Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Ruby Si Kompor Beleduk SNI


__ADS_3

Siang ini cuaca tidak begitu cerah, langit yang dipenuhi kumparan awan seakan menjadi penghalang sinar matahari untuk menerangi bumi belah dieu. Sebagian awan putih dan ada pun awan hitam keabuan yang biasanya mengangkut beban air untuk ditebar pesona kan dari atas langit diluncurkan menghujani bumi, singkatnya mah cuaca mendung berawan, seakan menggambarkan perasaan yang kini sedang dirasakan oleh Naz yang sejak di sekolah tadi dengan sekuat tenaga menahan dirinya agar tidak menangis.


Hiks,,, Hiks,,, hiks,,,”, ucap Naz sambil memegang dada nya, dan tanpa terasa air mata yang sejak tadi ditahannya ini mengalir deras membasahi kedua pipinya. “Apa itu juga alasan dia tidak pernah menghubungiku lagi, setelah dia mengetahui perasaanku, apa dia juga takut jika identitas ku akan mempermalukannya??,,, huhhuhuhuhu,, hiks hiks ….”, ucap Naz kemudian ia mengangkat kedua kakinya ke atas kursi dan duduk menyamping, lalau menekuk kedua kakinya dan memeluknya , ia pun menangis sambil menundukkan kepalanya.


Setelah beberapa saat Naz menangis dalam kondisi seperti itu, tiba- tiba ada yang mengusap kepalanya, “Kenapa menangis seperti ini, apa ada yang menyakitimu Naz??”, tanya oang itu,, dan saat Naz mendengar suara orang yang mengusap- usap rambutnya, ia langsung mengangkat kepalanya dan melihat orang tersebut yang ternyata sedang duduk di kursi yang sama dengannya.


“Huaaaaaaa,,,,,, huaaaaaaaa,,,,hiks hiks hiks.., “, Naz malah menangis sejadi- jadinya sambil memandang ke orang yang sedang duduk di kursi panjang yang sama dengannya.


“Loh,, ko malah tambah kencang nangisnya,, kamu kenapa Naz,,?? Apa ada yang menyakiti mu hem??”, ucap nya panik melihat Naz yang tidak berhenti menangis, lalu ia menggeser kan duduknya lebih dekat pada Naz dan berusaha merangkul Naz namun tangannya segera ditempas oleh Naz.


“Aa jahat,,,, Aa jahat,,, huaaaaaaa”, ucap Naz malah semakin kencang menangisnya lalu ia menurunkan kedua kakinya, dan membalikan badannya ke samping duduk membelakangi Arfin.


Arfin malah tersenyum melihatnya, “Loh Aa jahat kenapa,, kok baru datang sudah jadi tertuduh?”.


“Aku gak mau ngomong sama Aa, hiks hiks hiks ”, ucap nya merajuk di sela- sela tangisannya.


“Oh,, jadi Aa pulang lagi aja nih,, “, ucap Arfin .


“Yasudah pulang lagi saja sana ke Surabaya, jangan balik- balik lagi ke sini!”, ucapnya sambil sesenggukan.


“Masa sih,, beneran nih?”, Arfin malah sengaja menggoda Naz.


“Sana pergi,, bodo amat”, ucap Naz makin kesal.


“Katanya gak mau ngomong sama Aa,, lah itu apa hayoo??”, Arfin tak berhenti usil.


“Katanya mau pulang, ko masih di sini?”, Naz gak mau kalah dan mengembalikan perkataan Arfin.


“Yasudah,, baiklah kalau begitu,, Aa mau pulang saja,, “, Arfin bangun dari duduknya dan berdiri menghadap Naz yang tengah duduk sambil merajuk, “Tapi sebelum Aa pulang,, Aa mau ngomong sesuatu sama kamu”, ucapnya dengan nada serius.


“Ngomong ya ngomong aja,,, gratis kan gak pakai pulsa inih”, masih mode jutek.


“Itu emm,,, ituu,, memangnya kamu gak geli ya?”.


“Aku lagi kesal bukan lagi geli”.


“Yakin gak geli,, itu ada ulat merayap di sepatu menuju kaos kakimu Naz", ucap Arfin menahan tawa.


