
Tok tok tok ….. terdengar suara ketukan pintu
“Naz,,, Arfin,,, !!!”, seru Bu Rahmi dari balik pintu kamar Arfin.
“Emhhh…. “, Naz membuka matanya perlahan, dan saat melihat kamarnya ternyata masih nampak gelap, "Siapa sih yang ngetuk pintu, gak tahu apa ini masih malam”, ucap Naz lalu bangun dan melepas selimutnya, saat ia baru saja ia berdiri, Arfin langsung memegang tangannya.
“Mau kemana sayang?”, tanya Arfin dengan suara serak khas bangun tidur.
“Mau bukain pintu, dari tadi ada yang ngetuk- ngetuk”, jawab Naz yang masih setengah sadar.
“Kalau mau buka pintu, pakai baju dulu sayang,, jangan telanjang gitu, malu”.
Kesadaran Naz langsung terkumpul semua, dan ia melihat tubuhnya benar- benar polos tanpa sehelai benang pun, “Astagfirullah,,,, untung belum buka pintu,, disangka miyabi ntar,,", Naz lalu menyilangkan tangan menutupi dadanya, "Aa kalau buka baju aku tuh jangan lempar ke sembarang arah, mana pada mencar semua”, gerutu Naz, ia pun langsung mengurungkan niatnya untuk membuka pintu dan malah kembali masuk ke dalam selimut.
"Aa aja gih yang buka pintu”, Naz malah menyuruh suaminya karena si pengetuk pintu belum berhenti.
Arfin kemudian bangun, lalu mengambil kaos dan celana boxer nya yang berserakan di lantai, lalu memakainya, kemudian ia berjalan sambil memijat kepalanya untuk membukakan pintu.
Ceklek ,,,,
“Loh,, kamu baru bangun Ar?? ", Bu Rahmi terkejut melihat penampilan Arfin yang berantakan dan beliau pun paham, "Maaf ya Mama ganggu ,,,hehehe.. ini listriknya mati, anak- anak pada kepanasan,, kata Mbak Retno kartu token nya ada sama kamu,,,”, Bu Rahmi merasa canggung dan malu sudah mengganggu aktivitas anak dan menantunya.
“Oh,, iya Ma,,, nanti aku hubungi Dilara untuk mengisi pulsa token nya,,, emangnya ini udah jam berapa Ma?”, Arfin malah menanyakan waktu.
“Ini udah setengah enam pagi Ar”, jawab beliau.
“Apa??”, Arfin kaget, “Sebentar ya Ma,, aku mandi dulu”, ucapnya lalu berlari ke dalam kamar mengambil handuk dan membangunkan Naz,
“Sayang,, bangun udah jam setengah enam”, ucapnya lalu bergegas ke kamar mandi, Naz pun bangun dari tidurnya mengumpulkan kesadarannya lalu berjalan perlahan menuju kamar mandi, mereka pun mandi bersama.
Bu Rahmi pun beranjak pergi sambil menggelengkan kepalanya dan terkekeh mengetahui kalau pasangan pengantin baru itu ternyata bangun kesiangan.
“Ya ampun,,, baru kali ini shalat subuh jam enam kurang seperempat,,, semalam tidur cuma empat jam”, ucap Naz sambil melipat kembali mukena dan sajadah yang sudah selesai digunakannya.
“Kamu masih mending sayang tidur empat jam,,, lah Aa cuma tidur dua jam,,, susah banget tidur”, ucap Arfin sambil mengirimkan pesan pada Dilara untuk membelikan token listrik untuk rumahnya.
“Aku pikir masih dini hari karena gelap begini, ternyata karena kehabisan pulsa listrik toh,,, kok bisa sih Aa lupa ngisi?”, tanya Naz.
“Iya,, kemarin terlalu sibuk jadi sampai lupa,,, nah ini dia,,, sudah ada nih nomor token nya,,, bentar ya sayang Aa masukin dulu nomornya ke meteran listrik di depan”, Arfin lalau beranjak pergi sedangkan Naz membereskan tempat tidur serta memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai untuk dibawa ke belakang, namun sebelumnya Naz mengeringkan rambutnya dulu dengan menggunakan hairdryer.
