Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Arfin VS Ipin


__ADS_3

Siang menuju sore di halaman samping rumah Kiara mulai terasa teduh karena sinar matahari sudah mulai turun menyamping ke sebelah barat sehingga sinarnya terhalang oleh bangunan rumahnya yang dua lantai itu, di sana terdapat sebuah bangunan dari kayu yang beratap tanpa dinding dilengkapi tiang di tiap sisinya sebagai penyangga berada tepat di pinggir kolam renang yang biasa digunakan untuk bersantai atau berkumpul dengan keluarga yang di sebut dengan gazebo atau kata orang Sunda mah saung. Di sana terlihat tiga orang tengah duduk saling berhadapan membentuk segitiga nampak serius membicarakan sesuatu, kemudian saat salah seorang menghampiri, mereka pun menghentikan aktifitasnya dan mengambil buku pura- pura kembali belajar seolah takut ia mengetahui apa yang mereka bicarakan.


“Kalian lagi ngomongin apa sih, kayaknya serius banget?”, Tanya Naz yang sudah membersihkan wajahnya yang sebelumnya berantakan gara- gara habis nangis bombay.


“Enggak ngomongin apa- apa kok,, orang tadi nanyain soal nomer 42,, gak ngerti gue”, Ruby ngeles.


“Ayo kita lanjutkan ngerjain soalnya, biar cepet selesai dan pulangnya gak kesorean”, Andes ikut mengalihkan agar Naz tidak curiga.


“Lo sama Naz mah jauh rumahnya,, gue mah santai,, orang tinggal nyebrang ke depan rumah gue mah”, ucap Ruby.


Naz kembali duduk dan membuka tasnya lalu mengeluarkan ponselnya. “Guys,, gue pulang duluan ya, Bunda udah nyuruh pulang nih,,,,maksih banyak ya semuanya,, gue sayang kalian,, “, ucap Naz melebarkan tangannya bagai sayap lalu memeluk ketiga sahabatnya bagaikan Teletubbies kemudian melepaskannya lalu berdiri, ”babhay semuanya”, Naz langsung pamit pulang dan membawa tas nya kemudian diantarkan oleh Kiara sampai keluar karena Pak Udin sudah menunggu di sana.


“Hai guys,,, gimana kalau kita menemui Kak Arfin”, Ruby mengemukakan pendapatnya saat Kiara sudah kembali.


“Menemui kemana Onta,,, alamat rumahnya aja kita gak tahu “, ucap Kiara ketus.


“Ya mungkin aja dia ada di proyek yang dekat teras belajar itu loh, kita kan dulu sering ketemu dia kalau dia lagi shalat di masjid dekat teras belajar”, Andes pun ikut mengemukakan pendapat.


“Iya juga sih,, lo ada benarnya,,tapi kan kemaren- kemaren Naz pernah bilang kalau Kak Arfin lagi tugas di Surabaya”, ucap Ruby mengingat- ingat, “Eh gimana kalo gue nanyain ke sepupunya kakak ipar gue yang di Surabaya, siapa tahu dia kenal sama Kak Arfin”, lanjutnya dengan ide konyol.


“Wanjiirr,,, jangan gila lo,,, emangnya Kak Arfin artis terkenal apa,, sampe sepupu kakak ipar lo bisa kenal sama Kak Arfin..”, Kiara langsung protes.


“Apa kita tanya ke Kak Dandy, Kak Hardi atau Bang Nervan aja”, ucap Andes.


“Yaelah,,, kan kata Naz jangan sampai orang lain tahu masalah ini,, nah lo malah mau nanyain ke Kak Dandy kakaknya Naz,, nanti malah nyebar berita sampai ke Ayah dan Bunda nya Naz,, gimana sih lo”, Kiara kembali protes dan mengingatkan.


“Berarti ke Kak Hardi dong, kan kalau ke Bang Nervan gak mungkin, secara dia juga naksir sama Naz”, ucap Andes lagi.


