
Naz dan Arfin yang hendak pulang, langkahnya terhenti oleh sang Bunda yang mengharapkan mereka tinggal dan menginap di rumahnya, namun Naz menolaknya karena harus segera pulang ke Surabaya sampai ia keceplosan kalau dia sudah membuat janji dengan dokter di Surabaya.
“Hah,,janji sama Dokter? Siapa yang sakit? Kamu masih sakit dek?” tanya Bunda kaget.
Naz bergumam dalam hati lalu menoleh pada suaminya yang berdiri di sebelahnya seolah minta pertolongan untuk membantunya menjawab pertanyaan Bunda, namun Arfin sendiri terlihat kaget dan bingung karena ia sudah tahu betul Bunda orangnya seperti apa kalau sudah kepo.
“Heii,,,kalian teh kok malah pada bengong?? Saiapa yang sakit? Kalian mau ke dokter apa?”.
“Mau konsultasi”,
“Mau medical chekup”,,,
Arfin dan Naz menjawab bersamaan dengan jawaban yang berbeda.
“Hah…?? Jawaban kalian kok beda sih? Yang bener yang mana atuh? Kalian mau konsultasi ke dokter siapa? Kan Dandy sama Ayah juga seorang dokter”, cerca Bunda.
“Ke Dokter spesialis dalam”,,,,
“Ke Dokter spesialis Obgyn”.,
Arfin dan Naz kebali bicara bersamaan, lalu mereka saling memandang.
“Hah,,, yang bener yang mana atuh? Kok beda terus jawabnya sih? Bunda jadi curiga,, kalian teh lagi nyembunyiin sesuatu ya?”.
Naz tiba- tiba teringat hal yang kemarin terjadi di restoran, “Emm,, gini maksudnya Bunda, kemaren kan aku sakit maag sampai pingsan jadi suamiku ini menyarankan konsultasi ke Dokter spesialis dalam, dan nanti siang kami mau konsultasi ke Dokter spesialis Obgyn soal punya anak gitu Bunda,, kan aku umurnya di bawah 20 tahun mau konsultasi gitu baiknya punya anak cepat- cepat atau ditunda dulu gitu”, Naz terpaksa mengarang bebas demi tetap menjaga rahasia suaminya.
“Oh,, gitu, kenapa gak sama Dandy aja atuh kan dia dokter spesialis Obgyn”.
“Ahhh gak mau,, kan canggung, malu juga kalau konsul sama Kak Dandy mah, Bunda,,,”, Naz beralasan.
“Iya Bunda,, lagian aku udah beberapa hari kemarin gak masuk kerja, dan pasti pekerjaanku sudah numpuk”, Arfin pun memberi alasan.
“Oh,,, yasudah kalau begitu, kalian hati- hati ya,, semoga berhasil, biar Bunda bisa nimang cucu dari kalian”.
“Tenang aja Bunda,, sebentar lagi juga Bunda punya cucu,,, ehh,, ”, Naz langsung membekap mulutnya karena keceplosan lagi.
“Apa ??? sebentar lagi mau punya cucu,, maksud kamu teh gimana atuh gak jelas pisan ih bicara teh?”, Bunda nampak kaget dan bingung.
“Ehh,,mak maksudnya, kan kalau aku sudah boleh hamil,, nanti kan Bunda bisa cepat punya cucu gitu,, hehehe”,. Naz berdalih.
“Oh,, yasudah,, kalian yang gesit ya bikinnya,,”, Bunda memberi semangat, kemudian keduanya pun berpamitan dan mencium tangan Bunda secara bergantian, mereka pun meninggalkan kediaman Bunda.
Mereka kembali ke rumah orang tua Arfin untuk membawa barang- barang mereka, kemudian berangkat ke Bandara diantar oleh Mami bersama sopir. Dan mereka pun sampai di Surabaya jam sebelas siang. Keduanya dijemput oleh lutfi ke Bandara kemudian diantarkan pulang ke rumah mereka untuk beristirahat dulu sebelum pergi ke rumah sakit.
