Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Test Drive dari CaMer


__ADS_3

Canggung,,,,, kata ini merupakan istilah yang unik karena bisa digunakan dalam beberapa konteks pembicaraan yang berbeda, meskipun ejaan dan pelafalannya sama, namun makna yang tersampaikan berbeda. Salah satu diantaranya, canggung berarti kurang terampil atau kurang ahli dalam melakukan sesuatu, dalam konteks ini mempunyai makna kikuk atau tidak luwes. Ada pun makna lain dari canggung yaitu tidak begitu nyaman, malu- malu atau tidak bebas melakukan sesuatu karena belum terbiasa, dan mungkin ini lah yang kini sedang menimpa pada diri Naz. Itulah sedikit penjelasan mengenai istilah canggung, karena tidak mungkin othor menjelaskan semua pengertian si canggung itu, bisa- bisa menghabiskan satu episode…. Yassalam, kembali ke laptop…. Eaaa.


Suasana ruang tengah kediaman keluarga Akbarsyah yang biasanya sepi karena para penghuni selalu disibukan dengan pekerjaan masing- masing, kini nampak hangat dengan kehadiran Naz yang sejak awal kedatangannya disambut dengan baik bahkan sudah diakui sebagai calon menantu oleh kedua orang tua Arfin. Pak Latief, Bu Hinda, Arfin dan Naz lah yang kini mengisi kekosongan sofa ruang tengah itu, entahlah jika ada yang lain macam makhluk ghoib itu tidak terhitung ya karena tidak nampak dan tidak terpampang nyata serta tidak terlihat oleh othor.


Kecanggungan yang menghantui Naz sedari ia menginjakan kaki di rumah ini saat ia mengetahui di sini merupakan kediaman keluarga Arfin pun mulai memudar, karena Mami terus mengakrabkan diri dengan calon menantunya itu, bahkan beliau meminta Naz untuk memanggil dengan sebutan Mami sama seperti anak- anaknya memanggil beliau.


“ Jangan panggil tante ah,,,, panggil aja Mami ya”, ucap Nami.


“Ta tapi Tante,,,, “, Naz mencoba menolak.


“Ehhh,, gak ada tapi- tapian,, pokoknya panggil Mami…!, Arfin saja manggil ibumu Bunda kan”, ucap beliau memaksa.


“Mami,,, jangan dipaksa gitu, kasian itu anaknya terkejut seperti itu,, dikiranya udah mau dinikahkan sama Arfin”, ucap Pak Latief terkekeh sedangkan Arfin yang sedari tadi memainkan ponsel hanya tersenyum sinis.


Mami menatap sendu pada putranya itu sejenak lalu ia membuang muka, dan tanpa beliau sadari Naz memperhatikan perubahan raut wajah beliau.


“Kenapa Mami nampak sedih setelah melihat Kak Arfin yang nampak acuh dan sepertinya tidak suka saat Papi nya membicarakan pernikahan ? apa karena aku memang masih sekolah jadi dia tidak suka membahas itu?”, Naz bertanya- tanya dalam hatinya.


“Tante,,, ehh Mami,,, emm,,, maaf aku mau numpang ke toilet boleh?”, ucapan Naz seolah membuyarkan lamunan Mami.


“Eh,, iya ,, kenapa Naz? Maaf tadi Mami gak dengar lagi mikirin sesuatu”, tanyanya seolah baru tersadar dari lamunannya.


“Bolehkah aku numpang ke toilet ?”, Naz mengulang kalimatnya.


“Oh,, tentu saja boleh,, nah nanti kamu lurus kesitu, terus belok kiri, di sana ada toilet,, atau perlu Mami antar?”, Mami menunjukan arah lalu menawarkan diri untuk mengantar Naz.


“Eng enggak usah Tante,, aku ke sana sendiri aja”, tolak Naz.


“Ehhh,,, kok manggil tante lagi… Mami…”, Kanjeng Mami protes.


“Iya, Ta,, ehh,, Mami,,, hehe,, aku permisi dulu”, Naz bangkit dari duduknya dan bergegas pergi ke toilet sesuai dengan petunjuk arahan Mami tadi dengan membawa tas nya, karena ia bermaksud untuk mengganti sesuatu.


