Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Panggilan Sayang Aku Apa ??


__ADS_3

Hujan pembawa berkah, itulah ungkapan yang tepat untuk momen ini, berkat hujan yang diiringi kilatan petir dan suara gledek yang seolah meledakan langit dan menggemparkan bumi, mampu meluluh lantahkan hati seorang pria yang dicap sebagai buaya kadal oleh para sahabatnya terhadap anak kecil yang cantik nan lucu bernama Syanala itu. Nala yang ternyata takut terhadap suara gledek hingga ia menangis histeris, tak ada yang mampu menenangkannya selain si buaya kadal, Nervan.


Nervan tanpa sadar begitu peduli pada anak yang baru bertemu dengannya itu, hatinya seolah tergerak untuk mengambil alih Nala dari pangkuan Naz yang terus menangis histeris untuk memberi Nala perlindungan di pelukannya, dan benar saja ia berhasil melakukannya dengan sebuah ide yang ternyata pernah ia lakukan pada seseorang di masa lalunya.


Nala mengangkat kepalanya dan menatap mata Nervan sambil tersenyum, ”Telimakacih Papa”, ucap Nala dengan mata yang berbinar meski masih terlihat sedikit merah karena habis menangis. Sedangkan Nervan mendengar kata itu langsung diam terpaku terus memandangi Nala yang seolah meluluh lantahkan perasaanya, ada gelenyar aneh di hatinya, dadanya serasa bergetar, bibirnya seolah kebas tak bisa berkata apa pun, rasa haru terkejut terkesima bercampur jadi satu.


“Dia memanggilku Papa”, Lirih Nervan dalam hatinya.


Naz, Arfin, Dandy dan Hardi yang masih terkejut melihat perlakuan Nervan pada Nala kembali dikejutkan dengan ucapan Nala tersebut.


“Kamu ngasih tahu Nala kalo Bang Evan itu Papa nya?”, tanya Arfin yang berbisik di telinga Naz.


Naz menggelengkan kepalanya lalu ia juga berbisik ke telinga Arfin”, Aku gak ngomong apa- apa soal Bang Evan,,, aku juga kaget mendengarnya,,, bagaimana ini,,, ?”.tanya Naz merasa bingung.


Hujan deras pun kini telah mereda dan berhenti seketika, karena biasanya jika hujan turun dengan derasnya maka akan cepat berhentinya, begitu pula dengan gledek yang sudah tidak menggelegar kembali, lain halnya dengan kilatan petir yang sesekali masih pakgurinyay.


“Apa kalian gak lapar ya? aku sama Nala belum makan nih”, Suara Naz memecahkan keheningan yang terjadi di meja tersebut.


“Iya, gue juga lapar,, udah jam sebelas lebih ternyata”, Dandy berkomentar.


“Kita cari makan yuk,,, disini kan cuman ada kopi- kopi an aja… “, Ajak Naz lalu memegang bahu Nala yang masih anteng mendengarkan musik di pangkuan Nervan, ”Syanala,,,, makan yuk”, ucap Naz sambil memberi isyarat menggoyangkan tangannya ke mulut seolah hendak menyuapkan sendok, Nervan pun mencopot hands-free dari kedua telinga Nala.


“Ada apa kaka?”, tanya Nala.


“Kita makan yuk,,, Nala pasti lapar kan tadi habis main capek,,, sini di gendong sama Kaka lagi, kasihan itu Om Evan nya pegel”, Naz membujuk Nala agar lepas dari pangkuan Evan, namun ia menggelengkan kepala sambil cemberut, awalnya Nala terus menolak Naz yang terus membujuknya, lama- kelamaan Naz akhirnya mengeluarkan jurus terjitu nya, “Nala ayo dong sini sama kaka lagi,, kan nanti kita mau beli boneka yang lucuu…”.


“Poneka?? Nala mahu poneka mahuu…”, seru Nala dengan mata berbinar dan ia pun akhirnya beralih ke gendongan Naz.


“Maaf ya Bang,, tadi Nala asal bicara,,, sejak lahir dia belum pernah bertemu dengan ayahnya, dia tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah,, makanya tadi dia bilang gitu karena Abang sudah memberinya perhatian dan berhasil menenangkannya layaknya seorang ayah”, ucap Naz yang kini tengah menggendong Nala, Nervan nampak tersenyum simpul mendengar pemaparan Naz.


