Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Extra_Part - Akha, Upin dan Ipin


__ADS_3

Semenjak itu Cahaya selalu dipanggil dengan sebutan Akha oleh orang tua dan para penghuni rumah lainnya. Bahkan saat para kakek- nenek dan keluarga lainnya dari Jakarta dihubungi dan diberitahukan tentang berita kehamilan Naz, Cahaya meminta mereka untuk memanggilnya Akha juga.


Naz yang awalnya tidak merasakan apa- apa, kini setiap pagi selalu merasakan mual yang kemudian muntah- muntah. Namun siang hingga malam ia bisa makan sesuka hati tanpa harus kembali memuntahkannya.


Hanya saja, makanan yang sangat ia sukai kini dihindari dan mendadak tidak disukainya, tak terkecuali jus alpukat kesukaannya. Dan jika ia melihat atau mencium baunya saja, ia akan minta mbak Jumin atau mbak Retno menyingkirkan makanan itu.


Naz merasakan perbedaan pada kehamilan keduanya ini. Saat hamil Cahaya dulu, ia lebih banyak tidur, jika kali ini justru ia lebih banyak makan, walaupun sering pilih- pilih makanan.


Tak jarang ia menginginkan suatu makan bahkan disaat tengah malam, dan setelah dibelikan ia malah tidak memakannya sama sekali. Terkadang itu membuat suaminya merasa kesal, namun Arfin sadar jika keinginan wanita hamil memang selalu aneh.


“Hamil anak kedua pun, tetap saja suka mengerjai ku ….” keluh Arfin saat ia baru pulang setelah berkeliling membeli es campur jam 12 malam untuk memenuhi ngidam istrinya, tapi sang istri malah tertidur lelap dan tak mau memakannya.


**


Hari berganti hari, kini usia kandungan Naz sudah memasuki minggu ke-22. Ia pun sudah selesai menyusun skripsinya dengan bantuan Dinda sang juru ketik, dan juga bantuan suaminya. Awalnya Arfin meminta Naz untuk menundanya, namun Naz bersikeras ingin segera menyelesaikannya. Agar setelah kuliahnya tuntas, ia bisa fokus mengurus anak- anaknya. Dan setelah pelaksanaan sidang skripsinya pun, ia mendapatkan hasil yang memuaskan dan dinyatakan lulus. Kini ia tinggal menunggu jadwal wisuda.


Cahaya pun sudah mulai bersekolah di Bumble Bee Pre School, yang tempatnya tidak jauh dari komplek perumahan tempat tinggalnya. Ia masuk sekolah tiga hari dalam seminggu, karna usianya yang baru empat tahun, sehingga ia masuk dalam kategori kelompok playgroup.


Saat hari pertama sekolahnya, ia diantarkan oleh kedua orang tuanya. Naz tetap menungguinya sampai pulang sekolah, sedangkan Arfin langsung pergi ke kantor karena hanya mengantarkannya saja, dan nantinya mereka akan dijemput oleh Uje.


Awalnya Cahaya masih malu- malu dan tidak mau lepas dari Magu- nya, bahkan masuk ke kelas pun harus di temani sampai jam belajarnya habis. Tak hanya itu, saat bermain pun Cahaya terus menempel pada Magu-nya, dan itu berlangsung hingga minggu kedua ia bersekolah.


Namun setelah berkenalan dengan teman- teman sekolah serta dengan bimbingan gurunya, lambat laun Cahaya mulai bisa berbaur dan merasakan enjoy di sekolahnya. Naz pun kini sudah bisa menunggunya di luar kelas.


“Magu … kok teman- teman manggil Magu nya beda- beda sih?” tanya Cahaya.


“Iya sayang, soalnya ada banyak nama panggilan anak pada orang tuanya. Ada mama- papa, mami- papi, momy- dady, ibu- bapak, bunda ayah, emak- abah, umi- abi, dan banyak lagi ….” Naz menjelaskan.


“Oh, pantesan Qila bilang, Chaya … itu mama kamu disana. Akha kan gak ngerti Qila bilang mama itu siapa, ternyata Magu… Terus kenapa Akha manggilnya Magu syama Pagu?”


