
Ceklek ...
Tiba- tiba ada yang membuka pintu kamar mandi dari luar, yang kemudian si pembuka pintu langsung masuk begitu saja dengan nafas terengah- engah.
Pluk …
Seketika tespack yang tengah dipegang Naz jatuh ke lantai dan tepat didepan kaki si pembuka pintu, saking terkejutnya Naz yang sedang membayangkan reaksi suaminya jika mengetahui tentang kehamilannya.
“Magu !“ teriak si pembuka pintu yang ternyata adalah Cahaya yang kemudian berlari dan kakinya tak sengaja menendang tespack yang entah terlempar ke arah mana. Ia menghampiri lalu memeluk Naz yang tengah duduk di atas kloset.
“Magu … kata Mak Eno cakit, Magu cakit apa?” tanya Cahaya yang menghawatirkan Magu-nya.
“Magu gak apa- apa kok sayang, cuma sakit kepala aja.” Naz melepaskan putrinya dari pelukannya perlahan. “Ayok kita keluar,” ajaknya lalu bangkit dari duduknya.
“Ayok … Chaya bantu Magu jalan ya,” ucapnya macam orang dewasa saja yang bisa memapah Magu- nya.
Naz pun berjalan pelan sambil dituntun oleh Cahaya keluar dari kamar mandi hingga kembali ke atas tempat tidur. Naz duduk selonjoran dengan tubuh bersandar pada sandaran tempat tidur, beralaskan bantal di belakang tubuhnya.
“Magu bobo aja ya, bial cakitnya cepet syembuh,” ucapnya sambil mengusap tangan Magu-nya.
“Iya sayangku, anak Magu ini sudah besar ternyata ya. Perhatian banget sama Magu … terimakasih sayangku sini naik.” Naz meminta Cahaya naik ke atas tempat tidur, dan ia pun naik lalu duduk di samping Magu-nya.
“Syama- syama.”
Naz memeluk putrinya, lalu mengusap usap kepalanya. Pandangannya berarah pea kaki putrinya. “Loh … lutut Cahaya kenapa itu di plester?” tanya Naz pada putrinya.
“Tadi Chaya ngantelin Onty Aliya pulang syama Mak Eno,” jawab Cahaya.
“Loh, kok dianterin pulang … Bukannya lagi main di luar sama Cahaya?” Naz kembali bertanya.
“Kata Onty Aliya mau ke lumah eyangnya. Telus kata Pa Uje anak kicil ndak boleh pegi sendili sendili nanti bisa diculik, jadi Chaya anterin Onty.” Cahaya menceritakan detailnya.
“Wah, baik sekali anak Magu ini. Terus kenapa kakinya bisa luka?” tanyanya lagi, karena belum mendapatkan jawaban mengenai kaki Cahaya yang diplester.
“Tadi Chaya jatuh keselepet.” Akhirnya ia mengatakan penyebab lututnya terluka.
“Hah, keserempet? Keserempet motor atau sepeda, Nak?” Naz terkejut mendengarnya.
“No no no… Chaya keselepet sendili, Magu,” ucapnya dengan menggoyangkan jari telunjuknya.
“Hah … Maksudnya keserempet sendiri gimana?” tanya Naz yang merasa bingung.
“Tadi kan pas jalan ada pasir, telus keselepet deh kaki Chaya nya, jadi jatuh ….”
“Oh … itu namanya kepeleset, bukan keselepet.” Naz membenarkan perkataan putrinya.
“Ops … Chaya luva,” ucapnya lalu terkekeh. “Pas Chaya jatuh ada tetangganya onty Aliya, namanya Azka, ngetawain Chaya. Telus Chaya pelototin, eh dia malah nangis. Chaya aja jatuh ndak nangis, Chaya kan kuat kata Pagu ndak boleh cengeng,” ucapnya melapor pada Magu-nya.
“Wah … hebat ya anak Magu ini emang jagoan dan gak gampang nangis,” ucapnya memuji sang putri.
“Tapi Magu- nya Azka malah sama Chaya, padahal kan ndak diapa-apain. Telus Magu-nya melotot ke Chaya sambil bilang kamu apain anak saya?” Cahaya menjabarkan.
“Terus Cahaya jawab apa?” tanya Naz lagi.
