Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Ternyata Itu Wanita Pacarnya Kak Arfin


__ADS_3

Suasana terasa hening dan sepi,, rasa hangatnya selimut menyelubungi tubuh Naz yang masih memejamkan matanya dan anteng di alam mimpi. Jemarinya mulai bergerak, perlahan ia membuka matanya. Hal yang pertama dilihatnya adalah langit- langit atap sebuah ruangan, kemudian ia mengedarkan pandangannya perlahan, dan ia baru menyadari bahwa ia sedang berada di sebuah kamar, namun ini terasa asing baginya.


“Emhhh,,,, dimana ini??”, ucapnya merasa bingung, lalu ia memegang kepalanya yang terasa pusing, dan saat melihat pakaian yang dikenakannya, ia merasa terkejut, “Astaga,,, kenapa aku pake baju ini?? Perasaan tadi gak pakai baju ini??”, ucapnya bertanya- tanya, lalu ia membekap mulutnya, “Yassalam,,,, tadi kan aku kejebur ke kolam renang,,, terus tahu- tahu Kak Arfin mencium ku,,, ehh,,, memberiku nafas buatan,,, terus ini???,,,, arghhh,,, apa dia yang menggantikan pakaianku,,, hahhhhhh,,,”, Naz merasa terkejut dan marah,


“Kurang ajar,,, awas kau ya,,,beraninya melakukan ini padaku,,, “, Naz bangun lalu menurunkan kedua kakinya ke lantai sambil memijat kepala yang masih agak pusing dan ia hendak beranjak keluar dari kamar tersebut. Ia pun berdiri dan melangkah,,, gedebuk….. “Awww,,,,, kakiku sakit sekali,,,, oh ya ampun,, ini pasti gara- gara tersandung tadi”, ucap Naz yang kemudian ngesot menuju pintu karena ia tak sanggup untuk berdiri, saat hendak sampai ada yang membukakan pintu.


Ceklek …. “Ya ampun Dek,, kamu teh ngapain duduk di lantai gitu?”, Tanya Bunda yang terkejut melihat Naz.


“Aku tadinya mau keluar,,, tapi kaki ku sakit dan gak kuat berdiri,, jadinya aku ngesot,,,”, jawab Naz.


“Ada apa Bunda?”, tanya Arfin yang tiba- tiba datang.


“Ini Ar,,, Bunda kaget lihat Naz aneprok duduk di lantai gini,,, ternyata dia teh mau keluar tapi gak bisa jalan karena kakinya sakit ceunah…”, Bunda menjelaskan pada Arfin, lalu berjongkok, “Ayok atuh Bunda bantu kamu bangun,, mending kamu teh balik lagi aja ke tempat tidur”, ucap Bunda.


“Biar ku bantu Bunda…”, Arfin menawarkan bantuan dan melangkah mendekati Naz.


“Gak usah sama Bunda aja,,,”, tolak Naz dengan nada jutek, Arfin pun mengurungkan niatnya untuk membantu Naz. Kemudian Naz dibantu bangun oleh Bunda dan dipapah berjalan ke tempat tidur, namun baru saja satu langkah, Naz tidak kuat berjalan dan setelah mencoba lagi, ia masih tidak kuat berjalan karena kaki kanannya merasa sakit.


“Dek, udah atuh dibantu sama Arfin aja ya,,, sama Bunda mah gak kuat mapah kamu jalan”, ucap Bunda.


“Gak usah,, biar aku ngesot lagi aja,,,”, ucapnya yang kemudian duduk kembali di lantai, namun Arfin yang melihatnya begitu tidak tega, akhirnya turun tangan, ia berjongkok lalu merangkul tubuh Naz dan hendak menggendongnya. “Iiiihhh… lepasin ,, gak usah gendong aku”, ucap Naz berontak, namun Arfin tak menghiraukannya.


“Adek,,, udah kamu mah diam saja,, ngahenen wae,, nanti kamu teh jatuh kalau terus berontak dan malah kakinya akan lebih sakit,, mending kamu teh di gendong sama Arfin daripada ngesot, kayak hantu suster ngesot aja kamu ih,, amit- amit geulis- geulis ngesot”, cerocos Bunda, dan Naz pun akhirnya hanya bisa pasrah.


