
Drttt drtttt drttt….
Naz merasakan ponsel di dalam tas nya bergetar, ia pun segera mengambil ponsel dan langsung melihat layarnya.
Di sana tertera ada dua panggilan tak terjawab dan satu pesan masuk. Ia pun membuka pesan di ponselnya itu setelah ia masuk dan duduk di Aula. Betapa terkejutnya ia saat pertama kali membuka pesannya.
Embe Kambiang
Naz
"Sialan lo, embe,,, ngagetin gue aja😤"
Embe Kambiang
“Hahaha,,, kali- kali jahilin ratu jahil 🙊✌️”
“Peneaple,,, gimana kabar lo sehat?"
Naz
“Alhamdulillah sehat.. lo sendiri gimana kabarnya?”
Embe Kambiang
“Ya gini- gini aja gue mah kabarnya masih jomlo”
Naz
“Gue nanya kabar bukan nanya status penderitaan lo 😒”
“Malah curhat betapa malangnya nasib lo 😅”
Embe Kambiang
“Hahahaha”
“Ehh,,, Lo masih inget gak sama Bisma kakak kelas kita saat di SD dulu?”
Naz
“Bisma yang mana. Mbe?”
Embe Kambiang
“Itu yang gendut dan culun, rambutnya suka diponi kaya si dora”
“Yang pernah ngasih lo surat cinta, dan lo tolak mentah- mentah sampai dia ngatain lo buntelan kentut”
“Padahal kan dia juga dulunya gendut, mungkin kalau dulu dia sama lo kalian jadi bom atom,, haha”
Naz
“Sialan lo, malah ngatain gue”
“Terus,, ngapain lo nanyain dia ke gue?”
“Apa urusannya sama gue?”
Embe Kambiang
“Doi minta nomor kontak lo, katanya mau ada acara reunian SD”
“Kasih jangan?”
Naz
“Jangan,, Mbe ,,, jangan dikasih"
“Laki gue suka buka- buka ponsel gue”
“Nanti dia banyak tanya kalau ada nomor cowok “
“Astoge..😱 sekarang gue baru inget,,, ternyata orangnya sekarang satu kampus sama gue aduhh,,”
“Tapi penampilan nya jauh banget dari waktu SD dulu, sekarang mah cool euy, gue aja gak mengenalinya"
Embe Kmbiang
“Nyebut Naz,,, lo malah muji- muji cowok lain,, 😅"
“Berarti dia minta nomor lo bukan untuk reunian dong,, modus banget njirr”
“Ternyata dia berniat mau deketin lo 😅”
“Karena dia tahu kalo lo udah langsing dan tambah cantik, makanya dia ngejar lo”
“Apa dia gak tahu kalau lo udah merrit".
Naz
“Anjay,,, masa iya dia mau ngejar gue lagi?”
“Kayaknya musti gue kasih tahu kalau gue udah married dan lagi hamil”
Embe Kambiang
“Whatt?? Lo lagi hamil?”
“Wuihhh,,, tokcer juga laki lo… “
“Iya mending lo tegasin aja, daripada ntar dia ngejar- ngejar lo”
“Bisa runyam urusannya”
Naz
“Thanks ya Mbe, info nya”
__ADS_1
“Inget ya, lo jangan ngasih nomor gue ke dia”
“Terus kalau dia nanyain gue lagi, bilang aja gue udah nikah dan lagi hamil”
Embe Kambiang
“Oke,,,”
“Yassalam,,, jadi dia itu Kak Bisma,, bener kan dugaan ku,, soalnya cuman dia yang pernah ngatain aku buntelan kentut waktu SD dulu, gara- gara ku tolak cintanya”, gumamnya dalam hati.
“Kok perasaan ku jadi gak enak gini ya? semoga semuanya akan baik- baik saja”, Naz kembali bergumam dalam hati.
Kegiatan hari ini pun berakhir pada pukul empat sore, saat bubar dari Aula, Naz kembali bertemu pria yang ternyata bernama Bisma itu di luar Aula dan dia terlihat berjalan mendekat ke arah Naz, namun Naz dengan segera mengajak Kris pergi untuk menghindari Bisma.
