Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Drama Dibalas Drama


__ADS_3

Naz kini tengah dirundung rasa sedih, sakit dan kecewa pada sang suami yang sudah menegur sampai membentaknya karena ia telah mengerjai Felisha, yang tidak lain adalah teman semasa kuliahnya yang berusaha mengejar Arfin dan mengklaim bahwa Arfin adalah miliknya.


Sebenarnya Naz memang salah juga, karena kejahilannya tergolong keterlaluan hingga membuat Felisha sampai masuk rumah sakit, namun cara suaminya yang menegur sampai membentaknya lah yang tak bisa ia terima. Padahal kan Arfin bisa membicarakan dengan cara baik- baik, pikirnya.


Seperti biasa, tepi danau adalah tempat favoritnya untuk berkeluh kesah serta meluapkan kesedihannya sejak dulu, dan sekarang pun ia duduk di kursi yang sama namun dengan luka yang berbeda.


Naz yang masih berderai air mata, menundukkan kepalanya dengan telapak tangan yang ditempelkan di dadanya seolah menahan rasa sakit, hingga ia tak menyadari ada derap langkah seseorang dari arah belakang mendekat padanya yang tengah duduk menghadap ke danau itu.


Naz terkesiap dikala ada tangan yang menyentuh pundaknya. Ia pun menegakkan kepalanya, telapak tangannya segera digerakkan untuk menghapus jejak air mata yang sedari tadi mengalir deras membasahi pipinya.


Perasaannya dilanda kebimbangan antara menyambut atau mengacuhkan orang itu, karena yang tahu betul ia akan pergi kemana saat bersedih adalah suaminya. Naz memutar kepalanya untuk melihat siapa yang berada tepat dibelakangnya.


“Kak Maira,,,”,Naz tertegun antara terkejut dan kecewa karena yang datang bukan lah orang yang diharapkan kehadirannya.


“Naz,, kamu ngapain di sini,,, ? kamu habis nangis?”, Maira memperhatikan wajah Naz yang sembab, kemudian ia berjalan dan duduk di kursi yang sama dengan Naz.”Hai,,, kamu kok gak jawab?”, ucapnya lagi.


Grep,,, Naz langsung memeluk Maira dan kembali menumpahkan air matanya menangis sekencang yang ia bisa. Maira yang terkejut melihat Naz yang bertingkah seperti Nala saat menangis karena boneka kesayangannya ada yang ngambil. Ia pun tak bertanya lagi, hanya mengusap- usap punggungnya sebagai cara untuk menguatkan dan menenangkan Naz.


Naz yang nampak sudah merasa puas menangis, ia pun melepaskan diri dari pelukan Maira.


“Maaf ya Kak,,, bajunya jadi basah….”, ucapnya sambil sesenggukan.


Maira tersenyum mendengarnya, “Gak apa- apa, aku ini kan Kakak mu juga, kalau kamu butuh teman curhat, aku siap menjadi pendengar mu,, itu pun kalau kamu percaya,,, “.


“Makasih ya Kak,,, kakak sendiri ngapain di sini?”.


“Tadi sehabis menjemput Nala, aku mampir ke panti untuk mengunjungi Ibu”.


“Nala nya mana, Kak?”.Naz mengedarkan pandangan mencari anak penyuka sepilipemen itu.


“Dia lagi main sama anak panti,,, “, jawabnya , “Naz,, kamu lagi ada masalah ya?”.


“Iya, Kak,,,, “, Naz mengangguk.


“Apa karena Arfin?”, Maira menebak, sedangkan Naz yang masih sesenggukan hanya menundukkan kepala, “Naz,,, dalam rumah tangga ada sedikit cekcok itu sudah biasa,, orang tua bilang itu bumbunya dalam berumah tangga, kalau lurus- lurus aja akan serasa hambar atau monoton,, dan itu pun memang benar adanya, aku juga mengalami sendiri,,,, hanya saja itu semua tergantung pada diri kita dan bagaimana cara kita menyikapi nya,,, maaf ya bukan maksud untuk mencampuri urusan rumah tangga mu hanya sekedar mengemukakan pendapat saja”.


