
Pemandangan yang cukup aneh memang, ada seorang pria tampan berdiri di depan pintu kamar mandi bak kuncen WC yang tengah menunggui kotak amal MCK yang bisa diisi seikhlasnya walau kadang tertulis di kotak tersebut Rp. 2.000, padahal dia tengah menunggui gadis pujaan hatinya yang masih sakit tengah memenuhi panggilan alamnya di dalam kamar mandi.
Suasana nampak hening seketika setelah Naz meminta tolong diambilkan tisu berteriak dari dalam yang tak digubris oleh sang kuncen WC.
Dan.....5 menit kemudian…..
Tok tok tok…. Naz mengetuk pintu dari dalam, “Kak Arfin,,, mana tisu nya ?”, Naz berteriak kembali.
“Panggil aku Aa, baru aku ambilkan,,”, Arfin membalas teriakan Naz dari balik pintu seolah memberikan password untuk mendapatkan barang yang diinginkan Naz, padahal ia sudah memegang tisu nya itu.
“Yasalam,,, gue udah nungguin lama buat tisunya, ternyata dia gak mau mengambilkannya cuman gara- gara gak dipanggil Aa,,, awas kau ya Al Arfin”, Naz menggerutu pelan masih dengan posisi duduk di atas kloset sambil mengepalkan tangan kirinya. “Aduh Aa,, di sini dingin banget kepala ku jadi pusing,,,”, Naz berteriak dengan memanggil Aa.
Tok tok tok,, Arfin mengetuk pintu, “Naz,, buka pintunya,,, kalo kamu pusing ayo cepat keluar”, ucap Arfin dengan nada khawatir.
“Tapi kepala aku pusing A, kayaknya aku mau pingsan ”, ucap Naz dengan nada lemas.
“Naz,, buka pintunya,,,”, Arfin terus mengetuk pintunya karena semakin khawatir, namun tak mendapatkan jawaban dari dalam, Arfin terus mengetuk dan memanggil- manggil Naz sampai ia menggedor- gedor karena tak kunjung mendapat sahutan dari dalam. “Naz,,, Naz,, kamu masih sadar kan,, Naz,, jawab dong,,,aku khawatir banget”, teriaknya yang sudah mulai panik, dor dor dor,,, “Naz,,,buka pintunya,,, Naz, apa kamu pingsan di dalam,,Naz tolong jawab,,,aku dobrak ya pintunya”, Arfin semakin panik lalu ia mulai mendobrak pintu dengan tubuhnya, brughh…. Pintu belum terbuka, saat Arfin hendak mendobraknya kembali, ceklek… Naz membuka pintunya.
“Ciluk baaa,,,”, Naz tiba- tiba muncul dari balik pintu seolah sedang mengagetkan anak bayi dengan muka polosnya, lalu Naz keluar dari kamar mandi sedangkan si Aa yang tadinya begitu khawatir dan panik hanya terdiam mematung melihat Naz yang cekikikan senyam- senyum gak jelas.
“Kamu bilang tadi pusing mau pingsan, kenapa malah cekikikan begitu”, ucapnya dengan tatapan tajam.
“Emm,, iyaa,,, tapi boong,,hahahaha”, Naz menjawab lalu tertawa karena berhasil menjahili Arfin.
“Heh,, bagus ya,,, kamu tahu betapa khawatir dan paniknya aku mendengar kamu bilang pusing dan mau pingsan di dalam,,, aku mengetuk lalu menggedor pintu tapi tidak ada jawaban sama sekali, sampai aku mendobrak pintu dan kamu keluar dengan santainya sambil cekikikan, kamu pikir hal semacam ini bisa kamu jadikan lelucon hah,,,gak lucu tahu gak?”, ucap Arfin meluapkan kekesalannya karena merasa dikerjai oleh Naz, lalu ponsel yang ada di dalam saku celananya berdering dan diambilnya, kemudian ia mengangkat panggilan teleponnya itu dan bergegas keluar kamar.
Sementara Naz masih berdiri di depan pintu kamar mandi nampak merasa bersalah karena niat membalas keisengan Arfin ia malah membuat Arfin marah, ia pun melangkahkan kakinya perlahan dengan gontai sambil memegangi tiang infusan dengan tangan kirinya, “Aduh,, ko kepala ku pusing gini ya,,,”, baru saja berjalan tiga langkah Naz sudah kehilangan keseimbangannya,, brukkk,,,Naz pun tergeletak tak sadarkan diri.
