Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Amarah Papi Dan Sepucuk Surat


__ADS_3

Ting nong…. Ting nong…


Terdengar suara bel pintu yang dipencet beberapa kali, tak lama dibukakan lah pintu oleh asisten rumah tangga yang ada di rumah itu.


“Tu tuan, Nyonya … “, Mbak Jumin yang membukakan pintu nampak terkejut melihat kedua orang yang berdiri di hadapannya.


“Iya Mbak Jumin,, kok melihat kami kayak melihat hantu gitu? kaget ya melihat kami berdua datang”, Bu Hinda merasa heran.


“Si silahkan masuk Tuan, Nyonya”,Mbak Jumin terlihat gelagapan mempersilahkan keduanya masuk.


“Mbak Jum,, dimana menantu kami,,, aku tidak sabar ingin segera bertemu dengannya”, Pak Latief menanyakan keberadaan Naz, kemudian berjalan masuk ke dalam bersama istrinya, sedangkan kopernya dibawakan oleh Mbak Jumin.


“Dimana Naz? apa dia pergi ke kampus?”, Bu Hinda pun ikut menanyakan Naz.


“Eng enggak Nyonya,,,”. Mbak Jumin seolah takut Bu Hinda dan Pak Latief mengetahui prahara yang sedang terjadi di rumah itu.


“Arfin kemana? ”, Bu Hinda baru teringat akan putranya, kemudian beliau duduk bersama suami nya di sofa ruang tengah.


“Kata Retno, Den Arfin pergi pagi- pagi sekali”, Mbak Jumin sudah mulai tidak gelagapan lagi.


“Mungkin Naz lagi pengen jalan- jalan kali, Mi,, mending kita istirahat saja sambil menunggu mereka pulang”, Pak Latief mengira- ngira.


“Apa Mami telpon aja ya? “, Bu Hinda hendak mengambil ponsel dari dalam tas nya.


“Gak usah, Mi,, jangan ganggu mereka, kita tunggu aja sampai mereka pulang,,, lagian kan malam ini kita juga akan menginap di sini”. cegah Pak Latief.


“Iya ya Pi,, mungkin Naz lagi ngidam pengen sesuatu kali ya, soalnya kemarin- kemarin Arfin yang ngidam nya”, Bu Hinda pun paham.


“Mbak Jum,, tolong bawa kopernya ke kamar yang biasa saya tempati ya”, titahnya pada sang ART.


“Nggih,, Nyonya”, Mbak Jumin pun segera melaksanakan, ia pergi ke kamar yang biasa ditempati ibu dari majikannya itu, kemudian ia pergi ke dapur hendak membuatkan minum untuk mereka berdua.


Bu Hinda bersandar pada sandaran sofa yang ia duduki tersebut, begitupun suaminya, seolah mereka melepas lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Keduanya terdiam sesaat, dengan Pak Latif yang memejamkan kedua mata nya.


Tak lama Mbak Jumin pun datang membawa mnampan di tangannya yang berisi dua cangkir teh dengan sepiring kue yang kemudian disajikannya di atas meja.


“Makasih, Mbak Jum”, ucap Bu Hinda yang kemudian meminum teh nya.


“Hmmm,,, baru aja dua hari yang lalu Mami pulang dari sini,, sekarang udah disini lagi nganterin Papi”, ucap beliau setelah menyeruput teh nya.


“Papi kan belum mengucapkan selamat secara langsung atas kehamilan Naz, Mi… ya sekalian kita liburan”, Pak Latief yang memejamkan matanya menjawab celotehan istrinya dan kemudian beliau menguap.


“Iya ,, liburan pindah tidur,,”, Bu Hinda seolah menyindir.


Pak Latief segera membuka matanya, “Hahaha,, Mami tahu aja kalau Papi ngantuk,,”.


“Ya iya lah orang dari tadi merem… “.


“Merem juga inget kok Mi”, Beliau kembali menguap.


“Sudah sana ke kamar,, masa mau tidur di sini”


Pak Latif pun mengambil teh bagiannya lalu menyeruputnya perlahan hingga habis.


"Emangnya Mami gak mau ikut,,, ?“.


“Enggak ahh,,, orang Mami udah kenyang tadi tidur di pesawat”, tolak Bu Hinda.


