Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Keceplosan Naz Mengundang Kekepo-an Bunda


__ADS_3

“Kalau mau bermesraan jangan di sini,, sana ke kamar kalian!!”, suara itu mengejutkan Naz dan Arfin yang tengah berciuman dan sontak keduanya langsung melepaskan pagutan bibir mereka. “Kalian ini,, gak malu apa? Papa lagi sakit, malah mesra- mesraan?”, Hardi yang baru datang setelah membeli obat langsung ngomel.


“Adik mu yang mencium ku Hardi,, aku hanya pasrah saja”, Arfin menjawab seenaknya.


Naz mencebikan bibirnya, “Mas Hardi kok cepet amat beli obatnya?”.tanyanya.


“Kamu lupa apa,, orang apoteknya juga dekat, di ujung jalan sana,,, tinggal naik motor sebentar juga nyampe,, emangnya kenapa? Kurang lama ya ciumannya? Dasar kalian ini, kalau aku terlalu lama keluar, bisa- bisa kalian aneh- aneh di sini”, Omelan masih berlanjut.


“Ya enggak lahh,,, kita belum segila itu Hardi”, ucap Arfin.


“Gak sopan banget lo sama Kakak ipar manggil nama doang,,,”, protesnya.


“Sudah,, sudah jangan ribut disini,, kasihan Papa nanti istirahatnya keganggu,, ayok kita keluar,, “, Naz melerai lalu mengajak mereka keluar dari kamar Papa nya.


“Perutku sudah keroncongan ini,,, kita makan yu”, ajak Hardi.


“Ayok,, aku juga sekalian mau ngambil makan buat Papa,, supaya Papa bisa meminum obatnya”,ucap Naz, namun saat baru berjalan beberapa langkah terdengar bunyi bel rumah, “Kalian duluan saja, aku bukain pintu dulu”, Naz kemudian memutar arah dan berjalan menuju ruang depan untuk membukakan pintu.


Ceklek ,,,, Naz membuka pintu.


“Elsa,,,, ? kamu dari mana? kenapa jam segini baru pulang?”, tanya Naz yang kaget melihat Elsa pulang malam.


“Maaf Kak,,, tadi setelah Kakak nelpon, aku langsung pulang, tapi di jalan kejebak macet”, ucapnya.


“Kamu pulang sama siapa?”.


“Sama Pak Udin,,, Kak Raline mengizinkan ku pergi ke rumah Lisa asalkan diantarkan sama Pak Udin, katanya, Kak”.


“Yasudah ayok masuk, di luar dingin,,, kamu pasti belum makan ya?”.


“Belum Kak”, Elsa menggelengkan kepala.


“Ayok kita makan, Kak Arfin sama Mas Hardi sudah nunggu di ruang makan”, ajaknya.


“Kakak duluan saja,, aku mau mandi dulu”.


“Yasudah sana,, mandinya pakai air hangat ya”.


“Iya kak,,,”, ucapnya lalu ia berjalan menaiki tangga menuju kamarnya yang berada di lantai dua, sedangkan Naz menuju ruang makan menghampiri Hardi dan Arfin yang sudah duduk di sana.


“Aa mau makan sama apa?”, tanya Naz yang tengah mengisi piring kosong dengan nasi, kemudian menambahkan ia lauknya sesuai yang dipilih suaminya, dan setelah itu Naz menyajikannya pada sang suami.


“Terimakasih”, ucapnya tersenyum.


“Kok Mas gak diambilin sih?”, Hardi protes.


“Ambil aja sendiri, Mas Hardi Kaka ipar ku tersayang,,, makanya punya istri,, biar ada yang melayani”, Arfin malah mengejek.


"Haduh,,, kena lagi, dasar kampret lo, Ar".


“Ini minumnya, Non…”, Bi Surti memberikan nampan berisi satu teko air beserta empat gelas kosong, lalu di taruh di meja.


“Terimakasih,,, oh iya, Bi,,, tolong antarkan makanan ya ke kamar Raline untuk Mama dan Raline”, ucap Naz sambil mengambil nasi dan lauknya, lalu ditaruh diatas nampan bekas air minum.