Setelah beberapa saat, Arfin yang sudah selesai melakukan panggilan teleponnya pun kembali memasuki kamar, baru saja membuka pintu Arfin sudah dikagetkan dengan kondisi Naz yang tergeletak di lantai dengan tiang infusan di sebelahnya, “Astagfirullah Naz,,,”, Arfin langsung menghampiri Naz, “Suster,,,suster,,,”, Arfin pun berteriak memanggil perawat yang ternyata sudah ada di depan pintu karena hendak melakukan pemeriksaan rutin, dan perawat itu pun segera menghampiri. Arfin menggendong Naz lalu membaringkannya ke tempat tidur, sedangkan perawat mengambilkan tiang infusan dan meletakan nya kembali di samping tempat tidur Naz.
“Kenapa pasien bisa sampai seperti ini Mas?”, Tanya perawat itu sambil menyelimuti Naz.
“Tadi dia habis dari kamar mandi Sust, saat dia keluar saya mendapat panggilan telepon jadi saya tinggal keluar sebentar”, Jawab Arfin yang masih panik.
“Pasiennya masih lemah Mas, jadi kalau mau turun dari tempat tidur harus dibantu dulu, apalagi tadi habis dari kamar mandi, jangan ditinggal sendiri seperti tadi,, dan jangan biarkan pasien di dalam kamar mandi terlalu lama, karena walaupun pasien menderita hipotermia ringan, tetap saja jangan terlalu lama di tempat dingin, makanya di ruangan ini AC nya tidak terlalu dingin dan pasien harus menggunakan selimut berlapis”, ucap perawat panjang lebar sambil memeriksa tensi darah dan suhu tubuh Naz.
“Iya sust,,, bagaimana keadaanya sekarang ?”, Tanya Arfin.
“Tensi dan suhu badannya nya normal, keadaanya baik- baik saja, sepertinya pasien kurang istirahat ya,, saya perhatikan dari pagi banyak yang besuk silih berganti, sekarang ia hanya tertidur dan biarkan dia beristirahat,,, kalau begitu saya permisi Mas”, perawat itu pun pamit undur diri dengan membawa peralatan medisnya.
“Terimakasih suster ,,,, “ ucap Arfin, lalu ia mendekati Naz yang terbaring dan duduk di kursi sebelah kasurnya, “Maafkan aku Naz,,,”, lirihnya memandang Naz dengan tatapan sendu.
Semenjak Naz pingsan dan kemudian tidur pulas, Arfin tidak beranjak sama sekali dari kamar tersebut, ia merasa trauma meninggalkan Naz sendirian, bahkan kini saatnya shalat magrib pun ia tidak pergi ke mushala, tapi ia melaksanakan shalat di kamar saja dengan menggunakan sajadah yang ada di atas lemari kecil di sana.
Saat Arfin sedang shalat, Naz pun bangun dari tidurnya, ia terus memperhatikan Arfin yang tengah shalat sampai ia selesai, “uuuuchh, Aa calon imam ku,, berdoa nya lama banget,, pasti dia sedang mendoakan aku ya,,hihihi”, ucap Naz dalam hati lalu cekikikan sendiri karena merasa ge- er. Naz pun bangun dan duduk di ranjang, lalu kedua kakinya di gantung ke bawah karena berniat turun.
“Naz, kamu sudah bangun,,,”, ucap Arfin yang selesai shalat saat melihat Naz hendak turun lalu ia bergegas menghampiri Naz, “Kamu mau kemana, Naz?”.
__ADS_1
“Aku mau ke kamar mandi ambil air wudhu untuk shalat magrib”, jawab Naz.
“Ayo aku bantu,, “, Arfin menawarkan bantuan.
“Jangan,,, aku bisa sendiri kok,, lagian nanti kalo aku habis wudhu batal lagi dong kalo dibantu di pegangin sama Aa mah”, ucapnya menolak.
“Yasudah aku panggil perawat saja buat bantu kamu, pokoknya kamu gak boleh pergi ke kamar mandi sendiri”, ucap Arfin lalu ia menekan tombol untuk memanggil perawat, dan tak lama perawat pun datang.
“Maaf, ada yang bisa saya bantu?”, tanya seorang perawat wanita yang berbeda dari yang sebelumnya karena telah berganti sif dan kemudian menghampiri Naz..
