
Ini merupakan kali pertama Naz makan siang bersama dengan kedua orang tua dari pria yang sangat dicintainya. Setelah kedatangannya yang disambut dengan sangat baik, ia pun diperlakukan seperti anak sendiri seolah meniadakan jarak diantara mereka, bahkan Naz diajarkan memasak oleh calon Mami mertuanya. Hari ini adalah hari teristimewa bagi Rheanazwa, ternyata hukuman yang diberikan sang kekasih merupakan sebuah kejutan yang malah membuatnya bahagia, walaupun sama seperti saat ia menjalankan hukuman dari Bu Riyanti di sekolah yang berakhir dengan pingsan.
Brukkk ……. Akhirnya tubuh Naz terkulai lemas jatuh ke lantai saat ia masih menerima panggilan telepon dari seseorang.
“Naz…. !”, semua orang berteriak dan langsung menghampiri Naz yang sudah tergeletak tak sadarkan diri. Arfin dengan sigap langsung mengendong Naz dan membawanya ke ruang tengah, lalu membaringkannya di atas sofa.
“Bi,,, cepat ambilkan minyak kayu putih sama segelas air”, teriak Mami yang panik melihat Naz pingsan.
Arfin berjongkok tepat di samping kepala Naz lalu ia menggoyangkan pelan pipi Naz untuk menyadarkannya, “Naz,,, Naz,,, bangun”, namun Naz tak merespon sama sekali.
“Naz kenapa bisa sampai begini ? bukannya tadi baru saja makan?”, tanya Mami yang masih panik, “Cepat panggil dokter Al,,, Mami takut Naz kenapa- napa”, titah Mami pada anaknya.
“Mami,,, tenang, jangan panik gitu, kita coba sadarkan dengan minyak angin dulu, kalo tidak berhasil baru kita panggil dokter”, Nervan berkomentar karena melihat Arfin hanya diam saja menatap kekasihnya dan nampak begitu khawatir.
“Ini minyak kayu putih dan air minumnya, Nyonya”, Bi Darmi langsung menyodorkan kepada majikannya, dan Mami pun menerimanya. Beliau meneteskan minyak kayu putih ke jari tangannya lalu beliau berjongkok di sebelah Arfin, kemudian menempelkan jarinya ke hidung Naz agar ia menghisap aroma kayu putih itu.
“Emhhh,,,,”, Naz menggerakkan kepalanya dan perlahan mulai tersadar. Ia membuka matanya perlahan, ia tersenyum pada Arfin yang pertama kali ia lihat, tiba- tiba senyumnya memudar saat ia mengingat pembicaraan di telpon tadi. Naz langsung terisak lalu menangis,,”huhuhuhuhu”.
“Naz kamu kenapa,,? Apa ada yang sakit?”, Arfin yang kaget dan panik langsung melontarkan pertanyaan.
“Al, bantu dia bangun untuk duduk”, titah Mami, lalu Arfin pun memegang punggung Naz dan membantunya bangun sehingga Naz kini dalam posisi duduk, dan ia menurunkan kakinya ke lantai. “Ini minum dulu ya Naz”, Mami menyodorkan segelas air dan beliau membantu meminumkannya pada Naz.
Setelah itu Naz langsung memegang tangan Arfin yang duduk disebelah kanannya.,”Aa ayo antar aku ke rumah sakit sekarang,, ayok,,, hiks hiks”, ucap Naz merengek sambil menangis.
“Ke rumah sakit?? Memangnya ada apa kita ke rumah sakit? Kamu sakit?”, tanya Arfin yang merasa bingung melihat Naz yang terus menangis.
Naz menggelengkan kepalanya sambil terus terisak, ”Ayok kita ke rumah sakit sekarang, hiks hiks”.
“Naz.. tenangkan dirimu dulu, kami merasa bingung kenapa kamu tiba- tiba menangis begini dan meminta ke rumah sakit,, ada apa Naz?”, tanya Mami yang duduk di sebelah kiri Naz.
