Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Alhamdulillah....


__ADS_3

Cekiiiittttt….


Kiara langsung menginjak rem mendadak untuk menghentikan laju mobilnya. Andes dan Mbak Retno tersungkur wajahnya mengenai bagian belakang jok depan, sedangkan Ruby yang sebelumnya sedang menengok ke arah belakang, tubuhnya oleng hampir terjeduk dashboard, beruntung ia menggunakan seat belt.


“Apa?? Naz gak ada??”, Kiara yang terkejut langsung menengok ke arah belakang.


“Lo kaget kaget aja dong,,, jangan rem mendadak gini,, bisa jantungan kita semua ni,, untung jalanan lagi sepi”,cerocos Ruby.


“Iya aduhh,,, mulut ku nyium jok nih,, gak enak tahu”, Andes pun ikut menggerutu.


“Astaga naga,, gimana gue gak kaget, kalian itu gimana sih,,?, kenapa Naz ditinggal? yang mau melahirkan kan dia,, kalian semua pada gila apa ya !!!”, Kiara langsung marah- marah.


“Kita semua panik Ra,, jadinya Naz kayaknya ketinggalan deh di rumah,, “, ucap Andes dengan polosnya sambil mengusap bibirnya yang masih terasa sakit.


"Aku pikir tadi yang aku gandeng Naz,, eh ternyata Mbak Retno”, Tambahnya.


“Emang lo gak bisa bedain apa Naz sama Mbak Retno?”, Ruby kembali ngegas.


“Kan panik, jadi gak nyadar,, mana belibet bawa dua tas pakaian bayi sama tas Naz juga", Andes terus membela diri.


“Bego banget sih lo, Des,, malah mentingin bawa tas baju bayi,, siapa coba yang mau pakai baju bayi itu, kalo orang yang mau brojol nya aja malah lo tinggalin”, Kiara semakin meradang pada Andes.


“Iya gak bisa diandelin banget sih lo Des…”, Ruby terus menyalahkan.


“Loh kok aku yang disalahin, kan kalian juga salah gak ngecek dulu gitu Naz udah naik apa belom,,”, Andes pun tak mau terus disalahkan.


“Wealah,, sudah- sudah toh jangan bertengkar,,, mending kita balik lagi,, kasihan Non Nanaz udah mules- mules toh,, mana di rumah gak ada siapa- siapa”, Mbak Retno melerai.


“Astagfirullah,, iya kok gue lupa ya,,,”, Kiara menepok jidatnya, ia menyalakan lagi mesin mobilnya dan memutar balik untuk kembali ke rumah Naz.


Tak lama mereka pun sampai di depan rumah karena sebelumnya gerbang nya tak ditutup lagi, kemudian semua orang keluar dari mobil dan masuk kembali ke dalam rumah yang ternyata pintunya tidak dikunci juga.


Betapa terkejutnya mereka melihat Naz sudah tidak ada di ruang tengah. Mereka berpencar mencari keberadaan Naz ke semua ruangan, termasuk semua kamar pun di geledah. Mereka kembali berkumpul di ruang tengah dan tidak ada satu pun yang menemukan keberadaan Naz.


“Haduh,, Naz kemana ya? kok gak ada?”, Kiara semakin panik.


“Iya bener,,, jangan- jangan dia tadi udah gak tahan mulesnya,, mungkin pergi ke rumah Tante ina?”, Ruby menduga.


“Lo sih Des,, ahhh”, Kiara kembali menyalahkan Andes.


“Iiihhh,, kok aku terus yang disalahin”.


Ceklek,,,, terdengar suara pintu terbuka dan pandangan keempat orang itu tertuju pada asal suara, yang ternyata itu dari arah kamar mandi.


Dan keluarlah Naz dari sana sembari mengusap perut buncitnya, dan tangan yang satu nya menahan pinggang nya.


“Naz,,,,,!!”, teriak ketiga sahabatnya dan langsung menghampiri Naz.


“Lo gak apa- apa kan??”, Kiara sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu.


“Lo gak brojol di kamar mandi kan, Naz? Anak lo mana?”, Ruby saking paniknya langsung melempar pertanyaan.