Mami terus memperhatikan langkah Naz, takutnya ia salah masuk ruangan karena baru pertama kali datang ke rumahnya itu, dan setelah terlihat Naz belok ke kiri, beliau pun melepaskan pandangannya. Kemudian Mami memanggil Bi Darmi memintanya membawakan minum dan makanan untuk di suguhkan pada Naz.


Mami menatap kesal pada Arfin, “Al,,, jangan bersikap seperti itu,, bagaimana kalau Naz merasa tersinggung ?”, ucapnya ketus.


“Kalau begitu Mami sama Papi jangan bahas- bahas soal pernikahan di depan Al dan Naz”, jawab Arfin tanpa menoleh sedikitpun pada Mami nya itu dan malah tetap anteng dengan ponselnya.


“Papi kan hanya bercanda, mengumpamakan karena Naz terlihat terkejut saat Mami mu itu memintanya memanggil Mami bukan Tante,,, Lagian kamu kan sudah berpacaran Al, bahkan memperkenalkan pacarmu pada kami, ya wajarlah kami sebagai orang tua membahas soal pernikahan, pastinya kamu juga akan menikah kelak. Walaupun tidak mungkin kalau untuk sekarang- sekarang, orang pacarmu saja masih pelajar SMA, bisa murka nanti Syarif sama Papi”, Pak Latief bicara panjang lebar.


“Yah itu Papi tahu,,, jadi Al harap kalian jangan bahas- bahas pernikahan lagi, Al mengajak Naz kesini karena mami terus merengek ingin bertemu dengannya, bukan untuk membahas pernikahan”, ucap Arfin dengan nada tegas.


“Al,,, sampai kapan sih kamu mau terus begini? Abang mu sudah menikah dan sekarang sudah bertemu kembali dengan istrinya bahkan dengan anak mereka, Mami gak mau ya kalau kamu sampai mempermainkan atau menyakiti perasaan Naz “, Mami mengultimatum, sepertinya beliau sudah menyukai Naz.


“Al tidak pernah berniat mempermainkannya, perasaan Al tulus padanya,,, hanya saja,,,,, “, Arfin tidak melanjutkan perkataannya, kerena melihat Naz telah kembali dari toilet dan sedang berjalan menuju ruang tengah dimana tempat mereka duduk sekarang.


“Hanya apa hah?”, tanya Mami dengan nada ketus.


“Naz, sudah selesai dari toilet nya?”, tanya Pak Latief seolah memberitahukan istrinya bahwa Naz sudah kembali dan bersamaan dengan kedatangan Bi Darmi yang membawakan kue, pudding, serta 4 cangkir teh.


“Sudah Om,,, “, ucap Naz dengan melempar senyuman, lalu ia duduk kembali di tempat sebelumnya. Naz memperhatikan raut wajah Mami dan Arfin yang nampak tegang.


“Ada apa dengan mereka berdua? Kenapa terlihat tegang begitu? Apa tadi mereka bertengkar? Apa gara- gara aku?”, Naz kembali bertanya- tanya dalam hatinya.


“Loh, kok manggil Om ? harus adil dong masa iya sama Tante manggil Mami, ke Papi manggil Om,,,? dimana- mana juga Mami itu pasangannya sama Papi, bukan sama Om,,, jadi kamu juga harus manggil Papi ya”, Pak Latief malah ikut- ikutan latah.


"Hah,,, iy iya Om,, eh Papi,,, hehe”, Naz sangat kaku dan masih malu harus memanggil beliau Papi.


Naz tersenyum bahagia melihat kedua orang tua Arfin yang menyambutnya dengan tangan terbuka dan sangat ramah, juga terus mengakrabkan diri dengannya agar dia tidak merasa canggung. Sangat jauh dari perkiraannya selama ini yang sempat takut jika mereka akan mempermasalahkan identitas Naz, walaupun sebenarnya Pak Latief dan Papa nya bersahabat sejak lama.


Mami terdiam sejenak untuk menetralkan perasaannya yang sempat emosi, “Ekhem,,,, Naz, ayo dimakan puding dan kue nya,,, ini Mami sendiri yang buat loh”, Mami mengalihkan perhatian dengan mengambil piring kue dan menyodorkannya pada Naz.


