
“Aku mau kita putus,,,, “, ucap Naz dengan nada tegas, sontak itu membuat Arfin sangat terkejut dan senyumnya pun hilang seketika, ia hanya diam mematung seolah mendapatkan goncangan yang begitu dahsyat yang meluluh lantahkan hatinya.
Blam ,,,, Naz langsung menutup pintunya kembali. “Semua sudah berakhir,,, hiks hiks hiks,,, ini yang terbaik untuk kita,,, maafkan aku,,, maafkan aku… “, Lirih Naz pelan sambil memerosotkan tubuhnya hingga terduduk di lantai dengan menempelkan tubuh belakangnya ke pintu.
Sementara Arfin yang nampak masih syock dengan perkataan Naz masih berdiri diam mematung di depan pintu kamar Naz dengan deru nafas yang terdengar begitu berat, seolah kata- kata putus itu terngiang- ngiang di telinga nya, “Aku mau kita putus,,, aku mau kita putus,, aku mau kita putus”.
Dadanya terasa kebas seolah mati rasa, bibirnya terasa kaku seakan tak mampu mengeluarkan satu patah kata pun, kakinya terasa lemas seolah tak mampu lagi menopangnya untuk berdiri dan ia pun menjatuhkan dirinya hingga berlutut dengan tangan menahan ke pintu yang ada di depannya lalu menundukkan kepalanya, kemudian ia duduk dengan menyandarkan tubuh bagian belakangnya pada pintu sama seperti Naz, dan kini mereka tengah duduk saling membelakangi hanya terhalang oleh pintu sebagai pembatas.
Arfin berharap ini adalah mimpi dan bukan kenyataan yang sebenarnya, “Naz,,,, “, lirihnya pelan ,,, “Naz,,,, “,Arfin kembali memanggilnya, “Naz,,,, !!”, ia pun berteriak. “Naz buka pintunya Naz,,, “, bugh,,,bugh,,, Arfin menggedor pintunya dengan pelan menggunakan kepalan tangannya. “Naz ,sayang ,, buka pintunya,,, kamu bercanda kan,, kamu gak serius kan ngomong kayak gitu,,, buka pintunya sayang,,, “, Arfin berteriak dengan lemasnya.
Naz yang masih menangis terus menghapus air matanya yang berjatuhan, ia menghela nafas sejenak lalu menguatkan dirinya untuk bicara, “Aku serius dengan kata- kata ku,,, Ini yang terbaik buat kita,,, sebaiknya kamu pulang saja,,, “, ucap Naz dari balik pintu lalu membekap mulutnya dengan air mata yang kembali mengalir di pipinya karena ia tidak ingin Arfin mendengar suara tangisannya.
“Salah ku apa Naz,,,? kenapa kamu tiba- tiba minta putus seperti ini,,,? aku sangat mencintaimu, aku sangat menyayangi mu,,, tolong jangan seperti ini”, ucap Arfin sambil menyeka air matanya sebelum jatuh membasahi pipinya.
“Mereka jauh lebih membutuhkan mu dari pada aku,,, lebih baik kamu pulang dan lupakan aku….”,teriak Naz.
“Apa maksudmu Naz,,,,?? “, tanya Arfin heran.
“Pulanglah,, sebelum Ayah dan Bunda datang,,, mulai sekarang hubungan kita sudah berakhir,,, “, ucap Naz.
“Gak,,, enggak,,, aku gak mau putus sama kamu,,, aku gak bisa nerima ini,,, “, Arfin kemudian bangkit dari duduknya dan kembali mengetuk pintu hingga menggedor nya supaya Naz mau membuka pintunya, “Naz,, buka pintunya sayang,, aku mohon,, kita bisa bicarakan ini baik- baik,,, “.Arfin terus berusaha.
“Gak ada yang musti di bicarain lagi,, pergi,,,, pergi sana,,,”, ucap Naz lalu bangkit dari duduknya karena goncangan dari gedoran di pintu membuat punggungnya terasa sakit.
“Buka pintunya sayang,,, “, Arfin masih terus berusaha dan terus menggedor pintu.
“Jangan panggil sayang- sayang,, kita udah gak ada hubungan apa- apa,,, pergi sana tinggalkan aku sendiri”, Naz kembali berteriak.
“Enggak,, aku gak mau,,, kamu gak bisa mutusin secara sepihak,,, ayolah sayang buka pintunya,, kalo kamu gak buka juga, aku akan mendobraknya”.
