Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Aku Sudah Tahu Semuanya


__ADS_3

Arfin yang terkejut mendengar nama Rheanazwa disebutkan oleh salah satu staf yang memberitahunya bahwa ia kedatangan tamu, langsung berdiri dari kursi nya kemudian ia beranjak meninggalkan ruang meeting tanpa memperdulikan peraturan yang sudah ia buat sendiri, bahwa saat meeting tidak boleh ada yang mengganggu walau itu tamu penting sekali pun, kecuali kalau ada kebakaran atau gempa bumi, apalagi kalau ada bom di kantornya.


Kini Arfin tengah berjalan menuju ruang kerjanya karena staf yang tadi memberitahunya bahwa Naz menunggu di ruangannya. Arfin merasa heran dan bertanya- tanya atas kedatangan Naz ke kantornya itu,


"Untuk apa dia kemari... apa untuk menemui si Lutfi sialan itu.. ? mereka benar- benar kelewatan janjian di kantor ku sendiri... apa mereka ingin membuat ku cemburu sampai ke ubun- ubun ? ", gerutu nya dalam hati merasa kesal.


setelah ia berjalan beberapa saat sampailah di depan pintu lalu masuk ke dalam ruangannya, kemudian menghampiri Naz yang tengah duduk di kursi tamu yang tersedia di sana.


“Naz,,, ngapain kamu ke sini?”, tanya Arfin to the poin.


Naz pun berdiri, "Aku disuruh Mami nganterin ini”, ucapnya sambil menyodorkan sebuah tas.


“Tas kerja ku kenapa bisa ada sama kamu?”, tanya Arfin heran sambil menerima tas dari tangan Naz.


“Tadi ketinggalan di kursi meja makan, dan Mami baru mengetahuinya satu jam yang lalu lahh, terus Mami nelpon aku minta tolong nganterin itu ke sini, takutnya ada berkas penting di dalamnya,, sedangkan Mami lagi bikin kue buat ngasih ke Tante Ina untuk tahlilan besok”, ucap Naz menjelaskan.


“Oh,,, gitu,, terimakasih”, ucap nya.


“Oh iya,, ini sekalian Mami minta aku nganterin ini juga”, Naz memberikan sebuah godie bag.


“Ini apa lagi?”, tanya Arfin heran


“Emm itu,,,emm,, kata Mami untuk makan siang,,, ini kan sudah jam setengah sebelas, jadi tadi sekalian bawa itu”, jawab Naz dengan gugup.


“Sejak kapan Mami mengirim ku makan siang?”, ucapnya dalam hati merasa heran, lalu ia tersenyum,


”Oh… mungkin dia sengaja membawakannya untuk ku tapi malu mengakuinya”, arfin kembali bicara dalam hatinya.


“Heh,,, kenapa senyam senyum begitu,, kesambet ya.. udah ah aku mau pulang”, ucap Naz sambil menepuk lengan Arfin kemudian beranjak pergi.


“Eh,, tunggu,, kamu tadi kesini sama siapa?”, tanya Arfin menghentikan langkah Naz.


“Naik taksi online,,, kenapa? Mau ganti ongkosnya ya? gak usah,, udah dibayarin Mami kok tadi”, ucapnya.


“Bukan lah... bukan soal itu... Kalo gitu sekarang kamu diantar pulang sama sopir aja”, ucap Arfin.


“Gak usah aku naik taksi online lagi aja”, Naz menolak.


“Gak ada penolakan,,, nanti Mami bisa mengomeli ku lagi kalo membiarkan mu pulang sendiri”. ucapnya dengan tegas.


Naz mendengus kesal, “Baiklah,,, “.


“Sebentar aku telpon dulu Pak Tejo nya”, ucap Arfin yang kemudian menghubungi sopir kantornya itu untuk meminta mengantarkan Naz pulang.


Kemudian Naz pun diantarkan oleh Arfin sampai ke lobi dan setelah memastikan Naz sudah masuk ke dalam mobil yang dilihatnya dari dinding kaca, barulah Arfin beranjak pergi untuk kembali menuju ke ruangannya lagi.


