
Cuaca yang mendung seakan menggambarkan perasaan Naz saat ini yang tengah dirundung gelisah disertai api cemburu dan kekesalan yang amat menyesakkan. “Hiks,,hiks,,Kak Arfin jahat,,, Kak Arfin jahat…Kak Arfin tega,,hiks hiks” , Naz terus menangis membenamkan wajahnya pada bantal sambil menggerutuki Arfin dan sesekali memukul- mukul bantalnya sampai lama- kelamaan Naz pun tertidur pulas.
Tok tok tok
“Naz,,,,Naz,,, bangun,,,ini sudah malam Naz”. Seseorang terus mengetuk- ngetuk pintu kamar Naz.
Naz pun mulai membuka matanya perlahan lalu bangkit dan mendudukkan dirinya untuk mengumpulkan lelembutannya, ”Iya,,,sebentar” Naz menjawab orang yang terus saja mengetuk pintu dan memanggil- manggil namanya. Naz pun berjalan ke arah pintu lalu memutar kuncinya dan membukakan pintunya sambil mengucek- ucek matanya. Dan saat melihat orang di hadapannya Naz langsung membuka matanya lebar- lebar dan langsung memeluk orang itu tanpa- aba-aba. “Kak Arsen,,,aku kangennn”.
“Kakak juga kangen sama kamu, sayang”. Arsen mengelus- elus kepala Naz yang sedang memeluknya dengan erat, lalu perlahan melepaskan pelukannya, Arsen pun mencium kening Naz.”Sudah lama kita tidak bertemu”,ucapnya sambil tersenyum, lalu Arsen memegang kedua pipi Naz dan menggosok- gosokan hidungnya pada hidung Naz.
“Iya ih,,Kakak ko gak pernah ke Jakarta lagi, katanya tiap bulan mau pulang, bohong banget”, Naz melepaskan tangan Arsen dari wajahnya, dan kembali masuk ke kamarnya dengan wajah cemberut.
“Maaf sayang, kakak lagi sibuk- sibuknya di kampus", Arsen berjalan mengikuti Naz masuk ke kamarnya dan menutup pintunya.
“Pantesan sejak aku sampai disini Kakak gak kelihatan batang hidungnya”, ucap Naz sambil berjalan ke arah tempat tidur.
“Sebenarnya tadi siang Kakak sempat pulang dulu karena ada barang yang harus dibawa sekalian pengen menemui kamu, tapi saat Kakak mau masuk ke kamarmu ada seseorang disini lagi ngobrol sambil bercanda ria bersamamu, jadi Kakak balik lagi aja takut mengganggu”, Ucapnya panjang lebar. Mereka pun duduk di tempat tidur sambil ngobrol- ngobrol dan sesekali Arsen mengusap- usap kepala Naz lalu kemudian memeluk adik kesayangannya itu.
Ceklek terdengar suara pintu yang dibuka.
“Sayang, kamu teh belum makan malam, nih Bunda bawain “, Bunda masuk membawa nampan berisi sepiring nasi beserta lauk pauknya dan segelas susu untuk Naz. “ Arsen, kamu juga baru pulang kan, mandi dulu sana terus makan”.
“Hemhhh,,, padahal aku masih kangen sama Naz, Bunda,,,, yasudah Kakak mandi dulu ya”, Arsen pun bangkit dari duduknya mengusap kepala Naz lalu mencium keningnya, kemudian ia pun bergegas keluar dari kamar Naz.
“Sayang, makan dulu atuh ya, dan harus dihabiskan biar gak pusing lagi”, Bunda menyodorkan makanan Naz dan Naz pun memakannya hingga habis.
“Udah habis Bunda,,, aku mau ke kamar mandi dulu ya”, Naz bangkit dari duduknya berjalan menuju tempat kopernya diletakan.
“Jangan mandi malam- malam atuh ah,,nanti masuk angin tuh kayak si Ayah,, tadi siang abis dikerokin,,hadeuh baru ditinggal dua malam sama Bunda aja sampe pusing gagarapakan kitu,,gimana kalau ditinggal lama,, mana tahan”, Bunda nyerocos kemana-mana.
“Aku mau cuci muka sama mau ganti aja, tadi siang aku udah mandi kok waktu abis makan, karena gak bisa tidur jadi aku mandi deh biar seger,,,,”, Naz mengambil perlengkapannya dari dalam koper.