“Mama,,, Mama,,, mengalami kecelakaan dan Ayah bilang sekarang Mama lagi kritis di rumah sakit,,, huhuhuu,,, ", Naz menjelaskan penyebab ia menangis.
“Apa,,, Tante Rahmi kecelakaan?”, tanya Arfin terkejut.
Naz pun mengangguk, “Aa ayok cepetan antar aku ke rumah sakit”, Naz kembali merengek disela tangisannya.
“Yasudah ayok kita ke rumah sakit sekarang”, Arfin pun bangkit dan membantu Naz berdiri.
“Kalo begitu Mami ikut ya,,, kasihan Naz sedih kayak gini”, Ucap Mami yang tidak tega melihat Naz yang terus menangis, “Abang,,,, Maira,, maaf ya Mami tinggal dulu,,”, ucapnya pada Nervan yang baru datang beberapa saat lalu.
Arfin dan Naz pun beranjak untuk keluar rumah, sedangkan Mami pergi ke kamarnya untuk mengambil tas, dan saat sampai ruang tengah, Bi Darmi menyerahkan tas dan ponsel Naz yang tadinya sempat tergeletak di lantai tempat Naz pingsan. Kemudian Mami pun bergegas menyusul Arfin dan Naz yang ternyata sudah masuk ke dalam mobil, dan setelah ketiganya berada dalam mobil, Arfin pun melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang sebelumnya sudah diberitahukan Naz.
Sepanjang perjalanan Naz terus menangis sambil terus memanggil- manggil Mama, dan Mami pun memeluknya sambil mengusap- usap kepalanya untuk menenangkannya, karena mereka berdua duduk dibelakang sesuai intruksi Mami saat baru masuk ke dalam mobil.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa saat, mereka pun tiba di rumah sakit. Naz dan Mami turun lebih dulu dan langsung bergegas ke ruang UGD, sedangkan Arfin pergi ke parkiran untum memarkirkan mobilnya.
Setibanya di depan pintu UGD, di sana ada Pak Syarief sedang menunggu seorang diri.
“Papa,,,, “, sapa Naz yang baru saja menghampiri dan langsung memeluk Papa nya.
“Sayang,, kamu kok ada di sini?”, tanyanya terkejut lalu menoleh ke arah Mami, “Hinda, kamu juga bisa ada di sini?".
Naz lalu melepas pelukannya, “Tadi pas aku lagi di rumah Kak Arfin, Ayah ngabarin aku…. katanya Mama kecelakaan,,,, sekarang Mama gimana keadaanya, Pa?”, Tanya Naz yang masih terisak.
“Masih ditangani, tapi dia belum sadar, dan tadi dokter bilang Rahmi kehilangan banyak darah jadi butuh tranfusi darah, sedangkan di rumah sakit ini stok golongan darah yang sama dengan Rahmi sedang kosong. Rizal pun masih menghubungi beberapa rumah sakit dan PMI untuk menanyakan ketersediaannya, karena belum juga mendapatkan. Papa tidak bisa mendonorkan darah karena golongan darah Papa O+ sedangkan Rahmi B rhesus negative. Dan yang memiliki golongan darah yang sama hanya Raka dan Raline… ”, ucapnya menjelaskan lalu menghela nafas sejenak, “Raka sedang dalam perjalanan dari Karawang, sedangkan Raline,,, dia menolak untuk mendonor, katanya takut lihat darah dan takut disuntik, makanya sekarang Hardi sedang membujuknya untuk dibawa kemari”, Ucapnya sedih karena anak kesayangan istrinya itu malah menolak menyelamatkan ibunya sendiri.
“Pa,,, aku akan mendonorkan darah ku buat Mama”, Naz langsung mengajukan diri.
“Naz,,, kamu kan lagi datang bulan, jadi tidak boleh donor darah, karena itu akan membahayakan kesehatan mu”, ucap Mami mengingatkan.