“Iya, Non, sebentar Bibi ambilkan piring dulu”, Bi Surti kembali ke dapur, sedangkan Naz hendak beranjak dengan membawa nampan yang ia siapkan tadi.


“Mau kemana?”, tanya Arfin.


“Mau ke kamar Papa”, jawab Naz.


“Kamu makan dulu,, baru ke kamar Papa”. titahnya.


“Papa kan harus minum obat,, A,,,”.


“Kamu juga kemarin abis sakit,, jangan telat makan lagi,,, sekarang kamu makan dulu, baru ke kamar Papa”, Arfin kembali memberi mencegah.


“Iya Naz,,, kamu juga harus jaga kesehatan,, lagian Papa kan tadi pas dokter datang udah sadar sehabis diperiksa dan diberi suntikan oleh dokter langsung tidur lagi,,, udah kamu makan dulu aja”, Hardi pun ikut mencegah Naz, dan akhirnya ia pun kembali duduk dan memakan makanan yang sebelumnya ia siapkan untuk Papa nya.


Setelah ketiganya selesai makan, walau sebenarnya mereka tidak berselera tapi tetap memaksakan untuk sekedar mengisi perut yang sudah pada keroncongan. Kemudian Elsa datang,


“Selamat malam semuanya, ,",sapanya tersenyum, "Kak,,, ko tadi Bi Surti nganterin makan ke kamar Kak Raline,,, apa dia sakit lagi?”, tanyanya lalu duduk.


“Iya,, dia agak kurang enak badan, lagi ditemenin Mama kok,,, kamu makan dulu ya,, abis itu langsung tidur”, ucap Naz sambil menyiapkan makanan.


“Iya kak,, “.


“Kakak tinggal dulu ya”, ucapnya sambil membawa nampan makanan untuk Papa nya, sedangkan Hardi dan Arfin pergi ke kamar masing- masing.


Naz membangunkan Papa nya untuk makan dan meminum obat, ia pun menyuapi Papa nya yang terlihat masih sangat sedih. Setelah selesai makan dan minum obat, Naz meminta Papa nya kembali beristirahat.


“Sayang,,, Papa minta maaf,,, karena kesalahan Papa di masa lalu kamu sama Raline harus menanggung penderitaan”, ucapnya penuh sesal.


“Pa,,,jangan berfikir seperti itu,,, kita pernah membahas hal ini sebelumnya bukan,,, Papa jangan terus menyalahkan diri Papa,, ini sudah suratan takdir", Naz berusaha membesarkan hati Papanya.


“Dulu kamu yang harus menderita sekarang Raline yang mengalami hal yang sama seperti ibunya,, Papa takut jika Arsen tidak mau bertanggung jawab seperti apa yang Papa lakukan dulu, bagaimana nanti nasib Raline dan anaknya ?”, Pak Syarief semakin merasa bersalah dan takut.


“Papa,, kita akan sama- sama mencari jalan keluarnya untuk masalah ini,, aku yakin Kak Arsen pasti akan bertanggung jawab, tadi dia berkata seperti itu mungkin karena ia merasa terpojok dan masih bingung dengan semua ini, aku akan bicara lagi dengannya,, dia bukan tipikal orang yang akan nurut jika dikerasin,”.

__ADS_1


Pak Syarief menghela nafas panjang, “Kamu benar sayang,, besok Papa akan mengajak Rizal untuk membahas soal ini”.


“Tapi Pa,,, kalau bisa tanpa sepengetahuan Bunda ya,, aku takut kalau Bunda sakit lagi, beliau kan baru sembuh”, Naz memberi saran.


“Iya sayang,,, eng,, sebenarnya masih ada yang mengganjal di hati Papa,, boleh Papa tanya sesuatu”, tanya beliau.


“Iya Pa,,,kenapa?”,


“Kenapa tadi Raline bilang kalau Arsen melecehkannya karena mengira itu adalah kamu? Maksudnya apa?”.


Deg...