“Gue gak apa- apa,,, ini anak gue masih dalam perut kok”, Naz bicara dengan santainya.


“Bukannya tadi lo bilang mules?”, Kiara merasa heran.


“Iya,, tapi udah enggak kok,,, “.


“Mungkin kontraksi palsu non”, Mbak Retno ikut bersuara.


“Hah,,, kontraksi palsu?”, Tanya ketiga sahabat Naz bersamaan.


“Iya mungkin Mbak,, dokter bilang juga kadang suka terjadi kontraksi palsu, lagian kan HPL nya masih sepuluh harian lagi”, Naz melanjutkan langkahnya menuju sofa untuk duduk lagi di sana, baru saja tiga langkah, ia kembali berhenti.


“Aduh,,,,”, Naz memegang perutnya.


“Kenapa Naz,,,?”, Kiara kembali panik.


“Perutku mules lagi ini,, adududuh,, ini lebih sakit dari yang tadi", Naz memegang perutnya.


“Wealah,,, berarti kontraksi beneran Non,,,”, ucap Mbak Retno.


“Ayok kita bawa ke rumah sakit cepetan…”, Kiara mengajak gerak cepat.


“Naz lo bisa jalan kan?”, tanya Ruby panik karena di sana tidak ada laki- laki selain Andes, dan mereka tidak mungkin bisa menggotong Naz meskipun beramai- ramai. Naz hanya bisa mengangguk sambil menahan sakit di perutnya.


“Yasudah yuk,,, pelan- pelan jalannya ya”, Kiara dan Ruby menuntun Naz jalan perlahan menuju keluar rumah, sesekali langkahnya terhenti saat perutnya terasa sangat sakit. Dan setelah menempung perjalanan yang hanya beberapa meter saja namun serasa berkilo kilo meter karena serasa lama sekali, akhirnya sampai di luar tepat dimana mobinya diparkirkan.


Andes membukakan pintu mobil, Kiara masuk lebih dulu, kemudian membantu Naz masuk ke dalam mobil, lalu diikuti oleh Ruby sehingga Naz duduk di tengah diapit oleh Kiara dan Ruby.


“Loh aku duduk dimana?”, tanya Andes bingung.


“Lo duduk di depan, Des,.. disini penuh...”, ucap Ruby


“Oke,,”, Andes kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.


“Aduh sakit banget,,, cepetan ihhh,,,”, Naz yang meringis kesakitan mengajak cepat berangkat.


“Iya,, iya Naz,,, sabar,,”, Ruby berusaha menenangkan.


“Cepetan sih Des,, lo ko malah ngelamun”, Kiara menyentak Andes.


“Aaaaahh,,, Kiara,, Ruby,,, kenapa aku duduk di sini?? kan aku gak bisa nyetir”, Andes baru menyadari.


“Ya ampun,, kok gue lupa,,,kenapa juga gue malah duduk di belakang”, Kiara pun baru menyadari, akhirnya ia keluar dan bertukar tempat dengan Andes.


Mbak Retno yang sudah mengunci pintu, kemudian menunggu di depan gerbang untuk menutupnya kembali saat mereka akan berangkat dan mobilnya sudah keluar dari pintu gerbang.


Kiara menyalakan mesin mobilnya dan mengeluarkan mobil tersebut dari pekarangan rumah Naz. Setelah Mbak Retno menutup dan mengunci pintu gerbang, ia pun naik ke mobil dan duduk di depan di sebelah Kiara yang kemudian melajukan mobilnya.


“Aduhh,,, kok sakit banget ya….”, Naz mulai merasa panik karena perutnya semakin terasa sakit.


“Sabar toh Non,,, tarik nafas panjang melaui hidung,,, lalu buang lewat mulut…”, Mbak Retno memberi intsuksi dan Naz pun mengikutinya.


Naz pun kembali merasa tenang, namun tak berlangsung lama,,“Aduh,, makin sakit ini”.


“Naz kita mau ke rumah sakit mana? ngambil jalan mana?”, tanya Kiara.


“Mana gue tahu ih,, perut gue lagi sakit juga lo malah nanyain jalan lagi sama gue…. Aduh.,, Mama sakit”, Naz malah marah- marah.