Arfin berjalan sambil tersenyum bahagia, berbeda dengan saat ia baru datang tadi pagi. Ia masuk ke ruangannya kemudian duduk di meja kerjanya sambil memandangi godie bag yang berisi bekal makan siang untuknya itu.


“Terimakasih Naz,,, kamu memang masih peduli padaku, setiap hari kamu memasak untukku, tadi pagi saat aku tersedak kamu langsung membantuku, dan sekarang kamu membuatkan makan siang untukku dan mengirimkannya kemari,, terimakasih Naz ,,,”, gumamnya dalam hati sambil senyam senyum sendiri.


Saat tersadar ia melihat seseorang di hadapannya sedang tersenyum dan itu membuat Arfin terkejut hingga seketika senyumnya hilang, “Sejak kapan kamu ada di situ?”. tanya Arfin ketus.


“Sejak Bapak melamun sambil senyam senyum sendiri “, jawab Dilara lalu tersenyum.


“Saya kan sudah sering bilang kalau…..", belum selesai Arfin berbicara langsung dipotong oleh Dilara.


“Saya sudah mengetuk pintu beberapa kali, tapi Bapak tak kunjung menyahuti, saya pikir Bapak pingsan jadi saya langsung masuk,, ternyata Bapak sedang kesurupan setan cinta ya,, haha”, Dilara berani bercanda karena melihat mood bosnya itu sudah terlihat membaik.


“Diam kamu,,,!! mau apa kesini? Merusak mood saja”. ucapnya kembali ketus.


“Itu Pak orang- orang masih menunggu di ruang meeting, udah pada pegal dan kesemutan”, ucapnya melapor.


“Bubarkan saja meeting-nya,,, aku sedang tidak berselera untuk marah- marah,,,“, ucapnya dengan santainya.


"Ya Tuhan... marah aja musti pake selera,,, kayak makan saja,,, selera tuh yang bagus- bagus kek.... dasar Direktur gila.....", Dilara mengumpat dalam hati.


"Hei...kamu lagi mengumpat ngatain saya ya dalam hati kamu?", tanya Arfin kesal.


“Eng enggak ko Pak... saya permisi dulu mau membubarkan rapat... “, ucap Dilara melaksanakan perintah Arfin.


" Oh Ya ampun,... apakah dia itu cenayang,,, kalo bukan bos gue,, udah gue pites tuh orang,,, apes banget punya sepupu macam dia", Dilara menggerutu kesal dalam hati sambil berjalan menuju ruang meeting.


Setelah beberapa saat, tibalah waktunya jam istirahat, Arfin pun menunaikan shalat dzuhur lalu membuka bekal makan siang yang dikirimkan oleh Naz, ia pun memakannya dengan lahap sambil senyam- senyum membayangkan wajah Naz.


Seusai makan Arfin beranjak keluar dari ruangannya, ia menghampiri meja sekertaris nya, Dilara... lalu duduk di kursi depan meja Dilara.


" Dil.. desain yang kemarin minta direvisi sudah selesai belum?", tanya Arfin.


"Udah Pak... tapi kan file nya ada di Pak Lutfi,,,", jawab Dilara.


"Yasudah,, suruh dia serahkan file nya ke ruangan saya", titah nya pada Dilara.


"Etdah... Bapak masih muda udah pikun yaa... kan tadi pagi nyuruh Pak Lutfi ke lapangan ", Dilara mengingatkan.


"Oh iya... saya lupa... tadi reaksi nya gimana aja pas kamu bicara sama dia nyuruh dia ke lapangan?", tanya Arfin penasaran.

__ADS_1


"Biasa aja... cuman ber-oh ria... soalnya tadi dia lagi sibuk chatingan sambil senyam- senyum kayak orang lagi ketiban love gitu ", Dilara menjawab dengan santainya.


"Apa ?? chatingan sama perempuan ?", tanya Arfin terkejut.


Dilara lebih terkejut lagi " Astaga ....kenapa dia sekaget itu mengetahui Pak Lutfi punya gebetan perempuan,, apa si Bos cemburu? jangan- jangan dia timun makan timun lagi...iihhhh", gumam Dilara dalam hati, lalu bergidik ngeri.


