
Keduanya pun menjeda kegiatan panas mereka, Arfin melepaskan si ujang dari sarang nya, dengan perasaan kesal ia bangkit berniat untuk membukakan pintu.
Saat Arfin turun dari tempat tidur, suara ketukan tadi sudah terdengar lagi, tapi ia yang baru saja mengenakan celana boxer dan baju nya masih penasaran dengan orang yang sudah berani mengganggu acaranya itu dan tetap melanjutkan langkahnya untuk membuka pintu.
Ceklek ,,,,
Arfin membuka pintu, namun ia tak melihat siapa pun di luar sana. Arfin melihat ke segala arah dan tetap tak menemukan siapa pun, akhirnya ia kembali menutup pintu dan kembali masuk.
“Siapa A….??”, tanya Naz yang kini menyembunyikan tubuh polosnya di balik selimut sambil duduk.
“Gak ada siapa- siapa”, Arfin menghampiri istrinya.
“Tuh kan bener hantu legendaris itu, A…”, Naz masih mengira itu adalah ulah hantu.
“Gak ada yang namanya hantu, sayang,,, paling orang iseng,,, nanti kita komplain ke manager menyebalkan itu”, Arfin kemudian duduk di atas ranjang.
“Kok jadi manager yang menyebalkan,,,?”, tanya Naz merasa heran.
“Lah gak menyebalkan gimana coba,, masa di hotel bintang lima kayak gini, tadi pagi bisa kemasukan orang gila,, dan barusan orang iseng,,, nyesel Aa nginap di sini kalau pelayanannya macam ini,,, ”, Arfin merasa sangat kesal.
Naz memeluk suaminya dari belakang, “Udahlah,, jangan dipikirin,, kita lanjutin lagi aja yuk,,, “, ajaknya yang membuat Arfin terkekeh, karena istrinya yang doyan itu kembali mengajaknya melanjutkan pergulatan yang sempat terjeda. Ia pun kembali melakukan pemanasan ulang, karena si Ujang nya kembali menciut gara- gara gangguan gak jelas tadi.
Arfin dan Naz kini tengah terkulai lemas seusai pergulatan panas yang membawa keduanya pada puncak kenikmatan tertinggi. Naz kembali mendengar suara dari luar.
“A,, kok aku dengar ada yang nangis ya”, ucapnya dengan nafas terengah- engah.
“Paling orang iseng lagi,, biarkan saja,, “, Arfin yang masih berada diatas tubuh sang istri tak menghiraukan apa yang didengar Naz itu.
Namun Naz kembali mendengar suara yang terdengar seperti suara tangisan lebih kencang dari sebelumnya, dan itu adalah suara tangisan anak kecil.
Tok,, tok,, tok… terdengar suara ketukan pintu lagi.
“Naz,,,,!”, seru seseorang yang kemudian berganti dengan suara tangisan.
“A… dengar itu,, kayaknya suara Mama,,, jangan- jangan,, yang nangis itu Cahaya”, ucap Naz.
“Naz,,, Arfin,,,,!!”, suara teriakan yang memanggil mereka kembali terdengar yang diiringi suara ketukan pintu.
“Huaaaaaaaa,,, huaaaaa”. Suara tangisan pun terdengar semakin kencang.
“Benar A,, itu suara Mama,,, dan itu suara tangisan Cahaya,,,”, ucap Naz yang kenal betul suara Mama nya dan mereka pun saling melepaskan diri.
Naz langsung bangkit dari tempat tidurnya, ia mengambil pakaiannya dan mengenakannya, lalu beranjak pergi untuk membukakan pintu meninggalkan suaminya begitu saja, karena pikirannya sudah tertuju pada sang putri yang menangis kencang.
Ceklek,,,,
“Huaaaaaa,,,, huaaaa,,,,”, Cahaya nangis kejer sembari sesenggukan, dan nampak berontak di pangkuan Bu Rahmi.
“Mama,,, Cahaya,,,”, Naz langsung mengambil alih Cahaya dan menggendongnya.
“Maaf Naz,,, Tadi Cahaya bangun dan nyariin kamu,, terus nangis dan gak ada satu pun dari kami yang bisa meredakannya,, kami sudah membujuknya dengan segala cara, tapi malah makin kencang nangisnya,, tadi nyuruh Mbak Retno kesini katanya ngetuk- ngetuk pintu gak ada yang nyahut,,, ”, ucap Bu Rahmi yang terlihat canggung karena telah mengganggu honeymoon putri dan menantunya.
