
Terkadang menilai kedewasaan seseorang itu tidak hanya dilihat dari umur nya saja, akan tetapi bisa dilihat dari pola pemikiran ataupun cara pandang orang itu terhadap pengalaman dirinya atau pun orang- orang di sekelilingnya, baik itu di lingkungan keluarga, lingkungan pergaulan serta lingkungan sekolah/ sarana pendidikan. Bagi sebagian orang, dewasa itu alami, tidak perlu belajar, karena mereka terdidik menjadi dewasa sejak kecil. Tapi bagi sebagian orang yang lainnya dewasa itu pembelajaran, mereka terbentuk dari orang- orang yang tidak begitu mengerti apa itu dewasa. Tanda- tanda orang itu dikatakan dewasa apabila ia sudah bisa berpikiran terbuka, mudah memaafkan kesalahan orang lain, tidak egois, pandai menempatkan diri, juga belajar mengalah.
Pasangan pengantin baru Naz dan Arfin yang terpaut usia 9 tahun, tentunya Naz yang jauh lebih muda, namun terkadang Naz lah yang bisa lebih dewasa dari suaminya dalam menyikapi masalah. Arfin memang dari dulu orang nya suka menutup diri dari orang lain, kini setelah menikah pun kebiasaannya itu kadang masih belum lepas dari dirinya, padahal ia sendiri yang meminta kepada istrinya untuk berjanji agar saling terbuka satu sama lain.
Dan kini, karena sikap kekanak-kanakannya yang tiba- tiba marah tidak karuan terhadap istrinya yang ternyata hanya gara- gara salah paham, sampai ia mendiamkan serta mengacuhkan istrinya, ia juga malah tidur di kamar lain. Naz akhirnya dibawa pergi oleh Mami nya Arfin karena merasa kesal dan marah mendengar menantu kesayangannya itu diperlakukan tidak baik oleh putranya itu.
Kini keduanya tengah dalam perjalanan menggunakan taksi online ke tempat tujuan Bu Hinda. Sebenarnya Naz enggan untuk pergi meninggalkan suaminya, namun apalah daya ia tak mampu menolak ibu mertuanya yang memaksanya untuk pergi apalagi mendengar ancamannya yang akan melaporkan masalah yang dialami Naz pada orang tuanya, bisa semakin berabe nanti pikirnya.
“Emmm,, Mami emangnya punya rencana apa?”, tanya Naz.
“Kita bakalan main petak umpet, supaya Arfin tidak akan menemukan kita, sedangkan kita akan bersenang-senang”, ucap beliau.
“Tapi, Mi,,, kasihan kan dia”, Naz merasa tak tega terhadap suaminya walaupun sudah membuatnya sedih, tapi tetap ini terasa berat untuknya karena setelah menikah, baru pertamakali nya ia meninggalkan suaminya seperti ini.
“Tenang,,, cuman dua hari aja kok,,, anggap saja ini hukuman untuknya, supaya dia bisa lebih dewasa dalam bersikap,,, dan Mami minta maaf ya sayang atas sikap kekanak- kanakan Arfin yang sampai membuat kamu sedih”, Bu Hinda menyesalkan sikap anaknya.
“Gak apa- apa Mami,,, kami ini kan masih baru berumah tangga, walaupun sudah saling mengenal, tetap saja masih perlu beradaptasi,, aku ngerti kok, kenapa dia bisa salah paham, karena selama ini kan soal penyakitnya itu sangat dirahasiakannya dari orang lain,,,”.
Setelah beberapa saat mereka sampai di sebuah rumah yang ternyata adalah rumah milik Bu Hinda yang sebelumnya tempat tinggal Arfin saat baru pindah ke Surabaya dulu. Keduanya menyimpan barang bawaan mereka di kamar masing- masing dan beristirahat beberapa saat, lalu Bu Hinda mengajak Naz jalan- jalan ke mall untuk memanjakan menantunya itu. Meski pun Naz diajak bersenang- senang, tetap saja hatinya merasa tak tenang karena terus teringat pada suaminya yang entah sedang apa dan keadaanya bagaimana setelah ia tinggalkan tadi. Ia tak bisa menghubungi suaminya karena ponsel miliknya sudah Mami berikan pada Arfin.
