Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Akulah Yang Menyebabkan Dia Cacat


__ADS_3

Setelah mendapatkan kemarahan Ayahnya serta nasehat dari sang Bunda, Naz enggan untuk keluar kamar dan hanya diam menyendiri saja, sesekali ia melihat layar ponselnya seolah menunggu seseorang menghubunginya, namun tak ada pesan atau pun panggilan telepon untuknya sampai malam pun. Naz keluar kamar hanya untuk ke kamar mandi saja untuk mandi ataupun sekedar buang air kecil dan berwudhu saat masuk waktu shalat. Bahkan saat makan malam pun ia tidak keluar sehingga makanannya diantarkan oleh Mbak Iyem saja ke kamarnya. Dandy yang merasa heran pun bertanya kepada Bunda, akhirnya Bunda menceritakan semuanya kepada Dandy, dan ia pun terkejut mengetahui bahwa pacarnya Arfin itu adalah adiknya sendiri, Rheanazwa.


Keesokan harinya seperti biasa sebelum berangkat ke sekolah Naz sarapan terlebih dahulu, dan kali ini ia sudah tidak merajuk lagi sehingga bersedia sarapan bersama Ayah, Bunda dan Dandy. Naz mengikuti saran sang Bunda agar mengalah dulu pada Ayahnya, dan ia pun bersikap seolah tidak pernah terjadi apa- apa diantara mereka.


Dandy terlihat memandang dengan tatapan yang penuh selidik kepada adiknya itu, seolah sedang ingin meminta penjelasan mengenai hubungan adik bontotnya itu bersama sahabatnya, Arfin. Namun Naz mengacuhkannya dan malah memperlihatkan sikap tengilnya dengan mencebikan bibir lalu menjulurkan lidahnya seolah mengejek sang Kakak.


Seusai sarapan Naz pun berangkat ke sekolah diantarkan oleh Ayahnya, dan ini adalah hal yang paling langka dalam hidupnya, walaupun ia sempat menolak namun Bunda memberinya isyarat dengan kedipan mata dan menganggukkan kepalanya agar Naz menurut saja.


“Sabar,,,sabar Naz,,, ini adalah ujian,,, semoga dengan aku bersikap manis dan penurut begini bisa secepatnya mendapatkan restu dari Ayah,, amiin”, gumamnya dalam hati.


Sesampainya di sekolah Naz langsung turun dari mobil dan menyalami Ayahnya lalu ia pun memasuki gerbang sekolah dan berjalan menuju kelasnya, kemudian seperti biasanya prosesi pembelajaran diawali dengan bel masuk jam pelajaran pertama, dilanjut jam pelajaran selanjutnya dengan durasi 45 menit setiap satu jam pelajaran.


Saat jam istirahat tiba, tidak biasanya ketiga sahabat Naz tidak bersamanya jajan ke kantin, Ruby beralasan ada rapat OSIS karena ia merupakan anggota OSIS, Kiara menjalankan hukuman dari Pak Emir si guru BK karena ketahuan saat jam pelajaran tengah jajan di kantin, sedangkan Andes ada kumpulan di kelas musik. Naz pun ke kantin hanya untuk jajan saja dan memakannya di kelas saja sambil mengirimi pesan kepada sang kekasih.


“Kak Afin kenapa ya,, kok dari semalam pesanku gak ada yang di balas satu pun, teleponku gak diangkat,,, apa dia sudah kembali ke Surabaya?? Tapi kok gak ngabarin aku ya,,, padahal kan besok hari minggu,,, masa iya dia sudah balik lagi sih,,,huft,,, gini amat ya rasanya rindu berat itu”. Naz berdialog sendiri sambil meratapi layar ponselnya yang tak kunjung mendapat pesan atau pun panggilan dari Arfin, ia pun memakan jajanannya dengan terus melirik ke layar ponselnya.


Setelah pulang sekolah saat Naz sampai di rumahnya, ia bertemu dengan Nervan yang baru saja keluar dari rumahnya. “Bang Evan,,,, lagi ngapain disini ?”, tanyanya heran.


“Hai,, Naz,,, Abang tadi habis ada perlu dengan Om Rizal, dan beruntung beliau sudah ada di rumah,,, kamu baru pulang sekolah ya?”, jawabnya lalu basa-basi.


“Iya Bang,,, Hah,, ngapain ketemu sama Ayah,, ada urusan apa??”, Naz kembali bertanya.


“Ada deh,,, kamu suka kepo juga ternyata, ,, Abang permisi pulang dulu ya”, Nervan pun pamit dan langsung pulang, sedangkan Naz merasa heran dan bertanya- tanya dalam hatinya.