Naz terkejut mendengar pertanyaan yang diajukan Papa nya itu, ia pun menyadari suatu saat Papa nya akan tahu juga, dari pada Papa nya mengetahui hal itu dari orang lain, ia pun lebih memilih untuk memberitahukannya sendiri, ia menghela nafas sejenak, “Papa,, sebenarnya Kak Arsen menyayangiku bukan sebagai adiknya, tapi sebagai lawan jenis pada umumnya karena ia tahu kalau aku bukan adik kandungnya, dan Kak Arsen sangat marah saat aku tahu aku akan menikah dengan Kak Arfin,, dan hal itu lah yang membuat Bunda terkena stroke,,, “.Naz menjelaskan.


“Apa???”, Pak Syarief terkejut.


“Iya Pa,,, tapi setelah aku bicara dengannya semalam,,, ternyata Kak Arsen salah mengira, dia pikir selama ini aku yang selalu melakukan banyak hal untuk membantunya dan berkorban banyak untuknya,, padahal semua itu yang melakukannya Raline,, dan semalam ia baru mengetahuinya. Sejak kecil Raline sudah mencintai Kak Arsen, Pa,,, bahkan ia selalu bilang kalau ia hanya akan menikah dengan Kak Chen”.


“Apa? Kak Chen? Jadi Kak Chen yang sering dibicarakan Raline dengan mama nya itu ternyata Arsen?”, tanya Pak Syarief lagi.


“Iya Pa,,, itu panggilan akrab mereka, yang awalnya hanya sebutan saling mengejek,, Raline memanggil Arsen dengan sebutan Kak Chentong cuma disingkat jadi Kak Chen, kalau Kak Arsen manggil Raline dengan sebutan Borlin disingkat jadi Olin, hehe”, ucapnya terkekeh karena teringat saat mereka berdua saling mengejek saat masa kecil dulu.


“Jadi sudah sejak lama Raline mencintai Arsen?? Pantas saja ia tak pernah mengatakan kalau ia pernah dilecehkan oleh Arsen, mungkin karena ia ingin tetap melindungi Arsen walau sudah berbuat jahat padanya”, Pak Syarief memaparkan pemikirannya.


”Iya Pa,, mungkin karena itu ia tetap bungkam,,, ehh, sudah malam, sebaiknya Papa sekarang istirahat ya,, besok kita bicarakan tentang hal ini lagi, Papa jangan terlalu banyak pikiran, setiap masalah pasti akan ada jalan keluarnya, lagian besok kan Papa akan membicarakan hal ini sama Ayah, jadi sekarang Papa istirahat biar besok badannya segar”, ucapnya tersenyum dan beliau pun menuruti perkataan putrinya itu.


Naz lalu keluar dari kamar beliau dengan membawa bekas makan Papa nya dan menaruhnya di dapur. Ia meminta Bi Surti mengambilkan sprei baru untuk diantarkan ke kamar nya.


Setelah itu ia pergi ke kamar Raline, untuk menemuinya, namun di saat yang bersamaan Mama nya keluar dan mengatakan kalau Raline sudah tertidur. Naz pun membatalkan niatnya dan memberitahukan Mama nya tentang kondisi Papa nya, agar beliau tidak membahas dulu soal masalah Raline apalagi membahas masa lalu yang sudah diungkit Arsen.


Kemudian Naz pergi ke kamarnya, dan saat masuk suaminya baru selesai mandi. Ia mengambilkan pakaian untuk suaminya dari dalam lemari, lalu menyerahkannya pada suaminya.


“Kok bisa ada bajuku di sini?”, tanya Arfin saat menerima pakaian yang diberikan Naz.


“Lupa ya?,,, kan setelah kita menikah, pulang dari hotel kita nginap di sini, jadi pakaian kotor bekas di hotel dan menginap di sini suah dicuci oleh Bi Surti dan di simpan di lemari ini”.


“Oh,,, iya ya,, “, ucapnya lalu memakai pakaian tersebut.


“Maaf ya A,, malam ini kita menginap di sini”, ucapnya merasa tidak enak pada suaminya.


