Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Menantu Hamil, Mertua Yang Ngidam


__ADS_3

Naz yang sudah diseret oleh Bunda nya lalu berbaring di ranjang khusus untuk melakukan USG hanya bisa pasrah. Ia pun mengikuti instruksi perawat untuk membuka celana dan sedikit mengangkat bajunya, kemudian perawat memberikan gel pada perutnya dan dokter pun mulai menempelkan alat USD pada perut Naz.


Naz yang merasa ketakutan, terus berpegang erat pada tangan Arfin dan memalingkan wajahnya karena tak mau menatap layar yang akan membongkar kebohongannya itu. Arfin yang berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan sang istri yang berbaring di atas ranjang, terus berusaha menenangkan istrinya dengan tangan yang sebelahnya lagi terus mengusap kepala istrinya.


“Nah,, ini janinnya Bu”, ucap Dokter yang menggerakan alat USG sambil melihat ke layar.


Sontak itu membuat Naz dan Arfin terkejut, keduanya langsung melihat ke arah layar tesebut, keumudian mengalihkan pandangan pada sang dokter.


“Janin, Dok ?”, Naz dan Arfin bertanya serentak.


“Iya… Janin yang ada dalam kandungan Ibu Rheanazwa”, Dokter memperjelas perkataannya.


“Hahh,, jadi di dalam perut aku ada janinya, Dok? Jadi aku beneran hamil, Dok?”, Naz yang masih terkejut kembali bertanya.


“Iya, Bu,, betul sekali”, Dokter mengangguk sambil tersenyum.


Naz dan Arfin yang masih terkejut kemudian saling berpandangan dengan tersenyum bahagia dan terharu,


“Kamu beneran hamil, sayang,,,”, ucapnya yang tak hentinya mengulas senyum bahagia.


Naz pun hanya bisa mengangguk beberapa kali, bibirnya mendadak tak bisa berkata apa- apa. Rasa lega, bahagia, tidak percaya, terharu bercampur menjadi satu, hingga ia meneteskan air mata. Ketakutan yang terus menghantui nya sejak kedatangan ketiga ibunya pun kini sirna lah sudah, terganti oleh kebahagiaan yang membuncah di dalam dada.


Arfin kembali merasakan kebahagian yang sempat hilang beberapa hari yang lalu, karena kini di dalam perut istrinya tengah bersemayam benih yang merupakan buah cinta mereka yang begitu didambakannya. Ia terus menciumi punggung tangan istrinya yang sejak tadi digenggam erat olehnya, dengan mata yang berkaca- kaca saking terharunya. Keduanya pun begitu bersemangat melihat ke arah layar yang mempertontonkan janin yang ada di dalam kandungan Naz.


Kalau genk trio kwek- kwek jangan ditanya lagi, mereka pun sangat bahagia dan saling berpelukan. Namun setelah itu Bunda menatap anak dan menantunya dengan sorot mata tajam dan tatapan bertanya- tanya tanpa ada yang menyadari.


“Laki- laki atau perempuan, Dok?”, Arfin bertanya dengan antusias.


Semua orang yang ada di ruangan itu pun menertawakan kekonyolan Arfin, termasuk sang dokter. Lain halnya dengan Naz, yang malah cemberut karena kalimat itu yang ingin ia lontarkan pada dokter saat melihat layar, eh malah keduluan oleh suaminya.


“Janinnya masih seukuran biji kacang, Pak,,, usianya saja baru menginjak empat minggu dua hari dan belum membentuk sempurna, jadi belum bisa diketahui jenis kelaminnya”, Dokter memberi penjelasan.


“Nah ini,, saya zoom ya,, ukuranya saja baru mencapai nol koma enam sentimeter,, masih sangat kecil, “, Dokter memberi penjelasan pada suami istri yang terus memperhatikan layar dengan senyum haru dan bahagia itu, seolah mereka tak memperdulikan apa yang dikatakan oleh sang dokter. Dokter pun mengakhiri USG nya, kemudian hasil foto janinnya di print out, dan setelah dilihatnya lalu diserahkan pada perawat yang menjadi asistennya.



“Aku beneran hamil, A,,, aku beneran hamil,,, aku akan jadi seorang ibu,,,”, ucapnya lalu terisak, air mata kebahagian mengalir begitu saja dari kedua manik indahnya, walau sebenarnya ia ingin teriak sekencang mungkin memberitahu pada dunia bahwa ia sedang mengandung buah cintanya bersama sang suami.


