanya mengangguk lalu menundukkan pandanganku, “ Jauhi dia !”, ucap Ayah dengan nada tegas.


Aku langsung mengangkat pandanganku, “Kenapa Yah,,, Kak Arfin orang yang baik dan sangat perhatian sama aku,, kenapa aku harus menjauhinya? Apa karena dia,,,,”, tanya ku heran.


“Bukan Naz,,,, ayah tidak mempermasalahkan soal kondisi fisiknya, hanya saja,,,,, Arfin itu berasal dari keluarga terpandang dan terhormat,, Ayah hanya takut jika keluarganya mengetahui identitas mu, mereka akan menjauhkan mu dari Arfin, mungkin dia bisa menerima mu dengan identitas mu, tapi keluarganya??, ucapan Ayah berhenti sejenak, " Naz,, empat tahun yang lalu, Kakaknya Arfin jatuh cinta dengan gadis sebatang kara, mereka mengira gadis itu tidak jelas asal usulnya, hingga keluarga Arfin memisahkan mereka berdua, padahal mereka saat itu sudah menikah diam- diam. Ayah tidak ingin kamu bernasib sama dengan gadis itu. Apalagi jika orang- orang di sekelilingnya tau identitas mu, mungkin itu akan mempengaruhi nama baiknya, jadi lebih baik kamu menjauhi Arfin sebelum semuanya terlambat,,,, Ayah minta maaf Naz,, ini semua demi kebaikan mu”, Ayah menjelaskan panjang lebar lalu mengusap- usap kepalaku dan aku hanya bisa duduk tertunduk.


Flashback off


“Awalnya gue pikir Kak Arfin ngajak makan malam aja ternyata dia nembak gue, dan yang tadinya gue gak peduli sama perkataan Gio,, tapi setelah Ayah mengatakan itu seolah membenarkan apa yang di katakan Gio padaku, bahwa aku tidak pantas untuk lelaki manapun karena aku hanya akan membuat lelaki itu malu, kalimat itu seakan terngiang- ngiang di telingaku saat aku akan menjawab pernyataan cinta Kak Arfin… hiks.. hiks… hiks…”.


“Naz,, pokoknya gue gak rela lo patah hati kayak gini, gue bakal datengin Kak Arfin dan menjelaskan semuanya”, ucap Ruby.


“Jangan By,,, jangan menemuinya, karena itu hanya akan semakin menyakitinya, dan gue mohon kalian jangan bilang pada siapa pun tentang masalah ini,, karena gak ada satu pun orang yang tahu termasuk Bunda”, ucap ku memohon sambil sesenggukan.


“Tapi Naz,, kalian itu saling mencintai, kalo begini caranya lo bukan cuman nyakitin dia tapi nyakitin diri lo sendiri”, Kiara ikut membujuk ku.


“Udah lah Ra,, mungkin ini sudah nasib gue kayak gini,,, gue numpang ke kamar mandi ya, Ra", ucapku bangkit dari duduk ku dan bergegas pergi ke kamar mandi yang ada, di dalam rumah. Saat aku kembali tengah melangkah menghampiri mereka, ku lihat mereka bertiga seperti sedang membicarakan sesuatu yang serius dengan duduk saling berhadapan, tiba- tiba mereka menumpukan telapak tangan kanan dalam satu gundukan lalu melepaskannya ke bawah seolah sedang melakukan kesepakatan.


--------------- TBC -----------


******************************


Akankah Naz dan Arfin bersatu???

__ADS_1


Apakah kira-kira yang direncanakan ketiga sahabat Naz....???


Happy Reading..... 😉🥰


__ADS_2