Arfin pun menggendong Naz untuk kembali dibaringkan di tempat tidur, saat Arfin melangkahkan kakinya dengan terpincang- pincang, Naz terus memandang lekat wajah Arfin dengan tatapan sendu,


”Aku sangat merindukan wajah ini yang biasanya selalu menghiasi hari- hariku, aku sangat merindukan senyuman mu, aku sangat merindukan saat kau memarahiku karena kejahilanku, aku sangat merindukan tawa canda bersama mu, aku sangat merindukan semua yang ada pada dirimu, aku sangat merindukanmu,,,, tapi,,,, sekarang kau bukan milikku lagi dan sudah jadi milik orang lain,,,”, lirih Naz dalam hati, lamunannya terbuyar saat Arfin membaringkan dirinya di atas tempat tidur, Naz pun langsung memposisikan tubuhnya berbaring kesamping sehingga membelakangi Arfin, karena ia ingin menyembunyikan air matanya yang jatuh begitu saja membasahi pipinya, kemudian ia segera menghapusnya menggunakan telapak tangannya.


“Dek,,, Bunda mah kok heran ya,,, itu kan kolam renang cuman satu setengah meteran dalamnya, tapi kok kamu teh bisa tenggelam,,, tinggi badan mu kan 170 cm,, atuh lebih tinggi kamu, Dek,,,”, tanya Bunda.


Naz menghela nafas panjang untuk menstabilkan perasaanya yang sempat baper, kemudian ia bangun dan duduk menyandar pada sandaran ranjang dengan posisi kaki berselonjor, “Emm,,,, tadi waktu aku mau ngejar Aliya, aku tersandung dan kaki ku yang sebelah kanan sakit banget, kayaknya terkilir,,, saat aku di pinggir kolam hendak mengambil air untuk mencuci tanganku karena kotor kena tanah, Aliya mengagetkanku dan aku kehilangan keseimbangan,,makanya jatuh ke kolam renang, dan posisinya kepala dulu yang jatuh, pas mau berdiri kaki ku yang sakit susah digerakkan,,, makanya aku kelelep ditambah gak bisa berenang”, Naz menceritakan kronologi musibah yang dialaminya.


“Ya ampuunn,,,, untung aja ada Arfin, dek”, Bunda merasa lega setelah terkejut mendengar penjelasan Naz yang tenggelam, “Terimakasih banyak ya Ar,,, kamu teh sudah menyelamatkan anak tengil ini”, ucap Bunda pada Arfin, lalu mengalihkan pandangan pada Naz, ”Dek,, kamu juga harus berterimakasih sama Arfin,,,”, titah Bunda.


Naz menatap kesal pada Arfin, karena teringat insiden nafas buatan dan pakaian yan ia kenakan “Dih,, ngapain harus berterimakasih sama dia,, yang ada aku harusnya marah sama dia, seenaknya aja ngambil kesempatan dalam kesempitan,,,main ngasih nafas buatan segala lagi,,, dasar modus”, gerutu naz dalam hati.


“Adek,,, kamu teh dibilangin sama Bunda, malah bengong,,“, ucap Bunda kesal.


“Iya ,,makasih”, ucapnya dengan nada jutek.


“Ehhh,,, gak oleh gitu atuh,,, yang ikhlas ngomong terimakasihnya,, dia aja ikhlas nolongin kamu”, ucap Bunda sambil menabok kaki Naz.


“Aduhh,,, sakit Bunda,,, kaki ku yang itu sakit banget”, Naz meringis.


“Yang mana yang sakit?? “, tanya Bunda kaget.


“Kaki kanan ku Bunda,,, kan aku udah bilang tadi terkilir”, ucapnya, kemudian Arfin mendekat memegang kaki kanan Naz, “Ih,,mau ngapain,,,”, tanya Naz curiga.


“Biar ku bantu pijat,,, supaya gak sakit lagi”, ucap Arfin.


“Ihh,, gak usah,, biar manggil tukang pijat aja,,,”, tolak Naz.


