Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Arfin dan Pengakuan Sang Dalang


__ADS_3

Arfin yang tengah melangkahkan kaki pincangnya dengan perasaan yang dipenuhi amarah yang bergemuruh di dadanya, berniat menghampiri orang yang tengah memberi gadisnya penderitaan saat terkurung selama seperempat hari di ruangan musik tempo hari. “Kak Arfin mau kemana?”, tanya Naz yang melihat Arfin hendak pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun dengan raut wajah penuh amarah.


“Aku akan memberi pelajaran pada orang itu dan memastikannya merasakan bagaimana rasanya hampir mati dan juga akan menyeretnya ke kantor polisi agar di membusuk di dalam penjara”, ucap Arfin yang sudah sampai di depan pintu lalu membukanya kemudian hendak melangkah keluar.


“Jika Kak Arfin melakukannya, aku pastikan Kak Arfin tidak akan pernah bisa menemui atau pun mengenalku lagi, aku tidak akan pernah menampakkan diriku di hadapan mu lagi”, ucap Naz yang memberi ancaman, karena hanya itu yang bisa ia lakukan sebagai upaya untuk menghentikan Arfin agar tidak berbuat nekad. Dan benar saja hal itu berhasil menghentikan langkah Arfin yang sudah beranjak melewati pintu. Ia terdiam sejenak, seolah tengah merenungkan perkataan gadisnya itu, kemudian ia menutup pintunya dan kembali masuk, namun ia tak menghampiri Naz melainkan memasuki kamar mandi.


Hal itu membuat Naz bisa bernafas lega karena mampu menghentikan Arfin yang takutnya akan berbuat sesuatu di luar kendali. Terdengar suara air kran dinyalakan, “Mungkin dia sedang berwudhu untuk meredakan amarahnya,”, ucap Naz berdialog sendiri lalu ia mengambil tisu basah dan tisu kering yang ada di lemari kecil di sebelah tempat tidurnya untuk membersihkan wajahnya yang nampak kusut karena habis menangis.


Ceklek ,,, terdengar suara pintu terbuka dan kemudian munculah tiga orang yang datang dan menghampiri Naz, “ Hai sayang, bagaimana keadaan mu hari ini??,,,,Maaf kemarin Papa tidak sempat datang lagi ke sini, karena kesibukan di kantor yang tidak bisa Papa tinggalkan”, ucap nya minta maaf dan kemudian mencium kening Naz.


“Maaf ya Naz, Tante sama Raline baru bisa jenguk sekarang”, ucap Bu Rahmi yang merupakan istri dari Papa nya Naz dan tentunya Mama nya Raline, dengan membawa parcel buah di tangannya.


“Gak apa- apa ko Tante, terimakasih sudah menyempatkan datang kesini bersama Raline juga”, Naz menjawab dengan ramah dan memberikan senyuman kepada Bu Rahmi yang berdiri berdampingan dengan Raline. Setelah menyapa Raline dan mama nya duduk di sofa, sedangkan Papa nya Naz duduk berdekatan dengan Naz sambil ngobrol kecil mengenai kondisi kesehatan Naz.


Arfin yang sejak tadi di kamar mandi yang mencoba menahan amarahnya dengan terus membasuh mukanya dengan air kran lalu keluar, dan ternyata di sana sudah ada orang lain selain Naz.


“Loh, kok ada Arfin disini”, Tanya Pak Syarif heran.


Arfin pun menghampiri Pak Syarif menyapa dan bersalaman dengan beliau,” Iya om,,, tadi saya lagi besuk kemudian Bunda pergi menjemput Om Rizal, karena tidak ada orang yang menjaga Naz jadi Bunda meminta tolong dan menitipkan Naz pada saya sampai beliau kembali”, ucap Arfin menjelaskan.


“ Oh iya, terimakasih ya maaf sudah merepotkan mu Arfin" , ucap Pak Syarif.


“Enggak kok Om,, keluarga Dandy udah saya anggap seperti keluarga saya sendiri Om..”,Ucap Arfin lalu ia menoleh ke arah Raline dan Bu Rahmi yang tengah duduk di sofa, ” Malam Tante, Raline”, sapa nya sambil tersenyum dan mereka pun membalas sapaan Arfin.