Sesuai yang dijadwalkan, mereka pergi ke rumah sakit dan masuk ke ruang frtility Center untuk berkonsultasi dengan dokter yang menangani Arfin. Dokter kembali menjelaskan tahapan- tahapan penanganan pada penyakit yang diderita Arfin, hingga menjelaskan pengobatan tahap akhir yakni operasi pemasangan alat beserta kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Dokter pun menyarankan agar mereka sering berhubungan untuk membantu penyembuhan. Dan setelah beberapa saat pertemuan mereka dengan dokter pun berakhir, lalu keduanya kembali pulang.
Sepanjang perjalanan Naz terus diam dan nampak sedang memikirkan semua perkataan dokter di saat konsultasi tadi.
“Aku harus membantu suamiku untuk sembuh tanpa harus melakukan operasi yang seperti dokter katakan tadi, semoga dengan terapi dan bantuan ku tanpa mengkonsumsi obat ia bisa segera sembuh”, gumamnya dalam hati.
Malam nya Naz mengikuti anjuran dokter untuk membantu suaminya agar milik suaminya itu bisa ereksi. Tak seperti biasanya, Naz dan Arfin yang kini berada di dalam kamar nampak canggung seolah mereka baru pertama kali tidur satu kamar.
“Emm,,, Sayang kamu yakin mau membantuku?”, tanya Arfin.
“Ten tentu saja,, apa Aa tidak percaya padaku?” Naz terdengar gugup.
Arfin menghampiri Naz yang tengah duduk di atas tempat tidur, kemudian ia mulai membuka celananya hingga bagian bawahnya telanjang.”Nih,,, junior ku“, ucapnya sambil memperlihatkan miliknya sambil berdiri di hadapan Naz.
Naz membulatkan matanya saat melihat benda itu,”Ihh,,, kok gitu ya?”, ucapnya nyengir, karena baru pertama kali melihat wujud yang Arfin sering bilang juniornya itu.
“Gitu apanya?” kok kaget gitu? bukannya udah pernah lihat saat mandi bareng? ",Arfin merasa heran.
“Yee orang kita mandi saling membelakangi karena aku malu,"
"itu kok bentuknya gitu,,? terus warnanya juga ga jelas gitu,,, itu warnanya hitam apa abu sih,,, hahaha”, Naz malah mengejek lalu tertawa geli melihatnya.
“Memangnya kamu pikir bentuknya seperti apa? Memang begini lah wujudnya”.
“Kok beda sih? ", Naz kembali bertanya.
“Beda apa maksudnya? “.
“Beda sama yang pernah aku lihat”, jawab Naz.
“Apa,,,?? Jadi kamu pernah melihat milik orang lain?”, Arfin terkejut mendengarnya.
“Iya pernah,, tapi gak kayak gitu”, Naz menjawab jujur.
“Apa??? kamu pernah lihat punya siapa?”, Arfin nampak kesal.
“Itu punya nya Shaka waktu di sunat tahun lalu “.
Arfin mendengus kesal, “Ya iyalah beda,,, itu mah punya anak kecil,, ini mah versi dewasanya”
“Oh,,, hahahah,,, pantesan beda,,, jadi ini junior mu itu ya,,,? Kenapa namanya junior sih?”.
“Terus harusnya dipanggil apa? Si Joni?”.
“Jangan,,, kan Aa sukanya dipanggil ala orang sunda gituh,, karena dirimu ingin dipanggil Aa berarti yang itu dipanggil Ujang,, hahahaha”, Naz menunjuk ke arah itu sambil tertawa.
“Apaan itu ujang? Bagus juga dipanggil Junior, kan ada tuh boyband super junior”.
“Kan dirimu dipanggilnya Aa,,, masa iya yang itu dipanggil junior, kalau gitu nanti Aa dipanggil senior dong,,, gak cucok ah,,, kalau mau dipanggil Aa berarti yang itu dipanggi si Ujang”, Naz kekeh.
“Ya terserah kamu lah,,, jadi gimana ini mau bantu apa enggak sih kamu? Ko malah mengejek dari tadi”, Arfin merasa kesal.
__ADS_1
“Abisnya si ujang aneh gitu sih bentukannya,, hahaha”, Naz kembali tertawa.
“Jangan lihat dari bentuk anehnya, yang penting rasanya”.