“Mbak Kita ke rumah sakit mana ini..?”, Kiara bertanya pada Mbak Retno.


“Kalo ndak salah tuh ke rumah sakit National Hospital tempat Non periksa kandungan tuh”, Mbak Retno mengingat- ingat.

__ADS_1


“Andes,, cepetan buka google maps,, cari rumah sakit National Hospital”, titahnya pada Andes, dan ia pun segera melaksanakannya.


“Nih,, ponselnya”, Andes memberikan ponsel tersebut pada Kiara, ia pun melajukan mobil sesuai petunjuk arah dari neng gugel tersebut.


“Aduh,, cepetan kenapa sih,, saki perut gue,,,,!!!”, teriak Naz yang semakin panik.


“Sabar- sabar Naz,,, “, Ruby berusaha menenangkan.


“Lo ngomong sabar- sabar mulu,,, sakit tahu…. Fuhh fuhh… lo bantuin doa kek”, Naz malah memarahinya.


“Iya,,, iya gue bantuin doa…”, Ruby pun manut saja.


“Aduh,,,, hhuhuh,,, sakit banget ini,,, lo kok malah diam aja sih By,,,”, Naz terus marah- marah karena tidak tahan dengan rasa sakitnya.


“Kan gue lagi berdoa Naz,,,”, ucap Ruby.


“Kenapa gak kedengeran,,,??”, protesnya ketus.


“Astagfirullah gue lagi doa, Naz ,,, bukan lagi khotbah…”, Ruby jadi ikut kesal.


“Fuhhh fuh,,, sakit banget,, cepetan kenapa sih, Ra,, ihh,, lelet banget sih nyetirnya”, Naz kembali marah.


“Sabar,,, ini gue udah berusaha cepet nih,,, Des kasih tahu kak Arfin,,, pakai ponsel Naz yang ada di tasnya Naz ", Kiara baru ingat belum mengabari Arfin.


“Iya,, iya,,, Andes segera mengambil tas Naz yang ia simpan di belakang, ia pun mengambil ponsel Naz,,”, Naz,, nama suami mu siapa?”, Andes mendadak linglung.


“Aduhhh,, apaan sih lo nanyain laki gue segala,,,? gue gak tahu,,,!!... gue gak mau denger namanya,,, ini semua gara- gara dia..!!,,, aduhhh perut gue sakit banget,,, cepetan Kiara!!” Na terus berteriak karena kesakitan.


“Lah,,, sekarang bilangnya gara-gara dia,, kok waktu bikinnya mau- mau aja sih?”Andes malah mengejek.


“Diam,,,!! perut gue sakit Andes,, ihhhhh”, Naz menjambak rambut Andes saking kesalnya.


”Adududuh,,,sakit,, ampun,,, ampun,,,, Mami,,, tolong aku...”, Andes meringis kesakitan sedangkan Naz semakin kencang menjambak rambut ikalnya.


Ruby yang kasihan melihatnya berusaha melepaskan jambakan Naz.


“Naz,,, Naz,,, udah lepasin,, kasihan si Andes,,, ntar aja lo jambak rambut laki lo,,, dia kan pelakunya bukan si Andes..”, Ruby menarik tangan Naz, dan ia pun melepaskannya, karena rasa sakit nya sudah hilang lagi. “Tarik nafas Naz,,,, buang”, Naz pun mengikuti instruksi Ruby.


“Des,,, lo lihat aja dari chatingan,, pasti ada nama kontak lakinya,, langsung aja telpon”, Kiara kembali memberi perintah pada Andes.


“Oke- oke…”, Andes segera menghubungi nomor Arfin yang sudah ditemukannya pada chatingan di aplikasi whatsap.


“Aduh,, nomornya gak aktif,,, gimana ini,,, bisa- bisa aku terus nanti di rumah sakit yang dijambak”, Andes mengkhawatirkan dirinya yang takut dianiaya lagi.


“Yaelah gimana sih tuh orang,, telpon tante Rahmi cepetan,,!!".


