
Seusai insiden yang dialami Arfin akibat mendapatkan bogeman dari Arsen yang membuat wajahnya babak belur bak maling yang habis dipukuli (tapi tenang hal itu tidak mengurangi kadar kegantengannya kok), membuat Naz merasa bersalah sehingga ia pun ikut membantu merawat luka di wajah Arfin yang awalnya di obati oleh Dandy dan dilanjutkan oleh Naz. Dan bukan hanya itu, Naz pun membuatkan sarapan untuk Arfin yang merupakan hal yang tak pernah ia lakukan untuk orang lain bahkan untuk dirinya sendiri, karena biasanya selalu dibuatkan oleh Bunda atau oleh Mbak Iyem, sesuatu yang langka ini mah.
Dan kini mereka ditinggal berduaan di dalam rumah sedangkan para penghuni rumah yang lain tengah pergi keluar, Ayah, Bunda dan Mimih pergi ke tempat terapi, Dandy ke apotek, dan Arsen pergi entah kemana, sedangkan author masih sibuk menulis. Kaabsen euy.
Arfin merupakan pribadi yang tidak suka banyak bicara, cuek, dingin, namun saat bersama Naz dia berubah 180 derajat Celcius entah derajat Fahrenheit entah derajat Kelvin pokona mah berubah menjadi orang yang hangat, sangat peduli dan perhatian pada Naz bahkan dikepoin terus, lebih ceria serta lebih sering tersenyum dan tak jarang ia senyam- senyum sendiri. Bahkan terkadang dia menjadi orang yang bawel dan banyak tanya yang selalu saja mencari topik pembicaraan agar bisa lebih lama berkomunikasi dengan Naz dan jika ada celah pun mereka suka saling menjahili satu sama lain.
Selama membantu mengompres kan es batu ke pipinya Arfin yang memar, terjadi pembicaraan yang membuat Naz salah tingkah bahkan merasa malu karena ketahuan menjahili Arfin, demi untuk menghindari kesalahtingkahan lagi, Naz mengajak Arfin untuk memakan sarapan yang ia buatkan sendiri yakni roti tawar lapis toping keju di dalamnya.
Naz mengambil satu untuknya lalu menyodorkan yang satunya lagi pada Arfin, namun saat Arfin mengetahui isiannya adalah keju, ia tidak bersedia memakannya dan hal itu membuat Naz merasa sedih dan kecewa.
“Kok gitu sih Kak, aku udah capek- capek buatin tau,, sampe jari aku luka tadi kena parutan keju, gak ngehargain banget sih Kak”, ucap Naz merasa kecewa lalu menundukkan kepalanya sambil meratapi roti yang ada di tangannya.
Rotinya jangan dielus- elus ya Naz.
Mendengar hal itu, membuat Arfin merasa tidak enak hati dan tidak tega melihat gadis pujaan hatinya itu sedih. Akhirnya ia mengirim pesan pada seseorang dan kemudian mengambil roti dan bersedia memakannya, walaupun ia tahu benar efek yang kan timbul akibat kenekatannya itu.
“Yasudah aku makan rotinya,, terimakasih ya geulis”, Ucapan Arfin membuat Naz merasa senang dan tersenyum kembali.
“Kalau begitu ayo kita makan”, Naz mulai memakan rotinya, sedangkan Arfin nampak ragu- ragu untuk memakannya.
Naz yang tengah mengunyah roti yang sudah hampir setengahnya dimakan, lalu melihat ke arah Arfin yang duduk di sebelahnya,
"Kok belum dimakan Kak?”,tanyanya heran karena terlihat Arfin hanya memegang rotinya yang masih utuh.
“Iy iya, aku makan ya, hehe”, Arfin menjawab dengan gelagapan, lalu ia pun memberanikan diri mulai memakan rotinya.
Satu gigitan dikunyah perlahan sambil sesekali tersenyum karena Naz masih memperhatikannya, lalu roti itu pun ditelannya ,aman. Gigitan kedua setelah ditelan masih aman, sampai gigitan ketiga sesuatu mulai dirasakan Arfin.
Uhuk uhuk uhuk
Arfin tersedak, dan Naz yang melihat itu pun langsung mengambilkan susu dari atas nampan yang sebelumnya telah ia siapkan lalu di berikan pada Arfin. Ia pun meminumnya perlahan, sedangkan rotinya ia letakan kembali di atas piring.
Setelah selesai minum, Naz terkejut melihat tangan Arfin yang mulai terdapat bintik- bintik merah, kemudian Arfin memegang dadanya karena deru nafasnya menjadi cepat seperti orang yang habis lari marathon dan keringat pun mulai bercucuran.
“Astagfirullah,, Kak Arfin kenapa, ko bisa gini?” Naz merasa panik dan khawatir tidak tahu harus berbuat apa sedangkan di rumah tidak ada siapapun.