“Iya sayang,,, akhirnya kita akan segera punya anak,, terimaksih, sayang,, terimakasih”, Arfin yang sejak tadi berkaca-kaca pun segera menyeka air matanya agar tak jatuh membasahi pipinya, ia mencium kening istrinya yang masih berbaring.


“Siapkan vaksin nya ya sust,”, titah sang dokter pada asistennya.


“Baik dok”, perawat itu pun segera mengambil cairan dalam botol kecil beserta suntikan dan tisu alkohol.


“Maaf Bu tadi saya keliru, bukan sebesar biji kacang tapi sebesar biji wijen,, “, ucapnya meralat lalu menguap dan menutup mulutnya dengan telapak tangan, nampaknya beliau kurang konsentrasi karena mengantuk, terlihat dari matanya yang sayu dan terdapat kantung mata dibawahnya. Ia pun bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju mejanya diikuti oleh Bunda dan Bu Hinda, sedangkan Bu Rahmi menghampiri Naz dan Arfin.


Naz yang perutnya sudah di lap oleh perawat untuk membersihkan bekas gel yang tadi, kemudian kembali merapikan pakaiannya dibantu oleh Arfin.


“Sebentar ya Bu,, di vaksin dulu”, ucap perawat yang kembali menghampiri Naz dengan peralatan yang dibawanya.


“Apa?? Vaksin? Maksudnya? “, Naz merasa bingung dan heran.


“Iya di vaksin Bu,, imunisasi ** untuk ibu hamil”, perawat itu memberi penjelasan.


“Maksudnya disuntik?”, Naz mulai merasa takut.


“Iya Bu”. Perawat pun mengangguki nya sambil tersenyum.


Naz yang sejak tadi berasa bahagia, kini kembali ketakutan, lalu menatap kesal pada Bu Rahmi, “Mama,, katanya gak akan disuntik,,, kok malah mau disuntik sih?”, protesnya pada sang Mama.


“Maaf sayang,, Mama lupa,, abisnya udah lama terakhir hamil 19 tahun yang lalu waktu hamil kamu, hehehe,,, gak apa- apa kok jarumnya kecil banget ini, sayang”.


“Suster,, apa harus disuntik ya?”, Arfin merasa tak tega melihat istrinya yang ketakutan.


“Iya Pak,,, vaksinnya diberikan lewat suntikan”, ucapnya sambil memindahkan cairan dari dalam botol kecil ke dalam suntikan.


“Apa itu harus banget?”, Arfin kembali bertanya.


“Iya Pak,, imunisasi ** ini wajib karena sangat penting untuk ibu hamil untuk mencegah agar tidak terkena tetanus pada ibu dan janinnya”, Perawat itu pun kembali memberi penjelasan.


“Disuntiknya berapa kali?”, Arfin terus bertanya sementara Naz nampak semakin merasa takut melihat jarum suntik.


“Hari ini satu kali,, dan nanti bulan depan satu kali lagi Pak,,, maaf ya Bu pinjam tangannya dulu”, ucapnya meminta tangan Naz.


“Udah sayang,, gak apa- apa ya,, ini demi kesehatan kamu dan calon bayi kita,,, lagian itu jarumnya kecil banget kok,,”, Arfin berusaha menenangkan Naz yang nampak ketakutan,


“Suster boleh sambil duduk kan?”.


“Iya silahkan Pak,, senyamannya Ibu saja”.


Arfin membantu Naz bangun untuk duduk, kemudian ia yang berdiri memeluk Naz agar tidak merasa takut lagi, “Silahkan sust”, ucapnya dan Bu Rahmi yang berdiri di sisi yang sama dengan perawat, ikut menenangkan putrinya dengan mengusap- usap punggung Naz.


Sang perawat pun segera melaksanakan tugasnya,“Tangannya dilemaskan ya bu,,, tenang saja, serasa digigit semut kok,, maaf ya bu… tarik nafas,,,”, sang perawat pun menyuntikan vaksin tersebut, Naz pun lansung menangis.

__ADS_1


“Sudah selesai Bu, mari kembali ke meja dokter”, ucapnya sambil membereskan peralatannya.


“Udah sayang gak apa- apa,,, udah selesai tuh,, ssstttt,,, udah jangan nangis lagi ya…”, Bu Rahmi yang sejak tadi terus mengusap punggung Naz pun kembali menenangkan putrinya.