“Iya,,, iya,,”, Andes segera menghubungi Bu Rahmi yang nama kontaknya ia dapatan dari riwayat chatingan juga. Namun kali ini berhasil terhubung, dan setelah mendengar kabar Naz yang akan melahirkan, Bu Rahmi yang masih di pasar pun segera meluncur ke rumah sakit yang sudah diberitahuan oleh Andes.


Naz yang sudah berhenti berteriak pun, mulai merasa tenang dengan terus menghela nafas panjang terus menerus. Dan akhirnya mereka tiba di rumah sakit, Naz diturunkan di depan pintu UGD. Ia segera disambut perawat dan security yang membawa kursi roda, Naz duduk di kursi roda lalu dibawa ke ruang UGD ditemani Ruby dan Andes yang membawakan tas serta ponsel Naz, sementara Kiara pergi memarkirkan mobil bersama Mbak Retno di dalamnya.


Baru saja berbaring di bangsal, Naz kembali merasa mules, ia pun bangun dan memposisikan duduk dengan satu tangan yang menekan bangsal di bagian belakang untuk menahan tubuhnya, dan satu tangannya lagi mengusap- usap perut yang kembali mules,


”Aduhhh,, perut gue mules lagi By, mana sih susternya,, cepetan ihh,,, sakit nih,, aduh,, fuhhh fuhhh”, Naz kembali meringis kesakitan dan marah- marah.


Andes yang melihat Naz kembali marah- marah langsung menjauh darinya, ia berdiri di balik tirai pembatas karena takut menjadi korban keganasannya lagi. Ia terus menghubungi Arfin dan nomornya masih tidak aktif.


Seorang perawat wanita datang untuk memeriksa Naz, ia kemudian menutup tirai pembatas antar bansal di ruang tersebut. Naz diperiksa tensi darah dan suhu tubuhnya, “Ibu sebelumya pernah berobat di rumah sakit ini?”.


“Iya,, saya pasien Dokter Sashmita,, panggil dia ke sini,, perut ku sakit banget ini...”, Naz yang tengah menahan rasa sakit pun menjawab dengan ketus dan main perintah seenaknya.


“Aduhh,, By,, sakit banget”, Naz terus meringis sambil memegang perutnya.


“Sabar Naz,,,”, ucapnya.


“Sabar- sabar aja lo,,, bantuin apa kek”, Naz kembali marah.


“Gue juga bingung Naz musti ngapain…“, Ruby merasa bingung.


Tiba- tiba Bu Rahmi datang bersamaan dengan Mbak Retno dan Kiara yang membawa tas perlengkapan bayi serta satu buah kantong kreesek entah berisi apa. Beliau segera menghampiri Naz setelah melihat ada Andes berdiri di dekat tirai pembatas. Sedangkan Kiara dan Mbak Retno menunggu di balik tirai bersama Andes.


“Sayang,,, kamu sudah merasakan mules, Nak?? Bukannya HPL nya masih sepuluh harian lagi ya”.


“Iya ,, Ma,,, mulesnya kok sakit banget sih Ma? Hiks hiks”, Naz yang melihat kedatangan Mama nya tiba- tiba membuatnya menangis.


“Iya,, sayang,, sabar ya, Nak…”, Bu Rahmi segera memeluk putrinya, lalu mengusap- usap punggungnya, ”Mulesnya terus- terusan? Udah diperiksa?”, Bu Rahmi kembali bertanya.


“Mulesnya masih hilang timbul Ma, tapi sakit banget… hiks hiks”.


“Tadi udah diperiksa Tante,, tapi katanya mau diperiksa lagi sama bidan”, Ruby ikut menjawab.


“Arfin sudah diberi tahu?”, Bu Rahmi bertanya pada Ruby.


“Ini Andes terus menghubungi Kak Arfin, Tante,, tapi nomornya gak aktif”, Andes yang berada di balik tirai ikut menjawab.


“Mungkin dia masih meeting,,, Andes,, coba hubungi Pak Uje,, Arfin kan tadi pergi sama dia”.


“Baik Tante,,, “, Andes kemudian membuka kontak yang ada di ponsel tersebut dan mencari nomor Uje, kemudian menghubunginya.