“Kalo gitu ayok kita cari makan gue juga udah lapar nih”, ajak Dandy yang sudah bangkit dari duduknya, kemudian mereka pun berjalan meninggalkan cofee shop tersebut dan mencari tempat makan dari jejeran food court yang ada di mall tersebut. Setelah memilih salah satu tempat makan, mereka pun masuk dan memesan makanan sambil duduk di kursi yang tersedia di sana.


Selang beberapa saat makanan yang mereka pesan pun datang dan saat hendak makan, Nala tidak mau disuapi oleh Naz, malah merengek ingin disuapi sama Om Evan katanya, dan kali ini Naz tidak bisa membujuknya sekali pun dengan umpan boneka.


“Gak apa- apa Naz, biar Abang suapi Nala,,, “, ucap Nervan.


“Tapi Bang,,,, “, Naz merasa tidak enak merepotkan Nervan.


“Sudah sini makanannya,,,dari pada Nala gak makan,, kan kasihan”, Nervan mengambil piring makannya Nala dari meja di depan Naz kemudian mulai menyuapi Nala yang duduk bersebelahan dengannya. Arfin yang melihat moment itu langsung mengabadikannya dengan kamera ponselnya secara diam- diam.


“Woah,,, ternyata lo punya naluri kebapak an juga ya Van”,ucap Dandy.


“Iya bener Dan,,, eh tapi kok gue perhatiin Nala kok mirip ya sama lo Van,,, jangan- jangan dia anak lo lagi, lo kan banyak ceweknya”, ucap Hardi mengira- ngira.


Uhuk uhuk,,, Arfin langsung tersedak mendengar perkataan Hardi, kemudian Naz dengan segera mengambilkan air minum dan memberikannya pada Arfin, ”Pelan- pelan makannya A,,,,”,ucap Naz dan Arfin pun menerimanya kemudian langsung minum.


“Jangan gila lo yak,,, gue emang suka gonta ganti cewek, tapi gak ada satu pun yang pernah gue tidurin,,, bagaimana bisa tiba- tiba gue punya anak”, Nervan menjawab bahwa dugaan Hardi itu salah, sedangkan Naz dan Dandy hanya saling bermain mata sambil menahan tawa seolah ingin menertawakan Hardi yang tidak tahu kebenarannya.


Seusai makan Hardi dan Dandy pulang duluan, sedangkan Naz hendak memenuhi janjinya untuk membelikan Nala boneka, namun Nala tidak mau lepas dari Nervan dan malah minta digendong olehnya. Entah ada dorongan dari mana atau karena tanpa dia sadari ada ikatan batin diantara mereka berdua, Nervan pun mengikuti kemauan Nala yang melupakan pesan- pesan ibunya sebelum ia berangkat tadi, ya namanya juga anak kecil kadang suka lupa nasehat orang tuanya kalau sedang ada maunya.


Akhirnya Naz berjalan bergandengan dengan Arfin mengikuti Nervan yang menggendong Nala saat mereka berjalan mencari toko boneka, lalu memasukinya dan Nervan membelikan Nala beberapa boneka dengan berbagai macam bentuk sesuai pilihan Nala. Bukan hanya itu, Nervan pun membelikan Nala berbagai jenis mainan yang Nala pilih sendiri sambil berlari kesana-kemari dan Nervan terus mengejarnya, sedangkan Naz dan Arfin hanya duduk saja memperhatikan Ayah dan anak yang tengah asyik dengan kegiatan mereka.


“Sungguh pemandangan yang indah dan mengharukan ya A,,, aku senang banget melihatnya,, meskipun mereka belum saling mengetahui hubungan mereka, tanpa mereka sadari sudah saling merasakan ikatan diantara mereka,, pasti orang- orang pun akan mengira kalau mereka adalah ayah dan anak”, ucap Naz yang terharu melihatnya hingga matanya pun berkaca- kaca.


“Iya,, kamu benar,,, terimakasih banyak sudah memberikan ide ini, maaf jadi merepotkan mu harus membawa Nala sendirian kesini dan terus menggendongnya juga menemaninya bermain,,, pasti kamu capek dan kewalahan ya,,,”, Arfin merasa tidak enak pada Naz.


