
Terkadang,,, sebuah perjalanan kisah cinta tidak semulus jalan tol yang bebas hambatan dan rintangan yang bergalituk- galituk. Adakalanya diantara pasangan memiliki beberapa perbedaan selain perbedaan jenis kelamin tentunya, yakni perbedaan cara berpikir, perbedaan bersikap, perbedaan visi misi, terkadang perbedaan keyakinan, bahkan ada pun yang tersendat restu orang tua. Namun, dengan adanya ujian dalam suatu hubungan, justru membuat pasangan kekasih lebih menghargai serta menjunjung tinggi jalinan cinta mereka karena dibangun dengan penuh perjuangan, bahkan jika berniat memutuskan jalinan cinta itu pun butuh waktu lama untuk memikirkannya mengingat perjuangannya yang begitu sulit.
Dan itulah kini yang tengah menerpa jalinan asmara antara Naz dan Arfin yang baru saja dibangun kembali satu setengah jam yang lalu setelah sempat berakhir selama satu tahun lamanya. Yang ada dalam pikiran Naz, setelah ia mengetahui penyakit yang di derita oleh Arfin dan menerimanya dengan kekurangan yang dimilikinya serta mengajaknya berjuang bersama untuk kesembuhannya, itu sudah menyelesaikan masalah yang sempat membuat mereka putus, sehingga kini mereka bisa kembali berbahagia karena sudah berpacaran lagi.
Akan tetapi, mereka melupakan bahwa selain Naz yang terluka karena putusnya hubungan mereka dulu, juga membuat orang tua Naz terluka karena Arfin yang meninggalkan Naz begitu saja tanpa alasan yang jelas dikala pengajuan pertunangan yang seolah menolak putri mereka, terutama Bunda yang mengetahui masalah mereka sehingga merasa sakit hati karena putri yang sangat disayanginya telah dipermainkan oleh Arfin. Dan hal inilah yang menjadi polemik baru dalam hubungan Naz dan Arfin.
Taksi yang ditumpangi oleh Bunda, Naz dan Ruby akhirnya sampai di depan rumah Pak Aji, mereka pun turun dan bergegas masuk ke dalam rumah, kemudian Bunda membawa Naz dan Ruby masuk ke kamar Dinda, “Kalian teh tunggu di sini, Bunda mau ngambil barang- barang kita di rumah Arfin,,, oh iya satu lagi,, mana ponsel kamu?”, tanya Bunda pada Naz.
“Ada di dalam tas,,,”. Ucap Naz dengan nada sendu.
“Sini Bunda pinjam dulu”, ucap Bunda dan Naz pun mengambil ponsel dari dalam tasnya lalu memberikannya pada Bunda tanpa pikir panjang.
Setelah mendapatkan ponsel Naz, Bunda pun beranjak pergi, dan Naz baru menyadarinya, “Bunda,,,ponselku mau dibawa ke mana?”, tanya Naz yang menghentikan langkah Bunda kemudian menoleh padanya.
“Ponsel kamu Bunda sita, supaya tidak bisa menghubungi Arfin,, dan kamu Ruby,,,jangan coba- coba membantunya menghubungi Arfin”, ucap Bunda dengan tegas, “Bunda akan menghubungi kakak kamu agar menjemputmu kemari”, ucap Bunda yang kemudian beranjak pergi.
Bruk ,,, Naz menjatuhkan dirinya ke lantai,, “Kenapa jadi begini sih, By,,,,hiks hiks,,, kenapa kisah percintaan gue cobaannya gak ada habisnya terus datang silih berganti,,, hiks hiks… gue musti gimana, By? Hiks hiks”, ucapnya terisak sambil duduk di lantai.
Ruby pun ikut duduk di lantai di sebelah Naz, lalu memegang pundak Naz,
“Sabar Naz,,, gue bingung harus ngomong apa,,,, gue juga sedih lihat Lo sedih kayak gini,, gue gak tahu harus berbuat apa Naz.. Lo yang sabar ya.", ucap Ruby,
" Kenapa Bunda malah jadi gitu... sebelumnya Bunda setuju sama hubungan gue dan kak Arfin... bahkan kemaren juga baik- baik aja saat kami tinggal di rumah Kak Arfin... hiks hiks",,,,
"Menurut gue wajar sih Bunda khawatir sama Lo dan ikut campur dalam hubungan kalian, karena gak mau kalau sampai Lo sakit hati lagi kayak dulu... Masalahnya hubungan kalian itu sudah melibatkan orang tua, bahkan keluarga besar lo Naz,,, pastinya mereka berharap kalian ke jenjang serius sampai menikah,,, ditambah Kak Arfin yang usianya sudah matang juga mapan,,, dan gue juga setuju sih sama perkataan Bunda,,, kalau sekiranya Kak Arfin cuman mau main- main aja sama lo sampai kejadian kayak tadi,, mending lo gak usah deh pacaran lagi sama dia,,, gue juga takut nantinya lo terluka lagi,,,”, Ruby memaparkan pendapatnya.