“Gak apa- apa kali,, ini juga kan rumah orang tua kita,, Aa juga udah ngabarin Mami kalau kita gak pulang dan menginap di sini”,ucapnya sambil mengusap kepala istrinya, “Oh iya, tadi Aa udah menghubungi dokter di Surabaya, dan dia menjadwalkan kita besok siang untuk konsultasi”.


“Hah,,,?? Besok? Bukannya kita akan pulang lusa?”, tanyanya heran.


“Iya, katanya kalau tidak besok paling sebulan lagi,, Dokter nya lusa berangkat ke Jepang dan kembali satu bulan lagi,,, ya itu terserah sih,, kita mau konsulnya kapan,, mau besok atau sebulan lagi,,”.


“Sayang,, kamu kok diam?”, tanya nya lalu menyentuh pipi Naz, “Kalau kamu keberatan, nanti Aa reschedule ulang ke dokternya,, Aa tahu mungkin ini bukan saat yang tepat, keluarga mu baru saja mendapat masalah dan kamu pasti ingin membantu untuk menyelesaikannya, kita ambil jadwal yang bulan depan saja ya,,”, ucapnya.


“Emmm,,, jangan A,, besok pagi kita pulang,,”, Naz memutuskan ikut pulang.


“Tapi sayang,,,”.


“Gak apa- apa, A,,, lagian kan aku udah janji kalau kita akan berjuang bersama untuk kesembuhan mu,,, Aa lebih membutuhkan aku disisi mu, tadi Papa udah bilang akan membahas masalah Raline dengan Ayah, dan semoga mereka mendapatkan jalan terbaik untuk keduanya, Raline banyak yang mendukungnya di sini,, sedangkan Aa cuma punya aku,,”,ucapnya tersenyum.


“Terimakasih sayang”, Arfin lalu mencium pucuk kepala Naz.


Tok tok tok…


“Non, ini Bi Surti”, serunya dari balik pintu.


“Masuk Bi”, Naz memberi izin.


“Permisi Non,, ini sprei nya”, Bi Surti datang dengan membawa sprei dan sarung bantal baru yang bersih sesuai pesanan Naz.


“Oh,, iya,, tolong digantikan ya Bi,,”.


“Iya Non… “, ucapnya lalu segera melaksanakan titah Naz.


“Bi,, tadi gimana ceritanya kok Mama bisa tahu kalau Raline sedang hamil?”, tanya Naz pada bi Surti setelah ia selesai mengganti seprei dan sarung bantalnya.


“Emmm,,, anu Non,,, tadi sore Nyonya masuk ke kamar Non Raline dan mendengar Non Raline nangis di kamar mandi, udah diketok- ketok pintunya gak dibuka- buka,,malah tambah kencang nangisnya,, karena nyonya panik dan takut terjadi sesuatu dengan Non Raline, Nyonya teriak- teriak memanggil kami,, terus Nyonya menelpon Pak Syarief gak diangkat, nelpon Den Hardi gak aktif, terus nelpon Non Nanaz deh sambil nangis karena panik,, Kami diminta memanggil satpam sama Pak Udin untuk mendobrak pintu kamar mandi, dan akhirnya didobrak sama satpam karena Pak Udin nya gak ada lagi nganter Non Elsa ke rumah temannya,, ehh ternyata Non Raline di dalam nangis sambil diguyur air shower dengan memegang testpack di tangannya, terus kami membawanya keluar dari kamar mandi dan membantunya berganti pakaian. Saat nyonya melihat testpack itu, ternyata menunjukan dua garis, Nyonya sangat terkejut sementara non Raline gak bicara apa pun, ditanya diam terus malah nangis, jadi Nyonya juga ikutan nangis”, Bi Surti me jelaskan panjang lebar.


“Oh,,, jadi gitu ya Bi kejadiannya?”, Ucap Naz merasa sedih.


“Iya Non,,, ini sudah selesai, Non, Bibi permisi dulu”.ucapnya lalu meninggalkan kamar Naz.


“Iya,, makasih ya Bi”, ucapnya kemudian Naz pun mandi dan setelah berganti pakaian ia shalat lalu tidur bersama suaminya.


