
Bu Hinda tengah menyambut kedatangan kedua putra kesayangannya dengan perasaan gembira, hingga mengajak mereka bercanda gurau padahal keduanya baru saja melewati pintu masuk. Lelah sepulang bekerja nampak jelas dari raut wajah kedua kakak beradik itu, dan sang Mami pun langsung mengajak mereka duduk untuk beristirahat sejenak dan meminta Bi Darmi membawakan mereka minum, seperti tamu saja padahal biasanya mereka mengambil sendiri.
Mereka pun ngobrol- ngobrol kecil di ruang tamu yang sudah lama tidak pernah mereka lakukan, berkumpul dan bercanda bersama, itulah yang selalu dirindukan oleh Bu Hinda, melihat kembali keakraban kedua putra kesayangannya itu.
“Arfin,,, sepertinya kita harus bicara,,, “, terdengar suara bariton dengan nada tegas yang membuat Arfin, Nervan dan mami terkejut dengan kehadirannya.
“Kakek,,,, “, ucap Arfin dan Nervan secara bersamaan.
“Kenapa kalian terlihat begitu terkejut dengan kehadiran Kakek disini,,,? bukankah tadi pagi kita sudah bertemu saat rapat dewan direksi?”, ucap Kakek yang kini tengah berada di ruang tamu dan diikuti oleh Pak Latief, lalu mereka pun duduk di kursi tamu.
“Om kapan datang,, kok saya gak tahu?”, Bu Hinda menghampiri dan menyalami Kakek begitu pun kedua putranya juga ikut menyalami.
“Satu jam yang lalu saya datang kesini, kalo tidak salah Latief bilang kamu tadi sedang mandi, kemudian saya ngobrol dengan Latief di ruang kerjanya,,, “,ucapnya menjelaskan,, “Oh iya Arfin,,, tadi di kantor saya dengar kalau kamu menjalin hubungan dengan anaknya Syarief ,,, apa itu benar?”, Kakek langsung bertanya pada pokok permasalahan.
“Kakek,,, aku rasa itu bukan urusan Kakek,,, “, Nervan langsung berkomentar.
“Kakek sedang bicara dengan Arfin,,, bukan dengan kamu Nervan,, jaga sopan santun mu,, “, Kakek merasa tersinggung.
“Iya, Kakek benar,,”, Arfin menjawab pertanyaan Kakeknya itu.
“Kamu tahu bukan,,, kalo anak itu hasil dari hubungan gelap Syarief dengan selingkuhannya dan hal itu bisa mempermalukan serta mencoreng nama baik keluarga besar kita jika diketahui oleh publik,,, sebaiknya kamu jauhi anak itu,,, “,ucapnya dengan nada serius.
“Maaf Om,,, jika untuk masalah pekerjaan masih wajar jika Om turut campur,, tapi jika masalah ranah pribadi Arfin, saya rasa itu bukan urusan Om dan Om tidak ada hak sama sekali untuk mencampuri urusan pribadi Arfin,, “, Bu Hinda pun langsung ikut berkomentar.
“Jika urusannya soal kehormatan keluarga besar, saya berhak ikut campur,, apalagi itu berkaitan dengan cucu- cucu saya,,, “, Kakek kekeh.
“Maaf Om,, mungkin Om lupa,, Arfin bukan cucu Om,,, jadi Om tidak berhak mengatur- ngatur hidupnya apalagi masalah pasangan untuknya,, cukup Nervan yang mengalami kepahitan dalam hubungan percintaannya, dan saya tidak mau itu terulang lagi pada anak saya yang lainnya,, jadi saya mohon dengan sangat Om tidak perlu repot- repot mengurusi urusan pribadi Arfin,,, lagi pula gadis yang Om bicarakan adalah anak yang baik dan dia bisa menerima kekurangan Arfin,,, dia juga sudah diakui oleh keluarga Harfi sebagai bagian dari mereka,,, dan satu hal yang harus Om tahu kebahagian anak- anak saya lebih penting dari apa pun itu, maaf Om saya permisi”, Bu Hinda bicara panjang lebar lalu ia pun berpamitan meninggalkan ruang tamu.
“Hinda,,, kamu benar- benar tidak menghargai orang yang sudah membesarkan mu ini,,, “, Kakek meneriaki Bu Hinda yang sudah berjalan pergi hendak memasuki kamarnya dan tetap tidak menghiraukan ucapan kakek.
“Kakek,,, Mami benar,,, aku harap apa yang terjadi dengan ku tidak akan pernah terjadi pada adikku,, cukup aku yang menjadi korban keegoisan Kakek,,, aku juga permisi “, Nervan pun bangkit dari duduknya, ia berjalan menuju pintu keluar lalu pergi meninggalkan kediaman Pak Latief dengan mengendarai mobilnya.