“Tapi sekarang gue udah tahu alasan yang sebenarnya dia ninggalin gue,,, dan dia juga bilang akan berjuang buat gue, buat membahagiakan gue,,, gue sayang banget sama dia, By… hiks hiks”, ucap Naz terus membela sang kekasih.
“Yaudah kalau begitu, lo tinggal nunggu dia membuktikan perkataannya sama lo,, kalau emang dia serius sama lo, dia bakalan memperjuangkan lo mati- matian, Naz.... udah lo jangan nangis lagi,, setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya,,, daripada lo nangis mending mikirin gimana caranya supaya Kak Arfin bisa meyakinkan Bunda tentang keseriusannya sama lo,,, itu pun kalau dia mau menemui Bunda secara gentle,,, dan menurut gue,, sebaiknya saat ini lo patuhin aja dulu perintah Bunda,, jangan terus membangkang,, bahkan kalo bisa lo baik- baikin Bunda, ngasih apa kek gitu misalnya berlian, eh tapi kalo emak- emak lebish suka panci serbaguna gitu atau teflon berlapis diamond kayak di iklan lejel home shopping,,, supaya nantinya mempermudah hubungan lo sama Kak Arfin”, ucap Ruby lalu mengajarkan sogok - menyogok untuk memperlancar hubungan.
"Dasar Lo,,, malah ngajarin gue nyogok...", ucap Naz ketus.
Setelah beberapa saat kakaknya Ruby pun datang menjemput bersama suaminya, dan ia pun berpamitan pulang setelah memberi semangat pada Naz dan menguatkan sahabatnya itu. bertepatan dengan Bunda yang baru pulang dari rumah Arfin dengan membawa koper milik beliau dan juga milik Naz. Mereka pun berpamitan pada Naz dan Bunda, kemudian beranjak pergi, sedangkan Bunda dan Naz kembali ke kamar Dinda yang terletak di lantai dua dengan membawa koper masing- masing.
“Bunda sudah pesan tiket pesawat, besok penerbangan kita jam setengah delapan pagi,,, dan jam enam kita akan berangkat ke bandara”,ucap Bunda saat baru masuk ke kamar.
“Iya Bunda,,, “, jawab Naz manut saja, kemudian Naz pun berganti pakaian dengan baju tidur, sedangkan Bunda keluar kamar lagi setelah menyimpan koper.
Kini ia tengah berbaring di tempat tidur dengan terus memikirkan hubungannya dengan Arfin, hingga sesekali ia meneteskan air mata, lalu menghapusnya mengingat betapa sulitnya perjalanan cinta mereka. Ia ingin sekali meminta ponselnya yang masih ada ditangan Bunda, karena ingin mendengar suara kekasihnya itu sebelum ia tidur, namun ia teringat dengan perkataan Ruby supaya nurut dan tidak membangkang Bunda.
Ceklek ,,, Bunda masuk ke dalam kamar dengan menggenggam ponsel di tangannya,
“Di luar ada Arfin,,, dia pasti ingin bertemu denganmu”, ucap Bunda yang sontak membuat Naz bangkit dan langsung duduk sambil tersenyum karena merasa bahagia sang pujaan hati datang untuk menemuinya.
“Tapi Bunda tidak akan membiarkan dia menemui kamu,,,”, ucap Bunda lagi, dan seketika senyuman Naz sirna. “Bunda akan memberikan penawaran sama kamu,,, jadi kamu bisa tahu apa sebenarnya tujuan dia menjalin hubungan dengan mu lagi,, bagaimana?”, tanya Bunda menawarkan kesepakatan.
Naz berpikir sejenak, kemudian timbul keyakinan dalam dirinya kalau Arfin akan membuktikan perkataannya, "Baiklah,, tapi apa itu?", tanya Naz heran.
“Ayok ikut Bunda,, nanti Bunda jelaskan”, ucap Bunda kemudian mereka pun beranjak keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga menuju ruang tamu di bawah sambil membicarakan rencana Bunda pada Naz.