***


Keesokan harinya, pagi- pagi semua sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan, kecuali Raline. Mereka pun sarapan tanpa banyak bicara dan hanya suara dentingan sendok serta garpu saja yang beradu pada piring. Seusai sarapan, Naz membawakan sarapan untuk Raline yang tidak mau keluar dari kamarnya.


Tok tok tok ….


“Raline,,, bolehkah aku masuk?”, seru Naz.


“Masuk saja Naz”, jawabnya dari dalam kemudian Naz pun masuk dengan membawa nampan di tangannya. Ia menghampiri Raline yang sedang duduk bersandar pada sandaran tempat tidurnya sambil memeluk guling dengan tatapan kosong dan wajah sembab serta matanya yang bengkak karena kebanyakan menangis.

__ADS_1


Naz menaruh nampan di atas meja di samping ranjang, lalu ia duduk di samping Raline dengan posisi berhadapan.


“Raline,,, sarapan dulu ya”, ucapnya.


“Aku gak selera Naz”, Raline menolak.


“Jangan gitu,, nanti kamu sakit, sekarang kan kmu gak sendirian, kamu harus memikirkan janin yang ada dalam kandungan mu”, bujuk Naz mengingatkan.


Mendengar hal itu Raline malah kembali menangis


Naz memegang tangan Raline, “Raline,,, maafkan aku,,, jika saja malam itu aku gak pergi ke kamar Bunda dan meninggalkan mu tidur sendirian, semua ini pasti gak akan terjadi,, maafkan aku Raline,,, semua ini gara- gara aku,,, ”, lirihnya merasa sangat bersalah.


“Enggak Naz,, ini bukan salahmu,,, aku yang minta maaf sama kamu,,, ini semua balasan untukku yang selama ini selalu jahat sama kamu,, aku juga selalu jahat sama Ibu sampai aku suka menghina kalian, dan sekarang aku mengalami hal yang sama dengan ibu ku,,, maafkan aku Naz,,, maafkan aku,,,hiks hiks”, ucapnya penuh sesal.


“Jangan bicara seperti itu Raline, dari dulu aku sudah memaafkan mu, begitu juga dengan almarhum ibu,,,, kenapa kamu gak bilang sama kami kalau kamu mengalami pelecehan di malam itu?”.


“Aku tidak mau merusak hari bahagia mu,,, aku sudah terlalu banyak menyakiti mu,, hiks hiks,,, dan sekarang akau sudah menerima balasan nya,,, maafkan aku Naz,,, “, Raline terus meminta maaf sambil terisak.


“Sudah,,,jangan minta maaf terus seperti ini,,, kita ini saudara,, kita sudah berjanji akan saling menjaga dan saling menyayangi,,, aku akan bicara pada Kak Arsen agar bertanggung jawab atas perbuatannya”.


“Gak usah Naz,,, jangan memaksanya,,, semalam dia sudah bilang tidak mau menikahi ku kan,,, mungkin ini sudah takdirku mengalami hal yang sama seperti yang ibu alami saat mengandung ku dulu,,, aku akan pergi dari rumah ini dan aku akan merawat juga membesarkan anak ini seorang diri,, aku gak mau membuat keluarga ini malu,,hiks hiks…”.


“Enggak,, kamu gak boleh pergi,,, Mama sama Papa akan sangat sedih kalau kamu pergi,,belum lagi Elsa,, cuma kamu keluarga kandung ya ia miliki,,, kami sangat menyayangi mu, Raline,,, kamu gak sendirian,, kami akan membantu mu menyelesaikan masalah ini,, kami tidak akan membiarkan bayi mu lahir tanpa seorang ayah,, aku akan pastikan Kak Arsen bertanggung jawab dan menikahi mu,,, bukankah sejak kecil kamu ingin menjadi pengantin untuk Kak Chen mu itu? ”, ucapnya kemudian ia memeluk Raline selama beberapa saat untuk menguatkannya. Ia melepaskan pelukannya lalu membujuk Raline untuk makan sarapannya, dan akhirnya Raline pun bersedia makan dan terus diawasi oleh Naz hingga makanannya habis.


