
Suasana di gedung bertingkat yang berlogokan Akbarsyah Group itu nampak seperti biasanya, setiap pegawai memiliki kesibukan masing sesuai tugas dan jabatan mereka, padahal di ruang CCTV sedang terjadi kepanikan karena menghilangnya seorang anak kecil berusia 2,5 tahun yang tidak terdeteksi oleh kamera CCTV sesaat setelah anak itu memasuki lift.
Nervan yang sejak tadi sudah mendapat kejutan yang seakan memberi goncangan hebat pada dirinya, kini ditambah dengan hilangnya Syanala yang baru ia ketahui bahwa anak itu adalah anak kandungnya. Rasa sedih dan terpukul mengetahui kenyataan tentang pengorbanan wanita yang sangat dicintainya, kini ditambah dengan kepanikan dan kekhawatiran mengenai keadaan sang puteri yang tak kunjung diketahui keberadaanya. Semua penjaga keamanan bahkan sampai OB pun dikerahkan untuk mencari keberadaan Nala.
“Kalian semua bodoh, tidak berguna…! mencari anak kecil saja tidak becus,,, cari lagi sampai ketemu,,!! ”, Nervan yang sudah mulai frustasi memaki para petugas kemanan dan OB yang kini berkumpul di luar ruangan CCTV karena tak ada satu pun dari mereka yang menemukan Nala setelah berpencar mencari ke setiap ruangan di semua lantai gedung, sambil ia menendang pintu.
“ Nervan, kendalikan dirimu, kita semua juga sedang berusaha”, ucap Pak Latief dengan nada tegas, “Sekarang kalian dibagi dua tim untuk mencari ke lantai 2 dan 5, cari dengan teliti ke setiap sudut ruangan yang ada di sana,,, sekarang kalian mulai pencariannya lagi”, perintah Pak Latief.
“Ayo Bang, kita juga ikut mencari, dan sebaiknya kita berpencar”, Arfin mengajak untuk ikut serta.
Tiba- tiba ponsel Naz berdering dan ia pun segera mengambil ponsel dari dalam tas nya. Naz sangat terkejut melihat nama si pemanggil.
“Aa,,, Kak Maira menelpon ku.. bagaimana ini?”, tanya Naz panik.
“Apa?? Maira?”, tanya Nervan lalu langsung merebut ponsel dari tangan Naz, ia melihat nama Kak Maira di sana dan terus memandangi layar ponsel Naz karena di sana terlihat foto Maira bersama Nala, ia menatap lekat foto itu dengan tatapan sendu, dengan jari yang bergetar ia hendak menggeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan telepon whatsapp tersebut karena ingin mendengarkan suara yang dirindukannya semenjak hampir empat tahun lalu ,,,,nut nut…. Sayang sekali ponsel Naz langsung mati karena kehabisan baterai. Meuni dedeuh…
Naz bernafas dengan lega, “Untunglah batreinya habis,,, jadi bisa menghindari pertanyaan dari Kak Maira”, Naz kembali mengambil ponselnya dari tangan Nervan. “Maaf ya Bang”, ucapnya tersenyum sedangkan Nervan nampak kecewa.
“Ayok kita lanjutkan pencarian Nala”, ajak Arfin dan mereka pun bergegas pergi ke tujuan mereka yang sudah di sepakati, Nervan pergi ke lantai 2 sedangkan Naz dan Arfin pergi ke lantai 5, sementara Pak Latief stay di ruangan CCTV memantau siapa tahu Nala terlihat lagi di rekaman CCTV.
Pencarian berlangsung selama hampir dua jam, namun tidak ada yang berhasil menemukan Nala, Nervan terus mengamuk dan menggerutuki dirinya sendiri sampai ia menangis karena merasa putus asa dan sangat menghawatirkan Nala. Begitu juga Naz yang sangat khawatir terus menangis karena merasa bersalah sudah meninggalkan Nala dan takut terjadi sesuatu dengannya.
