
“Arfin…. !!”, seru wanita itu dan suaranya terdengar oleh Naz sehingga membuatnya menghentikan langkahnya yang hendak pergi ke dapur, ia membalikan tubuhnya dan bersembunyi di balik dinding, betapa terkejutnya ia melihat pemandangan di depannya itu.
“Kurang ajar itu Tante gembel,,, berani- beraninya meluk laki gue,,, “, ucap Naz merasa geram melihatnya, ia mengepalkan tangan dan memukulkannya ke tembok, “Awww,,,, sakit anjay,,,, tapi hati ku jauh lebih sakit,,,”, Naz mengebaskan tangannya, ia melanjutkan perjalananya ke dapur dengan raut wajah kesal.
Beberapa kali ia menghela nafas berat seolah menghempaskan rasa sesak di dadanya, ia pun tiba di dapur yang hanya ada Bi Darmih yang sedang mengepel lantai, “Bi,, Mami kemana?”.
“Setelah menyajikan makanan ke meja makan, Nyonya langsung pergi ke kamarnya, katanya mau mandi, Non”, Jawab Bi Darmi.
“Oh,,, iya,,,”, kemudian ia mengambil cangkir teh satu set dengan piring kecil nya, lalu ia membuka kulkas dan mengambil buah lemon serta madu dalam kemasan botol dari dalam sana. “Bi,, Teh disimpan di mana ya?”, tanya nya yang tidak melihat keberadaan teh di sekitaran dapur itu.
“Di laci itu, Non”, Bi Darmih menunjuk ke arah kitchen set di belakang tubuh Naz, kemudian ia pergi ke belakang karena sudah selesai mengepel.
Naz pun membalikan tubuhnya, melangkah lalu menarik pegangan laci tersebut, ia menemukan beberapa kotak teh celup dengan beberapa varian rasa dan ia mengambil rasa lemon. Saat ia mendorong kembali lacinya, ia tak sengaja melihat botol cuka di antara botol saus yang ada di rak kecil tepat dihadapannya, tiba- tiba jiwa jahilnya keluar, ia pun mengambil cuka tersebut.
Naz menyeduh teh dengan air panas, lalu mencampurkan dua sendok madu dan memasukan tiga sendok makan cuka ke dalam teh tersebut, sambil tersenyum jahil, “Rasain lo,,, minum nih teh cuko,,,, lemon nya cuman buat garnis aja,,, gak apa- apalah sama- sama asem inih,,, masih untung gak gue kasih kotoran kucing yang asem nya alaihim,,, hihiihi“, ucapnya pelan sambil cekikikan dan mengocek teh nya menggunakan sendok agar semua bahan tercampur rata, kemudian buah lemon dipotong bulat tipis dan dipasangkan pada pinggiran gelas.
“Harusnya gue tambahin kencur, gula merah sama cabe rawit, biar jadi cuko pempek,, hihihi,,, mules mules deh tuh perut,,, berani- beraninya ngatain gue pembantu, nyuruh gue bikin teh pula, ditambah meluk laki gue,,, awas aja ya,, tunggu pembalasan Nyai”, ucapnya sambil menyipitkan mata sambil tersenyum sinis.
Naz meletakan teh nya di atas nampan, ia menghela nafas panjang untuk menetralkan rasa kesalnya, kemudian ia beranjak pergi ke ruang tamu untuk mengirimkan pesanan si Tante Gembel.
“Tante Gembel gatel plus ganjen, teh mu akan segera sampai”, gumamnya sambil berjalan.
Beruntung saat ia sampai di ruang tamu, ternyata si wanita itu tengah duduk sendirian di sana, “Maaf Nona,, ini teh nya”, ucap Naz yang masih berakting jadi pembantu, lalu menaruhnya di atas meja tepat di hadapan wanita yang sedang duduk sambil memainkan ponsel itu.
“Hmm,,, terimakasih,,, “, ucapnya tanpa melihat, Naz pun beranjak pergi meninggalkannya, namun ia merasa penasaran ingin melihat wanita itu meminum teh spesial buatannya. Ia pun mengintip dari balik dinding kamar tamu yang menjadi tikungan dari ruang tamu ke ruang tengah.