Arfin perlahan melepaskan pelukan Naz yang masih terisak, ia kemudian membantu Naz untuk turun dari ranjang.


“Ayo kita kembali ke sana”, ajaknya mengarahkan pandangan pada tempat meja dokter yang terhalang oleh tirai.


Naz menghapus jejak air mata dengan kedua telapak tangannya, kemudian mereka pun beranjak menuju meja dokter dan duduk di kursi depan meja tersebut.


“Janin dan ibunya sehat,,, seperti yang saya katakan tadi usianya baru menginjak empat minggu dua hari, saya akan resepkan vitamin dan obat penguat kandungan,, untuk jaga- jaga saya juga resepkan obat untuk pusing dan mual yang bisa diminum jika ibu merasakan hal tersebut, karena biasanya kehamilan trimester pertama akan merangalami hal itu,, tapi jika tidak merasakannya tidak usah diminum ya Bu,,”, Dokter menjelaskan panjang lebar.


“Iya, Dok,,”, Naz mengangguk dengan wajah yang nampak murung.


“Ini buku KIA dan buku khusus kunjungan pasiennya, nanti setiap checkup dibawa ya, dan hasil USG sudah di dalam ya Bu,,, Ibu bisa checkup kandungan bulan depan,, ada yang mau ditanyakan?”.ucapnya yang kembali ingin menguap lalu menahannya.


“Emm,,, Dok,, istri saya kan bulan depan mulai perkuliahan,, apakah aman untuknya dalam keadaan hamil muda sepeti ini ”, Arfin teringat istrinya akan masuk kuliah bulan depan.


“InsyaAllah aman Pak,, asalkan ibu jangan sampai kecapek-an dan harus banyak istrirahat serta tetap makan makanan yang banyak mengandung nutrisi, yakni makanan empat sehat ditambah susu untuk ibu hamil, dan vitaminya juga harus rutin dimunum ya,,,”.


“Oh iya dok,, satu lagi dok,, eng,,, apa kami masih boleh berhubungan,, heheheh?”, Arfin nampaknya sangat mengkhawatirkan nasib si ujang nya, Naz yang masih kesal langsung mendelik tajam pada suaminya karena tanpa rasa malu ia bertanya seperti itu di depan Mami dan kedua mertuanya.


Sang dokter malah terkekeh, “Sebaiknya jangan dulu Pak,, “.


“Apa,,,?? Jadi selama sembilan bulan tidak boleh berhubungan?”, Arfin terkejut mendengar ia harus libur selama 8 bulan lebih.


Dokter kembali terkekeh,, “Saya belum selesai bicara Pak,, kandungan Ibu Rheanazwa ini kan baru masuk trimester pertama, jadi sebaiknya jangan berhubungan dulu, karena di usia kehamilan yang masih muda ini rentan mengalami keguguran, jika berhubungan takutnya akan terjadi kontraksi dini sehingga bisa memicu terjadinya keguguran,, jadi mohon maaf untuk dua sampai bulan ke depan saya sarankan agar bisa menahan diri dulu untuk tidak berhubungan”, Dokter memberi penjelasan.


“Oh gitu ya Dok, apa gak bisa kalau kurang dari dua bulan?, misalnya sebulan gitu”, Naz yang mendengar itu langsung mencubit perut suaminya sambil memelototinya,


“Aww,, sakit yank,,”, bisik Arfin meringis.


“Emm,, maaf dokter,, jangan terlalu ditanggapi omongan suami saya, dia cuma bercanda,, heehe,,, terimakasih ya Dok,, kami permisi…”, Naz yang sudah benar- benar kesal bangkit kemudian pamit dan setelah bersalaman dengan dokter mereka pun keluar ruangan.


“Aa bikin malu aja ihh,, nanya gituan kayak mau beli baju di pasar loak aja pakai tawar- tawar segala”, Naz menggerutu kesal saat sedang berjalan menuju ke bagian farmasi untuk menebus obat, Arfin hanya nyengir sambil menggaruk tengkuknya mendengar omelan sang istri.


Selama menunggu obat dan adminstrasi di kasir, Naz terus cemberut karena masih merasa kesal, sehingga kebahagiaan yang tadi sempat ia rasakan terkubur oleh rasa kesalnya pada suami dan ketiga ibunya. Sedangkan Mama dan Bundanya tengah membicarakan kabar pengantin baru, Raline dan Arsen, Bu Hinda sedang menerima panggilan telpon sehingga menjauh dari mereka.