“Terus Papi meluk apa dong tidurnya?”, Pak Latief sudah tuir masih saja bisa mengoda istrinya.


“Ihh,,, udah tuir juga,,, meluk guling aja sana”, Bu Hinda mencebikkan bibirnya yang membuat suaminya terkekeh.


“Ahh,, Mami gak asik…”, Pak Latief yang terus menguap kemudian bangkit dari duduknya dan beranjak pergi ke kamar untuk beristirahat, sedangkan Bu Hinda menggelengkan kepalanya mendengar ucapan suaminya macam anak muda saja.


"Oh iya Mi,, nanti ashar bangunin ya”, Pak Latief berpesan sebelum masuk ke kamar.


“Emang cukup tidur satu jam?”, tanya Bu Hinda.


“Cukup lah,,, “, kemudian beliau langsung masuk ke dalam kamar.


Bu Hinda memainkan ponselnya dan chating bersama teman- temannya, saking asyiknya sampai tidak terasa sudah satu jam lebih beliau chatingan. Saat hendak minum ternyata cangkir teh nya sudah kosong, beliau menyimpan ponselnya di atas meja, lalu beranjak pergi ke dapur. Namun, saat hendak masuk ke dapur, beliau mendengar pembicaraan kedua asisten rumah tangga yang sedang memasak di dapur.


“Mbak e,, abis dari mana toh?”, Tanya Mbak Retno yang melihat Mbak Juminten baru datang.


“Iki abis beli buah,,,”, Mbak Jumin memperlihatkan kantong kresek di tangannya.


“Lah,,, bukannya masih banyak di kulkas”, Mbak Retno merasa heran.


“Kan ada tamu toh,, jadi harus lebih banyak”, Mbak Jumin memang sealu sigap.


“Eh Mbak e,, semalam abis ngunci gerbang pas lewat ruang tengah aku dengar Den Arfin marah sama Non Naz,, opo Non Naz minggat tuh karena abis bertengkar semalam yo?”, Mbak Retno ternyata mendengar pertengkaran majikannya semalam.


“Kata sopo kamu tuh?”, Mbak Jumin terkejut mendengrnya.


“Lah wong aku denger sendiri, Den Arfin membentak istrinya pas aku lewat,, terus ndak lama ada suara mobil, kayaknya gerbang yang udah dikunci dibuka lagi toh,, Den Arfin nya pergi lagi,, dan setelah subuh tadi baru ketahuan kalau Non Naz ndak ada di kamar nya”, Mbak Retno kembali membeberkan apa yang ia ketahui.

__ADS_1


“Apa,,,??”, jadi Naz pergi dari rumah ini?”. Bu Hinda yang tak sengaja menguping pun terkejut mendengar apa yang dikatakan Mbak Retno, tentunya kedua ART itu pun terkejut mendengar suara Bu Hinda.


“Aduh Gusti,,,, itu suara Nyonya toh,,, iki piye Mbak e”, Mbak Retno berbisik pada rekannya karena merasa takut.


“Kamu sih,,,”, Mbak Jumin seolah menyalahkan Mbak Retno.


“Mbak,, kenapa kalian malah berbisik- bisik,,, ??”, Bu Hinda yang belum mendapatkan jawaban langsung menghampiri mereka.


“Eng,,, anu Nyonya,, eng,,,”, Mbak Retno gelagapan, sedangkan Mbak Jumin hanya menundukan kepalanya.


“Kalian harus menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini !!”, Bu Hinda meminta penjelasan atas apa yang baru saja disengarnya.


“Anu Nyonya,,, kami juga ndak tahu,, cuman dengar Den Arfin marah semalam, dan tadi subuh Non Nanaz udah gak ada di rumah ini”, Mbak Retno menceritakan apa yang ia ketahui.


“Apa??? Jadi maksud kalian Naz kabur??”, Bu Hinda mengambil kesimpulan sendiri.


“Nggih,, Nyonya,,, Den Arfin pergi pagi- pagi sekali untuk mencari Non Nanaz”, Mbak Retno membenarkan.


“Ya ampun,, ada apa lagi dengan mereka? bagaimana bisa Naz pergi malam- malam sendirian dalam keadaan hamil gitu,, terus dia pergi kemana??”, Bu Hinda terkejut mendengarnya dan mengkhawatirkan Naz.