Setelah Arfin memasukan nomor token nya, listrik di rumah itu pun menyala, kemudian ia pergi ke ruang makan yang ternyata di sana sudah ada Pak Syarief, Raka dan Hardi tengah minum kopi sambil membaca berita terkini di ponsel masing – masing. Ia pun menyapa mertua dan Kakak iparnya lalu duduk bergabung dengan ketiganya.
Naz yang baru saja menyimpan pakaian kotor ke belakang, lalu ke dapur untuk menyiapkan sarapan, dan ternyata Mama nya sudah selesai memasak.
“Ada yang bisa aku bantu, Ma?”, tanya Naz.
“Udah sana layani saja suami mu, siapa tahu dia butuh sesuatu, dia mau minum teh atau kopi mungkin, ini masaknya sudah selesai kok”, titah Bu Rahmi.
"Biasanya sih dia pengen jus", Naz sudah hafal kebiasaan suaminya tiap pagi.
"Siapa tahu hari ini beda,,, mungkin karena kelelahan semalam jadi minta yang lain gitu minum nya,,heheh", Bu Rahmi malah menggoda Naz.
"Mama apaan sih", Naz nampak malu- malu.
"Beda ya auranya kalau udah malam pengantinan,,, gimana ?? awalnya emang sakit, tapi nanti lama kelamaan enak kok,,,", ucap beliau terkekeh, sedangkan Naz malah nyengir dan nampak bingung.
“Apaan sih Mama...ihhh...udah ah aku ke ruang makan aja,,”, Naz kemudian pergi ke ruang makan.
"Yasudah sana,,, hati- hati jalannya sayang", Bu Rahmi tak hentinya menggoda anaknya itu.
“Tolong bikini kopi ya”, pinta Arfin pada Naz yang sudah berdiri di sampingnya.
“Hahhh??”, Naz malah merasa aneh.”Di sini gak ada kopi, kan gak ada yang suka minum kopi”, jawabnya.
“Sejak kapan lo minum kopi, Ar?”, tanya Hardi yang tahu betul Arfin tidak pernah suka kopi.
Pak Syarief melirik menantunya, “Makanya kamu cepat nikah Hardi,, jadi bakalan tahu kalau pengantin baru itu suka begadang, lihat saja dibawah mata Arfin terdapat kantung mata”, Pak Syarief malah menyindir Hardi, sedangkan Arfin terlihat memijat kepalanya mungkin masih terasa pusing karena kurang tidur, entah karena pengen lagi.
“Yaelah,, salah ngomong deh,, , kok malah aku yang kena”, keluh Hardi, “Ada di dapur kok Naz,, semalam Mas beli kopi dari mini market”, ucapnya memberi tahu Naz.
“Kayaknya habis beberapa ronde ya, Ar”, Raka pun ikut berkomentar, sedangkan Arfin hanya tersenyum, sama halnya dengan Naz yang nampak malu- malu, kemudian ia beranjak ke dapur untuk membuatkan kopi yang dipesan suaminya.
“Kalau pengantin baru itu, sudah dua kali juga serasa belum aja, pengen lagi pengen lagi dan lagi,, hahaha”, ucap Pak Syarief lagi.
“Papa ih pagi- pagi udah ngomong begituan,,, kasian kan mereka nya malu,,, kayaknya kita musti buru- buru pulang ya Pa,,, biar mereka makin gesit bikin cucu lagi buat kita,,”, Bu Rahmi yang membawa masakan untuk disajikan dibantu oleh Mbak Retno, karena Mbak Jumin dibawa ke rumah Bu Hinda, malah ikutan nimbrung dan duduk bergabung bersama mereka.
“Ah,,, Mama sama aja,,, emangnya kalian mau langsung punya anak, Ar?? Gak ditunda dulu? Bukannya Naz baru mau mulai kuliah?“, cerca Pak Syarief pada Arfin.
“Hemm,,,, Papa ini,, emangnya dulu kita gimana? Papa nikahin Mama saat Mama masih kuliah, empat bulan nikah langsung hamil,,, malahan sidang skripsi lagi hamil besar”, Malah sang istri yang menjawab.
“Oh ya?? kok aku baru tahu sih Ma”, sahut Hardi.
“Ya mana kamu tahu, oang kamu belum ada… hahaha,, waktu itu kan Mama lagi hamil Raka bukan kamu yee",ucapan Bu Rahmi mengundang tawa semua orang. “Hardi kamu kapan nikah sih? di antara sahabat mu tinggal kamu yang masih jomblo ih.. masa ganteng-ganteng gak laku ah", ejek Bu Rahmi.