“Cup,,, cup,, cup,, sayang,, ini Magu,, sayang,,,sssttttt,,,udah ya nangisnya ”, Naz berusaha menenangkan Cahaya yang nangis kejer sampai sesenggukan yang ia yakini pasti anaknya itu sudah lama menangis, namun sang anak malah menangis semakin kencang.
“Maaf ya Ma,,, udah ngerepotin Mama,,, Cahaya biar tidur di kamar ku saja,,,”, Naz nampak kewalahan karena Cahaya terus berontak walau kini sudah digendong Magu- nya.
“Gak apa- apa emang kalau Cahaya tidur di sini?”, Bu Rahmi merasa sungkan.
“Gak apa- apa Ma,, mungkin dia kangen karena udah dua malam tidur sama Mama terus,,, makasih banyak ya Ma,, sekali lagi aku minta maaf…”.
“Yasudah,, kalau gitu Mama balik ke kamar lagi ya”, Bu Rahmi pun pamit.
“Iya Ma,,,,”, Naz kemudian menutup kembali pintu kamar setelah Mama nya beranjak pergi, ia mendorong pintu dengan kaki nya.
"Cup cup sayang,,, udah ya nangisnya,, capek, nak,,,”. Naz terus berusaha menenangkan putrinya yang sudah berlinang air mata disertai keringat yang bercucuran.
“Cahaya kenapa sampai nangis gitu? Apa dia jatuh?”, tanya Arfin yang baru keluar dari kamar mandi.
“Mama bilang tadi dia bangun dan nyariin aku,, makanya dia nangis setelah gak melihat ku ada di sana”, Naz memberitahukan apa yang dikatakan Mama nya.
“Huaaaaaa,,,,, huaaaaa,,,,”, Cahaya tak kunjung berhenti menangis.
“Sayang,,, cup cup,, udah ya,,, udah nangisnya ya nak,,, kamu pasti capek Nak…”.
“Sini Aa aja yang gendong,, kamu ke kamar mandi dulu gih,,,”, Arfin hendak mengambil Cahaya dari gendongan Naz, namun sang anak malah berontak tak mau digendong Arfin.
“Huaaaaaa,,,, huaaaaa,,,, “.
“Dia nya gak mau,,, iya,, iya,, sayang sama Magu aja ya,,, udah yaa,,, berhenti nangisnya,,, Nak”, Naz kemudian duduk di sofa dan mendudukkan Cahaya di atas pangkuannya.
“Udah sayang ya,, lihat ini Magu,, bukan Oma atau Nena,, lihat sayang… sini Magu peluk ya..”, Naz lalu memeluk Cahaya dan mengusap- usap punggung sang anak untuk menenangkannya. Cahaya pun perlahan berhenti menangis dan kini tinggal sesenggukan nya.
“Maaf ya sayang,,, maafin Magu,,, kamu pasti marah ya,, karena udah dua hari gak tidur sama kami,,, maafin ya sayang,, Magu gak akan ninggalin kamu lagi ya,,,”, Naz mencium pucuk kepala putrinya yang masih sesenggukan itu. Tangan Cahaya langsung meraba dada sang Magu.
“Kayaknya dia pengen Mimi,,,”, ucap Arfin yang duduk di sebelah Naz.
“Titip sebentar ya A,, aku mau wudhu dulu,,,”, Naz menyerahkan Cahaya pada Arfin, namun ia malah kembali menangis.
“Huaaaaa,,,, Ma-ma-ma,, itut,,,,huaaaaaaa,,,”.
“Cup cup sayang,,, ini Papa nak,,, udah ya jangan nangis,,,”, Arfin berusaha menenangkan Cahaya.
Naz langsung pergi ke kamar mandi, lalu kembali lagi setelah selesai wudhu. Ia pun kembali mengendong Cahaya yang terus menangis dan berontak di pangkuan Arfin dan Naz segera menyusuinya.
Ia menatap sendu pada Cahaya yang sedang menyusu sambil sesenggukan, diusapnya kepala sang putri yang basah karna keringat. Naz merasa bersalah karena telah meninggalkan Cahaya bersama kedua neneknya di kamar lain.
