
Naz yang tengah dirundung kesedihan, kini hanya bisa mengadu pada sang Bunda, yang biasanya selalu berbagi kesedihan hanya dengan Arfin atau ketiga sahabatnya. Memang benar tempat yang paling nyaman berkeluh kesah adalah kepada orang tua sendiri, apalagi pada seorang ibu yang biasanya lebih peka dan bijak walaupun bisa berakhir dengan omelan serta nasehat yang panjang lebar. Tapi itu tergantung si anak yang lebih dekatnya dengan ibu atau dengan ayahnya, dan juga tergantung dari cara penerimaan mereka atas pengaduan si anak serta cara mereka menyikapinya pula. Ada yang bisa bersikap bijaksana dan terkadang ada kan orang tua yang langsung mengambil keputusan tanpa berpikir panjang, bahkan tak jarang jika mereka tersulut emosi saking marahnya jika anaknya disakiti, maka bisa terjadi peperangan dengan tim yang diadukan sang anak tanpa peduli siapa yang salah. Ya begitulah salah satu cara orang tua menunjukan kasih sayang dan melindungi anaknya, tapi tentunya setiap orang tua memiliki cara yang berbeda- beda.
Bunda yang melihat Naz sangat sedih dan terpukul sampai menangis seperti itu membuatnya merasa geram pada Arfin. Kemudian Naz pun menceritakan semua kejadian yang membuatnya seperti itu walaupun bicara sambil sesenggukan dan deraian air mata. Ia pun kembali menangis saat mengucapkan perkataan yang dilontarkan Arfin pada Maminya.
“Ya ampun,, masa sih Arfin bicara seperti itu? mungkin kamu mah salah dengar, Dek,,, mungkin saja dia bilang tidak siap menikah, bukan tidak akan menikah,,,”, ucap Bunda tak percaya.
“Aku mendengar sangat jelas perkataannya Bunda,,,, hiks hiks …aku ini belum tuli,,, dia jelas- jelas bilang tidak akan menikah dengan siapapun termasuk dengan aku juga,,,, hiks hiks hiks”, Naz kembali terisak.
“Selama ini teh Bunda perhatikan Arfin tuh meuni cinta banget sama kamu teh, meuni rela melakukan apa saja demi kamu,,, asa moal mungkin kalo dia ngomong begitu mah,, sampai- sampai dulu dia berani minta izin sama Papa dan Ayah mu dengan gentle nya buat pacaran sama kamu teh,, salah dengar kali kamu mah ahh”, Bunda tetap tidak percaya kalau calon menantu idamannya itu berkata seperti itu.
“Iiihhh,,, Bunda ko malah belain dia sih,, yang anak Bunda itu aku atau dia sih,,,, Bunda malah nyalahin aku lagi,,, hiks hiks”, Naz protes karena merasa dipersalahkan.
“Ya emang kamu juga salah,,, harusnya ya, setelah kamu mendengar Arfin ngomong gitu kamu teh samperin dia, memastikan apa yang kamu dengar itu benar atau tidaknya,, terus minta penjelasan dari dia,, lah ini kok malah langsung kabur, kebiasaan kamu mah da,,,, jadinya kan gini, kamu teh gak tahu kebenarannya seperti apa, malah nangis kejer sampe teriak- teriak gitu,, malu atuh Dek sama tetangga,, dikiranya Bunda teh nyiksa kamu kayak ibu tiri yang kejam, kayak ibu tirinya si Cheribella itu tuh”, Bunda malah menceramahi Naz.
“Cinderella,,,”, Naz mengoreksi.
“Iya itu wae pokonya mah, si prinsess yang punya ibu tiri kejam tea”, ucap Bunda , “Yasudah,, mending sekarang mah kamu hubungi Arfin dulu deh, tanyakan sama dia maksud dari omongannya tadi apa?”, Bunda memberi saran.
“Gak mau ah,,, bunda aja yang nelpon dia, sekalian marahin dia tuh", ucapnya sambil sesenggukan.