“Lo lupa Kak Hardi itu siapa,,, dia itu anaknya Om Syarief alias kakak tirinya Naz,,, itu lebih parah kalau sampai Papanya Naz tahu, bisa bikin masalah baru antara Papa dan Ayahnya Naz,,, ampuuun deh lo”, ucap Kiara yang terus mengomel karena ide kedua sahabatnya gak ada yang bener.


“Terus gimana dong,,? dari tadi kita gak nemuin cara untuk memulai misi untuk mempersatukan mereka berdua…”, ucap Ruby kesal.


Akhirnya dari percakapan ketiga sahabat Naz yang berusaha mencari cara untuk mempersatukan naz dan Arfin , tidak mendapat pencerahan sedikit pun. Mereka yang minim informasi tentang Arfin tentunya akan sangat sulit untuk menghubungi atau pun bertemu dengannya, ditambah janji mereka terhadap Naz untuk tidak memberitahukan masalah tolak cinta ini pada siapapun, semakin menambah kesulitan mereka untuk bergerak serta bertindak, karena yang mereka tahu Arfin adalah sahabat Dandy, sedangkan mustahil mencari tahu dari Kakak nya Naz tersebut.


“Aha,,,, guys gue punya ide bagus….gimana kalau kita ngambil diam- diam nomer Kak Arfin dari ponsel Naz,, terus nanti kita coba hubungin,, gimana oke kan ide gue ?”, akhirnya Kiara punya ide bagus.


“Yasalam,,, dasar kampret lo,, kenapa gak dari tadi waktu Naz lagi ke toilet, itu paonselnya nganggur di dalam tas nya oon bloon lo ah”, kini giliran Ruby yang protes.


“Yee,,, orang gue baru dapat ide sekarang,, wangsitnya baru turun euy”, Kiara mengelak.


“Wuuuuu,,, dasar kamu tuh lemot”, Andes ikut mengejek.


“Yasudah yasudah,, lusa saja hari senin saat di sekolah kita praktikan ide lo”, akhirnya Ruby memberi keputusan.


“Ashiapppp”, ucap Kiara sambil memberi hormat.


Begitulah misi para sahabat Naz yang berniat menyatukan Naz dengan Arfin yang di awali dengan niat nyolong nomor, dan hari yang ditunggu- tunggu pun kini telah tiba. Seperti biasa hari senin selalu diawali dengan upacara bendera sebelum prosesi pembelajaran dimulai, dan kebetulan hari ini merupakan hari pertama pelaksanaan UTS .


Seusai upacara para murid diikuti guru memasuki kelas masing- masing, dan setelah semua masuk masing- masing guru di tiap kelas membagikan soal UTS beserta lembar jawaban untuk pengisiannya kepada para murid. Setelah pelaksanaan UTS dua mata pelajaran tibalah saatnya jam istirahat, dan seperti biasa Naz dan keempat sahabatnya berkumpul di kantin untuk jajan dan makan di sana.


“Gilaa,, pusing banget gue,, , ujian bahasa Indonesia bikin gue ngebul,, kebanyakan jebakan wanjiir”, ucap Kiara si tukang protes .


"Iya bener,, gue juga pusing kalimatnya muter- muter bikin bingung ngisinya, padahal kan kita orang Indonesia yaa,,, huft..... efek pelajaran pertama harus makan yang pedas- pedas ini mah biar seger”, Ruby pun ikut nyerocos.


“Jangan terlalu pedas Ruby,, nanti bisa sakit perut”, ucap Andes menasehati lalu ia mengedipkan mata seolah memberi isyarat.


“Apaan si lo Des,, kedap- kedip gitu mata lo,, gak usah kegatelan deh sama gue,,, jijay tahu gak”, ucap Ruby mengejek.


Andes pun berubah jadi memelototi Ruby, “Iiih,, itu bahasa isyarat, siapa juga yang mau kegatelan sama cewek ganjen kayak kamu ih, emangnya aku ulat apa bikin gatel,, sebal”.