Dia mengambil gelas beserta piring tatakannya, kemudian meminum teh tersebut, “Emhh,,, kok asem banget sih,, jangan- jangan lemon nya kebanyakan lagi, bego banget sih tuh pembantu”, ucapnya menggerutu, namun ia malah kembali menyeruput teh panasnya itu.
“Sialan,,, dia ngatain gue bego lagi,,, gue sumpahin mules berhari- hari lo,,”, Naz menggerutu dalam hati lalu cekikikan melihat teh nya sudah diminum, kemudian ia pun kembali ke dapur untuk menyimpan nampan dan celemek nya.
Saat Naz berjalan menuju kamarnya, ia mendengar suara Mami di ruang tamu, entah apa yang merasukinya membuatnya tiba- tiba kepo, ia pun kembali mengintip mereka dari balik dinding kamar tamu. Naz semakin merasa penasaran saat mendengar mereka yang nampak sangat akrab, sampai- sampai wanita itu memanggil mertuanya dengan sebutan Mami.
“Mami,, Feli kangen banget tahu gak sama Mami,, kok semenjak Arfin pulang ke Indonesia, Mami gak pernah ke Amerika lagi?”, ucapnya memeluk Mami.
“Oh,, jadi nama tante gembel itu, Feli,,, kok kayak nama anak anjing ya,, Feli,, guk guk guk,, kemari,, guk guk guk,,, hiihihi “, Naz bicara dalam hati sambil menahan tawa.
“Mami juga kangen sama kamu,,, soalnya Fatma juga dalam setahun kemarin beberapa kali pulang, jadi Mami gak ada alasan ke sana lagi”, ucap Mami.
“Mami,, apa benar yang aku dengar tentang pernikahan Arfin? Mami kok tega banget sih? Bukannya Mami dulu yang menjodohkan aku sama Arfin,, sampai- sampai aku rela mengikutinya kuliah di Amerika meskipun aku bukan orang yang cerdas hingga tahun ini aku baru lulus,,,, Dulu juga aku selalu menemaninya saat ia menjalani pengobatan di sana sampai ia sembuh,,, walau dia sudah memutuskan tidak akan menikah dengan siapa pun, aku terus menunggunya dengan harapan suatu saat ia akan berubah pikiran, tapi,,, kenapa malah jadi begini… Mami,, hiks hiks ”, ucapnya yang kemudian terisak.
“Mami minta maaf sayang,, Mami juga gak tahu kalau Arfin berubah pikiran saat bertemu dengan seorang gadis yang membuatnya jatuh cinta, tidak lain yang sekarang sudah menjadi istrinya,, ini tandanya dia bukan jodoh mu,, Mami yakin kamu akan mendapatkan pria yang lebih baik dari Arfin”, ucap Mami menenangkannya.
Naz membekap mulutnya merasa tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, ia kemudian beranjak pergi karena ia takut tak akan sanggup jika mendengar hal lebih banyak lagi dari masa lalu suaminya yang tidak ia ketahui itu.
Naz melangkah gontai menuju kamarnya dengan raut wajah terkejut dan nampak bingung. Rasa sakit bercampur takut tiba- tiba datang melanda hatinya, sakit mengetahui wanita yang tadi memeluk suaminya adalah orang yang telah berjasa dan banyak berkorban untuk suaminya di saat ia dalam keadaan terpuruk, bahkan ia wanita yang dipilih mertuanya untuk dijodohkan dengan suaminya. Rasa takut pun muncul, jika wanita itu datang untuk mendekati dan merebut Arfin dari sisinya.
“Jadi saat itu Mami gak bohong kalau dia menjodohkan suamiku dengan seseorang saat masih kuliah,, dan orang itu ternyata si Feli tadi?”, lirihnya dalam hati.
Ceklek ,,, ia membuka pintu kamar lalu masuk dan kembali menutup pintunya, ia yang masih terhanyut dalam lamunan, terus melangkah gontai menuju tempat tidurnya.