“Masih belum move on dia Ma,, dari Teteh Indri”, Arfin pun kini bersuara.
“Teteh Indri mana, Ar?? ”, Tanya Raka.
“Itu kakak sepupunya Naz dari Bandung”, jawab Arfin.
“Itu Raka,, yang anaknya Kang Andi kakaknya Anita ”, Bu Rahmi pun ikut menjawab.
__ADS_1
“Ohh,, ternyata pernah pacaran juga kamu Har,, “, Raka malah mengejek.
“Emang Mas Hardi pernah pacaran sama Teh Indri gitu?”, tanya Naz yang baru kembali dengan membawa secangkir kopi lalu di berikan pada suaminya, kemudian ia pun ikut duduk di sebelah suaminya.
“Iya,,, dulu waktu masih SMA sampai selesai kuliah ya kalo gak salah ya Har?”,tanya Bu Rahmi memastikan.
“Udah deh gak usah bahas itu lagi”, Hardi mulai jengah.
“Mas masih belum move on ya,, orang Teh Indri udah nikah setahun yang lalu, Mas Hardi masih betah ngejomblo aja”, Naz ikut mengejek.
“Wah,,, masa sih ?? berarti dia bukan jodoh mu, Hardi,, pacaran sama kamu lima tahun, nikahnya sama orang lain, jadinya selama itu kamu jagain jodoh orang lain, Har”, Pak Syarief kembali berkomentar.
“Aduh,,, tadi kan acaranya lagi ngece pengantin baru, kok malah aku yang kena ini”, keluh Hardi, semua orang pun tertawa mendengarnya.
Setelah selesai ngopi pagi, mereka pun packing untuk kembali ke Jakarta, keluarga Pak Latief dan Bunda pun kembali ke rumah Arfin untuk berpamitan, dan setelah makan mereka pun diantar ke bandara dengan 5 mobil lagi, namun kali ini Arfin tak ikut mengantar karena kepalanya masih terasa pusing, jadi ia meminta bantuan dari staff kantornya.
“Jadilah istri yang baik dan nurut sama suami mu ya, jangan lupa jaga kesehatan ya,, Mama bakalan kangen terus sama kamu, sayang”, ucap Bu Rahmi setelah memeluk putri bungsunya itu. Secara bergiliran Naz berpelukan dengan semua anggota keluarga yang para wanita, sedangkan pada laki- laki hanya bersalaman saja, kecuali pada Ayah dan Papa nya.
“Hati- hati di jalan ya,,, semoga sampai dengan selamat”, ucap Naz pada semuanya.
“Makasih ya Naz,, maaf loh kami udah ngerepotin selama di sini”, ucap Raline seusai berpelukan dengan Naz.
“Enggak kok,,, kalian sering- sering lah main ke sini”, ucap Naz pada Raline dan Elsa.
“Gampang lah,,, nanti bisa diatur”, ucap Raline.
“Kamu juga harus jaga kesehatan Raline,, kayaknya kamu belum sembuh benar tapi maksain hadir ke sini,, maaf ya jadi ngerepotin”, Arfin tiba- tiba bicara seperti itu, dan membuat Naz merasa heran.
“Enggak kok Kak,,, aku senang malah bisa datang ke sini,, orang aku udah sehat yee”, Raline menjawab dengan tersenyum bahagia, kemudian naik ke mobil. Mendengar hal itu Naz hanya tersenyum simpul.
Para rombongan pun telah berangkat meninggalkan kediaman Arfin, dan kini rumahnya kembali sepi, Arfin kembali ke kamarnya dan Naz pun membuntutinya. Sesampainya di kamar, Naz langsung memeluk suaminya.
“Aa enggak ngantor hari ini?”, tanya Naz dengan bergelayut manja di pelukan suaminya.
“Enggak,,, lagian tanggung udah jam sembilan,,,”, jawabnya, “Sayang,, kepala Aa pusing banget, Aa tidur dulu ya”, Arfin melepaskan pelukannya perlahan, kemudian ia langsung berbaring di tempat tidur dan selimutan. Naz menghela nafas panjang, sepertinya ia mulai ketagihan dengan apa yang terjadi semalam, namun apa daya sang monster harimau nya sudah mati kutu duluan, sepertinya efek kurang tidur entah kurang puas semalam. Naz pun ikut tidur bersama suaminya.