Bu Rahmi yang masih memeluk Naz, terus menenangkanya, “Sabar sayang,, kamu harus tenang ya,, ingatlah sebentar lagi kamu bertemu dengan bayi mu yang sudah kamu nanti- nantikan kehadirannya, bayangkan betapa lucunya bayi mungil mu nanti, rasa sakitnya p asti akan berkurang, yaa,,, “, Bu Rahmi melepaskan pelukannya perlahan.


“Sayang,, kamu tarik nafas panjang lewat hidung, lalu hembuskan lewat mulut, ya “, Bu Rahmi mengintruksikan hal yang sama dengan Mbak Retno tadi, Naz pun mengikutinya, dan rasa mulesnya pun hilang kembali. Naz kini terlihat kembali tenang.


“Tante,, ini minuman sama roti dan beberapa cemilan, juga coklat… kata Mbak Retno, Naz pasti butuh ini”, Kiara memberikan kantong kresek berisi makanan dan minum.


“Terimakasih ya Kiara,,, “.


“Makasi ya, Ra, By, Des, Mbak Retno,,, maaf aku tadi marah- marah terus”, Naz baru menyadari.


“Nyantei aja kali Naz,,, gue udah pernah leih parah dari ini, waktu ngenterin kakak gue lahiran,,, hehehe”, ucap Kiara.


“Iya.. lo kayak sama siapa aja deh”, Ruby pun menyahut.


“Eh,, pengumuman- pengumuman, kata Pak Uje, Kak Arfin udah otewe mau ke sini,,, katanya ponselnya ketinggalan di kamar lagi di charger dalam keadaan mati, jadi gak aktif”, Andes memberitakan.


“Syukurlah kalau dia sudah bisa dihubungi dan segera datang ke sini,,, Mama juga tadi setelah dapat kabar dari Andes, langsung menghubungi Papa dan Bunda mu,, juga Mami mertua mu,, mereka akan datang ngambil penerbangan siang katanya”.


“Padahal jangan dikasih tahu dulu Ma,, nanti saja kalau sudah lahiran,, kasihan mereka baru aja kemarin pulang dari sini”, Naz merasa tidak enak merepotkan keluarganya.


“Justru kemarin mereka sudah wanti- wanti ke Mama,, kalau kamu mau lahiran segera hubungi mereka katanya,,, Sekarang kamu minum dulu ya, sayang”, Bu Rahmi memberikan satu botol air mineral yang telah beliau buka tutupnya, Naz pun meminumnya.


“Kamu pengen makan apa, sayang?? Kamu harus makan dan minum ya,, biar punya tenaga buat ngeden nanti”, tanya beliau.


“Aku pengen nasi padang sama rendang, ayam bakar dan ikan kembung,, sambal nya yang banyak, pakai lalapan juga,,, minumnya mau jus stroberi milkshake, mau cheese cake juga”, Naz menyebutkan daftar makanan yang ia inginkan.

__ADS_1


Bu Rahmi meminta tolong pada ketiga sahabat Naz untuk membelikan yang diinginkan Naz. Mereka pun segera melaksanakannya setelah Bu Rahmi memberikan uang.


Kini tinggalah Bu Rahmi dan Mbak Retno yang sedang menunggui Naz yang kembali merasa mules.


Seorang perawat kebidanan datang untuk memeriksa, “Permisi, Maaf ya Bu saya periksa dulu ya,,,“, ia menutup seluruh bagian tirai dan Naz terus ditemani Mama nya, “Maaf,,, tolong dibuka CD nya ya, Bu.”.


“Hah,, ngapain sih buka celana segala,,,?”, Naz yang sedang merasa kesakitan perutnya langsung sewot.


“Kan ibu sudah mules- mules tandanya akan segera melahirkan,, saya mau memeriksa sudah ada pembukaan apa belumnya”, sang bidan memberi penjelasan, Naz yang memakai daster pun membuka celana nya dibantu perawat tersebut.


“Kedua kakinya ditekuk ya,, maaf ya bu", ucapnya lalu memulai pemeriksaannya.