Ting nong,,,, ting nong,,, terdengar suara yang memencet bel dari balik pintu utama, Bunda pun membukanya, dan benar saja Arfin sudah datang, Bunda tidak membiarkannya masuk dan malah berbicara di teras depan pintu yang terbuka.
Bunda berbicara dengan nada jutek pada Arfin yang ingin menemui Naz, dan beliau malah mencegahnya dan terus berbicara dengan Arfin yang juga terus meminta maaf atas kejadian di rumah sakit tadi sore, sampai ia meminta kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan Naz dengan menggenggam kedua tangan Bunda dengan tangannya. Bunda yang tak memberi izin kemudian mengutarakan apa yang dirasakannya dulu saat kandasnya hubungan Arfin dengan Naz, sampai beliau melontarkan pertanyaan yang akan menentukan nasib hubungan Naz an Arfin yang baru dijalin kembali beberapa jam yang lalu.
“Sekarang Bunda mau tanya sama kamu,, apa tujuan kamu pacaran lagi dengan Naz? Niat mau serius sampai menikah ?,, atau hanya untuk main- main saja?”, tanya Bunda dengan raut wajah serius.
Mendengar kata ‘menikah’ membuat Arfin terdiam membisu sambil menundukkan kepalanya dan melepaskan tangan Bunda dari genggamannya, ia terlihat sedang berpikir karena tidak tahu harus menjawab apa tentang sesuatu yang sempat membuatnya tidak akan pernah melakukannya, yakni tidak akan menikah, dan tidak akan pernah menikah dengan siapa pun.
“Kenapa kamu malah diam saja, Arfin?,,, apa pertanyaan Bunda ini terlalu berat untuk kamu jawab? Atau memang kamu hanya ingin mempermainkan Naz lagi seperti dulu?”, Bunda yang merasa sudah merasa pegal berdiri di depan pintu pun melontarkan lagi pertanyaan karena tak kunjung mendapatkan jawaban.
Arfin masih diam membisu sambil menunduk, seolah tak menghiraukan pertanyaan Bunda, entah karena masih bingung dengan perasaannya, atau karena memang masih takut untuk menjalin hubungan serius sampai ke jenjang pernikahan.
Bunda nampak sudah mulai geram dengan diamnya Arfin, “Kalau begitu jangan pernah menemui anak saya lagi sebelum kamu bisa menjawab pertanyaan Bunda tadi,,, ini sudah malam sebaiknya kamu pulang, Bunda juga mau istirahat,, selamat malam”, ucap Bunda dengan nada tegas kemudian menutup kembali pintunya.
“Sekarang kamu sudah dengar sendiri kan? Dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan Bunda tentang keseriusannya”, ucap Bunda pada Naz yang sejak tadi berdiri di balik pintu menguping pembicaraan mereka. Naz hanya diam dan menunduk mendengar perkataan Bunda, “Ayok kita tidur,,, besok kita harus berangkat pagi- pagi sekali”, ucap Bunda memegang tangan Naz menuntunnya mengajak kembali ke kamar untuk tidur. Naz berjalan sambil menunduk dengan menahan diri untuk tidak menangis.
__ADS_1
Setelah sampai di kamar ia langsung berbaring di atas tempat tidur, lalu menyelimuti dirinya dengan badcover dan tidur menyamping membelakangi Bunda yang tidur di sebelahnya. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini sudah tak terbendung lagi, terus mengalir membasahi pipinya,
”Kanapa jadi seperti ini? Sulit sekali rasanya bagi kami untuk bersatu,,, apa dia masih meragukan ku yang mau menerima segal kekurangannya?”, gumamnya dalam hati, hingga ia pun tertidur.
***
Sementara Arfin yang sudah menerima penolakan Bunda karena tak mampu menjawab pertanyaan yang Bunda lontarkan, kembali pulang ke rumahnya dengan melangkah gontai dan perasaan sedih, kecewa serta marah pada dirinya sendiri yang tak memiliki keberanian untuk meyakinkan Bunda akan keseriusannya terhadap Naz. Nampaknya masih ada keraguan di dalam hatinya dan takut akan mengecewakan Naz dan tidak bisa membahagiakannya kelak. Ia pun masuk ke dalam kamarnya dan meratapi kebodohannya sendiri.