Arfin terbangun karena mendengar deringan ponselnya yang terus bergetar, ia mengambil ponsel dari atas meja kecil di sebelah tempat tidurnya, kemudian ia mengangkat telpon dari sekertaris nya itu.
“Hallo…”, sapanya dengan nada serak khas bangun tidur.
“Halo,,, selamat siang Pak,,, mohon maaf mengganggu waktu nya, klien kita memajukan meeting jadi jam dua siang ini Pak, kalau tempatnya masih sama kok Pak”, Dilara bicara nyerocos sebelum kena omel.
“Apa? Bukannya meeting-nya besok pagi?”.sentak Arfin.
“Iya Pak,,, tapi di pajukan, katanya beliau besok ada tugas ke luar negeri”.
Arfin membuang nafas kasar, “Iya setengah jam lagi saya sampai di sana”, ucapnya lalu menutup sambungan teleponnya kemudian ia bangun dan bergegas ke kamar mandi.
“Aa mau kemana?”, tanya nya dengan suara serak.
“Mau ke kantor,,, tadi Dilara telpon katanya klien yang akan meeting besok dipajukan ke siang ini karena besok orangnya ada tugas ke luar negeri”, Arfin menjawab dengan lengkap.
“Oh,,, gitu ya,, pulangnya jam berapa?”, tanya Naz.
“Gak tahu sayang, nanti Aa kabarin ya,, kamu shalat dulu gih udah jam satu,, Aa pergi dulu ya”, ucapnya lalu mencium kening istrinya dan Naz pun mencium tangan suaminya.
“Eh Aa belum makan siang loh,,,”, Naz baru teringat kalau mereka tidur sejak jam 9 pagi.
“Meeting-nya di Restoran sayang, jadi sekalian makan siang,,, kamu juga nanti habis shalat langsung makan ya,,, assalamu’alaikum”, ucapnya lalu pamit.
“Wa’alaikumsalam,,, hati - hati”, jawab Naz sambil melemparkan senyuman, ia pun bangun dan langsung ke kamar mandi, kemudian shalat dan ia pun kembali makan siang sendirian, karena kedua asistennya sudah pada makan. Dan ternyata Arfin pun kembali pulang larut malam.
**
Keesokan harinya, setelah keduanya bangun dan melaksanakan shalat subuh berjama’ah, terjadilah percakapan diantara keduanya.
“Sayang,,, Aa minta maaf semalam pulang telat lagi, padahal kemarin sudah janji gak akan plang telat, di kantor lagi banyak banget kerjaan,,, dua bulan sebelum kita menikah, perusahaan dapat beberapa tender besar, jadinya sekarang udah kayak sinetron kejar tayang”.
“Iya gak apa- apa kok,,, asalkan Aa harus tetap menjaga kesehatan, kalau gitu mulai besok aku nganterin makan siang ya ke kantor,, soalnya aku gak ada kegiatan sama sekali, kuliah mulainya akhir Juli, jadi bosen di rumah terus,, paling telponan sama Mama, Mami, Bunda atau ketiga sahabat ku,, boleh ya aku main ke kantor?”, tanya Naz penuh harap.
“Iya terserah kamu aja,,, kamu boleh ke kantor kapan pun kamu mau”, Arfin pun mengizinkannya.
“Oh iya,, jangan lupa nanti dua mingguan lagi acara perpisahan di sekolah ku,,, pokoknya Aa harus ikut datang ke sana menemani ku”, Naz mengingatkan.
“Iya sayang, emangnya tanggal berapa? Biar nanti Aa minta Dilara mengosongkan jadwal di hari itu”.
“Tanggal 29, hari Rabu kalau gak salah”, ucap Naz.
“Oh masih ama lah, 17 hari an lagi,,, nanti Aa bilang ke Dilara”.
“Emmm,,, aku boleh pulang duluan gak nanti sebelum acara perpisahan?”, tanya Naz sambil nyengir.
“Gak boleh !!", jawab Arfin tegas.
“Kenapa?”, tanya Naz heran.
“Nanti Aa disini sama siapa? Kalo ada yang nyulik gimana?”, Arfin malah bergurau.
“Ih geuleuh deh,, siapa juga yang mau nyulik, Aa kan bukan anak kecil yang bisa dijual,, hahhaha,, boleh ya,,, lagi pula setelah kita nikah, aku belum pernah nginap di rumah Bunda lagi”.