“Tapi masalahnya ada orang ketiga Kak”, Naz kembali terisak.


“Hahh,,,?? Orang ketiga? Maksudnya? Arfin selingkuh?”, Maira terkejut.


Naz menggelengkan kepalanya, “Bukan Kak,, tapi hampir,,,”.


“Ehh,,, kok gitu,, jangan asal bicara loh Naz,, kata- kata itu bisa jadi doa loh”, Maira mengingatkan, sedangkan Naz malah kembali menangis,


“Ehh,, kok malah nangis lagi,, maaf aku gak bermaksud mengamini perkataan mu, Naz”.


“Kenapa wanita sundel yang kegatelan keganjenan dan licik itu harus datang sih,, hiks hiks”, keluh Naz.


“Hah… maksudnya siapa itu Naz?”, Maira semakin bingung.


“itu si Tante Gembel yang namanya Felisha”.


Maira tertawa mendengar kata Tante Gembel, “Felisha teman kuliah Arfin dan Arsyad saat di Amerika itu bukan?”, tanyanya.


“Iya,,, gara- gara dia aku sampai dimarahi dan dibentak sama suamiku,,, hiks hiks”, Naz mengadu.


“Hahhh?? Emang kamu sudah berbuat apa sampai Arfin memarahi kamu? Gak mungkin kan dia tiba- tiba marah begitu saja", Maira nampaknya begitu mengenal Arfin.


Naz tertegun mendengar perkataan Maira yang menurutnya ada benarnya juga, kemudian ia menceritakan soal kedatangan Maira yang mengiranya sebagai pembantu, memintanya membuatkan teh yang ternyata ia campurkan cuka kedalamnya, Feli yang memeluk suaminya, perkataan Feli yang ingin merebut suaminya sampai ia mengerjai Feli yang ingin ke kamar mandi, dan hal itu membuat Maira menertawakannya.


“Naz,, ternyata kamu orangnya jahil banget ya,,, hahahaha”, Maira tak bisa berhenti tertawa, namun saat ia melihat Naz yang sudah berhenti menangis malah cemberut, Maira pun berhenti tertawa.


Kemudian Naz menceritakan yang terjadi di rumah sakit.


“Naz,, kalau menurut ku,, setelah mendengar cerita mu, Arfin marah bukan karena dia membela Felisha atau karena dia benci sama kamu. Sepertinya dia mengkhawatirkan kamu karena kejahilan mu yang bisa dikatakan keterlaluan sampai membuat Felisha masuk rumah sakit, mungkin pikirnya ia takut kalau Felisha sampai melaporkan kamu pada polisi, makanya dia menyuruhmu untuk meminta maaf,,”.


Naz kembali menundukkan kepalanya seolah merenungkan perkataan Maira yang menurutnya ada benarnya juga, tapi walau bagaimana pun ia tetap merasa sakit hati karena dibentak Arfin yang selama ini selalu memperlakukannya dengan baik serta tak ingin menyakitinya. Dan yang lebih menyayat, Arfin tak mengejarnya atau menghubunginya untuk sekedar meminta maaf.


“Sebenarnya mereka itu dulu hubungannya seperti apa sih? Apa Kak Maira tahu?”, Naz mengorek informasi.


“Mereka tidak pernah ada hubungan apa- apa Naz,, menurut cerita Arsyad, dulu itu Feli yang mengejar- ngejar Arfin, tapi Arfin tak pernah menghiraukannya, ia hanya menghargai Feli sebagai anak dari sahabat Mami. Mereka tinggal di apartemen dalam gedung yang sama, beda satu lantai kalau gak salah,, tapi saat Arsyad pulang lebih dulu, Arfin kemudian tinggal sama Mbak Fatma untuk menghindari Feli,, katanya sih Feli punya pacar kok setelah Arfin menolaknya berkali- kali,, cuman Mami gak tahu,, jadi menurut Mami, Feli itu terus menantikan Arfin,, Arsyad bilang Feli itu orangnya licik,, makanya Arfin tidak pernah mau sama dia,,,”, Maira menjelaskan apa yang ia ketahui.