“Meneketehe….” ucapnya mengedikkan bahu.
“Apa … Cahaya bilang gitu?” Naz nampak terkejut mendengarnya.
“Iya,” ucapnya menganggukkan kepala.
“Cahaya, kalau bicara sama orang tua gak boleh gitu, harus sopan, Nak” ucapnya menasehati sang putri.
“Tapi kan Magu juga bilang gitu ke Pagu.” Ternyata ia meniru perkataan Magu-nya.
Naz terkejut mendengar perkataan Cahaya yang ternyata suka mengikuti perkataan orang yang ia dengar. “Emmm … Magu gak akan bilang kayak gitu lagi ya. Jadi Cahaya juga gak boleh bilang gitu ya sama orang lain, apalagi sama orang tua,” ucapnya memberi pemahaman.
“Iya,” jawabnya mengangguk.
“Oh iya, Pagu kemana? Tadi kata Mbak Jumin, Cahaya lagi main sepeda sama Pagu,” tanyanya.
“Pagu lagi nelpon Engki, tadi juga Chaya bicala syama Engki. Disana ada Kak Nala sama dedek bayi … Chaya pengen ke lumah Engki,” pintanya.
“Iya, nanti kita ke rumah Engki ya.” Naz mengiyakan keinginan sang putri.
“Kenapa ndak sekalang?” tanyanya protes.
“Kan rumah Engki jauh, kalau kita mau kesana harus naik pesawat."
“Kenapa kita jauh, kan semuanya disana? Chaya kan pengen main syama Kak Nala, dedek bayi, Kak Ekal. Disini mainnya sama Magu atau Mak Eno telus,” ucapnya mengeluh.
“Pagu kan kerjanya disini, jadi kita ikut tinggal sama pagu disini. Kasihan kan kalau kita di Jakarta, sedangkan pagu sendirian disini. Lagi pula sebentar lagi Cahaya sekolah, nanti juga banyak temannya, jadi gak akan kesepian atau bosan main sendirian lagi.” Naz memberi penjelasan.
“Chaya mau syekolah sepelti Magu gitu ke kempus?” tanyanya seolah sekolah itu sama dengan kuliah.
“Kampus sayang, bukan kempus.” Naz meralat perkataan putrinya. “ Cahaya nanti sekolahnya beda sama sekolah Magu. Kalau di sekolah Cahaya nanti banyak teman, ada ibu guru, banyak mainan juga,” ucapnya memberi gambaran.
“Di syekolah ada dedek bayi juga?” Cahaya membahas terus soal dedek bayi, seolah dia tahu jika sebentar lagi ia akan memilik adik.
Naz terkekeh mendengar pertanyaan sang anak. “Gak ada, sayang… Teman- teman di sekolah nanti itu seumuran sama Cahaya. Emmm … memangnya Cahaya pengen punya dede bayi gitu?” Terlintas di pikiran Naz untuk menanyakan hal itu.
“Mau mau mau … Chaya mau punya dedek bayi. Nanti Chaya tanya ke Kak Nala ya, dedek bayi nya beli dimana,” ucapnya dengan polosnya. Ternyata dede bayi dipikirannya sama dengan mainan yang bisa dibeli.
Naz terkekeh mendengar kepolosan putrinya. “Dedek bayi itu bukan dibeli, sayang. Tapi dibikin, ” ucapnya lalu tertawa.
“Hah … Bikinnya gimana?” tanya Cahaya bingung.
“Yassalam, kenapa ini mulut bisa keceplosan gini … Ini anak kan suka meniru omongan orang lain,” gumam Naz dalam hati yang mengerutuki kesalahannya yang sudah keceplosan.
“Eng … kalau Cahaya pengen punya dedek bayi, Cahaya harus mulai melakukan segala hal sendiri. Misalnya, makan sendiri jangan disuapin lagi, mandi sendiri, pakai baju sendiri, pakai sepatu sendiri, bobok juga sendiri."
“Kenapa halus melakukan sendili? Kan ada Mak Eno syama Magu.” Cahaya sudah terbiasa dengan bantuan Magu dan ART nya.