“Dia lagi apa ya? apa dia sudah makan? Apa dia merasa sedih karena ku tinggalkan begitu saja”, gumam Naz dalam hati saat ia tengah menunggu Mami nya yang sedang pergi ke toilet. Setelah puas berjalan- jalan dan belanja, mereka pun pergi ke sebuah restoran untuk makan.
**
Sementara Arfin yang sejak kepergian Mami dan istrinya merasa sangat kesal dan juga merasa menyesal karena telah bersikap seperti itu pada Naz. Ia terus menghubungi nomor Mami nya namun tidak aktif, saat ia sampai di kantor, ia langsung meminta Lutfi untuk melacak keberadaan Mami nya. Namun sampai siang pun ia tak bisa mengetahui dimana keberadaan kedua wanita yang disayanginya itu.
Di kantor pun ia tak bisa konsentrasi sama sekali dengan pekerjaannya, rasa kesal dan marah kini berubah menjadi rasa khawatir jika terjadi sesuatu pada mereka, karena sampai sore ia masih tak kunjung mendapat kabar tentang keberadaan mereka. Arfin kemudian pergi ke rumah milik orang tuanya, namun di sana pun tak menemukan keberadaan mereka, akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah Arfin langsung masuk ke kamar, kemudian membersihkan dirinya dan setelah mandi serta berganti pakaian, ia menghubungi Nervan untuk menanyakan keberadaan Mami nya, ternyata mereka pun tidak pulang ke Jakarta. Ia lalu menghubungi Papi nya yang menurut Nervan sedang pergi ke kantor cabang Semarang.
“Hallo,,, Assalamu’alaikum, Papi lagi sama Mami gak?”, Arfin langsung to the poin.
“Wa’alaikumsalam,,, loh bukannya tadi pagi Mami ke rumah mu? Apa dia belum sampai? Papi lagi di Semarang ini, nanti setelah urusan disini selesai Papi akan menyusul ke sana”.
“Iya tadi pagi kesini,, terus Mami pergi membawa Naz bersamanya”, ucapnya memberitahu.
“Oh,, biarkan saja,, paling mereka lagi shopping biasalah perempuan,,, Mami mu kangen katanya sama istrimu pengen ngasih kejutan datang ke rumah mu tanpa bilang dulu, makanya dia gak mau ikut Papi ke Semarang,,”, Pak Latief menjelaskan kedatangan istrinya ke rumah Arfin.
“Tapi sejak pagi Mami gak bisa dihubungin Pi”.
“Mungkin baterainya habis, telepon saja istri mu apa susahnya”.
“Gak mungkin Pi,, Mami kemana- mana selalu bawa powerbank, Naz gak bawa ponsel, dan ini sudah sore aku belum mendapat kabar juga dari mereka”.
“Kamu kayak gak tahu Mami mu saja,, dia kalau belanja suka lupa waktu, apalagi sekarang ada yang menemaninya”.
“Masalahnya Naz pergi dengan membawa beberapa pakaian dan aku tidak tahu Mami membawa pergi Naz kemana”, Arfin keceplosan.
“Apa?? Istrimu pergi dari rumah maksud mu??,,,, Arfin,, kamu apakan istrimu sampai Mami mu membawanya pergi?”, Pak Latief terdengar bicara dengan nada serius.
"Eng,,, enggak,, kami hanya ada sedikit masalah saja,, yasudah kalau gitu,, aku akan mencoba menghubungi Mami lagi,,maksih ya Pi,, assalamu’alaikum”, Arfin segera mengakhiri sambungan telponnya karena ia tak mau jika Papi nya tahu tentang permasalahannya dengan Naz.
Arfin pun kembali menghubungi Mami nya, dan tetap belum aktif, dan itu membuatnya semakin cemas kemudian ia berbaring di atas tempat tidurnya, “Kamu dimana sayang,,? aku sangat merindukan mu,,, maafkan aku,,, aku sangat menyesal sudah menuduh mu yang enggak- enggak”. Lirihnya sambil menatap langit- langit kamarnya.