“Bunda akan marah kalo kamu merusak pintu ini,,, sudah sana pergi,, aku tidak mau bertemu dengan mu lagi,, “, teriak Naz.
“Enggak,, sebelum aku bicara dengan mu aku gak akan pergi,,, “, Arfin tetap kekeh.
“Emangnya kamu pikir dari tadi kita lagi ngapain,,,,? Lagi goyang dombret hah..?? Dari tadi juga kita saling bicara”, Naz mulai hilang kesabarannya.
“Iya tapi gak saling teriak kayak gini ngobrolnya,,, aku benar- benar akan mendobrak pintu ini Naz”, Arfin lalu sedikit menjauh dari pintu lalu ia mulai mendobrak pintu dengan tubuhnya, gebruk,,, dobrakan pertama belum berhasil, “Aku gak main- main Naz,,, kalo kamu gak membuka pintunya aku pastikan pintu ini akan hancur”, ucapnya mengancam.
Naz yang tadinya sedih kini berubah menjadi kesal dengan kelakuan Arfin, saat Arfin kembali ancang- ancang untuk mendobrak pintu, akhirnya dengan terpaksa Naz membuka pintunya,,, ceklek,,,, “Ngapain sih main dobrak- dobrak segala, orang pintunya gak dikunci,,, “, ucap Naz kesal.
“Apa,,,?? Jadi dari tadi pintu itu gak dikunci?”, tanya Arfin kesal karena merasa dirinya sudah berbuat hal konyol.
“Iya”, jawab Naz singkat.
Arfin yang tadinya ancang- ancang hendak mendobrak pintu, ia langsung berjalan dengan cepat meski sedikit kesulitan dengan kaki pincangnya, ia langsung memeluk Naz dengan erat.
“Lepas,,, lepasin aku”, Naz berontak minta pelukannya dilepaskan.
“Enggak,, aku gak akan melepaskan kamu, sebelum kamu menarik kata- katamu”, ucap Arfin.
“Iiihh.. lepas,,, lepaskan aku,,, nanti Ayah sama Bunda lihat kita bisa dimarahi”, Naz terus berontak.
“Aku gak peduli,,, biar digerebeg sekalian juga aku gak peduli”, Arfin terus menahan berontakan Naz dan semakin erat memeluk Naz.
“Lepaskan aku,,, hiks hiks”, akhirnya Naz kembali menangis.
“Sayang,,,, aku sangat mencintaimu, aku sangat menyayangimu, aku gak mau putus sama kamu,,, aku ingin selalu bersama mu, Naz”, Arfin bicara dengan lembut sambil terisak, Naz yang mendengar kata- kata itu diam terpaku seolah terhipnotis bercampur rasa bersalah karena membuat Arfin sampai menangis.
“Maafkan aku,,, sesungguhnya ini juga sangat berat buatku, tapi ini yang terbaik untuk kita,,, dan mereka lebih membutuhkan mu dari pada aku,, kembalilah padanya,,, hiks hiks”, ucap Naz yang masih berada di pelukan Arfin, kemudian Arfin melepaskan pelukannya perlahan dan memegang kedua pundak Naz.
“Mereka?? Kembali padanya? Kembali pada siapa”, Arfin bertanya dengan perasaan heran dan bingung dengan apa yang dikatakan Naz padanya.
“Kembali sama mantan kamu”, jawab Naz sambil terisak dan menundukkan kepalanya karena tak berani menatap mata Arfin.
“Apa?? Mantan? “, Arfin semakin merasa heran.
“Naz,, seumur- umur aku gak pernah pacaran jadi aku gak punya mantan pacar,,, aku baru pertama kalinya pacaran yaitu sama kamu Naz”.
Naz melepaskan kedua tangan Arfin dari pundaknya dengan kasar, “Bohong,,, berhentilah berbohong padaku,,, teman teman SMA mu dulu mengetahuinya kan kalo kamu pernah pacaran saat masih SMA dulu?”, ucap Naz lalu ia membalikan bandan nya hingga membelakangi Arfin dan kini mereka berada di dalam kamar dengan pintu yang terbuka lebar.
Arfin melangkah dan menghampiri Naz sehingga mereka kembali berhadapan, “Kata siapa? Kamu dapat informasi dari mana? Gak mungkin kan kalo dari Dandy atau Hardi apalagi Bang Evan,, mereka tahu betul aku bagaimana saat SMA dulu”.
