Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Bertemu Dengan Mu Merubah Segalanya, Naz


__ADS_3

Hari yang begitu cerah dimana sang surya tengah membagi rata terik sinarnya ke berbagai arah, birunya langit pun tak terhalang oleh putihnya awan. Bisa dibayangkan betapa panasnya di luaran sana seperti halnya Naz yang tengah mondar- mandir gelisah tidak karuan dengan keringat yang terus bercucuran padahal pendingin di kamarnya berada pada suhu angka 18. Ponselnya yang terus berdering hanya dipegang dan ditatap saja karena tangannya serasa bergetar tak sanggup menggeser tombol hijau dan tak kuasa jika harus menggeser tombol merah pun.


Kak Arfin is calling.....


“Aduh,, bagaimana ini??? Angkat enggak,,angkat enggak,,angkat enggak??” Naz masih mondar mandir menghitung dengan jarinya untuk mengangkat atau tidaknya.”Kalo angkat aku ngomong apa,, haduhhh,, kenapa bisa salah kirim segala sihh,, jadi ribet gini nih urusannya”,Naz terus menggerutu pada dirinya sendiri, sedangkan teleponnya masih terus berdering dan ini sudah yang ketiga kalinya.


“Bismillahirrahmanirrahim...” akhrinya Naz memberanikan jarinya menggeser tombol hijau di ponselnya “Ha,,halo”.


“Halo, assalamu’alaikum Naz” suara Arfin nampak tenang.


“Wa,,wa’alaikumsalam Kak” Naz menjawab dengan gugup sambil mengelap dahinya yang terus mengeluarkan keringat.


“Naz,,”, Suara Arfin terdengar begitu lembut memanggil nama Naz.


“iy iya Kak”, Naz masih gugup.


Krik krik krik…tiba- tiba hening seketika tidak ada yang membuka suara lagi.


“Naz”


“Kak Arfin” Keduanya bicara berbarengan.


“Eh,,,Kak Arfin aja duluan”. Naz mempersilahkan.


“Kamu aja Naz”. Arfin malah melempar kembali.

__ADS_1


“Kak Arfin aja deh”. Ini malah saling lempar hadeuh.


“Kamu aja Naz, ladies first”, skak matt.


“Emmm,,, a anu Kakk,, Emmm,,, soal itu “ Naz menghela nafas panjang untuk menstabilkan dirinya “Kak,, maaf ..emm soal chat yang tadi itu,,,emm,, it itu kesalahpahaman Kak,,,aku,,,aku salah kirim,,ma maaf, Kak”. Naz menjelaskan dengan terbata-bata.


“Salah kirim?” Arfin bertanya kembali.


“Iy iya Kak”, Naz menjawab masih dengan gugupnya.


Tiba- tiba hening kembali tidak ada suara yang keluar dari mulut Naz atau pun dari sang penelpon, hening hening dan hening, tapi sambungan telepon masih terhubung, setelah beberapa saat.


“Halo,,Halo Kak Arfin”, Naz memastikan masih ada kehidupan di sana.


“It itu, tadi waktu aku sedang chating sama Kaka, tiba- tiba Bunda mengirim aku pesan ucapan selamat gitu dan saat aku akan membalasnya Ruby mengajak ku ngobrol, saat aku kembali membuka chat nya aku mengetik dan langsung mengirim saja dan tidak memeriksanya kembali, dan ternyata itu malah dikirim ke Kak Arfin, ma maaf ya Kak, aku benar- benar minta maaf sudah mengirim pesan yang kurang sopan”. Naz menjelaskan duduk perkaranya sampai meminta maaf.


“Oh, iya gak apa- apa Naz,, maaf juga ya sudah mengganggu waktu mu, aku tutup dulu teleponnya ya,,,assalamualaikum”. Arfin pun mengakhiri pembicaraannya.


“Wa’alaikmsalam Kak”. Naz kemudian menutup sambungan teleponnya dan bernafas lega.”Yasalam,, sepertinya beberapa hari ke depan aku jangan ketemu dulu sama Kak Arfin deh, malu banget, mau ditaruh dimana muka ku ini, mana chatnya pakai emoticon kiss lagi, hadeuhh”. Naz menepuk jidatnya.


Naz membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memegangi sapu tangan yang tadi diambilnya dari laci lemari “Disini tertera huruf A,, sedangkan Bang Evan namanya kan Nervan “ Naz terus menjungkirbalikkan saputangan itu, namun hurufnya tetap tidak berubah jadi N. Sepertinya otaknya sudah oleng ditambah ia telah melewati hari yang melelahkan kemudian perlahan ia pun tertidur.


***


Sementara di sebuah ruangan tengah duduk seorang pria di kursi kebanggannya memancarkan senyum bahagianya sembari memandangi layar ponselnya, yang mana di sana terdapat foto seorang gadis yang tengah tertawa lepas yang pernah diambilnya secara diam- diam.

__ADS_1


“Naz, kau benar- benar membuatku gila“ Gumamnya.


Arfin POV


Rheanazwa, nama itu benar- benar sudah terukir dan membenam di hatiku, wajahnya selalu terbayang di benakku, aku sudah tidak sanggup menolak gejolak cinta yang terus tumbuh dan menjalar sampai ke akar di relung hatiku. Walau awalnya aku terus menolak keras perasaan yang timbul dan ingin ku kubur dalam- dalam karena aku merasa tak layak baginya, namun saat ku mengenalnya lebih jauh betapa istimewanya dia, ku putuskan untuk terus mengejarnya untuk meraihnya menjadikannya milikku, hanya milikku.


