Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Gelagat Mencurigakan


__ADS_3

Hari ini panti asuhan kasih ibu tengah berkabung dan dirundung duka mendalam atas meninggalnya sang pemilik serta pengurus panti yang merupakan ibu tunggal bagi anak- anak yang tinggal di sana. Tangis kesedihan menyelimuti seluruh penghuni panti, begitu pula dengan orang- orang terdekat almarhumah yang datang melayat, tak terkecuali Naz. Ia merasa sangat kehilangan orang yang selama ini selalu menjadi teman curhatnya saat ia main ke panti atau ke danau sejak ia kecil yang sudah ia anggap keluarga sendiri. Kini ia hanya bisa menangisi kepergiannya dan ada rasa penyesalan dihatinya karena tidak ikut merawat almarhumah saat masih sakit, dan ia pun tak bisa melihat jasad almarhumah untuk yang terakhir kalinya, karena ia datang terlambat ke pemakaman.


Naz yang kini sedang berada di rumah duka terus menangis di pelukan Bunda, selain sedih karena kepergian Bude, juga karena sikap Arfin padanya saat di pemakaman, padahal itu pertama kalinya mereka bertemu setelah insiden yang terjadi di rumah Arfin tempo hari. Rasa rindu yang menggebu berganti menjadi rasa sakit yang berlipat ganda.


Terlihat Bu Hinda yang baru saja memasuki pintu pagar sedang berjalan menuju panti, namun beliau hanya seorang diri, sedangkan tadi saat di pemakaman beliau datang bersama Arfin. Kemudian beliau menghampiri Naz yang sedang duduk di lantai teras bersama Bundanya, dan beliau ikut duduk sehingga posisi mereka duduk saling berhadapan dengan Bu Hinda.


“Naz,,, Mami minta maaf atas sikap Arfin sama kamu,,, Mami juga minta maaf karena gara- gara Mami membahas pertunangan, hubungan kalian jadi merenggang seperti ini,, Mami benar- benar minta maaf”, ucap Bu Hinda dengan penuh penyesalan.


“Kenapa Kak Arfin jadi seperti itu, Mi ? apa alasannya ? Salah aku apa? Hiks hiks”, Naz malah melontarkan pertanyaan sambil terisak.


“Hanya Arfin yang bisa menjelaskannya sendiri sama kamu,,, dan dia sekarang ada di danau, barusan diantar sopir ke sana”, Bu Hinda memberitahukan Naz tentang keberadaan Arfin seolah memberi kode pada Naz agar ia menghampiri Arfin ke danau.


“Di danau?”, tanya Naz.


“Iya, Naz”, jawab Bu Hinda.


Naz berpikir sejenak “Mungkin sekaranglah saatnya aku meminta penjelasan darinya, mumpung orangnya ada disini”, gumamnya dalam hati. “Bunda, aku mau ke danau dulu”, Naz hendak bangkit dari duduknya.


“Dek,, kamu yakin? Kita teh kan masih dalam keadaan berkabung?”,Bunda mengingatkan Naz kalau mereka masih berduka.


“Iya Bunda, aku ingin masalah ini segera selesai dan tak ingin terus berlarut- larut,, cara satu- satunya ya aku harus berbicara langsung dengannya”, ucapnya dengan yakin.


“Apa perlu kami ikut?”, tanya Bu Hinda.


“Gak perlu Mami,,, biar aku pergi sendiri, tempatnya dekat kok dan aku sudah biasa pergi ke sana sendirian,,, aku pergi dulu ya,,,”. Ucapnya pamit lalu berdiri.


Kemudian Naz mulai melangkahkan kakinya keluar dari area panti asuhan berjalan menuju ke taman danau yang letaknya hanya 300 meter dari panti. Ia memberanikan diri dan menguatkan hatinya untuk bertemu dengan pria yang sangat dicintainya itu, dengan harapan bisa mendapat jalan keluar untuk permasalahan yang kini sedang mereka hadapi. Meskipun ia sadar pasti ada dua pilihan dalam penyelesaiannya, antara hubungan mereka akan berlanjut atau akan berakhir, dan itu tergantung dari alasan dan penjelasan dari Arfin.