“Sayang,,, kamu kenapa?”, tanya Arfin yang merasa heran melihat istrinya seperti orang kesambet, “Sayang,,,”, Arfin kembali memanggil Naz sambil menepuk pundaknya.
Naz yang baru tersadar dari lamunannya secara spontan melepaskan tangan Arfin dari pundaknya dengan kasar, “Jangan sentuh aku !!”, Naz memberi tatapan tajam pada suaminya.
“Sayang kamu kenapa?”, Arfin yang terkejut hendak memegang tangan Naz dan ia pun menepis nya.
“Jangan sentuh aku ihh,, sana mandi dulu kalau mau pegang- pegang”.ucspnya ketus.
“Kamu kenapa sih?? Aa kan udah mandi tadi subuh, masa harus mandi lagi? Orang tadi di ruang fitness aja gak olahraga malah tidur”.
“Gak usah pura- pura,,, apaan tadi peluk- pelukan sama perempuan lain”.
Arfin terkejut mendengar perkataan istrinya itu yang ternyata ia melihat kejadian tadi, “Sayang,,, kamu salah paham, tadi juga Aa gak tahu saat Felisha nyamperin dan tiba- tiba dia langsung meluk gitu aja”.
“Oh gitu?? Terus kenapa Aa diam saja? enak ya dipeluk wanita cantik dan sexy itu, hah?”, Naz semakin ketus.
“Enggak sayang,, tadi Aa langsung melepaskan pelukan dia kok,,,”, Arfin menjelaskan.
“Sekarang aku tahu kenapa Aa tiba- tiba ngajak pulang ke sini padahal sebelumnya kita sudah sepakat akat menginap di rumah Mama sampai penikahan Raline,, jadi karena ini,,, karena Aa udah janjian sama perempuan itu di rumah ini, iya kan ?? Hiks hiks,,,”, ucap Naz yang sudah tak sanggup membendung air matanya.
“Sayang, bukan gitu,, dia itu bukan siapa- siapa,, dia cuman teman kuliah saat di Amerika aja, teman Bang Evan juga”,Arfin kembali memberi penjelasan.
“Oh,, jadi dia teman yang kemarin Aa ceritakan itu?,,, Jadi karena perempuan itu, kemarin malam Aa sampai tidak menghubungiku, dan malah telponan dengannya sampai semalaman?? hiks hiks “, Naz terus menangis.
“Apa kamu tahu ? malam itu aku terus menghubungi mu, aku terus gelisah dan tidak bisa tidur karena belum mendengar suara mu,,, dan ternyata,,, hiks hiks,, ternyata kamu malah telponan sama perempuan lain,,, hiks hiks,,, dan sekarang perempuan itu datang ke sini,,, tega kamu ya,, hiks hiks,,“.
“Sayang,, dengar dulu penjelasan ku,, kamu salah paham”.
__ADS_1
“Aku juga tahu kalau dia itu wanita yang dijodohkan Mami sama kamu iya kan? Hiks hiks,,, kalau mau janjian sama dia kenapa harus bawa aku ke sini?? Hiks hiks,,,”, Naz terus menangis karena hatinya semakin terasa sakit.
“Sayang, kamu salah paham,, Aa gak ada hubungan apa- apa sama Feli, cuman sebatas teman biasa aja, dan Aa juga gak janjian bertemu di sini, dia memang bilang mau pulang, tapi Aa gak tahu kalau dia akan ke sini,, Aa berani sumpah,,, dan soal malam kemarin Aa kan sudah minta maaf,, gak ada perempuan lain, di hati Aa cuman ada kamu, Aa cuman sayang sama kamu,,,”, ucapnya meyakinan Naz,
"Sudah ya sayang,,, jangan menangis lagi ”, Tangan Arfin memegang tangan Naz, dan kembali ditepis oleh Naz.
“Jangan pegang- pegang,,, awas sana… aku gak mau tangan itu udah disentuh sama perempuan itu”, Naz melangkah ke dekat lemari pakaian, ia membuka lemari tersebut dan mengambil pakaian nya, kemudian ia beranjak pergi ke kamar mandi melewati suaminya begitu saja.