“Sayang, mata kamu kok kayak bengkak gitu ?? kamu kenapa??,,,Apa habis nangis hem?”, Pak Syarif bertanya saat memperhatikan wajah Naz.


Naz berpikir sejenak untuk mecari jawaban agar tidak menimbulkan banyak pertanyaan jika ketahuan habis menangisi kejadian yang menimpa Naz dan membuatnya harus dirawat di rumah sakit, “Pah,, aku pengen cepat pulang ,, udah bosen disini terus,, kerjanya cuman makan dan tidur aja,, kebanyakan tidur aku tuh”, Naz menjawab dengan nada manja.


“Iya,, makanya kamu harus cepat sembuh biar bisa cepat pulang, selain banyak istirahat kamu juga harus banyak makan,,,dan kenapa makanannya masih utuh begitu?, kok kamu belum makan?”, Tanya Pak Syarif saat tak sengaja melihat nampan makanan yang masih terbungkus plastik wrapping. ”Dimakan dong sayang, biar kamu cepat sembuh dan cepat pulang,,, Papa suapin ya”.


“Enggak ah Pah,, tadi sore aku udah makan dimsum banyak banget, dan masih kenyang”, ucap Naz yang sesekali melirik pada Arfin yang berdiri di sebelah ujung tempat tidurnya.


“Apa,,, makan dimsum,,memangnya diperbolehkan sama dokter??”, tanya Pak Syarif


“Kenapa enggak,, kan dimsum itu kaya protein isinya daging sama ikan- ikanan laut, pastinya bergizi dong apalagi untuk masa pemulihan “, jawab Naz menjelaskan.


“Yah,, baiklah terserah tuan puteri saja”.

__ADS_1


“Oh iya Pa,, Kak Arfin ini yang udah menemukan aku di ruang musik waktu itu dan udah nolongin aku loh…”, Naz mulai mencari perhatian Papa nya untuk Arfin.


“Oh ya,, terimakasih banyak ya Arfin, saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada Naz kalau kamu tidak menemukannya waktu itu, saya sangat berhutang sama kamu”, Pak Syarif berterimakasih pada Arfin.


“Ah Naz itu berlebihan Om,,, saya bersama ketiga sahabatnya yang menemukan Naz, dan maaf tadi saya menanyakan kronologi kejadian waktu itu pada Naz, makanya tadi Naz merasa sedih karena mengingat peristiwa itu”, Ucap Arfin seolah memberikan jawaban mengenai mata bengkak Naz.


“Iya,, awalnya Om tidak percaya kalau Naz terkunci sendiri di sana, ternyata setelah Om mencari tahu ke sekolahnya, memang benar kalau pintunya rusak dan sebelumnya kuncinya macet kata penjaganya pun, bahkan saat Om ke sana pintu nya sedang diperbaiki”, Pak Syarif menjelaskan.


“Iya, Om saya juga mengira kalau Naz dikerjai oleh seseorang, makanya tadi saya penasaran dan bertanya kepada Naz,,, gak kebayang ya Om kalo ternyata ada seseorang dibalik terkurung nya Naz di ruang musik tersebut, kira- kira apa yang akan Om lakukan pada orang itu ?”, ucap Arfin seakan ingin memberi kode, namun ia langsung mendapat pelototan dari Naz.


“Tentu saja saya akan mencari orang itu walaupun dia sampai bersembunyi ke lubang tikus pun saya pastikan menemukannya dan memberi nya pelajaran yang setimpal dengan penderitaan yang Naz alami, setelah itu baru saya jebloskan dia ke penjara dan memastikannya membusuk di dalam penjara”, Pak Syarif menjawab lalu melontarkan senyuman, “Oh iya, Papi mu mengajak Om kerja sama lagi untuk yang kesekian kalinya, tapi kali ini Om ingin kamu yang menangani projek nya, yang katanya kinerja mu patut diacungi jempol”, pembicaraan beralih ke pekerjaan.


