Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Janji Kita


__ADS_3

Ceklek ,,,,, blam…. Naz membuka pintu kamarnya kemudian menutupnya kembali dan menguncinya. Naz berlari dan menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur, “Kalian semua menyebalkan,,, menyebalkan,,, huhuhuhuhu…hiks hiks.... ”, Naz menangis karena kesal pada semua orang yang sudah keterlaluan mengerjainya, ia mengambil pingky bear kecilnya lalu dipukulkan berkali- kali pada tedy bear besarnya, “Kalian semua jahaaaaat,,, ihh menyebalkan,, huhuhuhu”.


Tok tok tok….


“Naz,,, sayang,,, buka pintunya”, Arfin mengetuk pintunya dari luar kamar Naz,


tok tok tok,,,


“Sayang,,,, buka pintunya,, Aa mau minta maaf sama kamu”, ucapnya lagi karena tidak kunjung mendapat sahutan dari kekasihnya yang sedang murka itu.


“Aku gak mau,,,aku gak mau ketemu Aa,, sana pergi…”, Naz malah berteriak mengusir Arfin.


“Aa gak akan pergi sebelum kamu maafin Aa,,, ayolah buka pintunya,,, kita bicara baik- baik,, jangan teriak- teriak seperti itu,,, “, ucapnya mencoba membujuk.


“Aku gak peduli,, tidur saja sana depan pintu,,, “ ,Naz kembali berteriak sambil menghapus air mata nya, yassalam seperti pertengkaran suami istri saja si Aa disuruh tidur di luar.


“Sayangku,,, cahayaku,,, ayolah buka pintunya,,, Aa benar- benar minta maaf,,, lagi pula makanannya udah selesai di panggang itu,, ayo kita makan,, kamu kan belum makan dari tadi siang,,, nanti kamu bisa sakit”, pembujukan masih terus berlangsung.


“Gak usah so peduli,,, kemana aja Aa selama seminggu ini ? gak pernah ngabarin aku, chatku gak pernah di balas, teleponku gak pernah diangkat,,, Aa gak tahu apa gimana perasaan aku selama itu hah??”, Naz terus saja bicara teriak sambil terisak, “Aa juga gak tahu kan betapa sedih dan frustasinya aku memikirkan cara supaya Ayah mau mengizinkan kita pacaran,, setiap malam aku selalu gelisah, aku nangis, aku sedih, gak ada tempat ku berkeluh kesah, semua orang menghindari ku, sedangkan masalah yang aku pikirkan ternyata hanya kalian jadikan sebagai lelucon untuk mengerjai ku,, sakitt a,,, sakit tahu gak,,, apa itu yang disebut dengan peduli, hah?”, Naz mengeluarkan semua unek-unek di dalam hatinya dan masih dengan isak tangisnya.


“Sayang,,, Aa benar- benar minta maaf,,, Aa gak bermaksud nyakitin kamu,,, ketiga sahabatmu yang memaksa Aa buat ngerjain kamu untuk membuatmu kesal dan kemudian memberikan kejutan di ulang tahun mu, karena mereka bilang kamu tidak pernah mau merayakan ulang tahun mu lagi setelah kejadian tujuh tahun yang lalu, makanya mereka berinisiatif mengadakan acara seperti ini, makan bersama keluarga dan sahabat terdekatmu sesuai keinginanmu, iya kan,,, Hanya itu sayang,,, gak ada niatan menyakiti kamu,,, Aa benar- benar minta maaf,,, kamu boleh mukul, nampar, ataupun menghajar Aa,,, tapi jangan kayak ngambek kayak gini, ayolah buka pintunya kita bicara baik-baik ", Arfin masih tidak mau menyerah.


“Aku gak mau ngomong lagi sama Aa,, aku gak mau ketemu lagi,,, sana pergi”, Naz kembali berteriak, ukhuk ukhuk ukhuk .... " aduh pake keselek segala lagi, mana gak ada air minum", ucap Naz berbisik.


“Jangan gitu dong sayang,,, Aa gak bisa kalo sehari aja gak lihat kamu atau dengar suara kamu”, Rayuan gombal dikeluarkan.