“Kenapa sih, kamu kok kayak takut gitu?”, Kris merasa heran.
“Udah jangan banyak tanya,, ayok cepetan kita ke parkiran”, Naz terus berjalan dan sesekali menoleh ke belakang, karena takut Bisma mengejarnya.
“Hey,, inget sama bayi mu jangan jalan cepat- cepat”, Kris mengingatkan .
“Eh,, iya astagfirullah… “, Naz segera melambatkan langkah nya.
“Kenapa sih?”, Kris masih penasaran.
“Aku malas bertemu dengan orang tadi”, Naz berterus terang.
“Haahaha,, kayaknya dia penasaran sama kamu,,,”, Kris menduga- duga, keduanya pun sampai di parkiran, “Kamu pulang sama siapa, Naz?”, tanya Kris.
“Tuh udah ada sopir jemput aku”, Naz menunjuk ke arah mobil yang sudah ia kenali baru datang.
“Eh,,, tunggu,, kita belum tukeran nomor,, nih masukin momor mu ke sini”,Kris memberikan ponselnya pada Naz, lalu ia pun memasukan nomor nya dan mengembalikan ponsel Kris.
“Aku duluan ya,, daahh”, keduanya pun berpisah di parkiran, Naz menaiki mobil jemputan nya dan sang sopir mulai melajukan mobilnya.
“Pak Tejo,, anterin aku ke kantor ya,, aku pengen jemput suami ku”, titah Naz.
“Emm,,, anu Bu,, Pak Arfin bilang saya harus mengantarkan ibu langsung ke rumah”, Pak Tejo nampak gugup.
“Loh kenapa? Aku kan pengen pulang bareng sama suami ku”, Naz mempertanyakan alasan pada sang sopir.
“Eng,,, Pak Arfin bilang, Ibu kan harus banyak istirahat, takutnya kecapek- an jadi diminta langsung pulang aja”, Pak Tejo teringat pesan majikannya.
“Oh,,, yasudah,,, kalau gitu“, Naz menghela nafas berat lalu mengelus- elus perutnya.
Sesampainya di rumah ia dikejutkan oleh orang yang membukakan nya pintu,
“Mama…??”, sapa Naz merasa senang, ia pun segera memeluk Mama nya. “Mama kok gak bilang mau datang kesini?”, tanya nya setelah melepas pelukannya, kemudian mereka pun masuk ke dalam rumah.
“Kan biar kejutan,,,, Mama kangen sama kamu”, ucap beliau sambil berjalan bersama menuju ruang tengah.
“Mama kapan datang?”, Naz kemudian duduk di sofa ruang tengah dan Bu Rahmi pun duduk disebelah Naz.
“Setengah jam yang lalu baru sampai sini,, gimana kabar cucu Mama,, sehat?”, Bu Rami mengusap perut Naz.
“Alhamdulillah sehat Ma,,, ihh Mama gitu deh yang ditanyain kabar cucunya doang,,, aku nya enggak”, Naz merasa cemburu karena perhatian Mamanya malah lebih perduli pada kandungannya.
“Hahha,, kan kalau kamu kelihatan sehat walafiat”, Bu Rahmi menertawakan putrinya yang cemberut.
“Iya Ma,,, Naz ke kamar dulu ya”, Naz beranjak pergi ke kamarnya, sedangkan Bu Rahmi ke dapur.
Naz menyimpan tas nya lalu mengambil handuk dan pergi mandi.
Seusai berpakaian, bukannya keluar Naz malah rebahan di atas tempat tidur. Ia megambil ponsel dari dalam tas nya lalu menyalakan televisi. Dan ternyata ia mendapat pesan dari suaminya.
My Hubby
“Sayang,,, gimana tadi di kampus?”
“Maaf ya baru ngabarin,,, Aa nya sibuk dan tadi habis meeting pagi mendadak harus ke Semarang selama dua hari”
“Makanya Aa menghubungi Mama untuk menemani kamu di rumah”
“Jaga diri kalian baik- baik ya,,, jangan lupa makan, minum vitamin, sama minum susu”
“Jangan tidur kemalaman ya”
“I love you so much,,, salam sayang juga buat anaking dari Pagu nya ya”
Naz
"Yah.. kok mendadak banget?"