“Kan Cahaya sudah besar jadi harus belajar mandiri. Apalagi kalau punya dedek bayi, berarti Cahaya akan menjadi seorang kakak. Nantinya harus menjaga adik bayi nya.” Naz memberi pemahaman.
“Telus bikin adik bayi nya gimana?” tanya nya yang masih penasaran.
“Eng … maksudnya bukan bikin, tapi kalau Cahaya pengen punya dedek bayi, Cahaya harus sering berdoa sama Allah tiap habis shalat. Supaya nanti Allah ngasih dede bayi yang nantinya dikirim ke perut Magu dan lahir dari perut Magu, sayang. Magu kan pernah bilang kalau semua makhluk hidup di dunia ini beserta isinya adalah ciptaan Allah.” Naz menjelaskan sekaligus mengajarkan anaknya agar sering berdoa.
“Kenapa ke pelut Magu, ndak ke pelut Chaya?” tanya Cahaya dengan polosnya.
__ADS_1
Naz terkekeh melihat betapa polosnya anaknya itu. Ia berpikir sejenak untuk memberi penjelasan yang mudah dimengerti oleh anak seusia Cahaya.
“Dede bayi itu kan dikirim sama Allah ke perut ibu- ibu yang sudah menikah. Magu kan ibunya Cahaya, jadi nanti dedek bayi nya dikirim ke perut Magu untuk jadi adiknya Cahaya,” ucapnya.
“Menikah itu apa?” Cahaya terus menanyakan apa yang diucapkan oleh Naz, yang membuatnya ingin tahu artinya.
“Eng … menikah itu seperti Magu dan Pagu bersatu terus punya Cahaya deh,” ucap Naz yang mulai kehabisan kata unyuk menjelaskan.
“Hah ?” Cahaya semakin terlihat bingung.
“Yasalam … ini setiap aku ngomong kok ada aja yang ditanyai dia, kritis banget sih nih anak. Kalau semakin aku ngomong, pasti semakin banyak tanya artinya. Bisa- bisa kena tipes aku mikir keras buat mencari jawaban pas buat anak kecil,” gumamnya dalam hati.
“Udah gak usah dipikirin. Menikah itu urusan orang dewasa yang badannya sudah besar, tinggi. Kalau Cahaya kan masih kecil, jadi belum boleh membicarakan soal menikah ya,” ucapnya menghentikan sang putri, yang pastinya akan terus bertanya tentang hal yang ia dengar atau pun kata yang menurutnya asing.
“Loh, tadi kan kita bahas soal berdoa sama Allah, karena Cahaya ingin minta dedek bayi.” Naz mengajak Cahaya kembali ke pembahasan awal.
“Oh iya … tapi tapi, nanti dedek bayinya lucu kan sepelti dedeknya Kaka Nala?” tanyanya memastikan.
“Tentu saja, sayang … kamu saja lucu, apalagi nanti dedek bayi,“ jawabnya lalu terkekeh karena merasa gemas pada sang putri.
“Kalo gitu Chaya mau shalat dulu,” ucapnya dengan semangat. Ia hendak turun dari tempat tidur.
“Shalat apa sayang? ini baru jam 11 siang, belum waktunya shalat. Mending mandi dulu ya, Cahaya bau acem badannya lengket sama keringat nih.”
“Mangu Mangu …. ” Cahaya kembali memplesetkan panggilannya.
“Iya, kenapa sayang?” tanyanya.
“Kok hengpon Pagu- Magu ndak syama sama hengpon Chaya?” ia teringat dengan ponsel yang tuanya yang suka dipkai menghubungi keluarganya di Jakarta.
“Ya beda lah, kan kalau handphone Pagu- Magu khusus untuk orang dewasa. Karena Cahaya masih kecil, jadi handphone nya beda,” ucapnya memberi penjelasan.
“Tapi tapi, bagus punya Chaya ah … kalo hengpon Pagu- Magu kaca semua, ndak ada pencet- pencetnya. Kalo hengpon Chaya kan bagus, kalo dipencet nanti ada suara auk auk auk auk aylapyu,” ucapnya menirukan suara dari handphone mainannya.
“Hahahaha … iya iya bagusan handphone nya Cahaya kok. Kalau gitu Cahaya mandi dulu ya, tapi sama Mbak Eno. Soalnya Magu masih sakit kepala,” ucap Naz membujuk sang putri untuk mandi, dan ia pun bersedia.