“Apaan ih,,, rasa strobery? Blue berry? Cappuccino? Atau rasa yang tak pernah ada? Hahaha ”.
“Hmmm,,, jangan salah,, si ujang ini baru di tempelin sama milikmu saja sampai membuat mu mendesah sambil merem melek,, apalagi kalau udah masuk,, dan kamu tahu,, saat itu kamu terlihat sangat seksi terus menggeliat nikmat ceperti ular kobra yang mabuk karena suara seruling”.
“Dih,, gak usah ngarang deh,,, “.
“Emang bener sayang,,, malam itu kamu benar- benar sexy,,,”, Arfin malah balik mengejek istrinya,” udah ah ayok katanya mau bantu”.
“Iya iya ,,, terus caranya gimana?”.
“Kamu tinggal pegang aja, terus pijat lembut”, ucapnya, kemudian Naz pun mendekatkan tangannya, menyentuh si ujang lalu, grepp,,, dipegangnya, “Aww,,, jangan kasar gitu sayang,, jangan dipencet,, sakit ,,, yang lembut dong megangnya”, Arfin protes.
“Hahaha,,,, “.Naz malah tertawa.
“Jangan ketawa ih,, geli tahu”.
“Aku juga geli megangnya ihh,,, kok kaya squishi,,, hahaha”.
“Sudah diam,,, jangan ketawa terus,,, lakukan saja tugas mu”, ucapnya merasa kesal, kemudian Naz pun melakukan apa yang diintruksikan oleh Arfin, begini begono begeneh, hingga mereka melakukan apa yang disarankan oleh dokter.
Semenjak saat itu, setiap pagi Naz selalu menemani suaminya jogging dan ia selalu membuatkan makanan sehat untuk suaminya serta melakukan kegiatan malam sesuai anjuran dokter, walau kadang berakhir dengan sakit kepala. Namun itu tak mematahkan semangat Naz, padahal Arfin sendiri sudah hampir menyerah. Baru saja berjalan dua hari, Naz sudah kedatangan tamu bulanan, jadi kegiatan malamnya terpending sampai ia selesai mens. Dan lima hari kemudian Naz pun bisa kembali melanjutkan terapai malam pada suaminya.
**
Seminggu telah berlalu, Naz masih setia dengan rutinitas penyembuhan suaminya itu. Hari ini Naz merasa senang karena masih pagi sudah mendapat kabar gembira dari Mama nya, bahwa Arsen telah mengajak Raline untuk menikah, dan juga Bunda sudah mengetahui tentang kehamilan Raline, namun beliau tahunya mereka melakukan kesalahan karena saling mencintai dan sudah menjalin hubungan semenjak Arsen masih di Bandung, oleh sebab itu Bunda yang tadinya sangat marah pada Arsen namun setelah Arsen bersedia bertanggung jawab, beliau pun meminta segera dilakukan acara pernikahan.
Naz langsung menghubungi Raline untuk memberikannya selamat serta meminta Raline menceritakan semuanya tentang apa yang terjadi selama seminggu ini di sana. Naz terlihat sangat bahagia atas kebahagiaan Raline yang akhirnya keinginannya sejak kecil akan segera terwujud. Raline pun mengatakan bahwa minggu depan akan diadakan lamaran resmi dan pernikahan akan diselenggarakan tiga minggu lagi. Raline juga mewanti- wanti agar Naz menghadirinya, tentunya Naz sangat antusias dan berjanji akan menghadirinya. Setelah ia mengakhiri panggilan teleponya, ada rasa khawatir di dalam dirinya mengenai Arsen, namun ia hanya bisa berharap dan berdoa agar kakaknya itu bisa mencintai Raline, sama seperti Raline yang sangat mencintainya. Ia duduk termenung di sofa ruang tengah dengan di temani televisi yang menyala, seolah televisi lah yang sedang menonton dirinya.
Mbak Retno yang baru masuk ke rumah kemudian menghampiri Naz, “Maaf Non,,, nanti sore sesudah ashar ada undangan pengajian untuk syukuran empat bulanannya Bu Taslimah yang rumahnya di tikungan depan”, ucapnya memberikan tahukan.