“Jangan lama- lama perginya”
“Aku sama anaking juga sayang kamu,,,”
“Aa juga jaga kesehatan ya disana,,, “
“Awas,, jangan keluyuran🤭"
Naz nampak sedih setelah membaca pesan dari suaminya, ia berusaha menghubunginya malah nomornya tidak aktif,
“Mungkin dia sibuk,,, nanti malam saja nelponnya”, Naz berdialog sendiri, dan menekan tombol remot beberapa kali untuk mencari acara TV yang menarik, namun lebih tepatnya ia hanya mengganti- ganti chanel saja tanpa berniat menontonnya.
Ia teringat belum mengabari ketiga sahabatnya setelah kejadian waktu itu, ia mengirim foto USG nya yang beberapa hari lalu ke grup WA The Bontot Unyu itu. Mereka awalnya tak percaya, namun Naz meyakinkan mereka sampai ia mengirimkan video yang menunjukan buku KIA milikinya, barulah mereka percaya dan langsung melakukan panggilan video call memberi ucapan selamat pada Naz sekalian saling bercerita pengalaman mereka ospek di tempat kuliah masing- masing.
**
Tok tok tok ….
“Masuk”, seru Naz yang baru selesai shalat isya dan tengah melipat mukena nya.
Ceklek ,,,
Bu Rahmi melangkah masuk, “Sayang,, ayok kita makan,,, “, ajak beliau.
“Iya, Ma,,, “, Naz bangkit lalu menyimpan alat shalatnya ke tempat semula.
Keduanya beranjak meninggalkan kamar Naz dan berjalan menuju ruang makan.
__ADS_1
Naz sebenarnya sedang tak nafsu makan, karena ini pertama kalinya semenjak dia hamil, sang suami meninggalkannya ke luar kota, bahkan sampai dua hari ke depan. Kini ia merasakan bagaimana perasaan suaminya saat ia meninggalkannya ke Jakarta untuk membantu persiapan pernikahan Raline bulan lalu.
Ia begitu merindukan sosok yang amat dicintainya itu, padahal baru seharian tidak bertemu. Entah mengapa semenjak hamil, ia ingin selalu di dekat suaminya, walau senang menjahilinya dan terkadang ia juga kesal sendiri pada sang suami.
Naz hanya memainkan makanannya dengan sendok tanpa menyuapkannya sedikit pun. Bu Rahmi yang melihat itu, mengingatkan Naz jika ia harus banyak makan demi kesehatannya dan juga janin yang ada di dalam kandungannya. Akhirnya Naz pun memaksakan diri untuk makan, dan setelah itu meminum susu nya yang sudah dibuatkan oleh Mbak Retno.
“Ma,,, aku udah selesai makan,, aku duluan ya”, Naz yang nampak lesu dan tak bersemangat beranjak pergi meninggalkan meja makan menuju kamarnya dengan membawa segelas air minum.
Ia masuk ke dalam kamar dan langsung minum vitamin. Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi suaminya, namun ia malah kembali mendapatkan pesan dari suaminya.
My Hubby
“Sayang kamu cepat tidur ya,, Aa juga ngantuk banget”
“Jangan lupa minum vitamin juga minum susu”
“Have a nice dream”
“I love you and anaking so much😍😘”
Naz
“We miss U,,,”
“Cepat pulang ya… 😘"
Naz menghela nafas berat, lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, dipeluklah guling yang da di sampingnya. Naz memejamkan matanya berusaha untuk tidur, namun hampir dua jam rasa kantuk pun tak junjung menghampirinya. Berkali- kali ia mengelus perutnya agar bisa tidur, tetap saja tidak berpengaruh.
Naz melihat jam dinding menunjukan pukul sepuluh malam, berkali- kali mengganti posisi seperti sedang gelisah, miring kiri, terlentang, miring kanan, terus saja seperti itu, namun tetap tak bisa tidur.