“Magu itu Mami gue, kalau pagu itu Papi gue … Tapi, karena gue itu bahasa orang dewasa yang sudah besar, jadi Akha gak boleh bilang gue- gue an ya,” ucap Naz.


“Iya." Cahaya mengangguk.


**


Satu bulan telah berlalu, Cahaya yang sudah punya banyak teman selalu bersemangat pergi ke sekolah. Bahkan ia ingin setiap hari ke sekolah, namun sayang jadwalnya hanya tiga hari saja dalam seminggu. Ternyata ada beberapa temannya yang rumahnya masih satu blok dengannya, sehingga saat mereka tidak sekolah, masih bisa bermain bersama.


Naz yang tidak mau anaknya jauh dari pengawasannya, meminta agar teman- temannya Cahaya bermain di rumahnya saja. Beruntung mereka mau menurut, karena di halaman samping rumah terdapat mini series wahana permainan anak, bahkan ada kolam renang yang diperuntukan untuk anak- anak. Cahaya pun memiliki banyak mainan, sehingga teman- temannya pun merasa senang main disana.


Hari ini Naz merasa kurang enak badan, sehingga tak bisa mengantarkan bahkan menunggu Cahaya di sekolahnya. Naz pun menjelaskannya pada Cahaya, dan sang anak malah meminta Magu-nya untuk beristirahat supaya cepat sembuh.


Akhirnya tugasnya digantikan oleh mbak Retno. Setelah Cahaya berpamitan pada Magu dan dedek bayi di dalam perut Magu-nya, ia pun berangkat ke sekolah.


Setelah satu jam belajar sambil bermain di kelas, kini anak- anak playgroup tengah bermain di luar kelas dengan pengawasan guru dan orang tua murid yang menunggui anaknya. Cahaya memilih bermain ayunan bersama temannya, Aqila.


“Chaya, mama kamu kok gendutnya cuma di perutnya aja sih?” tanya Aqila yang suka memanggilnya dengan panggilan Chaya juga. Ia merasa penasaran, karena menurutnya yang gendut itu sebadan- badan dan wajah pun chuby.


“Soalnya di perut Magu ada dedek bayi.” Cahaya menjawab dengan semangat.


“Wah … asyik sekali mau punya dedek bayi ….”


Salah satu temannya tiba- tiba datang menghampiri mereka berdua dan ikut nimbrung.


“Iya, dong … sebentar lagi Chaya bakal jadi kaka. Kalo di rumah juga suka dipanggil Akha sama Pagu dan Magu,” ucapnya memberitahukan kedua temannya.


“Pagu dan Magu itu apa?” tanya Aqila heran.


“Chaya manggil papa dengan Pagu, kalau mama dengan Magu. Kata Magu, anak- anak suka beda- beda manggil orang tuanya,” ucapnya.


“Terus Pagu sama Magu itu bahasa apa?” Aqila kembali bertanya.


“Pagu itu Papi gue, kalau Magu itu Mami gue.” Cahaya menjelaskan.


“Gue? Gue itu apa?” Aqila semakin bingung dengan bahasa aneh yang kembali disebutkan Cahaya.


“Ih masa kamu gak tahu, Qila. Gue itu makanan enak, ada gue ulang tahun, gue nastar, gue bolu, gue brownis.” Teman yang satu lagi ikut menjelaskan, walaupun itu salah.


“Bukan … itu kue, Samprott !!” sentak Cahaya mengoreksi.


“Ih, nama aku Samsyir, panggilnya Sam bukan Samprot !!” Sam tak terima namanya diplesetkan oleh Cahaya.


“Ops … Chaya lupa,” ucapnya lalu membekap mulutnya.


“Jadi gue itu apa sih?” tanya Aqila yang masih penasaran.


“Gue itu bahasa orang dewasa yang sudah besar- besar. Jadi kita gak boleh ngomong itu, karena kita masih kecil- kecil,” ucap Cahaya yang akhirnya menjelaskan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Magu-nya.


“Itu kamu ngomong ….” Sam mengejek Cahaya, seolah sudah bersalah karena menyebutkan kata yang tidak boleh diucapkan anak kecil itu.