Langkahnya terasa semakin berat saat tengah berada di area taman, ada perasaan takut yang menyelimuti dirinya, yakni takut akan menerima kenyataan jika hubungan asmara yang mereka jalin dengan penuh perjuangan akan berakhir. Walau sebenarnya Naz sangat berharap bahwa hubungan mereka akan baik- baik saja kembali normal seperti sebelumnya.


Rasa dag dig dug timbul saat ia melihat seseorang yang tengah duduk di kursi besi panjang yang biasanya ia duduki yang menghadap ke danau.”Tenangkan dirimu Rheanazwa,,, yakinlah semua akan baik- baik saja”, ucapnya dalam hati menenangkan dirinya sendiri.


Kini ia tengah berada di samping kursi tersebut, kemudian ia duduk di kursi sisi kanan, karena Arfin duduk di kursi sisi kiri, sehingga ada jarak sekitar setengah meter diantara mereka. Naz menoleh ke arah Arfin yang sedang memandang lurus ke danau, ”Kenapa dia terlihat pucat ? apa dia sedang sakit? Atau dia merasa bersalah padaku karena setelah kejadian itu terus mengacuhkan ku dan takut bertemu denganku?”, Naz bertanya- tanya dalam hati.


“Maaf…. “. Satu kata itu tiba- tiba dilontarkan Arfin yang kemudian menundukan kepalanya tanpa menoleh sedikitpun pada Naz.


“Maaf untuk apa? Maaf untuk yang mana?”, tanya Naz dengan pandangan lurus ke depan.


“Maaf untuk segalanya,,, “, ucap Arfin sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Naz menghela nafas sejenak, “Lalu bagaimana dengan nasib hubungan kita selanjutnya? Apa akan terus seperti ini? Jangankan untuk bertemu, untuk berkomunikasi pun tidak pernah sama sekali ”, ucap Naz mulai membuka pembahasan.


“Terserah kamu saja,,,”, ucapnya pasrah, “Aku tahu cepat atau lambat semua ini akan terjadi”, ucapnya lagi.


“Apa? …. Apa maksudnya?”, tanya Naz merasa heran dan terkejut, namun Arfin tidak menjawab malah diam dan terus menunduk. ”Oh,, apa maksudmu itu kamu sudah merencanakan sejak awal untuk mempermainkan ku lalu meninggalkan ku begitu saja?”, tanya Naz dengan nada bergetar seolah menahan sesak di dadanya.


“Maafkan aku…”, lirihnya.


Naz membekap mulutnya karena benar- benar terkejut, dan air mata pun jatuh begitu saja tanpa permisi, “Jadi benar,,, selama ini kamu hanya mempermainkan perasaanku saja hah??”, tanya Naz sambil terisak, ”Lalu apa arti dari semua kata- kata cintamu, ungkapan perasaanmu, kebaikanmu selama ini pada ku hah?? Apa semua itu hanya sandiwara? Apa semua itu hanya kebohongan belaka hah?”, Naz mempertanyakan dengan deraian air mata yang terus membasahi pipinya.


“Maafkan aku,,, “, Arfin hanya minta maaf terus sambil menunduk.


“Maaf kamu bilang?,,, Apa kata maaf saja bisa memperbaiki semua yang telah kau lakukan padaku? Apa dengan kata maaf saja bisa mengembalikan hatiku yang kini terasa hancur berkeping- keping hah? Hiks hiks hiks”, Naz sudah mulai jengah.


“Aku benar- benar minta maaf”, Arfin terus mengulang kata maaf.


