
Tak terasa tiga minggu sudah Naz menjalani hari- hari dengan status barunya sebagai seorang istri dari lelaki pujaan hatinya, Arfin. Naz pun menjalankan satu persatu wejangan dari sang Mama untuk menjadi istri yang baik, patuh dan berbakti pada suaminya.
Semenjak pasangan pengantin baru ini pindah ke Surabaya, Arfin malah disibukan dengan pekerjaannya yang membuatnya selalu pulang larut malam. Naz yang awalnya merasa kesal dan marah, kini mulai bisa menerima setelah sang Mama mengingatkannya akan tugas seorang istri, dimana salah satunya adalah saling mendukung, sehingga beliau meminta Naz agar memberi dukungan pada suaminya dalam menjalankan pekerjaan yang merupakan mata pencahariannya untuk menafkahi keluarga kecil mereka yang baru dibangun itu, demi menjaga keutuhan rumah tangga mereka.
Setiap hari Naz selalu mengantarkan makan siang untuk suaminya ke kantor sehingga mereka bisa makan bersama, yang penting Naz masih bisa bersama suaminya walaupun ia sedang bekerja. Tapi, Naz selalu diminta untuk pulang setelah ashar, karena suaminya tak ingin naz menungguinya sampai ia lembur kerja, malahan ia menyuruh Naz untuk main ke rumah Tantenya agar di rumah tidak merasa bosan dan kesepian. Dan itu sudah menjadi kebiasaannya dalam dua minggu terakhir, sepulang dari kantor Arfin, Naz akan pergi ke rumah Tantenya untuk main bersama Aliya atau hanya sekedar ngobrol dengan Tantenya atau pun Dinda, adik sepupunya. Ia akan pulang setelah shalat magrib.
Namun, kali ini ia tidak pulang sampai magrib. Tiba- tiba ia ingin cepat kembali ke rumah nya, kemudian ia pun berpamitan dan pulang dengan berjalan kaki, karena jarak rumahnya dari rumah Tante Ina cukup dekat.
Saat baru sampai di tikungan jalan menuju rumahnya yang terhalang oleh empat rumah, ia melihat seseorang keluar dari dalam taksi. Kemudian Naz bersembunyi di balik pohon besar untuk memperhatikan orang itu, dan betapa terkejutnya saat ia melihat wajah orang tersebut yang memasuki pintu gerbang rumahnya.
Setelah taksi itu pergi, Naz melanjutkan perjalanannya menuju rumahnya dengan mempercepat langkahnya. Saat sampai di depan pintu Naz mendengar pembicaraan orang itu dengan salah satu asisten rumah tangganya. Naz merasa heran dengan apa yang ia dengar, kemudian terlintas ide di pikirannya untuk masuk lewat pintu belakang agar ia bisa masuk diam- diam, ia pun pergi lewat halaman samping. Ia kembali terkejut melihat ada yang masuk ke kamar tamu saat ia lewat persis di depan jendela kaca, orang itu nampak menutup pintu kamar.
Naz akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah Tantenya dengan melangkah gontai dan penuh tanda tanya. Sesampainya di sana, Tantenya yang merasa heran pun tidak banyak bertanya karena melihat raut wajah Naz yang nampak bingung. Tak lama ia pun menghubungi seseorang dan berbicara sebentar.
Seperti biasa ia pun pulang ke rumahnya setelah melaksanakan shalat magrib. Setelah mandi dan berganti pakaian ia pun makan malam di temani oleh dua asisten rumah tangga nya yang sudah menjadi kebiasaanya pula dalam dua minggu ini. Naz pun bersikap normal seperti biasanya, walau sebenarnya di benaknya timbul berbagai pertanyaan.
Naz kembali ke kamarnya, dan saat melihat ponselnya ternyata ada pesan dari geng nya.