“Ini suster, saya minta tolong mengantarkan Naz ke kamar mandi mau ambil wudhu, kalo sama saya nanti bisa batal lagi wudhu nya”, ucapnya meminta bantuan.
“Oh, iya mari saya bantu”, ucapnya sambil tersenyum lalu ia mengunci saluran infusan nya untuk sementara.
Naz pun turun dari tempat tidurnya dan dipapah oleh suster, baru saja dua langkah Naz sudah merasa pusing, akhirnya Arfin menggendongnya karena tidak tega, padahal jarak dari tempat tidur ke kamar mandi hanya 3 sampai 4 meter saja. Sesampainya di depan pintu kamar mandi Naz pun di turunkan, “Sust, tolong temani ke dalam ya, saya takut dia merasa pusing lagi atau jatuh di dalam”, ucap Arfin pada perawat itu, dan ia pun menurutinya. Kemudian Arfin langsung keluar ruangan, dan setelah beberapa saat dia datang dengan mendorong sebuah kursi roda.”Sust kenapa menunggu di luar, kan tadi saya minta temani Naz di dalam?”, tanyanya heran.
“Maaf Mas tadi sehabis wudhu ternyata pasiennya ingin buang air kecil jadi saya diminta keluar dulu”, perawat itu menjawab dengan ramah.
Ceklek,,, Naz pun membuka pintunya dan keluar bersama tiang infusan nya, “Ayo Naz, kamu pakai ini”, ucap Arfin mendekatkan kursi roda ke hadapan Naz.
“Ya ampun Aa, dari sini ke kasur tuh deket banget, kenapa harus pakai kursi roda segala”, Naz protes.
“Ya karena aku gak bisa gendong kamu lagi, dan takutnya kamu pusing kayak tadi, jadi lebih baik pakai kursi roda saja kan cari aman,,, udah ayo cepetan naik, magrib itu waktunya singkat loh, tolong di bantu ya Sust”, ucap Arfin dan meminta bantuan perawat yang berada di samping Naz itu, akhirnya naz tidak bisa menolak perintah Arfin dan manaiki nya sampai ke tempat tidur, kemudian Arfin keluar lagi mengantarkan kursi roda itu kembali ke tempat semula.
“Wahh,, mba beruntung banget,,, pacarnya udah ganteng perhatian sekali yaa”, ucap perawat yang sedang membantu Naz memakai mukena.
“Saya permisi dulu ya mba, itu kebetulan Mas nya sudah kembali,, mari saya permisi”., perawat pun berpamitan dan bergegas pergi.
“Terimakasih suster”, ucap Naz.
Arfin menghampiri Naz dan duduk di kursi samping tempat tidur,” udah selesai shalatnya?”, tanyanya.
“Udah Aa”, jawab Naz.
“Kamu mau makan sekarang?, itu tadi makannya dikirim setengah jam yang lalu, nanti keburu dingin”, Arfin menawarkan.
“Aku masih kenyang, tadi kan dimsum nya dimakan semua sama aku, maaf ya Aa jadi gak kebagian,, atau Aa makan aja itu jatah makan aku, Aa pasti belum makan ya kan?”, Naz baru teringat kalo Arfin belum makan.
“Aku belum lapar, lagian tadi aku udah makan dimsum juga di tempatnya sekalian nunggu pesanan yang dibungkus”, ucapnya menolak makan, “Naz,,, udah ah gak usah manggil itu lagi”.
“Manggil itu apa maksudnya?”, tanya Naz heran.
“Itu gak usah manggil ku Aa lagi”, Arfin berubah pikiran.
“Loh kenapa?,, dari tadi bukannya maksa kekeh pengen dipanggil Aa, eh kok sekarang setelah lidah ku terbiasa manggil Aa jadi gak mau dipanggil Aa lagi?”, Naz menanyakan alasan Arfin.
“Naz aku minta maaf,, gara- gara aku maksa kamu supaya manggil aku Aa, malah membiarkan mu lama- lama di kamar mandi, terus tadi juga membentak kamu dan aku malah ninggalin kamu sendirian disini sampai kamu pingsan, jadi kamu gak usah manggil aku dengan sebutan Aa lagi,,,”, Ucap Arfin menyesal.
__ADS_1
“Gak apa- apa kali,,aku udah mulai terbiasa nih manggil Aa,, aku juga minta maaf udah ngerjain Aa dengan pura- pura pusing mau pingsan,, eh jadinya aku kualat tadi pingsan beneran,, kapok deh gak mau ngerjain orang lagi,, bahkan sebelum kejadian di ruang musik aku habis ngerjain guru, jadinya aku kualat deh”, Naz tomat,, ehh tobat.