“Ya sudah sana gih ke kamar mandi, muka kamu teh kusut banget gitu,, matanya agak bengkak lagi efek kelamaan tidur kamu yaa,,,”. Bunda memperhatikan wajah Naz, gak tahu aja itu efek habis nangis bombay.
“Oh iya Bunda,, emang apa hubungannya Ayah ditinggal Bunda dua malam sama pusing masuk angin?”, Naz menanyakan pernyataan Bunda tadi mengenai sang Ayah.
“Ah,,kamu mah gak bakalan ngerti, itu mah urusan 21 tahun plus plus,,,Eh barengan aja yu ,,Bunda juga mau ke dapur bikinin teh jahe buat Ayah”, Bunda dan Naz pun keluar kamar bersama,Naz ke menuju ke kamar mandi sedangkan Bunda kembali ke dapur.
Setelah beberapa saat pun Naz keluar dari kamar mandi, baru saja membuka pintu Naz dikagetkan dengan sesosok orang yang tengah berdiri di depan pintu kamar mandi.
“Kak Arfin ngapain disini?”, Naz bertanya masih dengan nada jutek.
“Ya mau ke kamar mandi lah Naz, cepetan kamu keluar,, aku udah kebelet inih”, Arfin sepertinya sudah tidak tahan dan Naz pun langsung keluar dan masuk kembali ke kamarnya.
Malam semakin larut disertai gerimis diluar sana yang membuat malam ini terasa semakin dingin. Semua penghuni rumah pun nampak tengah tertidur, lain halnya dengan Naz yang masih terjaga karena sudah sudah tidur sejak tadi sore.
Ting Ting terdengar suara dari ponsel Naz yang menandakan ada pesan masuk
Kak Arfin
“Naz,,, sudah tidur kah”
Naz hanya membacanya tanpa berniat membalas. Ting ting kembali berbunyi
Kak Arfin
“Belum tidur ya, kok cuma di baca doang? 😜”
"P"
"P"
"P"
“Hah,, orang ini kalo tidak dibalas pasti bakalan nyepam terus kayak dulu”, akhirnya Naz membalas pesannya.
Naz
“Iya”
Kak Arfin
“Aku juga gak bisa tidur, disini dingin banget walau tanpa AC”
Naz
“Gak nanya”
Kak Arfin
“Aku cuman memberitakan saja”
Naz
“Mendingan nonton berita di TV deh”
Kak Arfin
“Kamu kenapa sih, ko jutek banget?
“Besok kan kita mau naik roller coaster”
Naz
__ADS_1
“Udah gak minat"
Kak Arfin
“Loh kok gitu?”
“Aku mau memenuhi janjiku loh, soalnya ada yang bilang kalau pria yang baik harus mempertanggungjawabkan ucapannya”
Naz
“Pergi aja sana sama sekertaris Kaka yang cantik dan sexy itu”
Kak Arfin
“Dewi maksudnya?”
Naz
“Siapa lagi,, memangnya sekertaris kakak itu Bu Minah apa?”
Kak Arfin
“Hahahaha,,, ngapain aku pergi sama Dewi, dia nya aja diminta ikut ke acara mama nya”
“Lagian kan Dewi itu sekertaris aku saat di kantor, di luar kantor ya beda lagi”
Naz
“Beda lagi ? apa maksudnya?”
“Dia pacar kakak ya?”
Kak Arfin
“Kata siapa? Mana ada Dewi pacaran sama aku Naz, orang dia itu anaknya adik dari Mamiku, alias adik sepupuku”
Naz
“Hah...jadi dia itu sepupu Kak Arfin ?”
Kak Arfin
“Iya”
Naz
“Aku kira dia pacar Kaka”
Kak Arfin
“Eh tunggu,,, ohh jadi itu yang membuat kamu jutekin aku sejak tadi sore?”
“Apa kamu cemburu sama Dewi?”
Naz
“Cemburu ??”
“Mana ada,, gak usah ngadi- ngadi deh Kak”
Kak Arfin
“Udahlah ngaku aja”
Naz
“Apaan sih Kak, udah ah aku ngantuk”
“Assalamalaikum”
Kak Arfin
“Waalaikumsalam”
“Ternyata dia sepupunya Kak Arfin,, pantes aja tadi mereka kayak deket banget, itu karena ada hubungan persaudaraan toh bukan pacaran”. Naz senyam- senyum sambil memeluk guling nya, dan malam ini Naz tertidur membawa perasaan bahagia, tidak seperti tadi sore.