“Bohong,,, seminggu kemarin juga Aa gak ketemu aku kan gak dengar suara aku,, jadi sudah mulai terbiasa kan,,,, udah sana pergi”, masih tidak mempan.


“Siap bilang,,, tiap hari Aa selalu lihat foto terbaru mu, bahkan video kamu,,, kalau gak percaya kamu boleh lihat di ponsel Aa”.


“Gak usah banyak bohong,,, aku gak percaya,,, mana ada", Naz tidak mudah percaya.


“Aa awalnya gak mau menerima tawaran ketiga sahabatmu karena Aa gak bisa kalo sehari saja gak lihat kamu atau mendengar suaramu, tapi mereka terus memaksa, dan akhirnya Aa menerima dengan syarat setiap hari mereka harus mengirimkan foto dan video kamu, dan mereka pun setuju walaupun mereka mengambil foto dan merekam mu secara diam- diam,,, ayolah sayang,,, buka pintunya,,,, jangan sampai Aa dobrak pintunya”, kesabaran sudah mulai habis.


Naz hanya terdiam setelah mendengar penjelasan Arfin, seolah hatinya merasa tersentuh dengan apa yang dikatakan Arfin, “Terus Aa seenak jidatnya aja seolah nuduh aku selingkuh sama Bang Evan,, kan mana tahu kalo Aa yang selingkuh di Surabaya sana”, semua benar- benar dibahas ini.


“Aa gak pernah selingkuh,,, dan gak nuduh kamu juga,, itu Ruby yang kirim pesan waktu kami lagi ke panti memberikan undangan pada Bude Hafsah untuk pesta besok,,,, “, Arfin kembali menjelaskan, dan lagi- lagi sahabatnya Naz yang jadi biang rusuh." Sayang,,, ayo buka pintunya,,, apa kamu gak mau bertemu dengan Ibu dan Elsa yang baru saja datang?”, ucapnya sambil melihat layar ponselnya yang baru menerima kiriman foto dari sopirnya.


“Hah,,, Ibu…”. Ucapnya pelan, “Aa gak usah bohong, mana mungkin ibu datang kesini”, Naz tidak percaya.


“Buka ponselmu dan lihat sendiri”, Arfin mengirimkan foto tersebut pada Naz.


Naz langsung membuka ponselnya dan melihat pesan gambar yang sudah dikirimkan Arfin padanya, ternyata benar Ibu dan Elsa sudah ada di halaman depan rumahnya, Naz langsung menghapus air matanya, lalu membersihkan wajahnya dengan menggunakan tisu basah yang selalu ia letakan di atas meja twaletnya, “Haduh,,, gawat,,, kalo Ibu bertemu Opa bisa terjadi perang lagi ini,, aku harus cepat- cepat turun sebelum sesuatu yang buruk menimpa Ibu”. Naz menjadi panik dan sudah lupa dengan aksi pundung nya.


Naz kemudian melangkah menuju depan pintu, lalu memutarkan kuncinya dan dibukalah pintu kamar nya yang tentunya Arfin sudah berdiri tegak di depan pintu. Saat Naz hendak melangkah, Arfin menghalangi dengan tubuh tingginya itu, Naz ke kiri ia pun ke kiri, Naz ke kanan ia pun ke kanan, begitulah seterusnya, “Minggir ih…”, ucap Naz kesal.


“Gak mau,,, sebelum kamu maafin, Aa gak akan kasih kamu jalan”, Arfin tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membujuk gadis tengilnya itu keluar kamar dan terus menghalangi jalannya.


“Iiihhh,,, awas,, aku mau lewat”, Naz masih berusaha melewati Arfin yang terus menghalanginya.


“Gak mau,, maafin Aa dulu, baru boleh pergi”, ucapnya masih menghalangi dan ternyata Naz lebih cekatan dan berhasil lolos dari depan pintu, namun sayang Arfin mengejar dan berhasil menarik Naz hingga jatuh ke pelukannya, mereka pun saling memandang lalu ia melepaskannya dan kembali menghalanginya di depan tangga yang akan di turuni Naz.


“Ihhh,,, minggir,,, aku mau turun”, Naz menghentakkan kakinya karena kesal.


