Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Raline Dan Pengakuan Arfin


__ADS_3

Sore hari di perkotaan identik dengan kemacetan yang membelah jalanan kota karena para pencari rupiah tengah selesai bekerja dan hendak pulang ke rumah masing- masing. Tak terkecuali mobil yang dikendarai Arfin pun ikut dalam rentetan kemacetan. Naz yang merasa gelisah karena takut terjadi sesuatu dengan Mama nya, terus menghubungi nomor Mama nya, namun tak kunjung mendapat jawaban. Ia pun menghubungi Raline, sama juga tidak dijawab pula padahal nomor kedua orang itu aktif, ke nomor telpon rumah pun tidak diangkat. Kemudian Naz menghubungi Elsa, yang ternyata sedang di rumah temannya, sehingga Naz tetap tidak bisa mendapatkan kabar tentang Mama nya, dan itu membuatnya semakin panik.


“Aa cepet dong bawa mobil nya,, aku takut banget Mama kenapa- kenapa”, Naz sudah mulai gelisah karena mengkhawatirkan Mama nya.


“Masih macet sayang,, mau gimana lagi? Mobil ini kan gak punya sayap jadi gak bisa terbang”, Arfin malah bergurau.”Coba kamu hubungi orang rumah lagi,, “, tambahnya memberi saran.


“Udah,,, tapi gak ada yang diangkat,,, pada kemana sih ART ada tiga masa gak ada satu pun yang mendengar suara deringan telpon rumah”, Naz menggerutu sambil terus mencoba menghubungi orang rumah.


“Sudah sayang,, kamu tenang jangan panik gitu, coba kamu telpon Papa atau Hardi… ini kan sudah sore, pasti mereka sudah pulang kerja”.


Saking paniknya Naz sampai tidak terpikir pada Papa dan kakak nya, ia pun segera menghubungi Papa nya, “Hallo assalamu’alaikum ,, Papa lagi di rumah gak?”, Naz langsung to the poin.


“Wa’alaikumsalam,,, Papa belum di rumah, ini baru mau jalan,, kenapa sayang kok kamu kedengarannya panik gitu?”.


“Papa,,, tadi Mama nelpon aku dan minta datang ke rumah,, tapi Mama ngomongnya sambil nangis, aku khawatir terjadi sesuatu sama Mama”.


“Apa?? Iya iya Papa akan segera pulang kalau gitu, udah dulu ya sayang Papa mau nyetir,,”.


“Iya Pa,,, hati- hati,,, “, ucapnya dan telponnya sudah terputus sebelum ia mengucapkan salam.


Naz menghela nafas kasar, “Papa juga belum di rumah,, ini Mas Hardi nomor nya gak aktif”, Naz yang sudah dipenuhi kekhawatiran sampai- sampai ia menangis.


“Udah sayang,, kamu jangan nangis gitu,,, bentar , Aa ngambil jalan alternatif ya biar gak kejebak macet dan cepat nyampe ya”, ucapnya lalu membelokan mobilnya ke jalur alternatif agar keluar dari kemacetan. Namun mereka berhenti dulu di sebuah masjid untuk shalat magrib, dan seusai itu mereka melanjutkan perjalanannya.


Akhirnya mereka sampai di kediaman orang tua Naz, seusai memarkirkan mobil di halaman depan rumah, mereka pun segera masuk ke dalam, Naz berlari meninggalkan suaminya menuju kamar Mama nya yang terletak di lantai dua, namun sayang saat dia masuk tidak menemukan keberadaan Mama nya di dalam kamar atau pun di kamar mandi. Naz kembali turun ke lantai bawah, dan di sana ia bertemu dengan salah satu asisten rumah tangganya.


“Bi,,, Mama dimana??”, tanya Naz yang semakin panik.


“Nyonya ada di kamar Non Raline, Non”, ucapnya memberitahukan ,kemudian Naz langsung berlari ke kamar Raline, sedangkan Arfin tak mengikutinya malah bergegas ke kamar mandi.