“Iya Tan,,, ehh Mami,,, terimakasih,,, “, ucapnya tersenyum karena bibirnya masih keseleo belum terbiasa memanggil beliau dengan sebutan Mami, lalu Naz pun mengambil sepotong kue dari piring tersebut.


“Hmmm,,, mentang- mentang ada Naz, Papi jadi dilupakan,,, jangankan disodorkan kue, ditawarin aja enggak,,, “, Pak Latief kembali menggoda istrinya.


“Halahh,,, Papi ini, biasanya juga ngambil sendiri, bahkan saat Mami baru mengeluarkan kuenya dari oven saja langsung di lahap”, ucap Mami terkekeh sambil mengejek suaminya, dan membuat Naz juga ikut tersenyum melihat candaan mereka berdua, lain hal nya dengan Arfin yang nampak menundukkan kepalanya seperti sedang memikirkan sesuatu dengan raut wajah yang sulit diartikan.


“Iya dan Mami dengan sengaja menyodorkan kue nya beserta Loyang yang belum dilepas, ya terpaksa Papi comot bagian tengahnya biarpun masih panas,,, habis kue buatan Mami itu enakk tiada duanya,,, ”, Pak Latief terus meladeni candaan istrinya itu, Naz sebagai penyimak hanya bisa senyam- senyum saja melihatnya sambil memakan potongan kue di tangannya hingga habis, dan sesekali melirik ke arah Arfin yang masih dia seribu bahasa.


“Hahaha,,, sudah mulai keluar ini gombalan engki- engki”, Mami semakin mengejek suaminya.

__ADS_1


“Tapi Om ,,eh Papi benar loh Mih,, kue ini enak banget,,, rasanya hampir sama dengan kue dari toko kue langganan Bunda,, hehe,,, aku mau lagi boleh gak?”, Naz sudah mulai tidak canggung lagi.


“Ambil aja Naz, gak usah izin segala, anggap aja di rumah sendiri,,,, kamu ternyata pandai menggombal juga ya,,, berarti nanti Bunda mu harus berpindah menjadi langganan di toko kue Mami”, ucapnya lalu ikut memakan kue.


“Wah,,, iya kah? Mami punya toko kue? Pantesan kue buatan Mami enak gini,,, hehehe”, Naz terus memuji.


“Iya,,, nama tokonya Anjani Bakery,,, “, jawab Mami.


“Hahh,,, itu kan toko kue langganan Bunda,, pantesan rasanya sama ternyata pemiliknya Mami toh”, Naz terkejut baru mengetahui hal itu.


“Nanti Mami ajarin cara bikinnya, soalnya ada resep rahasia di dalamnya,, hahaha ", Kayak craby Petty aja pake resep rahasia segala.


Arfin yang sejak tadi hanya diam, tiba- tiba berdiri ,”Naz, aku pamit ke kamar dulu, ponselku habis baterai mau di charger ”, ucapnya menoleh pada Naz memberikan senyuman yang terlihat dipaksakan dan Naz pun mengangguki nya, kemudian Arfin pun berlalu pergi ke kamarnya.


Sedangkan Pak Latief mendapatkan panggilan telepon dan beranjak dari ruang tengah itu untuk mengangkat panggilan teleponnya.


“Sudah biarkan saja, dia itu memang kuncen kamar biasanya juga,,, kita lanjut ngobrol lagi yuk,, Mami punya cerita lucu loh,,, “, Mami mengalihkan perhatian Naz supaya tidak merasa sedih karena sikap Arfin. Kemudian beliau menceritakan awal mula Arfin yang mengakui sedang dekat dengan seorang gadis, lalu Mami mengomporinya untuk segera menyatakan perasaannya, sampai Arfin pun menyatakan perasaannya pada gadis itu saat di rumah sakit yang ternyata adalah istri orang, hingga akhirnya Arfin dihajar.


Naz yang mendengar cerita itu tidak bisa berhenti tertawa karena Mami bercerita dengan lucunya sambil mengejek anaknya itu. Rasa canggung yang sebelumnya dirasakan Naz, kini telah sirna berganti dengan rasa bahagia dan nyaman bisa sedekat ini dengan ibu dari kekasih yang sangat dicintainya itu.



“Ayo puding nya juga dicobain,, enak lohhh,,,”, Mami kembali menawarkan makanan buatannya.