Sebagian penjaga yang mencari di luar area kantor pun tak menemukan Nala. Waktu sudah menunjukan pukul 12 siang dan para pegawai pun mulai bertebaran, ada yang pergi untuk makan siang, ada yang ke masjid di seberang untuk menunaikan shalat dzuhur dan ada pula yang melaksanakannya di mushala yang ada di lantai 2, bahkan ada pula yang masih stay di meja kerjanya karena memesan makanan via online.
“Sudah jangan menangis lagi, lebih baik kita sekarang shalat dulu terus makan supaya memiliki tenaga untuk kembali mencari Nala”, ucap Arfin pada Naz yang masih menangis dan ia pun mengangguk, “Ayok Bang,,, siapa tahu setelah shalat kita dapat petunjuk juga bisa membuat hati abang tenang, dengan begitu Abang bisa berfikir jernih”, Arfin pun mengajak serta Nervan yang sudah terlihat sangat kacau.
Ketiganya pun bergegas pergi meninggalkan ruangan Arfin , saat sedang menunggu di depan pintu lift Arfin menanyakan tujuan mereka, “Mau shalat di masjid sebrang apa di mushola bawah ?”, Tanya nya.
“Di Mushola aja,,, aku gak mau shalat di masjid sana, nanti sepatu ku hilang lagi”,jawab Naz dengan nada seperti orang pilek karena habis menangis.
“Haha,,, makanya kalo ke masjid memakai sepatu mahal harus bawa kantong kresek, biar sepatunya bisa dibawa ke dalam jadi gak akan dicuri orang”, Arfin memberi saran kemudian pintu lift pun terbuka dan sesuai permintaan gadis kesayangannya itu Arfin menekan tombol angka dua, karena mushola ada di sana.
Ting ,,,, terdengar sara yang menandakan bahwa mereka telah sampai di lantai dua, setelah lift terbuka secara otomatis, mereka bertiga keluar dan berjalan menuju mushola. Saat diperjalanan mereka berpapasan dengan tiga orang karyawan yang terlihat sedang membicarakan sesuatu.
“Tega banget orang tuanya ko membiarkan anak nya tidur di mushola gitu”,ucap gadis1.
“Iya ya,, kasihan dia,,, apa tidak ada yang mencarinya”, gadis1 menjawab.
“Jangan- jangan ia korban pembuangan anak”, gadis3 berkomentar.
“Sembarangan, masa iya membuang anak di perusahaan sebesar ini”, gadis1 kembali komen.
“Hah,,, seorang anak,,? tidur di mushola?”, Ucap Naz dengan suara pelan yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka seolah mendapat petunjuk. ”Aa,, Bang Evan,,, dimana mushola nya? Ayok cepat kita ke sana”, Naz merasa mendapat petunjuk.
“Kenapa musti buru- buru sih, tenang aja gak akan penuh kok, kebanyakan mereka shalat di masjid sekalian mencari makan”, Arfin protes karena merasa kesusahan jika berjalan dengan sangat cepat.
“Tadi aku dengar, tiga orang karyawan itu membicarakan ada anak yang tidur di mushola, mungkin saja itu Nala kan?”, Naz sangat berharap.
“Apa,,,?? Ayok cepat kita ke sana”, Nervan langsung berlari meninggalkan Arfin dan Naz yang masih berjalan.
Sesampainya di sana Nervan langsung membuka sepatunya dan bergegas masuk ke mushola, ia mencari dengan mengedarkan pandangannya, dan saat melihat ke tempat shalat wanita, benar saja ada seorang anak kecil yang tidur menyamping di dekat lemari penyimpanan mukena dan sajadah.
Nervan melangkah perlahan menghampiri Nala yang tengah tertidur pulas dengan tangannya yang memegang ujung sebuah sajadah, matanya terus tertuju pada wajah polos anak itu, yang terbayang di ingatannya saat anak itu tertawa, berceloteh, bernyanyi dengan ceria, yang membuat Nervan tak mampu menahan air matanya yang berjatuhan.
Saat sampai di depan Nala yang tertidur itu, ia berlutut lalu duduk dan terus memandangi anak itu, “Maaf,,, maafkan aku ,,, maafkan Papa, nak..”, Nervan tak kuasa menahan tangis penyesalannya mengingat perlakuannya tadi pada Nala, kemudian ia mengusap- usap kepala Nala dan membungkuk menciumi kepala dan dahi anak itu.