Naz menelpon Mbak Retno untuk menjemput Cahaya dari kamarnya. Tak lama Mbak Retno pun datang dan segera membawa Cahaya ke kamarnya yang berada di sebelah kamar Naz untuk memandikannya di sana.
Sementara itu, Naz membaringkan tubuhnya karena kepalanya masih terasa pusing. Dan tak terasa ia pun kembali tidur.
**
Naz terbangun saat ada tangan yang mengelus lembut kepalanya, ternyata itu adalah suaminya yang duduk di pinggiran tempat tidur tepat di sebelah Naz.
“Emhh … jam berapa sekarang?” tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.
“Setengah satu,” jawabnya sambil tersenyum.
“Oh, ya ampun … Seharian ini aku tidur terus,” ucapnya yang masih mengumpulkan kesadarannya, lalu bangkit dan duduk.
”Kamu udah enakan, sayang?” Arfin menanyakan keadaan sang istri.
“Udah enakan kok, pusingnya juga sudah mereda. Cahaya mana?” Naz teringat pada putrinya yang sebelumnya disuruh mandi.
“Tuh … di sebelah kamu.” Arfin menunjuk ke arah Cahaya yang sedang tidur pulas di tengah ranjang tepat di sebelah Naz. “Setelah makan, dia pengen bobo siang sama Magu katanya.”
“Maaf sayangku … seharian ini Magu gak bisa nemenin kamu main. Kayaknya kamu capek banget ya, sampai ngorok gitu bobonya,” ucapnya lalu kembali tersenyum.
Naz mendekatkan wajahnya pada wajah sang anak. Ia mencium kening putrinya, lalu kembali menegakkan tubuhnya dan beralih pada sang suami.
“Aa, Cahaya kan sudah besar. Eng … apa gak sebaiknya kita ngasih adik buat Cahaya?” tanya Naz dengan hati- hati. Ini sebagai langkahnya untuk memberitahukan tentang kehamilannya pada suaminya.
“Sayang … kita kan sudah membahas soal itu dulu, dan kita sudah memutuskan untuk tidak memiliki anak lagi. Cahaya saja sudah sangat melengkapi kebahagiaan kita, jadi gak perlu kita nambah anak lagi,” ucapnya tetap menolak untuk punya anak lagi.
“Kasihan kan dia, tadi saja mengeluh gak punya teman di sini dan bosan hanya bisa main dengan ku atau dengan Mbak Retno saja. Malah dia bilang engen ke rumah engki, karena di sana ada Nala dan adik bayinya. Kalau dia punya adik, dia gak akan merasa kesepian, kan.”
“Sebentar lagi Cahaya sekolah, nanti juga dia bisa punya banyak teman yang satu sekolah dengannya. Sudahlah sayang, jangan bahas soal nambah anak lagi deh,” Arfin masih tetap dengan pendiriannya.
“Mendingan kamu shalat dulu gih … terus kita makan bareng, Aa udah lapar,” ucapnya yang kemudian bangkit dan beranjak pergi.
Naz terus memandangi punggung suaminya hingga ia keluar dari pintu kamar. Naz merasa bingung sekaligus takut untuk mengatakan tentang kehamilannya, karena baru mengatakan rencana menambah anak saja sudah membuat suaminya nampak kesal. Ia menghela nafas panjang, kemudian bangkit dari tempat tidur untuk pergi ke kamar mandi.
Setelah mandi dan shalat, ia keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah ruang makan. Di sana sang suami sudah menunggunya untuk makan bersama. Keduanya pun makan tanpa bicara, seolah ada kecanggungan diantara mereka.
**
Saat magrib tiba, Arfin bersama anak dan istrinya serta para ART melaksanakan shalat berjama’ah di mushola yang ada di rumahnya. Setelah selesai shalat, masing- masing memanjatkan doa pada sang Maha Kuasa, tak terkecuali Cahaya.
Cahaya yang biasanya menggangu orang tuanya saat sedang shalat, kini nampak berbeda. Ia mengikuti setiap gerakan shalat yang di imami oleh Pagu- nya, walaupun badannya terus saja bergoyang- goyang dan kepalanya menoleh kesana kemari.