“Iya iya deh percaya sama Mami,,, makanan buatan Mami pasti enak- enak”, Naz lalu mengambil puding dan meletakkannya di atas piring kecil yang sudah disediakan di atas meja oleh Bi Darmi, kemudian ia memakannya dengan menggunakan garpu kecil pula.


“Gimana? Enak kan?”, tanya Mami dan Naz pun mengangguki nya.”Oh iya,, gimana kalo setelah ini kita memasak yuk “, Ajak Mami seolah ingin mengetes kemampuan calon menantunya itu.


Uhuk uhuk uhuk ,,,,, Naz yang sedang makan puding pun langsung tersedak karena kaget. Mami langsung mengambilkan secangkir teh dari atas meja dan memberikannya pada Naz, “Pelan- pelan makannya Naz,, ini minum dulu”. Naz pun menerimanya dan minum perlahan.


“Yasalam,,, cobaan apalagi ini, gue kan gak bisa masak,,, jangankan masak yang aneh- aneh masak air aja gosong,,, Bundaaaa,,, aku kan sering minta diajarin masak, tapi Bunda selalu melarang,, gini nih,, ketemu camer jadi gaswat kan”, Naz menjerit dalam hati.


“Mami,,, Nervan kemana inih ? Katanya mau bawa cucu Papi kesini sama Salma, kok belum muncul juga? Papi kan belum ketemu sama Syanala”, Papi yang baru kembali langsung menanyakan Nervan.


“Gak tahu, katanya sih kalo gak pagi ya abis jumatan nanti, Mami sengaja bikin kue sama puding yang banyak, awas aja kalo gak jadi”, ucap Mami dengan menyipitkan matanya.


“Om,, eh Papi emangnya belum pernah ketemu sama Nala?”, tanya Naz heran.


“Belum,, baru lihat foto- fotonya saja,,, kemarin pas Nala hilang di kantor sempat ikut mencari,, saat sedang di ruang CCTV, sekertaris Papi mengingatkan kalau jam satu ada meeting diluar dengan klien dari Singapura, jadi tidak bisa bertemu cucu Papi itu,, dan hari ini klien itu malah ngajak main golf sama Papa mu, nanti jam 2 siang Papi berangkat”, ucap Beliau menjelaskan.


“Ayo kita bertempur di dapur”, ajaknya memegang tangan Naz.


“Tapi Mi,, emm,,, aku ,, aku gak bisa masak”. Ucap Naz lalu menunduk dan celingukan karena merasa malu.


“Tenang saja Naz,,, santuy kalo kata anak zaman sekarang… Mami bukan mau mengetes kamu bisa masak atau tidak, Mami maklum kok anak seumuran kamu jarang yang sudah bisa memasak,,, Mami juga pernah muda Naz,,, seumuran mu itu biasanya menghabiskan waktu belajar, bermain, hangout bareng teman- teman, ya sama pacaran gitu,, hahahhaa,,,, kalo begitu Mami akan mengajarkan mu memasak,,, bagaimana??”.


Naz kembali mengangkat kepalanya lalu tersenyum dan mengangguk, “Aku mau …”, ucapnya antusias.


“Okay kalau begitu,,, mari kita kita bertempur di dapur “, Mami berdiri lalu mengajak Naz pergi ke dapur, kemudian beliau mengambil beberapa bahan masakan dari dalam lemari pendingin. “ Kita akan memasak sop iga, udang goreng tepung sama tempe goreng,,, Tadi pagi iga nya sudah di presto sama Bi Darmi supaya gak alot, dan sekarang kita kupas dan potong- potong sayurannya juga membuat bumbunya,, tapi sebelum itu, ita harus memakai pakaian tempurnya dulu, taraa,,, “, Mami mengambil dan menunjukan dua buah celemek untuk mereka gunakan.


Naz mengambil satu lalu memakainya dan menguncir rambutnya supaya tidak gerah serta tidak jatuh ke dalam masakan.


Mereka pun memulai aksinya, Naz mengupas dan memotong sayuran untuk sop nya seperti, wortel, brokoli, buncis dan kol putih, sedangkan Mami mengupas bawang merah dan bawang putih untuk bumbunya. Saat Naz sedang memotong wortel, tiba- tiba tangannya tergores pisau, “Aww,,,,,hssssss,,”, Naz meringis kesakitan dan darah pun mengucur dari jari tengahnya itu.