Naz dan Arfin yang baru sampai pun akhirnya merasa lega karena Nala sudah ditemukan, Naz hendak melangkah untuk menghampiri Nala yang sedang bersama Nervan itu, namun Arfin mencegahnya dan memegang lengan Naz, “Jangan,,, jangan ke sana dulu, berikan waktu untuk mereka berdua”, ucapnya dan Naz pun menurutinya.
"Perasaan tadi kita mencari kesini tidak menemukan Nala ya,? ", tanya Naz heran.
"iya... mungkin tadi Nala belum sampai kesini", jawab Arfin mengira- ngira.
“Kalo gitu aku ke toilet dulu, perutku rasanya gak enak”, Naz kemudian bergegas ke toilet sedangkan Arfin mengambil air wudhu di tempat khusus samping mushola, dan beberapa saat kemudian Naz hendak kembali ke mushola saat di depan mushola bertemu dengan Arfin yang sudah selesai wudhu.
“Kok sebentar ke toiletnya? Katanya sakit perut? Apa kamu cuma kentut doang ke toiletnya?”, tanya Arfin terkekeh.
“Sembarangan,, kalo pengen kentut mah bebas dimana aja kali gak perlu ke toilet”, jawab Naz seenaknya lalu mendekati Arfin, ”Aa sayangku, cintaku, pujaan hatiku, hehehe”, Naz tiba- tiba merayu sambil cengengesan.
__ADS_1
“Chayaku lagi pengen apa hem?”, Tanya Arfin to the poin.
“Kok tahu sih?”, Naz malah balik bertanya.
“Iya lah, kan Chayaku ini pernah bilang, kalo lagi ada maunya maka panggilan itu akan keluar dari bibir manis mu itu”, jawab Arfin sambil tersenyum.
“Hehehe,, tadi waktu di toilet aku buka celana, ternyata ada darah”, Naz menceritakan.
“Darah,, kamu kenapa? Kamu terluka?”, tanya Arfin panik.
“Aku mens,,, hehehe,,, Aa sayang aku minta tolong belikan aku pembalut ya, please ", ucapnya dengan menampakan wajah puppy eyes.
“Apa ? beli pembalut? Yang bener aja kamu tuh sayang, masa iya Aa beli pembalut, bisa diketawain orang sekantor nanti” , Arfin menolak.
“Ayo dong please,,, aku gak bawa celana ganti, nanti bisa- bisa tembus ke celana jeans ku,, ya please”, ucap Naz memohon sambil memegang dan menggoyang- goyangkan lengan Arfin.
“Astagfirullah sayang,,, Aa udah wudhu, jadi batal deh”, Arfin protes.
“Opss,, maaf,, aku gak tahu,, hehehe,, ayo dong cepetan ya nanti keburu tembus ini aku sementara cuman pakai beberapa lembar tisu”, ucap Naz sambil memegang bagian tengahnya dan Arfin melihat ke arah itu, “Iiiihh,, Aa ngapain lihatin kesitu ih,, dasar mesum ih,, udah sana,, kan deket kantor ini ada mini market”, Naz terus merengek.
Arfin pun merasa tidak tega melihatnya dan dengan terpaksa ia pun menuruti permintaan Naz, ia kemudian meninggalkan mushola karena Naz membutuhkan pembalut segera dan memberitahukan merk pembalut tersebut dengan memperlihatkan fotonya dari mbah gugel di ponsel Arfin beserta jamu pereda nyeri mens.
Sesampainya di mini market yang dekat dengan kantor, Arfin langsung saja ke kasir karena ia malas mencari keberadaan pembalut yang ternyata di sana sedang ada beberapa pembeli.
“Selamat datang, ada yang bisa kami bantu”, sapa penjaga kasir.
“Mbak beli pembalut merk Lolieur size 30cm sama kiranti”, ucap Arfin yang membuat penjaga kasir tersebut tersenyum sambil menahan tawanya.
“Maaf Mas pembalutnya yang siang atau yang malam ?”, tanya kasir itu.
“Ya,,, ya,, yang siang lah ini kan masih siang”, Arfin menjawab dengan bingung dan si penjaga kasir itu pun kembali menahan tawanya.
