Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Maaf Pah.....


__ADS_3

Arfin sengaja menyempatkan pulang dari Surabaya tanpa memberitahukan Naz terlebih dahulu karena berniat ingin memberinya kejutan dengan kedatangannya dan membawa sesuatu yang sangat ia inginkan, namun malah ia yang mendapat kejutan dengan hilangnya Naz. Semenjak Arfin mengetahui bahwa Naz tiba- tiba menghilang dan membuatnya begitu khawatir karena sudah mencarinya ke beberapa tempat namun tidak bisa menemukannya, Arfin nampak frustasi dan merasa tidak berguna karena tidak bisa menjaga gadis yang dicintainya itu.


Seusai melaksanakan shalat dan berdzikir Arfin memohon petunjuk agar bisa menemukan keberadaan Naz, doanya itu seakan langsung dikabulkan oleh Sang Khalik dengan mendengar percakapan dua orang yang ternyata adalah petugas kebersihan di sekolah yang membicarakan tentang hantu yang menggedor- gedor pintu di siang bolong. Saat Arfin dan Andes hendak menghampiri kedua orang yang tengah membereskan alat shalat di dekat lemari pojok, tiba- tiba Kiara datang “Andes, Kak Arfin aku menemukan petunjuk keberadaan Naz”, teriaknya dari pintu masuk dan langsung menghampiri mereka berdua, Ruby yang baru menyimpan mukena ke tempatnya kembali langsung menghampiri Arfin, Andes, dan Ruby.


“Ra, itu kan tas ransel milik Naz, lo nemu dimana?”, Tanya Ruby yang menghampiri.


“Iya ini tas ransel milik Naz,, tadi tuh gue meriksa ke tiap kelas dan melihat- lihat dari balik kaca, nah pas ke kelas 2IPA1 gue lihat ada tas di salah satu kursi, dan gue perhatiin lagi ternyata gue kenal banget itu tas ransel milik Naz, dan saat gue coba buka pintunya ternyata gak dikunci, gue masuk lah dan ngambil tas ini”, Kiara menjelaskan.


“Kalo tas nya masih di kelas, berarti Naz ada kemungkinan masih di sekolah ini”, Andes menebak - nebak.


“Bagaimana mungkin Naz masih disini Des, kita sudah mencarinya di semua ruangan dan sekitaran sekolah ini, tapi tidak menemukannya, apa mungkin Naz…..”, Arfin tidak sanggup melanjutkan perkataannya.


“Naz diculik maksudnya?” Andes sekate- kate.


“Jangan ngomong sembarangan lo Des”, Ruby memukul lengan Andes.


“Maaf Mas siapa yang diculik ? apakah murid dari sekolah ini ?”, tanya seorang pria paruh baya yang bersama seorang anak muda menghampiri mereka.


“Eh,, itu Pak Diman teman kami Naz belum pulang ke rumah semenjak pulang sekolah tadi, udah dicari kemana- mana gak ketemu”, Ruby mengenal bapak itu rupanya.


“Naz anak cantik dan baik itu ya?,yang rambutnya di poni dan memakai kaca mata bulat ?”, Kata Pak Dimana menggambarkan sosok Naz.


“Iya Pak Diman”, Kiara mengangguk.


“Loh, itu kan tas yang tadi masih ada di kursi di dalam kelas”, ucap keponakan Pak Diman sambil menunjuk tas ransel yang dipegang oleh Kiara.


“Iya, tadi aku nemuin ini di dalam kelas, tapi kok gak dikunci kelasnya?”, Kiara merasa heran.


“Tadi siang setelah semua murid bubar dan pada pulang, saya membersihkan setiap ruangan kelas, saat saya membersihkan kelas itu ada sebuah tas di atas kursi, saya pikir pemilik tas tersebut belum pulang karena mengikuti rapat OSIS yang berakhir sampai ashar tadi, makanya saya gak kunci pintu kelasnya, takutnya nanti pemilik tas itu kembali ke kelas untuk mengambilnya“, pria muda itu menjelaskan.


“Oh ya, tadi saya dengar anda mendengar ada yang menggedor- gedor pintu dari dalam ruangan,,ruangan mana itu?”, Arfin melontarkan pertanyaan.


“Aduh mas jangan bahas itu saya jadi takut,, ruangan itu berhantu”, ucap pria itu sambil bergidik.


“Hus kamu itu sudah Paman bilang gak ada yang namanya hantu di sini, apalagi di siang bolong?”, Pa Diman kembali mengomeli keponakannya itu, “ Itu Mas ruangan di sebelah Lab. Bahasa kata keponakan saya ada yang menggedor- gedor pintu dari dalam tapi tidak terdengar suara orangnya”.