Setelah berpikir panjang dengan berbagai pertimbangan, akhirnya ia sudah memantapkan hatinya untuk berjuang demi gadis yang sangat dicintainya, “Besok aku akan menemui Bunda lagi,, aku janji Naz,, aku akan memperjuangkan cinta kita, aku akan berobat lagi dan berusaha keras untuk kesembuhan ku demi kamu, demi untuk bisa hidup bersama mu selamanya,, aku sangat mencintaimu gadis tengil ku”, ucapnya tersenyum sambil menatap layar ponselnya yang menampakkan gambar gadis pujaan hatinya.
***
Keeseokan harinya, pukul 07.10 pagi Arfin keluar dari kamarnya dengan berpakaian rapi stelan mau ke kantor, ia berjalan menuju ruang makan dan sudah ada sang Mami yang duduk di sana sedang memainkan ponselnya sambil senyam- senyum sendiri. “Lagi chating sama siapa si Mi,,,? girang banget kayaknya”, tanya Arfin yang kemudian duduk.
“Sama Papi mu lah,,, sama siapa lagi “, jawab Bu Hinda tanpa melepaskan pandangan dari layar ponselnya, “Oh iya,,, Mami nanti sore pulang ya ke Jakarta,, Papi mu sudah rindu katanya”, ucapnya lagi.
“Iya Mi,,, “, ucap Arfin sambil terkekeh lalu mengambil piring dan mengisinya dengan nasi beserta lauknya, mendengar kata rindu ia pun jadi teringat pada kekasih yang dirindukannya, kemudian ia meminum jus lalu memakan makanannya, namun baru dua suapan ia pun berhenti dan tidak melanjutkannya.
“Kok udah lagi makannya? Beda ya rasanya dengan masakan Naz?”, tanya Bu Hinda yang memperhatikan Arfin, sedangkan Arfin hanya tersenyum lalu minum dan menyudahi sarapannya. “Oh iya,, semalam gimana? Kamu udah bicara sama Mbak Anita dan minta maaf sama dia?”, tanya beliau yang teringat semalam Arfin pergi ke rumah Pak Aji
“Udah Mi,, cuman sekarang Al mau kesana lagi,,, karena semalam pembicaraan kami belum selesai”, jawab Arfin yang selesai minum.
“Kesana kemana maksud kamu?”, tanya Bu Hinda heran.
“Ya ke rumah Om Aji lah,, kemana lagi”, jawab Arfin dengan santainya.
“Mau ngapain ke rumah Pak Aji? Orang mereka udah di bandara dan delapan menit lagi juga pesawatnya take off”, ucap Bu Hinda sambil melirik jam tangannya.
“Apa?? Bandara?”, Arfin terkejut.
“Iya,, di Bandara,, mereka kan mau balik ke Jakarta pagi ini,,, katanya Naz udah harus bimbel lagi walaupun masih libur sekolah,, kan sebentar lagi dia UN”
“Apa,,, kenapa Naz tidak memberitahu ku kalau dia akan pulang pagi ini,,, jika aku mengejarnya gak akan keburu,,,, yang benar saja 8 menit lagi take off sama aja bohong,, pasti sekarang Naz udah di dalam pesawat dan sudah ponselnya dimatikan,, argh,,, sial banget”, gumamnya dalam hati.
“Pagi Bu,, pagi Bosque…”, sapa Lutfi.
“Ngapain kalian datang sepagi ini ?”, tanya Arfin ketus.
“Loh,,, kan kita mau ke kantor Cabang Semarang Bapak Arfin Yth.”, ucap Lutfi.
“Kapan ? kenapa kalian gak ngasih tahu saya??”, ucap Arfin kembali ketus.
“Hari ini lahh... Ya Ampun Pak,,, itu schedule yang anda minta sejak dua hari yang lalu, Tuan Muda ,, dan semalam saya mengingatkan kok lewat chat”, ucap Dilara ikut kesal.
“Chat apa,,, semalam saya gak mendapatkan pesan dari kamu”, ucap Arfin yakin.
“Ada Pak,, coba periksa”, ucapnya lalu Arfin pun mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan membuka aplikasi whatsapp-nya, dan benar saja ada pesan dari Dilara.
“Kurang ajar kamu,,, yang bener aja ngasih tahu saya jam satu dini hari saat saya sedang tidur pulas,,,”, ucapnya mengomel pada sekertarisnya itu.
“Hehehe,,, aku kemarin lupa,, kirain dirimu masih dirawat,,, eh ternyata masih hidup”, ucap Dilara sambil cengengesan dan membuat Arfin semakin kesal.