“Jangan berkata seperti itu,, kita kan sudah sepakat akan mempersatukan mereka kembali sebagai keluarga yang utuh, dan aku sudah berjanji pada diri sendiri untuk ikut berjuang dalam mewujudkan itu,,, “, ucap Naz lalu menyenderkan kepalanya ke samping tepat pada pundak Arfin.

__ADS_1


“Nala senang sekali sepertinya,,, ia terus memilah- milih mainan tapi tidak mengambilnya seperti sedang mengerjai Bang Evan saja,,,, jangan bilang kamu yang mengajarinya untuk mengisengi Bang Evan…”, Arfin terkekeh melihat aksi Nala yang menunjuk mainan saat Nervan mengangguk, Nala malah menggelengkan kepalanya dan terus berjalan berpindah ke tempat mainan yang lain dan terus melakukan ha yang sama. Ia pun menyangka Naz yang jadi dalangnya.


“Yeee,,, enak bae nuduh orang sembarangan,,, ya enggak lah,,masa iya aku menurunkan bakat ku pada Nala,,, eh tapi emang iya ya, dia kayak ngerjain Bang Evan gitu, padahal kan itu keranjang yang dipegang Bang Evan udah penuh,,, sepertinya itu hanya alasan Nala supaya bisa berlama- lama dengan Bang Evan,,, ternyata dia anak yang cerdas,, berarti misi kita sudah mulai berhasil ya A”, ucap Naz tersenyum bahagia melihat keakraban ayah dan anak itu.


Akhirnya acara belanja mainannya selesai dan Nervan pun membayar hasil pemburuan mereka berdua, kemudian Arfin dan Naz membawakan barang belanjaan Nala, karena ia yang kembali di gendong Nervan tidak mau lepas. Mereka berjalan ke parkiran dan ternyata Nala tertidur di gendongan Nervan dengan jemari nya yang memainkan sweater Nervan yang bahannya lembut, mungkin Nala mengira itu adalah selimutnya, dan itu membuat Nervan semakin heran.


“Sini Bang,, Nala nya biar aku gendong”, Naz hendak mengambil alih Nala dari pangkuan Nervan.


“Biar Abang aja yang mengantarkannya pulang, kamu pulang aja bareng Arfin”, ucap Nervan yang membuat Naz kembali terkejut karena akan terjadi bahaya besar kalo sampai Nervan ke panti dan bertemu dengan Maira, Naz berfikir sejenak dan ia pun teringat sesuatu.


“Yakin Bang mau ke panti….. ?”, tanya Naz sambil tersenyum jahil.


“Panti ?”, tanya Nervan heran.


“Iya,, kan Nala tinggal di panti asuhan kasih ibu yang dikelola oleh Bude Hafsah”, Naz mengingatkan tempat tinggal Nala.


Nervan baru menyadari hal itu dan kemudian ia menyerahkan Nala dengan berat hati pada Naz, lalu Naz masuk ke dalam mobil Arfin, dan Arfin yang sudah selesai memasukan barang belanjaan langsung masuk ke dalam mobil dan siap mengemudikannya, Naz membuka kaca mobil dan berpamitan pada Nervan, kemudian mereka meninggalkan parkiran dan Arfin pun melajukan mobilnya menuju panti.


“Pinjem jaket Aa dong yang di senderan kursi itu, kayaknya bahannya lembut ya,, Nala kalo tidur musti megang selimutnya atau kain yang berbahan lembut gitu biar tidurnya nyenyak “, Naz menunjuk pada jok mobil yang di duduki Arfin dan ia pun memberikan jaketnya setelah menariknya perlahan adri senderan joknya karena sambil menyetir.


“Nala punya kebiasaan gitu juga? Kok sama kayak kebiasaan tidur Bang Evan,,,? Dia kalo traveling juga suka bawa selimut bulu kecil yang berbahan lembut di kopernya, karena kalo pakai bedcover tidak akan mempan”, Arfin membeberkan kebiasaan tidur Nervan yang ternyata menurun pada Nala.