“Yang bersayap atau tidak bersayap, Mas?” penjaga kasir kembali bertanya.
“Apa? Sayap? Maksudnya kayak sayap burung gitu?”, Arfin bertanya dengan polosnya karena yang terlintas dipikirannya yang bersayap itu selain bidadari ya unggas, dan wajah penjaga kasir itu sudah memerah karena terus menahan tawanya. “Mbak kalo mau ketawa- ketawa aja gak usah ditahan gitu”, ucap Arfin yang memperhatikan penjaga kasir tersebut.
“Sial,, dia benar- benar menertawakan ku,,, hufhh,,, Rheanazwa kau berhasil mempermalukan ku seperti ini,,, untung aku cinta sama kamu ya,,, awas saja aku akan menghukum mu untuk ini “, Arfin menggerutu kesal dalam hati.
“Ini Mas, yang tadi disebutkan mereknya, yang ini tanpa sayap dan ini yang bersayap, sedangkan ini minuman jamu nya”, penjaga kasir tersebut menyebutkan satu persatu barang yang diambilkan nya.
“Bukan yang ini Mbak, tapi yang bungkusnya warna hitam”, Arfin teringat dengan foto yang ditunjukan Naz tadi sebelum berangkat ke mini market.
“Oh kalo itu untuk yang malam Mas bukan siang”, ucap penjaga kasir menjelaskan dan membuat Arfin mengerutkan dahinya karena merasa heran.
“Aneh,, ini kan siang hari, masa iya dia memakai pembalut untuk malam hari,,, memangnya apa bedanya,, arghh sudah beli semuanya saja biar gak bolak- balik,, mana ponsel dia mati lagi, gak bisa dihubungi”, Arfin kembali menggerutu dalam hati.
“Yasudah Mbak, beli semuanya saja yang siang, malam, bersayap dan tidak juga”, ucap Arfin, kemudian semuanya di masukan ke kantong kresek setelah selesai ditotalkan.
“Sekalian beli pulsanya Mas ?”, penjaga kasir menawarkan namun Arfin menggelengkan kepalanya, “Semuanya jadi 67.200 Mas”, ucap Penjaga kasir menyebutkan total harga belanjaan barang tadi.
Arfin mengambil dompet dari saku celananya kemudian membayar belanjaannya tersebut, “Mbak, apa tidak ada kantong keresek hitam ?”, tanya Arfin yang melihat kresek tersebut serasa tembus pandang.
“Mohon maaf,, dari dulu kantong kresek mini market ini berwarna putih, Mas,, kami tidak menyediakan kantong kresek lain, ini kembaliannya Mas, terimakasih telah berbelanja disini”, ucapnya mengakhiri transaksi.
Akhirnya mau tidak mau Arfin membawa belanjaan tersebut yang berwadahkan kantong kresek putih, dan sialnya para karyawannya yang sudah selesai ISOMA hendak kembali ke meja kerjanya masing- masing sehingga saat di lift ia bertemu beberapa karyawan yang notabene perempuan. Ada beberapa yang saling berbisik namun angin dari bisikan nya seolah sampai di telinga Arfin, ada pun yang nampak menahan tawa tapi tetap mengeluarkan suara hembusan berisik dari hidung mereka.
“Ekhem…”, Arfin berdehem dan mereka pun langsung diam menghentikan pergibahan nya, dan beruntung Arfin tak perlu berlama- lama di dalam lift karena tujuannya adalah lantai dua.
Saat keluar dari lift Arfin langsung mengumpat karena merasa kesal dan malu, sebagai anak pemilik perusahaan terciduk membawa sekantong pembalut yang terlihat jelas dari dalam kreseknya. Dan ia pun sampai di depan mushola dimana Naz sudah menunggunya sejak tadi, “Nih,,, seumur hidup baru pertama kali beli ginian,,“, Arfin menyodorkan kantong kresek pada Naz dengan raut wajah nampak kesal.
“Hehehe.... kok lama banget sih,, tapi makasih ya sayangkuuu…”, Naz menerimanya sambil cengengesan dan langsung bergegas ke toilet sedangkan Arfin kembali mengambil wudhu untuk shalat.