Ting ting …. Terdengar bunyi dari ponselnya yang menandakan ada pesan, Arfin kemudian membuka melihat layar ponselnya dan ternyata itu pesan dari Mami nya, ia langsung membuka pesan tersebut.
Mami
“Mungkin ada yang merindukan menantu cantik ku ini 🤭"
Arfin langsung menghubungi Mami nya lewat sambungan video call, namun Mami nya menolak, dan Arfin melakukannya berkali- kali tetap saja ditolak oleh Mami nya yang kemudian menghubunginya lewat telpon biasa.
“Hallo,, Al,, jangan ganggu kami,, kamu hanya akan merusak mood kami nanti”, ucap beliau dengan santainya.
“Mi,, tolong kasih ponselnya ke Naz,, Al mau bicara sama dia”, pintanya.
“Gak bisa, udah kamu lihatin fotonya saja ya”, Bu Hinda menolak.
“Mi,, tolonglah jangan kayak gini,,, Al mau bicara sama Naz,, atau Mami kasih tahu sekarang lagi ada dimana? Biar Al jemput”, Arfin bersikeras.
“Gak usah,, !! orang kita mau nginep kok,,, “, cegahnya.
“Mi jangan gitu lah,, kalau kalian nginep, Al tidur sama siapa?”, Arfin merengek.
“Halahh,,, kemaren juga kamu tidur sendiri di kamar tamu,, jadi udah terbiasa kan,,?,, gimana kalau kita bikin perjanjian,, istrimu akan Mami ajak pulang tapi kamu harus mau ke pengobatan alternatif itu?”, Bu Hinda memberi syarat.
“Al kan udah bilang enggak Mami,,, mending jalani pengobatan medis saja”, Arfin tidak menyetujuinya.
“Dicoba dulu kenapa sih,, namanya juga ikhtiar,,, itu buktinya pakai medis belum sembuh- sembuh,, lagian ini yang di urutnya di telapak kaki doang kok”, Bu Hinda memaksa.
Arfin terdiam dan berpikir sejenak, ”Tapi,, aku malu Mi,, Naz bilang orang sekitaran sini udah pada ada yang kesana, kalau ketemu mereka gimana?”.
“Itu urusan gampang,, tinggal nunggu kamu nya mau apa enggak”.
“Enggak”, Arfin tetap menolak.
“Yasudah,,, Mami gak akan balikin Naz sampai semingu dan kamu gak bisa menelpon atau pun menemuinya”, Bu Hinda mengeluarkan ancaman.
“Ehh,, apa- apaan itu?? Mami gak bisa gitu dong,, Mami bilang cuman dua hari”, Arfin langsung protes.
__ADS_1
“Itu kan kamu yang nyuekin dia dua hari,, kalau pembalasan harus berkali- kali lipat dong”, ucap Bu Hinda dengan santainya.
Arfin mendengus kesal, ia sudah kehabisan kata- kata menghadapi Mami yang banyak akal, “Iya,, iya baiklah aku bersedia,, tapi sekarang bawa Naz pulang ya”.
“Oh tidak Marisol,,, karena berobatnya besok jadi besok Naz dibawa pulangnya,,, udah gak usah ganggu kami ah,, babhay”,
Tut tut tut….. Bu Hinda langsung memutuskan sambungan teleponnya, sekaligus menon-aktifkan kembali ponselnya.
“Arghh,,,,,”, Arfin membanting ponselnya di kasur karena merasa sangat kesal.
Sampai malam pun Arfin yang dilanda gelisah karena terus memikirkan istrinya, hingga ia tidak bisa tidur, dan setelah dini hari barulah ia bisa tertidur. Setelah shalat subuh ia kembali tidur lagi karena masih mengantuk, jangankan untuk pergi kerja, untuk bangun saja ia tidak bersemangat. Ia pun tidur sampai siang dan terbangun setelah mendengar ponselnya berdering yang ternyata panggilan telpon dari Mami nya yang mengatakan bahwa ia ditunggu segera di rumah Mami nya. Arfin pun langsung bangun dan mandi, kemudian ia bergegas berangkat ke rumah Mami nya.