“Saya minta maaf Pah,,, tanpa mengurangi rasa hormat saya, tolong biarkan anak- anak memilih kebahagiannya masing- masing, mereka sudah dewasa dan bisa memilih jalan menuju kebahagian mereka,,, kita sebagai orang tua hanya bisa membimbing mereka dan memperingatkan mereka jika mereka memilih jalan yang salah,, sekali lagi saya minta maaf,,, bukan maksud saya menggurui Papa,, saya masih sangat menghormati Papa sebagai orang tua dari mendiang istri saya,,, tolong Papa berikan saya dan Hinda kesempatan untuk mendidik anak- anak kami dengan cara kami,,, kedua putri saya sudah mengikuti semua yang Papa mau,,, tolong kali ini biarkan kami yang menjalankan peran kami sebagai orang tua, saya harap Papa bisa menghargai keputusan kami untu kedua putra kami”, Pak Latief pun ikut bersuara.
“Baiklah,,, aku tidak akan ikut campur,,, tapi jika kedua putramu melakukan kesalahan yang bisa mempermalukan keluarga besar kita, saya sendiri yang akan turun tangan,,, karena sepertinya kehadiranku di sini tidak diinginkan, sebaiknya aku juga pergi dari sini,,, ingat kata- kata ku Latief”, Kakek langsung berdiri lalu bergegas pergi keluar untung pulang.
Pak Latief melihat putra bungsunya hanya menunduk saja tanpa berkomentar apa pun, lalu ia berdiri menghampiri Arfin, “Al,,, kamu jangan berkecil hati, tak usah mendengarkan kata- kata Kakek, lagi pula Papi sudah tahu banyak tentang pacarmu itu,,, Syarief sering bercerita tentang putri kesayangannya itu,,, jika dia bisa menerima mu dengan segala kekurangan mu, tidak jadi masalah buat kami,,,, Papi dan Mami mu akan selalu mendukungmu“, Pak Latief menepuk pundak Arfin sambil tersenyum.
“Terimakasih, Pi…. “, ucap Arfin memandang ke arah Papi nya dan tersenyum padanya.
Kini Arfin pun telah mengantongi restu dari kedua orang tuanyad dan ia sangat bersyukur kedua orang tuanya tak mempermasalahkan identitas Naz. Semenjak itu hubungan Arfin dan Naz berjalan dengan mulus tanpa hambatan bagaikan jalan tol, paling hanya sedikit ribu- ribut kecil ditambah Naz yang terus menolak untuk bertemu dengan Mami nya Arfin dengan alasan yang sama, yakni belum siap, dan terkadang itu membuat Arfin tersinggung dan marah, akan tetapi Naz selalu berhasil merayu nya lagi, ya begitulah bumbu dalam suatu hubungan.
Selama satu bulan ini Naz dan Mami nya Arfin belum bertemu juga, selain Naz yang menolak terus karena belum siap, Mami nya Arfin pun tengah disibukan dengan kegiatan yayasan nya bersama rekan- rekannya, belum lagi acara arisan bersama geng nya, ya tahu sendiri lah ibu- ibu gaul zaman sekarang arisan sana arisan sini, kongkow sana kongkow sini dan sebagainya, sehingga belum ada waktu untuk bertemu dengan Naz.
Hari minggu ini Naz berniat untuk main ke panti, karena Arfin baru saja berangkat untuk tugas pekerjaan ke Singapura selama seminggu, dan seperti biasa ia pergi diantar oleh Pak Udin. Saat Naz sampai di panti, ia melihat ada seorang anak kecil sedang bermain berlari- larian dikejar oleh dua anak panti lainnya. Anak itu terlihat aktif dan ceria sekali bermain di halaman depan panti, namun Naz baru pertama kali ini melihat anak itu.
Tiba- tiba anak itu tersandung lalu jatuh tersungkur.
Huaaaaaaaa,,,, huaaaaaaa,,, anak itu menangis dengan kencangnya, Naz langsung menghampiri anak itu lalu menggendongnya, dan benar saja ternyata dari mulutnya keluar sedikit darah dibarengi air liur anak itu.
“Cup cup cup,,, anak cantik,,, anak pintar,,,, jangan nangis ya sayang “Naz menggendong anak itu dan mengayun- ayun nya supaya berhenti menangis, “Intan,,,, tolong ambilkan air minum ya,,”, ucapnya pada salah satu anak yang bermain tadi dan anak itu pun langsung berlari masuk ke dalam untuk mengambilkan air minum.