“Memangnya golongan darahmu apa, sayang?”, Tanya Pak Syarief.
“B Rhesus negative, Pa,,, sama kayak Mama”, jawab Naz terisak.
“Apa…. ?? “, Pak Syarief sangat terkejut mendengarnya, “Bagaimana mungkin Naz,,, kamu pasti keliru”, ucapnya tidak percaya.
“Iya Pa, beneran golongan darah aku itu,,, karena pernah melakukan pengecekan golongan darah saat aku sakit terkena hipotermia beberapa bulan lalu”, Jawab Naz yang masih terisak, sedangkan Papa nya hanya diam mematung seperti sedang syok.
“Dimana ruang instalasi bank darah nya, Pa,,,?? Aku mau kesana sekarang”, Naz menmegang tangan Papa nya dan menggoyang- goyangkannya layaknya seorang anak yang sedang merengek minta sesuatu pada Papa nya, sedangkan beliau masih diam mematung seolah melamunkan entah memikirkan sesuatu. “Papa,,,”, sentak Naz, barulah beliau tersadar dari lamunannya. “Dimana ruang instalasi bank darah nya?”, Naz bertanya kembali.
“Om bagaimana keadaan Tante Rahmi?”, tanya Arfin yang baru tiba setelah meemarkirkan mobilnya.
“Masih dalam penanganan Al,,,”, jawabnya.
“Al,,, Naz mau mendonorkan darahnya, sedangkan dia sedang dalam keadaan menstruasi,, itu akan berdampak buruk pada kesehatannya”, Mami mengadu.
__ADS_1
“Aku gak peduli,,, sekarang Mama sangat membutuhkannya,,, pokonya aku mau donor sekarang”, ucap Naz yang kemudian beranjak pergi untuk mencari tahu sendiri keberadaan ruang instalasi bank darah.
“Naz,,, tunggu,,,”, Arfin mengejar Naz yang berjalan dengan cepat sambil menangis dan sesekali menghapus air matanya, dan setelah dekat Arfin langsung menarik tangan Naz. “Sayang,, kamu jangan lakukan ini,, nanti kamu bisa sakit”, ucapnya melarang.
“Tapi Mama butuh tranfusi sekarang juga,,, aku gak mau kalau sampai terjadi sesuatu sama Mama,,, jangan cegah aku A”, Naz tetap kekeh.
“Enggak,,, aku akan menghubungi, PMI dan rumah sakit lain untuk mendapatkannya”, Arfin mencoba cara lain.
“Percuma,,, sejak tadi Ayah sudah melakukan itu, tapi belum juga mendapatkan hasilnya,,, pokoknya aku tetap akan mendnorkan darahku, titik”, Naz melepaskan genggaman tangan Arfin dari tagannya, dan ia bertanya kepada perawat yang berpapasan dengannya mengenai tempat tujuannya, lalu ia pun kembali berjalan menuju tempat yang sudah ditunjukan oleh perawat tadi dan Arfin pun terus mengikutinya.
Saat sampai di depan pintu yang bertuliskan instlasi bank darah, Naz pun hendak masuk dan saat memegang pegangan pintu, Arfin pun kembali menarik tangannya. “Sayang, aku mohon jangan lakukan ini,,, bukannya kamu juga takut sama jarum suntik ?,, dan lagi selama ini Tante Rahmi selalu bersikap tidak baik sama kamu,, udahlah kita cari saja pendonor lain,, biasanya para perawat juga suka ada yang mendonor,,, ayolah sayang, jangan lakukan ini,, aku tidak mau terjadi sesuatu sama kamu”, Arfin terus membujuk.
“Lepas,,,, bukannya Aa sendiri yang mengajarkanku jika ada yang menyakitiku balaslah dengan kebaikan,, iya kan,,, dan sekarang jangan cegah aku lagi,,, aku sudah memutuskan akan mendonor tittik” ucapnya dengan nada tegas, “Dan ingat, jangan beritahukan petugas kalau aku sedang menstruasi”, Naz memperingatkan, lalu ia masuk ke dalam ruangan itu.