The Bontot Unyu
Andes Mami
“Assalamu’alaikum wahai para anak bontot dari emak bapak kalian”
Ruby Marisol
“Wa’alaikumsalam”
Kiara Rossi
“Wa’alaikumsalam”
“Gimana sehat semua?”
Andes Mami
“Alhamdulillah ya,, sesuatu".
Ruby Marisol
“Alhamdulilah masih bertahan hidup”
Naz
“Wa’alaikumsalam”
“Alhamdulillah kabar baik”
Kiara Rossi
“Hai pengantin baru,, meuni gak kecet- kecet euy”
“Mentang- mentang udah punya mainan isi kolor”
“Hahahahaha”
Ruby Marisol
“Iya nih,,, gimana rasanya dibobol gawang?”
“Eh kata kakak gue rasanya sakit, perih , panas,, bener gak sih Naz?”
Naz
“Apaan sih kalian,, itu mah rahasia perusahaan”
“Cepet nikah sana gih, biar nyaho rasanya”
Andes Mami
“Kalian apaan sih ngomongin gitu, aku kan enggak perawan ih”
Ruby Marisol
“Astoge Andes, lo udah jebol?? Yassalam”
Kiara Rossi
“Siapa yang udah gila ngambil keperawanan lo, Des?”
“Apa dia orang gila yang suka berkeliaran tanpa pakaian di pinggir jalan itu?😂🤣"
Andes Mami
“Ih jijay bajay deh Kiara”
“Aku kan laki jadi enggak perawan yeyy”
Ruby Marisol
“Iya.. lo mah laki setengah jadi”
“Naz ,,, gue kangen banget sama lo ih”
Naz
“Andes setengah laki setengah siluman,, hahaha”
“Kangen gimana?”
“Orang beberapa hari lalu kita chatingan”
Ruby Marisol
“Kangen ngumpul tahu gak”
“Kita di sekolah cuman bertiga aja”
“Hampa rasanya gak ada lo”
“Kenapa musti nikah cepet- cepet sih?”
“Kan bisa ntar kalau udah kuliah nikahnya”
Kiara Rossi
“Iya Naz,, gue juga kangen banget sama lo”
Andes Mami
“Apalagi aku,, nanti kalau ketemu aku mau meluk kamu sepuasnya ah Naz".
Naz
“Eh,, jangan dong Des,,”
__ADS_1
“Entar kalau lo meluk gue, bisa- bisa lo di gantung sama suami gue”
“Yah gimana lagi atuh By,, udah jodohnya nikah cepat- cepat”
“Tapi enak sih, bisa sama- sama terus dan mau ngapain aja bebas gak usah takut dosa atau takut ketahuan”
“Kalian pada kesambet apa sih?”
“Perasaan kemaren- kemaren kalian gak nanya- nanya soal begituan”
“Kok sekarang pada ngeres sih?”
Ruby Marisol
“Ya kan kemaren- kemaren kita belum berani nanya gituan, karena kita tahu lo lagi mens pas nikah tuh”
“Kita kan kalo mens suka barengan cuman beda sehari doang”
"Lagian kita chat seminggu yang lalu keleus"
Andes Mami
“Naz tahu gak, gossip tentang lo semakin melebar luas”
Naz
“Gosip apaan?”
Kiara Rossi
“Andes, mulut lo ya,, gue lem juga lama- lama”
Ruby Marisol
“Andes lo ember banget sih”
Andes Mami
“Upsss,,,, Sorry,,, keceplosan”
Naz
“Gosip apaan sih?”
“Kalian nyembunyiin apaan dari gue?”
“Ayok bilang !!!”
Andes Mami
“Udah lah guys udah kepalang tanggung nih”
“Jadi gini Naz,, di sekolah tuh beredar gossip kalau lo itu MBA”
Naz
“Hah.. MBA??”
“Yaelah,, gossip macam apa itu?”
“ gue baru daftar kuliah dan belum masuk aja masa iya udah dapat gelar MBA?”