“Ngomong apa?” tanya Cahaya sewot.


“Ngomong gue,” jawab Sam.


“Itu kamu juga ngomong, wle.” Cahaya balik mengejek temannya.


“Kan kamu yang duluan, Cahayot” Sam tak mau kalah.


“Ih kan Qila nanya Pagu sama Magu itu apa, terus Chaya sebutin deh.” Cahaya masih tak terima dianggap salah.


“Jadi yang salah siapa?” tanya Sam kesal.


“Kamu !!?” teriak Cahaya dan Aqila sambil menunjuk ke arah Sam.


“Kok jadi aku yang salah?” Sam merasa tak bersalah.


Tiba- tiba ada seorang anak perempuan menghampiri ketiga anak yang sedang ngobrol itu.


"Hei, Cahaya … kamu mau punya adik ya?” tanyanya pada Cahaya dengan nada jutek. Sepertinya ia menguping pembicaraan Cahaya and the genk.


“Iya, Chaya mau punya dedek bayi, sama kayak kaka Nala.” Cahaya menjawab dengan semangat.


“Kok kamu mau sih? Nanti papa- mama kamu gak sayang lagi loh sama kamu. Karena mereka bakalan sayang sama adik kamu, jadi nanti kamu akan dibuang.” Anak itu malah menakut- nakuti Cahaya.


“Bohong !!” teriak Cahaya tak terima.


“Hei, Keisya … jangan suka bohong, kamu!!” Sam ikut membela Cahaya.


“Nanti kamu masuk neraka, loh.” Aqila pun ikut membela dan menakuti Keisya.


“Yasudah kalo tidak percaya, wle.” Kesya lalu pergi meninggalkan ketiga anak tersebut.


Cahaya nampak kesal dengan ucapan teman sekelasnya yang bernama Keisya itu. Ia terus menatap Kesya dengan tatapan kesal dan marah.


“Chaya, kamu jangan dengerin si Keisyot. Dia itu iri karena tidak punya dedek bayi,” ucap Aqila nampak berusaha meredakan kekesalannya Cahaya.


“Iya, Chaya ….” Sam pun setuju.

__ADS_1


“Emang kalian punya dedek bayi?” tanya Cahaya pada kedua temannya.


“Enggak ….” jawab keduanya serentak.


“Tapi kita enggak iri, ya Sam?” ucap Aqila.


“Iya, kita gak iri. Kita kan teman,” ucap Sam.


Setelah masuk kelas lagi, Cahaya tidak bersemangat untuk mengikuti pelajaran mewarnai. Ia hanya mencorat- coret bukunya saja dengan spidol merah. Sepertinya ia sedang merasa kesal dan marah. Bahkan saat pulang pun Cahaya nampak lesu.


Cahaya yang sudah tiba di rumah bersama Mbak Retno, mengucap salam pada Magu- nya yang sudah menyambutnya di teras rumah. Cahaya mencium tangan Magu-nya, kemudian langsung masuk ke dalam rumah.


Ia bersikap tak seperti biasanya yang mencium perut Magu-nya dan menyapa sang adik yang ada di dalamnya. Bahkan biasanya ia selalu heboh bercerita tentang apa saja yang dikerjakannya di sekolah bersama teman- temannya.


“Mbak, itu Cahaya kenapa? Apa dia sakit?” tanya Naz yang merasa aneh dengan perubahan sikap putrinya.


“Ndak tahu, Non. Dari tadi di mobil juga diam saja gak banyak bicara seperti biasanya.” Mbak retno pun tak tahu alasannya.


“Apa dia marah ya, karena hari ini gak diantar dan ditungguin sama aku?”


“Mungkin saja, Non. Si Mbak permisi dulu, mau nyimpen tas dan sepatunya Non Cahaya.”


Naz menghela nafas sejenak sambil mengusap perut buncitnya. Kemudian ia pun masuk hendak menghampiri Cahaya yang sudah masuk ke dalam kamarnya. Namun, saat ia masuk Cahaya nampak sedang berbaring tengkurap di atas tempat tidurnya sambil memeluk boneka. Naz mendekat lalu duduk di sisi tempat tidur.