***
Sementara di luar pintu UGD Pak Rizal datang menghampiri Pak Syarief dan menyapa Bu Hinda juga,,, beliau mengabarkan bahwa ia masih belum mendapatkan darah yang dibutuhkan dari beberapa rumah sakit dan PMI yang ia hubungi, “Hasilnya masih nihil Mas,,, “, ucapnya dengan raut wajah kecewa.
“Naz tadi datang dan dia bilang akan mendonorkan darahnya”, Pak Syarief memberitahukan.
“Apa ? Naz kan sedang menstruasi, tidak disarankan untuk mendonor ”, Tanya Pak Rizal kaget.
“Dia tetap kekeh,,, karena itu kita perlu membicarakannya Zal,,, bisa kah kita ke ruang kerja mu sebentar”, pinta Pak Syarief dengan nada serius
“Ayo,, kebetulan sedang tidak ada praktek, karena hari ini hari libur,,,kami permisi dulu Hinda”, ucapnya pamit, dan kedua kakak beradik itu pun beranjak pergi meninggalkan ruang UGD menuju ruang prakteknya Pak Rizal.
Bu Hinda yang merasa khawatir pada Naz pun beranjak pergi dan menghubungi Arfin menanyakan keberadaan Arfin dan Naz. Setelah beliau sampai, langsung menghampiri Arfin yang berada di luar pintu instalasi bank darah tersebut.
“Al… Naz mana?”, Mami langsung bertanya.
“Dia sudah masuk dan mendaftar, sekarang sedang menunggu untuk diperiksa dan diambil sample darahnya", jawab Arfin kecewa.
“Kenapa kamu gak mencegahnya, Al?”, Mami seolah menyalahkan Arfin.
“Aku sudah berusaha mencegahnya, tapi dia tetap keras kepala, Mi”, jawab Arfin.
Mami mendengus kesal, “Yasudah ayok kita masuk menemaninya”, ajaknya, lalu mereka pun masuk ke dalam, dan berbarengan dengan datangnya petugas yang akan menambil sample darah Naz.
Naz yang sedang duduk di sebuah ruangan dan sudah berhenti menangis berusaha untuk tenang, setelah melakukan serangkaian pemerikasan diantaanya penimbangan berat badan, pengukuran suhu tubuh, ditensi darah dan pemeriksaan denyut nadi. Dan kini saatnya pengambilan sample darah untuk diperiksa kadar hemoglobin yang ada dalam tubuh Naz.
Sekarang Naz terlihat takut saat melihat jarum suntik yang dibawa oleh petugas yang menghampirinya, padahal suntikannya masih terbungkus segel. Arfin langsung masuk dan menghampiri Naz, lalu berdiri disamping Naz yang sedang duduk. Arfin menyentuh tangan kiri Naz yang mengeratkan pegangannya pada pinggiran kursi, lalu Arfin mengelu- elus punggung tangan Naz untuk menenangkan Naz yang nampak tegang yang terus memangdangi tangan kirinya.
Saat jarum suntik akan segera ditusukan ke kulit lengannya, Naz lansung memalingkan wajah menghadap ke Arfin seolah ingin mengatakan kalau dia takut, dengan sigap Arfin pun langsung memeluk Naz dan mengusap- usap kepalanya, “Jangan takut,,, itu hanya serasa digigit semut,,, tangannya dilemaskan jangan tegang ya,, supaya nanti bekasnya gak sakit”, ucap Arfin menenangkan Naz yang sedang terisak di perutnya karena ia memeluk Naz sambil berdiri.
“Sudah selesai Mba, harap menunggu sebentar nanti kalau hasilnya sudah keluar, kami akan panggil kembali,”, ucap petugas itu.