“Ehh,,, iya Mbak,,, kenapa?”, Naz membuyarkan lamunannya.
“Anu Non,,, nanti sore sesudah ashar ada undangan pengajian untuk syukuran empat bulanannya Bu Taslimah yang rumahnya di tikungan depan”, Mbak Retno kembali mengatakannya.
“Oh iya ,, yang kelewat empat rumah dari sini itu bukan?”, Naz mengingat- ingat letak rumah tersebut.
“Nggeh Non”, Mbak Retno mengangguk.
Naz kemudian mengirim pesan pada suaminya untuk meminta izin, dan suaminya pun lansung membalas memberinya izin, “Okela kalau begitu,, nanti Mbak Retno temenin saya ya,, soalnya saya pada belum kenal sama tetangga sini”.
“Nggeh Non”, ucapnya, kemudian kembali ke dapur, sedangkan Naz pergi ke kamarnya.
Sorenya setelah shalat ashar Naz pun pergi bersama Bmak Retno ke pengajian empat bulanan tetanganya. Di sana ia berkenalan dengan para tetangga yang hadir di pengajian tersebut. Naz hanya senyam senyu aja karena tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan, yang mana mereka bicara memakai bahasa jawa. Ia pun mengikuti pengajian hingga selesai tepat pukul lima sore, setelah itu ia pun pulang berbarengan dibubarkannya pengajian dengan masing- masing membawa berkat yang diberikan sang tuan rumah.
Sesampainya di rumah Naz langsung berganti pakaian dan segera ke dapur memasak untuk makan malam dibantu oleh Mbak Retno.
“Nggeh Non”.
“Oh,,, kayaknya udah umuran ya?”.
“Nggeh Non,, Bu Taslimah itu sudah menikah 15 tahun baru dikaruniai anak sekarang,, katanya wis berobat kemana- mana, tapi ndak hasil,,, katanya setelah di urut ke tempat yang dikasih tahu sama bu RT alhamdulillah berhasil,, di sana segala penyakit bisa disembuhkan, bahkan yang harusnya dioperasi pun bisa sembuh sama di urut sama orang itu”.
“Oh ya??”.
“Nggeh Non,,, itu mantunya Bu RT juga terkena impoten bisa sembuh loh di urut sama orang itu”
“Oh ya?”, Naz teringat dendam penyakit suaminya.
“Nggeh Non,, diurutnya juga gak dibagian itunya,, jadi semua yang berobat ke sana itu diurut di telapak kakinya,, penyakit apa pun banyak yang sembuh“. Mbak Retno terus promosi.
“Wah,, hebat juga ya, orang mana itu?”. Naz nampak penasaran.
“Kalau aslinya orang Purwakarta, cuman sudah empat tahun ia praktek di daerah Wonorejo,, udah pada tahu disana namanya Pak H. Budi katanya”.
“Oh,,, iya”, Naz tersenyum seolah mendapat angin segar untuk membantu kesembuhan suaminya. Setelah selesai masak, Naz kembali ke kamarnya, dan saat masuk ia terkejut ternyata suaminya sudah ada di dalam kamar yang hanya menggunakan kaor oblong dan celana boxer.
“Loh,, Aa kapan pulang?”, tanyanya lalu mengulurkan tangannya hendak mencium tangan suaminya, namun Arfin malah melengos begitu saja dan masuk ke kamar mandi.
Jebred ,,, Arfin menutup pintu kamar mandi dengan cukup keras dan membuat Naz terperanjat.
“Dia kenapa? Kayaknya marah gitu,, apa lagi ada masalah di kantornya?”, gumamnya bertanya- tanya. Kemudian ia mengambil pakaian bekas kerja suaminya yang tergeletak di atas tempat tidur, dan menggantinya dengan pakaian baru dari dalam lemari. Lalu ia keluar kamar membawa pakaian kotor dan menyimpannya ke belakang dengan perasaan yang terus bertanya- tanya.
Tidak hanya sampai di situ, saat keduanya makan malam tak ada pembicaraan apa pun, Arfin terus diam tanpa kata dengan raut wajah yang nampak kesal. Naz yang tadinya ingin memberitahukan kabar pernikahan Raline pun mengurungkan niatnyakarena melihat suaminya yang mood nya kurang bagus.