“Akha … Akha kenapa? Apa sakit? Atau marah sama Magu karena gak nganter ke sekolah?” Naz melontarkan beberapa pertanyaan sambil mengusap- usap punggung sang anak.


“Chaya mau bobo ….”


“Kalau mau bobo, ganti baju dulu ya,” ucap Naz.


“Gak mau, udah ngantuk ….”


“Yasudah, kalau gitu Magu keluar dulu , ya … Akha jangan lupa baca doa dulu sebelum bobo, ya”


“Iya.”


Naz pun bangkit dan beranjak pergi keluar kamar meninggalkan putrinya yang hendak tidur, masih dengan perasaan yang bertanya- tanya. Tak biasanya ia tidur sepulang sekolah, karena jarum jam baru menunjukan pukul sepuluh lewat dua puluh menit.


Siangnya pun setelah makan siang bersama Magu- nya, Cahaya langsung pergi ke kamar dengan alasan mau mewarnai sama Mbak Retno. Mungkin Cahaya mengerti jika sekarang ini Magu- nya sedang kurang sehat, jadi ia tak mau merepotkan Magu-nya.



Bahkan malam nya pun, Cahaya masih bersikap aneh, ia sama sekali tidak menyapa Magu-nya atau pun adik bayi yang selalu dinantikan kehadirannya yang masih di dalam perut Naz. Ia malah meminta Pagu-nya untuk membacakan cerita sebagai pengantar tidurnya. Padahal biasanya ia selalu menolak, karena cerita yang dibacakan Arfin selalu membosankan. Berbeda dengan Magu-nya yang kreatif.


“Aa ….” Panggil Naz pada suaminya yang tengah berbaring di sebelahnya.


“Iya … kenapa, sayang?”


“Hari ini kok Cahaya aneh banget deh sikapnya," ucapnya mengeluh.


“Aneh gimana? Kalau dia suka jahil, kan itu udah mendarah daging, yank.”


“Bukan itu … Tadi sepulang sekolah, biasanya dia suka menyapa adiknya dan mencium perutku, tapi tadi enggak. Bahkan dia memanggil dirinya dengan sebutan Chaya lagi, enggak dengan Akha. Padahal sebelum berangkat sekolah dia biasa aja … Apa dia marah ya karena tadi pagi gak aku antar ke sekolah?”


“Dia kan sejak pagi udah tahu kalau kamu gak enak badan, dia sendiri yang minta kamu untuk istirahat di kamar. Emm … mungkin dia lagi kesal sama teman sekelasnya.”


“Gak mungkin, A … dia itu kalau ada apa- apa suka cerita sama aku. Bahkan dari tadi dia kayak menghindari aku terus deh.”


“Itu perasaan kamu aja kali, sayang. Mungkin dia pengen ngasih kamu waktu buat beristirahat, makanya dia gak mau merepotkan mu.” Arfin masih berpikiran positif.


“Mudah- mudahan saja begitu … sedih tau dicuekin sama anak sendiri tuh.”


"Oh iya, sekarang gimana … kamu udah enakan?”


Naz menghela nafas berat. “Iya, kayaknya … Aku gak apa- apa kok, cuman merasa cepat lelah aja, padahal baru masuk 27 minggu. Hamil yang sekarang ini kok rasanya beda ya sama hamil Cahaya dulu.”


“Kalau gitu besok kita periksa aja ke dokter, ya." Arfin menyarankan.


“Gak usah, tadi siang aku udah chating sama dokter Sashmita, katanya itu masih dalam batas normal kok. Aku disarankan banyak istirahat dan makan makanan yang bergizi serta minum vitamin.”


“Yasudah, kalau gitu kamu jangan melakukan kegiatan apa- apa dulu, bedrest aja. Ayok ah kita tidur, sudah malam,” ajaknya kemudian mematikan lampu, dan keduanya pun tidur.


**


Tengah malam, Naz terbangun karena mendengar suara tangisan yang ia pikir itu hanya ada dalam mimpinya. Setelah ia membuka mata dan mengumpulkan kesadarannya perlahan, ia benar- benar mendengar sura tangisan yang kini terdengar kencang.