Bu Hinda beranjak pergi dan kembali ke ruang tengah untuk mengambil ponselnya, kemudian beliau menghubungi nomor Arfin dan juga Naz secara bergantian, namun keduanya tidak aktif. Bu Hinda yang merasa panik lalu menghubungi Lutfi, dari keterangannya lah Bu Hinda mengetahui jika Naz benar- benar kabur entah kemana, dan Arfin kini masih mencarinya.


Bu Hinda terus berusaha menghubungi Naz, namun tetap tidak aktif, beliau mondar- mandir di ruang tengah karena sangat mengkhawatirkan Naz, dan beliau tahu betul Naz masih baru di Surabaya, ia belum kenal banyak orang juga pastinya belum hafal jalan.


“Aduh,,, Bagaimana ini,,, kenapa nomornya tidak akif terus,,,”, ucapnya yang semakin panik.


“Mami ngapain mondar- mandir kayak setrikaan gitu”, Pak Latief yang nampak segar baru saja keluar dari kamarnya langsung bertanya pada sang istri.


Bu Hinda yang terkejut langsung berhenti, dan mengarahkan pandangan pada suaminya,“Eh,, Papi udah bangun??”.


“Udah dong,, Papi udah mandi udah shalat pula,, Mami kok seperti sedang gelisah gitu.. kenapa? Ada apa?”, Pak Latief menghampiri istrinya.


Bu Hinda menghela nafas berat,” Naz pergi dari rumah, Pi,,”, ucapnya memberitahukan.


“Iya Papi tahu”, Pak Latief bicara dengan santai lalu duduk.


“Papi tahu dari mana? kok kalau sudah tahu kenapa bisa nyantei gitu? Gak khawatir apa sama menantu dan calon cucu kita”, Bu Hinda yang panik terlihat kesal melihat suaminya yang nampak santai.


“Lah ngapain khawatir,, orang Naz lagi pergi sama suaminya,, kan tadi kata Mbak Retno mereka pergi pagi- pagi sekali”, Ternyata Pak Latief kudet, kurang update.


“Bukan Papi,,, Arfin doang yang pergi pagi- pagi sekali, dan itu untuk mencari keberadaan Naz yang pergi entah kemana sejak semalam”, Bu Hinda memberitahukan.


“Apa??”, Pak Latef terkejut.


“Iya Pi,,, Kata Mbak Retno, semalam Arfin dan Naz bertengkar, dan tadi subuh Naz udah gak ada di rumah ini,, barusan Mami nelpon Lutfi, dia bilang Arfin sedang mencari Naz,, mana nomor mereka pada gak aktif lagi,,, gimana ini Papii,,?? Mami takut terjadi sesuatu dengan Naz dan calon cucu kita”, Bu Hinda semakin panik.


“Kalau gak ketemu gimana Pi,?? Mami takut terjadi sesuatu dengan Naz,,, nanti kita bilang apa pada orang tua Naz,,?? Ya ampuun Arfin,, kamu tuh kapan dewasa nya sih, gampang marah banget sama istri”, Bu Hinda menggerutuki kelakuan putranya, Pak Latief yang mendengar keluhan sang istri tentang putranya pun ikut geram.


Tin,,, Tin,,,,


Terdengar suara klakson yan dibunyikan beberapa kali, Mbak Retno pun segera pergi keluar untuk membukakan pintu gerbang…


“Nah,, Pi,,, itu anaknya datang,,,”,Bu Hinda merasa sedikit tenang saat mendengar suara mobil yang diyakini itu adalah Arfin. Tak lama Arfin pun muncul, ia berjalan gontai sambil menundukkan kepalanya dengan raut wajah sedih dan lesu.


“Pi,, kok dia cuma sendirian,,,? gimana ini?? Naz belum juga kembali ? mana dia lagi hamil lagi”, Bu Hinda kembali panik, Pak Latief pun demikian, beliau langsung berdiri saat melihat Arfin tengah berjalan ke arah mereka tanpa menyadari keberadaan kedua orang tuanya itu.