Seorang gadis yang masih belia yang sejak kecil mampu menghadapi kenyataan pahit dalam dan menyembunyikan kesedihannya di dalam sikap ceria, tengil, dan manjanya. Aku ingat saat Bunda memarahinya dulu, kulihat dia sekuat tenaga menahan agar tidak menangis di hadapan Bunda dan sahabatnya, karena tak ingin memperlihatkan kelemahannya, kerapuhannya yang akan membuat orang di sekelilingnya sedih dan mengasihaninya. Tapi entah mengapa di hadapanku dia bisa meluapkan kesedihannya menangis tanpa rasa malu, bahkan pernah dia menangis di pelukanku, mungkinkah dia merasa nyaman denganku?.


Selama ini aku tidak pernah dekat dekan wanita mana pun, bahkan saat sekolah aku hanya memikirkan belajar, bermain dan balapan saja, tak pernah terlintas di benakku memikirkan wanita apalagi Papi sudah menegaskan agar aku lebih mengutamakan sekolah dan belajar jangan pernah mengenal dulu yang namanya pacaran kalau masih numpang hidup sama orang tua. Memang masuk akal sih aturan Papi itu,tidak punya harga diri rasanya seorang pria jika pacaran untuk mentraktir pacarnya makan saja harus meminta uang dulu pada orang tua.


Apalagi setelah kecelakaan yang aku alami saat acara kelulusan SMA dulu dan menyebabkan kaki ku lumpuh bahkan dokter sempat memvonis aku tidak akan bisa berjalan lagi, namun keluarga ku tidak bisa menerima begitu saja dan membawa ku berobat ke luar negri sekalian melanjutkan pendidikan ku di sana. Dalam beberapa bulan sebelum perkuliahan dimulai aku melakukan terapi dan pengobatan rutin disertai tekad ku yang kuat dan akhirnya membuahkan hasil, secara bertahap aku mulai bisa berjalan dengan bantuan crutch , lambat laun bisa berjalan kembali walaupun tidak bisa berjalan dengan normal dan harus menerima kenyataan kaki sebelahku menjadi pincang. Itu menjadikan ku orang yang dingin dan menutup diri dari orang- orang, jangankan untuk mendekati wanita, untuk berbaur dengan teman- temanku pun aku merasa minder dan malu. Arfin seorang anak geng motor yang bandel dan suka berkelahi kawanan preman tiba- tiba menjadi seorang yang cacat ditambah lagi,,, arghhh.


Seberapa kuatnya pun manusia, seberapa besar kehebatan yang di milikinya tetap memiliki satu titik rapuh dalam dirinya. Begitupun yang ku alami, butuh waktu yang tidak sebentar untuk keluar dari titik rapuh itu, dukungan dari orang tua dan keluarga ku sedikit- demi sedikit membuat ku bisa bangkit kembali dari keterpurukan ku, lambat laun aku pun mulai membuka diri berbaur dengan orang di sekelilingku. Yang menjadi prioritas ku hanya lah belajar dengan sungguh- sungguh dan aku pun mencoba peruntungan bekerja di negeri orang hingga aku lulus S2, namun Papi dan Mami terus merengek dan membujukku dengan segala macam cara bahkan sampai Mami jatuh sakit dan meminta ku pulang untuk membantu menjalankan perusahan, dengan segala pertimbangan akhirnya aku pun pulang ke Indonesia.


Bertemu dengan mu merubah segalanya Naz, aku yang dingin dan cuek terhadap wanita bisa mulai luluh dan merasakan yang namanya jatuh cinta. Aku ingin menjadi penyebab kebahagiaan untukmu, membuatmu selalu tersenyum bahagia saat bersamaku, tak akan kubiarkan satu orang pun menyakitimu termasuk diriku sendiri. Aku benar- benar marah saat mengetahui penyebab gadisku menangis di pelukanku saat di sekolahnya, aku sudah berjanji akan memberi orang itu pelajaran. Setelah mendengar penjelasan Ruby mengenai apa yang dialami Naz, kemudian aku meminta Pak Haris untuk menemukan anak yang sudah menghina gadisku dan menyuruhnya minta maaf secara terbuka di hadapan semua orang di sekolah itu, dan ternyata dia adalah keponakan Pak Haris sendiri, bahkan aku meminta anak itu untuk berbohong mengenai perkataanya soal Naz anak pungut adalah karangannya belaka dengan ancaman jika dia tidak bersedia maka dia akan dikeluarkan secara tidak hormat dari sekolah dan aku pastikan dia tidak akan diterima di sekolah manapun.


Naz gadis cantik yang unik dan penuh pesona serta memiliki segudang kebaikan yang tersembunyi dalam dirinya, selain itu dia pun memiliki jiwa sosial yang tinggi. Gadis seumurannya biasanya menikmati masa- masa belianya dengan bermain, hangout, jalan bersama teman- teman sebayanya, lain halnya dengan dirinya yang lebih senang mengisi waktu luangnya dengan kegiatan sosial di teras belajar untuk mengajari anak- anak jalanan mengenal pendidikan sekolah. Saat ku lihat tempatnya terasa kurang layak dan sempit karena keterbatasan biaya yang mampu mereka keluarkan, mereka mengajar dalam waktu bersamaan dengan berbagi tempat hanya menggunakan sekat saja. Tiba-tiba terlintas di pikiranku untuk melakukan sesuatu.


-------------- TBC ----------


******************************


Mohon maaf othor bikin part nya kepanjangan, jadi dibikin dua episode......


Happy Reading......

__ADS_1


__ADS_2