Naz langsung melihat kakinya, “Aaaahhh,,,”, Naz berteriak menendang- nendangkan kakinya agar ulatnya lepas dari kakinya, ia langsung berdiri dan reflex memeluk Arfin, “Haaaaa,,, aku takut ulat”, ucapnya bersembunyi di dada Arfin sambil menghentak- hentakkan kakinya seolah sedang lari di tempat.


“Aduh,, Naz,, dagu Aa sakit kejeduk kepala mu”, ucapnya mengusap dagunya sambil meringis dan Naz pun menghentikan acara lari di tempatnya malah terdiam di pelukan Arfin. “Sebegitu kangennya sama Aa ya,, sampai dipeluk terus, itu ulatnya juga sudah mati di injek sama kamu, kalo meluk gini terus nanti nambah hutang loh”, ucap Afin sambil tertawa geli.


Naz pun langsung melepaskan pelukannya, “Siapa juga yang kangen,, gak usah percaya diri”, ucapnya jutek.


“Buktinya kamu marah- marah gak jelas sama Aa yang baru datang, pakai nangis sambil merajuk segala lagi,, apa namanya kalau bukan kangen berat?”.


“Aku gak kangen kok, kata Aa juga jangan kangen kan kangen itu berat”, ucap Naz beralasan.


“Aa gak bilang jangan kangen tapi bilang jangan rindu”, jawab Arfin.


“Sama aja”, ucap Naz singkat.


“Beda ah”, ucap Arfin dengan nada menggoda


“Iihh,, nyebelin,,,”, Naz makin kesal.


“Kamu kalo lagi ngambek gitu bikin Aa gemas sama kamu”,.


“Kalo Aa bikin aku eneg”.


“Ya ampuun,, kamu digombalin sama Aa malah


balas mengejek”.


“Biarin,,, bodo amat,, gak peduli,,”, ucap Naz masih dalam mode jutek. Kruukk kruuukkk,,, terdengar suara cacing kremi minta makan.


“Hahaha,,, dasar ya kamu tuh kalau habis nangis pasti kelaparan,, udah yuk kita nyari makan,, kasian cacing mu sudah pada demo”


Naz malah cemberut dan merasa malu juga


“Udah ayo pergi “, Arfin menggenggam tangan Naz dan mengajaknya pergi meninggalkan taman danau tersebut, dan Naz pun hanya bisa pasrah mengikuti ajakan Arfin dan berjalan bersamanya sambil saling berpegangan tangan. Ciehhhhh


Tak lama mereka pun sampai di halaman depan panti, dan di sana terlihat ada Pak Udin dan Bude sedang mengobrol di kursi teras. “Sudah ketemu Ar, anak ayam yang hilangnya?,, wah sampai dipegangin gitu takut kabur lagi ya”, ucap Bude menggoda mereka berdua, dan merekapun reflex melihat ke arah tangan mereka yang tengah berpegangan lalu langsung saling melepaskan.


“Bude,, aku numpang ke kamar kecil “, ucap Naz yang langsung berlari sambil menunduk karena merasa malu lalu masuk ke dalam panti menuju kamar mandi.


“Pak Syamsudin, Naz biar pulang sama saya saja, sekalian saya ada janji ketemuan sama Dandy, biar nanti saya menghubungi Bunda untuk memberitahukannya”.


Pak Udin nampak heran dan kebingungan, akhirnya dia pun berpamitan, “Oh,, iya Nak Arfin,,, kalau begitu saya pamit pulang dulu Bude, Nak Arfin,,, saya permisi,, asaalamu’alaikum”, Pa Udin pun bergegas pergi meninggalkan panti setelah salamnya dijawab oleh Bude dan Arfin, tak lama Naz pun datang dengan wajah yang nampak segar.


“Sudah selesai ?? ayo kita berangnkat”, ucap Arfin.

__ADS_1


“Iya,, Bude makasi banyak yaa,, aku pulang dulu,,”, ucap Naz lalu menyalami Bude diikuti oleh Arfin, “ Asslamu’alaikum Bude”,ucapnya pamit.


“Wa’alaikumsalam,,, hati- hati ya nak,,, Arfin Bude titip Naz ya,, jangan diturunin di tengah jalan loh”, ucap Bude kembali menggoda mereka.


“Kalo berani nanti dia di gorok sama Bunda…hahaha”, Naz malah menimpali candaan Bude , lalu mereka pun masuk ke dalam mobil kemudian Arfin pun langsung melajukannya.


“Mau makan dimana Naz?”, tanya


Arfin.