“A … Aa ….” Naz menggoyang- goyangkan lengan Arfin untuk membangunkannya. “Aa … bangun ….” ucapnya lagi.


“Emhh … kenapa, sayang? Apa ini sudah subuh?” tanya Arfin yang mulai membuka matanya.


“Aa dengar itu gak? Kayaknya Cahaya nangis,” ucap Naz.


Arfin langsung membuka matanya lebar- lebar, kemudian ia menyalakan lampu tidur dan langsung bangkit. Naz bangun dan mereka bergegas pergi ke kamar Cahaya, karena sudah lama ia tidur tanpa ditemani Mbak Retno lagi.


Keduanya pun masuk ke kamar yang diterangi hanya denan lap tidur itu, dan mereka mendapati Cahaya yang tengah menangis sampai sesenggukan di tempat tidurnya sambil duduk.


Bantal, guling, boneka serta selimut nampak berserakan di lantai. Keduanya segera menghampiri putri mereka, lalu duduk di pinggir temmpat tidur Cahaya.


“Huaaa…… huaaaa …."


“Akha, kamu kenapa sayang?” tanya Arfin sambil mengusap kepalanya, namun sang anak terus menangis. Kemudian Arfin segera menggendonganya dan mendudukkan sang putri di pangkuannya.


“Akha, sayang … kamu kenapa, nak? Apa kamu mimpi buruk?” Naz yang terkejut pun merasa sedih melihat putrinya menangis sampai sesenggukan seperti itu, yang ia yakini pasti putrinya itu sudah lama menangisnya.


“Cup cup cup sayang … sudah ya, jangan nangis lagi.” Arfin berusaha menenangkan putrinya sambil mengusap- usap kepala Cahaya.


"Sudah ya sayang, sudah.” Arfin mengusap- usap kepala sang putri, kemudian perlahan ia pun mulai tenang.


“Pagu jahat … hiks hiks hiks. Kenapa Pagu tinggalin Chaya sendirian, hiks hiks.”


“Pagu ada di sini, sayang …."


“Kenapa Chaya bobo sendiri … hiks hiks hiks.”


“Loh, biasanya juga Cahaya suka bobo sendiri, kan.” Arfin merasa heran.


“Sayang … kamu bobo sama Magu dan Pagu ya di kamar kami,” ajak Naz.


“Gak mau … huaaaaa … Chaya mau bobo disini sama Pagu ….” Cahaya menolak.


“Kalau di sini kan ranjangnya kecil, gak akan muat kalau kita bobo bertiga, sayang," ucap Arfin.


“Huaaaa … Chaya mau bobo sama Pagu aja disini, gak mau sama Magu,” ucapnya lagi sambil menangis.


Arfin melihat ke arah Naz yang duduk di sebelahnya.


“Sudah, Aa temani Cahaya saja di sini, aku kembali ke kamar. Mungkin dia takut mimpi buruk lagi,” ucap Naz pada sag suami untuk memenuhi permintaan putrinya.

__ADS_1


“Akha sayang, Magu ke kamar dulu ya … kamu bobo lagi ya, ini masih tengah malam,” ucapnya mengusap kepala putrinya lalu menciumnya. Naz pun bangkit lalu beranjak pergi meninggalkan kamar Cahaya, dan kembali ke kamarnya dengan perasaan sedih dan bertanya-tanya.


**


Esoknya, sejak bangun tidur Cahaya terus menempel pada Arfin, seolah takut ditinggal pergi olehnya. Makan minta disuapi oleh Arfin, minta dimandikan, minta dipakaikan baju, dan minta ditemani bermain. Karena hari ini Cahaya tidak ada jadwal masuk sekolah, begitupun Arfin yang libur kerja, karena hari ini adalah hari sabtu.


Kini Arfin pun merasakan hal yang sama dengan sang istri, yakni putri mereka nampak bersikap aneh. Cahaya benar- benar tidak mau lepas darinya, sampai ada dua teman Cahaya datang untuk mengajaknya bermain, barulah sang anak bisa lepas darinya. Namun, Cahaya meminta Pagu nya untuk tetap di dekatnya saat ia bermain.