“Di sebelah Lab Bahasa berarti…”. Ruby berfikir sejenak.


“Ruang musik…”, Ruby, Kiara, dan Andes bicara serempak.


“Ruang musik??”, Tanya Arfin.


“Iya Kak,, ruang musik itu bersebelahan dengan Lab Bahasa,,, oh iya, jam berapa itu kejadian nya?”, Ruby mencoba menghubungkan rentetan kejadian.


“Kejadiannya beberapa saat setelah bel pulang dibunyikan dan murid- murid sudah pada pulang,, makanya saya ketakutan, tidak ada siap-siapa tapi ada yang menggedor- gedor pintu dari dalam ruangan, saat saya bertanya berkali- kali tidak ada jawaban sama sekali malah terus menggedor pintu”, ucap pria itu


“Astaga,,, ruang musik itu kan kedap suara,, jadi kita mau teriak sekencang apa pun di dalam, dari luar gak akan kedengaran”, ucapan Andes menyadarkan semua orang.


“Ayo kita segera ke sana”, ucap Arfin yang langsung bangkit dari duduknya. Mereka pun bergegas pergi meninggalkan masjd dan berjalan menuju ruang musik. Proses pencarian Naz yang menghilang tanpa kabar semenjak pulang sekolah, kini menemukan petunjuk dengan menghubungkan penjelasan dari Ruby ditambah dengan barang temuan Kiara dan keterangan yang di dapat dari keponakan Pak Diman selaku petugas kebersihan sekolah.


Mereka telah sampai di depan ruang musik, Arfin langsung menekan pegangan pintu namun pintunya tidak bisa dibuka, tok tok tok “Naz,, apa kamu di dalam”, Arfin mengetuk- ngetuk pintu dan memanggil Naz namun tidak ada jawaban, “Pak, saya pinjam kunci ruangan ini”, ucap Arfin pada Pak Diman.

__ADS_1


“Sebentar Mas saya ambilkan dulu”, Pak Diman bergegas pergi untuk mengambil kunci ruang musik. Sedangkan Arfin dan ketiga sahabat Naz bergantian mengetuk pintu hingga menggedor nya dan terus memanggil Naz, namun tetap tidak ada jawaban atau pun gedoran pintu dari dalam. Mereka semakin panik dan menghawatirkan keadaan Naz jika memang ia ada di dalam berarti sudah hampir enam jam dia terkunci di dalam.


Tak lama datanglah Pak Diman dan keponakannya yang membawa serangkai beberapa kunci yang di gabungkan dalam satu bulatan, “ Ini Mas kuncinya”, ia menyodorkan kunci.


“Hah, banyak banget Pak, yang mana kunci ruangan ini?”, Tanya Arfin.


“Sepertinya harus dicoba- satu persatu Mas, karena kunci yang tunggalnya gak ada, sepertinya masih dipegang guru kesenian yang tadi siang meminta kunci ruang musik ini pada saya Mas”, jawab Pak Diman.


“Yasudah ayo dicoba satu persatu”, dan Pak Diman pun mencoba satu- persatu kunci dimasukan ke lubang kunci pintu ruang musik.


Arfin semakin gelisah menunggu proses pembukaan pintu itu dan melihat banyak kunci tidak ada yang cocok, ”Ada gak sih kuncinya, kenapa hampir semua tidak cocok Pak”, ucapnya dengan nada yang mulai tinggi.


“Sebentar Mas, kami sedang berusaha", ucap Pak Diman sambil terus memasukan dan mencocokan kunci, namun setelah semua dicoba tidak ada kunci yang bisa membuka pintu tersebut. ”Maaf Mas, tidak ada yang cocok”, ucapnya menyesal.


“Apa,, dari semua kunci itu tidak ada yang bisa membuka pintu ini??”, Arfin sudah mulai emosi. ”Dasar kalian tidak berguna, minggir”, Arfin malah meminta Pak Diman menjauh dari pintu, kemudian dia mencoba membuka paksa pintu itu dengan mendobrak menggunakan tubuhnya, brugh dobrakan pertama belum terbuka, brugh ,,dobrakan kedua kali belum terbuka juga, Arfin sedikit menjauh dari pintu untuk ancang- ancang ngawahan brugh,,saat yang ketiga kali di dobrak hampir terbuka lalu Arfin menendang pintunya sekuat tenaga, akhirnya pintu pun terbuka dan menyeruakan hawa dingin dari dalam.