"Dilara...!! kamu kenapa sih sering banget melamun?? ,, diajak ngomong malah bengong saja!", Arfin menggerutu kesal.


" Eh.. maaf Pak,,, tadi saya lagi kepikiran sesuatu...hehehe... kenapa Pak?", tanya Dilara sambil terkekeh.


Tiba- tiba Pak Tejo datang dengan membawa kantong kresek dan menghampiri meja Dilara.


"Permisi,, Bu Dilara ini pesanan makanan serta minumannya,,, dan ini kembaliannya", ucapnya menyodorkan kantong kresek yang ia bawa.


" Terimakasih banyak Pak,,, gak usah,,,itu kembaliannya ambil aja buat Bapak,,", ucap Dilara.


"Gak usah Bu... ", ucap Pak Tejo menolak.


"Eh.. gak baik nolak rezeki,, ini inih ambil",Dilara tetap memaksa dan Pak Tejo pun akhirnya menerimanya.


"Terimakasih banyak, Bu", ucap Pak Tejo.


“Oh iya Pak Tejo,,, tadi mengantarkan Naz ke rumah saya apa ke rumahnya Pak Aji?”, tanya Arfin yang baru teringat pada Naz.


“Enggak Pak,,tadi saya mengantarkan Nona ke daerah Gayungan,,, katanya mau ketemuan sama temannya, Pak”, Pak Tejo langsung menjawab pertanyaan Arfin.


“Apa,, ? daerah Gayungan,,, ?", tanyanya terkejut dan langsung berdiri, lalu ia berfikir sejenak, "Tunggu- tunggu... bukannya kita juga sedang punya proyek di sana? Lutfi juga di sana kan?”, tanyanya pada Dilara memastikan.


“Iya Pak,, kita punya proyek di daerah Gayungan dan Pak Lutfi juga sekarang ada di sana”, jawab Dilara.


“Dasar b*doh,,, kenapa kamu mengantarkan Naz ke sana?”, Arfin marah pada Pak Tejo.


“Sa saya ,, saya cuman mengikuti permintaan Nona saja Pak,,,”, jawabnya ketakutan dan bingung.


“Kamu lagi Dilara,, ngapain kamu nyuruh si Lutfi ke proyek yang di Gayungan? Kan bisa ke proyek yang lain”. Arfin pun menyalahkan Dilara.


“Lah,,, kan Bapak yang nyuruh untuk mengirim Pak Lutfi ke proyek di Gayungan, karena Bapak sedang malas melihat wajah Pak Lutfi“, jawab Dilara mengingatkan perintah Arfin sebelumnya.


"Kamu kan bisa menyarankan saya untuk mengirim Lutfi ke proyek yang lainnya,,, gimana sih kamu !", Arfin terus memarahi Dilara.


"Kamu lagi Pak Tejo... kan bisa menghubungi saya menanyakan boleh gak nya mengantar Naz ke Galungan.... kalau nanti dia nyasab gimana?? kalau dia ada yang nyulik gimana? kalau dia hilang gimana? dia tuh gak kenal siapa- siapa di sini dan belum tahu daerah sini", Arfin meluapkan kemarahannya pula pada Pak Tejo sang sopir yang tidak tahu apa- apa.


" Maaf Pak.... saya benar- benar minta Maaf.... ", ucap Pak Tejo dengan ketakutan.


“Dasar kalian semua tidak berguna, tidak ada yang bisa diandalkan,, sini kunci mobil saya”,ucapnya meminta kunci mobil dari Pak Tejo, dan setelah mendapatkannya Arfin bergegas pergi.


“Mana gue nyaho,,, tadi di ruang meeting marah- marah, terus di ruangannya malah senyam- senyum sendiri,,, apa mungkin Bos kita itu sudah gila ya… dan kita lah yang jdi sasaran kemarahannya,,, sial banget hari ini... Mungkin dia lagi PMS kali,,,hahaha”, ucap Dilara yang kemudian tertawa bersama Pak Tejo.