“Tukang pijat dimana ari kamu ih,,, ini sudah malam,,, mau cari kemana,,,?? Udah diam saja,, biar dibantu sama Arfin,,, kamu mah mau ditolongin juga malah jebras jebris gitu ", cerocos Bunda.


“Iya.. iya,,, tapi awas jangan cari- cari kesempatan kayak tadi…”, ucap Naz keceplosan.


“Cari- cari kesempatan gimana maksudnya?”, tanya Bunda curiga, itu membuat Arfin juga Naz celingukan.


“Eng enggak ,,, enggak kok,,, tadi yang gantiin baju aku siapa?”, tanya Naz mengalihkan pembicaraan.


“Ya Bunda atuh dek,, emangnya siapa lagi?? Mana berani Arfin menggantikan pakaian mu yang basah itu, bisa- bisa kalian di RT-kan alias digerebek dinikahkan saat itu juga,,,hahahha”, ucap Bunda lalu tertawa, “ Tadi teh kan Dinda ngasih tahu Bunda, kalau kamu teh jatuh ke kolam renang dan tenggelam,, terus Bunda kesini dengan membawa pakaianmu,, tuhh kopernya masih di situ”, Bunda menunjukan koper milik Naz yang diletakan di bawah samping tempat tidur yang belum Naz lihat sejak tadi, karena tersembunyi, Naz berbaring di sisi satunya lagi.


“Bunda ngapain koper pakai dibawa kesini segala sih?”, tanya Naz.


“Abis Bunda teh panik,, yasudah dibawa aja sama kopernya sekalian,,, udah ahh jangan baceo terus,,, sok atuh Arfin katanya mau mijatin kaki Naz,, nanti keburu bengkak lagi kakinya, bisa-bisa dikira kena Filariasis”, titah Bunda dan Arfin pun mulai memijat lembut kaki Naz dengan perlahan.


“Tahan ya,,, agak sakit soalnya,,,”, ucap Arfin, kemudian ia mulai sedikit memutarkan kaki Naz ke kiri dan ke kanan.

__ADS_1


Drekkkkk,,, “Awwwww,,,, aduh sakit banget ini mah, bukan agak sakit lagi namanya ihh,,,!!”, jerit Naz yang meringis kesakitan.


“Iya,, tapi nanti bakalan cepat sembuh,, nanti dioles balsem gosok aja sama Mbak Retno”, ucap Arfin yang hanya melihat kaki Naz tanpa menoleh pada wajah gadis cantik mantan kekasihnya itu. ”Aku permisi dulu Naz , Bunda”, Arfin berpamitan kemudian beranjak keluar dari kamar tersebut.


“Dek,, kamu kok gitu sih sama Arfin,,,?? biar pun kalian itu mantan pacar, ya jangan jadi bermusuhan juga atuh, Dek,,, kasihan dia teh tadi khawatir banget sama kamu,,,karena kamu pingsannya meni lama, sampai Ayah memastikan kamu teh baik- baik saja, cuma tidur biasa saja karena kelelahan, baru dia bisa tenang. Padahal katanya teh dia baru kemarin pulang dari rumah sakit habis dirawat dan sekarang teh masih pemulihan, tapi dia tetap nyebur ke kolam renang buat nyelamatin kamu,,, inih kamu teh bukannya berterimakasih malah jutek gitu sama dia,,, Bunda perhatiin raut wajahnya teh sedih banget digituin sama kamu”, Bunda menasehati Naz, dan orangnya hanya terdiam.


Ceklek ,,,, “Mbak Nanaz,,,, “, seru Dinda saat baru membuka pintu, kemudian langsung menghampiri Naz dan Bunda, yang dibelakangnya diikuti oleh Mbak Retno yang membawa nampan berisi makanan untuk Naz. “Mbak Nanaz gimana sekarang keadaanya?”, tanya Dinda.


“Alhamdulilah sudah membaik,,, tinggal kaki aja yang masih sakit,,,”, jawab Naz.


“Maafin Aliya ya,,, bocah nakal itu udah bikin Mbak Nanaz celaka gini”, ucap Dinda menyesal.