“Salahku apa? Hiks hiks,,,, Kenapa kamu lakukan ini pada ku? Hiks hiks…. Selama ini aku mencintaimu dengan setulus hatiku, aku menyayangimu dengan sepenuh jiwaku, aku bisa menerima kekuranganmu,,, tapi kenapa dengan teganya kau malah mempermainkan perasaanku seperti ini ? kenapa ? Hiks hiks hiks... kenapa? ”,Tanyanya sambil memandang ke arah Arfin yang duduk di bersebelahan dengannya itu.


“Maafkan aku ,,,maafkan aku,,, ini semua salahku”, ucap Arfin yang masih tertunduk.


“Apa pernah terpikir oleh mu bagaimana rasanya dipermainkan oleh orang yang sudah terlanjur amat kau cintai??? Apa kau tahu bagaimana rasanya disakiti oleh orang yang selama ini selalu melindungi mu, selalu ada untukmu disaat kau sedih dan terpuruk, bahkan sudah kau anggap bagian penting dalam hidupmu,,,??,,,, Sakit,,, sakit tahu gak? Hiks hiks hiks,,,, “,Ucap Naz yang terus dibanjiri air mata.


“Selama beberapa hari ini aku berharap kau akan menemui ku atau sekedar menghubungiku untuk memberi penjelasan dan memperbaiki hubungan kita,,, tapi kini,,, semua itu rasanya mustahil… hiks hiks hiks,,,”, Naz terus menangis sambil memandang orang yang sejak tadi terus menundukkan kepalanya, ia menghela nafas panjang,


“Apa kau tahu ,,sebelumnya aku tidak pernah membenci siapapun, dan sekarang kaulah satu- satunya orang yang aku benci di dunia ini, aku benci padamu,,,, dan anggap saja kita tidak pernah saling mengenal,, selamat tinggal”, ucap Naz yang kemudian ia bangkit dari duduknya dan beranjak pergi meninggalkan Arfin yang sejak tadi hanya menunduk.


Naz berlari dengan membawa rasa sakit yang begitu dalam di hatinya, ia berlari dengan membawa kekecewaan yang besar karena Arfin sama sekali tidak memberinya penjelasan apa pun atau membujuknya ataupun mengatakan hal lain selain hanya kata maaf yang terus terucap dari mulutnya, ia berlari dengan air mata yang terus membanjiri kedua pipinya, ia berlari dengan membawa rasa benci yang mulai kini timbul dihatinya.


“Maafkan aku,,,maafkan aku Naz,,, maafkan aku cahayaku”, lirihnya lalu ia pun menjatuhkan dirinya ke tanah duduk sambil memeluk kedua lututnya dan menumpahkan air mata yang sejak tadi ditahannya.


Arfin terus menangis dengan rasa penyesalan yang begitu mendalam, karena telah menyakiti wanita yang sangat dicintainya. Ia tak mampu berkata- kata, hanya kata maaf saja yang terus terlontar dari mulutnya.


“Semuanya sudah berakhir,,, semuanya sudah berakhir,,, dia sangat membenciku, Mi,,, dia sangat membenciku,,,, ”, ucapnya pada sang Mami yang kini duduk disebelahnya, dengan air mata yang mengalir deras membasahi pipinya.


“Sudah Al,,, Mami sudah mendengar semuanya,,, kau sudah memutuskan jalan inilah yang kau pilih dan kau harus bisa menguatkan dirimu, ikhlaskan dia,,,, tabahkan hatimu nak,, Mami tahu ini juga sangat berat untukmu,,, Mami akan selalu ada untuk mu”, Bu Hinda memeluk putranya yang terlihat begitu menyedihkan, untuk menguatkannya.


Sementara Naz yang terus berlari dan hampir sampai di pintu pagar panti, langsung disambut oleh sang Bunda, seolah beliau tahu akan terjadi sesuatu dengan putri kesayangannya itu.


Grepp ,,,, Naz langsung memeluk Bunda nya yang sudah ia lihat dari kejauhan tadi, “Bunda,,,huaaaaaa,,,,, sakit Bunda,,, sakiit….”, Naz menangis dalam pelukan Bunda nya.