Akhirnya ia memutuskan untuk keluar kamar dengan membawa guling di pelukannya. Ia berjalan menuju kamar tempat Mama nya tidur, diketuknya pintu kamar tersebut, namun tak kunjung ada jawaban. Ia pun masuk karena ternyata pintu kamar nya tidak dikunci. Naz melangkah perlahan menghampiri Mama nya yang ternyata sudah tidur, ia membaringkan dirinya di tempat tidur tepat di sebelah Mama nya.
Saat Naz menyelimuti dirinya dengan selimut yang sama dengan sang Mama, beliau yang merasa terusik pun bangun.
“Naz,,, kau kah itu?”, Tanya beliau dengan suara serak.
“He em,,,”, Naz menjawab singkat.
Bu Rahmi mengubah posisi tidurnya menyamping ke arah Naz yang tidur terlentang, “Kamu kok belum tidur?”, tanya beliau.
“Aku gak bisa tidur Ma,, “, Naz menoleh.
“Kenapa? Apa karna suami mu tidak ada?”, Bu Rahmi paham betul akan hal itu.
Naz mengangguk, “Biasanya dia selalu mengelus perutku baru aku bisa tidur”, Naz seolah memberi kode.
“Yasudah sini, biar Mama yang mengelus perut mu”, Bu Rahmi yang kesadarannya sudah perlahan terkumpul pun mulai mengelus perut Naz dengan tangannya sambil tersenyum , “Sayang,,, malam ini Nenek yang akan mengantarkan mu bobo ya”, beliau berbicara pada janin yang ada di dalam perut Naz.
“Iya Nenek,,, “, naz menjawab dengan menyerupai suara anak kecil.
“Kamu tuh persis Mama saat hamil kamu dulu,, gak bisa tidur kalau Papa mu belum mengelus perut Mama,,, padahal saat hamil ketiga kakak mu, Mama tidak manja seperti itu,, eh sekarang malah nurun sama kamu”, Bu Rahmi menceritakan pengalamannya dulu.
“Masa sih Ma,,,?”, Naz merasa tak percaya ternyata hal seperti itu bisa menurun.
“Iya,,, bahkan pernah suatu hari Papa mu harus tugas ke luar kota, karena pekerjannya belum selesai, Papa mu terpaksa menginap di sana,, dan kamu tahu,, Mama gak tidur semalaman,,, makanya sejak saat itu selama Mama hamil kamu, Papa mu tak pernah lagi bepergian keluar kota sampai menginap,, semoga kamu gak seperti itu sayang,,, gak kebayang dua malam kamu gak tidur”.
“Mama kok tahu Aa gak akan pulang dua hari?”, Naz merasa heran karena ia belum menjelaskan nya pada beliau soal Arfin yang ke Semarang.
“Eng,,, itu,,, kan dia bilang kalau sedang tugas ke luar kota,, jadinya dia meminta Mama menemani mu”, Beliau berterus-terang.
“Eh iya,, aku lupa,,, kan Aa udah bilang kalau dia yang minta Mama ke sini,,, “, Naz baru ingat pesan yang dikirim suaminya tadi,
“Ternyata orang hamil tuh suka aneh- aneh ya Ma,, mood aku juga kadang suka berubah- ubah,, kadang aku kasihan sama suamiku, dia sabar banget menghadapi ku”.
“Iya,, soalnya kan terjadi perubahan hormon,,, tapi orang- orang sering bilang itu bawaan bayi,, hehehe,,, tentu saja,, karena suami mu sangat mencintai mu, dia selalu ingin menjaga dan membahagiakan mu,,, kamu pasti sangat merindukannya ya?”, Bu Hinda terkekeh dan Naz hanya tersenyum karena malu jika harus mengakui hal itu.
Bu Rahmi terus mengelus perut Naz, hingga putri bungsu nya itu tertidur, beliau pun kembali melanjutkan tidurnya.
**
Keesokan harinya pagi- pagi sekali Bu Rahmi sudah memasak sarapan untuk Naz, bahkan beliau pun ikut mengantarkan Naz ke kampusnya. Beliau berkeliling di sekitaran kampus tersebut, dan tak sengaja bertemu teman lamanya.
