
Sore telah berganti menjadi malam, langit pun berubah gelap namun tertolong oleh sinar rembulan yang membulat sempurna yang menandakan kini adalah pertengahan bulan hijriyah. Sungguh malam purnama yang indah, seindah hati seseorang yang tengah berbunga- bunga senyam- senyum sendiri menatap ke layar ponselnya. Perasaan layar ponsel gitu- gitu aja, kotak.
Biasanya malam yang sunyi dihiasi dengan suara khas sang jangkrik, beda halnya di kamar Naz yang justru dihiasi suara dengkuran sang Ruby. Walaupun begitu, Naz tetap anteng melihat foto- foto di galerinya sambil memeluk boneka tedy bear pink di dadanya ,kemudian Naz memilih salah satu foto saat di foto box yang formasinya lengkap sebagai foto wallpaper ponselnya. Saat kembali menggeser foto- foto di galerinya, tiba-,tiba jarinya berhenti menggeser di salah satu foto seeorang dengan senyum manisnya. “Kak Arfin ganteng juga kalo lagi senyum begini” Naz terus memandangi foto itu sambil senyam- senyum sendiri.
Tiba- tiba ponselnya bordering menandakan ada panggilan masuk, Naz terkejut melihat nama si pemanggil yang tertera di ponselnya.
Tukan Cilok is calling…..
“What,,, tukang cilok..? “ Ucap Naz terkejut.” Wah, parah nih Ruby,, pasti kelakuannya nih” Naz tidak mengangkat telponnya dan malah menggoyang-goyangkan tubuh Ruby yang sudah tertidur pulas.
“By,,,Ruby,,bangun lo” Naz membangunkan Ruby.
“Apaan sih lo, besok aja curhatnya, gue ngantuk banget” Ruby menjawab denga suara serak tanpa membuka matanya.
“Lo ngasih nomer gue ke Bang Jay?” Naz menginterogasi.
“Aah,, siapa sih Bang Jay,, gue gak kenal ah…nanti kenalan dulu sama gue deh” Ruby masih enggan untuk dibangunkan malah merancau tidak jelas.
“Jangan pura- pura lo, pantesan perasaan ponsel gue tadi di charger dalam keadaan mati, pas lo kasih ke gue udah dalam keadaan nyala” Naz masih terus mengganggu tidurnya Ruby, sedangkan ponsel belum berhenti berdering.
“Enggak ah, gue gak mau makan cilok sekarang, besok ajja simpen aja dulu di kulkas ihhh” Ya begitulah orang lagi enak- enak tidur diajak ngomong mana nyambung.
“Yasalam,,,, gue punya sahabat pada niat banget sih ngejual gue,, dulu Kiara ngasih nomer gue ke Gio, sekarang Ruby ngasih nomer gue ke Bang Jay pake di save segala lagi nomernya di ponsel gue” Naz menggerutu kesal pada kedua sahabatnya.
Ini sudah ketiga kalinya ponsel Naz berdering dengan si pemanggil yang sama, akhirnya Naz mengangkatnya. “Hallo, Assalamualaikum “
“Wa’alaikum salam…..” Jawab orang diseberang sana.
“Maaf anda siapa ya malam- malam begini nelpon saya?” Naz pura- pura tidak tahu kalo itu bang Jay.
“Masa sudah lupa Neng, bukannya sejak di sekolah kita bertemu ” Rupaya pria itu ingin main tebak- tebakan berhadiah panci set.
“Hah,,, kapan ge ketemu Bang Jay, ngarang banget sih ni orang” Gumam Naz dalam hati.
“Hallo… ada orang disana? “
“Iya, hallo” jawab Naz sudah mulai keluar nada juteknya.
“Gimana udah inget belum?” Orang itu bertanya terdengar cekikikan.
“Hmmm, udah deh Bang Jay, gak usah basa- basi,, ada perlu apa sebenarnya?” Naz langsung to the poin.
“Bang Jay, siapa itu Bang Jay?” Pria itu malah balik nanya, heran.
“Situ lah,,,,, siapa lagi” Jawab Naz ketus.
“Bang Jay itu pacar kamu ya?” Pertanyaan modus.
“Apa? Bukanlah,,,, gak usah ngadi- ngadi deh, gue belum punya pacar“ Naz nyolot dan akhirnya mengakui kejomloan nya, kena deh.
“Oh, jadi belum punya pacar ya?” ketahuan deh akhirnya kan.
“Sotoy,,,,, " Naz malah ngatain.
“Lah tadi bilangnya gitu” .
“Udah ah aku tutup telponnya,malesin,,, Assalamualaikum”
Tut tut tut.
Naz mematikan sambungan teleponnya secara sepihak tanpa mendengar balasan salam. Tiba- tiba ponselnya berdering kembali, namun kali ini adalah panggilan Video Call Whatsap.