“Dimana aja yang penting enak”, Naz menjawab enteng.


“Yasudah, kita sekalian ke mall aja ya, Aa janjian ketemu sama Dandy”,


“Emmmm,,, oke deh,,,", jawab Naz menyetujui.


Setelah beberapa saat mereka pun tiba di sebuah mall, ini kali kedua nya Arfin mengajak Naz ke mall dengan memakai seragam sekolah, maka dari itu hal yang pertama dilakukan adalah membeli pakaian untuk Naz , kemudian ia pun menggantinya dengan pakaian santai. Keduanya makan di salah satu tempat makan di food court mall tersebut, karena menunggu Dandy yang tak kunjung datang hingga makanan yang mereka pesan telah habis, Naz pun mengajak Arfin untuk ke tempat wahana permainan, dasar bocah.


Setelah membeli kartu akses permainan, Naz pun mengelilingi memainkan beberapa wahana, namun sayang di sana tidak ada roller coaster ataupun mini coaster yang amat diminatinya, sedangkan Arfin hanya duduk menunggu di bangku yang tersedia layaknya seorang ayah yang tengah menunggui puterinya bermain hanya mengawasinya saja sambil memainkan ponselnya.


“Naz, udah selesai belum?? Dandy udah dibawah katanya sama Hardi”.


“Udah kok,, udah cape ah, kalah mulu main capit boneka gak dapet-dapet”.


“Hahah,,, dasar bocah,, badan aja tinggi kayak model, kelakuan kayak anak SD,, ampun deh”.


“Biarin,,, jadi kan tetap awet imut- imut”.


“Hahaha,,, terserahlah sebahagianya kamu saja,, ayok kita turun “, ajaknya.


Mereka berdua meninggalkan wahana permainan dan turun ke lantai satu menuju salah satu coffe shop di mall tersebut, dan ternyata Dandy dan Herdi sudah duduk di sana, “Hei broh,, kemana aja sih lama bener gue nunggu di sini”, ucap Arfin menyapa Dandy dan Hardi, sementara Naz berjalan mengikuti di belakang Arfin nyaris tak terlihat karena terhalang oleh tubuh tinggi Arfin.


“Njirr,,, ada kemajuan lo ya tinggal di Surabaya,, udah bisa bawa cewek sekarang lo”, ucap Hardi yang melihat Arfin dibuntuti seorang wanita.


Arfin tersenyum lebar, “Cewek yang di belakang gue ini maksud lo?”, ucap Arfin yang kemudian menarik tangan Naz dengan pelan untuk keluar dari persembunyiannya.


“Naz,,,?”, ucap Dandy dan Hardi serentak dan merasa terkejut, sedangkan Naz nampak salah tingkah dan tersenyum lebar menunjukkan barisan gigi putihnya.


“Ko kamu bisa sama Arfin, Naz?”, tanya Hardi heran.


“Kurang asem lo Ar,,, ngajak jalan adek gue gak izin dulu sama gue”, gerutu Dandy.


Arfin dan Naz masing – masing menyeret kursi dari dalam kolong meja dan mendudukinya, “Tadi tuh gue abis dari panti, ketemu sama Naz,, yaudah gue ajak aja sekalian dia kesini karena mau ketemuan sama lo Dan,,, tadi gue udah lapor sama Bunda kok, jadi gak akan dikira hilang lagi,,”, ucap Arfin menjelaskan.


“Enggak lah,, gila lo,,,Oh iya ada apa nih tiba- tiba ngajak ketemuan gini?”, tanya Arfin penasaran.


“Ini Ar,, si Dandy udah kebelet pengen kawin”, ucap Hardi usil.


“Hahaha,,, bagus dong,, sama siapa??”, tanya Arfin lagi.


“Sama siapa lagi, ya sama cewek gue lah, Arini”, Dandy menjawab sewot


“Oh,, iya gue baru inget”,ucap Arfin dengan nada yang sedikit canggung, tiba- tiba pelayan datang membawa tiga gelas minuman dingin dan cemilan yang sebelumnya sudah dipesan Dand.


“Minumannya ko cuman tiga,,,, Naz kamu mau pesen minum?”, tanya Arfin.


“Emm,,, boleh deh,, ada,,,,”, belum selesai Naz bicara sudah terpotong.