“Cahaya pasti nangisnya udah lama ini,,, aku merasa bersalah,, kita bersenang- senang berdua di sini,, sedangkan anak kita sampai nangis kejer seperti ini karena gak ada aku di sisinya saat dia bangun,,”, ucapnya yang terus memperhatikan wajah sang anak.
Arfin pun ikut merasa bersalah pada putrinya, karena untuk memenuhi keinginannya honeymoon bersama sang istri, ia dengan sampai hati menitipkan Cahaya yang biasanya tidur bersama mereka dan masih balita pada mami dan mertuanya. Padahal ia tahu betul jika Cahaya masih bergantung pada ASI Naz. Ia pun mengusap- usap kepala putrinya lalu menciumnya.
“Maaf ya sayang,,,”, ucapnya pada sang putri.
Semenjak itu Cahaya tak mau lepas dari Naz, bahkan untuk ke kamar mandi saja ia selalu ingin ikut, namun Arfin masih bisa menahannya walaupun Cahaya tetap menangis seolah takut kembali ditinggal oleh Magu- nya.
Seperti yang dikatakan Naz, walaupun pergi honeymoon akan tetap seperti di rumah dengan adanya Cahaya diantara mereka. Dan akhirnya acara honeymoon itu berubah menjadi acara liburan keluarga saja. Selama dua hari sisa liburan di sana, mereka pergi berjalan- jalan mengunjungi tempat- tempat menarik yang terkenal serta berbelanja oleh- oleh khas Bali.
__ADS_1
Setelah liburan selesai, Naz bersama Arfin, Cahaya dan Mbak Retno kembali pulang ke Surabaya, sedangkan Mama dan Mami nya langsung kembali ke Jakarta, sehingga mereka berpisah di bandara.
**
Dua bulan telah berlalu, Cahaya kini sudah bisa berjalan dan sudah mulai terbiasa diberikan susu formula sebagai pendamping ASI nya sesuai saran Mami dan Mama nya. Namun semenjak pulang dari Bali, Cahaya berubah menjadi lebih manja dan nempel terus dengan Magu nya, seolah ia trauma dan takut ditinggalkan lagi.
Bahkan kini setelah libur semester berakhir pun, ia masih takut ditinggalkan Magu- nya dan itu membuat Naz belum bisa masuk kuliah, karena saat ia hendak berangkat akan terjadi drama dari sang putri yang akan menangis kejer karena selalu ingin ikut kemana pun Naz pergi, bahkan saat Naz ke kamar mandi pun Cahaya selalu ingin ikut. Tak ada yang bisa membujuk Cahaya, baik itu Naz sendiri, para ART, bahkan Arfin sekali pun.
Naz baru saja menidurkan Cahaya, ia mencium kening putrinya yang sudah tertidur lelap, lalu menyelimutinya, Naz kemudian duduk di sofa. Arfin yang baru selesai memeriksa pekerjaannya di laptop pun menghampiri Naz dan duduk bersebelahan dengan sang istri. Naz menyenderkan tubuhnya pada sang suami, ia pun paham lalu merangkul kan tangannya pada pundak sang istri sehingga memeluknya dari samping.
“Aa,, gimana ini,, Cahaya gak pernah mau lepas dari aku?”, Naz merasa bingung harus berbuat apa untuk mengatasi sikap Cahaya akhir- akhir ini.
Arfin menghela nafas panjang, “Aa juga bingung,, kita semua gak ada yang bisa membujuknya,,,”, Arfin pun sama halnya karena sama- sama orang tua baru yang belum berpengalaman dalam mengurus anak.
“Apa aku berhenti kuliah saja?”, Naz berniat melepas pendidikannya.
“Jangan,,, sayang kan kamu udah kuliah dua semester,,, lebih baik kita pikirkan cara lain agar Cahaya bisa ditinggal ngampus lagi sama kamu seperti kemarin- kemarin”.
“Jangankan ke kampus,, aku mau pipis ke kamar mandi aja dia ngikutin aku terus,,, Kalau aku bawa dia ke kampus pasti berabe,, dia kan udah bisa jalan,, pasti gak akan diam dan bisa- bisa hilang di kampus ntar,,, Tapi kalau aku tinggal, gak tega juga dia pasti sampai nangis kejer lagi,,, Ternyata ngurus anak sambil kuliah itu gak segampang yang aku pikirkan”, Naz baru menyadari hal yang selama ini ia kira mudah.