__ADS_1
“Astaga,,,,ni orang maunya apa sih ?” Naz menghela nafas sejenak untuk ancang- ancang bersiap memarahi si penelpon gak jelas itu, lalu digeserlah ke atas si tombol biru bergambar kamera video. “Maunya apa sih gangguin orang malam- malam begini, Bang….“ Naz langsung nyerocos tanpa aba- aba dan langsung terkejut melihat Wajah si Penelpon.
“Bang siapa? Bang Jay? “ Pria itu tertawa “Baru tahu selain tengil ternyata galak juga” Ucap pria itu tersenyum simpul.
“Hah,,, Kak Arfin” Naz membulatkan matanya dan langsung celingukan karena malu.
“Hahahaha, jangn galak- galak nanti cowok pada takut loh” Arfin terus tertawa.
Wajah Naz langsung memerah “ihh…Kak Arfin iseng banget sih” Naz memasang muka cemberut.
“Hahaha,,,, lucu kamu ya kalo cemberut gitu mirip sama boneka yang kamu peluk itu” Arfin menunjukan jarinya ke arah kamera.
”Lucuan aku kali,,, “ Naz melirik ke arah boneka sekilas, ”Eh,,Kok bisa tahu nomer aku?” Naz merasa heran karena tidak pernah tukeran nomer dengan Arfin.
“Maaf ya ,,tadi aku ngambil nomermu tanpa izin waktu ponselmu ketinggalan di mobil” Arfin menjelaskan.
“Hmmm,,, terus Kak Arfin juga yang menamai nomor kaka pakai nama tukang cilok?” Naz merasa ingin menertawakannya tapi takut dosa.
“Iya lah, siapa lagi,,, kan aku jualan cilok waktu di proyek” Ucapnya tertawa mengingat Naz tidak percaya kalau dia jualan cilok.
“Kelihatan sih dari mukanya, jadi sekarang aku percaya” Naz meledek Arfin.
“Kelihatan apa maksudnya” Arfin bertanya dengan wajah serius.
“Kelihatan muka nya bulet kayak cilok,,hahahhaa” Naz tertawa puas.
“Oh,,,jadi berharapnya yang nelpon itu tukang cilok beneran, siapa tadi..? Bang Jay itu hmmm?”
“Enggak ih, jangan suka ngarang deh” Naz menyangkal.
“Ko nebaknya Bang Jay sih?” Arfin penasaran siapa Bang Jay itu, jangan- jangan saingannya.
“Ya habisnya tukang cilok di kantin sekolah ya namanya Bang Jay, yang kata Ruby naksir sama aku,,,”oops keceplosan,,, Naz langsung membekam mulutnya sendiri.
“Emangnya aku artis apa,,,pake ada penggemar segala”
“Sepertinya begitu, artis dengan ciri khas mengikat rambutnya ke belakang dengan poni menutupi dahinya dan menggunakan kaca mata bulat” Arfin menyebutkan ciri-ciri Naz saat di sekolah.
“Hah,,, tahu dari mana” Naz bertanya heran.
“Tau lah, kan kita pernah bertemu di sekolahmu, oh iya kenapa penampilan mu di sekolah jauh berbeda dengan penampilan di rumah atau keseharian mu?” Tanya Arfin penasaran.
“Kepo”
“Oke”
“Oh iya Kak, aku baru inget,,Kak Arfin itu yang bulan lalu ke Amerika ditemenin Kak Dandy kan?” Naz mengingat
“Iya,, “ Jawabnya singkat.
“Kakak ngapain di Amerika? "
“Jualan cilok” Arfin menjawab ngasal.
“Dih, ngapain jauh- jauh ke Amerika kalo buat jualan cilok” Naz merasa heran.
“Di sana kan yang namanya cilok aneh, bahannya murah dan bikinnya gampang bisa dijual dengan harga mahal jadi bisa dapat untung besar” Penjelasan Arfin seolah- olah memang pedagang cilok.
“Hah,, seriusan di Amerika jadi mang- mang cilok yang dorong roda gitu?” Naz mulai percaya dengan gurauan Arfin.
“Haahah, mana bisa di sana ada pedagang kaki lima berkeliaran bebas kayak di Indonesia Naz,,, enggak lah Naz, aku disana kuliah terus kerja “ Akhirnya Arfin menjawab dengan benar.
__ADS_1
“Oh, jadi kuliah terus kerjanya dagang cilok gitu” Naz bertanya dengan polosnya.
“Hhahaha, sudah- sudah tidur sana, udah malam ini,,,, bisa- bisa besok kamu kesiangan ke sekolah” Arfin tak sengaja melihat jam tangannya sudah jam sepuluh malam.