Sementara Arfin kini yang sedang melajukan mobilnya menuju Galungan nampak kesal dan marah, "Lihai juga si Lutfi, gue kirim ke lapangan malah dia ngajak Naz ketemuan di sana,,,, Arghh.. sial sial ", ucapnya menggerutu kesal sambil beberapa kali memukul setir mobil nya.


Setelah beberapa saat, Arfin pun sampai di tempat proyek pembangunannya, saat ia memasuki kawasan pembangunan,ia memakai helm proyek. Ia berjalan mencari keberadaan Lutfi dan bertanya pada beberapa pekerja, namun mereka tak melihatnya setelah jam istirahat tadi. Arfin terus mencari sambil menggerutu kesal karena tak kunjung menemukannya.


"Sial... jangan- jangan mereka lagi jalan lagi,, bareng*sek", ucapnya kesal sambil menendang pasir.


Saat ia hendak masuk ke dalam mobil, ia melihat orang yang ia kenali di depan sebuah warung makan yang agak besar dan terdapat tempat makan lesehannya, kemudian ia berjalan ke sana. Betapa terkejutnya ia melihat Lutfi sedang ngobrol sambil berdiri ketawa- ketiwi di luar warung tersebut di pinggir jalan. Ia langsung menghampiri mereka dengan amarah yang memuncak efek dari cemburu yang membakar hati.


Saat sudah berdiri di belakang Lutfi, ia memegang pundak Lutfi, dan saat menoleh... Bugh.... satu pukulan mendarat di pipi kanan Lutfi.


"Mas Lutfi,,,,,", teriak Naz lalu menghampiri Lutfi yang nampak oleng. "Kak Arfin apa- apaan sih?", Seru Naz pada Arfin.


Arfin semakin marah melihat Naz membela Lutfi, "Itu pelajaran untuknya karena sudah brani mendekati mu, dan sudah berani mengajakmu ketemuan di sini", ucap Arfin meluapkan kekesalannya.


Naz menghampiri Arfin, "Dia gak salah apa- apa,,, kenapa kamu harus mukul dia segala hah??,,, kalaupun kami punya hubungan, itu bukan urusan kamu... ! ", Naz menaikan nada bicaranya karena tersulut emosi.


"Karena aku gak suka kamu jalan sama dia ,, kamu jangan menemuinya lagi !!,", Arfin menjawab sambil menunjuk ke arah Lutfi.


"Hahh.... apa katamu? apa hak mu melarangku seperti itu hah?? .... kita sudah tidak ada hubungan ,apa- apa lagi.... lagi pula kau sudah punya pacar baru, dan kau sudah tidak memiliki perasaan apa-apa padaku bukan ?,,, lalu kenapa aku tidak boleh jalan dengan pria lain?... kenapa aku tidak boleh dekat dengan pria lain?... kenapa aku tidak boleh menjalin hubungan dengan pria lain? apa aku tidak berhak mendapat kebahagian setelah kau menyakitiku, setelah kau meninggalkanku tanpa alasan yang jelas hah......hiks hiks ", ucap Naz sambil terisak karena tak kuat menahan rasa sakit di hatinya."Kenapa .... kenapa hah??", tanya Naz meneriaki Arfin.


Arfin hanya diam mematung mendengar perkataan Naz, lalu ia menundukkan kepalanya.


Naz menjatuhkan dirinya dan duduk di atas tanah, "Apa kamu tahu apa yang selama ini aku rasakan?? ...sakittt.... sakiit tahu gak... hiks hiks.... selama satu tahun ini aku tersiksa, aku terus dihantui rasa penasaran mempertanyakan apa alasan mu meninggalkanku, apa salahku, kenapa dengan teganya kau mempermainkan perasaanku,,,, hiks hiks...dan setiap malam aku menangisi hal itu,,, aku kembali menjadi Naz yang dulu,, yang selalu menampakan tawa canda dan kecerian dihadapan orang lain untuk menyembunyikan kesedihanku,,, hiks hiks,,, aku tidak punya tempat untuk berbagi kesedihanku, karena orang itulah yang memberiku rasa sakit ini,,, hiks hiks hiks", Naz mengungkapkan apa yang ia rasakan selama ini.