“Gak apa- apa Dinda,,, namanya juga musibah,, lagian dia juga kan gak berniat mencelakakan aku,,, cuman ya saat itu akunya aja kaget dan kehilangan keseimbangan karena kaki ku terkilir,,,”.


“Non,,, ini sup nya silahkan dimakan,,,”, ucap Mbak Retno menyimpan nampan bawaannya di atas lemari laci, kemudian menghampiri Naz, “Dan ini balsem nya Non,, biar saya oleskan”, ucapnya duduk di ranjang dekat kaki Naz.


“Terimakasih, Mbak,,,, gak ush repot- repot,,, biar saya oleskan sendiri”, ucap Naz.


“Biar saya saja,,, tadi kata Den Arfin saya diminta mengoleskannya pada kaki Non yang sakit”, ucapnya kekeh lalu membuka tutup balsam tersebut dan mulai mengoleskannya pada kaki Naz sambil dipijat lembut.


“Ciee,,, yang udah diselamatkan oleh Om Arfin,,, diberi nafas buatan pula,, hihihihi”, ucap Dinda meledek dan ia langsung mendapat pelototan dari Naz.


“Hah,,, nafas buatan?? Berarti mouth to mouth atuh ya,,, astagfirullah,,, Adek,, kalian teh kan belum muhrim,, kenapa bisa kiss kiss-an gitu aduhh..ya ampuun…”, Bunda mengomel.


“Tapi kan Uwa,,, tadi itu darurat,,, sudah ditekan- tekan dadanya tetep gak bangun- bangun Mbak Nanaz nya,,, jadi terpaksa dikasih nafas buatan,,, eh udah sadar malah pingsan lagi Mbak Nanaz nya", Dinda menjelaskan.


“Ya ampun Adek,,, jadi kamu teh modus pingsan deui teh supaya dikasih nafas buatan lagi hah???”, tanya Bunda curiga.


“Enggak lah,,,, orang aku kaget,,,, terus kepalaku pusing banget”, Naz menyangkal.


“Hayo,,, nanti pacarnya Om Arfin marah yo,,,”, ledek Dinda.


“Pacar,,,??? Arfin teh udah punya pacar lagi??”,tanya Bunda kaget.


“Iyo Uwa,,, pacarnya cantik banget katanya,,, tuh tanyain ke Mbak Retno,, yo Mbake?”, ucap Dinda.


“Iyo, Bu,,, malahan orangnya jauh lebih ayu dari fotonya”,jawab Mbak Retno dan itu membuat Naz terasa panas membara.


“Iyo wes ketemu,,, cantik tenan pantesan saja Den Arfin ndak berpaling ke gadis mana pun”, ucapnya tersenyum sambil sesekali melirik ke arah Naz yang nampak kesal mendengarnya, dan ia pun jadi merasa heran.


“Oh,,, pantesan kamu teh jutek sama Arfin,,, karena dia sudah punya pacar toh,,, hehhee”, ucap Bunda terkekeh.


“Udah ah,,,ngapain sih bahas hal itu,, aku lapar mau makan,,, kalo bisa mah mau makan orang sekalian”, ucap Naz dengan nada kesal.


“Sudah selesai Mbak dibalsem nya,,,Iyo Bu,, saya sudah siapkan tiga kamar tamu sesuai yang diminta Den Arfin,,,saya permisi”,ucapnya pamit.


“Iya,,, terimakasih Mbak Retno”, ucap Bunda.


“Hah… disediakan kamar lagi?? Maksudnya Bunda mau nginep disini?”tanya Naz heran.


“Iya,,, kita akan menginap disini,, soalnya di rumah Ina teh udah penuh sama sanak saudara lainnya,,, nanti juga Mimih sama Wa Andi, Wa Lisna mau menginap disini juga,, tapi sekarang mah mereka masih di rumah Ina karena baru sampai pas magrib tadi”, Bunda menjelaskan.


“Kenapa di sini sih,,, kan kita bisa nginep di hotel gitu,,,”, tanya Naz kesal.