__ADS_1
“Ya kata temen SMA mu,, katanya kamu pernah pacaran dan sering mengantar jemput pacarmu dengan motor kesayanganmu saat masih sekolah, dan sekarang mantan pacarmu itu telah datang lagi kan ke kehidupan mu,, dia jauh lebih membutuhkan mu sekarang,, sebaiknya kamu kembali lagi sama dia dan bertanggung jawab menikahinya”,ucap Naz.
“Apa,, bertanggung jawab padanya? Menikahinya?,, kamu ngomong apa sih aku semakin bingung?”.
“Kamu gak usah pura- pura, aku udah tahu semuanya,, bahkan mantanmu itu sudah punya anak dari kamu kan ? hiks hiks hiks,,,”.
“Astagfirullah Naz,,, dulu aku memang anak bandel, suka tawuran dan bergaul dengan preman,, tapi aku gak sebejat itu sampai menghamili anak orang,,, apa aku selama ini pernah macam- macam sama kamu?”.ucap Arfin menyangkal, "Kamu dapat informasi gak jelas itu dari mana sih?”, tanyanya lagi.
“Awalnya aku tahu dari temanku yang suka melihatmu membonceng mantan mu dulu, lalu dari teman seangkatan mu mengatakan hal yang sama, bahkan setelah kamu mengalami kecelakaan dia juga merawat mu kan,,, dan satu hal lagi,, aku sudah bertemu dengan mantan mu itu dan anaknya yang juga anak kamu kan”, ucap Naz panjang lebar .
“Ya Ampuun,,, mantan terus yang dibahas dari tadi,,,, Siapa mantanku yang kamu maksud itu?”, Arfin merasa frustasi.
“Kak Maira keponakannya Bude Hafsah”, jawab Naz.
“Apa,,, maksudmu Maira,,, Humaira ?”, tanya Arfin kaget.
“Iya,,, Kak Maira,,,siapa lagi,,, lebih baik kamu kembali padanya dan bertanggung jawab menikahinya,, kasihan Syanala,, dia gak pernah tahu siapa ayahnya, dia juga lebih membutuhkan mu”, titah Naz.
“Naz,, sayangku,,, aku ini belum hilang akal dan masih waras,,, kalau kamu menyuruhku menikahi Maira, kamu lebih gak waras lagi”, ucap Arfin.
“Maksudnya apa ? aku ini masih waras sewaras warasnya, makanya aku minta kamu tanggung jawab menikahi Kak Maira”,ucap Naz kesal.
“Mana mungkin aku menikahi Kakak Ipar ku sendiri yang jelas suaminya masih hidup sehat wal’afiat,,, Kalo bukan gak waras apa coba namanya…... gila???”, tanya Arfin.
“Hah,,, maksudnya,,? Kakak ipar?”, Naz kini yang terkejut.
“Iya,, Humaira itu istrinya Abangku, Arsyad Nervan Akbarsyah,,,, yang selama tiga tahun lebih ini menghilang entah kemana”, Arfin menjelaskan.
“Cukup,,, berhenti membohongiku,,, kamu pikir aku gak tahu,,, Ayah pernah bilang istrinya Bang Evan itu namanya Salma,,, dan kamu juga pernah bilang begitu sama aku”, ucap Naz kesal lalu membalikan lagi badannya.
“Aku gak bohong,,, Humaira itu istrinya Bang Evan,,, nama lengkapnya itu Humaira Asalma Pratiwi,, dan Bang Evan sering memanggilnya Salma, karena ingin beda dari panggilan orang lain padanya,, bisa dibilang itu panggilan sayang mungkin”,Arfin terus menjelaskan.
“Terus kalo dia pacarnya Bang Evan kenapa kamu yang suka antar jemput dia ke sekolah? Aku yakin kamu saat itu tidak berprofesi sebagai tukang ojek”, tanya Naz.
“Itu yang antar jemput juga Bang Evan tapi menggunakan motorku,,, yang benar aja tampang ganteng begini jadi tukang ojek,,, udah disebut tukang cilok sekarang dikatain tukang ojek lagi”, Arfin jadi membahas tukang cilok.
“Jadi,, benar kak Maira itu adalah Salma istrinya Bang Evan,,,,?? Berarti Nala anaknya Bang Evan juga”, tanya Naz.
“Iya,,,,”, Jawab Arfin dengan singkat.
“Aku minta maaf sayang,,, aku gak berniat bohongin kamu,,, waktu aku ngajak jalan aku akan memberitahu mu segalanya, tapi Mami meminta ku mengantarnya ke Depok,, lalu saat kita ke kafe aku juga ingin mengatakannya padamu, tapi aku mendapat telepon kalau Nala sakit dan terus mengigau memanggil namaku, jadi terpaksa aku meninggalkan mu waktu itu,, dan aku benar- benar minta maaf untuk itu”.