Sesampainya di sana, ternyata sudah ada Mbak Jumin yang membukakan pintu, Arfin pun masuk karena Mba Jumin mengatakan ia sudah di tunggu di ruang tamu.
“AL,, akhirnya kamu datang juga,,, “, sambut Bu Hinda lalu menghampiri Arfin, “Oh iya Pak Haji Budi, perkenalkan ini anak saya, Arfin”, Bu Hinda memperkenalkan Arfin pada tamu nya, mereka pun bersalaman.
“Jadi ini pasien nya Bu?”, tanya orang itu.
“Iya, Pak,,, “, Bu Hinda mengangguk.
“Baiklah,, kalau begitu mari kita mulai saja”, ucap orang yang bernama Pak Haji Budi itu."Oh iya, maaf Mbak bisa tolong ambilkan segelas air hangat semu panas dan antarkan ke kamar 15 menit lagi ?", ucapnya pada Mbak Jumin, dan ia pun mengangguk.
Arfin yang nampak terkejut dan merasa bingung dengan apa yang dibicarakan mereka, kemudian bertanya pada Mami nya, “Mami, maksudnya apa ini?”.
“Kamu kan sudah setuju untuk berobat, dan Mami udah jauh- jauh loh mengajak Pa Haji Budi kesini,, udah ayok kita masuk ke kamar,,”, ajak beliau.
“Hah.... secepat ini??,,,, terus Naz dimana? Al mau ketemu sama dia Mi"
“Udah nanti aja habis dipijat,, dia gak akan tega lihatnya,,, ayok”, Bu Hinda pun mengajak Arfin masuk ke dalam kamar dan ia manut saja dengan raut wajah nampak bingung.
Setelah ketiganya berada di dalam kamar, Pak Haji Budi itu meminta Arfin berbaring di tempat tidur dan menyamping ke kanan, sedangkan beliau duduk tepat di dekat kaki nya Arfin, lalu melihat dan meraba telapak kaki kanan Arfin. Bu Hinda duduk di ranjang dekat kepala Arfin.
“Udah pernah operasi berapa kali ini kakinya?” tanya beliau.
“Dua kali”, jawab Arfin.
“Ini impoten nya udah lama ya?”, tanya nya lagi.
“Iya,,”, Arfin menjawab singkat.
“Kenapa baru diobatin sekarang?”tanya beliau sambil mengeluarkan alat berbentuk pipih dan lonjong kecil yang terbuat dari kayu.
“Sudah Pak, dengan pengobatan medis”.
“Minum obat kuat itu ya? sembuh enggak pusing iya obat macam gitu tuh, kalau dipakai jangka panjang bisa bahaya untuk kesehatan jantung dan ginjal,,, tahan ya agak sakit”. Kemudian beliau pun memulai.
“Aaaakkk”, Arfin berteriak kesakitan. “Itu sakit banget Pak,, pakai apaan sih?”, tanya Arfin ketus.
“Cuman pakai jari tangan,,”. jawabnya lalu kembali memijat.
“Jangan tegang,, lemas kan,,, pasrah saja,, kalau tegang susah saya ngobatinnya”, titah beliau dengan tegas, kemudian melanjutkan pengobatannya dengan menggunakan alat yang ia bawa.
Sepanjang pengobatan Arfin berteriak kesakitan, begitu pula saat ia disuruh miring kiri dan telapak kaki kirinya pun di urut oleh Pak Haji Budi itu, ia terus berteriak kesakitan, sedangkan Bu Hinda terus menggenggam tangan Arfin sambil menangis karena tak tega melihat putranya kesakitan, bahkan di tengah pengobatan pun Bu Hinda sempat menghentikannya, namun Arfin sendiri minta dilanjutkan.
Setelah selesai Mbak Jumin masuk ke kamar dengan membawa pesanan Pak Haji Budi, lalu beliau memberikan air minum itu pada Arfin yang terkapar lemas di tempat tidur, ia bangun dan setelah minum kemudian Arfin tertidur.