“Euh,, apalagi itu,, makin gak boleh!! ", Arfin melarang keras.
__ADS_1
“Aaaahhh,,, kenapa sih,, Ayah sama Bunda kan orang tua ku,,”, rengek Naz.
“Mereka memang orang tua mu, orang tua kita,, tapi selagi ada Arsen disana, Aa gak akan ngebolehin kamu nginap disana sendirian, kecuali bareng Aa”, Arfin memberi alasan.
“Ya ampun,, Aa masih aja cemburu sama Kak Arsen,, dia itu kan udah minta maaf terus udah berubah juga, sayang”.
Arfin mendengus kasar ,”Dengar sayang,,, Arsen mungkin sikapnya sudah berubah,, tapi dia tidak mungkin bisa melupakan perasaannya begitu saja sama kamu,, Aa aja dulu mencintai kamu baru beberapa bulan saja sangat sulit melupakanmu, apalagi Arsen yang bertahun- tahun mncintai kamu,, pasti di bustuh waktu lebih banyak untuk bisa melupakan perasaannya sama kamu,,, buktinya dia mabuk berat di malam saat kita akan menikah”.
“Hah,,,?? Mabuk? Masa sih? Kak Arsen gak pernah minum- minum kayak gitu deh”, Naz merasa tak percaya.
“Ya mungkin dia frustasi karena kamu akan menikah dengan Aa, dan dia belum bisa melupakan mu,,, untung Hardi menemukan Arsen yang tengah mabuk dan merancau gak jelas saat di hotel tepat di depan pintu kamar mu pada tengah malam, coba kalau enggak ada Hardi,, Aa gak bisa membayangkan apa yang akan dia lakukan sama kamu, bisa- bisa dia berusaha melecehkan mu lagi seperti sebelumnya”.
Naz merasa terkejut dengan hal baru saja ia ketahui, ia merasa tidak percaya sekaligus ada ketakutan juga jika mengingat Arsen yang pernah berusaha melecehkannya.
“Dan beruntung, kemarin dia gak ikut kesini ,, Papa bilang dia lagi belajar untuk bergelut di usaha perhotelan milik Opa, makanya kemarin Opa memanggilnya untuk ke rumah Opa,,”, ucapnya memberitahu Naz soal ketidak hadiran Arsen yang ia ketahui dari mertuanya, “ jadi,, kamu hanya akan ke Jakarta kalau bareng Aa aja,, kalau sendirian Aa gak akan izinkan,, bukannya Aa ingin mengekang atau melarang mu bertemu Bunda atau Ayah,, Aa hanya tidak ingin terjadi hal buruk lagi sama kamu, Aa masih trauma, Aa takut gak bisa melindungi kamu kalau kamu jauh dari Aa,,, dan kita akan menemui orang tua mu bersama,, gak sendiri- sendiri ya,,, kamu paham kan?”.
Naz mengangguk lalau menghela nafas sejenak, “Yaudah kalau gitu aku ke dapur dulu ya, Aa mau dibikinin sarapan apa?”, tanya Naz.
“Terserah kamu aja sayang,, apa aja juga boleh,, jangan kan makanan buatan kamu,, kamu nya juga bisa Aa makan”, Arfin kembali bergurau.
“Ih dasar,,,, “, cicit Naz lalu ia beranjak pergi ke dapur untuk memasak.
Semenjak hari itu, Naz selalu datang ke kantor Arfin saat menjalang makan siang dan pulang ashar diantar oleh sopir, karena Arfin selalu pulang larut malam. Dengan begitu Naz tidak merasa kesepian lagi karena dari pagi hingga malam tak bertemu dengan suaminya. Arfin menyarankan Naz untuk main ke tempat Tante Ina agar ia tidak merasa kesepian, dan sepulang dari kantor Arfin, Naz pun selalu ke rumah Tantenya bahkan ia pulang sehabis magrib, karena di sana ia bisa berbincang dengan tantenya dan Dinda atau pun mengajak bermain Aliya.
Setelah shalat magrib di rumah Tantenya, Naz langsung pulang karena tak mau kemalaman. Saat Naz tengah di dalam rumahnya dan hendak masuk ke kamar nya, ia melihat Mbak Jumin keluar dari kamar tamu.