Malam ini pun ia tak mengajak Naz terapi seperti malam- malam sebelumnya, malah menyibukan dirinya di meja kerja nya. Naz pun tak berani mengganggu nya, pikirnya besok saja ia bicara dengan suaminya. "Aa,,, jangan tidur terlalu malam ya,, ingat kata dokter A gak boleh kecapean”, ucap Naz, namun Arfin hanya menoleh dan tak menjawabnya.
“Dia sebenarnya kenapa sih dari tadi diam saja?”, gumam Naz dalam hati. Ia pun tertidur dengan membawa rasa penasaran dengan perubahan sikap suaminya.
Keesokan harinya, seperti biasa Naz bangun saat adzan subuh, ia menyalakan lampu tidur disamping tempat tidurnya, namun ia tak melihat keberadaan suaminya. Ia pun bangun lalu ke kamar mandi, dan ia pun tak menemukan suaminya ia mengira jika suaminya sedang shalat di mushola atau ke masjid.
Setelah ia selesai shalat, ia langsung ke dapur untuk memasak membuatkan sarapan. Seperti biasa jika urusan di dapurnya sudah seelsai, Naz akan menemani suaminya jogging, namun ternyata Arfin sudah berangkat jogging sendiri. Akhirnya ia memutuskan untuk beres- beres dan membersihkan rumah bersama ART nya kemudian ia menyiapkan pakaian kerja suaminya yang sekarang sedang mandi. Setelah Arfin selesai mandi dan keluar dari kamar mandi, giliran Naz yang mandi.
“Bajunya udah aku siapi ya”, ucap Naz lalu masuk ke kamar mandi, dan setelah beberapa saat ia pun selesai mandi lalu berganti pakaian dan berdandan alakadarnya. Ia kemudian keluar untuk menemani suaminya sarapan. Ia pun beranjak pergi ke ruang makan. Namun sayang sekali, ternyata suaminya sudah selesai sarapan dan sudah berangkat kerja, menurut keterangan Mbak Jumin. Naz pun semakin merasa kalau tidak ada yang beres dengan suaminya itu.
Hari ini tak seperti biasanya, Arfin pulang malam, Naz yang sejak sote sudah menunggunya, kemudian ia menyambutnya.
“Tumben pulang malam,,,? Aa kok gak angkat telepon aku sama gak balas chat aku seharian ini? Apa di kantor lagi sibuk?”, tanya nya pada suaminya yang baru saja masuk kamar.
__ADS_1
“Aku capek”, hanya kata itu yang keluar dari mulutnya, kemudian Arfin membuka pakaiannya dan langsung mandi, dan setelah berganti pakaian ia langsung berbaring di tempat tidur, masih saja mengacuhkan Naz.
Keesokan harinya kejadian pagi hari kemarin terulang kembali, bahkan saat Naz pergi ke dapur, ia melihat Arfin keluar dari kamar tamu. Ia tidak langsung bertanya, dan melakukan aktivitas seperti biasanya.
Saat keduanya tengah sarapan, Arfin pun masih tetap mengacuhkan Naz. Setelah selesai sarapan Arfin berangkat tepat saat Naz menyimpan piring kotor ke dapur, Naz kemudian mengejarnya sampai ruang tamu.
“Sampai kapan kamu akan mengacuhkan ku?”, ucapnya dengan nada setengah berteriak, dan itu menghentikan langkah Arfin yang hendak keluar rumah. “Salah aku apa? Kenapa sudah dua hari ini kamu mengacuhkan ku dan tidak mau bicara dengan ku,, hiks hiks”, ucapnya terisak, namun Arfin tak bergeming malah diam saja. “Salah ku apa? Kenapa kamu sampai tidur di kamar tamu lagi… hiks hiks”, Naz kini sudah berlinang air mata, setelah menahan diri dengan perasaan yang menyesakan.
“Arfin,,, !! apa yang sudah kamu lakukan?”, terdengar suara dari luar lalu masuk melewati pintu yang sudah terbuka, keduanya nampak terkejut, dan Naz segera menghapus air matanya.