Tak lama kemudian Intan pun datang, “Kak ,, ini minumnya,, “, ia menyodorkan segelas air putih kepada Naz.
Naz pun duduk di teras sambil menggendong anak itu dalam lahunan nya dan ia pun sudah mulai berhenti menangis, ”Anak pintar,,, sini kakak lihat bibirnya sebentar”, Naz pun memeriksa bibirnya, “Oh,, ternyata bibirnya hanya tergigit bukan luka parah, minum dulu ya sayang tapi dimuntahin lagi supaya bibirnya bersih dari darah”, Naz meminumkan air pada anak itu dan ia pun menahannya sebentar di mulutnya lalu memuntahkan air tersebut, “Anak pintar,,,,, sekarang udah sembuh yaa lukanya,,,”, ucap Naz tersenyum pada anak itu.
“Intan,, ini siapa?? Apakah anak baru penghuni panti ini?”, Naz bertanya pada Intan.
“Bukan Kak,,, ini namanya Syanala umurnya baru dua tahun lebih, dia anaknya keponakan Bude,,, Bude kan lagi sakit jadi Kakak dan keponakan Bude datang kesini untuk merawat Bude”, jawab Intan.
“Hah,,, Bude sakit,,,?? Sejak kapan?? Bude sakit apa?”,Naz yang terkejut mendengar kabar itu kembali bertanya.
__ADS_1
“Bude sudah empat hari dirawat di rumah sakit, katanya sakit paru- paru gitu Kak”, Intan kembali menjawab.
“Ya ampun ,,, kenapa gak ada yang ngasih tahu Kakak,,, terus Bude dirawat di rumah sakit mana? Bude di sana sama siapa?”, Naz terus bertanya.
“Aku gak tahu Kak,, coba nanti tanya ke Kak Mina, tapi Kak Mina sedang ke Pasar,, Kakak tunggu dulu aja paling sebentar lagi Kak Mina pulang”, jawab Intan.
Naz pun menunggu kedatangan Mina dengan duduk di teras sambil bermain dengan anak kecil tadi yang masih malu – malu kucing ditemani dengan Intan. Setelah beberapa saat akhirnya Mina pun datang bersama seorang wanita. Naz tidak menyadari kedatangan mereka berdua karena keasyikan main boneka dengan anak kecil tadi.
“Naz,, sudah lama di sini?", tanya Mina.
“Eh Kak Mina,,, akhirnya datang juga,,, iya nih ada kali setengah jam an disini,, katanya Bude sakit ya Kak?? Sakit apa dan di rawat dimana?”,Naz langsung bertanya.
“Bude sakit paru- paru basah dan sekarang di rawat di umah sakit CR,,, Bude disana ditemani Kakak nya yang datang dari Jogja,, oh iya,, perkenalkan ini keponakan Bude,,,”, Mina memperkenalkan orang yang berdiri di sebelahnya, wanita itu pun menyodorkan tangannya ke sembarang arah, Naz merasa heran dibuatnya, lalu Mina memberikan isyarat bahwa wanita itu tidak bisa melihat alias tuna netra, akhirnya Naz menjulurkan tangannya dan berdiri di hadapan wanita tersebut lalu bersalaman dengannya.
“Rheanazwa, panggil saja Naz”,ucapnya memperkenalkan diri.
“Saya Maira,, keponakannya Bude Hafsah", ucapnya.
“Mama,,,, “, anak kecil tadi langsung menghampiri Maira dan memeluk kakinya.
“Nala sayang,,, maaf ya tadi mama tinggal sebentar”, Maira lalu mengajak Nala masuk ke dalam dengan berjalan menggunakan alat bantu tongkat, Naz terus memperhatikan Maira karena merasa iba padanya, mengurus anak sekecil Nala dengan kondisi keterbatasannya.
Setelah mendengarkan penjelasan dari Mina, Naz langsung berangkat ke rumah sakit yang disebutkan Mina untuk menjenguk Bude Hafsah, dan ternyata Bude sakitnya sudah parah karena selama ini selalu menolak dirawat hanya berobat jalan saja. Naz di rumah sakit menungui Bude hingga sore hari, ia meminta bantuan Papa nya agar Bude mendapatkan perawatan terbaik, dan Papa nya pun langsung mengabulkan permintaanya. Yang awalnya dirawat di kamar kelas 3 sekarang sudah berpindah ke kamar VIP, setidaknya Bude bisa merasa nyaman dan pengobatannya pun bisa lebih diutamakan.