Saat ia masuk ke mushola, Nervan terlihat sedang berbaring menyamping menghadap Nala yang sedang tidur, sambil mengusap- usap kepala anaknya itu. Arfin pun tersenyum lalu, ia shalat.
“Emhh,,, Papa,,, “, Nala mengigau.
“Iya sayang,, Papa disini”, ucap Nervan yang masih mengusap- usap kepala Nala, dan Nala pun merasa terusik tidurnya lalu membuka matanya perlahan.
__ADS_1
Nervan tersenyum melihat Nala yang sudah bangun lalu mengucek- kucek matanya, saat kesadarannya sudah penuh ia terkejut melihat Nervan ada di hadapannya. Dia langsung bangun dan duduk, raut wajahnya nampak ketakutan, ia teringat dengan sikap Nervan yang membentaknya hingga ia terjatuh. Nervan pun langsung bangun dan duduk , “Nala sayang,,, ini Papa, nak,,, “, ucapnya tersenyum, namun Nala malah semakin takut dan menggeser kan duduknya seolah ingin menjauh dari Nervan.
“Sayang,,, kamu jangan takut,, ini Papa,,, Papa kamu,, Papa nya Nala”, Nervan terus berusaha mendekatinya, sedangkan Nala menggelengkan kepalanya dengan bibir yang bergetar seolah hendak menangis.
“Papa jahat,,, Papa nakal,,,, Nala tatut… “, ucapnya hampir menangis sambil terus menggeser kan duduknya untuk menjauhi Nervan.
“Maaf sayang,,, Papa minta maaf,,, Papa tidak bermaksud nyakitin Nala,, ayo sini, Nala peluk Papa ya,,,”, Nervan pantang menyerah.
“Ndak mahu,,, Papa jahat,, Nala tatut…. Huaaaa”, Nala malah menangis dan saat menengok samping kanan Nala melihat Arfin dan Naz tengah berdiri memandang dari kejauhan ke arah nya, Nala pun langsung berdiri dan berlari menghampiri Naz dan memeluknya, “Huaaaaaaa,,, Nala ndak mahu cama Papa,,, Nala tatut”.
Naz melepas pelukan Nala perlahan lalu ia berjongkok, “Nala,, Papa kan tadi sudah minta maaf sama Nala,,, jadi sekarang Nala baikan ya sama Papa,, Papa gak jahat kok, Papa Nala orang baik ", Naz pun turut membujuk.
“Ndak mahu,,,, Papa jahat,,, Nala ndak mahu cama Papa, Nala mahu pulang,, Nala mahu ke Mama,,,, huaaaaa”, Nala menggelengkan kepalanya dan merengek minta pulang sambil menangis.
“Iya iya pulang ya,, tapi Nala jangan nangis ya,,, “, ucap Naz dan anak itu pun mengangguk serta menghentikan tangisannya, Naz berdiri, “Aa tolong gendong Nala ya, perut aku sakit soalnya”, ucap Naz kemudian Arfin pun langsung menggendong Nala, Naz dan Arfin pun memandang ke arah Nervan yang masih duduk di tempat tadi.
Nervan hanya bisa memandangi Nala dari kejauhan dengan tatapan sendu, ia menyadari bahwa perbuatannya pada Nala memberikan efek trauma, jika dipaksakan terus maka Nala bisa- bisa semakin takut padanya. “Bawa saja dia Naz, dia masih takut padaku,,, “, ucapnya dengan menundukkan kepala.
Naz dan Arfin saling bertatapan bermain mata seolah saling mempertanyakan apa yang harus dilakukan, di satu sisi mereka kasihan pada Nervan, dan di sisi lain mereka juga tidak tega melihat Nala yang begitu ketakutan.
“Kalau begitu kami pergi dulu mengantarkan Nala pulang, Abang gak apa- apa kami tinggal?”, Arfin menghawatirkan Abang nya yang nampak kacau.
“Kalian pergi saja, nanti setelah shalat abang juga langsung pulang”, ucapnya tanpa menoleh sedikit pun ke arah Naz dan Arfin.