“Halah,,, sekarang aja nyuruh Bunda marahin dia,,, apaan kamu mah waktu ketahuan sama Dandy kamu berpelukan sama dia di kamar mah disembunyikan dari Bunda, karena takut dimarahin sama Bunda iya kan?”, Bunda menyindir kejadian lampau, “Sekarang aja tumben kamu lagi sedih ngadu ke Bunda,, biasanya mah apa- apa juga ngadu ke Arfin,,, memangnya Bunda teh gak pernah dengar apa kalo kamu lagi teleponan sama dia”, cerocos Bunda.
“Bunda apaan sih,,,gak malu apa ngintipin anaknya lagi teleponan,,, udah ah gak usah bahas- bahas yang lalu,,, aku pengen putus sama dia,,, aku benci sama dia,,,,hiks hiks".
“Dek,,, kamu tuh jangan ngambil keputusan dalam keadaan marah seperti ini,,, nanti teh kamu sendiri yang nyesel,,, mending omongin dulu deh baik- baik, biar gak ada salah paham dan semuanya jelas,, Kalau kalian mau putus pun harus secara baik- baik atuh,, kan kalian mengawali hubungan juga secara baik- baik,,,, Kamu juga harus ingat sama perjuangan dan pengorbanan Arfin selama ini buat kamu… Jangan dikira Ayah sama Bunda teh gak pernah memperhatikan kalian, kami mengawasi dan bisa menilai bagaimana hubungan kalian dan cara Arfin bersikap sama kamu,,, selain dia sangat sayang sama kamu, dia juga sabar menghadapi tingkahmu yang kadang suka kekanak- kanakan,,, Dan kamu teh sudah mulai dewasa Dek, jadi harus mulai berpikir dewasa atuh, kalo sudah berani pacaran, ya harus siap berani juga menghadapi masalah yang akan timbul dalam suatu hubungan,,, karena gak semua hubungan seperti jalan tol”, Bunda menasehati Naz.
Naz hanya diam mendengarkan perkataan Bunda, seolah ia sedang merenungkannya.
“Dandy teh pernah cerita ya sama Bunda, soal kamu yang sempat salah paham pada Arfin dan menyangka kalau Maira itu mantan pacar Arfin serta anaknya adalah anak Arfin, sampai kamu mutusin Arfin,,, seharusnya itu teh menjadi pembelajaran buat kamu, Dek,,, karena kesalahpahaman hubungan kalian hampir bubar dan beruntung masih terselamatkan,,, apa kamu mau mengulangiya sekali lagi sekarang, hah?”.
Naz yang sudah berhenti menangis malah menundukan kepalanya seolah sedang mendengarkan secara khusyu ceramahan sang Bunda, “Tapi aku gak tahu harus bagaimana,,, tadi saja dianya juga tidak ngejar aku sama sekali atau berusaha menjelaskan padaku”.
Bunda menarik nafas panjang, “Yasudah kalau kamu belum siap untuk bicara denga Arfin biar Bunda bicarakan ini dengan Hinda,,, Walau bagaimana pun sepertinya masalah ini timbul gara- gara kami membicarakan soal pertunangan kalian,, Lagi pula Bunda di sini ingin menjadi penengah untuk kalian berdua,, Bunda tidak akan membela kamu walaupun kamu anak Bunda,, dan juga tidak akan membela Arfin walaupun Bunda sudah menganggapnya sebagai anak sendiri,,, Bunda hanya ingin membantu meluruskan masalah ini karena Bunda ingin yang terbaik untuk kalian”.
Bunda lalu mengambil ponselnya dari dalam tas lalu menghubungi Bu Hinda,,, namun setelah beberapa kali tetap saja tidak mendapat jawaban.
“Dek, ini teh sudah panggilan yang kelima kalinya, tapi kok gak diangkat- angkat ya? ada apa ini ? kenapa ya? kok gak biasanya Hinda seperti ini”, ucap Bunda bertanya- tanya.
“Sepertinya Bunda harus menemui Hinda secara langsung ini mah, untuk membicarakan masalah ini,, masa iya kamu ditolak begitu ah masih gak percaya Bunda mah”, lanjut beliau lagi.
“Mungkin Mami masih shalat,,,, “, ucap Naz saat melihat ke jam tangannya, “Astagfirullah,, aku belum shalat magrib”, ucapnya lalu bergegas bergi ke kamar mandi sebelum sang Bunda yang sudah memberinya tatapan tajam menceramahi dia habis- habisan, karena jam sudah menunjukan pukul 18.40 WIB.