Setiap pulang sekolah selama tiga hari ini Naz selalu menyempatkan menjenguk Bude bersama ketiga sahabatnya, dan keadaanya pun mulai berangsur membaik. Ternyata para donator Panti pun datang silih berganti menjenguk Bude di rumah sakit, dan yang menjaga Bude pun bergantian, kadang Kakak nya, kadang Mina atau pengurus panti yang lainnya.
Hari Kamis ini Naz mengikuti pertandingan taekwondo ke sekolah lain mewakili sekolah nya bersama Kiara dan 2 siswa laki- laki lainnya dalam satu tim. Pertandingan itu diikuti oleh beberapa sekolah tingkatan SMA.
Setelah bertanding ternyata yang masuk ke final adalah Kiara, Naz kalah dalam babak semi final sehingga ia hanya bisa menonton saja dalam babak final, dan sayangnya Kiara hanya mampu menjadi juara 2 saja dalam pertandingan kali ini, karena ia melakukan satu pelanggaran sehingga terkena pengurangan poin.
Setelah selesai bertanding semua peserta pun bubar barisan bersama para pelatih dan guru pendamping mereka dari sekolah masing- masing. Naz nampak sedang selfie lalu diganggu oleh Kiara.
“Ya iya lah,,, dia kan tahu gue mau tanding,, seperti biasa beliau minta dikirim foto”, Naz menjawab sembari mengirimkan pesan dan foto pada Arfin.
“Hahaha,,, gila ya,, kemana- mana musti kirim foto,, dia takut ya kalo lo sama cowok lain”,Kiara malah mengejek.
“Ya ya ya,,, masih mending gue cuman diminta foto,, nah lo diikutin sampe kesini”,ucap Naz tak mau kalah.
“Diikutin siapa maksud lo,,, gak usah aneh- aneh deh,, mana ada yang ngintilin gue”, Kiara langsung sewot.
“Noh orangnya lagi jalan kesini,,, hahaha”, Naz menunjuk seseorang yang berseragam guru yang sedang berjalan seperti hendak menghampiri mereka, “Sejak kapan Guru BK ngekorin pertandingan taekwondo,, harusnya beliau kan stay di sekolah,,, wanjiirr,,, beneran maneh kabogoh Pak Emir,,, hahaha”, Naz kini yang mengejek Kiara.
“Diem lo,,, gak usah ngarang”, Kiara tetap menyangkal.
“Hai Nyai peneaple,,, tiarap…”, seorang pria memakai pakaian taekwondo datang menghampiri mereka.
Kiara dan Naz memandangi pria itu dari atas sampai bawah, “Embe….”, ucap Kiara dan Naz berbarengan.
“Wow,,, kok lo bisa jadi kurus gini,,, lo beneran si Embe kan??”, tanya Kiara.
“Gila,,, lo kelindes truk apa bisa kayak gini?”, Naz kini berpindah mengejek teman lamanya.
“Sialan kalian berdua,,, gak ada matinye ngejekin gue mulu,,, gue gendut dikatain gajah bareuh bari keur reneuh,, sekarang gue kurus dikatain kelindes truk,,, modar atuh gue kelindes truk mah Nyai…”, ucap si Embe protes, “Gimana kabar kalian euy,,, kangen gue sama lo pada”, ucapnya sambil bersalaman gaul gaya anak remaja kekinian.
“Hahaha,,, kabar gue baik,, lo pangling banget tahu gak”, ucap Naz terkagum- kagum.
“Iya, gue gak nyangka ini lo,,, turun berapa kilo lo bisa sekurus ini?”, tanya Kiara penasaran.
“Yaa pokoknya dulu gue 113 kg dan sekarang 65 kg,,, kalian hitung aja sendiri lemak gue yang udah melebur”, ucap si Embe.
“Gila,,, emang parah lo,,, kenapa bisa kurus gini,,, ngebatin ya lo di putusin sama Ruby,,, hahahaha”, Kiara masih saja mengejek dan Naz pun ikut tertawa brsama Kiara. Saat mereka lagi asik- asik bercanda tiba- tiba datang orang menghampiri mereka.
__ADS_1
“Kiara,, bisa kita bicara sebentar”, ucapnya menghentikan tawa canda Kiara, Naz dan si Embe itu.
“Gaes,,, gue pergi dulu bentar ya,,”,Kiara pun mengikuti orang tersebut dan menjauh dari Naz dan Embe.
“Heh,,, lo tahu gak,, guru itu lagi deket sama Kiara,, dan lo tahu dia guru apa??”, Naz mengajak main teka- teki.
“Guru apa emang?”, si Embe malah balik nanya.
“Lo tebak dong guru apa yang sering banget berurusan sama Kiara?”, Naz kembali memberi pertanyaan.