“Ih Des ,, lo jangan ngomongin ulat deh,,, gue ngeri tahu,,”, ucap Naz sambil bergidik ngeri lalu tiba- tiba ia seolah menatap sendu pada makanan di hadapannya, ia teringat saat Arfin memberi tahu ada ulat di kaki nya, lalu ia ketakutan dan reflex memeluk Arfin.


“Naz,, lo baik- baik aja kan?”, tanya Kiara menepuk pundak Naz yang duduk disebelahnya sedang melamun dan matanya terlihat berkaca- kaca.


“Eh,,, iya kenapa Ra?? Sorry gue gak dengar tadi”, ucap Naz yang tersentak membuyarkan lamunannya.


“Lo kenapa ?? kok ngelamunin ulat sampai mellow gitu ih,,,”, tanya Ruby.


“Ah,, gak apa- apa kok,, kalian kan tahu gue takut sama ulat,, udah ah jangan bahas makhluk yang berbulu itu ihhh”, ucap Naz kembali bergidik ngeri.


“By, Ra,,,”, ucap Andes sambil menggoyangkan ponsel di tangannya, akhirnya Ruby dan Kiara baru menyadari hal itu.


“Naz,, boleh pinjem ponsel gak sebentar? Mau mau nelpon kakak gue,,, WA dia gak aktif nih”, Ruby memulai aksinya.

__ADS_1


“Sorry By ,, gue gak bawa ponsel”, jawab Naz sambil nyengir.


“Oh ponsel lo disimpan di tas?”, Ruby menebak.


“Engak,,, gue simpan di laci lemari kamar gue”, Naz menjawab lalu menyeruput minumannya.


“Hah,, tumben lo ke sekolah gak bawa ponsel?”, Tanya Kiara heran.


“Kalo kalian mau hubungin gue di rumah ke nomor telepon rumah aja ya,, selama UTS ini ponsel gue di simpan dan gak aktif”, ucap Naz menjelaskan.


“Loh emang kenapa? “, tanya Andes dengan polosnya.


Naz terdiam sejenak,“ Gue lelah tiap malam menangis sambil menatap layar ponsel dengan berharap ada pesan atau telepon dari dia”, ucap Naz menundukkan pandangannya, “ Mungkin gue terlalu naif atau bahkan terlalu bodoh berharap dia masih mau berteman sama gue seperti dulu lagi, menelpon atau mengirim pesan sekedar bertukar kabar atau membicarakan hal- hal yang gak penting, tapi semua itu kini benar- benar hilang,,, bahkan dia sudah memblokir nomor gue,,, mungkin kah dia benci sama gue”, Lirihnya dan tanpa terasa buliran bening jatuh membasahi kedua pipi Naz, dan ia pun segera menghapus air matanya itu dengan jemarinya.


“Naz,,, udah ya jangan sedih lagi, lebih baik lo fokus aja sama UTS yaa,, jangan ingat- ingat itu lagi, yakinlah semua akan indah pada waktunya”, ucap Kiara merangkul Naz yang duduk di sebelahnya.


“Iya Naz,, kita akan selalu ada buat lo,, kalau perlu kita bakalan nginep di rumah lo,, supaya kita bisa belajar bareng,, gimana Ra??“, ucap Ruby mengusulkan.


“Wah,,, ide bagus tuh, ayo mulai malam ini kita akan nginep di rumah Naz,, siap- siap kita berantakin kamarnya “, Kiara menyetujui ide Ruby.


“Yoai,,, kita nyalain musik dan joget- joget kayak dulu sampe Bunda nyeramahin kita abis- abisan”, ucap Ruby mencoba menghibur.


“Ya iya lah di ceramahin Bunda,, kalian nyalain musik nya kenceng banget,, untung gak di sidak sama Pak RT”, Naz pun mulai teralihkan dari kesedihannya.


“ihh,,, kok aku dianggap goib sihh,, kalian gak ngajaki aku,, jahara yaa kalian”, Andes protes.


“Woy,, biarpun lo gemulai,, tetap aja wujud lo cowok,, mana ada Bunda ngijinin lo nginep bareng kita- kita”, Kiara mengimeli Andes.