Akhirnya Naz hanya bisa menangis melihat keadaan Arfin yang membungkukkan badannya dan memegang dadanya karena sesak nafas.
”Kak Afin kenapa jadi begini, hiks hiks”. Arfin hanya menggelengkan kepalanya.
“Gila lo Ar, lo beneran kambuh ini”, Dandy yang masih ngos- ngosan karena berlari dari luar menghampiri Arfin yang tengah sesak nafas dan membantunya membaringkan tubuhnya di sofa.
Dandy langsung mengeluarkan obat cair dalam botol kecil dan suntikan dari dalam kantong kresek yang ia bawa, lalu dipindahkan nya obat itu ke dalan suntikan. Kemudian ia meminta Arfin untuk mengepalkan tangannya dan ia mencari pembuluh nadi di tangan Arfin dan ditekan- tekan lalu dibersihkan dengan tisu basah beralkohol. Dandy meminta Arfin melepaskan kepalan tangannya dan mulai menyuntikan obat itu ke tangan Arfin hingga habis dan bekasnya dilap tisu basah beralkohol dan dipasang plester, keadaan Arfin pun perlahan mulai membaik.
Naz yang masih syok melihat keadaan Arfin terus menghapus air matanya yang masih mengalir di pipinya,
"Kak Arfin kenapa Kak, ko bisa kaya gitu?”, Naz bertanya pada Dandy.
“Tadi dia makan apa Naz?”, Dandy malah balik bertanya.
“Tadi kak Arfin makan itu”, Naz menunjukan roti sisa makan Arfin yang baru dimakan tiga gigitan saja di atas piring.
Dandy memperhatikan roti itu dan membuka lembarannya,
”Ya ampun, pantesan aja lo sampe sesak nafas gitu Ar, lo nekat amat sih makan roti ini, udah tahu alergi keju ”, Dandy mengomeli Arfin yang sedang terbaring lemas.
Naz yang mendengar hal itu, langsung membuka matanya lebar- lebar dan membekap mulutnya yang terbuka dengan telapak tangannya karena terkejut. Ia juga merasa bersalah karena sudah memaksanya memakan roti buatannya itu.
__ADS_1
“Ar, lo udah enakan?, Lebih baik pindah aja ke kamar biar bisa istirahat di sana”, Dandy memberi saran.
“Udah disini aja, gue udah baikan kok”, Ucapnya tersenyum dan melirik ke arah Naz yang duduk di ujung sofa yang masih terlihat syock sedang menghapus air matanya, Arfin pun bangkit lalu duduk dengan kaki yang masih tetap selonjoran.
“Maaf Kak, aku gak tahu kalau Kak Arfin alergi keju, tahu gitu aku gak akan maksa Kakak untuk makan roti itu”, ucapnya menyesal.
“Oh, jadi kamu dek biang keroknya, untung aja tadi Arfin ngirim pesan ke Kakak buat beli obat alerginya dan lebih beruntung lagi obatnya ada di apotek ujung jalan sana”, omelan Dandy berpindah kepada Naz.
“Jangan nyalahin dia Dan, tadi kan kita emang belum sempat sarapan, dia udah cape- cape bikinin roti. Masa iya gak dimakan kan sayang, lagian kan kejunya ada di dalamnya tidak kelihatan diluar, ya gue makan aja karena emang lapar”, Arfin memberikan pembelaan karena tidak rela kalau Naz dimarahi oleh Dandy walaupun dia itu kakaknya.
“Iya gak dimakan sayang, dimakan lebih bahaya, roti simalakama itu namanya" ,Dandy menggerutu pada Arfin,,
"Udah jangan nangis lagi Dek, Arfin ini cuman alergi bukan sekarat mau mati kok, khawatir banget deh kayaknya”, Dandy merasa ada yang aneh dengan adiknya itu.
“Gimana gak khawatir, orang Kak Arfin sesak nafas itu kayak orang bengek. Udah gitu disini gak ada siapapun, kalo sampe meninggal gimana ??, nanti kan arwahnya bisa gentayangan di rumah ini, dan nantinya aku takut kalo ke rumah Mimih lagi karena takut dihantui”, Naz malah menjawab ngelantur, yasalam.
“Jadi kamu nyumpahin aku mati?”, Arfin merasa kesal karena orang yang sudah ia bela malah seperti itu.
“Bukan gitu maksudnya”, Naz kembali menundukkan wajahnya.
"Salah lagi aduhhhh kenapa, sih ini mulut asal jeplak ajja ", Naz menggerutuki dirinya sendiri dalam hati.
“Hahaha, dek kamu tuh mikirnya kejauhan tau gak”, Dandy malah menertawakan adiknya yang bicara ngelantur.
