Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Istri Yang Menggemaskan


__ADS_3

Setelah melewati malam pertama, malam kedua, dan malam ketiga gagal maning, akhirnya saat yang ditunggu- tunggu pasangan pengantin baru, Naz dan Arfin pun tiba. Walaupun tidak terjadi di malam hari, siang hari bolong pun jadi, kapan pun dimanapun setelah halal mah sakarepnya saja, asal jangan di tempat umum, apalagi di semak belukar yasalam,,, bisa- bisa jadi viral.


Arfin sejak dari Jakarta sampai di Surabaya terus mendiamkan Naz karena masih merasa kesal dengan kepolosan Naz yang menunjukan bekas tanda kepemilikan di lehernya pada semua orang yang ada di rumah orang tua nya, sehingga ia menjadi bahan tertawaan keluarganya. Naz yang sudah membujuknya masih tidak mempan, bukan Rheanazwa namanya kalau gak punya akal bulus untuk menghadapi suaminya yang tengah pundung itu. Ia mendekati suaminya yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponsel, entah sedang membaca pesan melihat- lihat layar ponselnya atau hanya alasannya saja untuk menghindari Naz.


Grep,,, Naz memeluk suaminya lalu memainkan jemarinya di dada bidang suaminya itu.


“Sayang”, ucapnya dengan nada menggoda sambil bergelayut manja memeluk suaminya.


“Hmmm,,,,”, Arfin masih saja mengacuhkannya, tapi setidaknya dia masih bisa mengeluarkan suara.


“Aku sudah selesai menstruasi”, ucapnya yang masih memainkan jemarinya.


Arfin terkesiap mendengar perkataan istrinya, matanya membulat sempurna, ia langsung berdiri lalu merengkuhkan tubuhnya kemudian mengendong Naz dan membawanya ke tempat tidur. Setelah Naz dibaringkan dengan perlahan, ia pun memulai aksinya mulai dari mengecup kening istrinya hingga menjalar kemana- mana, sedangkan Naz hanya pasrah saja dengan apa yang dilakukan oleh suaminya, seperti kata Mama nya ‘kamu pasrah dan nikmati saja biar kan suamimu yang bekerja’.


Baru saja setengah jalan bahkan masih dalam rangka pemanasan, keduanya sudah terbakar gairah yang membara, dengan tiba- tiba Arfin menghentikan kegiatannya. Naz yang sadari tadi memejamkan mata menikmati setiap sentuhan suaminya dengan suara desahan yang sesekali keluar begitu saja pun langsung membuka matanya. Ia merintih sakit, entah sakit dari mana, namun ada rasa kekecewaan yang begitu tinggi melandanya saat ini. Ia kebingungan dan hal itu jelas terlihat dari raut wajahnya yang memberenggut.


“Kenapa berhenti?”, rintih Naz yang lemas sekaligus bingung.


“Aa kebelet pipis,, sejak perjalanan dari Bandara tadi ditahan”, Arfin yang hanya memakai celana boxer saja, bangkit lalu bergegas ke kamar mandi.


“Apa??” Naz yang berbaring terlentang dengan kedua lututnya yang di tekuk, membulatkan kedua bola matanya karena terkejut juga kesal, ”Yasalam,,,, kepala ku pusing banget ini”, gerutu Naz sambil memijat kepalanya. “Iiiihh,, dasar menyebalkan,,,”, Naz terus menggerutu dengan nafas yang terengah- engah.


“Dia lagi ngapain sih,, lama banget,,, pipis apa pingsan dia tuh,, iiihh”, Naz kembali menggerutu kesal karena sang suami yang tak kunjung kembali dari kamar mandi.


Dan setelah beberapa saat yang ditunggu- tunggu pun akhirnya datang. “Maaf sayang kelamaan ya,,, tadi perut Aa tiba- tiba mules,,, hehehe”, ucapnya sambil nyengir sedangkan Naz memberinya tatapan kesal, “Uluhhh,, sayang ,, jangan memberenggut gitu donk,, ayok kita lanjutkan”, ucapnya yang kembali naik ke atas ranjang, baru saja ia akan memulai kembali tiba- tiba terdengar suara ketukan pintu.


Tok Tok Tok,,,,


“Ada apa??”, teriaknya kesal.


“Maaf Den,,, ada Pak Lutfi dan Bu Dilara”, sahut Mbak Jumin melapor.


“Suruh saja mereka pergi,, bilang saya sibuk”, Arfin kembali berteriak.