Arfin duduk di atas tempat tidur, ia menghela nafas berat lalu mengusap kasar rambutnya karena merasa kesal atas kedatangan temannya malah membuat masalah antara dirinya dengan sang istri.
Setelah beberapa saat Naz yang sudah berhenti menangis keluar dengan mengenakan pakaian yang rapi sambil melap wajahnya dengan handuk. Ia pun melangkah ke depan meja twalet, kemudian ia mengambil pouch yang berisi alat kosmetik untuk berdandan. Sedangkan Arfin terus memperhatikan istrinya tanpa ada yang bersuara diantara keduanya.
“Sayang, kamu udah rapi gitu mau kemana?”, Arfin memberanikan diri bertanya setelah Naz selesai dengan kegiatannya dan memasukan kosmetiknya kembali ke dalam pouch.
“Mau pulang”, jawabnya singkat lalu mengambil tas nya.
“Pulang kemana? Ke Surabaya”, Arfin kembali bertanya.
“Pulang ke rumah orang tua ku”, Naz memasukan pouch dan ponsel ke dalam tasnya.
Arfin langsung bangkit dan mendekat pada Naz dan menggengam tangannya, “Sayang,, tolong jangan seperti ini,,, kita bisa bicarakan ini baik- baik,, kamu jangan pergi ya,,,”, Arfin membujuk sang istri yang masih dalam mode ngambek.
Naz melepaskan tangan suaminya, “Aku gak peduli,,, hati aku sakit banget tahu gak”.
“Sayang,,, tolong lah jangan seperti ini,,, Aa gak mau jauh- jauh lagi dari kamu,, jangan pergi ya please,,,,”.
“Bodo amat,,, kalau perempuan itu masih ada di sini, aku gak mau tinggal di sini lagi”, Naz sudah berada di level kesal maksimal.
Grep … Arfin langsung memeluk istrinya dari belakang, “Sayang,, tolong jangan tinggalkan aku,,,please,,, aku sangat mencintaimu,, aku mohon jangan pergi, sayang”. Lirihnya memohon.
Naz tertegun akan sikap dan ucapan suaminya yang mampu meluluhkan hatinya yang masih dipenuhi amarah, juga membuatnya merasa tidak tega pada suaminya, ia menghela nafas sejenak,
“Aa gak usah nyegah aku pergi,,, kalau gak mau jauh dari ku, ya tinggal ikut ,, apa susahnya”, ucapnya ketus.
Arfin membulatkan matanya seolah ia baru tersadar dari kebodohannya, tentu saja jika ia tidak ingin jauh dari istrinya tinggal mengikutinya saja, tidak perlu memohon- mohon seakan istrinya akan pergi ke ujung dunia dan sulit ditemukan, lagi pula rumah orang tuanya masih sekitaran Jakarta. Ia pun secara spontan melepaskan pelukannya.
“Yasudah,, kita pergi bersama,,,", ucapnya merasa kikuk.
“Iya,,, tapi ganti baju dulu,, kalau perlu mandi sekalian,, aku gak mau ada bekas bau perempuan itu di baju atau tubuh mu,,, buang saja sekalian baju mu itu”, titah Naz memberi syarat.
Arfin pun segera mengganti pakaiannya, begitu juga Naz karena tadi sudah dipeluk oleh Arfin. Setelah keduanya selesai kemudian mereka beranjak keluar dari kamar.
“Iya sayang,,,”, kemudian Arfin berjalan lebih dulu menuju ruang makan sedangkan Naz akan menyusul, karena ia ingin melihat ekspresi si Tante gembel saat melihat orang yang disebutnya pembantu ternyata adalah menantu di rumah itu.
Di ruang makan sudah ada Bu Hinda, Pak Latief dan Felisha si Tante gembel. “Al,,, kok sendirian,, Naz mana?”, tanya Bu Hinda.
“Bentar lagi juga kesini, Mi,,, “, jawabnya.