“Kita akan cari jalan keluar terbaik buat kamu dan Cahaya,,, ”, ucap Arfin.
“Emm,,,, gimana kalau aku minta saran ke Mama, Mami dan Bunda,,,? ,mereka kan lebih berpengalaman soal mengurus anak”, Naz memberi usulan.
“Iya itu lebih baik dan lebih tepat juga,, lagian kita ini masih terlalu awam dan belum punya pengalaman sama sekali dalam mengurus anak, apalagi mengendalikan Cahaya yang gak pernah mau lepas dari kamu begini,,”, Arfin mendukung usulan istrinya.
Naz kemudian menghubungi ketiga emak rempong nya satu persatu untuk membicarakan masalah yang tengah ia dan suaminya hadapi dan meminta pendapat mereka tentang cara mengatasi Cahaya agar ia bisa melanjutkan kuliahnya kembali tanpa membuat Cahaya merasa takut ditinggalkan.
Mama dan Mami nya menyarankan Naz untuk kembali cuti kuliah saja atau mengikuti kelas karyawan, dan jika Cahaya masih sulit untuk ditinggal mereka menyarankan supaya Naz mengikuti kuliah online agar masih bisa melanjutkan pendidikannya namun tetap di rumah tanpa meninggalkan Cahaya.
Berbeda hal nya dengan Bunda yang dulunya sejak Naz masih balita sudah terbiasa meninggalkannya di rumah untuk pergi bekerja, beliau menasehati Naz jika ingin bepergian kemana pun harus bilang dan meminta izin dulu pada Cahaya. Setelah mendengar cerita dari Naz soal asal muasalnya Cahaya tak mau lepas dengannya, beliau menyimpulkan bahwa Cahaya merasa takut ditinggalkan, karena Naz selalu pergi diam- diam atau sembunyi- sembunyi, bahkan saat Cahaya sedang tidur dan saat ia bangun sudah tak menemukan keberadaan ibunya. Sehingga hal itu meninggalkan trauma pada sang anak.
Kini ia menyadari selama ini yang ia lakukan adalah salah besar. Semenjak kuliah, jika hendak berangkat ia akan meminta Mbak Retno membawa Cahaya masuk ke kamarnya agar tidak melihat kepergiannya dan takut membuatnya sedih atau menangis.Terkadang ia pergi saat Cahaya sudah tertidur setelah menyusu padanya.
Hal yang ia anggap benar, ternyata malah meninggalkan trauma pada sang anak. Ia pikir anaknya yang masih bayi belum mengetahui apa- apa dan tahunya Cahaya akan kembali senang setelah Naz kembali ke rumah. Namun ia melupakan perasaan sang anak yang walaupun masih bayi namun seolah sudah mengerti.
Bahkan kini Naz merasa takut jika sang anak beranggapan kalau Naz dan Arfin tak menyayanginya karena sering meninggalkannya di rumah.
**
Keesokan harinya Cahaya bangun saat Naz baru selesai shalat, “Mamama,,,, “, panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur saat melihat Naz sedang melipat mukenanya.
“Eh,, Cahaya sayang udah bangun,,”, Naz menyimpan alat shalatnya dan segera menghampiri putrinya. Cahaya mengulurkan kedua tangannya minta digendong, Naz pun segera menggendongnya lalu mendudukkan nya di pangkuannya.
“Emmm,,, Cahaya bau acem yaa,,,”, Naz menciumi putrinya yang nampak masih mengumpulkan kesadarannya dan malah membenamkan wajahnya pada dada Naz. Kemudian ia bangkit dan membawa putrinya ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya, setelah itu ia menyusui putrinya sambil duduk di sofa.
“Papapa,,, “, Cahaya memanggil Arfin dengan mengulurkan kedua tangannya minta di gendong, Arfin yang baru duduk pun bangkit dan langsung menghampiri Cahaya dan menggendongnya.
“Cahaya,, sayang,,, Magu mau pipis dulu ya ke kamar mandi,,, boleh,,,?”, Naz mencoba mempraktekan saran dari Bunda.