“Gak,, maafin Aa dulu,,, terserah kamu mau dorong Aa sampai jatuh dari tangga juga Aa gak peduli, Aa akan tetap menunggu maaf dari kamu”, Arfin masih tetap kekeh.


“Ihh,, ini sih namanya bukan minta maaf,, tapi nodong”, ucap Naz kesal.


“Terserah,,, kalau kamu mau turun maafin Aa dulu,, baru kamu bisa melewati tangga”, ucap Arfin dengan santainya.


Naz mendengus kesal , “Iya,,, iya aku maafin,,, puas?”, akhirnya terlontar juga pemberian maaf Naz.


“Enggak,,,”, Arfin tidak Terima.


“Iiihhh,,, apalagi sih,,, ??”, Naz benar- benar dibuat kesal.


“Yang ikhlas dong maafin Aa nya?”, Arfin banyak maunya.


“Situ aja minta maafnya gak ikhlas ,, malah maksa,, nodong lagi “, Ucap Naz dengan nada ketus.


“Kok manggilnya situ sih,, Aa dong”, Arfin protes.

__ADS_1


“Eughhh,,, “, Naz kembali mendengus kesal lalu ia terdiam sejenak nampak sedang memikirkan sesuatu, Naz mengangkat kedua tangannya dan menempelkan kedua telapak tangannya di dada Arfin dan menatap kedua bola mata Arfin dengan intens, “Aa sayangku,,, cintaku,, pujaan hatiku, aku sudah memaafkan mu”, ucapnya dengan nada menggoda sambil meraba dada Arfin dan tersenyum semanis mungkin.


Arfin pun langsung diam terpaku dan hanya bisa menelan ludah di tenggorokannya karena terkejut dengan sentuhan yang Naz lakukan, kemudian ia memegang kedua tangan Naz hendak menurunkan dari dadanya “Sayang, jangan lakukan ini,,, belum saatnya”.


Naz memainkan jari jemarinya di dada Arfin, “Lalu,,, kapan saatnya”, ucapnya nya lagi dengan nada menggoda.


“Nanti… setelah akad nikah”, Arfin berbisik di telinga kanan Naz.


“Oh ya,,, kalau begitu,, apa aku sudah boleh turun,, sayang?”, Naz kembali bertanya masih dengan nada menggoda.


“Tentu,, silahkan,, karena jika kau seperti ini bisa- bisa aku khilaf”, Arfin tersenyum dan memberikan jalan untuk kekasihnya itu.


“Terimakasih sayang,, sudah memberiku jalan,, babay”, Naz menurunkan kedua tangannya lalu berdadah ria dengan menggerakkan jemarinya.


“Terimakasih juga sudah memaafkan Aa”, ucap Arfin yang sudah dilewati Naz melangkahi satu demi satu tangga, dan di tangga ke tiga Naz membalikan badannya.


“Tapi bo’ong,,,, wle,,,”, Naz menjulurkan lidahnya tanda mengejek Arfin, “Apa…?? Semudah itu aku memaafkan mu,,?? Jangan mimpi ferguso,,,”, ucap Naz dengan tatapan tajam lalu ia melengos begitu saja menuruni tangga dengan langkah cepat karena takut di cegat lagi oleh Arfin.


“Naz… kau “, ucapnya sambil kesal dengan mengangkat telunjuknya dan mengarahkan arah kekasihnya yang sudah berhasil menuruni tangga. “Dasar si tengil licik,,, “, Arfin tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya kemudian ia pun menuruni tangga.


Saat Naz turun ia melihat Ibunya dan Elsa sudah masuk dan duduk bersama Opa, Oma dan Bundanya, Naz mengehentikan langkahnya di samping lemari kaca yang merupakan pembatas ke ruang tamu “Hah,, bagaimana bisa,,, ? Opa bisa menyambut hangat Ibu?”, ucap Naz tidak percaya.


“Kau berhutang banyak padaku, sayang”, Tiba- tiba Arfin berbisik pada Naz dan mengagetkannya.


Naz menoleh ke arah Arfin yang berada dibelakangnya dan malah menjulurkan lidahnya lalu bergegas berjalan dengan cepat ke ruang tamu menghampiri Ibunya yang baru datang itu, “Ibu… Elsa,,,”, ucapnya lalu mendekati tempat duduk keduanya dan bersalaman dengan keduanya secara bergantian.