Bu Hinda dan Pak Haji Budi keluar dari kamar tersebut dan berjalan menuju ruang tamu, “Gimana Pak,, apa anak saya bisa sembuh?”, tanya beliau menghapus air matanya.
“Kalau untuk impoten nya InsyaAllah bisa sembuh Bu,,, hanya saja untuk kaki pincangnya saya tidak bisa, karena itu sudah pernah dua kali melakukan operasi dan sepertinya dulu cederanya sangat parah”.
“Iya Pak”, Bu Hinda mengangguk.
“Untuk terapinya harus dilakukan dua sampai tiga kali lagi,, kalau pertama kali memang seperti itu Bu, terasa sangat sakit, yang kedua dan seterusnya apalagi jika sudah sembuh tidak akan terasa sakit saat dipijat”, jelas beliau.
“Terimakasih banyak Pak,, sopir nanti akan mengantarkan bapak lagi,, dan besok Bapak akan dijemput lagi “, ucap Bu Hinda.
“Sama- sama Bu,, saya sarankan anak ibu jangan terlalu banyak pikiran, jangan minum air es dan jangan makan yang pedas- pedas,, kalau bisa buatkan minuman susu hangat dicampur madu, air dari parutan kunyit, dan kuning telur ayam kampung,, itu bisa diberikan pagi atau sore hari,,, kalau begitu saya permisi Bu,, Assalamu’alaikum”.
“Iya Pak,, terimakasih,,, Wa’alaikumsalam”, Bu Hinda mengantarkan hingga depan pintu.
Naz yang sedari mereka masuk menunggu di ruang tengah sambil mondar mandir, kemudian masuk ke dalam kamar Arfin, ia menghampiri suaminya yang tidur sambil tengkurap. Ia duduk di pinggiran tempat tidur dengan menatap sendu pada suaminya yang terkapar lemas. Ia mengusap- usap kela suaminya dengan lembut sambil terisak.
Tiba- tiba Bu Hinda datang menghampiri Naz dan mengusap pundaknya, “Jangan bersedih, dia pasti segera sembuh, Pak Haji bilang dia harus dipijat dua sampai tiga kali lagi”.
“Mami,,, jangan dilanjutin lagi,, kasihan tadi dia terus berteriak kesakitan”, ucap Naz terisak.
“Kan Mami sudah bilang kamu diam di kamar atas saja biar gak dengar Arfin berteriak kesakitan,, tadi juga Mami udah minta dihentikan, tapi Arfin nya minta terus dilanjut,,, keinginannya untuk sembuh sangat besar, Naz,, kamu harus terus mendukungnya,, sudah jangan nangis lagi ya,, ayok kita keluar,,, biarkan dia istirahat”.
“Aku di sini aja Mi,, mau nemenin dia”, Naz tak melepaskan pandangan dari suaminya.
“Yasudah Mami keluar ya”, Bu Hinda pun pamit keluar.
Naz terus mengusap- usap kepala suaminya, lalu berbaring di sebelahnya dan memeluk suaminya. “Maaf,,, itu pasti sakit ya?”, lirihnya terisak karena ia teringat saat menjemput Bapak itu yang sedang mengobati pasiennya sampai teriak- teriak kesakitan, dan membayangkan Arfin pun pasti seperti itu.
“Gak apa- apa,,, yang penting aku bisa cepat sembuh”, Arfin membuka matanya lalu mengubah posisi tidurnya, ia memeluk lalu mencium kening istrinya.”Jangan menangis,,, Aa aja gak nangis dianiaya sama bapak- bapak tadi”, ucapnya terkekeh.
“Nanti aku cubit Bapak- bapak itu”, gerutu Naz.
“Jangan,,, nanti dia bisa gemas sama kamu,, bahaya itu”.
Naz terkekeh mendengar hal itu, ”I miss you”.
“Aa enggak tuh”.
__ADS_1
“Yaudah sana menjauh”, Naz melepaskan diri dari pelukan suaminya, namun Arfin memeluknya kembali.