Namun saat sesi doa, ia nampak berdoa dengan khusyu sesuai yang dianjurkan Magu-nya. Kedua tangannya diangkat hingga sejajar dengan dadanya, sambil menatap ke langit- langit.
“Ya Allah … Chaya pengen punya dedek bayi sepelti dedeknya kak Nala. Tapi halus yang lucu ya, kalo bisa lebih lucu dari dedek bayi nya kak Nala. Telus ndak boleh nakal sepelti kak Ekal, dan ndak suka nangis sepelti si Azka cengeng itu loh,” ucapnya memanjatkan doa, seolah sedang ngobrol dengan temannya.
Arfin yang terkejut mendengar ucapan putrinya, langsung menoleh ke belakang. Namun, bukannya melihat ke arah Cahaya, ia malah menatap tajam pada istrinya.
“Ya Allah … Chaya janji akan jadi anak baik kalau punya dedek bayi. Chaya ndak akan nakal lagi, ndak akan jahilin Mak Eno sama Magu lagi. Kabulkan ya Ya Allah … Kalau bisya besok dedek bayinya sudah ada, bial Chaya ndak kesepian lagi, Aamiin ….” Cahaya kemudian mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajahnya.
“Aamiin,” ucap kedua ART mengamini doanya Cahaya. Kemudian keduanya tersenyum dan nampak menahan tawa mendengar ucapan Cahaya yang berdoa dengan tawar menawar.
“Yassalam … habislah riwayatku. Pasti bakal kena omel ini mah yakin, “ gumam Naz dalam hati saat melihat suaminya yang terus menatapnya.
Arfin tak berkata apa pun setelah mendengar putrinya berdoa. Entah karena ia marah pada istrinya yang ia yakini memprovokasi putrinya, entah ia merasa tersentuh mendengar putrinya yang merasa kesepian akibat keinginannya menjadikan Cahaya anak tunggal.
Mungkin ia berpikir, dirinya pun menjadi anak tunggal dari mami-nya dan merasa tidak masalah. Namun, ia lupa jika dirinya memiliki tiga saudara seayah yang menemani hari- harinya sejak masa kanak- kanak, sedangkan Cahaya tak memiliki adik atau pun kakak. Tentunya itu hal yang berbeda, dan wajar rasanya jika putrinya itu merasa kesepian.
Saat makan malam pun Arfin tak membahas apa- apa. Ia makan sambil memperhatikan putrinya yang menolak disuapi, karena ingin belajar makan sendiri sesuai anjuran Magu-nya. Bahkan setelah selesai makan malam, Arfin kembali dikejutkan dengan Cahaya yang meminta tidur sendiri di kamarnya.
Naz mengajak Cahaya ke kamar mandi untuk menggosok gigi, cuci tangan dan cuci kaki. Setelah itu, Cahaya pun naik ke tempat tidur, lalu Naz membacakan cerita sebagai pengantar tidurnya.
Saat Cahaya sudah terlihat mengantuk, Naz mengajaknya membacakan doa sebelum tidur. Cahaya pun berbaring dan selimutan, lalu kepalanya diusap- usap oleh Naz hingga ia tertidur.
Arfin terus memperhatikan putrinya yang biasanya manja itu tiba- tiba berubah, dari balik pintu yang dibuka sedikit.
Setelah Naz mencium kening putrinya, Arfin pun masuk untuk melakukan hal yang sama pada putrinya.
Sebenarnya ia merasa senang putrinya ingin tidur di kamarnya sendiri tanpa diminta olehnya, karena ia sempat memikirkan hal yang sama. Namun, ada rasa tak tega dan berat rasanya meninggalkan putrinya tidur seorang diri di kamarnya. Naz lalu mengajaknya pergi meninggalkan kamar Cahaya.
“Kita anggap saja ini sebagai percobaan. Lagi pula ini atas kemauannya sendiri, bukan paksaan dari kita, kan,” ucap Naz mencoba menenangkan suaminya yang nampak tak tega.
__ADS_1
Arfin menghela nafas panjang, kemudian berpikir tentang apa yang dikatakan istrinya itu memang benar. Jika tidak dicoba, bisa saja Cahaya ingin terus tidur bersama kedua orang tuanya hingga ia besar. Ia pun akhirnya menyetujui percobaan ini, walau terasa berat rasanya.