“Selamat ulang tahun Nanaz,,,, “, ucap Bu Mira saat Naz menyalaminya lalu memeluk Naz dan mendoakan segala yang terbaik untuk Naz, dilanjut dengan Elsa yang melakukan hal serupa.


“Terimakasih banyak,, kalian sudah datang”, ucapnya berkaca- kaca.


“Ehh,,, ini hari bahagia mu,, gak boleh nangis”, ucap Bu Mira yang melihat mata Naz berkaca-kaca.


“Enggak- aku gak nangis ko”, Naz tersenyum dan menahan air matanya agar tidak jatuh.


“Ayo kita makan, itu di halaman samping semuanya sudah siap”, Bunda pun mengajak semuanya pergi ke halaman samping yang ternyata di sana makanan sudah di siapkan di atas dua meja yang di satukan sehingga memanjang, dan ditambah dengan kursi makan diakut ke sana sehingga semua orang kebagian tempat duduk.


Di atas meja sudah di sajikan makanan yang sudah di masak oleh Mbak Iyem dan Bunda, tak lupa juga makanan hasil panggangan Dandy dan Nervan tadi. Ini adalah hal paling istimewa yang Naz dapatkan di hari ulang tahunnya, yaitu bisa berkumpul dengan keluarga dan sahabatnya, walau Papa nya belum datang karena ia paham kalau Papa nya sedang berada di pesta ulang tahun Raline yang memang tanggal lahir mereka sama. Momen langka itu tentunya diabadikan oleh sang fotografer dadakan yakni Mbak Iyem yang diminta mengambil foto mereka dan merekamnya.


“Jika kamu ingin berterima kasih maka kamu salah orang,, karena Ayah hanya menyediakan tempat saja, sayang”, Ayah bicara dengan santainya dan membuat Naz tertegun.


“Kalau mau berterima kasih,, sama dia tuh,, pacar baru mu yang duduk berhadapan dengan mu”, Opa malah menyambar sambil terkekeh.


“Dia nya gak mau bicara denganku, Opa”, Arfin menjawab dengan tersenyum jahil sedangkan Naz malah menampakan muka cemberutnya.


“Jangan gitu donk Naz,, kasihan dia udah susah payah membuat acara ini agar kita bisa berkumpul loh, dan bisa membuat Opa lebih memilih datang kesini sedangkan ke pestanya Raline hanya nongol sebentar, mengucapkan selamat dan memberi hadiah saja,,, dan lihat ibu dan adik mu juga berhasil dibawa kemari”, Opa menceramahi Naz yang nampak berfikir mungkin sudah menyadari begitu besar rasa cinta dan perhatian kekasihnya itu untuknya.


“Gak tahu tuh Opa,,, “, Arfin bicara dengan santainya sambil memakan jeruk yang sudah dikupasnya sambil memandang Naz yang tertunduk malu.


“Cie,,malu- malu….”, Ruby langsung menggoda Naz.


“Itu masih mode ngambek Opa,, gara- gara chatnya gak pernah dibalas dan teleponnya gak diangkat sama Kak Arfin”, Kiara pun ikut berkomentar dan sontak membuat semua orang menertawakan Naz.


“Udah Om,,, nikahkan saja mereka”, Celetuk Nervan.


“Enak aja,,, gak boleh ngelangkahin gue kale “, Dandy langsung protes.


Suasana di meja makan ala- ala outdoor itu pun semakin ramai dengan gelak tawa yang terus menggoda Naz dan Arfin.


“Halo semuanya,,, maaf saya terlambat”, ucap Pak Syarief yang baru datang dan langsung menghampiri mereka.


“Papa,,,, “, Naz langsung berdiri menyambut kedatangan Papa nya itu.


“Selamat ulang tahun sayang, doa terbaik untuk mu selalu”, ucapnya sambil memeluk dan mencium kening putrinya itu. “ Maaf ya Papa terlambat,,,dan ini hadiah untukmu”, ucapnya melepaskan pelukannya lalu menyodorkan paperbag berisikan hadiah ulang tahun untuk Naz.