Ceklek ,,,


Naz membuka pintu dan tanpa permisi ia pun langsung masuk, ia terkejut melihat Mama nya tengah menangis di pinggir tempat tidur sambil duduk di lantai, dan Raline pun menangis di atas tempat tidur sambil memeluk kedua lututnya dengan mengenakan handuk di kepalanya seperti sudah keramas.


“Mama,,,”, teriaknya lalu menghampiri Mama nya, ia pun duduk di lantai di depan Mama nya, “Mama kenapa nangis,, Raline juga kenapa?”, tanya Naz, namun dari keduanya tak ada yang menjawab, Mama nya malah memeluk Naz dan terus menangis, “Mama kenapa? Jangan bikin aku panik kayak gini,,, apa Mama sakit?”, Naz terus bertanya dan Mama hanya menggelengkan kepala.


Selama beberapa saat Naz hanya memeluk Mama nya yang terus menangis, Naz pun terus mengusap punggung Mama nya untuk menenangkannya. Kemudian beliau melepaskan pelukannya.”Raline,,,, Raline,,, hiks hiks”.


“Raline kenapa, Ma”, Naz bertanya karena merasa bingung dan melihat Raline juga yang terus menangis.


“Raline hamil,,,, hhuhuhuhuhu”, ucap Bu Rahmi di sela tangisannya.


“Apa?? Raline hamil??”, Naz sangat terkejut mendengar perkataan Mama nya itu, ia pun kembali bertanya untuk memastikan jika ia tidak salah dengar, “Raline hamil Ma,,,? Bagaimana bisa?”.


“Dari tadi Mama terus bertanya, tapi dia tidak mau menjawab siapa ayah dari anak yang di kandungnya,, huhuhuhu”.


“Astagfirullah,, Raline”, Naz memandang Raline dengan tatapan sedih.


“Mama sudah gagal mendidiknya, hiks hiks,, Mama sudah gagal Naz,,, hiks hiks”, ucap beliau lalu berdiri dan mendekati Raline,


“Raline,,, katakan siapa yang sudah menghamili kamu,,? dia harus bertangung jawab,, Mama akan menemui orang itu,,, ayok katakan Nak, siapa orang itu??”, Bu Rahmi mempertanyakan pria yang sudah menghamili Raline, namun Raline hanya menangis dan tidak menjawabnya.


“Lihat Naz,, dari tadi dia seperti ini terus,, dia terus bungkam dan tidak mau mengatakan apa pun.. hiks hiks,,,”, ucapnya menoleh pada Naz sambil menunjuk Raline,


“Selama ini Mama sudah memberi mu kepercayaan penuh, Raline, karena biarpun kamu sering keluyuran pergi bersama teman- teman mu, kamu selalu bisa menjaga diri, kamu selalu mengatakan hal apa pun ada Mama, bahkan sampai saat ini pun kamu belum punya pacar dan tidak dekat dengan pria mana pun karena kamu ingin serius belajar, bagaimana bisa kamu hamil, Raline? Kenapa kamu menghianati kepercayaan Mama sama kamu !! hhhuhuhuhu”, Bu Rahmi sudah kehilangan batas kesabarannya, ia meneriaki Raline dan mendorongnya, hingga ia jatuh tersungkur di tempat tidur itu dan handuknya terlepas.


“Mama jangan bicara gitu,, kasihan Raline”, Naz merasa tak tega melihat kondisi Raline yang pastinya merasa terguncang karena ia hamil sebelum menikah.


Raline langsung bangun dan menghampiri Mama nya yang berdiri di samping tempat tidur, lalu ia memegang tangan Mama nya sambil berlutut di hadapan Mama nya,”Maafin Raline Ma,,, maafin Raline,,, hiks hiks”.


“Katakan siapa laki- laki yang sudah menghamili mu, Raline “, Bu Rahmi terus menanyakan pria tersebut.


“Apa?? Raline hamil??”, suara baritone itu mengagetkan ketiganya.


“Papa “, ketiganya serentak.


“Rahmi,,, tadi kamu bilang apa? Raline hamil??”, Pak Syarief kembali mengulang pertanyaannya.