“Sudah sudah,,, ayo cepat kita berangkat,, nanti kita ketinggalan pesawat lagi,,,”, ucap Lutfi lalu melerai atasan dan sekertaris yang terus beradu mulut itu, kemudian Arfin pun mengambil tas kerjanya lalu berpamitan pada Mami nya, mereka bertiga pun berangkat ke Bandara diantar oleh sopir kantor.
***
Naz kini tengah berbaring memeluk guling sambil melamun di tempat tidur di rumah kedua orang tuanya, karena setelah sampai di Jakarta Naz memesan taksi online untuk mengantarnya ke rumah Mama nya dan tidak ikut ke rumah Bunda, karena ia merasa kesal pada Bunda yang sudah memisahkannya dengan sang kekasih, bahkan selama di dalam pesawat ia hanya diam seribu bahasa memendam kekesalannya. Dan di dalam taksi lah ia bisa menagis sejadi- jadinya sampai menjerit hingga membuat sopir taksi tersebut kaget dan ketakutan kalau Naz kerasukan setan bandara, sehingga saat di rumah ia tidak perlu menangis lagi,, itulah yang diajarkan Ayahnya.
“Kenapa Kak Arfin tidak menemuiku,,, padahal kan Bunda udah ngasih tahu ke Mami sejak subuh kalau kami mau balik ke Jakarta,,, dan tadi Mami bilang ditelpon juga udah ngomong ke dia soal kepulangan kami,,, tapi kok ddia malah pergi ke semarang,, ap dia emang gak niat serius sama aku sesuai ucapannya kemarin?? Huft,, kenapa jadi seperti ini si? Mana ponselku masih disita sama Bunda,, dan aku udah gak hafal nomor Kak Arfin yang sudah kuhapus sejak putus dulu,,,”, Naz berdialog dalam hatinya.
Tok tok tok ,,,, Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Naz.
“Naz,,, ayok kita makan,, Mama udah masakin makanan kesukaan kamu loh,,, Raline dan Elsa udah menunggu di ruang makan”, seru Mama-nya dari balik pintu.
__ADS_1
“Iya Ma,,, Naz nanti nyusul,, mau shalat dulu”, ucap Naz yang kemudian pergi ke kamar mandi lalu kembali dan menunaikan shalat. Seusai itu, ia pun pergi ke ruang makan dimana ketiga wanita di rumahnya selain dia sudah menunggu untuk makan siang bersama.
***
Selama dua hari Naz terus menunggu kedatangan Arfin dengan menahan diri untuk tidak menghubunginya, namun yang dinanti tak kunjung datang. Dia hanya mengurung diri di dalam kamarnya, mengisi soal- soal latihan ujian untuk mengalihkan dirinya agar tidak memikirkan Arfin,, ia keluar hanya sekedar untuk makan ataupun mengambil minum.
Malam ini adalah malam Minggu, malamnya kaula muda yang memiliki pasangan menghabiskan waktu untuk ngedate, entah itu pergi jalan, makan malam berdua, nonton ke bioskop, atau sekedar ngapel ke rumah pacarnya. Berbeda halnya dengan Naz, yang walaupun memiliki pasangan tak ada yang mengapeli nya, ia hanya bisa menikmati malam Minggu kelabu.
Naz baru saja selesai makan malam bersama keluarganya, terdengar ada suara bel berbunyi.... Ting nong ....Ting nong ...., Naz mendengar itu serasa mendapat angin surga, "Apa itu Kak Arfin ,?", gumamnya dalam hati saat sedang mengupas jeruk. Senyuman bahagia terukir di wajahnya yang terlihat berseri- seri. Kemudian datang Bi Surti,
"Maaf Pak... ada tamu untuk Bapak", ucap Bi Surti pada Pak Syarief.
" Tamu untuk saya ?? Apa Bibi gak salah? kok malam Minggu gini bukannya anak-anak gadisku yang diapelin, malah Papa", ucap Pak Syarief bergurau, kemudian beliau pun beranjak dari ruang makan hendak menemui tamu nya itu.
Naz yang sempat merasa bahagia, kembali menjadi sedih,kemudian ia pun berpamitan dan kembali ke kamarnya.
***
Keesokan harinya seusai sarapan Raline dan Elsa mengajak Naz berziarah ke makam Bu Mira, dan ia pun menerima ajakan kedua saudari nya itu. Setelah bersiap Naz memakai atasan kuning, celana jeans, dan sweather hitam, beserta kerudung pashmina hitam, mereka pun berangkat diantar Pak Udin.