“Besok hari minggu kak, hari libur, jadi aku gak perlu ke sekolah” Naz tiba- tiba ingat dengan sekolah menjadi sedih.
“Oh iya aku lupa,,, loh kok jadi sedih gitu, kenapa?”
“Enggak kok Kak" Naz menjawab dengan senyum yang dipaksakan.
“Naz, positive thinking saja, yakinlah semua pasti akan baik- baik saja. Ada sederet hal yang bisa kamu pedulikan, tapi terpengaruh dengan omongan orang lain yang bisa bikin kamu down bukan salah satunya. Jika ada yang mengejek mu atau menghina mu jangan hiraukan, anggap saja itu sebagai bumbu- bumbu perjuangan hidupmu yang menjadikan mu lebih strong, senyumin ajja. Selain senyum itu adalah ibadah, senyum pun bisa sedikit meringankan beban di dada,,, Fighting” Arfin menyemangati Naz, karena ia tahu Naz sedih meikirkan ejekan yang akan datang dari teman- teman sekolahnya.
“Makasih ya Kak” Naz memberikan senyuman termanisnya.
“ Gitu donk senyum, kan aura kecantikannya semakin terpancar” Rayuan copy paste beuh ah.
“Apa..?”
“Gak ada siaran ulang” Arfin benar- benar mengembalikan kat kata Naz tadi siang.
“Maaf ya Kak,,, seharian ini banyak merepotkan Kak Arfin, sampai- sampai Kakak berbohong sama Bunda kalau Kakak yang mengajakku main ke mall, padahal kan aku yang maksa “ Ucap Naz menyesal.
“Aku gak bohong Naz, kan aku bilang ke Bunda kalau aku mengajakmu makan di mall, memang benar kan aku yang mengajak mu makan, kalo yang merengek minta ke mall baru kamu” .
“Eh,, itu apa buku coklat muda yang di belakang Kakak?” Naz baru menyadari ada buku di nakas Arfin.
Arfin mengambil buku itu “Buku ini ?? Ini komik detektif conan yang suka aku baca” Ucapnya memperlihatkan buku itu ke kamera.
“Hah,,, Kakak baca komik itu juga ?” Naz terbelak melihat melihat sampul komiknya yang dibungkus sama seperti kebiasaannya.
“Oh, iya aku baru ingat,, sepertinya ini milikmu, ku temukan ada beberapa foto mu dan sahabat- sahabatmu terselip di plastik sampulnya “ Arfin membuka komiknya dan memperlihatkan ada amplop di dalamnya.
“Apa…? Jadi komik kita tertukar “ Tanya Naz memastikan.
“Sepertinya begitu,, mungkin tertukar setelah kita bertabrakan di Bandara tempo hari” Ucapnya watados.
“Yasalam,,, gara- gara itu aku sampai dimarahin Ruby tahu” Naz nampak kesal mengingat kejadian itu.
“Hehe, maaf aku juga baru menyadarinya setelah melihat foto- foto yang ada di amplop ini,,,yasudah tidur gih sudah hampir jam 11 malam ini, selamat malam, have a nice dream,, Assalamu’alaikum” Arfin langsung mengakhiri sambungan Video Call nya, karena khawatir persoalan komik akan berkepanjangan.
“Malam,,,, wa’alaikumsalam” Naz menjawab sambil ternganga.
Acara Video Call pun berakhir, Naz malah senyum- senyum sendiri memandang ke ponselnya yang kembali ke file galeri, karena saat ada telpon Naz sedang melihat-lihat galeri foto.
“Selamat malam Have a nice dream……Ciee,,, yang abis malmingan VC an sama tukang cilok dari Amerika” Tiba- tiba suara dengkuran Ruby berubah dan membuat Naz terkejut.
“Ruby…? Sejak kapan lo bangun” Naz kaget merasa terciduk
“Sejak lo marah- marah pas ngangkat Video Call dari mang- mang cilok ganteng” Ruby tertawa penuh kemenangan.” Gilaaa, saking asyiknya ngobrol sama Aa Arfin sampe gak nyadar ada ague di samping lo,,,, Apa gue bilang, lo itu ada apa- apa kan sama Kak Arfin” Ruby terus menggoda Naz.
“Gak ada apa- apa By,,,,,udah deh yok kita tidur sudah malam” Naz malah mengalihkan pembicaraan, dan langsung berbaring memeluk tedy bear membelakangi Ruby yang ada disampingnya.
Ruby pun kembali berbaring dan tersenyum licik lalu menyimpan ponselnya ke atas nakas.
---------------- TBC --------------
********************************************
Happy Reading.....
jangan lupa tinggalkan jejakmu,...
__ADS_1
Terimakasih.....