“Naz,,, kamu pasti tahu dalam suatu hubungan harus ada rasa saling percaya,,, jika kamu sudah percaya pada Arfin, maka kamu tidak usah takut dengan gertakan Feli,, lagi pula menurut cerita Arsyad, Arfin itu sangat mencintai kamu, bahkan dia sempat menghajar Arsyad karena pernah mendekati mu, iya kan?”.


Deg ,,,, Naz merasa terkejut Maira mengetahui hal itu, sedangkan Maira malah terkekeh melihat ekspresi Naz.


“Kamu kaget ya aku mengetahuinya,, hehehe,, Arsyad tidak pernah menyembunyikan apa pun dari ku,, Bahkan kelakuannya saat aku meninggalkannya selama tiga tahun lebih pun dia mengakuinya,, walau awalnya aku sakit hati saat tahu dia menjadi seorang playboy, tapi itu sepenuhnya bukan salahnya, aku juga yang meninggalkannya serta memberinya luka, makanya dia jadi seperti itu,,, Dan aku pun tidak bisa membenci nya, karena mengingat betapa besar perjuangan kami untuk mempersatukan cinta kami. Bahkan dia secara perlahan bisa membuatku tidak takut lagi pada air,, dan sudah beberapa bulan ini aku berani datang ke sini, dua bulan lalu pun kami berlibur ke pantai,, hehee”, Maira malah curhat.


“Terkadang jika aku sedang marah atau kesal pada Arsyad, aku selalu mengingat perjuangannya untukku hingga ia harus melawan kakek nya, kami pacaran diam- diam sampai menikah pun diam- diam,, jadi kemarahan ku akan segera mereda. Ibu ku bilang jika suami mu melakukan satu kesalahan, maka ingatlah dengan ribuan kebaikan yang sudah ia lakukan untuk mu, dengan begitu bisa lebih mudah memaafkannya dan itu pun berlaku untuk suami yang marah pada istrinya, dengan begitu hubungan akan tetap harmonis. Tapi ya itu tergantung masing- masing dan kesalahan apa dulu yang dilakukannya, setiap orang kan memiliki cara berbeda dalam menyikapi maslah yang mereka hadapi”, ucap ya panjang lebar.


Naz terus merenungkan semua ucapan Maira yang tengah memberinya petuah dari pengalamannya sendiri. Naz yang tergolong masih sangat muda menyadari betul akan dirinya yang terkadang bersikap egois ingin dimengerti, di saat ia ingin memahami suaminya, malah suaminya yang bersikap sulit dimengerti, bahkan sampai menimbulkan kesalahpahaman diantara keduanya.

__ADS_1


“Naz,, jika kamu seperti ini, marah dan menjauh dari suami mu,, maka Feli akan senang melihat keretakan hubungan kalian dan ia akan lebih mudah masuk dalam situasi itu,, Menurut ku, kamu justru harus memperlihatkan betapa harmonisnya hubungan kalian yang diperkokoh dengan cinta kalian yang sama besarnya hingga tidak ada celah bagi Feli untuk merusak hubungan kalian”, Maira memberikan saran.


“Tapi,, aku gak mau kalau harus minta maaf padanya,, sedangkan dia jelas- jelas ingin mengambil suamiku dari ku”, Naz tetap menolak minta maaf.


“Mengalah untuk menang itu lebih baik, kamu kan tadi bilang kalau Mami sangat dekat dengannya dan dia sengaja memprovokasi agar Mami tidak menyukai mu,, justru dengan kamu meminta maaf dan mengakui kesalahan mu pada Feli, kamu sudah menunjukan nilai plus dan membuat Mami bangga memiliki menantu berjiwa besar seperti mu, Sekalian kamu juga harus bisa mengambil kembali kepercayaan Mami, bukankah selama ini kamu adalah gadis yang kuat,, maka perlihatkan lah hal itu pada Feli, jika kamu terlihat lemah dan takut ia akan semakin senang,,,”.


“Kakak benar,, aku akan mencoba nya,,, Terimakasih banyak ya Kak,,, aku merasa lebih tenang sekarang..”, ucapnya tersenyum.