“Dimana Naz?”, suara baritone itu mengejutkan Arfin, ia yang sedari tadi menunduk pun kemudian menegakkan kepalanya memberanikan diri menatap orang yang tengah berdiri menyambut kedatangannya itu.


“Papi…”, ucapnya dengan ekspresi terkejut.


“Kenapa tidak menjawab pertanyaan, Papi? Dimana menantuku, Naz?”, Pak Latief kembali mengulang pertanyaannya. Arfin yang nampak takut hanya diam membisu, ia kembali menundukkan kepalanya.


“Jawab Arfin !!",, ucap Pak Latif dengan nada penuh penekanan.


“Al gak tahu, Pi?”, jawabnya dengan nada pelan.


“Apa?? Bagaimana bisa kamu tidak tahu keberadaan istrimu sendiri? Apa yang sudah kamu lakukan pada nya?”, Bu Hinda mencerca Arfin, namun ia kembali terdiam.


“Ini baru Papi dan Mami mu yang bertanya,, lalu bagaimana jika Mas Syarief atau Jeng Rahmi yang mempertanyakan ini pada mu, Al?”, Bu Hinda kini mulai geram.


Arfin kembali terdiam, ia hanya menundukkan kepalanya. Bu Hinda segera menghampiri Arfin dan berdiri tepat di depan putranya, beliau memegang lengan Arfin dan menggoyangkannya,


“Al,,, Naz dimana?”, beliau pun kembali mengulang pertanyaan suaminya.


“Al,, juga gak tahu Mi,,, Al sudah mencarinya kemana- mana,, tapi tidak bisa menemukannya”. Arfin kembali buka suara.


“Apa??”, Bu Hinda dan Pak Latif bertanya serentak.


“Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa Naz bisa pergi? Apa yang sudah kamu lakukan sama dia ,Al?”,Bu Hinda mempertanyakan alasan kepergian Naz.


“Al minta maaf, Mi”, lirihnya dengan penuh penyesalan.


“Apa dia pulang ke Jakarta?”, tanya Pak Latief.


“Enggak Pi,, Lutfi sudah mencari tau dari data keberangkatan di bandara dan stasiun kereta, tidak menemukan nama Naz, AL juga sudah mencari ke rumah Tante Ina dan juga ke rumah temannya,, tapi tidak bisa menemukannya”, ucapnya memberi penjelasan.

__ADS_1


“Ya ampun Al,,, kamu gimana sih,,, kenapa Naz bisa sampai pergi? Dia itu lagi hamil dan belum tahu daerah sini”, Bu Hinda merasa kesal pada putranya.


“Maaf Mi,,, Al minta maaf,, Al juga sangat mengkhawatirkannya,,“, Arfin sedari tadi terus meminta maaf.


“Sebenarnya apa yang terjadi Al?”, Pak Latief kembali bertanya tentang kebenaran desas desus yang didapati sang istri dari ART di rumah itu.


“Ayo kita duduk,, kamu ceritakan semuanya pada kami, Al”, ajak Bu Hinda.


Arfin menuruti titah Mami nya, mereka bertiga pun duduk di sofa ruang tengah tersebut, Arfin terdiam sejenak dengan menundukkan kepalanya. Ia menghela nafas berat lalu menceritakan permasalahan mereka yang berawal dari kejadian Naz di kampus saat ia membeli makanan namun dompernya tertinggal di rumah sehingga ada lelaki yang menolongnya, hingga kejadian di pesta rekan bisnisnya yang membuat Arfin murka dan memarahi Naz, sehingga membuatnya pergi dari rumah.


“Astagfirullah,, Arfin,,, kenapa kamu jadi temperamen gitu sih, sekarang lihat akibatnya,, istri mu pergi,,, apa kamu mau kalau dia benar- benar meninggalkan mu, hah?”, Bu Hinda kini yang memarahi putranya.


“Al minta maaf Mi,, Al lepas kendali karena rasa cemburu yang berlebihan”, Arfin menyesali perbuatannya.


Pak Latief hanya terdiam mendengar semua penjelasan putranya, namun beliau menampakan raut wajah yang memendam kemarahan,


“Al,, bisakah kita bicara berdua? Kamu ikut Papi ke kamar”, ajak beliau pada Arfin, kemudian beralih pada Bu Hinda,


“Mami,, tolong buatkan makanan, Papi sangat lapar,, nanti setelah makan kita akan bicarakan rencana untuk mencari Naz”, Pak Latief seolah mengalihkan perhatian Bu Hinda, namun beliau mengerti jika sang suami hendak menasehati Arfin dengan caranya sendiri.