“Aa enggak cuman kangen,, tapi kangen banget banget banget,, rindu berat kalau kata Aa Dilan mah”, Arfin kembali terkekeh.
“Gombal “, ketus Naz.
“Geuleuh,,,”, ucap keduanya berbarengan, dan membuat keduanya tertawa.
“Tetaplah seperti ini,,, tetaplah di sisiku,, dan selalu menemani ku”, Arfin mengeratkan pelukannya.
“He emm,,,,”, Naz mengangguk, mereka pun tertidur seolah melepas rindu setelah tiga malam tidur terpisah.
**
Sesuai yang dikatakan Pak Haji Budi, bahwa Arfin harus menjalani terapi pijatnya dua sampai tiga kali lagi, selama dua hari ini setiap sore sepulang kerja ia kembali di pijat lagi di rumah Mami nya. Namun kali ini Naz memberanikan diri menemani suaminya walau sebenarnya tak tega melihatnya kesakitan, dan kali ini Arfin tidak berteriak- teriak seperti sebelumnya. Ia pun diberikan racikan minuman yang disarankan Pak Haji Budi.
Setelah kepulangan Pak Haji Budi, Arfin dan Naz pun pamit pulang dan saat itu Pak Latief baru datang dari Semarang.
**
Malamnya, seusai makan malam Arfin dan Naz masuk ke kamar. Mereka duduk di tempat tidur sambil menonton televisi dan ngobrol- ngobrol ringan. Tiba- tiba Naz teringat tentang pernikahan Raline yang belum sempat diceritakan pada suaminya, ia pun menceritakannya. Arfin sama halnya dengan Naz merasa tidak percaya namun bersyukur akhirnya Arsen bersedia menikah dengan Raline, yang acara lamarannya akan dilaksanakan lusa.
Ya,,, namanya suami istri kalau sudah ngobrol dan berdua- duaan di kamar pasti ujung- ujungnya bermesraan, dan itulah yang dilakukan pasangan suami istri itu. Namun kali ini, Arfin merasakan ada yang aneh dalam dirinya, yang membuatnya terkejut dan merasa tak percaya.
“Sayang,,, si ujang udah bangun”, bisik nya di telinga Naz.
Naz mengerutkan dahi nya, “Maksudnya,,,?”.
“Sepertinya terapi pijat itu membuahkan hasil”, Arfin memperjelas perkataannya.
“Hah,,, jadi Aa udah sembuh?”, Naz nampak berbinar- binar, Arfin pun mengangguk, kemudian Arfin membacakan sebuah doa di telinga istrinya dan Naz pun mengikutinya.
Arfin mengecup kening istrinya, kemudian menciumi setiap bagian wajah istrinya yang berlabuh di bibir ranum istrinya, membuat bibir keduanya saling berpagutan hingga bertukar saliva yang menambah sensasi panas antara keduanya. Ciumannya mulai turun ke leher serta tangannya menggerayang kemana- mana. Perlahan Arfin membuka satu persatu pakaian yang dikenakan istrinya juga pakaian dirinya yang dilempar ke sembarang arah dan memposisikan tubuh keduanya yang siap tempur.
Tahapan demi tahapan pemanasan ia lakukan dengan penuh kelembutan yang membuat Naz mengeluarkan desahan kenikmatan seolah tubuhnya tengah melayang diatas awan dengan deru nafas yang membara dari keduanya yang tengah dipenuhi hasrat yang menggelora.
Saat si ujang mulai mengetuk pintu sarangnya, Naz yang sejak tadi memejamkan matanya saking menikmati setiap sentuhan suaminya, tiba- tiba membuka matanya lebar- lebar.
“It itu apa kok keras?”, tanya nya dengan terengah- engah.
Arfin mendekatkan bibirnya ke telinga Naz, “Si ujang nya sudah sembuh, jadinya mengeras,, aku akan pelan- pelan sayang,, ”, bisik nya dengan suara lembut lalu bibirnya beralih pada bibir ranum istrinya, sedangkan si ujang berusaha menerobos gawang pertahanan sarang lembah surgawi nya dengan perlahan tapi pasti. Naz memejamkan matanya menahan rasa sakit dengan kedua tangannya yang mencengkram hingga menarik sprei tempat tidurnya.