**


Kini mereka tengah dalam perjalanan menuju pulang, dan Naz masih dalam mood yang sama, sedangkan ketiga ibunya nampak tengah sibuk dengan ponsel masing- masing. Arfin yang sedang menyetir sesekali melirik ke arah istrinya itu,


“Sayang,, Aa perhatiin kamu kok cemberut terus dari tadi, kenapa hem,?”.


“Kalian bilang tadi gak balkalan disuntik, tapi buktinya malah disuntik,,, sakit tahu”, Naz menggerutu kesal, rupanya ia masih dendam soal penyuntikan itu.


“Kamu mah gimana sih, Dek,,, melawan preman aja berani, jago taekwondo, masa sama jarum suntik yang segede uprit aja takut, aneh bunda mah”, Bunda malah mengomel yang tentunya membuat Naz semakin kesal.


“Memangnya Naz sejak kapan takut sama suntikan, Mbak?”, Bu Hinda merasa penasaran.


“Sejak SD Nda,, kan biasanya teh suka ada vaksin tuh di sekolah, kalo orang sunda bilang mah di kuris,, sakit banget katanya, bengkaknya aja sampai lima hari. Selama itu teh dia gak mau sekolah dan yang lebih parah sampai gak mau mandi katanya bekas suntikannya gak boleh kena Air,, hahaha,, makanya sejak itu teh kalau ada vaksin lagi di sekolahnya dia suka kabur ke taman danau,, atuh semua orang teh nyariin dia,,, Papa mertua aja sampai mengerahkan anak buahnya untuk mencari Naz, takutnya dia diculik terus dijual , kan saat itu teh lagi marak penculikan anak terus dijual dan diambil organ tubuhnya ,, ihh sararieun,, mana dulu Naz itu tubuhnya gemuk lagi,, beuh pasti banyak yang mau beli,,”, Bunda menjelaskan panjang lebar dan membuat semua orang tertawa, kecuali Naz.


“Aa apaan sih ikut ketawa? “, Naz semakin merasa kesal pada suaminya kemudian ia pun menangis layaknya anak kecil.


“Eh,,, kok kamu nangis sih sayang,, Maaf maaf sayang,,,?”, Arfin merasa bersalah.


“Huaaaaaa,,,,,, berhenti,,,!!!”, Naz yang malah semakin kencang menangis membuat panik ketiga ibunya yang menghetikan tawa mereka.


“Berhenti,,,,!!,, huaaaaaaa ”, Naz terus minta berhenti saat melihat ke depan semakin dekat ke tempat tujuannya.


“Iya, Dek ,,kita udah berhenti ketawa ini?”, Bunda mengira Naz meminta mereka berhenti tertawa.


“Mobilnya yang berhenti,,, huhuhuhuhu”, Naz memperjelas perkataannya.


“Arfin,, cepat hentikan mobilnya,,, nanti kalau Naz mau lompat gimana??mungkin dia merasa eneg atau mual atau puaing”, Bu Rahmi ikut panik, takutnya sang anak merasa sakit.


“Iy,, iya.. Ma”, Arfin pun segera memberi sent dan menghentikan mobilnya ke pinggir jalan, Naz langsung membuka pintu dan keluar dari mobil, Arfin yang merasa kaget kemudian keluar juga, ia langsung menghampiri dan memegang tangan Naz.


“Sayang kamu mau kemana?? Aa minta maaf,, jangan kayak gini dong sayang,,, ayok masuk lagi ke mobil ya,, kita pulang”, bujuknya pada istrinya yang sudah benar- benar marah itu.


“Gak mau,, aku gak mau pulang,,, hiks hiks,,,”,Naz melepaskan tangannya dengan kasar.


“Jangan kayak gini dong sayang,, Aa benar- benar minta maaf”, Arfin kembali memegang tangan Naz dan ia langsung menepisnya.


“Naz,, kamu kenapa Nak,, ayok kita pulang,, nanti Mama masakin makanan kesukaan kamu ya di rumah,,, yuk pulang ya,,,”, Bu Rahmi yang ikut turun pun membujuk Naz.


“Gak mau,, aku gak mau pulang!!”, Naz masih kekeuh.


“Naz,,, inget loh sama kandungan mu,, dokter bilang kamu gak boleh kecapek-an dan harus banyak istirahat,, ayok kita pulang ya”, Bu Rahmi terus membujuk.