“Syukurlah, jangan suka terlarut dalam kesedihan, nanti wajah mu cepat ada kerutan loh,, hehehe,,, yasudah,, gimana kalau kita ke panti saja,, takutnya Nala mencari ku”, ajaknya, dan mereka berdua pun bangkit dari duduknya.


Keduanya beranjak pergi hendak meninggalkan danau, namun saat baru beberapa langkah, tiba- tiba mereka berhenti karena melihat seseorang tengah berdiri di depan mereka.


“Aku duluan ya,,, ”, ucapnya tersenyum, kemudian Maira melanjutkan langkahnya dan pergi meninggalkan kedua orang itu .


“Sayang,,,,,”. Lirihnya mendekat.


“Apa,, sayang sayang- an, tadi mah ngebentak aku, gak bilang sayang tuh”, Naz langsung pasang mode jutek.


“Sayang,, Aa minta maaf,,, tadi gak bermaksud membentak mu seperti itu,, Aa cuman takut kalau Feli melaporkan mu pada polisi,, dia itu sangat licik,,”, Arfin memberi penjelasan.


“Basi ah,, minta maaf melulu,,,”, Naz melangkah untuk pergi namun segera ditahan, Arfin langsung berlutut dan memeluk kedua kaki Naz.


“Aa benar- benar minta maaf sayang,,, Aa benar- benar menyesal,, kamu boleh pukul Aa,,hajar Aa kalau perlu,, asal kamu mau memaafkan Aa,,”, Naz merasa tidak tega melihat suaminya meminta maaf sampai berlutut, padahal sebenarnya ia sudah memaafkan suaminya setelah mendengarkan nasihat Maira tadi, ia hanya so jual mahal aja agar suaminya mau berusaha meminta maaf.


“Oke kalau begitu, aku mau mukul si ujang aja,,”, Naz mengutarakan hukuman yang akan diberikannya.


Arfin mengangkat kelasnya, menatap Naz,"Jangan yang itu dong sayang,,, nanti kalau si ujang impoten lagi gimana? kan kasihan si imut kesepian gak ada yang ngajak main”.


Naz mendengus kesal,,, “Iya iya aku maafkan,,, tapi kalau sampai membentak aku lagi,, aku bakalan menghilang dan gak mau ketemu Aa lagi”.


“Iya,, Aa janji,,,”,Arfin mengangguk yakin.


“Yaudah bangun,, malu dilihatin orang nanti ihh,, dikira aku istri yang kejam,, padahal suaminya yang kejam”, ucapnya menyindir.


“Sayang,, kok kamu ngomong gitu”, Arfin memelas.


“Ihh,, mau bangun gak,,? Aku gak jadi maafin nih…”, ancamnya.


“Iya,, iya,,,, Aa bangun,, “, ia pun bangun dan langsung memeluk istrinya sambil bernafas lega, "Terimaksih,, sayang, kamu selalu memaafkan ku setiap aku melakukan kesalahan”, lirihnya.


“Kenapa Aa tadi diam aja dan gak mengejarku,,, ?”, Naz masih penasaran.


“Aa sendiri merasa shock kenapa tiba-tiba membentak mu,, hati Aa juga merasa sakit telah melakukan hal itu,, bahkan Aa tak punya keberanian untuk meminta maaf karena sangat malu sudah sering membuat mu sedih,, maaf sayang,, maafkan aku,,, yang belum bisa membahagiakan mu sepenuhnya”, lirihnya dengan penuh penyesalan.


Arfin mengangkat dagu istrinya, “Untuk kedepannya mari kita saling memperbaiki diri, dan selalu ingatkan Aa untuk tidak menyakiti perasaan mu lagi”, ucapnya dengan menatap kedua manik istinya, ia pun mendorong wajahnya semakin mendekati Naz hingga ia mendaratkan ciuman di bibir ranum istrinya, yang berujung saling berbalas ciuman, seolah mereka tengah melepas kerinduan seusai badai kecil yang sempat menggelitiki hubungan mereka.


Krukk krukkkk,,,, terdengar suara cacing berdemo yang ternyata berasal dari perut Naz, dan itu membuat mereka saling melepas pagutan bibirnya, keduanya pun tertawa geli.