Di jalan sebelum masuk ke area pemakaman, mereka membeli bunga dan air mawar, si penjual sudah mengenal ketiganya karena mereka rutin setiap sebulan sekali datang ke sana. Kemudian mereka bertiga berjalan menyusuri area pemakaman umum menuju makam mendiang ibu Mira. Mereka berdoa, lalu menyiramkan air mawar serta menaburkan bunga, dan mereka pun bercerita seolah ibu mereka adalah pendengar curahan hati mereka.
Setelah beberapa saat mereka pun beranjak pergi meninggalkan pusaran Ibu mereka, dan kembali ke tempat Pak Udin menunggu.
"Kak... kita nongkrong yuk di kafe, kata temenku ada kafe baru dan pandangannya juga indah", ucap Elsa pada kedua kakaknya .
"Emmm...boleh- boleh... daripada di rumah terus suntuk,,, udah puyeng lihat soal latihan ujian,, gimana Naz?", tanya Raline pada Naz.
"Terserah kalian saja,,, aku mah ikutan Bae", ucap Naz pasrah, kemudian mereka pun masuk ke dalam mobil dengan Elsa yang duduk di depan sebelah Pak Udin, sedangkan Raline di belakang bersama Naz. Naz merasa gerah lalu membuka sweather dan kerudungnya.
"Naz coba cium ini parfum terbaruku loh... enak gak wanginya?", ucap Raline menyodorkan kerudung nya yang sudah ia lipat kembali, lalu Naz pun menciumnya.
"Wanginya enak...kalem... girly banget",ucapnya memberi nilai, kemudian Pak Udin pun melajukan mobilnya menuju tempat yang diberitahukan oleh Elsa. Naz kembali melamun sampai ia tertidur selama perjalanan.
"Kak... Kak Nanaz... bangun... kita udah sampai ini...", Elsa membangunkan Naz dengan menggoyang- goyangkan lengannya.
"Emhhh.... kita udah sampai ya... dimana ini??", tanya Naz kebingungan.
"Kakak nanti jalan lurus ya ke sana, setelah 10 meter terus belok kiri, kita udah pesan meja di sana, kakak tempati takutnya di ambil alih sama orang,,, aku mau pesan makanannya dulu, soalnya Kak Raline lagi ke toilet perutnya mules katanya,,,", ucap Elsa yang kemudian segera pergi.
Naz yang kesadarannya belum terkumpul turun dari mobil, dan saat melihat keluar ternyata tempat ini tidak asing baginya, ia melangkah dengan perasaan yang berkecamuk karena sudah lama tak pernah ke tempat ini lagi karena terlalu banyak kenangan di sini. Ia berjalan sesuai arahan Elsa, lurus 10 meter lalu belok kiri, dan benar saja ada sebuah meja kosong namun sudah tersedia empat piring kosong lengkap dengan sendok dan garpu nya, juga ada beberapa bunga disimpan dalam vas kaca. Kemudian Naz pun mendekat lalu duduk di salah satu kursinya.
"Tempat ini gak banyak berubah,,, suasananya masih seperti dulu", gumamnya dalam hati sambil mengedarkan pandangannya.
"Permisi Nona,,, ini pesanan khusus untuk Anda,,, ", ucap seorang pelayan yang datang dengan membawa nampan berisi piring lengkap dengan tutup saji berbentuk gunungan bulat, kemudian menaruhnya di atas meja tepat di hadapan Naz.
"Untuk saya ?? ", tanya Naz merasa bingung dan heran.
"Iya,,, tadi menurut pesanan dari meja ini, Nona,,, katanya itu kesukaan Nona,,, silahkan.. selamat menikmati ... saya permisi", ucapnya lalu pamit.
"Makanan kesukaan aku?? hmmm.... Elsa tahu aja kalo aku lagi sedih doyan makan", ucap Naz tersenyum lalu membuka tutup saji piring tersebut.
Saat sudah dibuka sempurna matanya terbelak karena terkejut melihat isian piring tersebut,,,
" Hah... siapa yang bilang ini makanan kesukaan ku??",Tanya nya masih dalam mode terkejut.
------------ TBC ------------
************************.
Aku ingin begini... aku ingin begitu ...ingin gantung ini dan ingin gantung itu....wkwkwkk....peace ahh✌️
Happy Reading...😉
Jangan luva tinggalkan jejakmu....👌😉😘
__ADS_1
Tilimikicih.... alapyu all...😘😘😘