“Iya ,, dasar lo kayak emak- emak aja rempong”, Ruby ikutan mengejek.


Dan benar saja Ruby dan Kiara menginap di rumah Naz sampai malam jumat dengan memberi alasan belajar bersama kepada orang tua masing- masing, karena mereka sangat dekat dengan orang tua para sahabatnya, jadinya tidak sulit untuk mendapatkan izin dengan catatan tidak boleh keluyuran dan merekapun dititipkan kepada Bunda yang siap mengawasi. Dengan kehadiran kedua sahabatnya, Naz mampu melupakan kesedihannya, berangkat dan pulang sekolah bersama, bermain serta belajar bersama, benar- benar 24 jam di temani kedua sahabatnya itu.


Selain belajar bersama, tentunya mereka melakukan kehebohan lainnya di rumah Naz, bermain di halaman rumah seakan mereka kembali ke masa-masa kecil, belajar masak- masak bersama Mbak Iyem dan Bunda, belajar bermake up yang diajarkan Ruby dengan Kiara sebagai kelinci percobaannya, bermain TOD dengan hukuman dicoret- coret lipstik, bahkan sampai bermain PS yang dipinjam dari Kak Dandy, yang penting selesai belajar tidur jam 9 malam. Sayangnya mereka hanya menginap sampai malam jumat, karena hari sabtu nya keluarga Naz akan mengadakan acara sehingga keluarga nya yang jauh berdatangan sejak hari jumat.


Sabtu ini di sekolah tidak belajar efektif, karena UTS telah berakhir pada hari kamis kemarin, dan hari jumat- sabtu diperuntukan bagi murid yang nilainya kurang untuk melaksanakan remedial yang diselenggarakan di gedung aula sekolah, sedangkan yang lainnya masuk di kelas masing- masing dan diberi tugas oleh guru pengajarnya agar tidak keluyuran tidak jelas meski masih di lingkungan sekolah.


Jam menunjukan pukul sembilan pagi, tapi sebagian Guru sudah memperbolehkan istirahat, Ruby, Kiara dan Andes berjalan bersama menuju kantin. Kiara duduk lebih dulu sedangkan Andes dan Ruby membeli makanan dan minuman.


“Iya,,, gak ada yang traktir aku nih”, celetuk Andes.


“Wuu,, dasar kampret lo ..”, Kiara mencela Andes.


“Emang kalian gak puas apa, lima hari pool bersama Naz?”, tanya Andes heran.


“Justru itu, karena lima hari kemaren bareng –bareng terus, jadi sekarang pas gak ada serasa ada yang kurang”, ucap Ruby.


“Ho oh,,, dia gak mau izin sebenarnya, tapi Bunda memaksa nya, karena hari ini hari spesial”, Kiara menjelaskan.


“Oh iya,,gimana,, kalian udah dapet nomor nya belum?”, Tanya Andes kepada dua sahabatnya.


“Nomor apaan lo,,, nomor togel maksud lo?”, Kiara langsung sewot.


“Yaelah,,, kalian pada lupa apa sama misi kita,, hello,, kita kan mau ngambil nomor kontak Kak Arfin dari ponsel Naz,,, jangan bilang kalian menyia- nyiakan kesempatan selama di rumah Naz”, Andes memberi tatapan tajam.


“Astaga naga,,, gue lupa”, Kiara menepuk jidatnya.


“O em ji,,, gue juga gak inget sama sekali,, saking banyaknya keseruan yang kita lakukan di sana untuk menghibur Naz, kita lupa deh sama misi kita,,, gimana dong”, Ruby pun sama kelupaan.


“Halah,,, kalian itu memang mubadzir ya,, coba kalau gue yang nginep di sana,, sudah gercep deh”, Andes mengomel.


“Permisi neng,,, ini atuh cendol elisabet pesanannya,, tiga kan?”, Ucap Mang Ipin menyerahkan tiga cup gelas cendol.


“Iyupz,, makasih Mang Ipin … nih uangnya”, ucap Ruby sambil menyodorkan uang pembayaran cendolnya.