“Kamu lapar, sayang?”, bisik nya.


Naz mengangguk sambil tersipu malu, “He em,,, tadi di rumah Mama cuman makan buah aja,,”.


“Yasudah ayok kita cari makan,,, mau makan dimana, hem?”.


“Emmmm,,,, kita jalan aja dulu,, nanti aku pikirin”, ucapnya lalu keduanya beranjak pergi meninggalkan danau sambil bergandengan tangan menuju tempat Arfin memarkirkan mobil. Keduanya pun masuk ke dalam mobil, kemudian Arfin melajukan mobil antik milik Papi nya yang sebelumnya digunakan Nervan ke rumah sakit saat mengantar Felisha.



Saat di perjalanan Naz mengirim pesan pada Maira, meminta maaf tidak mampir ke panti, hanya menitipkan salam saja untuk ibunya Maira dan para penghuni panti. Ia pun membersihkan wajahnya dengan tisue basah yang selalu ada di dalam tas nya, lalu ia merias wajahnya lagi dengan bedak dan memoleskan lipstik di bibir manis nya. Ia mengajak suaminya ke mall dan memilih food court makanan jepang.



Setelah makan, Naz yang seolah sudah mendapatkan wangsit mengajak Arfin ke rumah sakit tempat Felisha di rawat untuk meminta maaf, tak disangka Arfin menolaknya dan melarang Naz agar tidak usah berurusan lagi dengan Felisha, karena ia tahu betul bagaimana sifat Felisha yang sebenarnya. Namun Naz tetap kekeh ingin ke sana dengan alasan agar ia bisa merasa tenang setelah ia mengakui kesalahan dan maminta maaf, padahal sebenarnya ia juga punya niat terselubung. Akhirnya Arfin bersedia mengantarnya dengan sayrat Naz harus tetap nempel bersamanya, ia pun menyanggupi syarat dari suaminya.


Saat keluar dari lift, Naz bertemu dengan tantenya yang tidak lain adalah adik dari Papa nya, ia pun menyapa Tante nya itu, yang ternyata akan mengisi acara yang akan diadakan di mall tersebut. Mereka hanya saling bertegur sapa dan ngobrol sebentar karena sepertinya Tantenya sedang agak sibuk, sehingga ia dan suaminya pun berpamitan.



Selama di perjalanan Arfin dan Naz terus bercanda gurau saling mengejek, dan ia teringat dengan ucapan suaminya saat di danau tadi.


“Aa,,, tadi kan Aa bilang untuk mengingatkan kalau Aa membuat aku sedih,,, jadi kalau Aa bikin aku sedih, yang dihukum si ujang ya”, ucapnya.


“Ih,, kok gitu,, si ujang dosa apa?”, Arfin protes.


“Lah kan pemiliknya yang bikin salah, jadi yang di hukum si ujang,,, jadinya kan Aa bakalan takut dan gak akan bikin aku sedih lagi,, gimana??”.


“Tapi hukumannya apa dulu? Jangan di pukul atau di tendang atau dianiaya lainnya ya, apalagi kalau di sunat lagi,, ihhh ngeri”, Arfin bergidik membayangkannya.


“Enggak lah,, aku tidak sekejam itu Fernando,,,, paling si ujang gak diizinin main sama si imut selama waktu yang tidak ditentukan”.


“Ihh,, kok gitu?”, Arfin protes lagi.

__ADS_1


“Lah kok protes? Jangan- jangan udah ada rencana mau bikin aku sedih dan sakit hati lagi ya?”, tanya Naz curiga.


“Bukan gitu sayang,, itu hukumannya kok sama ngeri nya,,, kemaren aja dua malam tersiksa banget, apalagi ini waktu yang tidak ditentukan”.


“Jadi gimana?”, tanya Naz lagi.


Arfin menghela nafas berat, “Iya baiklah,,, setuju sama hukumannya,, Aa yakin gak akan pernah bikin kamu sedih lagi kok”, ucapnya penuh keyakinan.


“Ok deal”, keduanya pun bersalaman tanda sepakat, Arfin pun kembali fokus menyetir, sedangkan Naz memainkan ponselnya sambil senyam senyum sendiri.