“Ya enggak apa- apa atuh,,, orang Arfin yang menawarkan bantuan,,, lagian kan rumah ini berdekatan dengan rumah Tante mu, dek… udah ahh sekarang kamu makan dulu, terus kamu shalat,, ini udah jam 8 malam,, kamu melewatkan shalat magrib ih,,,”, ucap Bunda.


Naz pun melaksanakan titah sang Bunda, setelah makan ia dipapah ke kamar mandi lalu shalat isya di jama dengan magrib dan dilakukan sambil duduk karena kakinya masih terasa sakit walau tidak sesakit sebelumnya.


Dan sesuai apa yang dikatakan Bunda, mereka pun menginap di rumah Arfin. Setelah kedatangan mereka disambut oleh Arfin, Mimih bersama Andi dan Lisna Uwa nya Naz, menemui Naz dulu sebelum mereka ke kamar masing- masing karena mendengar musibah yang menimpanya. Karena hari sudah larut, mereka pun pergi ke kamar masing- masing untuk beristirahat.


Naz kini tinggal seorang diri di kamar, ia sudah berusaha memejamkan matanya, namun rasa kantuk tak kunjung datang menghampirinya, mungkin karena tadi sore ia pingsan terlalu lama sampai nyenyak, jadi sekarang matanya malah terasa segar. Akhirnya dia memainkan ponselnya dan iseng- iseng mengunduh aplikasi Mangatoon, kemudian ia membaca komik yang ada dalam aplikasi tersebut, padahal banyak rekomendasi judul novel, namun ia lebih tertarik dengan komik.


Tak terasa kini sudah pukul dua dini hari, Naz masih belum bisa tidur dan malah anteng membaca komik sambil sesekali cekikikan, karena ia membaca komik yang bergenre romantis, komedi dan zaman dulu.


Tiba- tiba ia merasa haus, mungkin karena kebanyakan tertawa, namun saat melihat gelas di atas nampan sudah tidak ada airnya lagi dan akhirnya ia beranjak dari tempat tidurnya lalu keluar kamar dengan berjalan terpincang- pincang karena kaki kanannya masih agak sakit.


Ternyata seluruh ruangan gelap gulita karena lampunya dimatikan, Naz menyalakan senter di ponselnya dan berjalan menuju ke dapur, lalu mencari stop kontak lampu di dinding, dan ia pun menemukannya. Bray,,,, ia menyalakan lampu dapur.

__ADS_1


Naz membekap mulutnya melihat seseorang tergeletak tak sadarkan diri di dapur, ”Astagfirullah,,, Kak Arfin”, Naz langsung menghampirinya, ia berjongkok lalu menepok- nepok pipinya Arfin,”Kak,, Kak Arfin,,, bangun Kak…”, ucap Naz berusaha membangunkan Arfin, ia menempelkan jari pada mulut Arfin lalu pada dahinya dan menyentuh lehernya, “Syukurlah ia masih bernafas,,, tapi kok panas gini,,, ya ampun jangan- jangan ia demam,,, Tolong,,,,, tolong,,,, !!“, Naz berteriak meminta bantuan karena Arfin tak kunjung bangun. “Tolong,,,, Tolong,,, !!”, Naz kembali berteriak lebih kencang dan itu terus ia lakukan.


Ceklek ,,, terdengar suara pintu terbuka,,,, Pak Rizal dan Bunda keluar dari kamarnya karena mendengar suara teriakan Naz, mereka bergegas ke kamar yang ditempati oleh Naz, namun mereka tak menemukannya, dan saat mendengar teriakan lagi, mereka keluar dari kamar itu dan pergi mencari asal suara. Mereka berpapasan dengan Pak Andi dan Bu Lisna yang baru keluar kamar, kemudian mereka berempat bergegas ke mencari asal suara yang ternyata itu berasal dari dapur.


“Astagfirullah,,, adek kenapa kamu teriak- teriak,,, itu kamu habis nangkap maling?”, taya Bunda yang melihat punggung Naz dimana ia sedang duduk dan ada orang tergeletak di depan Naz, ia pun langsung menoleh ke arah Bunda, dan mereka pun menghampiri Naz. “Arfin,,,”, ucap Bunda terkejut.