Ruby Marisol
“Hadeuh,,, bukan itu maksudnya oneng markoneng oon nya gak ketulungan”
“MBA itu singkatan dari Married By Accident”
Naz
“Lahh,,, itu makin ngaco”
“Gue mah gak pernah ngalamin kecelakaan kali, gak pernah keluyuran naik motor atau mobil, orang sebelum nikah dipingit mulu”
Kiara Rossi
“Astaga naga ,, lo bener- bener oon ya”
“Maksudnya kecelakaan disini bukan lo tabrakan atau jatuh atau ketabrak kendaraan tapi maksudnya itu lo hamil di luar nikah”
Naz
“Whatt??”
“Siapa itu yang nyebarin gossip murahan kayak gitu?”
Andes Mami
“Kita juga gak tahu dari mana asalnya gossip itu, tahunya udah menyebar luas “
“Terus ya,, mereka juga bilang kalau lo selama ini jadi dapat peringkat satu dan udah dua kali jadi juara umum karena lo pacaran sama anak pemilik yayasan sekolah”
Naz
“Yassalam,, kenap kalian baru bilang sekarang?”
Ruby Marisol
“Kita gak mau merusak momen bahagia lo dengan gossip murahan ini”
“Lagian kan semua itu gak benar, lo nyantei aja Naz”
Kiara Rossi
“Iya Naz,, kita juga udah jelasin ke mereka saat denger mereka bergosip soal lo”
“Bahkan kita sampai bilang kalau saat lo nikah lagi mens, dan mereka pun langsung diam”
Andes Mami
“Gak kebayang deh kalau Kak Arfin tahu soal gossip ini”
“Pastinya pada dikeluarin dari sekolah tuh yang nyebar gossip yang gak bener itu”
Naz
“Aduhh,, jangan dong,, jangan sampai suami gue tahu”
Ruby Marisol
“Anjay,,, yang udah punya suami,, manggilnya udah gak pake Kak Arfin lagi”
Naz
“Eh udah dulu ya, mertua gue nelpon,,,”
__ADS_1
“Babhay,,,”
“Assaamu’alaikum”
Naz pun mengakhiri chating dengan genk nya itu, lalu mengangkat telpon dari Mami mertuanya yang ternyata menanyakan soal keberangkatannya besok ke Jakarta, dan Naz diminta untuk menginap di rumah beliau, juga di sana sudah disiapkan kebaya untuk acara perpisahan di sekolah Naz lusa.
Setelah selesai berbicara di telpon, Naz shalat dan tidur lebih awal, supaya besok saat bangun tubuhnya merasa segar. Arfin pun datang saat tengah malam, ia pergi ke kamar mandi lalu berganti pakaian, ia barbering sambil memeluk istrinya yang tidur menyamping dan membelakanginya.
“Maaf sayang”, ucapnya lalu mengecup kelapa sang istri, tanpa ia duga Naz membalikan tubuhnya, lalu memeluknya, kemudian Naz mecium bibir suaminya dengan tangan yang meraba- raba pada tubuh suaminya. Awalnya Arfin pun membalas ciuman dan menikmatinya, namun merasakan tangan Naz yang terus menggeranyangi dada hingga lehernya, ia menghentikan ciumannya dan menghentikan kegiatan tangan Naz.
“Maaf sayang,,, Aa capek banget,,, kita tidur aja ya, besok kan kita akan berangkat dengan penerbangan pagi”, ucapnya lalu mengecup kening istrinnya itu. Naz kembali mengubah posisi tidurnya ke semula, menyamping dan membelakangi suaminya, ada rasa kecewa yang dirasakannya saat ia menginginkannya namun suaminya seolah menolak dirinya.
**
Keesokan harinya, Naz bangun dengan perasaan kesal yang masih menggendok di hatinya. Selama perjalanan ke Jakarta pun ia hanya diam saja, meski Arfin sudah beberapa kali meminta maaf dan membujuknya, namun ia tetap merasa kesal.