“Rahmi?”, sapa orang tersebut.
Bu Rahmi mengingat- ingat, “Prasetyo,,, ya?”.
“Iya,,,,”.
“Wahh,,, gak nyangka bertemu di sini ya,, gimana kabarnya”, ucapnya bersalaman.
“Alhamdulillah baik,, kau sendiri bagaimana? Sedang apa di sini? apa berniat ngajar di sini?”.
“Alhamdulillah baik juga,,, aku tadi nganter putriku yang kuliah di sini,,, enggak lah,, aku udah berhenti ngajar 20 tahun yang lalu,, kasihan anak- anak ku kurang perhatian karena orang tuanya sibuk bekerja,“.
“Oh,, ya ,,? anak mu ada yang kuliah di sini?,, padahal sayang ya,, kenapa ga lanjut ngajar kau ?? pastinya sekarang anak- anak mu sudah pada besar”.
“Enggak ah,, sudah senang jadi ibu rumah tangga aja,, anak sudah pada dewasa lanjut ngurus cucu,,, lagian dulu pikir ku anak sendiri terabaikan malah sibuk mendidik anak orang, apalagi setelah putra ketiga ku meninggal,, ada rasa trauma dan takut kehilangan anak lagi jika aku kurang memperhatikan mereka,, jadi biarkan saja Papa nya anak- anak yang kerja,, aku ngurus rumah sama anak,, ternyata jauh lebih menyenangkan melihat perkembangan mereka setiap harinya,, tentunya setiap orang memiliki cara pandang berbeda akan hal itu,, oh iya,, sudah lama ngajar di sini?”.
“Ya sekitar dua puluh tahun,,, dan baru lima tahun ini menjabat jadi Dekan di sini”,jelas beliau.
“Wahhh,,, hebat,,, eh maaf aku duluan ya,, “,Bu Rahmi pun pamit undur diri, beliau kembali pulang ke rumah Arfin.
Naz yang melihatnya dari kejauhan baru menyadari sesuatu, "Ternyata dia temannya Mama ya?? pantesan dia bilang aku ini keponakannya", gumam Naz dalam hati.
Hari ini acara di ospek di ambil alih oleh panitia para pengurus BEM untuk melakukan beberapa kegiatan di lapangan. Pria bernama Bisma itu terus saja mencoba mendekati Naz, seolah ia ingin mengajaknya bicara, namun Naz terus menghindarinya, hingga ia tidak ikut serta dalam kegiatan tersebut. Ia meminta untuk beristirahat di klinik yang ada di kampus tersebut dengan alasan kurang enak badan. Padahal sebenarnya ia sedang terserang malarindu, karena sejak kemarin ia tak bertemu sang suami, bahkan mendengar suaranya pun tak bisa, dan hanya sekedar berkirim pesan saja.
Akhirnya Naz meminta izin untuk pulang lebih awal, dan ia segera menghubungi sopir untuk menjemputnya setelah mendapatkan izin.
**
Sesampainya di rumah, Naz bergegas masuk dan berjalan menuju kamar nya, saat ia melewati kamar Bu Rahmi yang pintunya sedikit terbuka, ia mendengar suara Mamanya sedang berbicara. Naz menghentikan langkahnya saat sang mama menyebut nama suaminya. Ia pun menguping dan membuka pintunya agak lebar.
“Iya, Jeng,,, Naz disini baik- baik saja kok,, mudah- mudahan Arfin keadaanya cepat membaik ya, Jeng,, kasihan dia kalau sampai masuk ICU”, ucap beliau..
Naz terkejut mendengar ucapan Mama nya, tak sengaja ia menjatuhkan tas nya hingga suaranya terdengar oleh Bu Rahmi, beliau segera membalikan badannya.
“Naz,,,,??”, lirihnya dengan ekspresi terkejut.
“Suamiku kenapa, Ma ?”, Naz bicara diiringi air mata yang jatuh membasahi pipi nya.
__ADS_1
--------------- TBC -----------------
*************************