Felisha langsung berdiri menyambut Arfin, dan ia menggandeng tangan Arfin “Ar,,, ayo duduk di sini,,, aku pengen ngobrol banyak loh sama kamu”, ucapnya tersenyum tanpa rasa malu.
“Yassalam,,, baru aja di bilangin jangan deket- deket sama si gatel itu,, malah gandengan,,, sabar- sabar Naz.. tenangkan dirimu,, jangan memperlihatkan rasa kesal dan takut mu,, nanti perempuan sundel itu malah senang”, gumam Naz dalam hati.
“Ekhem,,, “, Naz yang baru tiba di meja makan langsung berdehem, ia menarik kursi lalu duduk dan menatap tajam pada suaminya yang sedang berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Felisha, dan akhirnya berhasil, kemudian ia berjalan dan duduk di kursi bersebelahan dengan istrinya, sedangkan Felisha duduk di sebelah Mami.
“Loh,, kamu kan pembantu yang tadi,, ngapain kamu duduk di sini? Gak sopan banget”, Felisha terkejut melihat Naz dan langsung bicara ketus padanya hingga semua orang menatap Felisha karena perkataannya.
“Felisha,, jaga bicara mu,, sejak tadi justru sikap mu yang tidak sopan,,”, Pak Latief akhirnya buka suara, sepertinya beliau tidak suka dengan kehadiran Felisha di sana, apalagi saat ia baru bertemu Arfin tadi yang dengan seenaknya main peluk- peluk Arfin tanpa rasa malu padahal ada beliau di samping Arfin, ditambah ia malah menghina menantunya.
“Loh, Om kok malah membela pembantu itu? memangnya sejak kapan di rumah ini pembantu diperbolehkan makan bersama majikannya?”, Felisha malah semakin berani, karena ia merasa sudah sangat dekat dengan keluarga itu, terutama dengan Bu Hinda.
Arfin merasa tidak bisa tinggal diam mendengar istrinya yang disebut pembantu oleh Felisha, ia memegang tangan Naz yang berada di atas meja, kemudian ia pun membuka suara,
“Feli,,, Naz ini bukan pembantu, melainkan menantu di rumah ini, dan dia adalah istriku, tolong jaga sikap mu”, Arfin bicara dengan menatap istrinya sambil tersenyum, tanpa menoleh sedikit pun pada Felisha yang duduk berhadapan dengannya yang hanya terhalang oleh meja makan.
"Apa???", Felisha sangat terkejut.
Naz hanya tersenyum penuh kemenangan, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, dan itu membuat Felisha jengkel melihatnya karena merasa sudah dipermainkan sehingga dia mempermalukan dirinya sendiri di depan Arfin dan keluarganya. Bu Hinda pun sama hanya diam, karena ia merasa bingung jika harus membela salah satu, walau sebenarnya ia sangat menyayangi Naz, namun ia tak tega jika harus menyakiti perasaan Felisha yang merasa sangat sedih karena pria yang selama ini ia nantikan dengan penuh kesabaran dan harapan yang besar ternyata malah menikah dengan perempuan lain.
“Sebaiknya kita mulai makan,, saya sudah lapar dan saya tidak suka ada perdebatan di meja makan”, Pak Latief menegaskan.
Mereka pun menyantap sarapan tanpa berbicara hingga selesai. Aura ketegangan dan rasa canggung tak biasanya kini menghiasi meja makan tersebut. Felisha benar- benar merasa kesal pada Arfin yang terus mengacuhkannya, bahkan untuk meliriknya saja seperti tidak sudi, apalagi berbicara dengannya, padahal ia sangat merindukan pria yang sudah hampir dua tahun tak pernah bertemu dengannya itu.
Pak Latief yang telah selesai makan pun pamit untuk berangkat ke kantor dan diantar oleh istrinya ke depan. Arfin pergi ke garasi untuk memanaskan mobilnnya dengan membawakan tas Naz di tangannya, sedangkan Naz seperti biasa membereskan bekas makan mereka.
“Mau dandan secantik apa pun, tetap saja cocoknya jadi pembantu”, ucap Felisha menyindir Naz dan kekeh menganggapnya sebagai pembantu.