“Makasih ya Pa,,,,,”, ucap Naz sambil mengedarkan pandangan ke arah belakang Papa nya seolah mencari keberadaan seseorang, “Papa duduk di sini saja,, aku mau ke toilet dulu ya”, Naz lalu bergegas masuk ke dalam rumah menuju ke kamar mandi.


Sebagian orang yang di meja makan pun beranjak, Bunda dan Arini mengumpulkan piring kotor lalu di bawakan oleh Mbak Iyem ke dalam rumah, Nervan dan Pak Syarief menjauh kembali ke tempat pemanggangan yang masih ada kursi panjang di sana untuk merokok dan ngobrol- ngobrol ringan. Sedangkan Oma dan Opa kembali masuk ke rumah karena merasa udara malam semakin dingin dan tidak baik untuk kesehatan mereka, Ayah pun ikut masuk. Kalo ketiga sahabat Naz mereka lebih memilih bermain kembang api, karena Andes membelinya banyak sekali.


“Loh… yang ulang tahunnya mana??”, Hardi yang baru datang mengedarkan pandangan mencari keberadaan Naz lalu ia duduk di kursi sebelah kiri Arfin.


“Lagi ke toilet…. Ayo makan dulu Hardi sama temennya itu, piringnya masih ada di tengah tuh“, ucap Bunda yang sudah selesai merapikan piring kotor dan sampah buah yang ada di meja.

__ADS_1


“Haii semuanya,, selamat malam”, ucap seseorang yang datang bersama Hardi, dan itu membuat raut wajah Arfin berubah yang menampakan seolah tidak senang. “Arfin kok kamu gak datang ke pestanya Raline sih ,,, “, tanyanya menghampiri Arfin dan duduk di kursi sebelah kanannya yang kosong.


“Enggak,,, kan ada acara di sini”, Arfin menjawab tanpa menoleh sedikitpun pada orang itu, lalu ia mendekati Hardi dan berbisik, “Lo ngapain bawa Nadine kesini,, lo pengen gue sama Naz perang?”.


“Gue gak ngajak dia,, orang dia tiba- tiba ngekorin pas gue mau berangkat ke sini bareng Papa,,, dia nanya mau kemana,, ya kita jawab seadanya dan gue keceplosan kalo temen geng gue udah nunggu, jadi dia maksa ikut”, Hardi pun ikutan berbisik- bisik tetangga. "Anjayy,,, lo jadian sama adek gue gak bilang-bilang nyet", Hardi malah jadi protes.


" Lah sekarang kan udah tahu lo,,, ", Arfin bicara dengan santainya.


“Lagi ngomongin aku ya,, aku masih di sini loh”, ucapnya dengan nada ganjen, Arfin mendengus kesal lalu ia memijit- mijit pelipisnya, tiba- tiba Nadine bersandar dan memeluk lengan Afiin dari samping berbarengan dengan kedatangan Naz yang sudah kembali dari kamar mandi.


“Apaan sih lo,,, “, Arfin yang terkejut langsung melepaskan diri dari Nadine dan langsung berdiri yang ternyata Naz sudah ada di hadapannya terhalang oleh meja yang menatapnya dengan penuh kemarahan, “Astaga,,,, tamat sudah riwayatku,, dia pasti akan salah paham, makin lama ini ngambeknya ”, gumam Arfin dalam hati.


“Hai Naz,,, kamu adiknya Dandy kan,,,, selamat ulang tahun yaa…”, ucap Nadine dengan watados nya menyodorkan tangan kepada Naz, dan Naz pun membalas jabatan tangan Nadine. ”Kamu kenapa sih Ar, kok kaget gitu kayak abis lihat hantu”, tanyanya polos, Arfin pun menggeser kursi ke belakang lalu melangkahkan kakinya untuk menghampiri Naz, “Mau kemana sih…. Udah di sini aja”, Nadine masih memegang tangan Arfin tapi langsung dihempaskan.


“Sayang,,, kucing kita yang lucu tadi kemana, aku belum ngasih dia makan”, ucap Naz dengan sengaja memanggil Arfin dengan sebutan sayang seolah ingin memberitahukan pada Nadine kalau Arfin itu adalah miliknya.