“Anu den,,, tapi katanya penting, ada masalah besar gitu Den”, Mbak Jumin kembali menyahut.


Arfin mendengus kesal, “Dasar kurang ajar,,, mereka benar- benar minta dipecat”, ucapnya menggerutu kesal, “Maaf sayang,,, ada gangguan lagi,, Aa keluar sebentar ya”, ucapnya dengan lembut, “Jangan cemberut gitu donk,,,”, ia mengecup kening istrinya lalu memakai baju kaosnya yang diambilnya dari lantai dan beranjak pergi keluar kamar berjalan menuju ruang tamu dengan raut wajah kesal.


“Fi,,, gue udah bilang kan, dia itu semenjak dari bandara udah badmood,,, kalau kita bicarakan hal ini sekarang,,, kita bisa- bisa digantung tahu gak?”, bisi Dilara pada Lutfi.


“Kalian benar- benar minta digantung ya,,, berani sekali mengganggu ku”, Arfin menggerutu kesal lalu duduk di kursi tamu bergabung dengan mereka.


“Apa gue bilang”, bisik Dilara lagi.


“Sorry bos,,, lagi nanggung ya, hehehe”, ucap Lutfi lalu nyengir.


“Diam lo,,, udah tau gue masih cuti, masih aja lo bawa masalah kerjaan ke sini,,, gara- gara lo berdua, gue menunda rencana honeymoon, sekarang malah ganggu lagi !”.


“Iya sorry banget, abis gimana lagi dua minggu sebelum lo nikah, klien minta kita mempercepat untuk merampungkan project yang kita tangani, dan mereka berani membayar lebih, ya kita kan harus professional donk ngebut untuk memenuhinya”. Lutfi mengingatkan Arfin.


“Iya gue tahu,, gak usah diingetin lagi,, terus ada apa lagi,,? bukannya permaslah project itu udah beres”, tanyanya masih dengan raut wajah kesal.


“Sorry banget,,, tapi ini sangat mendesak dan gawat darurat,,, dan maaf kami datang di waktu yang kurang tepat,, kami tidak bisa gegabah mengambil tindakan tanpa membicarakannya dengan lo, Ar”, Lutfi malah bertele- tele.


“Ada masalah apa? Cepat katakan !”, ucapnya dengan nada tegas.


“Klien yang sudah tanda tangan kontrak sama kita minggu lalu, tiba- tiba dua hari yang lalu minta pembatalan kerja sama”, Dilara menjelaskan.


“Apa?? Ya gak bisa gitu lah,, terus kenapa alasannya? Kenapa kalian baru ngomong sekarang?”, cerca Arfin.


“Kami gak mau ganggu acara lo kemaren,,, Katanya desain yang kita kasih ke mereka sama dengan yang ditawarkan perusahan lain dengan harga dibawah kita”, Lutfi ikut menjelaskan.


“Apa?? Mana mungkin,,, itu kan kita berdua yang desain? Bagaimana bisa bocor?”, Arfin merasa geram.


“Itu dia masalahnya,,, sepertinya ada yang mencuri data kita, dan gue curiganya ada orang dalam berkhianat di perusahaan,,, gue, Dilara dan Pak Purnomo udah menyelidiki tapi kami belum menemukan pelakunya, baru mencurigai dua orang,, dan kami tidak bisa menuduh mereka tanpa bukti”, ucapnya menjelaskan sedangkan Arfin yang nampak sedang berfikir kemudian mendengus kesal, “Dan ada masalah satu lagi,,, klien kita yang di Semarang minta perubahan desain”, tambahnya.


“Apa?? Kenapa ada masalah sebesar ini kalian baru ngasih tahu sekarang? tadi juga Dilara saat menjemput ke Bandara gak ngomong apa- apa ”, Arfin malah menyalahkan.


"Abisnya dirimu terlihat badmood, jadi mending Lutfi aja yang menjelaskan", Dilara berdalih.


“Kan tadi udah bilang,, kami tidak mau merusak hari bahagia lo,, kayaknya besok lo harus masuk kantor, Bos”, kini Lutfi yang dibuat kesal.


“Gak bisa,, besok gue mau nganter bini gue daftar ulang ke kampus, lagian gue cuti sampai besok kan?”, tolak Arfin memberi alasan.


“Jangan gitu dong Bos,,, ini urgent banget “, Dilara kembali nimbrung.