Dan goalll,,,,, si ujang pun berhasil menembus banteng pertahanan bersamaan dengan air mata yang keluar dari kedua manik indah Naz. Rasa sakit itu lama- kelamaan berubah menjadi kenikmatan dan perasaan membuncah di dalam dada yang membuat tubuhnya ringan seperti di awan penuh bintang yang jauh rasanya dari pijakan bumi, hingga keduanya mencapai puncak bersamaan yang berakhir dengan erangan sang majikan si ujang saat mengeluarkan semburan hangat yang memenuhi rahim istrinya.
Arfin tenaganya nyaris terkuras habis, namun kedua tangannya masih mampu menopang tubuhnya, ia mengecup kening istrinya,
“Terimakasih sayang,, sudah menjaganya selama 18 tahun untuk ku”, ucapnya lalu membenamkan kepalanya di dada istrinya. Keduanya terdiam dengan suara jantung bertalu- talu dan nafas berat yang saling bersahutan. Kedua tangan Naz memeluk erat suaminya, lalu mulai membelai di sekitaran punggungnya.
Setelah beberapa saat Arfin pun bangkit dan melepaskan si ujang nya perlahan dari sarang surgawi nya lalu berguling ke samping dan membawa istrinya ke dalam pelukannya.
“Aww,,,,”, Naz meringis kesakitan.
“Kenapa sayang?”, tanyanya heran.
“Sakit,,, perih,,, panas rasanya”, keluhnya.
“Maaf ya sayang,,, tapi katanya lama- lama gak akan sakit”, ucapnya pelan.
“Iya tapi rasanya panas,, perih… pengen dikipasin”, Naz merengek.
“Hah,,,? pakai kipas angin?”, tanya Arfin kaget.
“Jangan nanti aku masuk angin,,, pakai kipas biasa aja”, ucap Naz.
“Kamu punya kipas, hem?”, Arfin kembali bertanya.
“Enggak,,, coba tanya ke Mbak Jum atau Mbak Retno mungkin mereka punya”, ucapnya yang kembali meringis saat menggerakkan kaki nya.
“Yasudah, Aa ke kamar mandi sebentar terus ke dapur ya",ucapnya lalu ia ke kamar mandi, dan setelah itu memakai pakaiannya kembali dan keluar hendak mencari kipas.
Setelah beberapa saat ia pun kembali masuk dengan barang yang di bawanya.
“Ih,, Aa ngapain bawa itu?”, Tanya Naz heran.
“Maaf sayang adanya ini, Aa udah tanya, mereka gak punya kipas,, dan di dapur mereka menemukan ini“, Arfin menjelaskan.
“Ya ampuun emangnya aku sate apa dikipasin pakai itu?”, Naz menggerutu kesal.
“Gak apa- apa kan,,, lagian kan kamu emang habis di sate sama si ujang....hehehe,,,,, yang penting sama- sama bisa menghasilkan angin kan,, ayok sini Aa kipasin dulu”, ucapnya, lalu Naz pun berbaring terlentang dengan kedua kaki ditekuk Arfin membantu Naz membuka pahanya agak lebar, ia pun membuka dengan ragu karena merasa malu. Arfin mengambil tisu dan melap bagian itu nya yang nampak basah oleh cairan kental dan darah.
Kemudian ia mulai mengipas- ngipaskan dengan pelan sambil tersenyum, melihat sesuatu yang kini sudah resmi jadi sarang surgawi si ujang nya.
“Te sate,,,,”, ucapnya ala- ala tukang sate Madura lalu tertawa geli, dan membuat Naz cemberut seolah melupakan rasa malu nya.
-------------- TBC ----------------
****************************
Tukang cilok beralih jadi tukang sate.... sama- sama colok mencolok...🤭😂😂
Happy Reading......
__ADS_1
jangan luva tinggalkan jejak mu....😉
tilimikicih ...aylapyu oll😘😘