__ADS_1


“Ssssttttt,,,, sudah sudah dek,,, ayok kita masuk ke dalam mobil, malu atuh dilihat orang kalo nangis disini,,,, itu Pak Udin udah menjemput,, yukk”, ajak Bunda dan mereka pun naik ke dalam mobil yang sudah terparkir di depan pintu pagar panti, kemudian Pak Udin pun melajukan mobilnya.


Selama dalam perjalanan pulang Naz terus menangis di pelukan Bundanya tanpa mengatakan apa penyebabnya, dan Bunda seolah memahami sehingga tidak banyak bertanya hanya terus mengusap- usap kepala Naz saja.


Sesampainya di rumah, Naz langsung berlari ke kamarnya dan melanjutkan tangisannya di tempat tidur sambil tengkurap dan memukul- mukul bantal, ”Huaaaaaaaa,,,,,,, huaaaaa,,,,,, kamu jahat,,,aku benci sama kamu,,, aku benci sama kamu, Arfin….hwaaaaaaaaaa”.


Bunda pun masuk ke kamar Naz dan menghampiri Naz yang sedang menangis di atas tempat tidurnya, “Sudah,,, sudah Dek,,, kamu yang sabar,,, yang ikhlas,,, mungkin kalian belum berjodoh,,, sudah ya nak,,, kamu dari pemakaman terus menangis,,, nanti air matamu bisa kering sayang,,, sudah ya, nak”, ucap Bunda mencoba menenangkan Naz dengan mengusap- usap kepalanya.


“Kenapa dia jahat sama aku Bunda,,, salah aku apa?? Kenapa dia harus datang dalam kehidupan ku kalau hanya untuk menyakitiku saja, Bunda… hwaaaaaaa”.


“Sudah atuh sayang sudah,,,, jangan menangis lagi atuh ya,,, mungkin sudah jalannya seperti ini,,, beruntung kamu teh mengetahui hal ini lebih cepat sebelum hubungan kalian terlampau jauh,,, kamu ambil hikmahnya ya Nak,,, sini bangun,,, sini Bunda peluk, sayang”, Bunda menarik tangan Naz untuk bangun, dan ia pun bangun lalu duduk dan memeluk Bunda.


“Sayang,,, Bunda tahu ini sangat berat untukmu,, tapi ya namanya dalam membina hubungan baik itu pacaran, pertemanan, pernikahan bahkan dalam persaudaraan atau dalam keluarga pun pasti ada saja masalahnya, entah itu karena ketidak cocokkan, entah itu karena berbeda pendapat, entah itu karena keegoisan, dan banyak hal lain yang menjadi penyebabnya. Dan itu tergantung dari cara kita menyikapi dan menyelesaikan masalah itu, ada yang memperbaiki hubungan, bahkan tak jarang yang malah semakin memperburuk keadaan sampai memutuskan hubungan. Terkadang dalam hidup kita harus menentukan pilihan tersulit, sama hal nya dengan masalah yang menimpa hubungan mu dengan Arfin, mungkin hanya bisa diselesaikan dengan jalan yang kalian pilih ini, dan mungkin ini yang terbaik untuk kalian,, daripada saling menyakiti lebih lama iya kan?”.


“Dek, hanya karena putus bukan berarti cinta dunia mu menjadi hancur atuh dek,, kamu masih sangat muda, malahan mah masih bau kencur,, anggap saja ini adalah cinta monyet yang datang dan pergi di saat masa- masa ABG seperti kamu, jadi jangan terlalu diratapi, malahan akan bikin kamu capek sendiri,,,”, Bunda terus berusaha menenangkan Naz.


“Aku nyesel udah menerima cintanya,,, aku nyesel udah mencintainya,,, aku nyesel udah kenal sama dia kalau ujung- ujungnya seperti ini, Bunda,,,,huwaaaaaaa”, Naz terus menangis dan menyesali.