Bu Rahmi yang masih terkejut dengan kedatangan suaminya, hanya diam membisu, ia takut jika suaminya akan sangat marah pada Raline.


“Kenapa kamu malah diam??”, Pak Syarief kemudian beralih pada Raline yang sedang berlutut,


”Raline,,, apa benar kamu hamil??”, Raline hanya menunduk dan terus menangis. “Jawab Raline !!”, teriak Pak Syarief.

__ADS_1


Naz langsung memegang lengan Pak Syarief, “Papa,,, jangan bentak Raline seperti itu, Papa bisa kan nanya baik- baik, kasihan dari tadi dia nangis terus,,,”, Naz berusaha meredam kemarahan Pak Syarief yang sudah nampak geram.


“Siapa yang sudah menghamili kamu, Raline?”, Pak Syarief nampak menahan amarahnya, namun Raline tetap tidak mengatakan apa- apa,, hanya terus menangis saja. Bu Rahmi membantunya untuk berdiri. “Katakan siapa laki- laki itu, Raline ”, Pak Syarief mengulang perkatannya, namun Raline tetap membungkam mulutnya. Pak Syarief melepaskan tangan Naz dari tangannya, lalu beliau mendekati Raline dan mencengkram tangannya, “Sini kamu ”, ucapnya lalu menyeret Raline keluar dari kamar nya.


“Papa,,,!!”, seru Naz lalu mengikuti mereka.


“Papa,, Raline mau dibawa kemana,, jangan sakiti dia, Pa”, Bu Rahmi pun mengikuti suaminya yang menyeret Raline karena beliau takut suaminya akan menyakiti Raline.


Raline diseret dan dibawa ke ruang tengah


Plakk,,, satu tamparan mendarat di pipi kanan Raline yang membuatnya jatuh ke atas sofa.


“Papa,,”. Teriak Naz dan Bu Rahmi terkejut, Arfin pun yang baru kembali dari kamar mandi langsung menghampiri mereka di ruang tengah. Bu Rahmi langsung menghampiri Raline yang tersungkur di atas sofa dan langsung memeluknya dan duduk bersamanya, sedangkan Naz berdiri di samping Papa nya karena takut jika Papa nya akan menampar lagi atau bahkan memukul Raline.


“Kami membesarkan mu dengan penuh kasih sayang, bahkan kami sangat memanjakan mu, walaupun kamu melakukan kesalahan sebesar apa pun sampai hampir merenggut nyawa Naz, kami masih bisa memaafkan dan mentolelir kamu, Raline,,, tapi sekarang kamu malah membuat aib yang akan mencoreng nama baik keluarga ”, Pak Syarief mulai marah.


“Maafin aku Pa,,,, aku minta maaf,,, hiks hiks”, Hanya kata itu yang keluar dai mulutnya.


“Kami memberi kepercayaan penuh sama kamu, tapi kenapa kamu malah seperti ini? Benar- benar memalukan!!”, Pak Syarief benar- benar marah, “Buah jatuh memang tidak jauh dari pohonnya, kenapa kamu mengikuti jejak ibu mu?”, ucap beliau meneriaki Raline.


“Papa,,, cukup,,!!”, kini Naz yang meneriaki Papa nya, karena ia tidak pernah suka jika ada orang yang menghina Bu Mira yang sudah ia anggap sebagai Ibunya sendiri.


“Sekarang kamu pilih Raline, kamu katakan siapa lelaki yang sudah menghamili kamu atau gugurkan kandungan mu”, Pak Syarief memberi pilihan.


“Papa,,,,,!! “, seru Naz dan Bu Rahmi.


“Jika tidak,, kamu harus angkat kaki dari rumah ini, Raline!!”, kini ancaman yang keluar.


“Ada apa ini Pa? kenapa Raline sama Mama nangis gitu?”, Hardi yang baru datang langsung melemparkan pertanyaan melihat situasi di ruang tengah itu.