Kemudian mereka pun pergi membawa Nala pulang, tapi sebelumnya mereka pergi makan siang dulu, dan setelahnya barulah mereka mengantarkan Nala kembali ke Panti.
Nala yang biasanya selalu mengoceh, kini disepanjang perjalan ia hanya diam saja, entah karena masih sedih atau karena masih ngantuk. Malah Arfin yang mengomel gara- gara disuruh membeli pembalut sampe malu jadi bahan pembicaraan karyawannya. Sedangkan Nala yang duduk dipangkuan Naz hanya menjadi pendengar setia Naz yang terus perang mulut sambil bercanda seolah memancing Nala untuk berkomentar, namun ia tetap diam tanpa kata. Begitu pun saat sampai di panti yang biasanya ia akan berlari dan berteriak memanggil mamanya dengan ceria, kini ia nampak lesu saat bertemu dengan mamanya pun langsung naik ke pangkuannya dan memeluk mamanya.
“Kalian darimana saja sih, kok lama banget bawa Nala nya?”, tanya Maira pada Naz dan Arfin yang tengah duduk di kursi tamu.
“Maaf ya kak, tadi kita bawa Nala ke kantornya Kak Arfin, dan Nala sempat menghilang,, eh ternyata dia sembunyi di mushola dan ketiduran di sana”, ucap Naz berterus terang.
“Apa? Ke kantor Arfin?”, tanya Maira terkejut.
“Iya Kak,,, maaf tadi aku hanya bilang ingin mengajak Nala jalan- jalan tanpa bilang tempatnya”, ucap Naz lagi.
“Apa Nala bertemu dengan ,,,,,”, belum selesai bicara datanglah ibunya Maira.
“Eh Nala sudah pulang toh, terimakasih ya sudah mengajak Nala bermain, Naz dan Nak Arfin,, maaf ya pasti dia sangat merepotkan kalian”, ucap Ibunya Maira yang kemudian duduk di sebelah Maira.
“Enggak kok Bu,,, mohon maaf ya kami ngajak mainnya kelamaan”, ucap Arfin.
Ibunya Maira tersenyum lalu mengusap- usap lengan Nala yang sedang dalam pelukan Maira, “Aduh... aduh,, Nala lengket banget tangannya, nanti gatal- gatal loh kena biang keringat,, mandi yuk sama iyang uti,,, “, Ajaknya pada Nala namun anaknya malah menolak dan semakin erat memeluk Maira, tapi lama- kelamaan setelah dibujuk akhirnya mau mandi, dan ibunya Maira pun membawa Nala ke belakang.
Sementara itu Naz dan Arfin pergi ke kamar Bude untuk menjenguk beliau yang menurut Maira kesehatannya semakin menurun, sedangkan Maira ditinggal duduk sendiri di ruang tamu.
"Chayaku,,, urusan soal pembalut belum selesai,,, kau harus menerima hukuman mu ya", Arfin berbisik di telinga Naz sambil berjalan menuju kamar Bude, sedangkan Naz membulatkan matanya merasa sedikit trauma mendengar kata hukuman.
Saat Maira berdiri hendak pergi ke kamarnya, tiba- tiba ia mendengar suara ketukan pintu, dan ia pun mengurungkan niatnya malah pergi ke depan berjalan dengan bantuan tongkat untuk membukakan pintu.
Tok tok tok ……. Tok tok tok …… orang tersebut terus mengetuk pintu karena tak kunjung mendapat sahutan atau pun ada yang membukakan pintu.
Ceklek ,,,,,, Maira membukakan pintu “Maaf dengan siapa ya?”, tanya Maira dengan pandangan mata yang lurus ke depan selayaknya orang buta pada umumnya.
“Ternyata kau masih berani untuk kembali”, ucap orang itu.
Maira yang mendengar suara itu langsung membulatkan matanya saking terkejutnya dengan raut wajah ketakutan.
----------------- TBC --------------
***************************
Siapakah yang datang menemui Maira? Kenapa dia begitu ketakutan mendengar suara orang itu ?
Nantikan episode selanjutnya,,,,, wakwaw…. 😉
Jangan lupa like, komen, vote, dan rate bintang 5….😘
__ADS_1