Naz terus mengulas senyum di bibir manisnya untuk memperlihatkan sikap tenangnya, padahal sebenarnya ia merasa sangat jengkel dan ingin rasanya mencakar wanita yang berusaha menggoda suaminya itu, “Sejak kecil saya sudah dididik mandiri oleh orang tua saya, toh enggak dosa kan kalau jadi wanita multi talenta yang serba bisa,,, yang dosa itu mengganggu suami orang,, permisi Tante”, ucapnya lalu melengos begitu saja menuju dapur dengan membawa beberapa piring kotor di tangannya, kecuali piring bekas makan Felisha.
__ADS_1
Felisha semakin kesal pada Naz, “Apa,,?? Dia manggil gue Tante?? Sial,,, dia benar- benar menyebalkan”, ucapnya menggerutu pelan, ia pun beranjak ke dapur menuju wastafel untuk mencuci tangannya, ia melihat Naz yang tengah mencuci piring, lalu mendekat ke arahnya sambil berpangku tangan.
“Mami bilang kalian itu baru hubungan sebentar langsung nikah,, berarti kamu belum tahu banyak dong tentang Arfin,, Aku sudah bertahun- tahun mengenal dan dekat dengannya sejak lulus SMA, bahkan setelah kecelakaan yang dialaminya pun aku selalu menemaninya saat pengobatan di Amerika, setiap hari kami selalu bersama, berangkat kuliah bersama dan tidak ada rahasia diantara kami”, Felisha masih saja mengganggu Naz.
Naz menghela nafas panjang agar dirinya tetap terlihat tenang menghadapi Felisha, ia mematikan air kran dan melap tangannya, “Oh Tante sudah lama ya kenal suami saya,,,? kenal doang kan,,, bukan pacaran??”, ucapnya dengan santai.
“Saya kenal sama Kak Arfin sejak masih SD loh, malahan sejak saya masih bayi pun dia sering main ke rumah oang tua saya,,, lagi pula untuk apa pacaran lama- lama kalau sudah saling CINTA,, dia yang ngajak saya nikah cepat- cepat, karena gak mau jauh- jauh dari saya katanya, saking cinta nya dia sama saya,,”, ucapnya tak mau kalah, Naz yang sudah selesai mencuci piring pun beranjak pergi, namun lengannya dicengkram oleh Felisha.
“Dengar ya anak ingusan,, kamu gak usah belagu,, saya yang seharusnya menikah dengan Arfin karena orang tua kami sudah menjodohkan kami sejak lama,, dan saya akan mengambil yang seharusnya menjadi milik saya”, ucapnya dengan nada penuh penekanan.
Naz melepaskan tangannya dari cengkraman Felisha dengan kasar, “Dengar ya Tante,,, gak usah mimpi,,, asal Tante tahu Kak Arfin pulang dari Amerika itu untuk bertemu saya, karena sejak lama dia sudah mencintai saya,, makanya kalian dijodohkan sama orang tua juga gak ngepek tuh buat Kak Arfin, buktinya dia malah memilih saya dan menikah dengan saya kan,,, ??... udah deh Tante saya kasih saran ya,, gak usah menganggu rumah tangga orang,, Tante kan cantik dan masih banyak pria lajang di luaran sana, tinggal pilih aja kan,,, lagian sayang dong masa udah kuliah jauh- jauh ke Amerika, tapi kok akhlaknya gak bermoral”, Naz masih berusaha dalam mode tenang, terus menahan emosi yang sebenarnya sudah meluap- luap di dalam dada.
“Kamu…!!”, Felisha mengangkat jari telunjuknya di arahkan pada wajah Naz dengan tatapan kemarahan. ”Beraninya kamu bilang saya tidak bermoral”,ucapnya semakin geram.
“Terus apa dong? kegatelan ? keganjenan? Atau murahan??”, Naz yang merasa geram akhirnya mengeluarkan kata- kata yang sebenarnya tidak suka ia lontarkan, lalu Felisha mengangkat tangannya hendak menampar Naz, namun tiba- tiba perutnya terasa sakit dan sangat mules sehingga tangannya malah beralih memegang perutnya.