Arfin yang terus diam mematung mendengar perkataan Naz dan menundukkan kepalanya, akhirnya berucap, "Maaf..... maafkan aku....", lirihnya sambil menunduk.


"Maaf... ?? Maaf maaf maaf saja dari dulu yang kau katakan... apa itu cukup untuk mengobati luka ku,,, apa itu cukup untuk menghapus kesedihanku,, apa itu cukup untuk meredakan rasa sakit ku hah???",Naz kembali meluapkan emosinya dengan menaikan nada bicaranya.


Kemudian datang seseorang dari dalam warung makan menghampiri dan berlutut di depan Naz yang sedang menangis sambil duduk, "Naz,,, ", lirihnya lalu memeluk Naz dan mengusap - usap kepalanya.


"Lo anggap gue apa hah?? kenapa Lo gak pernah cerita soal ini ke gue,,, gue ini sahabat Lo dari orok,,, masih aja Lo nyembunyiin kesedihan lo dari gue", ucapnya lagi sambil terisak.


"By... anterin gue pulang,,, gue mau pulang...gue gak mau di sini", pintanya pada sahabatnya itu.


"Ruby.... bagaimana dia bisa di sini?", tanya Arfin dalam hati yang terkejut melihat keberadaan Ruby.


Ruby pun membantu Naz berdiri, lalu ia menghampiri Arfin, " Aku gak nyangka ya Kak Arfin bisa dengan teganya menyakiti Naz yang begitu sayang sama Kak Arfin,,,, apa Kak Arfin tahu,,, setiap Naz ada masalah dengan Kak Arfin, kami selaku sahabatnya selalu menasehati Naz dan malah membela Kak Arfin,,, karena selama ini kami melihat kesungguhan Kak Arfin terhadap Naz,,, tapi ternyata,,,,, kenapa Kak Arfin malah mempermainkannya,,,,, Naz belum pernah mencintai seseorang seperti dia mencintai Kak Arfin,,, bahkan ia rela melawan Ayahnya begitu disayanginya demi untuk berpacaran dengan Kak Arfin...."

__ADS_1


"Ruby udah... ayok kita pergi ", ucap Naz menghentikan amarah Ruby.


" Gue belum selesai Naz ,,,", Ruby enggan beranjak.


" Udah By...ayok kita pulang ke rumah kakak ipar Lo,,, gue gak mau nangis disini, By", ucap Naz terus memaksa, dan Ruby pun akhirnya bersedia pergi bersama Naz meninggalkan Arfin juga Lutfi. Naz sempat menoleh sebentar, lalu ia melanjutkan langkahnya lagi.


Arfin menjatuhkan dirinya ke atas tanah, air matanya mulai berjatuhan membayangkan betapa menderitanya Naz karena ulahnya.


"Bro... ayo kita pergi... malu nanti Lo dilihatin pekerja proyek", ucap Lutfi mengulurkan tangannya pada Arfin.


"Pukul gue ,,, hajar gue sampai gue bisa merasakan rasa sakit ", ucap Arfin.


" Lo gila ya,,, udah cepet bangun,,, Lo mau jadi tontonan orang- orang duduk di pinggir jalan kayak gini,,, ayok bangun", Lutfi menarik tangan Arfin, namun ia tak bergeming.


"Al... gue tau apa yang Lo rasain,, tapi jangan kayak gini lah,, harusnya Lo tu kejar dia,,,,, jangan malah diam aja ... kejar cinta Lo ", Lutfi terus berbicara namun Arfin masih tak bergeming, dan saat melihat kunci mobilnya ia langsung bangkit dan beranjak pergi.


Lutfi yang melihatnya nampak senang, akhirnya Arfin mau mengejar Naz, lalu ia pun mengikutinya. Namun ternyata dugaannya salah, Arfin malah hendak menaiki mobilnya, ia langsung berlari menghampirinya karena takut ia berbuat bodoh.