Arfin langsung masuk diikuti Kiara, Andes dan Ruby, betapa kagetnya Arfin melihat seorang gadis berseragam sekolah tengah tergeletak berbaring menyamping dengan kedua tangan menyilang di dadanya karena kedinginan, “Naz …” lirihnya,,, Arfin pun segera menghampiri Naz dan berlutut dengan raut wajah sedih melihat gadis pujaan hatinya terkapar lemah menggigil kedinginan lalu ia mengusap pipi Naz memastikan itu adalah nyata, dan para sahabatnya pun langsung menghampiri Naz, mereka pun berlutut karena lemas melihat kondisi Naz dan membekap mulut masing- masing karena terkejut.


“Kak Arfin,,,tolong,,,dingin”, ucap Naz pelan menggigil kedinginan, Arfin langsung merangkul tubuh Naz dan menempatkannya di pangkuannya.


“Naz,, Naz bangun,, Naz sadar Naz” Arfin yang menggoyang- goyangkan pipi Naz untuk menyadarkannya.


“Dingin,,,,dingin,,,”, Lirih Naz lalu Arfin memeluknya dan mengusap- usap kepala Naz, namun ia merasakan ada yang aneh pada Naz, dia meraba punggung, “Naz,, baju mu basah”, ucap Arfin terkejut.


“Kak, ayo cepat kita bawa Naz ke rumah sakit”, Ruby menyarankan karena khawatir melihat kondisi Naz.


“Ruby kamu telepon rumah sakit terdekat dan minta segera kirim ambulan, dia butuh penanganan dan tidak mungkin membawanya di dalam mobil dalam keadaan seperti ini, dan sambil menunggu ambulannya datang sementara kita bawa Naz ke ruang UKS dulu,,, ayo kita harus bertindak cepat”, ucap Arfin lalu bangun dan menggendong Naz ala bridal style. Ruby pun segera menelpon rumah sakit terdekat dengan mencari nomornya dari mbah google, “Pak Diman ayo kita ke ruang UKS pastikan kuncinya ada atau akan saya hancurkan lagi pintunya”, ucap Arfin saat baru keluar dari ruang musik, mereka pun berjalan menuju ruang UKS, dan Pak Diman berhasil membuka pintu dengan salah satu kunci yang berada di tangannya.


Arfin langsung membaringkan Naz di tempat tidur yang ada di ruang UKS, “Ruby, Kiara, tolong kalian bantu membuka pakaian Naz dan ganti dengan jaket ini, pakaian Naz basah,, balur seluruh tubuhnya dengan minyak kayu putih, pastinya ada di ruangan ini kan benda itu,,,”, Arfin melepas jaket yang dipakainya lalu di berikan kepada Ruby, sedangkan ia bergegas keluar ruangan, saat di depan pintu Arfin membalikan badannya, “ Andes ngapain kamu masih di situ, ayo keluar.. atau mau saya seret?”, Ucapnya dengan tatapan tajam kepada Andes yang masih berdiri di sebelah Kiara, dan ia pun langsung bergegas keluar ruangan mengikuti Arfin.


Saat sampai di parkiran ternyata selain ada ambulan juga ada mobil Dandy dan Pak Rizal yang baru saja datang dan mereka langsung menghampiri Arfin yang menggendong Naz, petugas rumah sakit turun dan mengeluarkan brankar dari dalam ambulan, kemudian Arfin membaringkan Naz perlahan di atas brankar tersebut. “Ya Allah,, Arfin,, Naz kenapa ini??”, Bunda yang kembali menangis langsung memeluk Naz yang terbaring tak sadarkan diri, “Sayang,,,”, lirihnya.


“Bunda sebaiknya Naz segera dibawa ke rumah sakit, dia masih terus menggigil, butuh penanganan segera, takutnya terkena hipotermia”, Arfin yang sangat khawatir melihat keadaan Naz memberi saran pada Bunda, kemudian Naz pun di masukan ke dalam ambulan di temani Bunda dan Ayahnya yang menyerahkan kunci mobil pada Dandy yang ternyata datang bersama Nervan, ambulan pun segera berangkat.


“Arfin, ini kenapa bisa kejadian kayak gini ,, gimana ceritanya?”, Tanya Dandy yang terlihat masih terkejut atas kejadian yang menimpa adiknya, kemudian Arfin pun menceritakan semua kejadian sejak ia datang ke rumah Bunda sampai bisa menemukan keberadaan Naz.