“Iya, Pi… “, Bu Hinda pun mengikuti titah suaminya.


Pak Latief bangkit dari duduknya dan beranjak pergi ke kamar yang sebelumnya ditempati oleh nya, Arfin kemudian mengikuti dari belakang.


Pak Latief berdiri di depan jendela kaca, Arfin yang baru saja menutup pintu, lalu menghampiri beliau.


Plakk,,,,


Satu tamparan cukup keras mendarat di pipi kiri Arfin.


“Sebandel- bandel nya kamu dulu, Papi tidak pernah menampar atau memukul mu bukan?.. kamu tahu kesalahan mu apa?”, Pak Latief yang sejak tadi menahan amarah, akhirnya melampiaskan kemarahannya pada putranya.


“Maaf, Pi,,,,”, Arfin menunduk dengan menahan rasa sakit di pipinya.


“Jika ingin minta maaf, kamu salah orang, Al,,, Apa kamu pernah melihat atau mendengar Papi membentak atau memarahi Mami mu?”.


Arfin tak menjawab dengan sepatah kata pun, ia yang masih menunduk hanya menggelengkan kepalanya.


“Lalu kamu mencontoh dari siapa, hah? Kamu dan kakak- kakak mu melakukan kealahan saja Papi tidak pernah memarahi atau membentak kalian,, Papi selalu menasehati kalian dengan bicara baik- baik, walaupun ujung- ujngnya Papi memberi kalian hukuman dan itu pun dalam batas wajar,, Tapi sekarang Papi tidak bisa terima kamu menyakiti istri mu,,, Papi juga punya anak perempuan, Al,, dan tidak rela jika anak yang sudah Papi besarkan dengan penuh kasih sayang lalu disakiti oleh suaminya dengan alasan konyol dan kekanak- kanakan seperti yang kamu lakukan,, seharusnya kamu berpikir Al, bagaimana perasaan orang tua Naz jika tahu tentang hal ini”, Pak Latief terus mencerca Arfin yang hanya diam dan menundukan kepalanya.


Pak Latief menghela nafas berat, “Papi senang sebagai pemimpin kamu bisa bersikap tegas dan keras saat di kantor dalam mendisiplinkan karyawan mu dalam bekerja. Tapi sebagai seorang suami kamu tidak bisa melakuan hal yang sama pada istrimu, karena seorang istri itu butuh cinta, kasih sayang, kelembutan, bukan sikap tempramen”, Pak Latief yang biasanya tak banyak bicara kini terus mencerca Arfin.


“Selama hampir empat bulan ini, sudah berapa kali kamu menyakiti istri mu, hah?”. Pak Latief merasa penasaran, karena beliau yakin ini bukan yang pertama kalinya terjadi, sehingga membuat Naz sampai pergi dari rumah. Namun Arfin masih tetap diam seribu bahasa.


“Apa kamu tidak malu? Dia mengorbankan masa muda nya untuk hidup bersama mu, anak seumuran dia itu harusnya menikmati kebebasan dan masa muda nya, bersenang- senang dengan teman- temannya, bukannya mengurusi lelaki tempramen seperti mu,,,!!,, Dia juga bisa menerima mu dengan segala kekurangan mu,, coba kamu pikir,,wanita mana yang mau dinikahi oleh lelaki impoten? Bahkan dia sampai merahasiakan hal itu dari keluarganya, karena takut keluarganya tidak akan merestui kalian,, dengan sabarnya dia membantu proses penyembuhan mu,, apa masih kurang kebaikan istrimu itu?”, bentak Pak Latief yang merasa geram.


“Maaf Pi,, Al tidak bermaksud menyakitinya...”, Akhirnya Arfin pun bersuara.