Mami yang merasa terkejut langsung menghampiri Naz, “Naz,, kamu kenapa,, loh kok itu tangannya berdarah,,, ayok sini cuci dulu jari tangan yang lukanya”, Mami menarik Naz dan membawanya ke depan wastafel tempat cuci piring, lalu tangan Naz yang luka diguyur dengan air mengalir, “Bi Darmi tolong bawakan kotak P3K,,, !!”, teriak Mami dan Bi Darmi pun segera melaksanakan titah majikannya.


“Sakit yaa,,, tahan sebentar yaa,, Bi cepetan dong..!!”. Mami kembali berteriak karena panik melihat jari tangan Naz masih terus mengeluarkan darah.


Naz memasukan jarinya ke dalam mulutnya dan menyedotnya untuk menghentikan pendarahan jarinya itu. Kemudian Naz memuntahkannya ke wastafel dan kembali mencuci tangannya.


Setelah Bi Darmi datang membawakan kotak P3K, Mami mengambil betadine dan meneteskannya pada luka Naz lalu ditutup dengan plester, “Nah,, beres deh,,, udah kamu duduk aja ya Naz,,, Mami takut nanti kamu terluka lagi, bisa- bisa Arfin murka nanti...”, ucap Mami khawatir pada Naz.


“Enggak apa- apa Mami,, aku suka bantuin Bunda motong sayuran kok,, tadi aku cuman kurang hati- hati aja, ayo kita lanjutkan lagi Mi”, Naz bersih keras ingin ikutan memasak lagi, ia merasa tidak enak masa iya dia hanya duduk menonton saja, akhirnya mereka melanjutkan kegiatan tadi yang sempat terhenti.


Setelah selesai memotong sayuran, Naz pun mencuci sayuran tersebut, dan melanjutkan memotong tempe dilanjut mengupas kulit udang, “Mami,, Kak Arfin makanan kesukaannya apa?”, tanya Naz.


“Arfin itu makanan apa aja suka, dia gak rewel kalau soal makanan, kecuali makanan yang mengandung keju jelas sangat dihindari soalnya dia alergi keju. Oh iya yang gak dia suka itu cuman pete sama jengkol aja,,, katanya bikin bau,, hahaha,,, eh tapi kemarin- kemarin Mami pernah bikin sambal cumi pete dimakan sama dia,,, lahap banget lagi makannya,,gak tahu itu anak kerasukan jin dari mana?”.


“Jin Rheanazwa Mih,,, yang merasukinya,,, hahaha”, Naz bicara dalam hati dengan mulut yang menahan tawa , karena mengingat ia pernah memaksa Arfin memakan sambel goreng pete.


***

__ADS_1


Acara masak- memasak dengan celotehan Mami yang terus menjelaskan ini itu pada Naz akhirnya selesai, Naz mencuci semua peralatan bekas memasak tadi walau sudah dilarang oleh Mami, namun ia tetap bersih keras karena Bundanya selalu mengajarinya tidak boleh membiarkan ada satu pun peralatan kotor di wastafel cuci piring, baik itu setelah selesai memasak atau pun setelah selesai makan.


Sementara Mami menyimpan hasil masakannya di atas meja makan, dan keduanya pun melepas celemek masing- masing.


“Naz, kamu tunggu aja di ruang tengah ya,, Mami mau mandi dulu “, ucap Mami.


“Iya Mi,,,”, jawab Naz yang kemudian berjalan menuju ruang tengah, dan saat melihat jam tangannya ternyata sudah hampir jam 11 siang. Naz duduk sejenak, kemudian Bi Darmi menghampirinya dengan membawa satu gelas air putih dan satu gelas orange jus di atas nampan yang diminta Mami untuk diberikan pada Naz.


“Ini Non, silahkan diminum”, ucapnya mempersilahkan.


“Terimakasih Bi,,”, Naz mengambil segelas air putih untuk diminumnya, “Oh iya,, Bibi lihat Kak Arfin gak?”, tanyanya lalu minum.


“Iya Non,, Den Arfin setengah jam yang lalu masuk ke ruang olahraga", jawab Bi Darmi.


“Oh gitu ya Bi,,, kalau boleh tau dimana ya ruang olah raga nya?”, tanya Naz yang sudah menghabiskan minumnya.