Para ART pun berdatangan dan terkejut melihat majikannya yang tergeletak tak berdaya dengan kepala yang berada dipangkuan Naz sebagai bantalan.


“Kak Arfin pingsan dan badannya panas banget,,”, ucapnya, kemudian Pak Rizal dan Pak Andi langsung mengangkat tubuh Arfin lalu membawanya ke kamar Arfin dan diantarkan oleh Mbak Retno.


Sementara Naz meminta Mbak Juminten menyiapkan air panas untuk mengompres Arfin dan meminta handuk kecil yang bersih. Setelah siap, Naz membawa sebuah nampan yang diatasnya terdapat baskom kecil yang berisi air hangat semu panas beserta handuk kecilnya serta satu gelas air hangat untuk minum Arfin dan ia pun bergegas pergi ke kamar Arfin.


Saat masuk Naz berpapasan dengan Pak Andi dan Bu Lisna yang hendak keluar karena Arfin sedang diperiksa oleh Pak Rizal, Naz melanjutkan langkahnya dan mendekati ranjang dimana tempat Arfin dibaringkan. Matanya hanya tertuju pada pria yang tak sadarkan diri yang sedang diperiksa oleh Ayahnya itu, kemudian ia meletakan nampan yang dibawanya di atas lemari laci kecil di samping tempat tidur. “Gimana keadaannya Yah?”, tanya Naz khawatir sambil ia memasukan handuk ke dalam air di baskom yang ia bawa, lalu memerasnya sedikit dan melipat handuk itu.


“Denyut nadinya normal, ia hanya demam, barusan dicek suhunya tubuhnya sampai 37,9… dan ternyata dia masih dalam pemulihan setelah seminggu kemarin dirawat karena terkena typus,,, kalau dilihat dari jumlah obatnya, sepertinya tadi dia lupa meminumnya tadi,, ia hanya butuh istirahat dan meminum obatnya dengan rutin sampai habis,, ”, ucap Pak Rizal menjelaskan samil memperhatikan beberapa obat milik Arfin di tangannya.


“Ini pasti gara- gara tadi dia menolongku saat jatuh ke kolam renang”, ucap Naz merasa bersalah lalu ia mengompreskan handuk itu ke dahi Arfin, kemudian duduk di kasur sebelahnya Arfin terbaring dan menatap sendu pada pria itu.


“Makanya kata Bunda juga apa kamu mah, dia sampai rela nyebur ke kolam padahal masih pemulihan habis sakit,,, kamu teh harus tanggung jawab loh merawat dia sampai sembuh”, ucap Bunda.


“Maaf Bu,, sejak tadi sore Den Arfin belum makan,, kalau begitu saya permisi mau menyiapkan makan untuk Den Arfin”, ucap Mbak Retno kemudian pamit pergi setelah diangguki oleh Bunda.


“Emmhhhh,,, “, Arfin mulai sadarkan diri dan ia menggerakan kepalanya perlahan kemudian membuka matanya, “Naz,,,,,”, ucapnya dengan nada lemas, lalu ia mengucek- ucek matanya mungkin ia pikir sedang bermimpi.


“Kamu teh gak mimpi, Arfin,,, ini si tengil benar- benar ada di depan mu”, ucap Bunda nyamber yang melihat Arfin nampak terkejut.


“Bunda,,,, ? Om Rizal? Kenapa kalian ada disini?”, tanya nya heran lalu ia hendak bangun untuk duduk.


“Ehh,,, Kak Arfin jangan bangun dulu, tidur lagi aja, Ayah bilang harus banyak istirahat “, ucap Naz mencegah Arfin bangun.


“Tadi teh Naz menemukan kamu tergeletak tak sadarkan diri di dapur, terus dia teh berteriak minta tolong,,, kirain Bunda mah ada maling,, eh ternyata kamu pingsan, terus Ayah dan Uwa nya Naz membawa mu kesini”, Bunda menjelaskan, kemudian Mbak Retno datang membawa nampan yang berisi sepiring nasi beserta lauk pauknya dan semangkuk sup yang sudah ia hangatkan.


“ Arfin,, sebaiknya kamu makan dulu terus minum obat dan barulah kamu beristirahat ya”, ucap Bunda.