" Al... Lo mau kemana,,, jangan berbuat gila.. jangan menyetir dalam keadaan seperti ini", Lutfi berusaha merebut kunci mobil Arfin, namun ia sangat kuat dan mendorong Lutfi hingga jatuh ke tanah, lalu Arfin menyalakan mobil dan melajukannya.


Lutfi langsung mengikuti Arfin dengan mobilnya yang terparkir di depan warung tadi, karena takut terjadi sesuatu dengan bosnya itu. "Arfin... jangan sampai lo berbuat bodoh,,,", gumamnya sambil terus melajukan mobilnya dengan menaikan kecepatannya untuk mengejar mobil Arfin.


Setelah beberapa saat aksi kejar- kejaran bagai polisi mengejar maling, kedua mobil terus melaju, kemudian masuk ke jalanan sepi...


cekiiitt... jegerrrr.... mobil Arfin menabrak sebuah tiang listrik. Lutfi pun langsung menghentikan mobilnya dan segera turun menghampiri mobil Arfin yang sudah nampak ringsek bagian depannya.


"Al... Arfin,,,,bangun Al... bangun Al.... ",Lutfi yang merasa panik berusaha membangunkan Arfin yang tak sadarkan diri dengan luka di wajahnya, untunglah kaca mobilnya dalam keadaan terbuka.



"Tolong - tolong tolong...!!.", Lutfi berteriak minta tolong, kemudian ada beberapa orang lewat dengan kendaraan bermotor berhenti dan membantu menolong Arfin serta mengeluarkannya dari mobil, kemudian dimasukan ke dalam mobil Lutfi, dan segera dibawa ke rumah sakit terdekat, karena kelamaan jika harus menunggu ambulan. Lutfi langsung menghubungi Pak Purnomo Aji.


Beruntung Arfin menggunakan seat belt dan airbag di dalam mobilnya bekerja dengan baik sehingga Arfin hanya terluka di bagian pipi dan hidungnya, namun ia tak sadarkan diri. Tapi entahlah dengan bagian dalamnya, semoga tidak ada luka dalam.


Setibanya di rumah sakit, setelah diturunkan dari mobil dan dibaringkan di atas brankar, Arfin langsung dibawa ke ruang UGD untuk mendapatkan penanganan.


Tak lama, Pak Aji pun datang, karena saat ia ditelpon oleh Lutfi, ia sedang diperjalanan pulang yang searah dengan rumah sakit tempat Arfin mendapat perawatan. Lutfi pun menceritakan kronologi nya pada Pak Aji.


Setelah beberapa saat dokter pun keluar dan mengatakan dia baik- baik saja, hanya ada beberapa luka ringan dan harus diinfus, jadi disarankan dirawat inap karena Arfin yang sudah sadar mengatakan sebelumnya ia pernah mengalami kecelakaan, dan ia meminta melakukan pengecekan keseluruhan ditakutkan ada luka dalam seperti dulu.


Lutfi yang baru selesai mengurus administrasi dan pendaftaran rawat inap pun menghubungi Bu Hinda mengabarkan kecelakaan yang dialami Arfin, dan setelah beberapa saat Arfin dibawa ke ruang rawat inap ditemani Pak Aji.



"Arfin... bagaimana sekarang keadaanmu??", tanya Pak Aji,,, "lain kali kalau sedang ada masalah jangan mengendarai mobil seorang diri,, bukankah sejak sembuh kemarin kamu diantar jemput sopir?", ucapnya menasehati.


"Masih sedikit pusing Om,,, soalnya semalaman aku gak tidur,,,, ya namanya juga musibah Om... aku juga gak nyangka bakal nabrak tiang listrik", ucapnya terkekeh kemudian menaikan ranjang bagian kepalanya menggunakan remot, sehingga posisinya duduk bersandar.


Ceklek ... terdengar suara pintu terbuka lalu munculah dua orang wanita dari balik pintu, tidak lain Naz dan Ruby. Naz yang sudah berlinang air mata melangkah perlahan menghampiri Arfin, dilihatnya pria yang sangat dicintainya itu tidak terluka parah seperti dalam bayangannya, hanya ada sedikit luka di wajahnya. Ia duduk di ranjang dan langsung memeluk Arfin sambil menangis.