Arfin kembali mendengus kesal, “yasudah,, sekarang saja gue ke kantor,, gue mandi dulu,,, “, Arfin kemudian bergegas kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Saat masuk ia melihat istrinya sudah tertidur lelap, ia pun langsung pergi mandi, dan setelah beberapa saat ia pun telah bersiap dengan memakai stelan kerja, ia menghampiri istrinya yang masih tertidur, menyimpan ponsel di samping Naz, kemudian berbisik di telinganya.


“Sayang,,, Aa ke kantor dulu ya”, ucapnya lalu mencium kening istrinya, kemudian ia pun beranjak pergi keuar kamar dan ia berangkat bersama Dilara dan Lutfi.


**


Naz terbangun karena mendengar suara ponselnya berdering, ia meraba- raba mencari keberadaan ponselnya yang terus berbunyi dan bergetar, dan setelah mendapatkannya ia melihat di layar ponselnya


‘My Huby is calling…..’


Naz yang merasa heran bukannya mengangkat telponnya malah mengedarkan pandangannya mencari keberadaan suaminya itu, “Dimana dia,,,?”, ucapnya bertanya- tanya lalu ia menggeser tombol hijau yang bergambar telpon untuk mengangkat panggilan dari suaminya tersebut.


“Hallo,,, “. Sapanya dengan suara serak.


“Haloo… wa’alaikumsalam”, Arfin malah menjawab salam seolah menyindir.


“Iya,, assalamu’alaikum”, kok jadi kebalik gini ya slam- salamannya.


“Baru bangun sayang?”, tanya nya.


“Hmmm”, Naz menjawab dengan malas.


“Maaf sayang,,, tadi Aa pergi gak nunggu kamu bangun”.


“Memangnya Aa lagi dimana?”, tanya Naz heran.


“Di Kantor”.


“Hah…? Bukannya tadi bilang mau ke ruang tamu sebentar? Ko malah ke kantor? Kapan berangkatnya? Ngapain ke kantor kan masih cuti?”, Naz langsung melontarkan rentetan pertanyaan.


“Tadi Lutfi dan Dilara bilang ada masalah besar di kantor, jadi Aa terpaksa harus ke kantor, biar besok bisa nemenin kamu daftar ulang ke kampus,,, Aa berangkat dua jam yang lalu, gak tega bangunin kamu yang tidurnya nyenyak banget,,, maaf banget ya sayang,,,”. ucapnya menjelaskan.


“Terus pulangnya kapan?”, tanya nya lagi.


“Kayaknya nanti malam sayang,,, maaf ya “.


“Oh,,, yaudah aku mau mandi dulu, ini udah jam satu, aku belum shalat”.


“Iya,,, jangan lupa makan ya sayang,,, Aa udah minta Mbak Jumi nyiapin makanan buat kamu”


“Aasalamu’alaikum,, i love you...”, ucap Arfin.


“Wa’alaikumsalam,,, love you too”, Naz mengakhiri penggilan telponnya dan melakukan apa yang ia katakan tadi.


Sejak siang ia hanya berdiam diri menunggu suaminya pulang hingga malam, makan siang sendirian dan makan malam pun sama. Arfin mengabarinya kalau ia pulang larut sehingga Naz disuruh tidur duluan. Tahu- tahu saat bangun, suaminya tidur dalam keadaan memeluk dirinya. Naz hanya bisa bertemu dengan suaminya dari subuh hingga sebelum ia berangkat kerja.


Seperti yang sudah diagendakan bahwa hari kamis ini Naz akan pergi ke kampus tempat kuliahnya kelak untuk melakukan registrasi daftar ulang, dan tentunya bersama suaminya. Dan setelah urusan di kampus selesai, ia pun ikut bersama suaminya ke kantor, dan pulang setelah makan siang diantarkan oleh sopir.


Sama seperti kemarin, Arfin kembali pulang larut malam karena kesibukannya di kantor dan di lapangan, bahkan itu terjadi hingga malam minggu, dimana esoknya keluarganya dan juga keluarga Naz akan datang mengunjungi mereka dari Jakarta, dan sejak pagi Naz sudah sibuk untuk menyiapakan segala sesuatunya untuk esok.


Namun kali ini berbeda dengan malam sebelumnya yang mana Naz masih bisa mentolelir, dan sekarang ia merasa kesal karena Arfin masuk kerja di saat weekend dan kembali pulang larut malam.


Ceklek ,,, Arfin membuka pintu dan masuk ke dalam kamarnya, yang ternyata istrinya tegah berdiri di samping tempat tidur.


“Masih ingat kalau sudah punya istri?”,tanya Naz ketus sambil berpangku tangan.