“Kalau Non mau ke sana, mari Bibi antar,,” ,ucap Bi Darmi menawarkan bantuan dan Naz pun langsung berdiri lalu mereka berjalan menuju ruang olahraga. Sesampainya di depan pintu Bi Darmi pamit kembali ke belakang.


“Terimakasih ya Bi,, maaf sudah merepotkan” ,Ucap Naz.


“Enggak merepotkan kok Non,,, Bibi permisi dulu ya Non”. Ucapnya lalu diangguki oleh Naz.


Ceklek ,,,, Naz membuka pintu dan langsung masuk ke dalam ruang olahraga yang dindingnya menggunakan kaca sehingga cahaya dari luar menerangi seluruh ruangan, dan di sana terdapat beberapa alat gym. Naz yang melihat Arfin sedang duduk di sebuah alat gym langsung menghampirinya.


Naz mendekat lalu memegang tangannya untuk menggangu Arfin.



“Enak banget ya,, aku dibawa kesini terus ditinggalin”, ucap Naz menyindir.


“Abisnya Aa dicuekin terus, kamu sibuk sama Mami,, ya mending Aa tinggalin kalian aja biar lebih akrab”, Arfin beralasan.


“Huh dasar,, alasan saja mau caharger ponsel, eh malah nyungseb disini,,, udah dulu olahraganya,, istirahat sebentar, terus mandi,,, udah mau jam 11 ini bentar lagi kan jumatan”, Naz bersikap seolah dia seorang istri yang mengingatkan suaminya.


“Baiklah chayaku sayang,,,, ", Arfin lalu turun dari alat gym tersebut dan mendekati Naz, " Tadi diapain aja sama Mami?”, tanyanya.


" Kok nanya nya gitu ? seolah Aa menganggap Mami itu seorang penjahat dih... ", ucap Naz lalu membenarkan rambutnya yang menghalangi matanya, Arfin yang melihatnya langsung memegang tangan Naz.


"Jarimu kenapa sayang? kok diplester gini?", tanyanya heran.


" Enggak apa- apa,, cuma variasi doang,, tadi lagi motong wortel kena pisau,,, ", jawab Naz tersenyum.


Arfin menghela nafas sejenak, " Kalau kamu tidak terbiasa memasak, kamu nolak aja ajakan Mami, jadi kamu gak usah terluka kayak gini kan,,, pasti Mami memaksamu iya kan? ", Arfin malah mengomel.


" Enggak apa- apa sayang,, lagian aku senang kok bisa diajarin masak sama Mami, soalnya Bunda gak pernah ngajarin aku, anggap saja test drive dari camer, hehe... ", ucapnya terkekeh membela Mami. " Aku juga kan pengen bisa masakin buat Aa", ucapnya memandang kekasihnya itu dengan tatapan manja dan Arfin pun mengusap- usap pucuk kepala Naz sambil tersenyum.


"Aa,,, ",panggil Naz.


" Hemmm", Arfin menyahut.


"Emmm... Aa kenapa tadi bersikap gitu waktu Papi bicara soal pernikahan?", tanya Naz yang sejak tadi penasaran.


Deg... Arfin merasa terkejut dengan pertanyaan yang Naz lontarkan, lalu ia nampak berfikir dan diam tanpa kata.


Naz mencolek perut rata Arfin, " Hei,, kok gak dijawab sih,,, katanya diantara kita gak boleh ada rahasia", Naz mengingatkan janji mereka.


Arfin menghela nafas sejenak," Karena memang Aa belum siap untuk itu", jawabnya.


" Emang kenapa? ", tanya Naz lagi.


"Ya, karena pacarku saja masih sekolah,,, mana boleh menikahinya,,, emangnya pacarku ini sudah siap hem?", Arfin balik bertanya dan Naz menggelengkan kepalanya yang membuat Arfin terkekeh melihatnya, lalu ia memeluk kekasihnya itu dan mengusap kepalanya.


"Maaf sayang....", lirihnya dalam hati.


------------- TBC ------------


******************************


Maaf kenapa atuh Aa.... ??


Happy Reading.....

__ADS_1


Jangan Luva tinggalkan jejak mu.... Komen, Like, Vote, and Rate bintang 5....


Terimakasih....


__ADS_2