"Aku minta maaf... hiks hiks...aku minta maaf .... hiks hiks... jangan seperti ini lagi.... jangan melukai dirimu lagi.... hiks hiks... jangan membuatku takut seperti ini.. aku sangat takut kehilangan mu....huhuhuhuhu", ucap Naz sambil menangis.


"Naz.... ", lirihnya. Arfin merasa bingung dengan perubahan sikap Naz, yang tadinya begitu marah padanya, namun sekarang tiba- tiba meminta maaf.


"Naz... lepaskan aku,,, jangan seperti ini,,, malu dilihat sama Om Aji dan Ruby".ucap Arfin merusaha melepaskan pelukan Naz .... ehh malah Pak Aji dan Ruby yang beranjak pergi meninggalkan ruangan itu dan membiarkan Naz berdua dengan Arfin.


"Aku gak peduli ,,, aku gak akan lepasin kamu...hiks hiks...aku gak akan membiarkanmu jauh dari ku lagi,,, hiks hiks... aku akan terus bersama mu,, Aa... hiks hiks", ucap Naz menolak melepaskan pelukannya.


Arfin pun tertegun mendengar ucapan Naz yang begitu menyentuh hatinya, namun saat ia tersadar ia tak ingin hanyut dalam situasi seperti ini,


" Naz,,, lepaskan aku... seperti yang kau bilang kita sudah tidak ada hubungan apa- apa lagi ,, dan kau juga sudah tahu aku sudah tidak ada perasaan apa- apa pada mu,, aku juga sudah......", Arfin belum selesai dengan perkataannya, Naz melepas pelukannya dan langsung memotong pembicaraan Arfin.


"Bohong.... semua itu bohong... hiks hiks...", ucap Naz lalu mengangkat dagu Arfin, "Lihat mataku ... lihat mataku lalu kau ulangi lagi kalimatku tadi,, hiks hiks", ucapnya sambil menatap mata Arfin, namun ia hanya diam membisu, "Kenapa diam.... katakan kau tidak mencintaiku lagi ...hiks hiks... ayo katakan ", ucap Naz lagi tanpa melepas tatapannya dan Arfin pun malah meneteskan air mata.


Arfin menghela nafas sejenak, lalu bibirnya yang bergetar dipaksakan untuk berucap, " Aku sangat mencintai mu,,,, aku masih sangat mencintai mu,, Naz,,, aku melakukan ini karena aku terlalu mencintaimu ,,, tapi aku tidak ingin membuat mu menderita suatu hari nanti", Arfin mengutarakan apa yang sebenarnya ia rasakan.


Naz pun tersenyum disela isakan tangisnya kemudian memeluk Arfin lagi, " Aku juga sangat mencintaimu.. hiks hiks ... aku akan selalu bersama mu,..hiks hiks.... aku sudah tahu semuanya... aku sudah tahu semuanya,, hiks hiks ",.


Arfin langsung membuka matanya lebar- lebar, lalu mendorong Naz dan melepaskan pelukannya, " Apa maksud mu, Naz ?? Tahu semuanya tentang apa??", tanya Arfin dengan raut wajah shock.


Naz menundukkan kepalanya sejenak, lalu mengangkatnya, kedua tangannya menyentuh pipi Arfin dan mengusapnya, ditataplah kedua matanya" Aku sudah tahu semuanya tentang mu,,, aku sudah tahu alasan mu meninggalkanku,,, aku sudah tahu semuanya,,, apapun yang terjadi aku akan selalu bersama mu,, aku janji ... hiks hiks,", Ucap Naz.


Arfin yang masih shock hanya diam membisu tanpa melepaskan pandangan nya dari tatapan mata Naz yang penuh ketulusan.


------------ TBC --------------


******************************


Aku mencintaimu bukan karena .........


Tapi aku mencintaimu walaupun ........


ea ea ea ea ea ......


Happy Reading 😉

__ADS_1


jangan luva tinggalkan jejak mu... like, komen, rate bintang 5, vote hadiah seikhlasnya .....😉😍


terimakasih ....aylapyu oll...😘😘😘


__ADS_2