“Haha,,, ini semakin membuktikan kalo Nala memang putrinya”, ucap Naz sambil menyelimutkan jaket Arfin pada Nala yang tidur di pangkuannya, dan ia langsung memainkan jarinya dan memegang bagian tangan sweater itu dan mengunci dalam genggamannya.


“Untung kamu berhasil mencegah Bang Evan mengantar Nala pulang, gak kebayang kalo dia sampai bertemu dengan Maira di panti”, ucap Arfin mengingat kejadian di parkiran.


“Iya dong,, Naz gitu loh,,, gak mungkin lah dia mau ke panti,, dia kan udah lama gak pernah menginjakan kaki di panti lagi, dan sekarang aku tahu alasannya, karena di sana mengingatkannya pada Kak Maira”, Naz sepertinya keceplosan.


“Kok kamu bisa tahu Bang Evan udah lama tidak mau ke panti lagi? Seberapa banyak sih kamu tahu tentang Bang Evan? seberapa dekat sih kamu dulu sama Bang Evan? Sebaiknya kamu ceritakan deh semuanya, daripada nanti Aa tahu dari orang lain lagi”, Arfin sudah mulai sensi lagi kalo sudah membahas Naz dan Evan.


“Ampuuun deh ini si borokokok,,, cemburunya gak ilang- ilang sama Bang Evan”. Naz menggerutu dalan hati.


“Ya tergantung isi ceritanya bagaimana dulu”, ucap Arfin.


“Yaudah kalo gitu mah aku gak mau cerita”, Naz mengurungkan niatnya.


“Apa? Jadi masih banyak yang kamu sembunyikan dariku soal kalian?”, Arfin semakin kesal.


“Tuh kan ,,, belum cerita aja udah sewot,, udah ah males .. mendingan tidur aja nemenin Nala, daripada ngomong sama Aa, gak jelas banget”, ucap Naz yang ikut merasa kesal.


Arfin membuang nafas dengan kasar dan melirik ke arah Naz yang terlihat kesal, “Iya,, iya Aa janji gak akan marah”, akhirnya Arfin menyerah karena rasa kepo nya lebih tinggi.


“Awas ya jangan ingkar janji,,,, “, Naz memperingatkan lalu mulai bercerita, “Jadi dia tuh dulu setelah beberapa hari dari Aa bilang mau pulang dari Amerika suka main ke rumah, aku pikir cuman mau ketemu Kak Dandy, ternyata dia berusaha mendekati ku setelah kami bertemu saat aku menyuguhkan minuman pada nya ”, ucapan Naz terhenti sejenak sambil melirik ke arah Arfin yang ternyata masih aman.


“Nah dia terus berusaha mendekati ku, tapi aku tidak pernah meresponnya, karena saat itu hatiku sudah terpaut pada Kak Anas teman FB ku dan aku tahu kalau dia seorang playboy. Setelah aku menemukan sapu tangan dan be smile ada di mobil Bang Evan, dia juga kuliah di Amerika dan sebelum berangkat sempat mengalami kecelakaan, bahkan kami pun pernah bertemu di danau sehingga aku awalnya mengira kalau Sang Anas itu dia, karena aku menemukan nama aslinya saat aku membaca buku kenang- kenangan SMA milik Kak Dandy,, dan kalau disingkat namanya jadi ANAS”, Naz menjelaskan panjang lebar.


“Terus kamu saat mengetahui itu jadi suka sama dia?”, Tanya Arfin.


“Ya enggak lah,, karena saat itu kita udah deket dan aku udah suka sama Aa,,, jujur ya saat itu aku bingung dengan apa yang ku rasakan pada Sang Anas, apakah itu rasa sayang pada seorang kakak yang selalu memberiku nasehat yang membuatku bisa menjadi orang yang kuat, ataukah perasaan sayang pada lawan jenis seperti pada umumnya,, namun saat aku bertemu Bang Evan aku tak memiliki perasaan apa pun, lain halnya saat bersama Aa, makanya aku lebih memilih menghindarinya. Tapi di saat itu Bang Evan malah menyabotase Pak Udin dan beberapa kali mengantarkan ku ke sekolah, aku sudah menolak sampai berdebat dengannya tapi dia tidak menyerah dan terus memaksa, akhirnya aku bersedia daripada kesiangan, dan itu tidak merubah perasaanku padanya”.