Arfin menghampiri Naz, “Sayang,, kamu kok ngomong gitu,,? Aa kan udah ngabarin kalau Aa pulang telat,,, kenapa kamu belum tidur, hem? ”, ucapnya hendak mencium Naz, namun ia langsung membuang muka untuk menghindar.


“Sejak kecil kedua orang tua ku selalu sibuk bekerja, aku hanya bertemu mereka di pagi hari, karena mereka sering pulang malam, sehingga aku selalu merasa kesepian, dan sekarang suami ku pun seperti itu, lalu apa bedanya?”, cerocos Naz.


“Sayang,,, tolong jangan mengajak berdebat,, Aa sudah sangat lelah dengan pekerjaan di kantor”, pintanya dengan suara lembut.


“Semenjak kita datang ke sini, Aa terus saja sibuk dengan pekerjaan dan mengacuhkan ku,,, kita ini masih pengantin baru”, Naz masih tidak berhenti mengoceh untuk meluapkan kekesalannya.


“Sayang tolong”, Arfin masih menahan diri untuk tenang.


“Aku ini istri kamu, bukan pajangan,, aku juga butuh perhatian, aku juga ingin menghabiskan waktu dengan mu, bukan ….. ”, belum selesai Naz bicara Arfin langsung menempas.


“Cukup Naz !!! hentikan ocehan mu, aku benar- benar capek”, bentaknya, lalu ia mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.


Jebred ,,,, Arfin menutup pintu kamar mandi dengan cukup keras hingga menyentakan Naz. Ia menjatuhkan dirinya ke tempat tidur, duduk sambil membekap mulutnya.


“Kenapa dia jadi berubah,, apa dia sudah tidak mencintaiku lagi? Apa dia sudah tidak peduli padaku lagi, sampai dia membentak ku,,, hiks hiks”, ucapnya sambil terisak.


Ini pertama kalinya Naz dibentak oleh pria yang baru menjadi suaminya belum sampai genap seminggu itu, rasa sakit di hati yang menyesakan dada mendorong air matanya terus berjatuhan membasahi pipinya. Ia berbaring menyamping membelakangi tempat tidur bagian Arfin, lalu menyelimuti dirinya sendiri.


Tak lama Arfin pun keluar dari kamar mandi, lalu ia mengambil pakaian dari lemari kemudian mengenakannya. Ia pun berbaring di tempat tidur dan mereka berdua tidur saling membelakangi, Naz tidur dengan perasaan sedih yang menyesakkan dadanya, sedangkan Arfin tidur membawa rasa kesal karena di saat ia merasa lelah dan capek dengan pekerjaannya malah mendapat ocehan dari istrinya.

__ADS_1


Naz bangun tepat saat adzan subuh, ia bergegas mengambil air wudhu lalu melaksanakan shalat subuh kemudian ia langsung pergi ke dapur. Naz meminta Mbak Jumin untuk membangunkan suaminya yang masih tidur. Walau merasa aneh, namun Mbak Jumin segera melaksanakan titah sang majikan.


Jam sembilan pagi, rombongan dari Jakarta telah tiba di kediaman Arfin, setelah mereka dijemput ke bandara oleh Arfin, Lutfi dan Pak Aji dengan mobil pribadi, serta dua sopir kantornya yang membawa dua mobil travel. Naz dan Tante Ina yang turut membantu persiapan pun menyambut kedatangan mereka dengan gembira.


Mereka pun dipersilahkan masuk dan duduk lesehan di karpet permadani yang sudah disiapkan ruang tengah yang cukup besar itu. Rumah yang biasanya sepi pun kini tampak ramai dengan kehadiaran keluarga Pak Latiff, Pak Rizal, Pak Syarief lengkap bersama anak menantu dan cucu- cucu mereka. Berbagai sajian makanan dan cemilan serta kue- kue pun telah disediakan.


Naz dan Arfin bersikap seolah- olah tidak terjadi apa- apa diantara mereka, namun lain halnya dengan Bu Rahmi yang melihat gelagat aneh diantara keduanya yang nampak terlihat menyembunyikan sesatu, dan mereka seolah saling menghindari tatapan masing- masing.


Bu Rahmi yang sejak datang menahan diri untuk bertanya, akhirnya setelah makan siang beliau mengajak Naz untuk shalat bersama di mushola yang ada di rumah itu. Seusai keduanya melipat mukena, beliau memberanikan diri untuk bicara pada putrinya itu.


“Sayang,,, ada apa?”, tanya beliau memulai percakapan.