“Kenapa menantu kesayangku sampai menangis, hah,, kamu apakan dia?”, Bu Hinda kembali bertanya dengan memberi tatapan tajam pada Arfin, lalu beliau menghampiri Naz, “Sayang,, kamu kenapa sampai menangis seperti ini? Bilang sama Mami,, apa yang sudah dilakukan suami mu pada mu?”, Bu Hinda pun bertanya pada Naz, namun ia hanya menunduk dan tidak menjawab.
“Aku ke kantor dulu”, Arfin malah pamit.
“Siapa yang mengizinkan mu pergi? Kembali kemari, selesaikan masalah dulu, baru kerja, duduk kamu !”, titah Bu Hinda dengan nada tegas dan Arfin pun terpaksa mengikutu titah Mami nya. “Ayok sayang,,, kita selesaikan masalah kalian”, ajaknya pada Naz, kemudian ketiganya duduk di ruang tamu.
“Mami sudah dengar semua yang Naz katakan tadi, kenapa kamu mengacuhkan istrimu sampai kamu tidur di kamar tamu?”, Bu Hinda mulai mengintrogasi.
“Mi,,, ini urusan rumah tangga ku, Mami gak usah ikut campur”. Arfin tak menjawab pertanyaan mami nya.
“Enak saja,, sejak Naz pacaran lagi sama kamu, Mami sudah berjanji akan selalu melindungi Naz kalau kamu berani menyakitinya lagi, jadi sekarang ini sudah menjadi urusan Mami”, ucap beliau ketus, “Jadi apa alasan mu bersikap seperti itu pada istrimu, hah?”.
Arfin mendengus kesal, “Dia sudah membicarakan aib ku pada orang lain”.
“Aib,,, aib apa?” tanya Mami heran.
“Soal penyakit ku”.
“Apa? Bukannya kamu sudah sembuh?”, Mami terkejut.
“Memang dulu sembuh, tapi ternyata malah kembali seperti itu lagi”.
“Sayang,, apa itu benar?”, Mami bertanya pada Naz.
“Enggak Mi,, aku gak penah membicarakan hal itu dengan siapa pun”, jawab Naz sambil menunduk.
“Jangan bohong kamu,, aku mendengarnya sendiiri kamu membicarakan soal impoten dengan Mbak Retno di dapur”.
Naz teringat dengan percakapannya dengan Mbak Retno, “Enggak,, Aa salah paham,,, aku cuman menanyakan soal tetangga yang mengundang ku ke acara empat bulanannya, dan kata Mbak Retno orang itu sudah 15 tahun baru punya anak setelah berobat kemana- mana akhirnya berhasil dengan pengobatan alternative, dan dia bilang kalau mantunya Bu RT yang menderita impoten juga sembuh setelah diurut di sana,,, aku gak membicarakan soal penyakit mu”. Naz menjelaskan.
“Tuh kamu dengar sendiri Arfin”. Mami terus bicara ketus.
“Aku menanyakan orang itu tinggal dimana, karena sempat terpikir untuk mengajak mu berobat ke sana,, karena aku gak mau kalau kamu sampai harus dioprasi setelah mendengar efek samping dan kemungkinan terburuk yang dokter bilang,,karena sudah dua minggu ini terapi di rumah belum membuahkan hasil dan kamu selalu terlihat sedih”, Naz kembali menjelaskan dan membuat Arfin tertegun karena merasa bersalah ia sudah salah paham terhadap istrinya.
“Jadi cuman gara- gara salah dengar kamu marah dan mengacuhkan istrimu sampai kamu tidur di kamar lain, Al”, Bu Hinda hinda menyimpulkan dari apa yang ia dengar, “Sebaiknya kamu ikuti saran istri mu untuk berobat ke alternatif”, ucapnya lagi.
“Gak aku gak mau,,, kita sudah pernah membahas itu dulu, Mi”, Arfin langsung menolak.
“Naz,, kemasi barang- barang mu sekarang”, titah Mami.
“Apa?”, Arfin dan Naz bertanya serentak.
“Iya sayang,, kamu kemasi barang- barang kamu, dan ikut sama Mami”.
“Tapi Mi,,,”, Naz hendak menolak.