“Kamu bilang dia pernah menyatakan perasaannya pada mu, apa dia pria yang dimaksud Ruby nembak kamu dengan romantis di aula sekolah dulu?”, Arfin teringat Ruby yang mengimpornya dulu.


“Bukanlah,, itu mah beda lagi,,,, “, Jawab Naz dengan entengnya.


“Apa,,, ? sebenarnya berapa banyak sih pria yang sudah menyatakan cintanya padamu?”, Arfin mulai kesal.


“Emmm,,, lumayan banyak sih kalo dihitung sejak masih SMP,, tapi aku gak hafal satu persatu namanya, udah lah,,, gak usah bahas itu deh,, lagian mereka semua udah aku tolak karena aku tidak memiliki perasaan apa- apa pada mereka,, dan cuman Aa yang berhasil mengambil hati aku dan membuat ku klepek- klepek”, ucap Naz menggombal padahal aslinya dia serasa mual.

__ADS_1


“Iya, tapi juga kan Aa sempat ditolak”, Arfin mengungkit dan tidak terasa mereka sudah sampai di depan pintu pagar panti, namu Arfin masih menyalakan mesin mobilnya agar di dalam tetap adem.


“Itu mah lain lagi ceritanya,,, aku menolak bukan karena gak cinta,, tapi karena terpaksa,, yang penting kan sekarang kita sudah berpacaran,,, Kalo soal Bang Evan, memang ia pernah memintaku untuk jadi pacarnya dan aku langsung menolaknya dengan alasan Bunda melarang ku berpacaran padahal aku gak ada perasaaan apa pun padanya. Aku pernah melihatnya seperti menyembunyikan rasa sakitnya saat membahas alasan dia tidak mu ke panti lagi, dan sekarang aku tahu alasannya karena mengingatkannya pada Maira, dan aku rasa Bang Evan masih mencintai Kak Maira dibalik kebenciannya itu. Jadi Aa gak usah deh cemburu- cemburuan sama Bang Evan lagi, dihati ku cuman ada Aa dan cuman sayang sama Aa,,, kalo Aa terus begitu sama saja Aa gak bisa mempercayaiku, bukankah salah satu tiang yang membuat kokoh suatu hubungan itu saling percaya?”.


Arfin terdiam nampak berpikir, “Aku minta maaf sempat meragukan kejujuran mu, karena sudah beberapa kali ini aku mengetahuinya dari orang lain, aku minta sekali lagi agar kita saling terbuka satu sama lain tentang masalah apa pun”, Arfin berbicara sambil menatap ke setir di hadapannya lalau menoleh ke arah Naz, “Apa kau mencintaiku sebagai diriku sendiri atau sebagai Sang Anas?”, tiba- tiba Arfin mempertanyakan hal itu.


Naz tersenyum mendengar pertanyaan Arfin, “Aa pernah bilang saat menyatakan perasaanmu padaku bahwa Aa mencintaiku sebagai Rheanazwa, mencintaiku sebagai Eleanoor, Mencintaiku sebagai Cahaya mu,, tapi kok tidak bilang Aa mencintaiku sebagai Harfi? “, Naz terkekeh.


“Masa iya aku mencintai Opa mu?”, jawab Arfin dengan tersenyum simpul.


“Hahaha,,,, iya kali aja,, abisnya disebut satu- satu nama depan dan nama tengahku, sedangkan nama belakangku di skip”, ucap Naz terkekeh lalu ia memegang punggung tangan Arfin, ”Aku juga mencintaimu sebagai sang ANAS yang merupakan sahabat di dunia maya ku yang selalu ada untukku dan yang membuatku mampu bangkit dari keterpurukan ku. Aku juga mencintai mu sebagai dirimu sendiri, sebagai Al Arifin Naufal Akbarsyah yang begitu nyata di hadapanku dengan semua sikap dan cara mu memperlakukanku, aku mencintai semua yang ada dalam dirimu dan aku mencintaimu tanpa batas,,, apakah jawabanku itu cukup membuat mu yakin padaku dan tidak membuatmu meragukan ku lagi?”, tanya Naz sambil menatap mata Arfin.


Arfin tersenyum lalu ia membalikan tangan yang tengah dipegang oleh Naz sehingga kini ia yang memegang tangan Naz dan mencium punggung tangannya, mereka saling melempar senyuman.