“Moyeh,,”, Cahaya mengangguk seolah mengerti apa maksud Naz. Namun saat Naz baru maju dua langkah Cahaya menyadari jika Magu nya hendak pergi.
“Itut,,, Maa,, itutt”, ia langsung merengek minta ikut. Naz dan Arfin saling beradu pandang, dan Naz nampak kecewa karena percobaannya gagal.
“Cahaya,,, Magu mau pipis,, ke kamar mandi sebentar ya,, Cahaya tunggu disini sama Pagu,, ya”, Naz menunjuk arah kamar mandi.
“Yah,,,”, Cahaya kembali mengangguk sebagai tanda memperbolehkan Naz pergi, ia pun kembali melangkah untuk pergi ke kamar mandi dan Cahaya terus memperhatikan hingga Naz masuk.
Pandangannya terus tertuju ke arah kamar mandi dengan perasaan harap- harap cemas, dan setelah beberapa saat ia melihat Naz keluar, membuatnya tersenyum seolah merasa lega bahwa Magu nya tidak meninggalkannya. Sepertinya percobaan kedua sudah mulai berhasil.
Naz terus melakukan hal yang sama saat ia akan pergi meninggalkan Cahaya, entah itu ke kamar mandi, ke dapur dan ke tempat- tempat yang ada di rumahnya, kemudian keluar rumah sebagai percobaan yang berlangsung selama satu minggu.
Perlahan Cahaya sudah tidak nempel terus pada Naz, karena ia selalu bilang dan minta persetujuan Cahaya kemana pun ia akan pergi, hingga ia sudah mulai bisa masuk kuliah lagi dan saat ia pulang kadang akan membawakan oleh- oleh untuk Cahaya, baik itu berupa makanan, aksesoris atau pun mainan. Namun ia tetap memantau sang putri, setiap selesai kelas, ia akan menghubungi Mbak Retno lewat vdeo call, akan tetapi tidak bertatap muka langsung dengan Cahaya, karena takut ia akan menangis dan ingin ke Magu nya.
Semakin hari Cahaya semakin aktif, ia tak pernah kekurangan perhatian dari keda orang tuanya, begitu pula dari kakek- neneknya dari Jakarta selalu menghubunginya lewat video call. Saat weekend, Arfin dan Naz akan menghabiskan waktunya bersama sang putri, entah itu di rumah saja atau pergi berjalan- jalan keluar bersama, karena saat itu Cahaya akan sangat manja kepada orang tuanya. Apalagi jika ia sedang sakit, pasti tak mau lepas dari gendongan Magu nya.
Arfin pun selalu membelikan mainan apa pun kepada putrinya sesuai yang ia inginkan saat mereka pergi ke mall atau ke tempat bermain anak, yang terkadang itu membuat Naz tidak suka karena Arfin terlalu memanjakan putri mereka.
Akhirnya Naz pun membatasi apa saja yang perlu dan tak usah dibeli untuk anaknya, atau sang suami harus meminta persetujuannya dulu jika ingin membelikan apapun. Kecuali saat Cahaya yang berumur satu setengah tahun ketika disapih, Naz membiarkan Arfin memanjakan sang anak agar tidak rewel.
**
Hari demi hari dilalui keluarga kecil ini dengan penuh warna dan kebahagian, selalu ada saja tingkah lucu dari putri kecil mereka yang menggemaskan. Naz yang mulai sibuk dengan berbagai tugas kuliah yang menyita banyak waktunya, apalagi tengah mendekati skripsi, membuat Cahaya yang kini berusia tiga setengah tahun malah lebih dekat dengan Arfin. Naz pun melaksanakan tugas magangnya di kantor sang suami, sehingga ia tak perlu setiap hari pergi ke kantor, dan tinggal menanyakan segala sesuatunya pada Arfin atau pada sekertaris nya di kantor. Dengan begitu ia bisa lebih banyak tinggal di rumah menemani putri kecilnya yang cantik dan lucu serta menggemaskan.
Pagi ini setelah selesai sarapan dan mengantarkan suaminya yang akan pergi bekerja ke depan rumah, Naz pergi ke kamarnya diikuti oleh Cahaya. Ia membuka laci twaletnya kemudian mengambil satu butir pil KB dari lembaran kemasannya lalu meminumnya.