Arfin pun menemani Cahaya dan kedua temannya bermain di wahana mini series di halaman samping, kemudian mereka bermain sambil mewarnai di ruang tengah dengan menggelar karpet di sana. Sedangkan kedua orang tuanya duduk di sofa ruang tengah tersebut.


“Akhirnya Aa bisa lepas dari Cahaya, Aqila dan Sam sudah menjadi penyelamat kali ini … Kamu benar sayang, Cahaya sekarang kok jadi aneh,” ucap Arfin yang baru menyadari.


Naz terkekeh mendengar ucapan suaminya. “Apa aku bilang.”


“Mudah- mudahan aja cuman hari ini saja manjanya, karena Aa lagi libur. Kalau setiap hari kan bisa repot," ucapnya berharap.


“Hssss ….” Naz meringis sambil mengusap perut buncitnya.


“Kenapa sayang? Baby nya nendang?”


“Iya, tapi kok aneh ya … dia lagi gerak- gerak ke kiri, tapi di kanan juga ada gerakan," ucap Naz heran.


“Mungkin dia lagi berbaring terlentang." Arfin mengira- ngira.


“Gak mungkin, A … sebelumnya gak kayak gini. Terus ini kan baru mau tujuh bulan, tapi perutku kayaknya gede banget, beda waktu hamil Cahaya.”


“Perasaan sama aja ah.” Arfin memperhatikan perut Naz.


“Beda, A … dulu sampai hamil sembilan bulan juga, aku pakai baju kaos Aa masih muat, sekarang baru enam bulan lebih gak ada yang muat loh.”


“Kamu ngapain juga pakai baju Aa, orang baju hamil kamu banyak.”


“Kalau siang kan suka gerah, enaknya pakai kaos. Tuh tuh lihat, disini gerak- gerak, di sini juga ada gerakan.” Naz ,menunjuk ke arah perutnya.


Arfin lalu mengusap perut buncit istrinya, dan benar ia merasakan ada gerakan di perut sebelah kiri, dan di kanannya pun seperti itu.


“Kalau gitu kita periksakan ke dokter ya sekarang, mumpung hari ini masih praktek,” ucapnya yang ikut khawatir. Naz pun kali ini menyetujui usulan suaminya, walau sebenarnya jadwal checkup nya dua minggu lagi.


Arfin menghubungi Dilara untuk membuat janji dengan dokter Sashmita. Dan kebetulan prakteknya dimulai satu jam lagi. Naz pun pergi ke kamarnya untuk bersiap, sedangkan Arfin tetap duduk di sofa, karena Cahaya tak mau ditinggalnya.


Setelah Naz siap, Arfin pun pergi ke kamar dengan memberi alasan pada Cahaya ingin ke kamar mandi. Ia pun berganti pakaian, lalu mengambil kunci mobil dan kembali menghampiri istrinya di ruang tengah.


“Pagu mau kemana?” tanya Cahaya yang melihat Arfin sudah berpakaian rapi, lalu menghampirinya.


“Pagu mau nganter Magu ke bu dokter. Akha mau ikut?”


“Gak boleh ... Pagu gak boleh pergi!!” Cahaya langsung melarang.


“Loh, kenapa? Kan Pagu sama Magu mau periksa dedek bayi” tanya Arfin merasa heran.


“Pagu gak boleh pergi … Magu pergi aja sendiri!” ucapnya lagi.


“Kasihan dong sayang, kalau Magu pergi sendirian. Ayok Akha juga ikut nganter ya.”


“Gak mau … huaaaaaa, Chaya gak mau punya dedek bayi ….” Cahaya malah menangis lalu duduk di lantai dan mengoseh- osehkan kakinya.


Naz dan Arfin terkejut mendengar ucapan Cahaya. Arfin lalu berjongkok, “Kok, Akha malah nangis gini? Kenapa bilang gitu?.”


“Pagu jahat … Pagu gak sayang sama Chaya lagi, huaaaaaaa.” Cahaya malah menangis semakin kencang.


Arfin menggendong Cahaya lalu bangkit dan memeluk Cahaya yang duduk di pangkuannya.