Setelah selesai, Naz pun beranjak pergi dari kamar Raline. Ia menyimpan bekas makan Raline ke dapur kemudian kembali ke kamarnya dan mengajak Arfin pergi ke rumah Bunda. Namun mereka Pak Syarief mengajak berkumpul di ruang tamu untuk membahas soal masalah Raline.


Seusai terlibat pembicaraan mengenai masalah Raline bersama orang tua dan Kakak nya Naz, keduanya pun berpamitan untuk pergi ke rumah Bunda sekalian mengatakan akan kembali ke Surabaya. Baru saja keluar rumah, mereka berpapasan dengan Pak Rizal dan Dandy, mereka menyalami keduanya lalu beranjak pergi.


Sesampainya di rumah Bunda, Mbak Iyem membukakan pintu gerbang lalu mobil yang dikendarai Arfin masuk ke halaman rumah. Mbak Iyem pun melanjutkan kembali menyiram tanaman di depan, sedangkan Arfin dan Naz langsung masuk ke dalam rumah.


“Assalamu’alaikum,,,, Bun Bun Da Da Bunda,,,,”, ucap Naz saat sudah masuk ke dalam rumah, namun ia tak melihat satu orang pun yang nampak, kemudian ia mendengar suara Bunda dari arah ruang makan, Naz dan Arfin pun pergi ke ruang makan.


“Kamu teh habis dari mana saja semalam? Udah mah wajah babak belur kayak maling abis dipukuli massa, eh sekarang malah muntah- muntah terus,,!”, cerocos Bunda.


“Ada apa Bunda?”, tanya Naz menghampiri Bunda yang tengah duduk di meja makan bersama Arsen, kemudian mencium tangan Bunda nya begitu juga Arfin.


“Eh,, kalian kapan datang? Kok Bunda gak denger?”,Bunda malah balik tanya.


“Barusan Bunda,,, maaf ya kita langsung maen selonong boy aja,, hehe”, ucapnya lalu duduk, begitu pun suaminya “Bunda ada apa pagi- pagi udah ngomel aja?”, Naz kembali bertanya.


“Bunda mah aneh sama kakak mu, Arsen tuh,,, semalam pulang dengan wajah bonyok, eh barusan dia teh muntah- muntah, diperiksa sama Ayah katanya gak sakit apa- apa,,, kemarin pagi juga muntah- muntah, kayak lagi ngidam aja ih”, cerocos Bunda.


“Hahaha,,, Bunda malah yang aneh ih,,, mana ada laki- laki ngidam”, Naz malah menertawakan Bunda.


“Ehh,,, nya banyak atuh,, dulu juga Bunda gitu waktu hamil Arsen, malah si Ayah yang mual muntah tiap pagi, jadi kan enak di talangin,, hahaha,,, padahal mah waktu hamil Rezki sama Dandy mah Bunda yang mual muntah parah sampai diopname,,, itu teh namanya sindrom kehamilan simpatik, istri yang hamil tapi suami yang pusing dan mual muntah,,”, Bunda menerangkan pada Naz.


Naz dan Arfin malah saling beradu pandang lalu tersenyum ketir mendengar perkataan Bunda.


Bunda lalu mengalihkan pandangan pada Arsen dengan tatapan serius, “Arsen,, apa kamu sudah menghamili anak gadis orang, hah? Jangan- jangan itu bonyok di muka kamu teh hasil dipukul sama bapaknya gadis itu ya?”, Bunda bertanya penuh curiga.


Arsen terkejut mendengar pertanyaan Bundanya, ia nampak gugup dan bingung harus menjawab apa, ”Bu Bunda ngomong apa sih,, aku cuman masuk angin aja,, kok mikirnya sampai ngelantur kemana- mana”, ucapnya gelagapan dengan menghindari tatapan Bunda.


“Bu,, maaf di depan ada Bu RT mencari ibu”, Mbak Iyem tiba- tiba datang memberi tahukan kedatangan tamu kepada Bunda, dan beliau pun beranjak pergi ke ruang tamu untuk menemui tamu nya hingga menghentikan interogasinya yang baru dimulai.


“Masih gak mau ngaku, Kak?”, Tanya Naz setelah Bunda tidak terlihat lagi.