Setelah selesai shalat Naz kembali menghampiri Bunda nya yang masih duduk di kasur sambil sedang memainkan ponselnya, kemudian Naz duduk kembali sambil nyengir.
“Pantesan aja tadi nangis kayak kesetanan gitu,, belum shalat ternyata”, ucap Bunda menyindir.
“Hehe,,, “, Naz hanya nyengir.
“Permisi Bu,,, ini minumnya”, Mbak Iyem datang dengan membawa nampan berisi satu gelas air putih untuk Naz.
“Dek,, minum dulu,,, pasti kamu capek habis nangis kejer gitu? Apa sudah minum tadi di kamar mandi?”, tanya Bunda terkekeh.
“Aku gak sejorok itu kali, Bund”, ucap Naz lalu meminum air itu sampai habis.
“Mbak Yem,,, tolong bereskan kekacauan ini yaa,,,”, titah Bunda pada asisten rumah tangganya itu, “Dek,, kamu teh ngapain coba, ini pakaian segala macam dilempar- lempar", tanya Bunda heran.
__ADS_1
“Itu barang- barang pemberian Kak Arfin,,, aku gak mau itu ada di kamar ku lagi”, ucap Naz.
“Hah ,,, perasaan mah itu baju- baju yang biasa kamu pakai deh,,, kita yang beli kan,, kok di lempar juga”, Bunda memperhatikan pakaian Naz yang berserakan di lantai.
“Abisnya tadi aku susah milihnya, yaudah aku lempar semua”, jawab Naz.
“Huhh,, kamu tuh bener- bener ya,,, awas ya jangan diulangi kayak gini lagi ", Bunda menggelengkan kepalanya lalu mengultimatum, "Oh iya,, ini simcard kamu udah selesai diurus tadi siang sama pegawai Bunda,,,”, Bunda memberikan sebuah kartu sim pada Naz.
“Wah,,, jadi ini nomor lama ku sudah kembali”, ucap Naz senang.
“Iya,,, ehh omong- ngomong,, kenapa hape kamu teh gak aktif- aktif dari tadi siang?”,tanya Bunda yang baru teringat.
“Hapenya hilang”, jawab Naz singkat.
“Apa? Astagfirullah,,,, eta teh hape mahal,, kenapa atuh dihilangin segala,, ?", Bunda terkejut mendengarnya. "Masa iya kamu teh dalam tiga hari udah ngilangin dua hape? Kamu teh jangan teledor gitu atuh, Dek,,, emangnya beli hape teh gak pakai uang? Mana itu hape baru kamu harganya sampe puluhan jitu”,Bunda terus nyerocos.
“Namanya juga musibah,, mau gimana lagi,, mungkin ini pertanda”, jawab Naz seenaknya.
“Pertanda apa?”,tanya Bunda heran.
“Ya pertanda,, hape nya ilang , yang ngasihnya juga hilang”, jawab Naz lagi.
“Astagfirullah,,, kamu tuh jangan suka seomomng- omongnya…. Gimana kalau Arfin teh benar- benar hilang dari muka bumi ini alias is dead? Mau kamu?”, Bunda esmosi.
“Ya maksudnya bukan gitu,, hilangnya tuh hilang dari aku, gak jadi milikku lagi gitu”, ucap Naz memperjelas sedangkan Bunda hanya menghela nafas kasar, lalu Naz melihat Mbak Iyem meletakan kedua boneka tedy bear di atas tempet tidur Naz,
”Mbak,, jangan ditaro disini lagi,, buang aja,, aku udah gak mau lihat kedua boneka itu,, sekalian baju itu juga tuh”, Naz menunjukan baju yang pernah dibelikan Arfin.
Bunda menggeleng- gelengkan kepalanya mendengar perkataan Naz yang masih marah pada Arfin itu, “Simpan saja di gudang, Mbak,,, nanti diplastikin dulu,, gak boleh buang- buang barang, kecuali kalau kamu teh mau memberikannya pada orang lain, atau disumbangkan, itu juga kalau kamu sudah sadar nanti”, ucap Bunda kemudian Mbak Iyem yang sudah selesai membereskan semua barang yang tergeletak di lantai segera pergi membawa boneka dan baju yang ditunjuk oleh Naz untuk disimpan ke gudang.