Sesampainya di kediaman keluarga Arfin, keduanya disambut gembira oleh Bu Hinda.
“Haii,, sayang,,,Mami kangen banget sama kamu,,,, “, sapa beliau yang langsung memeluk menantunya itu, “Ayok masuk”, ajak beliau tanpa memperdulikan anaknya sendiri, “ Gimana sayang,, kamu betah gak tinggal di Surabaya”, tanya beliau yang kini duduk bersebelahan di kursi ruang tamu bersama Naz.
“Alhamdulillah betah Mami,,, aku juga kangen sama Mami”.
“Dia gak nyakitin kamu kan?”, tanya Mami sambil merilik ke arah Arfin yang duduk di kursi yang hanya terhalang oleh meja. “Kamu jangan sungkan aduin ke Mami ya kalo dia macem- mecem sama kamu ya, sayang”.
“Kaka Nanas…..!!! ”, teriak Nala yang berlari menuju ruang tamu untuk menghampiri Naz yang diikuti oleh Maira yang membawa nampan berisi empat cangkir teh dan sepiring kue. Maira menyapa Naz dan saling cipika- cipiki, sedangkan Nala langsung berdiri di dekat Naz minta digendong.
“Hai Nala,,, kamu makin unyu aja ih”, ucapnya lalu menggendong Nala dan mendudukannya di pangkuannya.
“Kaka mana?”, tanya Nala.
“Mana apanya?”, Naz balik bertanya.
“Kata Papa, Kak Nanas mau bikin dede bayi, mana dede bayi nya?”, tanya Nala dengan polosnya dan mengundang tawa semua orang.
“Nala,,, bikin dede bayi itu gak seperti bikin kue, tinggal mixer bahan- bahan terus panggang jadi deh,,, bikin dede bayi itu butuh waktu lama”, Bu Hinda menjelaskan.
“Oh,,,emang bikinnya gimana, Nena? Kok lama sih?”, Nala kembali bertanya.
“Aduh,, si Abang ini gimana sih,,, pakai ngomong soal bikin dede bayi segala,, kan repot ini ngejelasinnya gimana, udah tahu anakmu ini kepo-an kayak Mami”, Mami menggerutu kesal pada Nervan yang tidak ada di sana.
“Nala,, sini sayang,,, Kak Nanaz kan baru sampai, pasti masih capek,, Nala lanjutin aja mewarnai gambarnya yuk”, ajak Maira mengalihkan perhatian.
“Iya, Naz,,, kamu istrirahat dulu gih sama suami mu,,, nanti kita ngobrol- ngobrol lagi”, titah sang Mami , Naz dan Arfin pun beranjak lalu berjalan menuju kamar mereka dengan koper yang dibawakan oleh salah satu asisten rumah tangga di rumah itu.
Setelah masuk ke dalam kamar dan ART pun meninggalkan mereka seusai menyimpan koper di dalam kamar, Arfin memeluk istrinya dari belakang saat keduanya berdiri di depan samping tempat tidur, “Sayang,,, udah dong ngambeknya,, Aa benar- benar minta maaf”.
Naz langsung melepaskan pelukan Arfin darinya, “Aku capek, mau istirahat”, ucapnya dengan nada kesal, namun Arfin menarik tangan Naz yang kemudian jatuh ke pelukannya, ia mencium bibir ranum istrinya itu. Naz yang awalnya berontak malah menikmati ciuman mereka, hingga Arfin menjatuhkan Naz ke atas tempat tidur, ia pun menerkam Naz dengan posisi seperti hendak merangkak, ia menciumi leher istrinya dan menjalar kemana- mana.
Ceklek …. Terdengar suara pintu terbuka.