"Oh iya Dek, kemasi barang- barang kamu gih ,, kita akan balik ke Jakarta nanti abis Bunda dan Ayah pulang dari terapi”, Dandy memberitahukan.
“Loh, kan kita baru aja nyampe kemarin, kok sudah mau pulang sih ?? Aku kan pengen liburan di sini Kak”, Naz menolak untuk pulang tiba- tiba terdengar orang datang dan mengucapkan salam lalu dijawab oleh Arfin, Dandy dan Naz bersamaan.
Ternyata itu adalah Bi Asih sang asisten rumah tangga di rumah Mimih, setelah menyapa kemudian beliau langsung bergegas ke dapur.
“Tadi Bunda telepon Kakak bilangnya gitu Dek, lagian Bi Asih juga yang biasanya jagain Mimih noh udah datang, kan kemarin habis mudik dulu dua hari karena anaknya sakit, dan Mimih juga sudah sembuh jadi udah ada yang jagain lagi”, Dandy memberi penjelasan.
“Gak boleh, kata Bunda kamu juga harus ikut pulang,,, kalo gak percaya sana ngomong sendiri ke Bunda,, Lagian Ayah sama kakak kan hari senin udah harus kerja lagi Dek, gak bisa lama- lama di sini, belum lagi dia nih yang dapat oleh- oleh dari Arsen”, Dandy menunjuk ke arah Arfin.
Akhirnya Naz menyerah mengikuti titah sang ibunda Ratu, walaupun sebenarnya ingin tetap di Bandung untuk menghabiskan waktu libur sekolahnya, tapi entah karena alasan apa Bunda melarang Naz untuk berlama- lama di sana padahal sebelumnya Bunda mengizinkan Naz berlibur di rumah Mimihnya itu.
Dengan perasaan kesal Naz bergegas ke kamarnya kemudian membereskan kembali barang- barangnya yang sebagian telah ia tata di lemari, lalu memasukannya kembali ke dalam koper sambil terus menggerutu manyun- manyun jiga tutut.
Dandy pun melakukan hal yang sama mengemasi barang- barangnya dan barang Arfin karena setelah minum obat ia tertidur lelap. Sedangkan Bi Asih yang baru datang beristirahat sebentar kemudian memasak untuk makan siang nanti.
Setelah beberapa saat Bunda, Ayah dan Mimih sudah kembali dari tempat terapi nya, kemudian Bunda langsung membereskan barang- barangnya. Seusai shalat dzuhur di jama dengan ashar karena akan menempuh perjalanan jauh, semua orang makan siang bersama. Mereka sempat terkejut melihat keadaan Arfin yang terdapat bintik merah seperti digigit nyamuk tapi tak timbul di wajah nya yang memar dan di tangannya pula, tapi setelah dijelaskan itu efek alergi mereka merasa lega, karena sempat takut itu gara- gara pukulan Arsen tadi.
Kemudian mereka bersiap untuk kembali ke Jakarta. Bunda dan Ayah meminta maaf kepada Mimih karena harus kembali secepat ini, tapi Mimih pun memahaminya, walaupun Mimih sedih harus secepat ini berpisah sama si Kasep. Harap dimaklum beliau sudah kelamaan menjendeus.
Akhirnya mereka pun berpamitan pada Mimih dan Bi Asih tanpa menunggu kepulangan Arsen yang pergi entah kemana. Kemudian kelimanya masuk satu- persatu ke dalam mobil, namun kali ini Dandy yang mengemudi sedangkan Arfin yang masih sedikit lemas duduk di sebelahnya. Ayah dan Bunda di jok tengah sedangkan Naz duduk di belakang karena masih merasa kesal pada Bundanya gara- gara diajak pulang secepat ini.
Setelah menempuh perjalanan selama empat jam lebih karena agak macet, akhirnya mereka sampai di rumah Bunda.
Naz, Bunda dan Ayah turun dari mobil beserta barang bawaannya diturunkan satu- persatu, kemudian masuk ke dalam rumah. Naz langsung naik ke lantai atas menuju ke kamarnya karena masih mode ngambek, sedangkan Ayah dan Bundanya beristirahat di sofa ruang tengah selonjoran dulu.
Lain halnya dengan Dandy yang pergi mengantarkan Arfin ke rumahnya, dan setelah itu ia kembali pulang pas adzan magrib dengan membawa sebuah bingkisan titipan dari Arfin untuk Naz dengan alasan sebagai pengganti gak jadi ke Trans Studio. Kemudian penghuni rumah melaksanakan ritual magribnya sampai isya bersama dilanjut makan malam.
Setelah makan malam Ayah, Bunda, Naz dan Dandy kembali ke kamar masing- masing untuk beristirahat setelah melewati hari yang melelahkan dan perjalanan jauh. Saat akan berbaring Dandy melihat bingkisan titipan Arfin dan ia pun keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar Naz di lantai dua.