Keduanya kini telah sampai di rumah sakit dan sedang berjalan menuju kamar tempat Felisha dirawat. Mereka pun masuk setelah mengetuk dan dibukakan pintu oleh seorang wanita yang seumuran Arfin. Di sana nampak Mami baru saja selesai menyuapi Felisha makan. Keduanya menghampiri mereka, dengan Naz yang terus menggandeng suaminya, melangkah sambil menundukkan kepalanya seperti merasa gugup entah takut. Sebenarnya ia tidak perduli dengan tanggapan atau sikap Felisha, ia lebih mengkhawatirkan sikap Mami yang akan berubah terhadapnya gara- gara kelicikan Felisha.


Naz melepaskan tangannya dari lengan Arfin dan beralih pada telapak tangan Arfin sehingga saling berpegangan, kemudian ia mendekat ke tempat Felisha terbaring.


“Tante Felisha, saya minta maaf karena sudah membuat Tante sampai seperti ini, saya sangat menyesali perbuatan saya,,,”, ucapnya lemah lembut.


“Gak apa- apa kok Naz, saya sudah memaafkan kamu,,, Jangan panggil saya tante, rasanya saya sudah tua, lagian saya seumuran sama suami kamu,,”, ucap Felisha tersenyum.


“Bunda sering melarang saya untuk dandan menor atau dengan make up tebal, nanti mirip tante- tante katanya,, jadi saya manggil Tante Feli dengan sebutan Tante,, terus kan umur saya baru 18 tahun, kalau manggil nama aja kesannya gak sopan, Tante,, ”, Naz pura- pura bersikap polos, sedangkan Arfin nampak heran melihat sikap Naz yang tak biasanya.


“Masih untung gak gue panggil tante girang juga lo”, gumamnya dalam hati.


“Maksud kamu saya ini menor,,? kamu kan baru minta maaf, masa udah ngatain saya..”, Felisha pura- pura sedih.


“Bukan cuma menor tapi muka tebal, gue ladeni acting lo, wanita sundel”, gerutu Naz dalam hati.


“Enggak ko Tante,, aku gak bermaksud seperti itu,, cuman kemarin kan saat ke rumah, Tante pakai makeup tebal, saya pikir Tante ini temannya Mami,,, hehehe,, ”, Naz terus bersikap polos.


“Sudah lah Feli,, yang penting kan Naz sudah minta maaf sama kamu,, soal manggil Tante gak masalah kali, dia juga umurnya masih belasan tahun,,,”, Bu Hinda buka suara.


“Yes,, Mami sudah membela ku lagi,,”, ucap Naz dalam hati merasa senang.


“Eng,,, Tante,, aku kan udah minta maaf,,, apa Tante gak berniat minta maaf sama aku?”, Naz menampakan wajah tanpa dosa nya.


“Apa?,, memangnya saya salah apa sampai harus minta maaf sama kamu?”, Felisha merasa heran.


“Naz,, memangnya apa yang sudah dilakukan Felisha sama kamu?”, Bu Hinda pun merasa penasaran.


“Eng,,, gini Mami,, aku kan gak mungkin menjahili Tante Feli kalau tidak ada sebabnya,, aku kesal sama Tante Feli pas datang main peluk- peluk suamiku, terus ngatain aku pembantu bego, sampai nyuruh aku membuatkan teh untuknya”, Naz mulai mengadu dengan wajah sedih.


“Eh,, kamu jangan ngarang ya,, orang kamu sendiri yang membuatkan saya teh”, Felisha mulai terpancing.


“Kalau aku membuatkan teh dengan inisiatif sendiri, mana mungkin aku bisa tahu kalau Tante sukanya lemon tea pakai madu tanpa gula,, kan Tante sendiri yang minta itu ke aku”.


“Ka kamu,,,,”, Felisha mulai kesal.


“Felisha,,, kenapa ucapan Naz berbeda dengan yang kamu katakan ke Mami tadi?”, Bu Hinda berbalik menyerang Feli.


“Ma Mami,, bukan gitu,, a aku gak bohong kok?”, ucapnya terbata-bata.