Mbak Retno menawarkan diri untuk menemani Cahaya tidur di kamarnya, sedangkan ia tidur di kasur karpet tempat bermain Cahaya. Barulah Arfin dan Naz bisa merasa tenang. Namun, Arfin tetap berpesan, jika Cahaya menangis agar segera dibawa ke kamarnya.
Naz dan Arfin kini sudah berada di kamar mereka dan bersiap untuk tidur. Naz yang melihat raut wajah suaminya yang terlihat sedih, membuatnya tak berani untuk mengatakan soal kehamilannya. Mereka pun tertidur dengan membawa pikiran masing- masing.
**
Selama tiga malam ini, Cahaya lolos bisa tidur terpisah dengan orang tuanya, walau ia masih ditemani Mbak Retno. Karena seperti biasa ia akan terbangun jam sembilan atau setengah sepuluh malam, untuk minum susu lalu pipis ke kamar mandi.
Selama itu pula Naz belum berani mengatakan tentang kehamilannya pada sang suami, karena ia masih bingung dan takut utuk mengatakannya. Sedangkan suaminya, nampak masih mengkhawatirkan Cahaya yang terus ingin melakukan segala sesuatunya sendiri.
**
Sore ini Naz baru saja kembali dari rumah Tante Ina mengantarkan putrinya yang ingin bermain bersama kelinci barunya Aliya. Saat hendak memasuki pintu gerbang, ada tukang rujak lewat. Ia pun menghentikannya dan membeli rujak buah tersebut.
“Pak, rujak campur nya satu, nanasnya aja satu, mangga mudanya aja satu, dan semuanya yang pedas ya.” Naz menyebutkan pesanannya, dan pedagang rujak itu pun segera membuatkan pesanannya.
Setelah tiga bungkus rujak itu selesai dibuat, lalu dimasukan kedalam kantong kresek dan menyerahkannya pada Naz. Ia pun membayarnya lalu masuk ke rumahnya. Ia meletakan kantong kresek di atas meja ruang tamu, kemudian membuka kemasan yang varian campur dan mulai memakannya.
“Wealah, Non … itu sepertinya buah nanas yo?” tanya Mbak Jumin yang menghampiri Naz di ruang tamu dan melihat ada tiga bungkus rujak dalam mika plastik.
“Iya, Mbak Jum … ini nanas madu katanya, pasti manis rasanya.”Naz terlihat ngeces melihat nanas yang hendak dibukanya, karena yang pertama sudah habis.
“Non iki kan lagi hamil muda toh, ndak boleh makan nanas.” Mbak Jumin mengingatkan Naz.
“Astagfirullah … Mbak Jumin benar, kok aku bisa sampai lupa.” Naz yang baru menyadari, kemudian mengurungkan niatnya untuk makan rujak nanas.
Terdengar suara klakson mobil, Mbak Jumin segera keluar untuk membukakan pintu. Sedangkan Naz segera membereskan rujaknya dan membawanya ke dapur, karena sang suami masih belum mengetahui jika dia tengah hamil muda. Naz lalu kembali lagi ke depan untuk menyambut kedatangan suaminya.
“Assalamu’alaikum ….” Arfin masuk dan mengucap salam.
“Wa’alaikumsalam … “, jawab Naz menghampiri alu mencium tangan suaminya, dan Arfin pun mencium kening istrinya.
“Cahaya mana?” tanya Arfin yang tak melihat keberadaan putrinya.
“Dia lagi melihat kelinci barunya Aliya."
“Iki disimpan dimana, Den?” tanya Mbak Jumin yang membawa empat buah nanas ditangannya.
“Bawa ke dapur saja, Mbak. Tolong dikupas satu ya,” ucapnya.
“Ya ampun, Aa ngapain beli nanas banyak gitu?” tanya Naz merasa heran.
“Buat dimakan lah, sayang. Tadi Aa lihat ada yang jualan nanas madu, yasudah dibeli. Lagian kan kamu juga suka,” ucapnya lalu duduk di kursi tamu.