“Telus Nala cinta siapa?”, Tanya Nala yang ternyata sudah bangun tidur, sontak membuat Naz dan Arfin terkejut lalu keduanya tertawa mendengar pertanyaan Nala itu.


“Nala sudah bangun ya?”, tanya Naz yang sudah mulai menghentikan tawanya.


“Iya, Kak Nanas cama Om Apin Ipin belisik, jadi bikin Nala banun,,,kan Nala lagi mimpi belmain cama Papa”, Nala menggerutu kesal.


“Papa?,,, Papa siapa ?”, tanya Arfin heran.


“Papa Evan,,, “, jawabnya bersemangat.


"Papa Evan? Nala siapa yang bilang seperti itu?”, tanya Naz.


“Kata Nena,,, kan Nena kasih foto Papa ke Nala,,, “ jawab nala.


“Nena,,,? Nena siapa A ?”, Naz bertanya pada Arfin.


“Nena itu Mami, beliau minta dipanggil Nena sama cucu- cucunya,,, Ya ampuun Mami kok gak konfirmasi dulu padaku, malah main bilang aja lagi ke Nala”, Arfin menggerutu kesal.


“Papa nya mana? Kok endak ada?”, Nala bangkit dari tidurnya dan melihat- lihat ke jok belakang tidak melihat keberadaan Nervan.


“Papa nya pulang ke rumahnya,, Nala bilang tadi dikasih foto sama Nena, mana fotonya?”,tanya Naz.


“Ada di tas Nala,,, tapi sssstttt ya jangan bilang- bilang cama Mama cama IyangUti”, ucap Nala dengan nada berbisik seolah takut terdengar oleh orang lain sambil menempelkan jari telunjuknya di tengah- tengah bibirnya, lalu menggoyangkan jari telunjuk seperti orang tua yang sedang melarang anaknya.


Arfin dan Naz hanya saling beradu pandang melihat tingkah lucu Nala, lalu mereka pun tertawa karena merasa gemas pada Nala.


“Berarti Nala juga jangan bilang- bilang pada siapa pun kalo kita tadi habis jalan- jalan dan bertemu Papa yaa,,, jadi nanti Nala bisa bertemu dengan Papa lagi, kalo Nala bilang ke orang lain nanti Papa gak mau ketemu Nala lagi,,, ”, Naz pun mengikuti cara Mami nya Arfin untuk membungkam Nala dan anak itu pun mengangguk dan mengiya kan permintaan Naz.


Kemudian Arfin mematikan mesin mobilnya dan mereka keluar dari mobil, Nala mau berjalan sendiri tanpa di gendong sehingga Naz bisa membantu Arfin membawakan belanjaan Nala yang cukup banyak. Setelah mengantarkan Nala pada Maira, mereka numpang shalat dulu lalu seusai itu mereka berpamitan pulang. Maira belum tahu mengenai belanjaan Nala yang cukup banyak itu, makanya Naz buru- buru pulang, apalagi jika Maira tahu itu adalah barang pemberian Nervan, bisa bahaya.


Kini keduanya berada di dalam mobil dalam perjalanan mengantar pulang Naz, “Kamu pasti capek ya,,, mending kamu tidur aja, nanti kalo sudah sampai dibangunkan”, ucap Arfin.


“Aa tuh curang,,, aku aja harus manggil Aa sebagai panggilan sayang dan gak boleh manggil kamu, tapi Aa manggil aku kamu kamu kamu terus,,, gak ada panggilan sayang nya apa buat aku ?”, ucap Naz protes.


“Hahahha,,, kita udah berapa lama coba berhubungan, kok kamu baru protes sekarang sih? Jadi kamu mau panggilan sayang apa dari Aa hem…??”, tanya Arfin menoleh sekilas.


“Gak tahu ah ,, pikir aja sendiri,, aku ngantuk,,,”, Naz malah ngambek dan memalingkan wajahnya ke arah jendela pintu mobil lalu memejamkan matanya.


------------ TBC ---------------


***********************


Panggilan sayang apa ya yang cocok buat Naz,,,???”

__ADS_1


Happy Reading…….


Jangan lupa tinggalkan jejakmu….


__ADS_2