“Awww,,,,, itu dicolok pakai apaan sih sakit banget… aduhh,,, fiuhhh”, Naz hampir saja menendang bidan tersebut.


“Baru pembukaan satu Bu, tapi kepala bayinya sudah di bawah,, ibu mau pulang dulu atau tetap di sini?”.


“Langsung masuk ke ruang rawat inap saja,, soalnya nanti kalau mules lagi kasihan dia harus menempuh perjalanan lagi,,”Bu Rahmi langsung menjawab.


Setelah semua urusan pendaftaran selesai, Naz pun dibawa ke ruang rawat inap. Ia terus merasakan mules yang datang tiap sepuluh menit sekali itu.


Ceklek ,,,, terdengar suara pintu terbuka


“Sayang,,, “, seru Arfin yang baru datang langsung menghampiri Naz yang sedang duduk di sofa dengan raut wajah panik. Ia duduk di sebelahnya.


"Sayang,, kamu udah mau melahirkan?? Bukannya masih 10 harian lagi?”, Arfin terlihat bingung harus berkata apa, perasaannya terasa campur aduk, antara bahagia karena anak mereka akan segera lahir, dan juga sedih melihat wajah istrinya yang nampak pucat mungkin karena menahan rasa sakit,namun ia seolah terlihat biasa- biasa saja dan masih bisa tersenyum.


“Iya,, tapi tadi suster bilang baru pembukaan satu,, tadi juga dokter Sashmita sudah kesini,, “, Naz melapor.


“Terus gimana? Sekarang masih sakit?”, tanya Arfin khawatir.


“Mulesnya hilang timbul,, tapi masih ada jeda sekitaran beberapa menitan gitu,, tapi mules sakit banget,,, aduhh,,, hsshhh”, Naz kembali mules.


“Kenapa sayang? Sakit lagi?”, tanya nya panik dan Naz hanya memnganguk saja tanpa bicara,


“Aa pangilkan dokter ya”.


“Gak usah,, dokter bilang aku harus jalan- jalan,, banyak gerak,,biar pembukaannya cepat,,, aduh,,, hhsssshh”.


Arfin mengelus-elus perut Naz, ia tak tega melihat istrinya menahan rasa sakit seperti itu, “Sayang,, mending di Caesar aja ya,,, biar kamu gak harus kesakitan kayak gini”.


“Gak mau,,, aku pengen lahiran normal aja,, aku bisa kok nahan sakitnya,, aku kuat.. hhhssshh”, Naz kembali meringis.


“Kamu minum dulu, sayang”, Bu Rahmi memberikan minum, dan Naz pun meminumnya sedikit.


Setelah rasa mulesnya hilang, Arfin membawa Naz keluar untuk berjalan- jalan sesuai anjuran dokter,, saat merasa mules,, ia akan memeluk Naz dan mengusap- usap pinggangnya, untuk menenangkannya.


Sesekali Naz marah- marah padanya hingga mencengram keras bahkan sampai mencakar tangannya, ia hanya diam dan menerima saja, karena walaubgaimana pun Naz pasti merasa tersiksa dengan mules yang membuanya kesakitan itu.


Arfin dengan sabar terus menemani istrinya yang terus merasakan mules, untuk makan satu piring nasi Padang dengan lauk lengkap pun Naz menghabiskannya lama sekali, karena saat mulesnya datang , ia akan menghentikan makannya, setelah mules hilang barulah makan kembali.


Setelah beberapa kali diperiksa, pembukaanya sudah bertambah walaupun sangat lama,, Arfin berkali- kali menyarankan Naz untuk operasi Caesar saja, namun Naz terus menolaknya, bahkan ia sampai menyuruh suaminya itu pulang jika masih membujuknya untuk Caesar.


Rasa mules yang dirasakannya terus berlangusng hingga malam hari, bahkan kini orang tua dan mertuanya semua sudah hadir di sana.


Jam 10 malam Naz dibawa ke ruang bersalin, karena pembukaannya sudah hampir sempurna, ia ditemani Arfin, Mama dan Bundanya. Naz terus memarahi perawat yang setiap kali memeriksa pembukaannya, karena ia merasa sakit. Belum lagi saat ia disuntik untuk dipasang infusan, tentu saja perawat itu menjadi sasaran empuk kemarahan Naz.