“Hah,,??,,,, eng,,, engak ada apa- apa Ma”, ucapnya terbata- bata lalu tersenyum.


“Mama ini yang mengandung mu, melahirkan mu bahkan yang merawatmu sejak kamu bayi,, walaupun kita sempat terpisah selama 7 tahun, Mama sangat mengenalmu sayang,, kamu bisa menyembunyikan kesedihan mu itu dari orang lain, tapi tidak dari Mama”, ucap beliau, sedangkan Naz tiba- tiba menundukan kepalanya, “Kenapa sayang? Apa Arfin menyakiti mu?”, tanya nya pelan, lalu Naz menggelengkan kepalanya, dan Bu Rahmi pun bernafas lega karena perkiraannya salah.


“Aku cuman belum terbisa aja kalau dia pulang kerja larut malam”. Keluhnya dengan suara pelan.


“Sejak kapan kamu mengetahui apa pekerjaan Arfin?”, tanya beliau.


“Semenjak sebelum pacaran dulu”, jawab Naz.


Bu Rahmi tersenyum, “Berarti kamu sudah lama mengetahui pekerjaan suami mu,,, kenapa sekarang kamu mempermasalahkannya? apa kamu marah- marah saat suami mu pulang larut? Apa dia tidak mengabarimu?”, tanya beliau, namun Naz tak menjawab hanya diam menunduk,


“Dengar sayang,, membina rumah tangga itu dibutuhkan rasa saling, bukan hanya sekedar saling memiliki, saling mencintai dan menyayangi saja, tentunya saling melengkapi, saling mengerti, saling memahami, saling percaya, saling terbuka dan juga saling mendukung satu sama lain,, Apa kamu ingat Arfin pernah mengatakan bahwa dia akan mendukung apa pun yang kamu inginkan selagi itu hal baik untuk mu??”, tanya beliau lagi dan Naz pun hanya menganggukan kepalanya.


“Sayang,,, kamu harus belajar memahami suami mu, dia memikul tanggung jawab yang besar di pundaknya, di rumah ia menjadi kepala rumah tangga yang bertanggung jawab atas dirimu dan anak- anak kalian kelak, di kantor ia menjadi pemimpin dari puluhan bahkan mungkin sampai ratusan pegawai yang menggantungkan hidup mereka pada suami mu. Dan sebagai seorang istri, kamu harus memberi dukungan pada suami mu, selain dengan doa, juga dengan sikap dan perilaku mu, sayang. Jika dia akan berangkat kerja, cium tangannya, doakan dia dan lepas keberangkatannya dengan senyuman bahagia, begitu juga saat ia pulang yang tentunya membawa rasa lelah dan penat setelah seharian bekerja, sambut ia dengan senyuman kebahagiaan, layani dia dengan baik. Jangan sesekali kamu menyambutnya dengan ocehan atau kemarahan, selain memicu pertengkaran, bisa- bisa suami mu lebih betah di kantor daripada di rumah,, bahkan mencari kenyamanan dari tempat lain, apa kamu mau itu terjadi ?”, tanya Bu Rahmi lagi setelah menjelaskan panjang lebar, Naz pun menggelengkan kepalanya.


“Kamu jangan risau, dalam menjalankan biduk rumah tangga terkadang suka ada pertengkaran kecil yang biasa disebut bumbu dalam rumah tangga, namun jangan sampai berlarut- larut,,, biasakan bicarakan dengan baik- baik jika ada masalah apa pun dengan suami mu agar tidak terjadi kesalah pahaman diantara kalian sehingga kalian bisa saling terbuka satu sama lain. Satu pesan Mama, jangan pernah bicarakan masalah rumah tangga mu pada orang lain atau teman- teman mu, sekiranya bisa kalian selesaikan maka selesaikanlah berdua, tapi jika kamu membutuhkan saran atau pendapat kamu bisa menghubungi Mama, Bunda atau Mami mertua mu, karena orang tua tidak mungkin akan menyesatkan anaknya”, Bu Rahmi kembali memberi wejangan.


”Iya, Ma,,, ”. lirih Naz.