“Tanyakan pada anak tidak tahu diri itu”, Pak Syarif menjawab sambil menunjuk ke arah Raline.


“Ada apa ini Ma,,, Naz,, Raline?”, Hardi kembali bertanya.


“Raline hamil,,, hiks hiks“, ucap Bu Rahmi.


“Apa?? Bagaimana bisa?”, Hardi juga ikut terkejut mendengarnya lalu ia menghampiri Mamanya dan Raline.


“Tanyakan sendiri pada nya,, sejak tadi dia tidak mau mengatakan siapa lelaki yang sudah menghamilinya”, ucap Pak Syarief kesal.


“Jawab Raline,,, sebelum kesabaran Papa habis,, siapa yang sudah menghamili kamu?”, Pak Syarief kembali berteriak.


Raline kemudian melepaskan diri dari pelukan Mama nya, saat ia duduk tegak ia merasa terkejut dengan kehadiran seseorang, pandangannya tertuju pada orang yang tengah berdiri itu, lalu ia mengangkat tangannya dan menunjuk pada orang tersebut sambil berderai air mata.


Semua orang melihat ke arah orang yang di tunjuk Raline, mereka sangat terkejut dan tidak percaya melihat orang yang di tunjuk Raline.


“Arfin….??”, ucap Pak Syarief, Bu Rahmi dan Hardi serentak.


Naz langsung membekap mulutnya karena merasa sangat terkejut dan tidak percaya jika suaminya yang menghamili Raline, seolah ia menerima goncangan yang sangat dahsyat, dadanya terasa sesak, hatinya seakan dicabik- cabik dan tubuhnya pun terasa lemas, air matanya pun bercucuran begitu saja. Naz menggelengkan kepalanya lalu ia beranjak pergi dan berlari meuju keluar rumah, Arfin pun segera mengejarnya. Tanpa Naz sadari ia keluar lewat pintu samping bukannya pintu depan, yang ia tahu hanya ingin lari dari tempat itu.


“Sayang,,, tunggu”, Arfin terus mengejarnya, hingga langkah Naz terhenti di depan dinding benteng rumah, ia mengedarkan pandangan mecari sesuatu.


“Pintu gerbangnya dimana sih? Kenapa aku lari ke sini?” gumamnya dalam hati.


Grep ,,, Arfin langsung memeluk Naz dari belakang,.


“Lepas,,, lepaskan aku ,”, Naz berontak untuk melepaskan diri dari pelukan suaminya itu, “Lepaskan tangan kotor mu itu dari tubuh ku!!”, teriak Naz lalu ia menginjak kaki suaminya, dan Arfin pun melepaskan pelukannya. “Pergi,,,, pergi,,, hiks hiks,, aku benci sama kamu,, aku benci,, hiks hiks”, Naz menunjuk ke sembarang arah.


“Sayang,,, tolong dengarkan aku”. Arfin bicara dengan lemah lembut.


“Jangan panggil aku sayang dengan mulut kotor mu itu,,hiks hiks,,, mau bicara apa lagi hah,, hiks hiks,,, malam itu aku melihat dengan mata kepala ku sendiri kamu menggendong Raline dan membaringkannya ke tempat tidur,, hiks hiks,,, aku mencoba menutup mata dan percaya pada mu,,, tapi apa hah?? Ternyata kamu bisa setega itu menghianatiku dan tidur dengan perempuan lain di rumah kita sendiri, apalagi dia adalah saudari ku sendiri,, hiks hiks hiks”.


“Saat itu kamu bilang sudah minum obat dan sebentar lagi bereaksi, aku menunggu mu dengan gelisah di kamar,,, ternyata kamu malah tidur dengan wanita lain, hiks hiks hiks,,, pantas saja saat itu kamu tiba- tiba perhatian pada Raline,,, tega kamu,, tega,,, hiks hiks hiks”, Naz mengutarakan apa yang ia pikirkan selama ini sambil berderai air mata.


“Naz, aku mohon kamu dengar dulu penjelasanku”, Arfin terus melangkah mendekati Naz, sedangkan ia terus melangkah mundur hingga tubuhnya mentok pada tembok benteng rumah itu.