“Emang aku boleh nginep disana, Bunda?”, tanya Naz.
“Ya boleh atuh,,, Mbak Rahmi itu kan Mama kandung mu, lagi pula dia pasti sangat merindukan mu setelah sekian lama jauh dari kamu, Bunda mah gak apa- apa kok,,, Kamu juga pasti sangat merindukannya bukan?,,, udah sana gih kamu packing pakaian mu untuk nginep disana menghabiskan sisa libur sekolah mu ”, ucap Bunda, keudian Naz pun mengambil koper kecilnya dan memasukan beberapa pakaiannya untuk menginap selama 3 hari di rumah Mama nya.
Setelah makan malam, Naz pun langsung berangkat menuju rumah Bu Rahmi bersama Pak Udin yang sudah menjemputnya, dan saat ia sampai di rumah langsung disambut dengan gembira oleh orang tua nya.
Karena hari sudah malam, Naz langsung dibawa menuju kamar yang sudah disiapkan oleh Mama nya dan beliau pun tidur bersama Naz, yang tentunya mereka membicarakan banyak hal sebelum mereka tidur, kecuali soal masalah yang sedang Naz hadapi, karena ia tidak ingin merusak momen bahagianya bersama ibu kandungnya itu.
***
Keesokan harinya, seperti biasa Naz bangun subuh dan setelah melaksanakan shalat ia membereskan serta membersihkan kamarnya, sedangkan sang Mama kembali ke kamarnya.
Tok tok tok ,,,, terdengar suara ketukan pintu dan Naz pun kemudian membukakan pintunya, “Raline,,,, ?”, ucapnya merasa terkejut.
“Iya Naz,,, bolehkah aku masuk”, tanyanya.
“Ah,, iya- iya,, ayok silahkan masuk”, Naz mempersilahkan Raline masuk, lalu mereka duduk berdua di sebuah sofa yang ada di kamar itu.
“Naz,,, aku mau minta maaf atas semua perlakuanku selama ini pada mu,, aku sudah sangat keterlaluan padamu hanya karena aku iri padamu yang mendapatkan kasih sayang dari semua orang,, apalagi sekarang aku sudah tahu kalau kamu adalah anak kandung Papa dan Mama,,, aku sangat malu Naz,,, aku sangat malu karena selama ini aku selalu berpikir untuk mendapatkan semua kasih sayang baik itu dari Papa dan Mama,, atau pun Opa dan Oma,, tanpa berbagi sedikit pun dengan mu,,,”, ucap Ralin sambil menundukan kepalanya.
“Raline,, tanpa meminta maaf pun aku sudah memaafkan mu,,, lagi pula kita ini kan saudara, walaupun tidak dilahirkan dari ibu yang sama. Aku tahu tentang hal itu,, aku juga minta maaf, aku tidak bermaksud merebut semua kasih sayang mereka darimu,,, mereka semua menyanyangi kita berdua, apalagi Oma dan Opa karena kita adalah cucu perempuan kesayangan mereka sejak kita kecil, iya kan,,,,?? Aku berharap kita bisa menjadi saudara yang baik dan akur serta saling menyayangi seperti waktu kita kecil dulu”, ucap Naz sambil menyentuh kedua punggung telapak tangan Raline.
“Terimakasih, Naz,,,, tapi aku bukan anak dari keluarga ini Naz,, kamu lah yang lebih pantas disini dan mendapatkan kasih sayang mereka”, ucapnya hingga tak terasa air mata Ralinr pun jatuh membasahi tangan Naz.
“Sama- sama,,, “, jawab Naz dengan tersenyum lalu mengusap pundak Raline, ,” Aku tahu ini berat untukmu,,, tapi walau bagaimanapun kamu tetap bagian dari keluarga ini,,, Sejak bayi kita dibesarkan bersama dengan kasih sayang dari mereka,,, dan sekarang pun tidak akan merubah itu semua,,, hanya saja sekarang kita tahu siapa orang tua kandung kita masing- masing,,, aku harap kamu juga tetap menganggap Papa dan Mama orang tua mu, karena mereka sangat menyayangimu, dan bagi mereka kamu tetaplah anak mereka, dan kita tetaplah bersaudara”.