“Ingatlah janji mu pada orang tua Naz sebelum kamu meminangnya, jangan lupa Papi juga ada di sana mendengar jelas perkataan mu,, lalu apa sekarang? Kamu malah menyakiti istri mu hanya karena cemburu yang tidak jelas,,, yang benar saja kamu cemburu pada orang yang memberi istrimu surat cinta saat masih kanak- kanak,,, dimana kewarasan mu, Al??”, Pak Latif mekankan jari telunjuk pada kepalanya sendiri.


“Masih untung Papi yang datang kesini,, coba kalau Syarif atau Rizal,,, Papi yakin mereka tidak akan membiarkan putri nya bersama mu lagi,, dan bukan hanya tamparan yang akan kamu terima,, sudah habis kamu sama mereka”, Pak Latief semakin geram.


“Kamu tahu kenapa Papi tak pernah marah atau membentak Mami mu?? Karena dia sudah banyak berkorban untuk Papi. Demi memenuhi amanah mendiang istri Papi, di rela menikahi Papi yang sama sekali tidak dicintai atau mencintainya, dan usianya yang baru 18 tahun menjadikannya ibu dari anak- anak Papi,, dia mengorbankan masa mudanya, cita- cita nya, bahkan ia memutuskan hubungan dengan kekasihnya. Hal itu membuat Papi tidak berani untuk menyakiti raga atau melukai hatinya, karena Papi tidak mau jika harus kehilangan seorang istri lagi, asal kamu tahu Al, rasanya itu sakit sekali saat kehilangan wanita yang sangat dicintai, apa kamu ingin kehilangan istrimu dulu, baru kamu menyadari betapa berharga nya dia dalam hidup mu, hah?”.


Arfin terdiam mendengar semua perkataan Papi nya yang membuatnya sadar akan kesalahan dan kebodohannya. Pikirnya hal itu dilakukan karena ia sangat mencintai istrinya dan takut kehilangan dia agar dia menurut padanya, tapi ternyata ia memilih cara yang salah, justru hal itu malah menjauhkannya dari istrinya.


“Papi beri kamu waktu dua hari untuk menemukan istrimu,, jika tidak,, Papi sendiri yang akan turun tangan dan menyuruh orang mencari keberadaannya,,, Tapi,, jangan salahkan Papi jika setelah menemukannya, Papi tidak akan menyerahkan Naz padamu,, melainkan akan mengembalikan Naz kepada orang tua nya”, ucap beliau dengan nada tegas.


“Tapi, Pi,, Naz masih istriku,,, Papi tidak bisa seenaknya mengembalikan Naz pada orang tuanya,, dia juga sedang mengandung anakku“. Arfin tak terima dengan niatan Papi nya.


"Kalau begitu, perlakukan istri mu dengan baik,, sebelum kamu menyesal jika suatu saat kamu kehilangan istri dan anak mu", Pak Latief menegaskan.


Tok tok tok….


“Papi,,, apa kalian sudah selesai bicara?”, tanya Bu Hinda dari balik pintu.


“Sudah, Mi,, masuk saja”, sahut Pak Latief.


Bu Hinda pun masuk setelah mendapat izin dari suaminya, beliau menghampiri keduanya dengan membawa sesuatu di tangannya.


“Al,,, Tadi saat Mbak Retno mengganti seprei di kamar mu, dia menamukan ini, dan menyerahkannya pada Mami,, ”, Bu Hinda menyerahkan sebuah amplop yang dibawanya.


Arfin yang merasa heran dan bingung lalu menerima amplop tersebut, kemudain ia membukanya, yang ternyata di dalamya terdapat sepucuk surat. Ia membuka lipatan surat tersebut, lalu membacanya.


Arfin nampak terkejut setelah membaca isi surat tersebut, ia berjalan mundur hingga tubuhnya mentok pada jendela kaca, ia memerosotkan tubuhnya hingga ia duduk di lantai dengan bersandar pada jendela kaca, meratapi kesedihannya dengan penuh penyesalan hingga air mata pun jatuh begitu saja tanpa permisi.


Bu Hinda yang melihat Arfin seperti itu, segera menghampirinya dan mengambil surat yang masih dipegang oleh Arfin. Beliau pun membacanya, dan langsung membekap mulutnya.


-------------- TBC -----------------


**************************


Happy Reading...🤩


Jangan luva tinggalkan jejakmu...😉

__ADS_1


Tilimikicih... Aylapyu All...😘😘


__ADS_2