“Inget ya Dek,,, bokong kamu teh jangan diangkat, nanti bisa robek dan dijahitnya banyak,, diam we tempelkeun bokongnya ke kasur ranjang,, ”, Bunda memberi tahukan.


“Aduh,,, ini kapan sih mau lahirnya,,? sakit banget,,?”, keluh Naz yang sudah merasa keskitan.


“Selamat malam Bu Rheanazwa,, yang tenang ya bu,, yang rilex saja, sebentar lagi ibu akan bertemu dengan bayi yang selama sembilan bulan lebih ini Ibu nantikan,, sakitnya sebentar kok Bu”, ucap Dokter Sashmita.


“Sebentar apa dokter,, dari pagi saya sudah kesakitan… ", Naz menjawab dengan ketus.


“Pemisi ya Bu,,, mari di tekuk kakinya,, saya periksa lagi pembukaannya,,”, seorang perawat kembali memeriksa.


“Awww,,, aduhh sakit banget ihh dicolok terus,, enakan juga dicolok sama punya suami saya!!”, semua orang nampak menahan tawa mendengar apa yang dikatakan Naz, sementara Arfin terlihat sangat malu.


“Pembukaanya sudah sempurna, Dok,,, “, ucap perawat itu.


“Baiklah kalau begitu,, mari Bu kita sama- sama berjuang,, nanti ibu mngejan mengikuti aba- aba dari kami ya,,”, ucap dokter.


“ Lihat perutnya ya bu... ayo Bu,,, dorong…”.


“Engghhhh…. Sakit banget Ma… hufh hufh…“, Naz mulai mengejan dengan satu tangan mencengkram tangan suaminya, sebelahnya lagi memegang tangan Mama nya.


“Sabar sayang,,,, ayok kamu bisa,, kamu kuat, Naz..”, Bu Rahmi terus menyemangati


Arfin yang merasa tegang dan panik terus mengusap kepala Naz, ia takntega melihat istrinya yang terus merasa kesakitan.


“Ayo Bu dorong lagi,,”.


“Erghhhhhhh,,,,, hiks hiks,,,sakit Ma… aku gak kuat… maafin aku Ma,, aku banyak salah sama Mama,, aku banyak salah sama Bunda,, maafin aku,,, hiks hiks”, Naz sampai menangis, karena ia kini merasakan perjuangan seorang ibu untuk melahirkan itu sangat berat.


“Iya sayang,,, jangan nangis ya,, kamu jangan banyak teriak,,, nanti bisa kehabisan tenaga,,, kamu kuat sayang kamu kuat pasti bisa Naz”, Bu Rahmi terus menyemangati Naz.


“Ini minum,,, dulu, Dek“, Bunda memberikan minum dengan menggunakan sedotan, Naz pun meminumnya, “Ayok Dek,, kamu pasti bisa,, kamu kuat… Bayangkan bayi mu yang mengemaskan".


“Ayo Bu,, semangat Bu,,, kepalanya sudah kelihatan… ayo dorog lagi Bu..”.


“Enghhhhhhhh….. “, Naz kembali mengejan lebih kuat.


“Buang nafas dulu ya Bu ya,, tarik nafasnya pelan saja ya,, keluarkan lewat mulut,, ayok Bu sedikit lagi, ini kepalanya, sudah kelihatan.”.


“Ayok sayang,, kamu bisa,,,”, Arfin berbisik di telinga istrinya.


“Enghhhhh,,,,,, aaaakkkkkkkkk”, Naz mengejan sekuat tenaga sambil menjambak rambut suaminya.


Oek…oek,,,, oekk,,,


“Alhamdulillah,,,, “, Bunda dan Bu Rahmi mengucap syukur bersamaan saat mendengar suara tangis bayi.


--------------- TBC -----------------


***************************


Happy Reading.....


semangat ....


Menuju Ending.....💪


Jangan luva tinggalkan jejak mu....🤩

__ADS_1


Tilimikicih.. aylapyu All...😘😘


__ADS_2