“Naz…..”, terdengar ada suara seorang wanita yang berteriak memanggil Naz, dan ia pun mengedarkan pandangan mencari asal suara yang ia kenal itu, kemudian terlihat ada yanh melambaikan tangannya, Naz pun membalas lambaiannya seakan memintanya untuk menghampiri, dan ia pun menghampiri Naz yang sedang duduk bersama ketiga pria dewasa itu.


“Wahh,, lagi pada ngumpul ni ye… boleh gabung gak?”


“Ya gabung aja Ruby,, masa iya kamu sudah disini kita nolak kedatangan mu”, ucap Dandy.


“Iya By,, ikut gabung aja biar gue gak sendirian ceweknya di sini,, oh ya lo mau pesan minum apa biar sekalian nih?”, tanya Naz.


“Samain aja sama lo Naz”, jawabnya singkat,” Makasih ya kakak- kakak ganteng udah ngasih izin gabung”, ucap Ruby cengengesan lalu menarik salah satu kursi yang masih kosong dan mendudukinya.


“Hmmm,,, apalagi kalau sudah memuji seperti itu boleh banget untuk gabung”, ucap Hardi.


“Hahaha,,, lagi pada ngomongin apaan sih kayaknya serius banget?”. Tanya Ruby.


“Nah,, pas nih kalau mau nanya- nanya soal ngelamar cewek, nih ada yang bisa jadi narasumber”, Kata Hardi.


“Hah,,, Naz lo mau di lamar,,, anjayyyy,, gilaa lo ya masih sekolah udah mau dilamar aja” Ruby menebak nebak.


“Bukan gue Marisol”, Naz menyangkal


“Ops…Terus siapa dong?”, tanya Ruby penasaran.


“Nih Dandy kakaknya Naz mau melamar anak orang, tapi pengen yang romantis dan berkesan gitu,, ahh sayang banget Nervan gak ada di sini,, biasanya dia tahu selera cewek kek gimana?”, tanya Hardi.

__ADS_1


“Hahaha,,, jadi inget kejadian tadi siang,, hahaha”, Ruby memulai.


“Diem lo By”, Naz langsung memelototi Ruby.


“Ada apa emang? Kejadian apa?”, Arfin membuka pun akhirnya membuka suara.


“Gak ada ,,, itu mah Ruby iseng”, Naz terus menutupinya sambil melirik pada Arfin yang terlihat bertanya- tanya, “Emm,,, Aku permisi ke toilet dulu ya”, Naz bangkit dari duduknya lalu bergegas pergi meninggalkan mereka menuju toilet yang ternate letaknya agak jauh dari tempat nongkrong mereka.


“Ruby, ada apan sih emang,, kok Naz kayak salting gitu?”, tanya Hardi kepo.


Ruby hanya tersenyum tanpa menjawab, namun saat melihat ke arah Arfin yang hendak minum munculah ide gila di dalam otaknya, “Emm,,, itu loh Kak tadi tuh ada cowok di sekolah nembak Naz,,, beuh romantis banget pake banget ya”, kompor mulai dinyalakan.


Uhuk uhuk uhuk,,,Arfin yang baru saja minum langsung tersedak


“Kak Arfin kenapa??”, ucap Ruby pura- pura.


“Keselek,,, uhuk uhuk”, jawab Arfin.


“Minum nya pelan- pelan Kak”, Ruby so so an perhatian.


“Yaelah Ar lo kalo minum hati- hati dong,,, eh Ruby terus gimana kelanjutannya?”, Hardi masih penasaran rupanya..


“Itu loh kak,, kan di aula sekolah ada panggung paten tuh, nah si cowok itu mendekor panggungnya seindah mungkin, banyak bunga, balon cinta, dan lilin- lilin yang di lingkarkan membentuk lambang cinta diantara hamparan bunga, beuhh pokonya romantis banget,, aku sampai meleleh melihatnya”, ucap Ruby menjelaskan dengan antusias dan sesekali melirik ke arah Arfin yang sudah terlihat seperti cacing kepanasan.


“Busyet,,, anak SMA udah kayak gitu nembaknya?? Gue aja cuman ngajakin makan malam doang saat nembak cewek gue”, ucap Ka Dandy.


“Iya sama,,, kalah gue sama anak SMA”, Hardi ikut menimpali.