“Huaaaaaa …. Huaaaaaa ….” Terdengar suara tangisan anak kecil, yang ternyata adalah suara Cahaya yang baru saja masuk di gendong oleh Dinda.
“Loh, Cahaya kenapa nangis, Dinda?” tanya Naz.
“Gak tahu, Kak. Tadi pas lagi main sama Aliya melihat kelinci, dia tiba- tiba aja nangis,” ucap Dinda menjelaskan.
“Huaaaaa … Huaaaaa ….” Cahaya terus saja menangis.
“Sini sayang …. “Arfin mengambil alih Cahaya dari pangkuan Dinda dan menggendongnya. “Cup cup cup, sayang … Kamu kenapa nangis, hem? Pengen beli kelinci juga?” tanya Arfin.
Cahaya menggelengkan kepalanya dan tetap menangis. Naz dan Arfin terlihat bingung, Dinda kemudian pamit pulang.
“Cahaya kenapa, sayang?” Naz ikut bertanya.
“Huaaaaaaa … Chaya mau tinggal sama olang tua Chaya sepelti kelinci tadi, huaaaaaa ….” Cahaya mulai bicara disela tangisannya.
“Loh … Cahaya kan tinggal sama Pagu dan Magu. Kami ini kan orang tua Cahaya,” ucap Arfin yang merasa heran.
“Pagu jangan bo’ong, huaaaaa ….” Cahaya malah semaki menangis.
“Pagu gak bohong, sayang. Kami ini orang tua kamu … Emangnya siapa yang bilang kalau kami bukan orang tua Cahaya?” tanya Arfin penasaran.
“Kata Magu, huaaaaaa ….” Ucap Cahaya menunjuk ke arah Naz, dan Arfin langsung menatap pada Naz.
“Eh, kapan Magu bilang gitu?” tanya Naz yang tak merasa.
“Kalau Chaya nakal, Magu syuka bilang gini ‘dasal anak Alfin !’, huaaaaaa ….”ucapan Cahaya membuat kedua orang tuanya terkekeh.
“Berarti Cahaya itu anaknya Pagu,” ucap Arfin.
“Pagu jangan bo’ong!” Cahaya tak percaya.
“Bener sayang, Arfin itu nama Pagu” Arfin menjelaskan.
“Bo’ong … Pagu kan namanya Aa.”Cahaya yang mulai berhenti nangis masih tak percaya.
“Sayangku, Pagu itu namanya Al Arifin. Ada yang suka manggil Al, ada juga yang suka manggil Arfin. Kalau Aa itu panggilan kesayangan dari Magu” Arfin memberi penjelasan.
“Jadi Chaya benelan anak Pagu?” tanya Cahaya sambil sesenggukan.
“Iya, sayangku. Masa Cahaya gak tahu nama Pagu sih … kalau nama Magu siapa?” tanya Arfin mengetes.
“Non Nanas,” ucap Cahaya kesal dan itu membuat Arfin juga Naz tertawa. Sepertinya dia sering mendengar nama itu disebut oleh kedua ART nya.
Mbak Jumin tiba- tiba datang membawa sepiring nanas yang sudah dikupas dan dipotong. “Iki, Den nanasnya,” ucapnya menyimpan piring tersebut diatas meja.
"Terimaksih, Mbak." Arfin kembali duduk dengan Cahaya dipangkuan nya. “Ayok kita makan nanasnya, in manis loh.” Arfin mengambil satu potong nanas lalu memakannya.
“Chaya mau … Chaya mau ….” Ucapnya merengek.
“Cahaya kan gak suka nanas, katanya asem dan bikin bibir gatel.” Naz mengingatkan putrinya.
“Ah … Chaya mau !” serunya kekeuh. Arfin pun mengambilkan satu potong untuk putrinya.
“Sayang, kamu kok gak makan nanas nya? Manis banget loh, seger.” Arfin merasa heran, padahal Naz menyukai buah nanas.
“Magu ndak akan mau, Pagu … Masa nanas makan nanas.” Cahaya malah mengejek Naz.
“Hahahaha … kamu benar, sayang. Kamu kok bikin gemas ih.” Arfin mencubit pipi Cahaya.
“Aww … cakit ih!” Cahaya protes.
--------- TBC ------
__ADS_1