“Om Apin Ipin lagi ngapain kak Nanas ?”, teriak Nala saat melihat tubuh Arfin merengkuh di atas tubuh Naz. Keduanya yang merasa terkejut langsung menyudahi kegiatannya, dan Arfin pun langsung bangun dan berdiri, begitu juga Naz.
Nala menghampiri mereka lalu mendorong kaki Arfin, “Om Apin Ipin jahat,,, “. Nala bekecak pinggang.
“Ya ampun,,, anak ini apalagi sih… main slonong boy aja masuk kesini”, gerutu Arfin dalam hati.
“Om Apin Ipin mahu makan Kak Nanas ya? telnyata Om benal- benal mostel halimau”, tanyanya kesal.
“Nala,, bukan begitu sayang,,, tadi itu Om cuman gelitikin Kak Nanaz aja,, bukan memakannya”, Arfin menyangkal.
“Bohong,,, Nala ndak pelcaya lagi sama Om”, Nala benar- benar marah pada Om nya lalu ia memeluk Naz yang malah tersenyum melihat kelakuan Nala.
Sejak saat itu Nala tidak mau lepas dari Naz, karena ia takut kalau Naz akan dimakan oleh Om nya, malahan malam nya pun Nala tidur di kamar mereka bersama Naz, dan tidak ada lagi yang bisa membujuknya termasuk ancaman Papa nya pun sudah tidak mempan. Sedangkan Arfin tidur di sofa yang ada di kamar tersebut, karena dilarang tidur dengan Naz.
**
Pagi-pagi Naz tengah bersiap untuk menghadiri acara perpisahan sekolah di SMA Dharma Bangsa, ia memakai kebaya dengan bawahan kain batik yang sudah dipesankan oleh Mami mertuanya, dan Arfin pun menggunakan batik yang senada. Setelah selesai didandani oleh penata rias khusus sejak subuh tadi hingga Naz tak sempat sarapan. Entah kenapa Naz merengek ingin naik motor kesayangan suaminya yang ada di garasi, semua orang melarangnya karena ia sudah dandan cantik juga pakai rok, tapi dia tetap bersikeras ingin naik motor karena belum pernah dibonceng oleh suaminya. Akhirnya daripada mereka terlambat, Arfin pun memenuhi keinginan istrinya, sedangkan orangtuanya naik mobil. Kali ini Nala tidak ikut karena Maira takut jika Nala akan mengacau dan beruntung anaknya masih tidur saat Arfin, Naz, dan Papi Mami nya berangkat.
Sesampanya di sekolah Naz langsung menemui ketiga sahabatnya dan melepas rindu pada mereka, dan ternyata Ayah dan Bunda Naz pun ikut hadir. Naz pun menyapa kedua orang tuanya dan merasa sangat bahagia melihat Bunda nya yang sudah tidak menggunakan kursi roda lagi. Namun sayangnya, Papa dan Mama Naz tidak bisa datang karena menghadiri acara perpisahan di sekolah Raline yang kebetulan di hari yang sama.
Setelah perwakilan orang tua murid kelas 3 beserta tamu kehormatan telah menduduki kursi yang sudah disediakan, acara pun dimulai dengan beberapa pembukaan kemudaian dilanjutkan dengan upacara adat yang dipimpin oleh paman lengser dengan tarian empat penari jaipong, mepat penari umbul- umbul, serta dua penari payung pengantin. Kemudian kepala sekolah beserta guru- guru dan murid kelas 3 digiring oleh paman lengser beserta para penari untuk memasuki aula pelaksanaan acara perpisahan, dan mereka pun duduk di kursi yang sudah disediakan sesuai kelas masing- masing.
Susunan acara telah dilaksanakan satu persatu, dan kini memasuki acara pengumuman dan pemberian hadiah pada murid berprestasi. Dan ternyata nama Rheanazwa kembali dipanggil sebagai juara umum pertama di kelas tiga. Semua orang pun bertepuk tangan, Naz pun dipersilahkan menaiki panggung dan berkumpul bersama 8 juara umum lainnya dari tiap tingkatan kelas. Dan seperti biasa, Kepala Sekolah dan ketua Yayasan pun dipanggil untuk memberikan hadiah penghargaan kepada para murid yang berprestasi tersebut.