“Hah,,, sayang,,,?? Maksudnya…??”, Nadin merasa heran dengan panggilan sayang yang Naz lontarkan pada Arfin.


Arfin pun tersenyum dibuatnya, “Dia cewek gue”, ucapnya pada Nadine dengan nada tegas.


“Apa,,,?? Gak mungkin,,, lo pasti bercanda kan,, “, Nadine tidak percaya.


“Tanya saja sama semua orang yang ada di sini”, ucap Arfin.


“Gak mungkin Ar,, lo tahu kan kalau dia itu anak,,,,,, “, Nadin belum selesai bicara langsung dihentikan oleh Arfin.


“Diam kamu,,, kalau kata- kata itu keluar dari mulut mu, aku pastikan akan merobek mulut mu itu”, ucapnya berbisik sambil mengangkat sebuah kursi lalu dibawanya menghampiri Naz.


“Kucingnya tadi dimasukin lagi ke kandang,, ayok kita ke sana”, ucapnya pada Naz dan mengajaknya pergi.


“Udahlah Nadine,,, Arfin tuh sekarang udah ada yang punya,, jadi gak usah ngejar- ngejar dia lagi “, Hardi bicara dengan santainya lalu menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


“Aa kenapa sih ngundang dia kesini?”, ucap Naz kesal .


“Silahkan duduk tuan putri”, Arfin meletakan kursi yang dibawanya lalu mempersilahkan duduk, “Aa gak ngundang dia,, tuh Hardi yang bawa dia, katanya maksa pengen ikut kesini,, “, ucapnya yang kemudian duduk di atas rerumputan di hadapan Naz.


“Kok Aa duduk di rumput sih,, aku malah di kursi”, tanya Naz heran.


“Gak apa- apa,, biar kelihatan lagi ngasih makan kucing, padahal enggak,,,,hahahaha,, makanannya ada di bagasi mobil, malas keluar ah pengen disini aja”, Arfin terkekeh mengingat kucing menjadi alasan Naz mengajaknya pergi menjauh dari Nadine.


“Aku juga gak mau duduk di kursi”, Naz pun berdiri lalu ikut duduk bersila di sebelah Arfin.


“Kita kayak lagi mojok tahu gak,, hahaha”, padahal mereka duduk di tengah-tengah bukan dipojokan.


“Aa,,,,”, panggil Naz.


“Hemmm,,, kenapa?”, Arfin pun menyahuti nya.


“Makasih yaa, udah bikin acara istimewa ini, jujur sampe saat ini aku merasa kalo ini hanya mimpi belaka,", Naz menghela nafas sejenak, " Kok bisa sih kepikir ngadain acara kayak gini, gimana ceritanya?”.tanya Naz penasaran.


“Ceritanya panjaaang banget,, kalo dirinci bisa sampai lima episode,,, hahaha”, Arfin malah bercanda.


“Ya diambil singkatnya aja atuh”, Naz memaksa.


" Sayang,, berjanjilah setelah ini kamu gak akan menyembunyikan apa-apa lagi dariku,,,, seperti yang pernah ku katakan kalau aku ingin menjadi tempat berbagi kebahagiaan dan kesedihan mu,, jangan lagi kamu memendam kesedihanmu seperti kemarin lagi, berbagilah denganku, kita akan hadapi semuanya bersama-sama,,,, jangan ada rahasia di antara kita,,,, janji", Arfin menyodorkan jari kelingking nya sebagai tanda mereka saling mengikat janji dan Naz pun menyatukan jari kelingking nya dengan Arfin sambil mengangguk.


" Aku janji, Aa juga jangan nyembunyiin apapun dari ku ya", ucap Naz tersenyum.


"Iya,,,, Aa juga janji,,, ini janji kita ya", ucapnya terkekeh dengan jari kelingking yang masih terikat satu sama lain.



------------------ TBC -----------------


*******************************


Mon maaf baru up lagi dikarenakan othor kemaren sedang atit.....


Happy Reading..... 😉


Jangan lupa tinggalkan jejakmu..... 😉😘

__ADS_1


__ADS_2