“Untuk apa ya Bang Evan menemui Ayah,, apa dia tahu kalau Ayah menentang hubunganku dengan Kak Arfin,,, jadi dia mau mendekatiku lagi lewat Ayah,,, haduhhh,, gaswat atuh ini mah,, rintangan makin terjal aja kalau Ayah mengizinkan Bang Evan mendekatiku,, mana Kak Arfin cemburuan banget lagi, apalagi sama dia…. yasalam....”, Naz menggerutu dalam hati sambil berjalan melangkah masuk ke dalam rumahnya.


“Assalamu’alaikum”, ucapnya memberi salam, Naz pun mendengar jawaban dari arah ruang tengah, lalu ia pun berjalan menuju arah asal suara tersebut, dan ternyata di sana ada Ayah nya yang sedang dipijat kepalanya oleh Bunda.


“Waahhh,, sepertinya Bunda sudah memulai aksinya untuk merayu dan membujuk Ayah,, yess”, gumamnya sendang dalam hati.


Naz menghampiri keduanya lalu menyalaminya secara bergantian, “ Dek, kamu sudah pulang toh,, makan dulu gih sana, Ayah sama Bunda mah udah makan tadi barengan sama Nervan yang kebetulan lagi main ke sini pas kita mau makan”.


"Iya, Bund,,, tapi aku mau mandi dulu ah, gerah,,”, ucap Naz lalu bergegas pergi ke lantai dua untuk membersihkan dirinya, dan beberapa saat kemudian ia kembali ke bawah untuk makan, dan ternyata Ayah dan Bunda nya sudah tidak berada di sana, “Yahhh,,, gagal deh mau nyari tahu tentang kedatangan Bang Evan tadi”, ucap Naz sambil terus berjalan menuju ruang makan untuk makan di sana.


“Mbak,, Bunda sama Ayah kemana?”, tanyanya pada Mbak Iyem yang sedang menyiapkan makanan yang sudah dipanaskan di atas meja makan.


“Tadi Bapak setelah menerima telepon dari Rumah sakit langsung pergi Neng,, kalo Ibu tadi bilangnya mau ke butik karena ponselnya tertinggal di sana saat pulang tadi”, jawab Mbak Iyem.


“Oh,, pantesan….”, Ucap Naz yang kemudian memakan makannya.

__ADS_1


Hari-hari berikutnya serasa berat untuk Naz dan selama satu minggu ini Naz yang selalu berusaha menghubungi Arfin tidak pernah mendapatkan respon, ditambah dengan ketiga sahabatnya yang akhir- akhir ini disibukan dengan kegiatan sekolah semakin menambah kesedihannya dan merasa seorang diri. Bunda yang sebelumnya menjanjikan untuk membujuk Ayah secepatnya pun belum memberikan hasil, sehingga setiap malam Naz hanya bisa menangis meratapi kesedihannya yang seolah datang dengan paket komplit menghampirinya.


Pada hari sabtu ini sepulang sekolah Naz pergi ke danau untuk menenangkan dirinya di sana, dan ternyata saat sampai di sana, dari kejauhan ia melihat ada seorang pria yang tengah duduk di bangku yang biasa ia duduki. Naz merasa senang akhirnya pria yang sangat ia rindukan selama seminggu ini ternyata ada di sana seolah sedang menunggu kedatangannya, ia pun mempercepat langkahnya karena ingin segera menemui kekasih hatinya itu dan tidak peduli lagi dengan perkataan Bunda yan memintanya untuk tidak bertemu dengan Arfin dulu sementara waktu. Rasa bahagia dan rindu yang sudah membuncah di dalam dadanya lebih besar daripada rasa takut diceramahi Ayah dan Bunda nya, ia pun terus melangkah dan sampailah di samping bangku tersebut.


Saat ia mendekati pria itu, perasaan bahagianya langsung sirna seketika terganti dengan kekecewaan, “Bang Evan sedang apa di sini?”, tanyanya heran.


“Eh,,, ada kamu Naz,,,, sedang menyepi saja,, kebetulan cuaca berawan dan agak mendung jadi disini terasa sejuk untuk menenangkan diri” jawabnya sambil memainkan ponselnya.


“Oh,,, hehe”, Naz hanya ber-oh ria.


“Kamu sendiri ngapain di sini? “, Nervan balik nanya.


“Emmm,,, main aja kesini Bang,, hehhe”, jawabnya nyengir.


“Ayo sini duduk,,,”, ajaknya.


“Emm,,, enggak,, makasih Bang”, Naz menolak.


“Tenang saja,,, Abang gak akan gigit kok,,, lagian kan di sini tidak ada Arfin, jadi tidak usah takut.. Abang juga gak akan gangguin pacar orang kok, apalagi pacarnya Arfin,,, bisa ngamuk lagi dia nanti,,”, ucap Nervan dengan santainya.