“Kok bisa Naz sampai terkunci di ruangan musik begitu saja Ar?”, Nervan yang mendengar penjelasan Arfin pun ikut bertanya.


“Entahlah hanya Naz yang bisa menjelaskannya”, Arfin menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


“Bukannya lo lagi di Surabaya, kenapa tiba- tiba nongol disini?”, Nervan merasa heran.


“Kak, ayo kita ke rumah sakit, kami khawatir banget sama keadaan Naz”, Ruby memotong percakapan ketiga pria itu, dan mereka pun baru teringat untuk menyusul Naz ke rumah sakit.


“Van, lo bawa mobil gue, gue mau bawa mobil Ayah”, ucap Dandy sambil menyodorkan kunci mobilnya pada Nervan, dan mereka pun langsung beranjak menuju mobil masing- masing.


“Ayok Ar kita berangkat, kenapa lo malah bengong ?”, ucap Dandy yang sudah dalam mobil hendak meninggalkan parkiran namun melihat Arfin masih berdiri di tempat tadi bersama Andes.


“Kalian duluan saja, gue ada perlu sebentar, lagian nanti jam 2 pagi gue harus ke bandara mau balik ke Surabaya lagi,, “, ucapnya dan melirik kesamping baru teringat, “Oh iya Dan, ini gue nitip si Andes kasian dia gak ada yang ngangkut”, Ucap Arfin menyodorkan Andes sambil tertawa.


“Uluh – uluh kasian,,ayo masuk Des,, jangan nangis nanti di beliin balon”. Dandy malah menimpali candaan Arfin.

__ADS_1


“Iiiih, emangnya aku anak kecil apa?”, Andes merasa kesal dan menghentakkan kakinya, lalu ia pun masuk ke dalam mobil Dandy yang kemudian meninggalkan parkiran.


Tin Tin… Nervan membuka kaca mobilnya “Duluan Ar,,,”, lalu melajukan mobilnya setelah diangguki Arfin, kemudian diikuti dengan motor Kiara yang ditumpanginya bersama Ruby, mereka pun melajukan kendaraan menuju rumah sakit.


Beruntung jalanan saat itu belum terlalu ramai, dalam 10 menit mereka sudah sampai di rumah sakit, kemudian memarkirkan kendaraan di parkiran dan langsung berjalan berbarengan menuju ruang UGD. Tapi sayangnya mereka hanya bisa menunggu di depan pintu UGD saja karena terlalu banyak, sehingga mereka masuk bergiliran menemui Bunda dan Ayah yang sedang menunggui Naz yang sedang diberi penanganan.


“Ayah, bagaimana keadaan Naz?”, tanya Dandy yang masuk bersama Nervan.


“Naz terkena hipotermia ringan Dan, tadi di cek suhunya hanya 33 derajat, sudah dipasang oksigen dan cairan infus yang sudah dihangatkan, tadi sepanjang jalan terus menggigil dan terus mengigau tidak jelas”, ucap Ayah yang sedang duduk bersebelahan dengan Bunda. “Kita berdoa saja mudah- mudahan Naz baik- baik saja”.


Setelah mendapatkan penanganan beberapa saat kemudian Naz dipindahkan ke ruang rawat inap, dan ia sudah bisa tertidur tanpa mengigau dan menggigil lagi. Kini tinggal Bunda, Ayah dan Nervan yang menunggu di ruangan, karena yang lainnya setelah melihat kondisi Naz membaik diminta pulang oleh Bunda dan diantarkan oleh Dandy sekalian dia pulang ke rumah membawa pakaian dan kebutuhan Naz.


Bunda sedari tadi nampak sibuk dengan telepon genggamnya, entah itu berkirim pesan dan sesekali berbicara menelpon seseorang membicarakan kondisi Naz, lalu Ayah Naz pun mendapat panggilan telpon bergegas ke luar ruangan. “Bunda,,,,,bunda…”, Naz memanggil Bundanya dengan suara pelan dan kemudian membuka matanya perlahan, saat melihat ke samping tempat tidurnya Naz melihat Nervan tengah duduk di kursi dan mata mereka saling beradu pandang, “Bang Evan”. ucapnya pelan.


“Kamu kenapa cantik, ko udah bangun lagi?”, ucap Nervan yang terus menatap Naz sambil tersenyum.


“Ko ada Bang Evan ?”, tanya Naz dalam hati,, “Minum… haus” ucapnya lagi.


Nervan pun segera mengambilkan air minum yang sudah tersedia bersama makanan di meja khusus makanan pasien, ”Ini Naz minum dulu”, Nervan menyodorkan gelas yang tertutup plastik wrapping yang sudah ditusuknya dengan sedotan dan membantu Naz untuk meminumnya.