“Gak bohong kok gugup begitu?”, Arfin yang sejak tadi jadi penyimak akhirnya buka suara.


“Bukan cuma itu Mami,, Tante Feli juga bilang kalau dia sudah dijodohkan dengan Kak Arfin oleh Mami, jadi dia kesini mau mengambil apa yang seharusnya jadi miliknya katanya,, Emang itu bener ya Mami? Emangnya Mami beneran masih mau menjodohkan Kak Arfin sama Tante Feli? Aku kan istrinya Kak Arfin, Mi,,,”, Naz pura- pura sedih.


“Apa?? Feli ,, kamu ngomong kayak gitu sama Naz?”, Bu Hinda yang terkejut langsung menanyakan kebenarannya pada Feli.


“Eng enggak kok Mi,, dia salah faham,, aku bilangnya dulu kami dijodohkan bukan sekarang kok Mi,,”, Felisha sudah mulai ketakutan kedoknya terbongkar.


“Aku gak salah denger kok Mami,, dia bilang dengan jelas di dapur saat aku baru selesai cuci piring,, malahan Tante Feli mencengkram tangan aku, dan setelah aku lepaskan dia nunjuk- nunjuk wajahku bahkan mau nampar aku”, Naz terus betingkah ia telah menjadi korban kejahatan Feli.


“Apa??”, ucap Bu Hinda dan Arfin serentak. Arfin yang mendengar nya hendak bertindak, namun Naz mengeratkan tangannya dan melirikkan matanya seolah memberi isyarat agar dia diam.


“It itu karena aku kesal dia bilang aku ini perempuan murahan dan gak bermoral, Mi”, Feli semakin gelagapan.


“Kurang ajar anak ini,, benar- benar mengadukan perkataan ku tadi pagi...”, Felisha menggerutu dalam hati.


“Emangnya yang menggangu suami orang bahkan mau merebutnya secara terang-terangan biasanya disebut apa Mami? Apa aku salah ? apa aku harus diam aja saat ada orang yang berniat merebut suamiku, Mami ? apalagi kami belum lama menikah,,, ”, Naz menunjukan raut wajah menyedihkan seolah menjadi korban kekejian pelakor yang dibantu oleh mertuanya yang hendak menyingkirkannya seperti di sinetron ikan terbang.


“Felisha,,, Mami gak nyangka kamu bisa berbuat seperti itu dan mengatakan hal- hal yang buruk pada Naz,, bukannya kamu sudah bilang kalau kamu sudah menerima pernikahan Arfin,, kenapa kamu malah mengganggu Naz dan mengatakan hal yang tidak pantas,,,?”, Bu Hinda merasa kecewa pada Felisha, dan sepertinya sudah mulai menyadari kelicikan Felisha.


“Yess,,, mampus lo,,, rasakan pembalasan ku,,, Naz dilawan,,, adu jotos hayu, main drama hayu,, gue jabanin,,”, Naz bersorak dalam hati.


Bu Hinda mendengus kesal, ”Arfin, Naz , ayok kita pulang,, sepertinya Felisha sudah baik- baik saja,, lagian ada sepupu nya yang berjaga di isni”, Bu Hinda kemudian beranjak pergi dengan raut wajah kesal, Arfin dan Naz pun ikut meninggalkan ruangan tersebut.


Naz yang menggandeng tangan suaminya melihat ke belakang ke arah Felisha dan menjulurkan lidahnya tanda mengejek lalu ia tersenyum penuh kemenangan, pikirnya Felisha sudah kehilangan kepercayaan dan dukungan Mami. Naz yakin Felisha tak akan berani menginjakkan kaki di rumah mertua nya lagi.


Sedangkan Felisha nampak kesal dan geram melihat kelakuan Naz.


"Kau menjatuhkan ku di depan mertua dan suamiku dengan drama sampai suamiku membentak ku,, maka terimalah pembalasan drama dari ku,,, ",gumam Naz dalam hati sambil tersenyum memeluk lengan suaminya.


--------------- TBC -----------------

__ADS_1


***************************


Happy Reading....😘🤩


__ADS_2