“Penjelasan apa lagi? Tentang semua kebohongan mu aku sudah tahu semuanya,, hiks hiks hiks,,, apa karena ini, setelah malam itu kamu tidak pernah menyentuh ku lagi,, apa karena ini setiap malam kau selalu meminta maaf bahkan sampai menangis? apa itu karena Raline? Hiks hiks,,, huhuhuhu”, Naz terus menangis.


Arfin merasa terkejut dengan apa yang dilontarkan Naz, ia berlutut kemudian memeluk kaki Naz, “Maafkan aku Naz,,,Maafkan Aku”, lirihnya.


Naz kembali membekap mulutnya melihat Arfin yang meminta maaf seakan ia mengakui kesalahannya.


“Tega kamu ya,,, kenapa kamu setega ini,,,? kenapa kamu menghianatiku padahal kita belum sebulan menikah,, hiks hiks,, kenapa kau menikahiku jika hanya ingin menyakitiku,,, hiks hiks,,, huhuhu”.

__ADS_1


“Maafkan aku,,, Maafkan aku sayang”, Arfin terus meminta maaf dengan penuh penyesalan.


“Lepaskan aku,,, lepaskan,,,”, Naz berusaha melepaskan kakinya dari pelukan Arfin, namun ia malah semakin mengeratkan pelukannya.


“Aku benar- benar minta maaf,, aku tepaksa membohongimu,, aku takut jika kamu akan meninggalkan ku jika kamu tahu yang sebenarnya”,Arfin mulai mengakui kesalahannya.


“Aku memang akan meninggalkan mu,,, kamu harus bertanggung jawab atas apa yang telah kamu lakukan pada Raline,, hiks hiks”, ucapnya dengan penuh rasa sakit di hatinya.


“Gak,, aku gak akan pernah ninggalin kamu,, aku sangat mencintai mu, Naz,,, aku gak mau kehilangan kamu”.


“Bohong,,, semua itu bohong,,, semua yang kau katakan isinya bohong semua,,, kalau kau mencintaiku, kenapa dengan teganya kau menghianatiku sampai meghamili Raline ?”, teriak Naz .


Arfin tertegun mendengar perkataan terakhir Naz, “ Aku berani bersumpah demi apa pun, bukan aku yang menghamili Raline, bukan aku, Naz,” ucapnya meyakinkan Naz.


“Jangan pernah bersumpah untuk kebohongan mu hiks hiks,,, kalau bukan kamu, kenapa tadi Raline menunjuk ke arah mu saat Papa menanyakan siapa lelaki yang menghamilinya, hah?? Hiks hiks”, Naz tidak percaya dengan perkataan suaminya.


“Aku tidak tahu apa maksud Raline seperti itu, demi Tuhan bukan aku yang menghamili Raline,, aku bahkan tidak pernah menyentuhnya sama sekali,, bukan aku, Naz”, Arfin terus meyakinkan Naz.


“Jangan membuat sumpah palsu atas nama Tuhan,,, kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu,, hiks hiks,,, kamu sudah banyak membohongi ku,,, hiks hiks,, di benak ku terus bertanya- tanya kenapa kamu seolah menghindariku, kamu tidak pernah menyentuh ku lagi,, hiks hiks,,, kamu pura- pura pulang larut malam padahal kamu sudah pulang sejak sore,, bahkan kamu berdiam diri di kamar tamu,,, kenapa? Apa kamar itu begitu berarti untuk mu,,,? karena di kamar itu kamu meniduri Raline sampai dia hamil,, iya kan ,, hiks hiks”, Naz mengutarakan apa yang ia ketahui dan ia pendam selama beberapa hari ini.


“Enggak Naz ,, itu semua gak benar,, aku bersumpah aku tidak ada hubungan apa pun dengan Raline bahkan sampai tidur dengannya apalagi sampai menghamilinya, aku bersumpah ,, bukan aku”, Arfin terus bersumpah dan mengeratkan pelukannya.