Adzan subuh telah berkumandang yang menandakan malam telah berakhir dan para penghuni rumah pun sudah terbangun dan segera melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim, setelah itu Bunda bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan, sedangkan Naz membantu bersih- bersih kemudian diminta Bunda untuk memberi makan ikan di kolam.
Saat Naz sedang memberi makan ikan sambil duduk di kursi rotan tiba- tiba Arfin datang menghampiri.
“Sendirian aja Naz”, Arfin pun duduk di kursi sebelahnya.
“Eh, Kak Arfin”, Naz merasa canggung bertemu dengan Arfin setelah kejadian kemarin.”Kakak ngapain ke sini?”, tanyanya.
“Pengen lihat ikan dan kebetulan aja lihat kamu ada di sini”,Arfin tersenyum melihat Naz yang sekarang sudah tidak jutek lagi padanya,”oh iya, kamu ternyata fasih berbahasa Sunda ya, ajarin aku dong, biar kalo ngobrol sama Mimih aku bisa ngerti dan nyambung”, Modus pendekatan dimulai lagi.
“Wani piro?”, ucap Naz sambil mengangkat tangan dan menggesekkan jempol pada ibu jarinya.
“Dih,, kamu tuh ternyata mata duitan ya,,, ngajarin anak jalanan aja gratis, kok sama aku minta bayaran”, Arfin protes.
“Ya beda lah,, kalo mereka kan kurang mampu, sedangkan Kak Arfin mah horang kayah, duitnya banyak”, Naz bicara sambil melempar makanan ikan ke kolam.
“Oh ya,, kata siapa aku orang kaya?”, Tanyanya dengan tatapan jahil.
__ADS_1
“Lah itu buktinya jadi Pak Bos kata kak Dewi juga”,Naz teringat bahwa Dewi memanggilnya dengan sebutan Pak Bos.
“Oh, Dewi yang kamu cemburuin itu?”, Arfin malah menggoda Naz.
"Jangan Ge-er deh,, siapa juga yang cemburu?", Naz menyangkal.
"Bukan Ge-er tapi percaya diri ", Arfin tersenyum penuh percaya diri , " Ayo dong ajarin bahasa Sunda, kan nanti mau diajakin jalan ke Trans Studio.
"Iya iya bawel ih, minta, diajarin apa,, ? " akhirnya Naz bersedia jadi guru les private nya Arfin.
"Emmm... Kalo bahasa Sundanya aku sama kamu apa?, tanyanya mengawali.
Naz berpikir sebentar dan tersenyum, " Aku itu bahasa sundanya aing, kalo kamu mah Maneh", Ucap Naz dengan santainya.
"Kalo sayang bahasa Sundanya apa? ", Arfin kembali bertanya.
" Bogoh ", jawab Naz singkat.
" Berarti kalau aku sayang kamu bahasa Sundanya Aing bogoh maneh gitu? , kok kayak gak enak banget di dengernya? ",Arfin mencoba menerjemahkan dan Naz pun langsung tertawa mendengarnya.
" Ko malah ketawa sih maneh? ", Arfin merasa heran.
" Kak Arfin gak cocok ngomong bahasa Sunda,,, hahahaha", Naz tidak bisa berhenti tertawa.
" Yee,, namanya juga baru belajar masih kaku lah aing,, oh iya Mimih itu manggil aku si kasep,,, itu artinya apa?? " Arfin penasaran dengan panggilan Mimih padanya.
" Itu artinya ganteng", Naz menjawab jujur.
"Oh ya..kalo menurut maneh, aing ganteng gak?",Arfin menanyakan pendapat Naz tentang dirinya.
" Meneketehe? ", Naz mengangkat bahunya
" Dih maneh kan bisa lihat,,,kalo gitu bahasa Sundanya cantik apa? ", Pelajaran masih berlanjut.
" Goreng patut ", Naz menjawab sambil menahan tawanya.
" Oh jadi kalo bilang kamu cantik,, Naz maneh goreng patut banget, gitu ya? ", Arfin bicara dengan semangat tapi Naz malah senyum sambil menahan tawa.
Arfin terus bertanya beberapa kata yang diucapkan sehari-hari dan di translate oleh Naz ke dalam bahasa Sunda.Tiba- tiba Bunda datang menghampiri mereka,, " Ya ampuun,, kalian dicariin buat sarapan bareng, malah berduaan disini, nanti ada orang ketiganya setan", Bunda bicara sambil berkecak pinggang.
"Berarti Bunda dong setan nya,, ", Arfin malah menjawab seenaknya.