“Dengar sayang,,, tidak semua keinginan kita teh dikabulkan oleh Sang Maha Pencipta dan menjadi kenyataan,,, kita hanya bisa berencana, tetapi tidak bisa melampaui takdir yang sudah digariskan dan ditetapkan untuk kita. Mungkin ini menandakan kalau Arfin teh bukan jodoh yang tepat untukmu, dan kamu teh harus belajar ikhlas supaya hatimu bisa dengan lapang menerima semua kenyataan ini. Anggap saja ini teh sebuah pengalaman yang memberikan pembelajaran dalam hidupmu, supaya ke depannya kamu lebih hati- hati untuk memilih pasangan untukmu. Sekarang mah yang penting kamu fokus aja mikirin sekolahmu ya, tidak usah pacar- pacaran dulu lah,,, nanti saja kalau sudah lulus sekolah atau bahkan lulus kuliah, barulah kamu teh mikirin pacaran,,, ya tapi kalau sudah datang jodohnya ya mau kapan pun itu, baik kamu atau kami sebagai orang tuamu tidak akan bisa menolak,, karena jodoh, rezeki, maut itu kan suduh ditetapkan saat kita masih di dalam kandungan”, Bunda menasehati Naz untuk menenangkannya.


Naz pun mulai menghentikan tangisannya dan perlahan melepaskan pelukan dari Bunda nya, “Bunda kok tahu kalau aku sudah putus sama dia? Aku kan dari tadi belum cerita apa- apa?”, tanya Naz sambil sesenggukan.


Bunda yang nampak terkejut menjawab dengan terbata- bata,”It it itu kan,,, emm,,, kamu teh kan dari tadi nangis terus dan barusan kamu bilang benci sama Arfin gitu,,, emm,, ya Bunda pikir itu karena kalian putus”, jawab Bunda lalu nyengir, “Memangnya tadi Arfing ngomong apa aja sampai kamu nagis kejer gini?”, tanya Bunda seolah mengalihkan pembicaraan.


”Gak ngomong apa- apa,,, cuman ngomong Maaf terus dari aku datang sampai pergi.. jangankan untuk memberiku penjelasan,, menatapku saja dia seperti tidak sudi, malah terus menunduk saja,,, mungkin dia sudah bosan melihat wajahku,,,”, ucapnya sambil sesenggukan.


“Mungkin dia teh merasa bersalah sama kamu, dek, makanya dia teh terus menunduk begitu dan tak beranui menatapmu”, ucap Bunda yang terdengar masih membela mantan calon menantunya itu.


“Bunda kok terus belain dia sih,,, ?”, Naz protes.


“Bukan membelanya,,, Bunda mah hanya menebak- nebak saja ih,,,”, Bunda mengelak.


"Bunda,,, apa Bunda udah bicara sama Tante Hinda?”, tanya Naz penasaran.


Bunda nampak kembali terkejut dengan pertanyaan Naz ,”It itu,,,soal itu Bunda belum bicara sayang,,, ehh,, kamu sudah jam empat lebih,, sebaiknya kita shalat ashar ya,, Bunda ke kamar dulu ya,,, kamu juga shalat supaya perasaan mu lebih tenang ya dek, “, ucapnya yang kemudian beranjak pergi meninggalkan kamar Naz.


“Bunda biasanya kalo ada yang nyakitin perasaanku aku suka heboh,, kak Dandy atau Kak Arsen aja suka sampai deimarahi sama Bunda kalau ngerjain aku dan bikin aku kesal,, tapi kok ini malah terlihat santai dan setenang ini,,,, Sepertinya Bunda sedang menyembunyikan sesuatu,,, seperti ada gelagat mencurigakan dari Bunda”, gumam Naz dalam hati.


------- TBC ----------

__ADS_1


************************


.Happy Reading .....


__ADS_2