“Bohong,,,!! aku sudah tidak percaya lagi pada semua ucapan mu, hiks hiks”, Naz terus berontak berusaha melepaskan pelukan suaminya itu.


“Bagaimana bisa aku menghamili wanita lain sedangkan menghamili istriku saja aku tidak bisa”, ucapnya dengan terisak.


Kini Naz yang tertegun mendengar perkataan Arfin, “Apa maksud mu?”.


“Aku belum sembuh Naz,, aku belum sembuh…”, Arfin mengakui hal yang ia sembunyikan dari istrinya sambil terisak.


“Apa??? Kebohongan apa lagi ini? Bukannya sebulan sebelum menikah kamu bilang sudah sembuh”, Naz masih tidak bisa mempercayai perkataan suaminya.


“Iya,, bahkan sampai kita tiba di Surabaya pun aku masih normal,, tapi setelah itu,, sudah tidak berfungsi lagi,, aku kembali menemui dokter untuk berkonsultasi lagi dan dokter bilang itu disebabkan karena aku terlalu banyak pikiran, kecapean dan stress dengan pekerjanku di kantor, aku tidak berani bilang padamu,, aku takut kamu menyesal menikah dengan ku,, aku takut kamu meninggalkan ku, mafkan aku,,,, maafkan aku”, lirihnya.


“Apa??,,, “, Naz yang sedari tadi diliputi amarah, kini menjadi luluh mendengar pengakuan suaminya, ia masih tak percaya, “Lalu kenapa malam itu aku melihat kamu menggendong Raline dan membaringkannya ke tempat tidur?”, Naz kembali mempertanyankan apa yang pernah ia lihat di rumahnya saat keluarganya menginap di sana.


“Waktu itu aku baru selesai menelpon Bang Evan, ada yang membuka pintu kamar lalu terdengar suara orang jatuh,,, aku tidak tahu kalau itu kamar yang ditempati Raline, dan ternyata ia pingsan. Aku sudah berusaha menyadarkannya tapi ia tak bangun, akhirnya aku menggendongnya dan membaringkannya ke tempat tidur,, tapi saat itu aku sengaja membiarkan pintunya terbuka supaya tidak menimbulkan fitnah”, Arfin memberi penjelasan.


“Lalu kenapa saat aku kembali dari dapur pintunya tertutup? Hiks hiks”.


“Setelah membaringkan Raline, Hardi menelpon kalau dia nyasar dan gak tau jalan pulang setelah dari mini market, dia kehabisan data internetnya dan juga dompetnya tertinggal di kamarnya, makanya aku langsung pergi keluar lalu menutup pintu kamar Raline dari luar, aku langsung pergi diantar sopir untuk nyamperin Hardi,, aku benar- benar minta maaf Naz,,”.


Naz melepaskan tangan Arfin yang melingkar di paha nya, lalu ia menurunkan tubuhnya dan memeluk suaminya.


“Maafkan aku Naz,, maafkan aku, sudah tidak jujur pada mu, aku takut kamu meninggalkan ku,, aku benar- benar takut”, Arfin kini yang menangis di pelukan Naz, ia tak berkata apa pun melihat suaminya yang begitu sedih dan takut kehilangan dirinya.


Setelah Naz melihat suaminya yang sudah mulai tenang ia pun melepaskan pelukannya, kemudian keduanya duduk di atas rerumputan dengan saling berhadapan. Naz memegang kedua tangan suaminya, "Kenapa Aa gak berterus terang soal itu? Apa Aa masih meragukan cintaku padamu?”, Naz mulai bertanya lagi.


“Aku tidak pernah meragukan cinta mu, justru karena aku takut tidak bisa membahagiakanmu yang membuatku takut kamu akan meninggalkan ku”, jawabnya sambil menunduk.


“Aku sudah bilang saat aku mengetahui hal itu bahwa aku akan menerimamu bagaimana pun keadaan mu dan akan berjuang bersama untuk kesembuhan mu, kenapa masih menyembunyikannya dari ku? ”, tanya naz yang sudah berhenti menangis.