"Kurang asem kamu Ar,, Bunda cantik begini malah dibilang setan ", Bunda tidak Terima dikatain.
" Marahin tuh Bunda, tuman", Naz malah mengompori.
" Jangan marahin aing dong Bunda, kalo marah nanti goreng patutnya hilang", Arfin menerapkan pelajaran bahasa Sunda yang diajarkan Naz.
"Hahh,, maksudnya kamu pikir selama ini Bunda itu goreng patut kitu? ", Bunda malah jadi ngegas sedangkan Naz menutup mulut dengan telapak tangannya untuk menyembunyikan tawanya.
" Iya,, kan tadi aing bilang gitu,,goreng patut sekali malah ", Arfin bicara dengan percaya diri merasa bisa mengucapkan bahasa Sunda.
" Hahh,,, bener-bener kamu Arfin ya?, kurang ajar sama bunda", Bunda tambah marah tapi heran melihat Naz yang cekikikan.
"Loh, emang Bunda gak suka dibilang cantik? Aing salah naon? ".Arfin bertanya dengan polosnya.
" Siapa yang ngajarin kamu teh ngomong Sunda gitu?", Bunda bertanya pada Arfin, dan dia menunjuk ke arah Naz yang duduk bersebelahan degannya, " Astaghfirullah Rheanazwa,,, kamu teh ngajarin kok yang gak bener sama Arfin,, ", kini kemarahan pindah kepada Naz.
" Hehehe,, ampun Bunda ratu, aku kan cuman bercanda", Naz malah cengengesan.
" Ih maneh yah, ko ngajarin aing yang gak bener sih, kan era jadinya", Arfin ikut ngomel pada Naz.
" Arfin udah kamu teh jangan ngomong bahasa Sunda,, itu teh yang diajarin Naz bahasa kasar semua,, malah bikin kamu malu nanti kalo ngomong sama orang,,untung baru ngomongnya sama Bunda,,,coba kalo sama yang lain, hadeuhh gak kebayang ", Bunda memberikan larangan pada Arfin lalu memandang kepada Naz " Kamu lagi, malah ngasih ajaran sesat,,,, kalo mau ngajarin tuh yang bener yang sesuai undak usuk basa dalam bahasa Sunda atuh ", Bunda mengomeli Naz, " Udah ah ayo kita sarapan bersama, semua orang udah pada nunggu", Bunda pun pergi duluan kembali masuk kedalam rumah sedangkan Naz dan Arfin masih duduk di kursi.
Arfin menatap Naz dengan kesal " Maksudnya apa kamu ngajarin gak bener gitu hemm? "
" Hehe,, maaf Kak aku cuma bercanda" , Naz mengacungkan dua jari ✌tanda perdamaian sambil nyengir kuda.
"Oh bercanda ya hemm.... Bercanda??? " Arfin mendekati Naz lalu menggelitik pinggang Naz.
" Ampun ih geli,,, ampun geli, ,, " Naz terus tertawa karena kegelian terus ia bangkit dari duduknya dan hendak kabur, Arfin pun ikut berdiri berusaha mencegah Naz supaya tidak kabur. Baru saja beberapa langkah Naz terpeleset hampir jatuh ke kolam ikan lalu Arfin berusaha menarik tangan Naz dan grep Naz tertarik refleks memeluk Arfin, mereka pun berpelukan tanpa saling melepas.
Tiba-tiba ada yang memegang pundak Arfin dan ia pun melepaskan pelukannya dan membalikan badan mengarah kepada orang itu.
Buugh..... Satu pukulan mendarat di pipi kanan Arfin dan membuatnya terdorong hampir jatuh, lalu orang itu menarik kerah baju Arfin, "Jangan pernah berani menyentuh Naz", ucapnya dengan penuh penegasan , buugh dia kembali melayangkan bogeman pada wajah Arfin hingga terjatuh.
" Kak Arfin.... " Naz berteriak , " Hentikan,,,, jangan memukulnya lagi", Naz membentak pria yang sudah memukul Arfin dan mendorongnya, lalu menghampiri Arfin yang terkapar di tanah.
-------------- TBC ------------
aing \= aku, Maneh \= kamu, bahasa Sunda kasar jangan ditiru yaa... 🙏
era \= malu
goreng patut \= jelek
*******************************
Hai Hai... Mohon maaf baru up lagi,,, terimakasih setia menunggu..... 🥰😘
happy Reading🥰
jangan lupa tinggalkan jejak mu,, like, komen, Terate bintang 5, dan vote....
__ADS_1
terimakasih..... 😘