"Akha, sayang … kamu sebenarnya kenapa? Kok dari kemarin aneh gini?” tanya Naz heran.


“Chaya gak mau punya dedek bayi … Chaya gak mau, huaaaaa."


“Loh, kenapa? Bukanya setiap shalat Cahaya selalu berdoa minta dedek bayi?” tanya Naz tak habis pikir.


“Nanti Pagu sama Magu gak sayang Chaya lagi, huaaaaaaa.”


“Siapa yang bilang seperti itu, Nak?” tanya Naz kaget.


“Itu Tante, yang bilang Keisya,” ucap Aqila yang menghampiri bersama Sam.


“Iya, Tante. Keisya bilang kalau Chaya punya dedek bayi, nanti papa mama Chaya gak akan sayang lagi sama Chaya,” ucap Sam.


“Terus Keisya bilang nanti Chaya mau dibuang,” tambah Aqila.


Naz dan Arfin saling beradu pandang mendengar penjelasan kedua teman Cahaya. Mereka kini tahu penyebab Cahaya yang tiba- tiba bersikap aneh.


“Akha, itu semua gak benar. Walaupun sudah ada dedek bayi, kami akan tetap sayang sama Akha,” ucap Naz mengusap kepala putrinya yang sudah mulai berhenti menangis.


“Iya, sayang … kami akan selau sayang sama kamu.” Arfin pun mengatakan hal yang sama.


“Akha tau kan, nena sama engki anaknya ada empat. Oma- opa, kakek- nenek, semuanya punya empat anak, dan mereka sayang sama semua anaknya. Begitu juga kami, akan selalu sayang sama Akha dan adik bayi juga..." ucapnya memberi penjelasan.


"Semua orang tua pasti sayang sama anak- anaknya, gak akan ada yang tega membuang anaknya. Ingat gak? dulu Akha bilang kelinci onty Aliya ada empat sama anak- anaknya. Kelinci aja sayang sama semua anaknya, apalagi manusia seperti kita.” Naz memberi pemahaman pada putrinya, dan ia pun sepertinya bisa menerima ucapan Naz.


Setelah Cahaya berhenti menangis, Naz dan Arfin mengajaknya pergi ke klinik untuk memeriksakan kandungan Naz. Sedangkan kedua temannya diantarkan pulang oleh Mbak Retno, karena rumah mereka dekat.


**


Kini ketiganya berada di ruang pemeriksaan tempat praktek dokter Sashmita dan setelah mendengar keluhan Naz, kemudian beliau melakukan pemeriksaan USG.


“Wah … selamat ya Bu, ternyata bayinya ada dua,” ucap dokter Sasmita yang juga terkejut.


“Apa …?” tanya Naz dan Arfin serentak.


“Iya, Bu, Pak … sepertinya selama ini bayi yang satunya sembunyi di balik kembarannya, jadi setiap USG tak terlihat.” Sang dokter menjelaskan.


“Jadi bayi kami kembar, Dok?” tanya Arfin memastikan.


“Iya betul, Pak,” ucap dokter tersenyum.


Naz dan Arfin saling memandang dengan tersenyum bahagia mengetahui kalau mereka akan memiliki anak kembar.


Namun, mereka tetap memutuskan untuk tidak mengetahui jenis kelamin keduanya, sama seperti saat hamil Cahaya dulu.


“Akha dengar itu? dedek bayi nya ada dua. Jadi Akha akan punya dua adik sekaligus, alias kembar,” ucap Naz yang bangkit dari ranjang.


“Hore … Akha punya dede bayi kembar,” ucapnya bergembira dan melepaskan diri dari gendongan Pagi nya.


“Nanti Akha mau kasih nama Upin- Ipin, jadi kami adalah Akha, Upin dan Ipin … yeyeyeye ….” ucapnya sambil loncat-loncat riang gembira.

__ADS_1


Naz dan Arfin saling beradu pandang terkejut mendengar nama yang akan diberikan pada bayi mereka yang belum diketahui jenis kelaminnya. Sedangkan sang dokter dan perawat nampak terkekeh melihat kelakuan Cahaya.


------- TBC one More -----


__ADS_2