Tok tok tok
“Dek, buka pintunya”, Dandy mengetuk- ngetuk pintu kamar Naz.
__ADS_1
Ceklek,,,
Naz pun membuka pintu kamarnya yang ternyata tidak dikunci.
“Nih, titipan dari Arfin”, Dandy menyodorkan bingkisan yang dibawanya, sedangkan Naz malah mengerutkan dahinya merasa heran,
”Katanya sebagai pengganti karena gak jadi ngajakin kamu ke Trans Studio, agar kamu mau makan kemarin”, Dandy menjelaskan dan Naz pun menerima bingkisan itu
”Kakak balik dulu ya, ngantuk banget”, Dandy pun pamit kembali ke kamarnya.
“Makasih ya Kak”, Naz tersenyum pada kakak nya dan diangguki oleh Dandy yang kemudian pergi.
Naz pun menutup kembali pintunya berjalan menuju tempat tidur dan duduk di sana sambil membuka bingkisannya yang lumayan besar. Saat sudah terbuka, Naz merasa senang sekali dan ia mengambil ponselnya berniat menelpon Arfin, namun sayang saat menghubungkan sambungan teleponnya ternyata nomornya sedang diluar jangkauan alias tidak aktif.
"Hmmm,, mungkin dia sudah tidur,, terimakasih kak Arfin boneka tedy bear besarnya”, Ucap Naz lalu memeluk boneka itu yang yang mulai malam ini akan menjadi teman tidur barunya.
**
Pagi ini Naz berniat mengunjungi panti asuhan seusai melakukan rutinitas pagi di hari libur seperti biasanya. Naz pun berangkat di antar oleh Pak Udin tentunya.
Setelah beberapa saat mobil yang ditumpangi Naz pun sampai di panti asuhan dan di parkir kan di pinggir jalan, karena di halaman panti sudah terdapat sebuah mobil yang terparkir di sana. Naz segera turun dari mobilnya.
Saat hendak memasuki halaman panti, ada beberapa anak yang baru datang dengan membawa es krim di tangan masing- masing.
“Ya ampun kalian,,, masih pagi kok udah udah pada jajan es krim sih,, nanti bisa sakit perut loh, mana sekarang ini lagi musim hujan”, Naz menegur anak- anak.
“Kami kan sudah makan Kak, jadi gak apa- apa kan kalau makan es krim, mumpung ditraktir sama om yang lagi duduk di sana”, Seorang anak yang bernama Ihsan menjawab Naz dan menunjuk ke arah danau.
“Om siapa? Hati- hati dek kalo sama orang asing yang gak kenal tuh”, Naz menanyai mereka dan menasehati lagi.
“Itu Kak, tadi kan kami main di dekat danau, eh ada om- om masih muda yang duduk di kursi tepi danau sana, pas ada tukang es krim menuntun sepedanya lewat, Deni nangis pengen beli es krim, terus om itu membelikannya dan untuk kami semua juga Kak”. Ihsan menjelaskan asal usul es krim itu.
Saat mendengar penjelasan Ihsan, Naz teringat kalau sebelumnya Ihsan pernah mengatakan bahwa beberapa kali ia melihat om- om yang memainkan boneka be smile sambil duduk di bangku tepi danau. Naz langsung berlari menuju danau yang jaraknya sekitar 300 meter dari panti.
Naz berlari dengan perasaan bahagia dan merasa tidak percaya bahwa orang yang selama ini nantikan akhirnya datang. Ia berlari terus berlari dan berlari secepat yang ia bisa, dan akhirnya tibalah di tempat itu.
Naz melihat ada seorang pria yang berperawakan tinggi tengah duduk di bangku tepi danau dan menghadap ke sana. Naz melangkahkan kakinya perlahan sambil membekap mulutnya dengan telapak tangannya karena masih merasa tidak percaya. Ia mendekat menghampiri pria yang duduk membelakanginya itu,.
“Dia datang,, dia benar-benar datang, dia tidak berbohong, dia menepati janjinya”, Naz bergumam dalam hati yang dipenuhi rasa bahagia bercampur tidak percaya.
Saat Naz berdiri tepat di belakang pria itu, Naz memberanikan diri memegang pundak pria itu
“Kak Anas,,,,,”, panggilnya dengan suara pelan yang terdengar ragu- ragu.
Pria itu nampak terkejut, karena di tempat yang sepi seperti ini tiba- tiba ada yang memegang pundaknya membuat bulu kuduknya merinding dan ia pun menoleh ke belakang memandang ke arah si pelaku.
“Naz……”, ucapnya.
----------------------- TBC ----------------------
**************************************
Akhirnya Naz bertemu Anas.... ???
Siapakah sosok Anas itu??
Happy Reading,,,, 😉🥰
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak... 😉