“Kok darah yang diambil cukup banyak ya sampai satu tabung suntikan gitu? Bukannya biasanya sedikit dan hanya ditusukkan jarum ke salah satu jari saja supaya mengeluarkan darahnya?”, tanya Arfin yang baru menyadari.
Petugas itu nampak terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Arfin, “Emm,,, Maaf memang begini prosedurnya,,, silahkan Mbak dan Mas bisa menunggu di luar”, ucapnya seolah mengusir.
“Sudah selesai Naz, apa kau akan terus memelukku? Malu itu dilihat orang?”, Arfin malah menggoda Naz dan ia pun melepaskan pelukannya lalu menghapus jejak air matanya.
“Ayok kita keluar”, Ajaknya, dan ia pun menuntun Naz untuk keluar dari ruangan itu dan menunggu di ruang tunggu. Mereka pun duduk bersama dengan Mami yang sejak tadi menunggu disana.
“Naz,,, kamu yakin mau donor darah ?, tadi aja baru melihat jarum sekecil itu kamu udah ketakutan banget sampai nangis dan berkeringat,, apalagi nanti yang akan digunakan untuk donor jarumnya lebih besar”, Arfin masih membujuk.
“Aa kok malah nakut- nakutin sih… aku berani kok.. aku gak takut”, Naz masih tetap kekeh.
“Iya Naz,,niatmu sangat baik,,, tapi kalau sampai membahayakan kamu bagaimana?", Mami yang mengkhawatirkan Naz pun ikut membujuk.
“Gak apa- apa Mi,,, lagian kan tadi aku udah makan banyak, hehe", ucapnya meyakinkan Mami.
Arfin membuang nafas kasar, “Aa cuman takut terjadi sesuatu sama kamu Naz,,”, ucap Arfin khawatir.
“Tapi Mama sangat membutuhkannya A,, Raline gak mau donor sedangkan Mas Raka masih di perjalanan,, aku gak bisa membiarkan sesuatu yang buruk menimpa Mama dengan kondisnya yang seperti sekarang ini,,, aku sayang sama Mama,,, “, ucapnya yang kembali terisak.
"Yasudah kalau itu yang kamu mau, sudah jangan menangis lagi, kamu harus tenang,, dan nanti sehabis donor kamu harus makan banyak sama minum vitamin juga istirahat ya", Arfin akhirnya menyerah dan menerima keputusan Naz.
Tak lama Naz pun dipanggil kembali untuk melakukan proses donor darah, karena hasil pemeriksaannya bagus, begitu pula dengan kadar Hb nya yang memenuhi syarat untuk mendonorkan darah. Naz dibawa ke ruangan khusus yang dilengkapi dengan kursi khusus pula dan ia pun dipersilhkan duduk disana. Arfin meminta agar dirinya diizinkan masuk, karena Naz akan ketakutan saat disuntikan jarum. Awalnya petugas menolak, karena hanya petugas dan pendonor saja yang boleh masuk, namun Arfin memaksa dan mengancam akan mnegobrak- abrik serta menghancurkan ruangan tersebut jika tetap dilarang, akhirnya dengan terpaksa Arfin pun diizinkan masuk dan kebetulan yang mau donor darah baru Naz seorang saja.
Arfin menghampiri Naz yang sudah duduk dan ia berdiri di samping kiri Naz. Dan untungah Arfin masuk, benar saja saat dimasukan jarum Naz menjerit kesakitan lalu menangis dan Arfin pun terus menenangkannya, ”Sakit banget A,,, jarumnya gede banget,,,, amit- amit,,, amit- amit aku gak mau donor darah lagi”, keluhnya sambil terisak, dan kini darahnya pun sudah mengalir lewat selang menuju kantung darah khusus.
“Kan Aa juga udah bilang kalo jarumnya gede dan lebih sakit,,, dikiranya nakut- nakutin doang ya”, ucap Arfin terkekeh, “Cuman pas dimasukin jarum aja kok sakitnya, paling kesini nya ada rasa pegal aja”, tambahnya lagi.