“Udah sayang,,, turuti saja kata- kata Mami”, Bu Hinda memaksa dengan halus, Naz kemudian melirik ke arah suaminya, “Sudah sana sayang, kemasi pakaian mu”, dengan berat hati, Naz pun mengikuti titah mertuanya. Bu Hinda langsung memesan taksi online dengan aplikasi di ponselnya.
“Maksud Mami apa? Mami mau bawa Naz kemana?”, Arfin bertanya dengan kesal.
“Bukan urusan kamu”, Bu Hinda menjawab dengan nada jutek.
“Gak bisa gitu dong, Mi,, Naz itu istriku,, dia hanya boleh pergi atas izinku”, Arfin mengingatkan Mami nya.
“Jangan lupa kalau Mami ini ibumu, dan kamu harus mematuhi Mami, karna surgamu masih di telapak kaki Mami,,, Masih untung Mami yang datang, coba kalau orang tua Naz yang datang, sudah dibawa pulang istrimu itu oleh orang tuanya karena dia sudah diperlakukan seperti ini sama kamu… Kamu tuh benar- benar tidak tahu diuntung,,,, Naz sudah menerima kamu dengan kekurangan mu dan berniat membantu mu, malah diperalakukan seperti itu, Mami aja sakit hati lihatnya”, cerocos Bu Hinda yang merasa kesal pada anaknya. Kemudian Naz datang dengan membawa tas dan koper kecil.
Arfin langsung menghampiri Naz, “Sayang,, kamu mau kemana? Aku minta maaf,,, tolong kamu jangan pergi”, ucapnya sambil memegang tangan Naz.
“Sudah Naz, jangan dengarkan dia, bukannya dia sudah mengacuhkan mu dan tidur di kamar lain selama dua hari, jadi sekalian aja kamu jangan ada di rumah ini,,”, Mami terus membujuk dan membuat Naz nampak bingung.
“Gak,,, Naz gak boleh pergi”, Arfin menegaskan pada Mami nya.
“Yasudah,,, kalau Naz gak boleh pergi, Mami akan melaporkan hal ini pada keempat orang tua Naz, biar meraka yang bertindak”, ucap beliau dengan santainya, Arfin pun terdiam seolah merasa takut dengan ancaman Mami nya yang gak pernah main- main, lalu ia melepaskan tangan Naz pertanda memberi izin untuk pergi.
“Mami mau membawa Naz kemana?”, tanya nya.
“Mau ngajak dia jalan- jalan lah, biar melupakan kesedihannya”, jawab beliau dengan santainya, “Ayo Naz,,, eh iya,,mana ponsel mu?”, tanya beliau kemudian Naz pun menyerahkan ponselnya pada mertuanya, “Nih Al,,, kamu pegang ponsel istri mu,, kami mau bersenang- senang dulu,, daah,, taksi nya sudah datang tuh,,”, Bu Hinda lalu membawa Naz pergi, sedangkan Arfin nampak sangat kesal dengan kelakuan Mami nya.
Kini keduanya tengah dalam perjalanan menuju tempat yang dituju Bu Hinda.
“Mami,, kenapa Mami mengajak ku pergi? Kasihan Kak Arfin ditinggal di rumah”, Naz memberanikan diri bertanya pada mertuanya yang sejak tadi bermuram durja.
“Biarin aja, dia harus mendapatkan hukuman atas apa yang dia lakukan sama kamu,, biar dia tahu rasa gimana rasanya dicuekin”, ucap beliau.
“Tapi Mami,,,”.
“Udah kamu ikut aja,, Mami punya rencana bagus supaya suami mu itu bersedia dibawa ke pengobatan alternatif yang kamu sebutkan tadi, biar dia cepat sembuh, dan kalian bisa cepat ngasih Mami cucu”, ucap beliau, dan Naz pun hanya manut saja pada mertua yang memeiliki persamaan seperti dirinya yakni selalu memiliki akal bulus.
“Maaf Aa,,, kali ini aku akan ikuti saran Mami, demi si ujang biar cepat sembuh”, gumam Naz dalam hati
--------------- TBC ---------------
***********************
Happy Reading…
__ADS_1