“Maafkan aku, saat itu aku pikir sudah sembuh total tapi ternyata malah kembali seperti itu lagi, aku tidak ingin membebani pikiran mu akan hal itu,, jadi aku menemui dokter diam- diam, lalu aku mulai mengkonsumsi obat yang diresepkan dokter, dan saat malam itu aku baru mencobanya,, aku pikir akan berhasil ternyata tidak berefek sama sekali”.


”Bukankah malam itu kita sudah melakukannya?”, Naz kembali bertanya.


“Apa saat itu kamu merasakan sakit di bagian itu?”, Arfin malah kembali bertanya, dan Naz pun menggelengkan kepalanya, “Saat itu aku melihatmu menginginkannya, aku hanya membantumu meluapkan hasratmu, dokter bilang dengan sering berhubungan itu juga dapat memicu kesembuhan, tapi saat itu sekuat apa pun aku berusaha tetap tidak bisa ereksi, aku hanya menempelkan dan menggesekannya saja untuk membantumu org*sme karena milikku tak kunjung ereksi, makanya setelah itu kepala ku terasa sakit, hasrat sudah diubun- ubun tapi tidak ereksi,, ”, Arfin menjelaskan apa yang terjadi malam itu.


“Lalu kenapa Aa pura- pura pulang larut malam, padahal Aa pulang sore saat aku masih di rumah Tante Ina dan malah diam di kamar tamu?”.


“Aku menghindari mu, karena aku takut kamu kembali menginginkannya sedangkan aku tak bisa memenuhi tugas ku sebagai suami untuk memberikan mu nafkah batin,, Dan selama dua hari itu aku meminum obat saat jam pulang kerja, tapi hingga malam pun tak ada reaksi sama sekali, makanya aku menyibukan diri di kantor, Tapi setelah dua hari itu aku mengetahui kebiasaan mu yang suka ke rumah Tante Ina dan pulang sehabis magrib, aku memutuskan untuk pulang lebih awal sebelum kamu pulang ke rumah karena aku takut jika minum obat di kantor akan bereaksi sebelum aku pulang, dan aku meminta Mbak Jumin menyiapkan kamar tamu untukku dan merahasiakannya dari mu sehingga aku isa masuk kamar setelah kamu tertidur lelap, sedangkan sopir akan datang membawa mobilku saat larut malam. Selama itu aku terus minum obat, tapi tak ada reaksi sama sekali, maafkan aku,, maafkan aku,,, aku tak pernah menyentuhmu bukan karena tidak mencintaimu lagi, tapi aku takut hanya akan membuat mu tersiksa”, Arfin terus menundukkan kepalanya.


Naz menggenggam kedua tangan suaminya, “Dengar,, mulai sekarang kita akan berjuang bersama untuk kesembuhan mu, kalau perlu kita akan menemui dokter yang lebih bagus dari doktermu sebelumnya, bahkan kalau perlu kita berobat keluar negeri dan berjanjilah jangan pernah menyembunyikan apa pun dari ku lagi,,, aku tidak ingin diantara kita ada kesalahpahaman seperti ini lagi”, ucapnya dan Arfin pun menegakkan kepalanya membuat keduanya saling memandang, lalu keduanya kembali saling berpelukan.


Tiba- tiba Bi Surti datang menghampiri mereka dengan nafas ngos- ngosan karena habis berlari, “Maaf Non,,, “, mendengar suara Bi Surti, keduanya langsung melepas pelukannya “Maaf Non,, itu Pak Syarief ngamuk, den Hardi gak bisa menghentikannya”, ucapnya melapor.


“Apa?? Papa ngamuk?”, tanya Naz kaget, “Ya ampun Raline,,,,”, Naz langsung berdiri begitu juga Arfin, mereka bergegas masuk kembali ke dalam rumah.


---------------- TBC ----------------


*********************************


Happy Reading😉

__ADS_1


Jangan luva tinggalkan jejak mu,,,😉


Tilimikicih Aylapyu oll,,,,😘😘


__ADS_2