“Oh iya neng,,terimakasih,, ,eh Neng,,,Mang Ipin boleh naya sesuatu gak?”, tanyanya.


“Nanya apaan Mang?? Jangan aneh- aneh ya Mang,, aku udah punya pacar”, Ruby menjawab seenaknya.


“Yee,, si Neng,, mang mah bukan mau nanyain pacar Neng, tapi mang mau nanya apa di sekolah ini ada guru yang bernama Riyanti?”.


Brurrrr…. Kiara menyemburkan es cendol yang sedang diseruputnya karena terkejut.


“Mamiiii,,,, aku disembur mbah Kiara,, ihh jijay deh,,, apaan sih aku tuh gak kesurupan tau, gak usah disembur es cendol segala”, Andes marah- marah.

__ADS_1


“Hahaha,, aduh sorry sorry Des,, gue kaget banget tadi,, salah lo sendiri kenapa duduk di hadapan gue”, Kiara minta maaf tapi tidak mau dianggap salah, dasar.


“Biasanya juga duduk di sini,,, udah ahh aku mau ke toilet dulu,, takut kena virus rabies wajahku”, ucap Andes bergegas ke toilet untuk membersihkan wajahnya.


“Kurang ajar,, lo pikir gue doggy apa,,, sukurin itu akibatnya lo ngatain kita mubadzir,,hahaha”, Kiara malah balik mengejek.


“Gimana neng,,, pertanyaan saya tadi”, Ipin meminta jawaban.


“Emang nya kenapa Mang,, ko nanyain Bu Riyanti”, tanya Ruby pura- pura.


“Itu loh neng,, Riyanti itu suka sms saya nelponin saya katanya dia itu fans nya saya dan suka sama saya,, kan saya teh bingung masa iya seorang Guru ngefans sama saya yang tukang cendol ini”, ucap Ipin.


“Hahahaha,,, terus- terus?”, Ruby malah mengorek informasi lebih lanjut.


“Terus pas saya bilang saya ini teh tukang cendol dia gak percaya malah saya dikira pandai bercanda katanya mah, nah malam minggu ini teh dia teh ngajak saya ketemuan,,,”, Ipin kembali menjelaskan.


“Wahh,, gila Ra,,, sudah separah ini,, gimana ini”, Ruby berbisik- bisik tetangga.


“Mana gue nyaho,, ini kan ulah si Nanaz”, Kiara pun membalas bisikan Ruby, “Oh iya,, emangnya kalian gak tukeran foto gitu di WA?”, Ruby kembali bertanya pada Ipin.


“Da saya mah gak pakai WA, orang hapenya cuman bisa nelpon dan sms,, kalau buka pesbuk bisa itu pun mode gelap”, ucap Ipin.


“Mode gelap …apa maksudnya?”, tanya Ruby heran.


“Itu neng mode gratis yang gak bisa lihat foto”, jawab Ipin.


“Astagfirullah,,, zaman modern gini masih ada yang kayak gitu ya By”, Kiara kembali berbisik.


“Iya,, muka boleh aja lumayan ganteng, tapi hapenya ko zaman prasejarah ya”, Ruby pun berbisik pada Kiara.


“Eh si Neng malah bisik- bisik tetangga,, gimana ada gak yang namanya Riyanti dan yang mana orangnya?".


“Eh iya Mang,, ada kok,, orangnya cantik dan masih single juga sih, katnya sih baru dua tahun ngajar di sini”, jawab Ruby.


“Oh iya kalo begitu mah, terimakasih banyak ya neng informasinya, saya permisi dulu”.


“Oh iya mang sama- sama,,, “, ucap Ruby tersenyum ramah, setelah Mang Ipin menghilang dari pandangan, Kiara dan Ruby langsung tertawa terbahak- bahak.” Gilaa,, gilaa,,, ternyata udah sejauh itu,, hahahhaa”, ucap Ruby di sela- sela tertawanya.