__ADS_1
“Kamu benar Naz,,, ini sangat berat bagiku,,, saat Mama dan Papa menjelaskan ini semua, rasanya duniaku hancur,,, aku tidak bisa menerima ini semua,,, tapi mereka terus membesarkan hatiku dan meyakinkanku bahwa mereka tetap menagnggapku sebagai anak mereka,, Tapi tetap saja Naz,, ini rasanya sangat menyakitkan,, ditambah lagi ternyata orang yang selama ini aku benci dan selalu aku hina adalah ibu kandungku sendiri,,, aku sangat marah dan belum bisa menerima kenyatan ini Naz,,, kenapa harus seperti ini,,, hiks hiks hiks”, ucap Raline yang kemudian menangis.
“Raline,,, ini sudah jalan takdir kita dari Sang Maha Pencipta,,, sebaiknya kita ambil hikmah nya, justru dengan cara seperti ini kita bisa menjadi saudara. Meskipun kita sama- sama tidak dibesarkan oleh orang tua kandung kita, tapi kita masih bisa merasakan kasih sayang dari orang tua yang merawat kita, bahkan tanpa disadari ternyata kita pun mendapatkan kasih sayang dari orang tua kandung kita yang ternyata masih di sekeliling kita sendiri. Dan kamu tahu Raline,,, kita termasuk orang yang beruntung,,, banyak diluaran sana yang tidak memiliki orang tua,, bahkan ada yang memiliki orang tua pun tapi hidup mereka serba kekurangan,, sedangkan kita, selain mendapatkan kasih sayang yang melimpah, juga segala kebutuhan dan keinginan kita bisa dengan mudahnya dipenuhi oleh orang tua kita,,,”, ucap Naz.
Raline yang masih menangis menundukan kepalanya, “Kamu benar Naz,,, kita termasuk orang yang beruntung,,,, tapi aku butuh waktu untuk menerima semua ini”.
“Iya Raline,, aku juga paham,,, nanti juga perlahan kamu pasti bisa menerima ini semua,,, pokoknya yang harus kamu ingat, siapa pun orang tua kita, tapi kita tetap bersaudara, sampai kapanpun”, ucap Naz.
“Terimakasih Naz,,, kamu memang sangat baik,,, padahal aku sering sekali menyakiti mu dan menghina mu selama ini,,, hiks hiks ”, Raline merasa menyesal dan malu.
“Sudahlah,, yang lalu biarlah berlalu,, pokonya sekarang dan kedepannya kita harus menjadi saudara yang saling menyayangi satu sama lain,,, oke “, ucap Naz tersenyum dan Raline pun mebalas senyumannya.
“Nah,,, gitu dong,,, Mama senang melihat kedua putri Mama akur begini”, Bu Rahma yang baru masuk ke kamar Naz langsung berkomentar dan menghampiri keduanya.
“Mama,,,, “, ucap kedua gadis itu bersamaan.
“Mama sudah mendengar dan melihat semuanya,,,, salah siapa pintunya tidak ditutup rapat gitu,,, tapi Mama sangat bahagia melihat kalian seperti ini,, semoga terus seperti ini ya,, jadi saudara yang akur dan saling menyayangi,,, bagi Mama kalian tetaplah putri kandung Mama,,, karena Mama sangat menyayangi kalia berdua”, ucap Bu Rahmi yang berdiri di hadapan kedua putrinya itu.
“Mama,,,, “, ucap keduanya kembali berbarengan, lalu berdiri dan memeluk Mama nya itu secara bersamaan, diiringi tangis haru dari ketiganya.
“Mama sayang kalian”.
“Kami juga sayang Mama….”, ucap keduanya kompakan.
Setelah beberapa saat berpelukan, mereka pun melepaskannya, dan Bu Rahmi mencium kening kedua putrinya itu secara bergantian, “Sudah ah melow- melowan nya,, Papa dan Kakak kalian sudah menunggu di meja makan untuk sarapan bersama,,, ayok kita kesana”, Bu Rahmi pun menuntun kedua putrinya di kedua sisinya seperti anak kecil dan berjalan menuju ruang makan.