“Aa kok bisa masuk,, bukannya cuma pendonor sama petugas aja yang boleh masuk?”, tanya Naz heran.
__ADS_1
“Bisalah,,, urusan gampang itu mah?”, Arfin menjawab dengan entengnya.
“Pasti maksa ya? pakai ngancem lagi? atau menghajar petugasnya ?”, tanya Naz yang masih terisak dengan tatapan selidik dan Arfin hanya terkekeh mengetahui kalau gadisnya itu sudah mengenal tabiatnya.”Dasar kriminal”, cicit Na dengan suara hidung mampet sambil mendelik.
“Kan demi jadi pacar siaga “, ucap Arfin terkekeh sedangkan Naz hanya manyun saja tanpa berkomentar.
Setelah 10 menit Naz duduk santai dengan Arfin yang setia menemani, walaupun dengan posisi terus berdiri karena sepertinya petugas merasa kesal padanya, sehingga tidak memberinya kursi padahal disana ada beberapa kursi yang tidak digunakan, akhirnya kantung darah pun sudah penuh. Kemudian petugas melepaskan jarum dari tangan Naz dan tentunya dengan drama yang sama.
Setelah itu Naz diberi sebuah bingkisan makanan yang isinya susu kemasan kotak, minuman bulir jeruk kemasan botol, biskuit gandum, dan wafer coklat. Naz turun dari kursi dibantu oleh Arfin dan kemudian mereka pun beranjak untuk keluar ruangan tersebut.
Arfin mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Mami yang ternyata sudah tidak ada di ruang tunggu itu.
“Duduk dulu ya,, kamu terlihat lemas”, ucap Arfin yang memperhatikan keadaan Naz, “Sebaiknya kamu makan cemilan ini dulu ya biar gak lemas lagi dan minum susunya juga”, Arfin membuka bingkisan tersebut lalu memberikan biskuit yang sudah dibukanya pada Naz.
Naz makan beberapa biskuit lalu meminum susunya, dan kini ia sudah merasa bertenaga lagi, “Aa, aku mau ke toilet”, ucapnya.
“Emangnya udah gak lemas lagi?”, Tanya Arfin yang masih khawatir.
“Enggak kok aku udah kuat,,, ada sedikit pusing sih, tapi aku mau ganti, kayaknya ini udah penuh”, ucapnya menggerakan bokongnya karena merasa tidak Nyman.
“Yasudah, Aa gendong ya ke toiletnya”, Arfin benar- benar pacar siaga.
“Gak mau iiihhh,,, malu,, digandeng aja ya”, Naz menolak digendong.
“Baiklah, ayok,,, “, Arfin pun menggandeng Naz dan mereka keluar dari ruangan instalasi bank darah tersebut dan berjalan mencari keberadaan toilet.
Sesampainya di depan pintu toilet wanita, Naz melepaskan gandengannya, “Yakin kamu kuat ke toilet sendirian ? Apa mau Aa temani?”, tanya Arfin yang sangat mengkhawatirkan Naz.
“Kuat kok,,, yang bener aja Aa mau masuk toilet wanita,, yang ada entar pada digebukin,, hahaha,, aku masuk dulu ya Aa tunggu diluar saja”, ucap Naz lalu ia masuk ke dalam toilet tersebut.
Arfin menunggu Naz dengan mondar- mandir seperti menunggui istri yang sedang melahirkan, karena sudah sepuluh menit Naz tak kunjung keluar, yang ia lihat hanya orang lain yang keluar dari sana, dan ada yang masuk lagi kedalam. “Kok lama banget sih,,, semoga tidak terjadi apa- apa”, ucap Arfin yang harap- harap cemas. Lima menit kemudian Arfin yang tak kunjung melihat Naz keluar akhirnya ia memaksa untuk masuk karena merasa sangat khawatir.