“Mangu itu mamam apa?”,tanya Cahaya.
“Magu abis minum obat,,, kok manggilnya Mangu,,? Magu sayang,,,”, Naz meralat.
“Mangu”, ucap Cahaya.
“Ma- gu”, Naz membenarkan.
“Manyu”, Cahaya kembali memplesetkan panggilannya.
“Ma- gu,, ihh”, protes Naz.
“Manu”, Cahaya semakin sengaja.
“Ma----- gu”, eja Naz.
“Ma----mu”, Cahaya memang jahil.
__ADS_1
Ceklek,,,,
terdengar suara pintu terbuka dan munculah seseorang dari balik pintu.
“Pagu,,,,,!!”, teriak Cahaya yang langsung berlari menghampiri Arfin dan langsung minta di gendong, Arfin pun mengangkat sang anak dan menggendongnya.
“Yassalam,,, tuh anak giliran manggil Bapaknya aja bener,,, kenapa manggil aku gak pernah bener sih,,, “, Naz menggerutu pelan.
“Aa kok balik lagi? Apa ada yang ketinggalan?”.
“Iya sayang,,, ponsel Aa ketinggalan tuh di meja tadi abis shalat subuh dicharger,,, tolong ambilkan ya”, ucapnya.
Naz pun bangkit lalu mengambilkan ponsel serta charger nya juga, kemudian menyerahkannya pada suaminya, “Cahaya sama Magu lagi yuk,, Pagu nya mau berangkat kerja kan…”.
“Kan syudah pulang,, kok pelgi lagi??”, protes Cahaya.
“Ini kan masih pagi,, Pagu nya baru mau berangkat, dan barusan datang lagi karena ada yang ketinggalan.. ayok sini,, katanya mau makan sambil main sama Magu… “.
“Ndak mau,,, mainnya mau syama Pagu,,, ndak mau sama Magu”, Cahaya tak mau lepas dari Arfin.
“Loh katanya mau naik bem bem baru,,, nanti bem- bem dikasih aja deh ke onty Aliya ya“.
“No no no no,,, ”, cegah Cahaya.
“Yasudah ayok kita main,,, “, Naz pun berhasil membujuk putrinya.
Arfin mencium Cahaya lalu menyerahkannya pada Naz, “Ayok salim lagi sama Pagu..”, Naz meminta Cahaya mencium tangan Pagunya lalu ia pun melakukan hal yang sama.
“Assalamu’alaikum,,,”, Arfin mengucap salam lalu berangkat.
“Wa’alaikumsalam,,, “, Naz dan Cahaya menjawab.
“Ayok naik bem bem….”, Cahaya pun menagih ucapan Magu nya yang kemudian mengajaknya keluar kamar menuju ruang tengah dimana Mbak Retno baru saja meletakan mainan dan bem- bem barunya Cahaya.
“Cahaya sama Mbak Retno dulu ya,, Magu mau ambilkan makan buat Cahaya ke dapur,, oke”.ucap Naz.
“Oke,,,”, Cahaya lalu mengambil salah satu benda dari mainannya,“Mak Eno,, Mak Eno,,, Chaya mau pakai ini,,,tantik ndak..?”, Cahaya menggunakan benda tersebut lalu senyam senyum kecentilan.
“Cuantik banget, Non Cahaya”. jawab Mbak Retno.
“Mak Eno Mak Eno sinih Chaya mau minta tolong, boleh?”.
“Iya Non, minta tolong apa,,?”, tanya Mbak Retno.
“Sinih sinih,,, “, Cahaya meminta Mbak Retno mendekat lalu membisikan sesuatu padanya,, Weswesweswes…
“Oh iya baik Non,,,”, ucap Mbak Retno menyanggupi.
“Chaya mau naik bem bem pingky dulu,,,”, Cahaya pun menaiki motor pink-nya dengan centilnya, “Ngeng,,, ngeng,,, ngeng,,,, cetiiittt,,,, yihaaa”, ucapnya seolah- olah motor yang ditumpanginya tengah melaju lalu direm mendadak.
Setelah Naz kembali, ia langsung menyuapi putrinya sambil bermain motor, sedangkan Mbak Retno izin pergi keluar sepertinya untuk memenuhi permintaan Cahaya tadi.