“Papi itu terlalu membesar- besarkan Om,,jangan didengarkan,, saya mah gak ada apa- apanya Om”, ucap Arfin merendah, “Lagi pula untuk sekarang ini saya lagi menangani kantor cabang di Surabaya Om,,, “, tambahnya lagi.


“Jangan suka merendah kamu tuh,,, Papi mu menarik mu pulang karena kamu malah membesarkan perusahaan orang lain di negri orang, sedangkan perusahaan Papi mu sendiri tidak dilirik,, ya sudah nanti Om tunggu kamu selesai di Surabaya dulu baru saya ACC projek nya”, sudah mulai akrab rupanya.


“Sama Abang aja lah Om, dia lebih jago dan berpengalaman lagi pula dia udah lama bekerja di perusahaan Papi, sedangkan saya baru beberapa bulan ini, masih bau kencur Om, hehhee”.


“Pa,,Ma,, aku keluar dulu ya sebentar mau beli sesuatu ke bawah”, Raline bangkit dari duduknya lalu mohon izin untuk pergi.


“Iya, hati- hati sayang”, ucap Pak Syarif.


“Terimakasih banyak ya Arfin,, jangan lupa tawaran Om tadi”, ucap Pak Syarif yang hanya di balas senyuman oleh Arfin. Arfin pun berjalan menuju sofa mengambil tas miliknya lalu pamit dan bersalaman pada Bu Rahmi. Kemudian Arfin bergegas keluar dari kamar tersebut.


Setelah menutup pintunya dari luar Arfin mempercepat langkahnya berusaha mengejar seseorang yang tengah berjalan agak jauh di depannya, saat sampai di dekat sebuah tangga Arfin menarik tangan orang itu dan membawanya secara paksa ke kolong tangga, dan punggung orang itu di tempelkan nya pada dinding tembok kolong tangga tersebut, lalu Arfin mencengkram rahang hingga kedua pipi org tersebut dengan satu tangannya, “Jangan pernah berani- berani menyakiti Naz lagi, atau kau akan menerima akibatnya”, ucap Arfin dengan tegas.


“Ap apa maksudmu, aku tidak mengerti?”, ucap orang itu dengan ketakutan mencoba ngeles.


“Cih,, tidak usah berpura- pura, aku sudah tahu semuanya, kau lah dalang dari pengurungan Naz di ruang musik itu, iya kan?”, Arfin mulai menodong pertanyaan .


“Jangan menuduhku sembarangan, aku tidak tahu menahu tentang kejadian itu”, ucapnya yang masih di cengkraman Arfin.


“Aku tidak akan asal main tuduh jika aku tidak punya bukti, karena semua bukti sudah ada di tanganku”.


“Lepaskan aku, atau aku akan berteriak”, orang itu mencoba berontak melepaskan cengkraman Arfin yg begitu sulit dilepas.


“Teriak saja, aku tidak takut, aku tinggal membeberkan semuanya pada Om Syarif tentang kebenarannya, dan kau dengar sendiri bukan apa yang akan dilakukannya pada pelaku yang sudah mengurung Naz di ruang musik itu,, Raline”. Ucap Arfin dan melepaskan cengkraman nya.

__ADS_1


“Iya aku yang menyuruh orang untuk mengurung Naz di ruang musik,,, lalu Apa mau mu hahh," ucap Raline sambil memegang rahang dan pipinya yang terasa sakit.


“Jangan pernah menyentuh Naz atau pun menyakitinya, atau kau akan menerima balasan berkali- kali lipat dari apa yang kau lakukan", Arfin menunjuk dengan jari telunjuknya ke wajah Raline.


“Kalau aku tidak mau, kau mau apa hahh?, orang pincang sepertimu hanya berani menggeretak saja, hanya pengecut yang beraninya cuma sama perempuan", Raline malah menantang dan mengejek Arfin.


“Beruntung kau perempuan, jika kau laki- laki aku sudah menghabisi mu,, kau belum tahu apa yang bisa dilakukan si pincang ini jauh mengerikan dari yang bisa kau bayangkan, kau bisa tanya pada Kakak mu bagaimana sepak terjang seorang yang pincang ini”, Arfin bicara dengan percaya diri.