Ceklek ,,, Arfin membuka pintu toilet bersamaan dengan Naz yang menarik pegangan pintu tersebut, ia kaget melihat Arfin yang hendak masuk, “Aa ngapain sih pakai nekat mau masuk segala,,, pengen digebukin sama ibu- ibu yang di dalam “, tanyanya sembari melangkah keluar.
“Abisnya kamu lama gak keluar- keluar,, Aa pikir kamu pingsan di dalam, makanya Aa nekat mau masuk ke dalam”, Afin menjelaskan, “Wajah kamu kok pucat banget sayang?”, tanyanya yang memperhatikan wajah kekasihnya itu.
“Tadi itu ngantri, jadinya agak lama,,,”, jawab Naz dengan nada lemas kemudian tubuhnya sempoyongan dan grepp,,, Arfin langsung menahan tubuh Naz yang terkulai lemas yang kemudian tak sadrkan diri. Arfin langsung menggendongnya dan membawanya ke UGD, yang ternyata disana sudah ada Bunda, Mami , Pak Syarief dan Pak Latief.
Mereka sangat terkejut melihat Naz yang digendong oleh Arfin, dan pada bertanya Naz kenapa,, Naz kenapa,,namun tak ada satu pun yang Arfin jawab dan ia langsung menerobos masuk tuang UGD.
“Suster,, suster,,, “, teriak Arfin dan seorang perawat menghampiri lalu mengarahkan Arfin menuju brankar kosong dibalik tirai untuk membaringakan Naz dan menyelimutinya, kemudian ia pun segera mendapatkan penanganan.
“Naz kenapa Ar?”, tanya Bunda menghampiri Arfin.
“Naz pingsan Bunda, tadi dia habis donor darah untuk Tante Rahmi”, Arfin menjelaskan.
“Apa? Naz kan sedang datang bulan,,, kenapa kamu mah malah enggak mencegahnya atuh Ar?”, Bunda ngegas.
“Aku sama Mami udah berusaha mencegah Naz, Bunda,,,, tapi dia tetap bersikeras untuk tetap mendonor”, ucap Arfin kembali menjelaskan, kemudian dokter keluar dari tirai tempat Naz dibaringkan tadi.
“Bagaimana kondisi Naz, Dok”, tanya Arfin.
“Pasien terkena anemia, dia butuh istirahat dan makan- makanan yang banyak mengandung zat besi, nanti perawat akan memberikan obat penambah darah untuknya karena pasien menolak untuk diinfus, saya permisi dulu”, ucapnya lalu pamit.
Arfin, Mami, dan Bunda langsung menghampiri Naz yang ternyata sudah sadarkan diri, “Dek,, kenapa atuh kamu teh maksa donor darah lagi mens oge ih”, Bunda langsung menggerutu.
“Mama sangat membutuhkannya, Bunda,,, tapi aku kapok gak mau donor darah lagi, jarumnya gede banget, sakit banget ”, ucap Naz yang masih terlihat lemas.
“Apa kata Mami juga,, kamu kan takut sama jarum suntik”, Mami pun berkomentar.
“Iya,, kamu mah ih,, udah gede juga masih aja takut sama jarum suntik,, gimana udah nikah nanti, bakalan sering disuntik sama jarum yang lebih gede”, ucap Bunda sambil terkekeh dan mengundang tawa Mami.
“Hah,,, ? udah nikah bakal sering disuntik?? Kalo gitu aku gak mau nikah,,, iiihhh”, ucap Naz bergidik, sontak itu membuat Mami dan Bunda tertawa, sedangkan Arfin hanya menggelengkan kepalanya dan memijat pelipisnya melihat tingkah duo emak- emak itu.
------------- TBC ------------------
*****************************
Aeh aeh si Bunda mah malah ditakut- takutin, nanti Naz beneran gak mau nikah gimana hayoo??
Happy Reading...🤩
Jangan luva tinggalkan jejak mu... 😉
__ADS_1
Like, Komen, Vote, Rate bintang 5.....
Terimakasih semua 😍😘