“Kalo begitu sekarang ceritakan semuanya padaku”, titah Naz.
“Baiklah,, aku akan menceritakannya,, tapi sebaiknya kita sambil duduk, kaki ku pegal ini kalo terus berdiri seperti ini”.
Kemudian Naz dan Arfin duduk bersebelahan di lantai samping ranjang Naz sehingga mereka bisa bersandar pada pinggiran tempat tidur Naz, karena tidak mungkin mereka duduk di atas ranjang, bisa- bisa terjadi yang iya iya.
“Waktu aku menjemputmu ke panti, aku sangat terkejut melihat ada Maira sedang berdiri di depan pintu, aku terus memandangnya karena merasa tidak percaya dia benar- benar sudah kembali setelah menghilang selama tiga tahun lebih,,, karena aku merasa penasaran, ku putuskan untuk kembali ke panti,, dan maaf saat itu aku terpaksa berbohong padamu, karena aku belum berani bilang apa- apa sebelum aku memastikannya sendiri,,, di perjalanan aku membeli 10 lusin D.Donut untuk anak- anak panti dan setelah shalat magrib di masjid dekat panti aku langsung kembali ke panti”.
Flashback
Tok tok tok,,,, ku ketuk pintu rumah panti sambil mengucapkan salam, lalu setelah beberapa saat ada yang membuka pintu sambil menjawab salamku dan ternyata itu adalah Mina.
“Ehh,, Arfin,,, tumben ke sini malam- malam,,,?” tanyanya.
“Tadi saat di perjalanan aku membeli sedikit makanan untuk anak- anak”, ucap ku dengan menyodorkan tiga kantong kresek berisi donut di dalam dus nya.
“Wah banyak sekali,,,, alhamdulillah, pasti anak- anak senang, terimakasih ya, silahkan masuk”, ucapnya lalu menerima bungkusan yang ku bawa tadi. ”Silahkan duduk,, saya ambilkan minum dulu ya sekalian memberikan ini pada anak- anak”, ucapnya lalu pergi ke belakang.
Tiba- tiba terdengar suara pintu kamar terbuka dan munculah seseorang keluar dari dalam kamar tersebut yang berjalan dengan menggunakan alat bantu tongkat, aku langsung terkejut melihatnya, “Humaira,,,”, ucapku memanggilnya.
“Siapa itu?”, tanya nya kaget.
Aku menghampirinya dengan rasa terkejut yang luar biasa, “Humaira,, ini benar- benar kamu?”
“A a a Arfin,,,, kamu Arfin?”, tanya nya terkejut.
“Iya,, aku Arfin,,, adiknya Nervan”, jawabku dan ia terlihat sangat terkejut dan ketakutan.
“Humaira,,, jadi selama ini kamu menghilang dan menjauh dari Bang Evan karena kamu tidak bisa melihat?? Apa ini karena kecelakaan itu?”, tanyaku penasaran dan Maira malah menangis sambil membekap mulutnya.”Maira,,, kau berhutang penjelasan padaku”, ucapku dan ia malah semakin menangis, “Ayok kita duduk dan jelaskan semuanya padaku?”, ucapku terus memaksa dan ia pun bersedia untuk ku ajak berjalan ke ruang tamu sambil yang ternyata dia sudah hafal, kami pun duduk di kursi yang berbeda.”Kemana kamu selama ini menghilang? Kenapa kamu meninggalkan Bang Evan begitu saja?”, Aku terus melontarkan pertanyaan.
__ADS_1
Maira mulai berhenti menangis dan menenangkan dirinya sendiri,” Setelah kecelakaan itu, selain mengalami cedera aku juga kehilangan penglihatan ku dan suster bilang kalau Nervan mengalami koma pasca operasi, saat itu aku merasa sangat bersalah dan tidak berguna,, hiks hiks,,, kemudian kakek mu datang menemui ku dan memintaku meninggalkan Nervan karena aku buta yang nantinya hanya akan menyusahkan Nervan saja,,, hiks hiks,,, dan beliau juga bilang kalo Nervan bertahan hidup hanya karena alat bantu medis saja,,, jika aku tidak meninggalkannya maka semua alat- alat itu akan dilepas, aku tidak mau kalau sampai Nervan meninggal,, aku ingin dia tetap hidup walaupun aku tidak bisa bersamanya,, makanya aku mengikuti keinginan kakek mu,, hiks hiks”, ucapnya menjelaskan sambil menangis.