“Maksud kamu apa, Naz?”, Arsen malah balik bertanya.


“Emangnya kurang jelas dengan apa yang dikatakan Bunda tadi? Kalau istri yang hamil suami yang mual muntah,,, pantas aja Raline gak ada mual muntah kayak orang hamil, ternyata udah diwakilkan sama Kak Arsen toh”, ucapnya memperjelas sekaligus menyindir.


Arsen menghela nafas kasar mendengar penuturan dan sindiran Naz. Ia nampak kesal dan belum bisa menerima kenyataan mengenai Raline yang tengah mengandung anaknya.


“Ayah sedang di rumah Papa, dan mereka sedang membicarakan persoalan kalian tanpa sepengetahuan Bunda,,, aku harap kakak bisa segera mengambil keputusan untuk segera menikahi Raline sebelum perutnya membesar dan seluruh keluarga mengetahuinya... Papa sudah memutuskan tidak akan memberitahukan soal kejadian di hotel itu, dan akan membuat seolah- olah kalian memang menjalin hubungan. Itu untuk melindungi mu dan juga tidak ingin hal buruk terjadi pada Bunda ataupun Opa,,”, Naz memaparkan hasil pembahasan Papa nya sebelum ia pulang dari rumah orang tuanya.


“Aku belum mengatakan setuju, kenapa Om Syarief seenaknya saja mengambil keputusan?”, Arsen tidak terima dengan keputusan yang menurutnya hanya sepihak.


Naz menghela nafas kasar dan menatap Arsen dengan sorot mata tajam, "Kakak masih belum juga menyadari kesalahan mu, seharusnya kakak berterima kasih karena Papa ataupun Raline tidak memperkarakan persoalan ini ke ranah hukum. Walau bagaimana pun Kakak harus bertanggung jawab atas perbuatan kakak, karena sekarang Raline sedang mengandung anak kakak, darah daging Kakak,,, aku rasa kakak bukan anak kecil yang perlu diingatkan lagi akan hal itu”, Naz merasa kesal dan nampak menahan diri agar tidak meluapkan amarahnya pada Arsen karena tak ingin hal ini diketahui Bunda nya.


“Ayok A,, kita pulang, “, ajak ya pada suaminya, mereka pun bangkit lalu beranjak pergi meninggalkan ruang makan, saat di ruang tamu keduanya bertemu dengan Bunda yang baru saja menutup pintu karena tamunya sudah pulang.


“Eh,, kalian teh mau kemana atuh?? Baru juga datang,,,”, tanya Bunda.


“Kita mau pulang Bunda,, kita kesini cuman mau ketemu sama Bunda sekalian pamitan mau pulang ke Surabaya”, ucap Naz.


“Ihh,, kok pulang sih?? kalian kenapa gak nginep aja atuh? kan setelah menikah kalian teh belum pernah menginap di rumah ini", bujuk Bunda seolah mencegah kepulangan mereka.


“Kami harus segera pulang Bunda, soalnya nanti siang kami udah ada janji dengan dokter di Surabaya, kapan- kapan deh kita nginep di sini kalau kita ke Jakarta lagi”, ucap Naz.


“Hah,,janji sama Dokter? Siapa yang sakit? Kamu masih sakit dek?”, tanya Bunda kaget.


“Yassalam,, kenapa aku bisa keceplosan begini,,,, ampuun deh ini bibir, kebanyakan dicium jadi gak bisa dibungkam,, gimana ini...?? aku harus ngomong apa,,, mana Bunda orangnya kepo maksimal,,, gak mungkin kan aku bilang suamiku yang mau berobat,,, Bunda bakalan banyak tanya sampai ke akar- akarnya,,”, gumam Naz dalam hati yang baru menyadari sudah keceplosan.


Ia menoleh pada suaminya yang berdiri di sebelahnya seolah minta pertolongan untuk membantunya menjawab pertanyaan Bunda, namun Arfin sendiri terlihat kaget dan bingung karena ia sudah tahu Bunda orangnya seperti apa kalau udah kepo.


------------------ TBC -----------------


***************************

__ADS_1


Happy Reading😉😘


__ADS_2