“Kalian kan masih pengantin baru, ya wajarlah seperti ini karena kalian masih butuh proses untuk beradaptasi dalam menjalankan kehidupan berumah tangga yang terkadang mendapati beberapa perubahan, contoh kecilnya dulu kamu tahunya Arfin melakukan ini itu hanya by phone, tapi sekarang kamu mengetahui rutinitasnya dari bangun tidur hingga tidur lagi secara langsung. Bukannya Mama sudah mengatakan banyak hal padamu tentang pernikahan dan tanggung jawab serta tugas seorang istri, iya kan?? “, Naz kembali mengangguki perkataan Mama nya,


"Berarti sekarang kamu tinggal mempraktekannya,, Eh, sayang,, dimana cincin kawin mu? Kenapa kamu tidak memakainya?”, tanya beliau saat melihat tangan kanan Naz.


“Oh,, ya ampun,,, aku lupa,,, aku ke kamar dulu ya Ma”. Ucapnya lalu ia bangkit dan bergegas pergi ke kamarnya.


Saat sudah di dalam kamar, ia berjalan menuju meja twalet tempat ia menyimpan cincinnya,


Grep,,, tiba- tiba ada yang memeluknya dari belakang.


“Maaf,, aku benar- benar minta maaf, sayang,,, aku minta maaf karena selalu pulang terlambat dan kurang memberi perhatian pada mu, aku juga minta maaf karena sudah membentak mu,, maafkan aku sayang”, lirihnya dengan penuh penyesalan.


Naz merasa terenyuh, kemudian ia melepaskan pelukan suaminya, dan ia membalikan badannya, di pegangnya kedua tangan suaminya, “Aku juga minta maaf sudah marah- marah gak jelas sama Aa, aku sudah egois, aku belum bisa memahami mu,,, maafkan aku”, ucapnya kemudian memeluk suaminya.


Arfin mengecup pucuk kepala istrinya, ”Maaf sayang,,, akhir- akhir ini Aa sibuk terus di kantor, karena lagi banyak kerjaan,, sampai melalaikan kewajiban Aa sebagai suami mu,,, Setelah masalah di kantor selesai, Aa janji tidak pulang terlambat lagi dan tidak akan masuk kerja saat weekend”, Arfin melepaskan pelukannya perlahan, lalu beralih menggenggam kedua tangan istrinya, “Apa kamu sampai semarah itu sama Aa sampai tidak mau memakai cincin pernikahan kita?”, tanyanya saat tak melihat cincin di jari manis Naz.


“Bu bukan begitu,,, tadi pas lagi dandan aku dengar suara mobil berdatangan, lalu aku buru- buru keluar untuk menyambut kalian, jadi belum sempat memakai cincin,,, maaf,,,,”, ucapnya menjelaskan.


Arfin mengangkat tangan kanan Naz yang tengah menundukan kepalanya, lalu menyematkan cincin yang ia ambil dari meja twalet di sampingnya, kemudian ia mencium tangan istrinya, beralih mencium keningnya, Arfin merengkuhkan kepalanya dan mengecup bibir sang istri, “Aku sangat merindukan mu, sayang”, bisiknya pada telinga istrinya, lalu ciumannya beralih ke leher jenjang istrinya, yang membuat Naz menggeliat geli.


“Jangan menggigit leherku lagi, nanti semua orang bisa melihat bekasnya” ucapnya tersipu malu.


“Aku menginginkan mu, istriku yang menggemaskan”, bisiknya lagi dengan tangan yang sudah menggerayang kemana- mana.


“Jangan sekarang,, di luar masih banyak orang”, tolak Naz sambil menahan tiap sentuhan suaminya itu.


“Biar saja, mereka juga tahu ini kita masih pengantin baru”.


“Jangan ah,, nanti malam saja”, ucap Naz memberi penawaran, lalu mencengkram kedua tangan suaminya agar berhenti meraba- raba.


“Baiklah,,, nanti malam aku akan memakan mu dan menggigitmu habis- habisan”, ucpnya dengan nada gemas, Naz kemudian melepaskan dirinya dari pelukan suaminya lalu tersipu malu.


“Udah ah,,, aku keluar dulu”, ucapnya lalu pergi begitu saja meninggalkan suaminya sambil tersenyum bahagia. Arfin pun sama halnya, ia tersenyum dengan menggelengkan kepalanya tanpa melepaskan pandangan dari istrinya yang menurutnya menggemaskan itu sampai Naz keluar dan menutup kembali pintu kamarnya.


Tanpa mereka sadari sejak tadi ada yang berembunyi di balik tirai jendela kamar yang memperhatikan mereka dengan tatapan tidak senang.


------------------- TBC -------------------


****************************


Happy Reading…. 😉


Jangan luva tinggalkan jejakmu, like komen, rate bintang lima, vote, hadiah, dan sekian sekian😉😍


Tilimikicih,,, aylapyu oll… 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2