“Hhahaha,, gak kebayang gue pas mereka ketemuan ternyata Zonkkk,,, hahaha,,, eh udah yu ah kita balik ke kelas”, ucap Kiara lalu mengajak Ruby meninggalkan kantin dan kembali ke kelas masing- masing. Saat di perjalanan menuju kelas Kiara dikejutkan dengan seseorang yang tengah berjalan bersama Pak Kepsek, “By.. lo lihat orang itu,, yang berjalan bersama Pak Kepsek”, ucap Kiara menunjuk ke arah orang tersebut.


“O em ji hello,,, itu kan Kak Arfin, Ra,,, ayo cepet- cepet kita samperin mumpung Pak Kepsek kelihatannya lagi menjauh nerima telepon tuh,,,”, Ruby langsung mengajak Kiara menghampiri Arfin dari arah samping tempat Arfin berdiri yang nampak sedang memainkan ponselnya, namun langkah mereka terhenti saat ada orang yang lebih dulu menghampiri Arfin. Cekiiiiit rem dadakan diinjak, mereka pun bersembunyi di baik dinding salah satu kelas.


“Bang Ipin….”, ucap Rianti menyapa Arfin, namun yang di sapa tidak bergeming masih memainkan ponselnya, “Hai,, Bang Ipin”, ucapnya lagi dengan menepuk lengan Arfin.


“Maaf,, anda memanggil saya?? “, tanya Arfin melirik sepintas.


“Iya,, siapa lagi,,,hehehe”, ucapnya dengan memberikan senyuman manis pada Arfin, sedangkan orangnya cuek bebek. “Kita kan janjian ketemuannya nanti malam, ko Abang udah ke sini aja sih?”, ucap nya lagi.


Arfin yang merasa heran hanya menggelengkan kepala dan tersenyum sinis,”Maaf anda sepertinya salah orang”, Arfin bicara tanpa melirik sedikitpun pada wanita yang berdiri di sebelahnya itu.


“Ayok kita berangkat sekarang,,, nanti acaranya keburu di mulai lagi”, Pak Haris yang tiba- tiba datang langsung mengajak Arfin pergi, “Oh ada Bu Riyanti,, kami permisi dulu ya Bu”, Pak Haris pun berpamitan kepada Riyanti.


“Iya Pak,,, hati- hati dijalan,, sampai ketemu nanti malam Bang”, Ucapnya pada tersenyum manis kepada Arfin,, sedangkan Arfin nampak ilfil melihatnya kemudian bergegas pergi bersama Pak Haris.


Kiara dan Ruby yang sudah tidak kuat menahan tawanya langsung berlarian kocar- kacir menuju kelas, dan sesampainya di kelas 2IPA1 mereka tertawa terbahak- bahak sambil memegang perut masing- masing.


Sementara Pak Haris dan Arfin yang telah sampai di parkiran langsung menaiki mobil masing- masing dan berangkat ke tempat tujuan yang sama. Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yang sedang mengadakan sebuah acara, mereka pun keluar dari mobil masing- masing dan berjalan memasuki rumah tersebut yang ternyata sudah disambut langsung oleh pemilik rumah.


“Aduh,, Mas Haris,,, akhirnya datang juga,, ayok kita masuk, semua orang sudah menunggu,, ehh ada Arfin juga ayo masuk”, ajak sang pemilik rumah.


“Iya maaf tadi saya ada urusan dulu dengan Arfin, dan ternyata kami akan menghadiri acara yang sama, jadi kami pergi bersamaan”, ucap Pak Haris sambil berjalan memasuki rumah.


“Mari silahkan duduk ,, acaranya akan segera dimulai”, sang pemilik rumah mempersilahkan duduk pada Pak Haris dan Arfin, saat mengedarkan pandangan mencari kursi kosong pandangan Arfin terhenti pada satu titik yang membuatnya diam mematung seketika.”Naz….”. lirihnya dalam hati.


-------------- TBC ----------------


*************************


Mang Ipin sengaja terbang dari Malaysia untuk menghibur anda setelah patah hati..... wkwkwkwk


Happy Reading...... 😉😉


jangan luva tinggalkan jejakmu...., 😘😘

__ADS_1


__ADS_2