Setelah selesai, Pak Ahmad Latief meminta waktu kepada MC untuk menyampaikan suatu hal. Beliau berdiri bersama Naz disampingnya.
“Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakaatuh,,, selamat siang, salam sejahtera para hadirin yang saya hormati. Saya selaku ketua Yayasan yang menaungi SMA Dharma Bangsa ini mengucapkan terimakasih kepada Kepala Sekolah dan guru- guru yang telah mendidik dan membimbing murid- murid dengan sangat luar biasa, sehingga sekolah ini mampu melahirkan bibit- bibit unggul yang berprestasi baik itu di bidang akademik maupun non akademik. Saya merasa sangat bangga karena setiap tahunya murid yang berprestasi semakin bertambah dan untuk tahun ini pun banyak murid yang diterima di perguruan tinggi terbaik melalui jalur prestasi, baik itu di dalam maupun di luar negeri. Mari kita berikan up close untuk guru- guru dan para murid yang hebat ini”, ucapnya yang kemudian gedung aula ini pun dipenuhi dengan gemuruh tepuk tangan dan sorakan gembira .
“Jujur saya tidak bisa berkata apa- apa lagi saking bangganya pada kalian semua, dan tentunya saya juga bangga pada murid berprestasi yang berdiri di samping saya ini, selain pintar, cerdas juga sangat cantik,,, bagaimana ? apakah kami cocok untuk bersanding?”, ucapnya sambil merangkul Naz yang tentunya mengndang gelak tawa semua orang.
“Cocok lah ya, tapi sebagai mertua dan menantu,,,“, ucap beliau lagi dan membuat orang- orang yang belum tahu terkejut mendengarnya, “Iya,,, gadis ini,, eh maaf wanita cantik yang berdiri di samping saya ini yang bernama Rheanazwa Eleanoor Harfi, tidak lain adalah menantu saya, dan istri dari putra bungsu saya, Arfin…. Mungkin kalian terkejut mendengar kalau Rheanazwa ini sudah menikah, memang benar ia sudah menikah tanggal 4 juni kemarin dan itu setelah ia melaksanakan UN dan mendapatkan surat dari dinas pendidikan dinyatakan Lulus dari sekolah ini, hanya tinggal menunggu acara perpisahan ini saja. Saya mengatakan hal ini karena saya tidak mau orang- orang beranggapan bahwa di sekolah ini murid- muridnya diperbolehkan menikah saat masih berstatus pelajar, jadi saya tegaskan Rheanazwa ini tidak melanggar peraturan yang ada di sekolah ini, ia menikah setelah melepas atributnya sebagai pelajar di sini karena sudah dinyatakan Lulus, satu bulan sebelum menikah”, ucapnya dengan nada serius.
“Ada satu hal lagi yang ingin saya luruskan disini mengenai berita simpang siur mengenai menatu saya ini, yang mengatakan ia menikah karena kecelakaan dan ia mendapat peringkat 1 karena hubungannya dengan putra saya, itu tidak benar. Bisa di croscheck ya, dia ini dari SD juga sudah berprestasi, bahkan ia masuk SMA ini pun lewat jalur prestasi dan ia berhasil mendapatkan beasiswa dengan kerja keras dan usahanya sendiri bersama 9 murid lainnya yang beruntung. Ia pun sudah lulus masuk ke perguruan tinggi di Surabaya lewat jalur SNMPTN, dan dua minggu lalu sudah melakukan daftar ulang, jadi prestasinya di sekolah ini tidak ada kaitannya dengan putra saya. Dan untuk masalah pernikahan, kalian pun bisa mengeceknya ke KUA tempat mereka mendaftarkan pernikahan, di sana ada surat keterangan dari medis yang menyatakan Naz tidak sedang dalam keadaan hamil, bahkan saat menikah ia sedang berhalangan, maaf,,,
Jadi semua isu itu tidak benar, dan bagi yang masih menyebarluaskan kebohongan itu kami akan bertindak lewat jalur hukum atas tuduhan pencemaran nama baik,,, Demikian sedikit penyampaian dari saya, mohon maaf apabila ada perkataan saya yang kurang berkenan, terimakasih,,, wassalamu’alaikum warrohmatullohi wabarakaatuh", ucap beliau mengakhiri.