“Terus ya Kak, Naz itu diminta naik ke atas panggung oleh asisten cowok itu dan Naz diminta berdiri di dalam lingkaran lilin yang membentuk lambang hati,,, nah terus cowok itu datang deh dari samping panggung membawa buket bunga lalu masuk ke lilin cinta tersebut dan berlutut di hadapan Naz,,, uuuhhhhhh,,, aku masih kebayang aja”, ucap Ruby memegang kedua pipinya sambil tersenyum bahagia, dan kompor pun apinya sudah benar- benar berada di level terpanas.


Arfin yang sejak tadi mendengar ocehan Ruby yang seakan membuat hatinya terbakar kena semburan lahar panas, rasa kesal sudah mulai ke tingkat level marah, dan ia terus meminum- minumannya hingga habis, bahkan gelas milik Hardi pun di embatnya dengan sekali teguk.


“Arfin,,, lo kenapa sih minuman gue ko bisa habis gitu, orang belum gue sentuh juga”, ucap Hardi protes.


“Sory Di,, tenggorokan gue kering abis keselek tadi”, ucap Arfin beralasan.


“Keselek bisa bikin lo minum ice coffee late yaa,,, sejak kapan lo minum minuman jenis kopi Ar”, Hardi kembali menggoda..


“Euh dasar lo nyari penyakit aja,, nanti langsung minum obat maag, ada di mobil gue,,”, ucap Dandy.


“Siapa yang sakit maag Kak?”, tanya Naz yang baru saja kembali dari toilet.


“Nih, Arfin khilaf dia minum ice coffee late punya Hardi, udah tau lambungnya gak jodoh sama segala jenis kopi, inih malah diminum”. Dandy menjelaskan.


“Oh,, jadi A,,, eh Kak Arfin selain alergi keju , alergi kopi juga ya,,,”, ucap Naz ber oh ria.


“Cie,, yang abis ditembak cowok”, ucap Hardi iseng menggoda Naz.


Naz langsung menatap tajam ke arah Ruby, “Ruby,,, lo bilang apa sama mereka?”.


“Vis,,, Kak Dandy tuh maksa aku membeberkan nya”, ucapnya mengangkat dua jari tanda perdamaian.


“Terus gimana Ruby,, cowoknya diterima gak”, Hardi masih penasaran, sedangkan Arfin nampak semakin kesal tidak bicara satu kata pun, Naz yang menyadari hal itu pun merasa tidak enak hati.


“Gak”, Naz menjawab dengan nada jutek.


“Waduhh,, kasihan banget tuh udah romantis abis, ternyata ditolak”, Hardi menyesalkan.


“Soalnya yang naksir sama Naz itu banyak banget, sampe antriannya gak kehitung loh Kak,,”, Ruby masih belum mematikan kompornya.


“Bohong itu Kak,, gak usah di dengerin deh”, Naz menyangkal.


“Wahhh,,, keren kamu dek,, terus dari banyaknya antrian itu ada yang nyangkut gak??”, Dandy semakin penasaran.


“Gak ada satu pun Kak,,, padahal semuanya pada ganteng juga keren ,,,dan tahu kenapa alasannya ?? Karena Naz tidak tahu rasanya seperti apa yang namanya jatuh cinta itu,, hahahah”, perkataan Ruby sontak mengundang gelak tawa Dandy dan Hardi.


“Ya ampun Naz,,, masa jatuh cinta aja gak tahu,,, kenapa gak minta diajarin sama Kakak sih?”, ucap Dandy mengejek.


“Dih,,, Kakak aja baru punya pacar ,, so so an mau ngajarin wlee”, Naz balik mengejek.


“Hahaha,, bener tuh “, Hardi tertawa geli.


“Tapi sekarang kayaknya Naz udah tahu jatuh cinta itu apa Kak”, Ruby kembali menjelaskan.


“Wah… masa,, sama siapa tuh Naz”, ucap Hardi .


“Tanya aja langsung deh sama orang yang bersangkutan, takut salah ngomong", Ruby sudah menyerah.


“Ruby,,, dasar lo emang kompor beleduk SNI,,, awas lo yaa”, Naz menggerutu dalam hari sambil menatap tajam pada Ruby, sedangkan orangnya hanya cengar- cengir seolah merasa puas sudah membongkar rahasianya di depan Kakak nya, terutama di depan Arfin.


---------- TBC --------

__ADS_1


********""*"***"""""""


Happy Reading.... 😘😉🥰


__ADS_2