“Guru BK?”, tebak si Embe dan diangguki oleh Naz sambil tersenyum, “Anjeer,,, si Kiara beneran pacaran sama guru BK,,, gila,,, emang gila banget dia,,,hahaha,,, ternyata dia udah suka sama laki ya,, berarti dia udah sembuh,, nah lo gimana udah sembuh belum?? ", Si Embe malah mengejek Naz.
“Sialan lo,,, emang gue apaan pakai sembuh segala,, orang gue gak sakit apa- apa”, Naz tidak terima seolah dikatain sakit .
“Lah kan lo hobi banget menolak cinta para cowok- cowok yang deketin lo,,, apaan coba itu namanya,, berarti kan lo gak doyan cowok”, Embe memperjelas.
“Sembarangan lo,,, gue bukannya gak suka cowok,, cuman gak pernah ada yang nyangkut ke hati gue,, kalo sekarang mah udah ada punya cowok dong gue”, Naz bersongong ria.
“Serius lo ??... Ratu Tolak Bala punya cowok”, Embe gak percaya.
“Ya iya lah,,, mana ada gue bohong sama lo…..”, ucap Naz.
“Mana buktinya kalo lo udah punya cowok,,, gue mau lihat foto lo sama cowok lo itu,,, baru gue percaya”, Embe masih tidak percaya.
“Cihh,,, dasar … lo pikir gue pembohong apa,,, nih gue kasih lihat”, Naz memperlihatkan foto di layar ponselnya..
“Hah,,, kok gue kayak kenal deh sama cowok lo ini”, Embe terus memperhatikan foto Arfin di ponsel Naz, “Tunggu- tunggu,,, ini kan Sang Anas ya,,, raja jalanan ,,, dia kan yang suka balapan motor,,, tapi setelah kecelakaan dia menghilang bak ditelan bumi”, ucap si Embe.
“Kok lo tahu cowok gue dulunya suka balapan”, tanya Naz heran.
“Ya tahu lah, orang dulu gue suka nonton balapannya sama Kakak gue,,, dan dulu kakak gue naksir sama dia sampe suka ikutan balapan juga terus dia suka curhat sama gue,, eh tapi sayangnya dulu Sang Anas nya udah punya pacar,, jadi ya kakak gue cuma bisa mengaguminya aja,,, tapi sekarang mah kakak gue nya juga udah nikah dan udah punya anak,,, ”, Embe menjelaskan.
“Hah,,, pacar,,? dia waktu SMA punya pacar…?”, Naz kembali bertanya.
“Iya sih katanya,,, kalo gak salah ceweknya itu anak panti asuhan Kasih Ibu,, itu yang gak jauh dari SD kita dulu,,, inget gak ? kalo lo belum dijemput lo pasti main di panti itu ya kan?”,ucap si Embe memberi keterangan.
“Hah,,, lo yakin anak panti itu ?”, Naz terus bertanya karena penasaran.
“Iya,,, kan dulu gue tinggal deket situ di rumah nenek gue,,, gue sering lihat dia naik motor balapnya itu nganter jemput ceweknya kalo sekolah tuh,,, kan mereka satu sekolahan, satu kelas malahan kata Kakak gue mah “, Embe benar- benar infotemen.
“Lo tahu gak siapa nama ceweknya?”, Naz semakin penasaran.
“Mana gue nyaho Nyai,,, udah lah lagian itu kan masa lalu gak usah dibahas,,, yang penting kan sekarang dia cowok lo,,, heh.. sini minta nomor kontak lo biar kita gampang komunikasi,,, “, ucapnya lalu minta nomor.
Setelah berbincang- bincang segala macam Naz dan Embe pun saling berpamitan untuk pulang, karena para pelatih masing- masing sudah memanggil mereka dan mengajak pulang.
Sepanjang perjalanan Naz terus memikirkan perkatan Embe tentang wanita masa lalu nya Arfin yang ternyata anak panti asuhan yang selama ini tempat bermainnya.
“Siapa ya dia,, kok aku jadi penasaran,, apa aku tanya Kak Dandy aja ya,,, ah engak- enggak,, mereka kan bersahabat,, bisa aja kan mereka sekongkol,,, atau aku tanya Bude aja ya,,, ahhhh Bude kan lagi sakit, masa iya akau menanyakan soal hal ini,,, iiihhhhhhh,,, gara- gara si Embe Kambiang tuh aku jadi kepikiran gini sih…..", Naz menggerutu kesal dalam hati.
-------- TBC --------
*********************
Happy Reading......
Jangan lupa tinggalkan jejak mu....😘
__ADS_1