"Kau begitu membela Naz si anak perempuan murahan itu,, kau pikir dia akan menyukai pria pincang seperti mu”, Raline malah menghina kedua nya.


“Tentu saja, karena dia berbeda jauh dengan mu, dia wanita berhati baik dan mulia yang bahkan bisa memaafkan orang yang hampir membuatnya kehilangan nyawa,, makanya Papa dan Opa mu lebih menyayanginya dari pada kau bukan”, Arfin mulai menyalakan kompor.


“Jangan sok tahu”, ucapnya kesal.


“Aku sangat tahu, kau sangat iri dengan kasih sayang yang di dapatkan oleh Naz dari keluarga mu terutama dari Papa dan Opa mu bukan,, jika kau berani menyentuh Naz atau melukainya,, aku pastikan kau akan dibuang oleh keluarga mu dan dicoret dari kartu keluarga bahkan dicoret dari daftar ahli waris, camkan itu”, Arfin menegaskan.


“Kau pikir aku tidak tahu itu hanya gertakan saja, aku tidak akan berhenti sampai Naz dibenci lagi oleh Opa dan Papaku tidak mau mengakuinya sebagai anaknya lagi”, ucap Raline kekeh.


“Silahkan saja kau coba sendiri, dan jangan lupa aku masih punya barang bukti kejahatan mu terhadap Naz, aku tidak main- main dengan ucapan ku, kalau perlu sekarang juga aku akan kembali ke kamar tempat Naz di rawat dan memberikan barang buktinya pada Papa mu, dan tamatlah riwayatmu”, ucap Arfin yang kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya dan membuka folder perekam suara , kemudian memperlihatkan layar ponselnya pada Raline, “Satu bukti lagi sudah ku dapatkan”. Ucap Arfin dengan santainya, sedangkan Raline yang sangat terkejut kini merasa ketakutan lalu berusaha merebut ponsel Arfin namun tak berhasil. Arfin pun keluar dari bawah tangga tersebut dan berjalan kembali menuju ke arah kamar Naz, kemudian Raline yang sempat diam mematung pun segera mengejarnya dari belakang


“Jangan, jangan aku mohon jangan serahkan itu pada Papa,,,”, Raline yang tadi penuh percaya diri kini pun akhirnya merasa ketakutan sambil mengikuti Arfin yang terus berjalan. Raline memegang tangan Arfin dan berusaha mengehentikan langkahnya, “Ku mohon please, jangan berikan rekaman itu pada Papa, aku mohon”, Arfin yang tampak penuh amarah masih tidak menggubris permohonan Raline, dan sampailah mereka di depan pintu kamar dimana Naz di rawat


”Baiklah, aku janji tidak akan mengganggu atau pun menyakiti Naz lagi,, tapi aku mohon jangan berikan rekaman itu pada Papa,,aku tidak mau kalau keluargaku tahu mengenai hal ini apalagi Opa”, Ralin memohon hingga menangis.


Ceklek ,,, Arfin membuka pintu kamar dan bergegas masuk ke dalam,,, Raline sangat terkejut dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya, lalu ia menghapus air matanya dan mengikuti Arfin yang sudah masuk dan menghampiri Naz di tempat tidurnya. “Loh, kok kamu balik lagi Arfin, bukannya tadi sudah pamit untuk pulang?”, tanya Pak Syarif yang merasa heran.


“Maaf Om,,, sebenarnya tujuan saya kembali lagi untuk……”, Belum selesai Arfin berbicara ponsel milik Pak Syarief berdering.


“Maaf ,, sebentar ya Arfin, Om angkat telepon dulu”, ucap Pak Syarif bangkit dari duduknya dan bergegas menuju keluar kamar untuk menerima panggilan teleponnya.


-------------- TBC ---------------


******************************


Akhirnya ketemu juga dalang nya,,, eh ari pelaku ke mana.... ??


Happy Reading.... 🥰😘

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejakmu.... 😉🥰


__ADS_2