Arfin pun bangun lalu duduk dengan menyender pada sandaran ranjang dan ia mepelaskan kompresan di dahinya, kemudian Naz mengambil handuk itu lalu meletakannya kembali ke dalam baskom kecil dan mengambilkan minum," Ini diminum dulu", ucapnya menyodorkan gelas berisi air hangat pada Arfin, “Sini Mbak,,, biar saya menyuapi Kak Arfin”, Naz mengambil alih nampan dari tangan Mbak Retno.


“Gak usah,, aku makan sendiri saja”, tolak Arfin dengan suara lemas.


“Enggak,, pokoknya aku yang suapin, orang kamu masih lemas gitu”, ucap Naz kekeh, dan ia meletakan nampan di atas kasur sebelah kanan Arfin yang masih kosong, karena ia duduk di sisi kasur sebelah kiri Arfin.


“Yasudah kalau gitu mah,, ayok Mbak kita keluar,, kasihan nanti Arfin teh malu kalau ditonton sama kita,, bisa- bisa gak mangap- mangap itu saat disuapi oleh Naz“, ajak Bunda pada Mbak Retno sambil terkekeh.


“Ih,,, Bunda kok malah mau pergi sih,,,?? Masa kita ditinggal berduaan di sini”, ucap Naz protes.


“Tenang aja atuh, Dek,,, Arfin juga gak bakalan macam- macam sama kamu, orangnya lagi sakit gitu, dan pintu kamarnya akan dibiarkan terbuka kok, jadi kalau ada apa- apa kamu teh tinggal panggil aja,, Bunda ada di luar kok nunggu di ruang tengah ya, ayok Mbak..”, Bunda pun beranjak bergi bersama Mbak Retno eluar dari kamar, dan sesuai perkataannya pintu kamar Afin dibiarkan terbuka lebar.


Naz mengambil piring dan sendok dari atas nampan, “Mau pakai sup?”, tanya Naz dan Arfin pun hanya mengangguk, kemudian Naz mulai menyuapi Arfin. Keduanya nampak canggung dan malu- malu meong, seolah mengingatkan masa lampau dimana Naz pernah menyuapinya juga saat sedang sakit.


Baru saja tiga suapan, Arfin minta berhenti, namun Naz terus memaksanya menghabiskan makanannya agar bisa cepat sembuh, dan mau tidak mau Arfin pun menurutinya walaupun tidak sampai habis semua. Kemudian ia pun meminum obatnya dan kembali berbaring untuk beristirahat.


“Maaf yaa,,, gara- gara nolongin aku, kamu jadi sakit lagi”, ucap Naz menyesal.


“Enggak kok,,, tadi aku telat makan dan minum obat saja,,, juga kurang istirahat”, ucap Arfin tersenyum, “Termakasih”, ucapnya lagi.


“Emmm,,, mau dikompres lagi?”, tanya Naz.


“Gak usah,,, obatnya ada yang mengandung paracetamol- nya kok, terimakasih Naz”.


“Yasudah,, kalau gitu aku keluar dulu,, Kak Arfin istirahat ya”, ucapnya lalu membereskan bekas makan dan bekas kompresannya disatukan dalam satu nampan. Tanpa sengaja Naz melihat foto Arfin yang sedang berdua dengan seorang wanita di dekat nampan bekas menyimpan kompresan yang baru ia sadari. Kemudian ia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan kamar tersebut, dan benar saja ada beberapa foto Arfin dengan seorang wanita dipajang di dinding dan satu foto yang ukurannya besar dipajang di dinding tepat berhadapan dengan ranjang, jadi saat foto itulah yang akan pertama kali dilihat Arfin.


Naz membekap mulutnya yang ternganga karena sangat terkejut melihat foto- foto itu, “Jadi,,, wanita yang ada dalam foto itu yang dikatakan Dinda adalah pacarnya Kak Arfin”, gumam Naz dalam hati.


-------------- TBC -------------


***********************


Happy Reading,,,,

__ADS_1


Jangan luva tinggalkan jejakmu,, like, komen, vote, dan rate bintang 5


Terimakasih banyak,,, love U all…


__ADS_2