“Oh iya,, soal itu aku jadi teringat,, Naz, siapa yang udah ngunci kamu di ruang musik waktu itu?” Arfin bertanya dengan menatap mata Naz, kemudian Naz memalingkan pandangannya.
“Pintunya rusak, jadi saat aku masuk dan menutup pintunya malah terkunci sendiri”, Naz menjawab dengan gugup dan tidak berani menatap mata Arfin.
“Kamu yakin Naz?”, Arfin kembali bertanya dan hanya dijawab dengan anggukkan Naz saya sebagai tanda meng iya kan, “Naz tatap mataku, aku tanya sekali lagi, siapa yang sudah mengunci mu di ruang musik waktu itu?”.Arfin mengulang pertanyaannya.
“Kan tadi aku udah bilang, kalo pintunya…”, belum selesai Naz bicara langsung dipotong oleh Arfin.
“Kamu sedang berbohong Naz, kamu bicara memalingkan tatapan mu dan kamu tidak bisa menyembunyikan kegugupan mu itu,, siapa yang sedang kamu lindungi hem,,, orang yang membuatmu hampir mati kedinginan di sana, Naz?”,Arfin terus menatap Naz, dan ia pun semakin gugup, “Kamu bisa mempercayaiku Naz,,, katakan siapa orangnya? Dari gelagat mu menunjukan kamu tahu benar siapa pelakunya, iya kan?”, ucapnya meyakinkan.
“Aa gak usah ngarang deh, kebiasaan”, Naz mencoba mengalihkan.
“Aku gak ngarang Naz,, bagaimana mungkin kamu bilang saat masuk kamu terkunci di sana, lalu bagaimana dengan pakaian yang kamu kenakan waktu itu bisa basah Naz?”, Arfin memulai penyelidikan.
“Itu,, itu karena aku sebelumnya habis dari toilet A,, kena semburan air dari kran yang muncrat”, Naz beralasan.
“Kena semburan air ? berarti bajunya basah di bagian depan?”, Arfin bertanya kembali dan hanya diangguki oleh Naz. “ Cukup Naz, jangan menutupi kebohongan dengan kebohongan lainnya lagi,,, aku tahu jelas baju kamu itu basahnya bagian belakang dan tercium bau wiffol di baju mu itu, mana mungkin kena semburan air kran di depan tapi yang basah bagian belakang dan bau wiffol pula,,, Naz , kamu bisa mempercayaiku, kamu tahu siapa pelakunya kan, dan bahkan kam menutupi semua itu dari kelurga mu, kenapa hem??”, Arfin terus bertanya.
“Iya, aku sudah berbohong pada semua orang,,, aku gak mau semua orang tahu dalang dibalik kejadian yang menimpaku itu, aku gak mau keluargaku yang dulu terpecah gara- gara aku yang kemudian baru saja berbaikan kembali dan kini harus terpecah belah lagi gara- gara aku,,,aku gak mau itu A,,,,”, ucap Naz sedih sambil menunduk.
“Naz,,, “, Lirihnya memegang tangan Naz, “ jika hal itu menyakiti mu dan membuat mu sedih, kamu tidak usah mengatakannya padaku,, aku minta maaf sudah memaksamu untuk mengatakannya,, kamu lupakan saja ,, anggap aku tidak pernah bertanya apa pun”, ucap Arfin menyesali.
“Waktu itu jam pelajaran telah berakhir dan semua murid sudah bubar untuk pulang, aku yang sehabis dari toilet kembali ke kelas ku, namun semua orang sudah mau pulang sedangkan aku belum menyerahkan tugasku, lalu aku pergi ke ruang musik untuk menyerahkannya pada Bu Tika karena harus dikumpulkan hari itu juga, saat aku sampai pintunya masih terbuka, aku pikir Bu Tika masih di dalam, lalu aku masuk kedalam mencari keberadaan Bu Tika, tapi ternyata sudah tidak ada. Saat itu aku lihat AC di sana masih menyala dan aku berniat mematikannya, tiba- tiba dari arah belakang ada yang menyiramkan air ke tubuhku sebelum aku berbalik orang itu langsung pergi dan mengunci pintunya dari luar. Aku mencoba membuka pintu, tapi tidak bisa dan kudengar suara orang itu menelpon seseorang dan mengatakan bahwa dia sudah berhasil mengerjai ku, lalu suaranya pun menghilang.”, Naz mulai menjelaskan kejadian yang dialaminya.