Naz pun akhirnya duduk di bangku yang sama, hanya saja dia duduk di ujung bangkunya sehingga ada jarak antara mereka.


“Ngomong- ngomong sejak kapan kamu kenal dengan Arfin?,, perasaan selama tujuh tahun di Amerika, Arfin gak pernah pulang deh”, tanyanya seolah menginterogasi.


“Oh, pantesan kamu sering ke sini,,, karena tempat ini punya kenangan tersendiri ya buat mu”, ucap Nervan.


“Iya Bang,,, di sini tempat aku menunggu kedatangannya,,”, jawab Naz sambil tersenyum menatap ke arah danau.


”Eh tunggu,, kalau kamu bertemu Arfin di sini tujuh tahun yang lalu, berarti kamu masih SD dong,, karena sekarang aja kamu kan baru kelas 2 SMA,,, kok bisa dekat dengan Arfin,,apa dia itu dulunya fedofil?”, tanya, Nervan heran.


“Hahaha,,, enggak lah Bang,, dulu waktu ketemu di sini aku lagi sedih dan menangis, lalu dia memberiku be smile untuk menenangkan ku,, dan itu berhasil,,, setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi. Namun, setelah aku memiliki akun pesbuk saat kelas 2 SMP dulu, kami bertemu lagi di dunia maya dan sering chat walau tanpa tahu wajah dan nama asli kami karena aku menggunakan nama tengahku Eleanoor sedangkan dia menggunakan nama Sang Anas, dan saat dia akan pulang dari Amerika kami janjian untuk bertemu di sini, tapi dia tak kunjung datang,,, jadi Abang kuliah di sana jg?”, ucapnya menjelaskan.


“Oh,, begitu ternyata ceritanya,, pantas saja saat di Amerika dia tidak pernah dekat dengan gadis mana pun, dan lebih sering memainkan ponselnya sambil senyam- senyum sendiri,, ternyata yang membuatnya seperti itu adalah kamu Naz.”, ucapnya terkekeh, “Iya, Abang juga dulu kuliah di Amerika, namun saat selesai S1 pulang lagi kesini dan melanjutkan kuliah di sini sambil membantu menjalankan perusahaan keluarga. Dan karena kesibukan itu Abang jarang bertemu dengan Dandy juga Hardi,, yaa baru beberapa bulan ini saja kami sering kumpul lagi dan Abang baru tahu kalau adiknya Dandy yang dulu bulat seperti bola kini sudah menjelma jadi gadis cantik”.


“Oh,, jadi dulu aku gak cantik ya Bang? ”.


“Cantik kok,,,cuman kecantikannya saat itu masih terhalang oleh lipatan lemak yang bergumpal, hahaha”, ucapnya mengejek lalu tertawa dengan renyahnya.


“Huh,, dasar menyebalkan,,, bilang aja jelek gitu,,,”, ucap Naz sambil mencebikan bibirnya, “Abang tahu gak,,,,?? saat aku menemukan be smile di mobil Abang, aku sempat mengira kalau Abang itu adalah dia, Sang Anas,,, karena Abang juga kuliah di Amerika,,, hahaha,, lucu ya”, ucapnya mengakui kekeliruannya dulu.

__ADS_1


“Hahaha,,,, masa sih,, pantesan aja kamu yang biasanya jutek akhir- akhir ini jadi baik gitu sama Abang, padahal Abang sempat mengira kalau kamu suka sama Abang,, Eh ternyata hatinya sudah nyangkut di Arfin”, Nervan kembali terkekeh.


“Oh iya Bang, maaf ya soal kejadian tempo hari, gara- gara aku Abang di hajar sama Kak Arfin,,, “, ucap Naz menyesalkan.


“Gak apa- apa lah,, sekali- kali wajah Abang dapet asesoris”, Nervan malah menjawab dengan nyeleneh.


“Dasar aneh,,, mana ada luka sama lebam dijadikan asesoris,, hahaha”, ucap Naz menertawakan, “Ngomong- ngomong,, kok Abang tidak melawan sama sekali saat itu? padahal kan Kak Arfin enggak sekali memukul Abang”, tanyanya.


“Walaupun dia mau menghajar Abang sampai mati juga Abang gak akan melawan,, jangan kan orang yang abang cintai, nyawa Abang aja akan Abang kasih secara suka rela kalau dia minta”, ucapnya lalu tersenyum .


“Hah,,,, maksudnya?? Abang rela mati demi Kak Arfin… ? jangan bilang kalo Abang,,, hihhhhh,,, Abang suka sama Kak Arfin gitu,,, hihhh Abang gay???”, Naz yang terkejut mendengarnya malah mengira- ngira.