“Aku gak mau pulang Mama”, Naz masih berikeras.


“Tapi kenapa, sayang,,,? Mama minta maaf kalau kamu masih kesal sama Mama”.

__ADS_1


“Aku gak mau pulang sebelum beli itu”, Naz yang masih terisak menunjuk ke arah kios buah yang ada di pinggir jalan.


Bu Rahmi menghela nafas ,“Ya ampun,, jadi kamu pengen beli buah toh,, yasudah ayok,, Mama pikir kamu masih marah,, ayok Ar,, kita penuhi keinginan istrimu ini”, Bu Rahmi pun mengajak serta Arfin.


Mereka bertiga pun berjalan menghampiri kios buah yang sudah terlewat sekitar 15 meter oleh mobil Arfin tadi, namun saat Arfin melihat ada buah yang tidak disukainya ia mampir ke sebuah Apotek yang kebetulan tadi terlewati olehnya saat berjalan. Ia membeli lima buah masker kemudian salah satunya dipakai olehnya sedangkan yang lainnya dimasukan ke dalam kantong kresek.


“Kami ambil dua yang ini ya…”, ucap Bu Rahmi yang kemudian membayar pada penjual buah tersebut dan sang penjaga toko pun mengikat buah tersebut menggunakan tali.


“Kalian beli apa?”, tanya Afin yang sudah kembali dengan memakai masker yang menutupi bibir dan hidungnya.


“Ini,,,”, Naz menunjukkan barang yang dibelinya pada sang suami, yang membuat Arfin terkejut.


“Sayang,, kenapa beli itu ih.. bau tahu gak,,”, Arfin protes.


“Aaahhh,,, Mama tuh dia masih aja melarang,, seminggu lalu aja aku pengen ini gak dibeliin”, Naz merengek pada Mama nya.


“Ar,, udahlah ,, istrimu ini lagi ngidam,, turuti saja kenapa,,, sini biar Mama yang bawa”, Ucapnya mengambil buah yang di bawa Naz yang sudah dogbungkan oleh tali itu. Naz kemudian berjalan bergandengan bersama Mama nya, sedangkan Arfin membuntuti mereka dari belakang dengan menjaga jarak aman karena walau sudah memakai masker, ia tetap bisa mencium bau buah itu.


Saat mereka sampai di tempat Arfin memerkirkan mobilnya, bertepatan dengan Bu Hinda yang keluar dari mobil,


“Kalian dari mana aja? Kok lama sih… panas nih di dalam mobil”, Bu Hinda menggerutu,


“Emh,,, bau banget sih,, ya ampun Jeng itu yang kamu bawa durian?”, tanya beliau lalu menutup hidungnya.


“Iya, Jeng,, Naz ngidam pengen ini”, Bu Rahmi melirik pada buah yang dibawanya itu.


Hinda yang tidak kuat dengan bau durian langsung merasa pusing dan mual,, beliau berlari ke pnggiran trotoar, lalu memuntahkan isi perutnya, “Hoek,,, hoek,,, hoekk”.


Bu Rahmi yang membawa durian itu terkejut melihatnya, kemudian menghampiri besannya itu, “Jeng,, kamu kenapa? Apa masuk angin?”.


“Aduh,, awas jangan dekat- dekat,,, hoek,, hoek,,,”, Bu Hinda mengibaskan tangannya meminta besannya itu menjauh dan kembali muntah, Arfin pun segera menghampiri mereka.


“Mami gak tahan sama bau durian,,, Ma,,, sebaiknya itu dijauhkan dari Mami,,, ”, ucapnya kemudian memijat punduk Mami nya.


Bunda yang melihat hal itu kemudian turun dari mobil, “Ada apa, Dek? Kok mertua mu itu muntah- muntah,, eh jangan- jangan dia teh nalangin kamu,, ya ampun,,, saking sayangnya dia sama kamu, Dek,, sampai rela nalangin mual muntah mu”, Bunda malah menertawakan.


“Bukan, Nita,, dia gak tahan sama bau durian ini”, Bu Rahmi menjelaskan.


“Loh,, Mbak teh ngapain atuh beli durian segala?”, tanya Bunda heran.


“Naz pengen ini katanya udah dari seminggu yang lalu”,ucapnya lagi.


“Astagfirullah, Mbak,,,, Naz teh lagi hamil muda, gak boleh makan durian,, itu kan mengandung gas,, nanti Naz bisa kembung loh,, “, Bunda melarang.