"Mbak Jum,,, lagi ngapain?", tanya nya.
"Aduh Gusti,,, non bikin si mbak kaget aja toh", Mbak Jumin terperanjat.
"Mbak Jumin ngapain keluar dari kamar tamu", tanya Naz lagi.
"Itu anu, Emm... si Mbak wis bersihin kamar Non", jawabnya terbata- bata.
"Loh... emang mau ada tamu yang nginep disini Mbak?", Naz terus bertanya.
"Enggak Non,,, anu kan Den Arfin bilang seluruh ruangan harus selalu dibersihkan Non, katanya gak suka kalau ada debu gitu loh", jawab Mbak Jumin.
"Oh.. gitu...yaudah aku masuk ke kamar dulu ya Mbak...", Naz pun pamit.
"Nggeh Non...", ucap nya tersenyum.
**
Dua minggu telah berlalu, setiap hari Arfin selalu pulang larut malam, dan saat akan tidur ia selalu membisikan permintaan maafnya pada istri yang sangat dicintainya, bahkan kadang ia sampai meneteskan air mata, karena Naz begitu baik dan pengertian, tak pernah mengeluhkannya lagi walau setiap hari pulang terlambat. Terkadang hal itu membuat Naz bertanya- tanya seolah suaminya itu telah melakukan kesalahan hingga tiap malam selalu meminta maaf padanya, mungkin dikira Arfin Naz sudah tidur pulas, padahal ketika suaminya datang Naz pun menyadarinya, hanya saja ia tidak bangun.
Arfin tak pernah punya waktu untuk sekedar berduan- duan atau bermesraan dengan istrinya di rumah, paling hanya ngobrol seusai shalat subuh atau saat makan siang. Setiap hari sabtu-minggu pun Naz dibawa ke lapangan sekalian mengajaknya jalan agar tidak bosan di rumah.
“Maaf ya sayang,, sudah dua kali weekend ini bukannya ngajak kamu jalan ke mall atau ke mana,,, malah ngajak kamu ke proyek gini,,, “, ucapnya sesal.
“Gak apa- apa,, aku senang kok,, yang penting kita masih punya waktu untuk bersama,, aku juga ngerti kok, Aa pengen menyelesaikan pekerjaan lebih cepat karena lusa kan kita mau ke Jakarta”, Na sepertinya menjalankan semua nasehat sang Mama untuk menjadi istri yang baik dan patuh sama suaminya.
“Terimakasih sayangku, kamu selalu pengertian,,, oh iya, Aa udah selesai nih, mumpung masih siang kita mau kemana dulu gitu?”, Arfin menawarkan untuk jalan- jalan.
“Emm,,, main ke taman bunga yuk,,,”, ajak Naz.
“Baiklah tuan putri”,Arfin pun menurutinya.
Arfin melajukan mobilnya menuju taman bunga sesuai keinginan istrinya berdasarkan petunjuk dari google maps. Sesampainya di taman bunga tersebut, keduanya berkeliling dan berfoto ria di sana, sayangnya mereka difoto masing- masing saja silih berganti, dan setelah puas berjalan- jalan di taman tersebut, mereka pun pulang.
Keesokan harinya, seperti biasa Naz sepulang dari kantor Arfin, ia langsung ke rumah Tante Ina, namun kali ini ia tidak pulang sampai magrib. Tiba- tiba ia ingin cepat kembali ke rumah nya, ia pun berpamitan dan pulang dengan berjalan kaki, karena jarak rumahnya dari rumah Tante Ina cukup dekat.
Saat baru sampai di tikungan jalan menuju rumahnya yang terhalang oleh empat rumah, ia melihat seseorang keluar dari dalam taksi. Kemudian Naz bersembunyi di balik pohon besar untuk memperhatikan orang itu, dan betapa terkejutnya saat ia melihat wajah orang tersebut yang memasuki pintu gerbang rumahnya.
---------------- TBC ----------------
*************************
Siapa hayo yang dilihat oleh Naz,,,??
Suka akutu kalau kalian sudah menebak- nebak,,,, wkwkwkwkw
Maafken hamba yang suka sekali iseng,,,🤭🙏
Happy Reading ...
Jangan luva tinggalkan jejak mu,, like, komen, vote, hadiah, subscribe,,, eh…🤭😂
Tilimikicih,,, aylapyu oll…😘😘😘
__ADS_1