“Sayang, kamu sudah sadar?”, Bunda yang baru saja mengakhiri panggilan teleponnya langsung menghampiri Naz.


“Bunda, ini dimana ?”, tanyanya bingung saat melihat sekeliling.


“Kamu di rumah sakit sayang,,kamu gak pulang- pulang dan gak ada kabar, kami semua mencari mu kemana- mana dan tadi sehabis magrib kamu ditemukan di sekolah terkunci di ruang musik”, Bunda sedikit menjelaskan dan Naz yang mendengarnya mencoba mengingat kejadiannya sambil mengusap- usap kepala Naz,, “Sayang, siapa yang sudah tega mengunci mu di ruangan kedap suara itu?”, Bunda langsung menanyakan soal si pelaku.


“Bunda,, Naz baru saja sadar,, jangan dulu ditanya yang aneh- aneh,,, biarkan dia istirahat,, ini sudah jam 11 malam”, Ayah pun yang baru masuk mendengar ucapan Bunda langsung menghampiri.


“Om, Bunda, kalau begitu aku pamit pulang dulu, sudah larut ini”, Nervan berpamitan pulang, “Kamu banyak istirahat ya biar cepat sembuh, Bang Evan pulang dulu”, Kemudian Nervan bangkit dari duduknya menyalami Ayah dan Bunda dan bergegas pergi. Tak lama Naz pun tertidur kembali begitu pula dengan ayah dan bundanya yang tidur di sofa yang tersedia di sana.


Pagi harinya Ayah pulang lebih dulu karena mendapat panggilan untuk tindakan operasi di rumah sakit tempat dinasnya, Naz mulai membuka matanya kembali setelah tidur nyenyak semalaman, dan saat melihat ke arah sofa ternyata di sana sudah ada beberapa orang, selain Bunda di sana ada Opa, Oma, dan Papa nya Naz.


“Hai Sweety,, kamu sudah bangun”, ucap Opa tersenyum dan menghampiri Naz yang baru bangun padahal sudah jam delapan pagi, Opa mencium kening cucu tersayangnya itu, Oma dan Papa nya pun menghampiri dan menciumnya secara bergantian. Lalu Opa dan Oma kembali duduk di sofa.


Bunda langsung menyeduh susu bubuk yang ada di dalam gelas dari nampan sarapannya Naz, “Sayang, ayo minum susunya ya,,, terus makan, kamu belum makan dari kemarin”, Bunda menghampiri Naz dengan segelas susu di dalamnya, lalu menekan tombol pengatur ranjang agar Naz bisa duduk sambil menyandar, Naz pun meminum susu nya sedikit demi sedikit sampai habis karena terus dipaksa dihabiskan oleh Bunda, jeda sesaat lalu Bunda menyuapi Naz makan bubur yang disediakan rumah sakit.


“Sayang, kenapa kamu bisa terkunci di ruangan itu?,, apa ada orang yang mengurung mu di sana?”, Papa nya Naz yang duduk di samping ranjang langsung menanyai Naz yang sudah selesai makan sambil memegangi dan sesekali mencium tangan Naz.


Naz memandang Papa yang begitu menyayanginya dengan tatapan sendu, “Pa,, sepertinya pintunya rusak, karena saat aku masuk dan menutupnya tiba- tiba aku tidak bisa membukanya lagi, jadi aku tidak bisa keluar, dan aku berteriak- teriak meminta tolong, tapi aku baru ingat kalau ruangan itu kedap suara”, Ucapnya dengan tatapan sendu kemudian Naz menundukkan pandangannya.


“Kamu yakin sayang ?”, Papa nya bertanya kembali karena merasa ada yang aneh.


Naz menganggukkan kepala “Yakin Pa,, karena saat itu semua murid sudah pada bubar untuk pulang, sedangkan ruang musik ada di ujung lorong dan berlawanan arah dengan pintu gerbang, jadi tidak ada orang satu pun”, Naz menjawab lalu kembali membaringkan tubuhnya,”Pa, aku mau istirahat lagi ya, masih lemas”, ucapnya pelan, dan Papa nya pun menyelimuti Naz yang sudah kembali berbaring.


“Maaf Pah,,,,,,”, Lirihnya dalam hati


------------ TBC -------------


**********************


Naz sudah ketemu pemirsah....

__ADS_1


Happy Reading..... 😉🥰


Jangan lupa tinggalkan jejakmu😉🥰


__ADS_2