“Aaahh,,, Bunda aku pengen itu,,,”, Naz kembali merengek.


“Gak apa- apa Nita,, biasanya juga orang ngidam mah cuman pengen beli doang, tapi gak dimakan”. Bu Rahmi membela sang anak.


Bunda mendengus pasrah, “Yasudah , tapi jangan dimakan yaa,,, terus itu gimana kalau Hinda gak tahan sama bau durian, dia bisa muntah- muntah nanti di dalam mobil?”, Bunda mengkhawatirkan besannya.


“Iya ya,,, emmm,,, aku naik taksi saja lah, kasihan Jeng Hinda”, Bu Rahmi mengalah demi anak dan besannya.


“Yasudah,, aku beli minum dulu Mbak,, kasihan itu Hinda kayaknya lemes gitu”, Bunda pun membeli air mineral dari toko yang ada di pinggir jalan lalu memberikannya pada besannya.


Akhirnya sesuai yang dikatakan Bu Rahmi, beliau pulang dengan menggunakan taksi online, Naz yang ingin ikut malah dilarang oleh suaminya, sehingga Bunda yang menemani Bu Rahmi naik taksi. Naz pun kembali melanjutkan aksi ngambeknya pada sang suami, ia tak bicara sepatah kata pun hingga ia tertidur.


**


“Emhhh,,,,, “, Naz perlahan membuka matanya, yang ternyata ia sudah berada di atas tempat tidur di kamarnya. Ia bangun setelah kesadarannya kesadarannya terkumpul. Ia pun bangkit dan beranjak keluar dari kamar nya. Namun ia merasakan ada yang aneh dengan bibirnya yang terasa lengket.


“Eh,, kamu sudah bangun,,, “, Bu Rahmi yang hendak ke kamar Naz langsung menyapa Naz yang baru menutup pintu kamarnya dan sudah berada di luar, “Ayok kita makan,,, Mama udah masakin makanan kesukaan kamu, dan Bunda mu juga sudah memanaskan dimsum yang dibeli dari dekat sekolah mu, yuk kita ke ruang makan,, semua orang sudah menunggu”, Ajak beliau dan Naz yang belum mencuci muka pun langsung ikut bersama Mama nya ke ruang makan.


Di ruang makan sudah ada Bunda, Bu Hinda dan Arfin,


“Kamu udah bangun sayang?”, Arfin berdiri dan menyambut istrinya, Naz hanya mengulas senyum lalu Arfin menarik kursi yang ada di sebelahnya dan sebelah Mami juga sehingga Naz duduk diantara mereka.


“Mami udah baikan??”, Tanya nya yang teringat jika sebelumnya mertuanya itu nampak lemas setelah muntah- muntah di pinggir jalan tadi.


Bu Hinda mengarahkan pandangannya pada menantu yang duduk di sebelahnya itu. Namun bukannya menjawab, beliau malah menutup mulutnya , “Uwo,, uwo”, beliau kembali merasakan mual.


Naz langsung memegang tangannya dan mendekatkan dirinya pada Bu hinda, “Mami kenapa?”, tanya nya khawatir, namun Bu Hinda malah semakin merasa mual, kemudian beliau bangkit dari duduknya dan segera berlari ke kamar mandi. Semua orang pun merasa heran dan aneh, Arfin pun bangkit lalu menghampiri Mami nya.


“Tuh kan Mbak,, apa ku bilang,, Hinda teh nalangin ngidam nya Naz,,, “, Bunda kembali mengatakan dugaan sebelumnya,


“Beruntung banget kamu Naz, gak mual muntah tapi malah membuat mertua mu tersiksa begitu,, kasihan atuh Hinda teh harus merasakan mual muntah layaknya wanita hamil muda,, beuh pusing banget itu pasti”, Bunda menghela nafas berat, miris melihat penderitaan besan nya.


Naz dan Bu Rahmi malah saling beradu pandang karena merasa heran dan aneh dengan apa yang dikatakan Bunda, menantu yang hamil, Mertua yang ngidam.


“Seumur- umur baru tahu kalau mertua bisa nalangin ngidamnya menantu”, gumam Bu Rahmi yang tidak percaya dengan hal yang terjadi pada besan nya itu.


--------------- TBC -----------------


Happy Reading,,,,,

__ADS_1


Jangan luva tinggalkan jejak mu,,


Tilimikicih,,, aylapyu all,,,


__ADS_2