“Hahaha,,, jangan gila kamu Naz, mana ada gay sering gonta- ganti pacar dan tentunya pacar Abang cewek semua Naz”, Nervan makah menertawakan Naz


“Terus kenapa Abang rela menyerahkan nyawa Abang segala.. lebay banget,, aku aja gak sampai segitunya kali”, Naz masih penasaran.


Nervan menundukan kepalanya dan menghela nafas sejenak, “Karena Abang yang sudah menyebabkannya kaki nya pincang, Abang yang sudah menyebabkan dia malu menghadapi dunia, Abang yang sudah membuatnya terpuruk dalam waktu yang cukup lama, Abang yang sudah membuat dia kehilangan rasa kepercayaan dirinya untuk berteman dengan siapa pun termasuk untuk mendekati wanita, Abang yang membuat dia harus menerima kenyataan bahwa dia mengalami cacat seumur hidupnya”, ucapnya dengan nada sendu.


Naz sangat terkejut mendengarnya, ia membekap mulut dengan telapak tangannya dan terdiam sejenak, “Ma maksud Abang apa?”, tanyanya.


Nervan kembali menghela nafas panjang seolah menguatkan dirinya karena mengingat kejadian itu, “Dulu saat pelulusan SMA,,, kalau bukan karena Abang keras kepala mungkin kami tidak akan mengalami kecelakaan itu,, dan demi menyelamatkan Abang, Arfin sampai terluka parah dan hampir kehilangan nyawanya, bahkan saat ditangani di rumah sakit detak jantungnya sempat terhenti,,, namun setelah dilakukan pertolongan dengan alat pacu jantung beberapa kali, akhirnya detak jantungnya kembali. Setelah dilakukan tindakan operasi, kedua kakinya dinyatakan lumpuh,,,”, ucapnya menjelaskan, namun terhenti sejenak.


“Sedangkan dia sebelumnya sudah lulus ujian untuk masuk ke Harvard University dan dinyatakan diterima di sana, itu sebabnya Abang ikut mendaftarkan diri kuliah di sana karena ingin menjaganya untuk menebus kesalahan Abang. Dan di sana pula ia sekalian berobat dan terapi sehingga bisa berjalan lagi, tapi,,,,,”, Nervan sudah tidak bisa melanjutkan perkataannya lagi yang seolah terlalu menyesakan dadanya dan matanya pun nampak berkaca- kaca, dan Naz jangan ditanya, saat mendengar itu semua ia sibuk menghapus air matanya.


“Sampai detik ini pun rasa bersalah selalu menghantuiku Naz,,, dulu dia sangat menggemari balapan motor,, tapi semenjak kecelakaan itu, ia tak pernah ikut balapan lagi, bahkan ia menghindari untuk bertemu atau berkomunikasi dengan teman- teman masa sekolah dulu dan juga teman teman balapannya,,, Tapi, Abang senang saat dia pulang dia bisa bergabung lagi bersama geng kami dan bahkan Abang tidak menyangka dia pun sudah bisa mendekati seorang gadis. Dan sekarang Abang tahu penyebab itu semua adalah kamu Naz,,, karena cintamu sudah merubah hidupnya dan sudah mengembalikan kepercayaan dirinya, Abang cuma bisa berpesan bahagiakan lah dia Naz, Arfin sangat mencintaimu Naz, tenang saja dia orang yang baik dan dia akan selalu melindungi mu dari apa pun, karena itulah yang selalu ia lakukan untuk orang yang disayanginya”. ucapnya sambil tersenyum ke arah Naz.


“Iya Bang,,, “, ucapnya tersenyum,,”Bang,, langit sudah sangat mendung,, sepertinya akan turun hujan,,aku pulang dulu ya Bang”, ucap Naz lalu bangkit dari duduknya.


“Abang juga mau pulang,,, gak mau lah kalo nanti kehujanan di sini, dikira orang aku ini pangeran kodok penjaga danau,, hahaha”, ucapnya tertawa dan ia pun bangkit dari duduknya kemudian mereka berdua melangkah bersama untuk pulang.


Baru saja berjalan beberapa langkah, ponsel Naz bergetar dan ia langsung mengambilnya dari saku baju seragamnya.


Aa


“Oh,,, jadi selama aku tidak ada,, kamu sering bertemu dengannya, Naz"


"Yassalam,,, dari mana dia tahu aku lagi sama bang Evan", gumam Naz dalam hati sambil mengedarkan pandangannya dengan ekspresi terkejut dan takut.


------------- TBC ------------

__ADS_1


************************


Happy Reading.....


__ADS_2