Sore-nya Naz baru selesai mandi melihat putrinya tengah anteng bermain di atas karpet disebelah tempat tidurnya dengan posisi membelakangi dirinya. Naz tak menghampirinya dan malah mengambil pakaian dari lemari lalu mengenakannya, lalu ia pergi kebelakang untuk menyimpan pakaian kotor dan handuk bekasnya meninggalkan sang putri sendirian di dalam kamar setelah mendapat izinnya untuk keluar.
Saat kembali Naz menghampiri Cahaya yang masih anteng, dengan membawa segelas susu untuk putrinya. Betapa terkejutnya ia saat melihat Cahaya sedang mengacak- acak pil KB dan mengeluarkan semua isian pil dari kemasan lembarannya.
“Astagfirullah,,, Cahaya,, kenapa pilnya dikeluarkan semua?”,tanya Naz kaget.
“Astafilluloh Mangu,,, Chaya tadet ihh”. Cahaya mengusap dada.
“Itu kenapa obat Magu dibuang semua aduh,,,,?".
“Mangu ndak boleh mamam obat,, obat itu pait,,, nih Chaya ganti pakai pelmen yang manis- manis,, Mangu pasti syuka”, ia memperlihatkan dua bungkus permen.
“Ya ampun Cahaya,,, itu sisa lima lembar lagi, kamu keluarin semua isinya,,, nanti Pagu bisa marah”.
“No no no… Pagu ndak akan malah,,, Pagu nanti telimakacih ke Chaya, kalena Chaya,,, udah tukel obat pait Manyu syama pelmen manis,,”, anak itu malah so pahlawan.
“Terserah deh terserah,,, “, Naz mendengus pasrah dengan melihat kelakuan putrinya.
”Ayok,, minum dulu susu nya”, Naz memberikan gelas pada Cahaya dan ia pun meminumnya.
Ia memunguti semua pil yang sudah berserakan di lantai dan di atas karpet, lalu membuangnya beserta kemasannya pula ke tong sampah kecil yang ada di kamarnya. Ia pun mengajak Cahaya ke kamar mandi untuk mencuci tangan serta memandikannya.
Setelah itu ia ke dapur hendak memasak untuk makan malam, sementara Cahaya ditemani Mbak Retno bermain sambil menonton film kartun kesukaannya.
**
Malamnya, Arfin yang baru selesai mengecek beberapa file di laptopnya lalu mengambil bedcover dari dalam lemari. Ia mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur, kemudian menghampiri Naz yang tidur pulas menemani putrinya yang sudah tidur sejak isya.
“Sayang,,,, “, bisik Arfin di telinga istrinya.
“Hem,,, “, sahut Naz sambil memejamkan mata.
“Main yuk,,,”, ucapnya.
“Jam berapa ini?”, tanya Naz dengan suara serak.
“Setengah sepuluh,,, “.
“Bikinin susu dulu buat Cahaya gih,,,”, titahnya.
“Dia masih lelap kok,, nanti aja lah kalo udah selesai main”.
“Nanti kalau dia bangun gimana? Kan biasanya juga jam segini dikasih susu”.
“Udah yuk ahh,, si ujang udah bangun nih,,”, Arfin lalu mengajak Naz turun ke bawah dan mereka melakukan pergulatan panas di atas karpet disebelah tempat tidur dengan beralaskan bedcover. Naz yang sebenarnya sangat mengantuk hanya pasrah saja menikmati apa yang dilakukan suaminya.
Setelah mencapai puncak kenikmatan, keduanya yang hanya memakai baju terkulai lemas beristirahat sejenak. Naz dan Arfin bangun lalu duduk, mereka melihat ke arah tempat tidur. Betapa terkejutnya mereka melihat sang anak yang ternyata sudah bangun dan menatap ke arah mereka.
“Magu syama Pagu udah main kuda- kudaan nya?”, tanya Cahaya yang masih berbaring menyamping dengan suara serak khas bangun tidur.
Keduanya saling beradu pandang mendengar perkataan putri mereka tentang apa yang sudah mereka lakukan barusan, walaupun mereka yakin Cahaya tidak melihatnya dengan jelas, karena ruangannya gelap, hanya diterangi lampu tidur redup.
__ADS_1