“Wahh,, teh cuko sudah beraksi rupanya,, rasakan kau,, gue kerjain lagi ah”, gumam Naz dalam hati.
“Tante mau nampar saya,, ayok tampar”, Naz malah sengaja menantang dan menyodorkan pipinya pada Felisa yang tengah meringis kesakitan, Felisha hendak melangkah untuk pergi ke kamar mandi, namun Naz menghalanginya.
“Minggir kamu !!”, Felisha yang perutnya semakin sakit mendorong Naz agar tak menghalanginya untuk ke kamar mandi, namun Naz kembali menghadangnya.
“Sekali lagi saya ingatkan, jangan pernah mendekati suami saya”, ucapnya memperingatkan.
“Minggir kamu !!”, Felisha mendorong Naz lagi, kemudian ia segera beranjak ke kamar mandi, dan Naz pun mengejarnya hingga ia sampai di depan pintu kamar mandi lebih dulu dan kembali menghalangi Felisha.
“Ngapain sih kamu di situ,, minggir saya mau masuk!!”, teriak Felisha sambil memegang perutnya yang sakit.
“Saya gak akan minggir, sebelum Tante berjanji tidak akan mendekati suami saya lagi”, ucap Naz bernegosiasi.
“Jangan harap,, saya akan tetap mengambil apa yang seharusnya menjadi milik saya”, Felisha kekeh pada pendiriannya.
Naz merasa geram, lalu ia masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya dari dalam.
“Buka pintunya dasar kurang ajar,,,!! “, teriak Feli sambil menggedor pintu.
“Jangan harap saya akan membukakan pintunya, pup saja sanah diluar,,”.sahut Naz.
“Buka,, aku mohon buka,, perutku sakit banget, udah gak tahan ini”, Feli terus menggedor pintu.
“Enggak mau,, sebelum Tante janji gak akan gangguin suami saya lagi”.
“Shitt,,, damn it… iya saya gak akan ganggu,, cepat buka pintunya”, Feli pun menyerah.
“Janji ya”.Naz meyakinkan.
“Iya,, cepet buka”.
Naz membuka pintu kamar mandinya, namun ia tak langsung membiarkan Felisha masuk,
“Minggir kamu !!”, bentaknya.
“Eit,, janji dulu “.
“Heh,,, tidak semudah itu”, Feli malah mangkir.
“Yasudah gak boleh masuk”, ucap Naz dengan santai.
Naz terus menghalangi Felisha yang nampak pucat dan tidak bisa menahan sakitnya lagi, Felisa ke kiri Naz pun ke kiri, Felisha ke kanan Naz pun ke kanan,
“Minggir sialan !”.bentaknya lagi.
“Enggak akan…”.
“Iya iya aku janji gak akan mendekati Arfin lagi, minggir sana”, Feli menyerah.
“Eh nanti dulu”.Naz tak percaya semudah itu.
“Apalagi sih,, minggir, perutku udah gak tahan ini”. Feli nampak frustasi.
“Kalian lagi ngapain sih ?”, terdengar suara yang mereka kenal dan keduanya mengarahkan pandangan pada orang itu yang tidak lain adalah Arfin yang tengah berjalan menghampiri mereka.
Duuuttt ,,,, terdengar suara menggelegar yang disertai bau tidak sedap mencemari udara.
“Jorok banget sih kamu, kentut sembarangan”, gerutu Arfin pada Feli yang nampak terkejut sekaligus malu. Naz pun menyingkir dari depan pintu sambil menutup hidungnya dan membiarkan Feli masuk ke kamar mandi.
“Ayok sayang kita berangkat”, ajak Naz dan mereka pun beranjak pergi sambil menutup hidung masing- masing.
“Rasakan kau Tante Gembel,, itu baru permulaan,, kalau masih berani mendekati suamiku, aku akan kasih lebih dari ini”, Gumam Naz dalam hati sambil tersenyum licik.
__ADS_1
---------------- TBC ------------------