“Terimakasih Papi”, Naz tersenyum bahagia pada mertuanya.
“Ayok kita turun”, ajak beliau.
Mereka pun turun dari panggung dan kembali duduk ke tempat masing- masing. Acara pun dilanjutkan sampai selesai.
Setelah bubar Naz bersama keluarga dan ketiga sahabatnya pergi ke sebuah restoran untuk makan- makan di sana, Raline dan orang tua serta kakak- kakak nya pun datang kesana untuk merayakan keberhasilan Naz juga Raline di sekolah, dan tentunya Naz masih minta naik motor menuju ke restoran tersebut.
“Papi kok gak bilang sih soal gossip yang beredar di sekolah Naz”, tanya Arfin yang sudah duduk di kursi dengan meja yang sudah digabungkan sehingga memanjang.
“Sekali- kali dong Papi jadi pahlawan untuk istrimu, Al”, ucapan Pak Latif mampu mengundang tawa semua orang di meja.
“Dek,, kamu kok kayaknya lemas gitu, kenapa?”, tanya Bunda yang memperhatikan gelagat Naz.
“Gak tahu Bunda,,, kepala aku juga rasanya pusing,, mungkin karena tadi belum sarapan”, jawab Naz sambil memijat kepalanya.
“Apa?? Kok bisa sih, Dek,, kamu kan punya penyakit maag,, jangan suka telat makan”, cerocos Bunda.
“Gak selera Bunda,,, ditambah tadi tukang rias datangnya subuh- subuh banget,, eh,, sebentar,, aku ke toilet dulu ya Bunda”, Naz bangun dari duduknya.
“Mau kemana Naz?”, tanya Ruby
“Mau ke toilet,,, mau ikut?”. tanya Naz ngasal.
“Iya,, gue kebelet nih,,, yuk kita kesana”, Ruby pun pergi bersama Naz ke toilet, dan setelah beberapa saat mereka pun kembali. Ruby duduk lebih dulu, Naz berjalan perlahan menuju tempat duduknya sambil memijat kepalanya.
Brukk.... Naz hilang keseimbangan lalu ia tak sadarkan diri dan tergeletak di lantai.
"Naz..... !!!", teriak semua orang terkejut, Arfin segera menghampiri Naz, kemudian menggendongnya dan ia diarahkan untuk masuk ke ruangan manager untuk membaringkan Naz di sofa ruangan tersebut, diikuti oleh orang tua keduanya, Ruby pun turut membuntuti.
"Sayang,,, sayang,,,, bangun", Arfin menggoyangkan pipi Naz, namun ia tak kunjung sadar. "Kenapa kalian diam saja,,, cepat panggilkan dokter", teriak Arfin karena panik.
Pak Rizal yang baru saja dari toilet segera menghampiri putrinya yang pingsan itu. " Ada apa ini? kanapa Naz bisa sampai pingsan begini?", tanya beliau lalu mulai memeriksa keadaan Naz.
"Tadi dia merasa pusing dan eneg katanya Om,, dan saat di toilet Naz muntah- muntah ", Ruby yang menghampiri.
"Apaa???", semua orang bertanya serentak.
------------ TBC ----------
__ADS_1
**********************
Happy Reading....