Setelah selesai sarapan mereka pun langsung bersiap- siap untuk pergi ke puncak, yang ternyata sudah direncanakan sebelumnya. Beruntung pakaian Naz masih di dalam koper dan belum dimasukan kedalam lemari, jadi tidak butuh waktu lama untung mempersiapkannya.
Mereka pun berangkat dengan mobil yang dikendarai oleh Hardi, Naz duduk di belakang bersama Mama nya dan Raline, sedangkan Papa nya duduk di depan. Saat mobil sudah dilajukan, Naz diberi sebuah godie bag yang ternyata di dalamnya berisi ponsel baru yang sama persis dengan milik Raline, karena Mama nya sudah mengetahui kalau Naz sudah kehilangan ponselnya lagi.
“Wah,, ponsel baru,,, Makasih Mama…”, ucap Naz sambil memeluk Mamanya yang duduk di tengah diantara dia dan Raline itu.
“Sama- sama sayang,, tapi itu yang beli Papa nyuruh asistennya,, hehehe,,, dan asistennya pun sudah menchargel full ponsel mu, juga sudah diisi dengan beberapa aplikasi menggunakan emailnya, tapi langsung di logout kok supaya nanti bisa menggunakan email mu sendiri, jadi kamu tinggal masukan simcard saja dan mengaktifkannya ,, oh iya,,, nomor mu juga sudah diisi paket data lengkap dengan pulsanya ”, Bu Rahmi menjelaskan.
“Unchhh,,, makasih Mama ,, Makasih Papa,,, makasih juga ya buat asisten Papa yang sudah mengurus ini semua”,ucap Naz senang, lalu membuka dus hape tersebut dan mengambil hapenya.
Naz memasukan simcard yang diberikan oleh Bunda semalam yang ia simpan di dalam tasnya ke dalam ponsel barunya tersebut. Dan taraaa... banyak sekali pesan yang masuk kesana, pesan SMS dan beberapa pesan panggilan tak terjawab karena sudah empat hari nomor itu tidak aktif. Kemudian ia memasukan email nya juga nomornya pada aplikasi whatsappnya.
Dari sekian pesan SMS yang berjejer, jarinya tergerak untuk membuka pesan dari Arfin yang ternyata itu pesan saat ia menghilang ke Bandung kemarin. Hatinya merasa teriris membaca pesan yang dikirim oleh Arfin yang menunjukan betapa khawatirnya dia saat itu, namun tidak ada pesan lain setelah itu, Naz terus menatap layar ponselnya dengan tatapan sendu.
“Dicoba dong kamera ponsel barunya, bagus gak Naz”, ucap Raline seolah mengajak mereka berselfie ria.
Dan perkataan Raline mampu membuyarkan lamunan Naz,“ Eh,, iya,, boleh boleh,,, ayok kita foto bertiga Ma”, ajak Naz pada Mama nya juga.
“Ayok- ayok “, Mamanya pun mengangguk bersemangat.
Mereka pun berfoto ria dengan berbagai gaya dan ekspresi walaupun ada beberapa hasilnya yang blur karena tergoyang oleh mobil yang melewati jalan berlubang. Perempuan zaman sekarang mah dimana- mana suka eksis, gak bisa lihat kamera ponsel ngagnggur.
Setelah itu, Raline memasukan Naz ke dalam grup kelarga mereka dan meminta Naz mengirimkan foto- foto tersebut ke grup itu. Entah ada dorongan dari mana, Naz mengupload foto dirinya bersama Raline dan Mama nya itu seolah ingin memberitahukan bahwa nomornya sudah aktif kembali, dan sepertinya itu ditujukan kepada seseorang yang dinantikan untuk menghubunginya, karena ia merasa gengsi kalau arus menghubungi orang itu duluan.
“Semoga dia melihat status WA ku,,,, “, gumamnya dalam hati penuh harap.
----------- TBC ----------
*************************
__ADS_1
Hai hai para reader yang keceh badai... sekedar memberitahukan agar meng update aplksi NT dan MT kalian ke versi terbaru ,, soalnya sayang vote kalian akan terbuang sia-sia di versi lama.... karena di versi terbaru cara vote nya berbeda....