“Aku terus menggedor- gedor pintu dan berteriak meminta tolong, tapi aku teringat kalau ruangan itu kedap suara dan aku tidak bisa menghubungi siapapun karena ponselku ada di dalam tas di kelas. Aku kembali menggedor pintu dan berharap ada orang lewat diluar dan bisa menolongku, lalu ku dengar ada suara laki- laki yang bertanya keberadaan orang di dalam, hanya gedoran pintu yang bisa ku andalkan untuk memberitahukan keberadaan ku, karena berteriak sekeras apa pun orang diluar sana tidak akan bisa mendengar suaraku. Belum lagi di sana udaranya sangat dingin, dan saat kulihat AC nya berada di tingkat terendah 16 derajat, aku merasa kedinginan ditambah baju dan rompiku basah, aku menggeledah seluruh bagian di ruangan itu untuk mencari keberadaan remot AC yang tidak kutemukan sama sekali, aku pun mulai merasa kedinginan.” Ucapan nya terhenti karena tak terasa buliran jatuh membasahi pipinya, kemudian Naz menghela nafas panjang, berhenti bercerita sejenak untuk menghapus air matanya yang terus mengalir mengingat kejadian itu.
“Aku berjalan mengitari seluruh ruangan agar tubuhku berkeringat, tapi malah semakin terasa dingin, aku tidak tahu sudah berapa lama aku di dalam,,,tubuhku mulai menggigil kedinginan, aku hanya duduk sambil memeluk kedua lutut ku dan tak terasa air mataku pun terus berjatuhan. Aku tidak tahu akan sampai kapan berada di sana, hingga aku merasa mulai kehilangan kesadaran ku dan terkulai lemas di lantai. Aku terus menangis dan menggigil kedinginan, rasanya aku seperti akan menemui ajalku saat itu,,,,”, Perkataan Naz dipotong kembali oleh Arfin.
“Cukup Naz,,, hentikan ,, jangan diteruskan lagi,,,”, Arfin memotong perkataan Naz karena merasa sudah tidak tahan mendengar penderitaan yang dirasakan Naz saat kejadian itu dan Naz yang terus menangis, tapi ia menggelengkan kepalanya dan meneruskan kembali ceritanya.
“ Tapi saat ada suara yang memanggil namaku di balik pintu, yaitu suaramu Kak, aku berusaha bangkit untuk menggapai pintu yang berjarak sekitar 3 meter dari tempat ku tergeletak, tapi aku sudah tidak punya tenaga untuk bangun, hingga suara itu hilang. Aku sempat berfikir kalau itu halusinasi dan aku terus memanggil namamu tanpa henti Kak dan berharap salah satu panggilan ku sampai di telingamu, sampai beberapa saat pintu itu terbuka, terlihat samar- samar Kakak berjalan menghampiriku dan itulah saat terakhir aku memanggil namamu karena semuanya menjadi gelap. Terimakasih Kak,,, terimakasih sudah mendengar panggilanku dan datang menyelamatkanku”, ucap Naz menunduk dan menggenggam kedua tangan Arfin di sela isak tangisnya yang masih belum berhenti, dan Arfin pun sampai meneteskan air mata dengan raut wajah sedih, kemudian nampak tatapan kemarahan dari sorot matanya.
Arfin melepaskan genggaman tangan Naz lalu ia bangkit dari duduknya dan hendak pergi,” Kak Arfin mau kemana?”, tanya Naz.
“Aku akan memberi pelajaran pada orang itu dan memastikan dia merasakan bagaimana rasanya hampir mati dan menyeretnya ke kantor polisi ”, ucap Arfin yang sudah melangkahkan kakinya menuju pintu.
“Jika Kak Arfin melakukannya, aku pastikan Kak Arfin tidak akan pernah bisa menemui atau pun mengenalku lagi, aku tidak akan pernah menampakkan diriku di hadapan mu lagi, “,Arfin yang mendengar ancaman Naz, sontak menghentikan langkahnya yang perasaanya sudah dipenuhi amarah.
-------------- TBC ---------------
****************************
Happy Reading..... 😉🥰
Jangan lupa tinggalkan jejakmu..... 😉
__ADS_1