“Kakek,,, jadi semua ini karena ulah Kakek?”, tanyaku terkejut.
“Iya,,, dan saat itu juga aku dipindahkan ke rumah sakit lain agar kalian tidak bisa menemukan ku,, dan setelah cedera ku pulih aku dan Ibu pergi ke Jogja ke tempat tinggal orang tua ibu dan kami tinggal di sana”.
“Lalu bagaimana dengan video yang kau kirim itu?” tanyaku lagi.
“Itu juga Kakek mu yang meminta ku membuat pengakuan kalau aku meminta cerai karena sudah memiliki lelaki lain yang selama ini aku cintai dan merupakan teman kuliahku, seolah aku berselingkuh dari Nervan selama dia kuliah di Amerika,,,hiks hiks hiks,,, “.
“Apa,,,,? bagaimana Kakek bisa sekejam itu?? dan kamu tahu Maira,, setelah kamu meninggalkannya saat terbangun dari koma, Bang Evan seperti orang gila terus menanyakan mu dan setelah benar- benar sembuh ia terus mencari mu ke semua tempat yang pernah kalian kunjungi, bahkan sampai di Aceh berhari- hari hanya untuk mencari keberadaan mu, sampai ia mendapat kiriman video itu ia hampir depresi dan sikapnya berubah drastis, ia tidak percaya lagi dengan namanya cinta dan kerjanya hanya mempermainkan wanita, seolah dia membalas sakit hatinya pada wanita lain”, ucapku memberi tahu keadaan Nervan saat itu dan Maira semakin menangis mendengarnya.
“Mama…. Mama….”, tiba- tiba datang seorang anak kecil menghampiri Maira, sepertinya dia baru bangun tidur, Maira pun langsung menghapus air matanya dengan kedua telapak tangannya dan ia pun berhenti menangis.
“Nala,,, kamu kok sudah bangun?”, tanya nya sambil memegang tangan anak itu yang menarik bajunya.”Sini Mama gendong”, ucapnya lalu Nala pun naik ke kursi lalu duduk pangkuan Maira.
“Nala mau bobo syama mama”, ucap anak itu.
“Mama,,,,? Kamu sudah punya anak? Apa kamu sudah menikah lagi? Bukankah kamu belum resmi bercerai dengan Bang Evan?”, tanyaku dengan keterkejutanku.
Maira menghela nafas sejenak, “Setelah tiga minggu aku meninggalkan Nervan, aku merasakan mual muntah dan tak masuk makanan apa pun, sehingga aku diperiksa ke dokter dan ternyata aku sedang hamil,,, “, Maira kembali terisak.
Aku semakin terkejut mendengarnya,“Jadi anak itu,,,, anaknya Bang Evan?”, tanyaku dan Maira pun mengangukinya.
“Mama,,, olang itu ciapa?”, tanya anak itu.
“Itu namanya Om Arfin”,jawab Maira.
“Om Apin itu temennya upin ipin betul betul betul?”, anak itu malah menyamakan namaku dengan tokoh kartun duo tuyul.
“Bukan sayang,,, Om Arfin itu kenalan mama sama kayak Om Doni”, jawabnya terkekeh.
“Hai anak manis,,,nama kamu siapa?”, tanyaku coba mendekatinya namun ia nampak malu- malu dan bersembunyi di pelukan Maira.
“Jawab dong nak,, namanya siapa katanya…”, ia malah menggelengkan kepalanya dan masih bersembunyi, “Namanya Syanala biasa dipanggil Nala”, Maira memperkenalkan anaknya.
“Apa dia tahu siapa soal Bang Evan itu ayah nya?”, tanya ku.
Maira menggelengkan kepalanya,” Aku belum memberi tahunya, karena aku bingung jika dia menanyakan keberadaan ayahnya”,ucapnya sambil mengelus- elus kepala anaknya.
Hatiku merasa teriris mengetahui anak sekecil itu tidak tahu siapa ayahnya dan tidak mendapatkan kasih sayang seorang ayah sejak ia lahir bahkan sejak dalam kandungan ibunya, dan pasti ini sangat berat bagi Maira, dia hamil, melahirkan sampai membesarkan anaknya dengan keterbatasannya.
Aku pun mulai mendekati anak yang bernama Nala yang ternyata adalah keponakanku itu dan lambat laun ia mau bicara dan bermain denganku. Ternyata dia sangat aktif dan ceria, dan dia memanggilku dengan sebutan seperti tokoh kartun yang suka ditontonnya, Om Apin Ipin, terdengar aneh memang, tapi tak apalah yang penting Nala senang.
Keesokan harinya pagi- pagi sekali aku datang ke panti dengan membawakan boneka dan beberapa mainan untuknya, ternyata dia merengek meminta ku menemaninya bermain, padahal tadinya aku ingin mengantarkan Naz ke sekolah, namun malah tertahan disana, akhirnya siangnya aku mengajaknya main ke playgroun di salah satu mall dan kami bermain sampai sore.
Flashback off
“Begitulah ceritanya Naz,,, “, ucap Arfin.
“Terus kenapa waktu hari minggu kamu bilang mau ke Depok malah ada di panti saat aku kesana dan Nala memangilmu Papa”, tanya Naz.
“Minggu pagi aku berangkat mengantar Mami ke Depok, dan ternyata Mami tidak lama, sehingga jam 10 pagi kami sudah kembali. Saat aku bilang Bude sakit, Mami mengajak ku menjenguknya ke rumah sakit, dan disana kami bertemu dengan Ibunya Maira yang menjaga Bude selama di rumah sakit. Mami sangat terkejut dan senang akhirnya bisa bertemu dengan beliau, dan akhirnya beliau menceritakan tentang Maira dan Nala pada Mami. Karena saat itu Bude sudah diperbolehkan pulang, kami mengantarkannya pulang sekalian ke panti menemui Maira dan Nala. Mami berbicara dengan Maira sedangkan aku mengajak Nala bermain, dan anehnya setelah Mina mengatakan kalau aku ini temannya Maira, Nala jadi memanggil ku Papa. Tapi setelah itu aku menjelaskan padanya kalau aku bukan Papa nya tapi Om nya, dan dia kembali memanggilku Om Apin Ipin”, Arfin menjelaskan panjang lebar.
“Jadi begitu ceritanya,, maafin aku ya sudah menyangka yang tidak- tidak”, ucap Naz menunduk menyesali perbuatannya.
“Sayang,,, jika kamu mendengar apa pun tentangku dari orang lain, kamu langsung konfirmasi ke aku,, karena yang namanya kata orang itu bisa saja A jadi B,, atau B jadi C, bisa dikurangi atau dilebih- lebihkan,, dan terkadang apa yang kamu lihat dan kamu dengar itu belum tentu kenyataan yang sebenarnya,, hampir saja hubungan kita hancur cuman gara- gara kesalah pahaman kayak gini”, ucapnya memegang dagu Naz dan menaikan kembali wajahnya yang tertunduk, “Dengar sayang,, di hatiku cuman ada kamu dan itu sudah digembok paten, aku cuman sayang dan cinta sama kamu,, gak ada tempat untuk wanita lain selain Mami ku”, ucapnya terkekeh.
“Maafin aku,,,, aku juga sayang banget sama kamu,, aku takut banget kehilangan kamu,,, selama dua minggu ini terasa sangat berat bagiku yang terus berusaha menghindari dan menjauhimu,, maafin aku,,, maafin aku,,, hiks hiks…”, ucap Naz menyesali dan mebali menangis.
“Ehh,,,sssstttt udah jangan nangis lagi ya,,, aku juga minta maaf tidak langsung menjelaskan semua ini padamu sampai kamu bisa salah paham seperti ini”, Arfin menghapus air mata Naz dengan menyisirkan kedua jempolnya di pipi Naz kemudian ia memeluknya dan mereka saling berpelukan, “Berarti kita gak jadi putus kan?”, tanya Arfin yang masih memeluk kekasihnya itu.
“Enggak,,, aku tarik lagi kata- kata ku,,kalau aku gak mau putus sama kamu,, dan kita jadian lagi”, ucap Naz dengan nada manja.
“Hahahaa,,, iya iya kita jadian lagi,,,”, ucap Arfin terkekeh.
“Astagfirullahaladziim,,,, kalian ngapain berdua- duaan di kamar sambil berpelukan seperti itu !!??", tiba- tiba terdengar teriakan seseorang yang baru saja masuk melewati pintu yang sejak tadi terbuka, sontak Arfin dan Naz langsung melepaskan pelukan mereka satu sama lain karena terkejut.
---------- TBC -----------
*************************
__ADS_1
Happy Reading....🤩
Jangan lupa tinggalkan jejak mu.... like,komen, vote...😘