
Hasrat dan **** merupakan perpaduan alami yang ada di pikiran seorang pria. Kabarnya banyak pria mengalami sakit kepala saat hasrat s*ksualnya tak terlampiaskan. Pada saat seseorang merasakan rangsangan **** maka rangsangan ini akan bertambah meningkat intensitasnya. Kemudian terjadi ketegangan-ketegangan otot, peningkatan denyut jantung, kenaikan tekanan darah, dan percepatan pernafasan. Hal seperti ini merupakan sebagian dari respons s*ksual yang normal, yang akan mencapai puncaknya pada fase org*sme. Baru setelah itu, akan diikuti oleh fase resolusi, di mana ketegangan-ketegangan otot akan menghilang, tekanan darah dan denyut jantung kembali seperti sedia kala.
Tapi jika rangsangan s*ksual ini tidak berakhir ke fase org*sme, sementara ketegangan otot dan naiknya tekanan darah bisa terjadi beberapa individu tertentu saja. Hal itu diperkuat oleh faktor psikis, seperti rasa ketidakpuasan yang berakibat pria akan mengalami kejengkelan yang menyebabkan nyeri kepala. Orang mangkel aja bisa pusing, kan? Apalagi hasrat seksual yang terlampiaskan. Hal ini lah yang kini tengah menimpa pasangan pengantin baru Naz dan Arfin, yang sudah melakukan pemanasan, akan tetapi terhenti saat Arfin baru mengetahui jika istrinya sedang bocor alias datang bulan. Jangarrrr
Arfin langsung mengentikan kegiatannya, lalu ia menarik selimut untuk menyelimuti tubuh istrinya yang sudah setengah telanjang, ia duduk di pinggir tempat tidur dengan meremas kepalanya yang terasa pusing, kemudian menurunkan tangan mengusap kasar wajahnya hingga membekap mulutnya. Sedangkan Naz yang sudah berselimut mengubah posisi dengan berbaring menyamping membelakangi suaminya, dan sepertinya ia pun merasakan hal yang sama, puciing pala berbie.
Arfin menghela nafas berkali- kali, lalu ia beranjak pergi ke kamar mandi, karena kini kepalanya benar- benar terasa pusing. Ia berdiri di bawah shower lalu menyalakannya dan mengguyur dirinya dengan air dingin untuk meredam gairah yang telah membakar dirinya sampai ke ubun- ubun. Juniornya yang sempat bangun dan siap meluncur menuju sarang kenikmatannya pun kini menciut tertidur kembali menunduk seolah merasa sedih dan kecewa. Mungkin dia pundung.
“Semalam bibir jontor gara- gara tisu basah, sekarang dia malah datang bulan,,, shittt,,,, Ini sih namanya benar- benar zonk…”, gerutunya sambil terus mengguyur dirinya dengan air dari shower tersebut.
Setelah beberapa saat dan merasa dirinya sudah merasa tenang, Arfin pun mengakhiri guyurannya sekalian ia mandi, kemudian ia pun keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk saja yang sudah tersedia di kamar mandi. Ia memandang sekilas ke arah tempat tidur dan melihat Naz yang masih berbaring dengan posisi yang sama.
“Oh,,, Ya Tuhan,,, ini benar- benar ujian yang berat,, kenapa dia belum mengenakan pakaiannya lagi sih?”, ucapnya terus mengela nafas untuk menenangkan dirinya sendiri agar tak membangunkan hasratnya kembali, karena melihat istrinya seperti itu membuat nya ingin segera memakannya, dan ternyata Naz tertidur pulas. Arfin segera memakai pakaian kaos dan celana pendek, dan setelah mengeringkan rambutnya dengan hairdryer yang ada di kamar mandi, ia bergegas pergi keluar kamar untuk menenangkan dirinya.
Ia berjalan- jalan ke luar hotel, seolah sedang jogging di pagi hari, hingga ia berjalan ke gedung bekas pesta pernikahannya kemarin, dan disana ada beberapa orang yang sedang membongkar dekorasi di luar dan di dalam gedung. Arfin berjalan ke samping gedung yang dikelilingi tumbuhan hijau tersebut. Ia berdiri memandang ke arah dedaunan hujau dengan mengirup udara segar untuk menyegarkan pikirannya.
Setelah hampir satu jam ia kembali ke kamarnya dan ternyata istrinya masih tertidur lelap. Ia pun mendekat dan duduk di pinggiran ranjang lalu membangunkan istrinya dengan menggoyangkan pipinya, “Sayang,,, bangun,,, “.
“Emhhh….. “, Naz membuka matanya perlahan, “Aa kok udah ganti baju? Emang udahan ya?”, tanya Naz dengan suara serak khas bangun tidur.
“Udahan apanya??”, tanya Arfin heran.
“Udahan itunya”, jawab Naz yang kesadarannya belum kumpul semua.
“Itunya apa maksud mu, sayang?”, Arfin kembali bertanya.
“Itu yang di bilang sama Mama,, ehh,,, maksudnya itu,,emmm”, sepertinya Naz keceplosan, lalu ia bangun dan duduk menyender dengan selimut yang menutupi hingga bagian dadanya.
“Memangnya apa yang udah dibilang sama Mama kamu?”, Arfin terus bertanya karena merasa penasaran.
“Emmm,,,, ya gitu,, Mama ngajarin aku untuk jadi istri yang baik dan berbakti sama suami, juga soal menjalankan tugas seorang istri”, Naz menjawab sesuai apa yang ia tangkap dari wejangan sang Mama.
“Emangnya tugas seorang istri apa aja?”, Arfin malah seolah memberikan test.
“Ya itu,, emm,,, banyak lah,,,”, Naz merasa kebingungan dengan perkataannya sendiri.
“Apa Mama mu juga mengajarkan soal melayani suami di atas ranjang?”, tanya Arfin yang masih merasa penasaran, dan Naz pun menganggukinya, “Gimana hayoh?”.
“Ya gitu,, kayak tadi gitu,,, emmm”, ucap Naz dengan perasan malu mengingat kejadian tadi.
“Kayak gimana?”, tanya Arfin dengan nada gemas.
“Emmm,,, kata Mama kalau sudah menikah seorang istrui harus melayani suaminya termasuk di atas ranjang emmm kalau gak salah namanya hubungan intim gitu,,, emmm,,, jadi tidurnya gak pakai baju gitu,, emmm kayak tadi kita gitu… ”, Naz menjelaskan dengan bingung dan juga malu.
“Terus?”.
“Emmm,,, Mama bilang aku cukup pasrah dan nikmati saja, nanti suami mu yang akan bekerja,,, gitu katanya”, jawabnya lalu nyengir.
“Hahahahaha”, Arfin malah tertawa geli mendengarnya, “Kamu benar- benar polos sayangku,, tapi gak apa- apalah berarti aku orang pertama yang menyentuh setiap inci yang ada pad dirimu,, meskipun kita belum sampai berhubungan intim yang kamu sebutkan tadi”.
“Bukannya tadi udah?”, naz bertanya dengan polosnya.
“Udah apanya sayang?? Belum juga ih,, kan kamu nya lagi bocor,,,”.
“Emang kalau lagi bocor gak boleh?”, tanya Naz dengan polosnya.
“Ya gak boleh lah sayang,,, baik menurut agama atau medis pun dilarang menyetubuhi wanita yang sedang datang bulan, bisa menyebabkan penyakit”, ucapnya menjelaskan, “Kamu kok gak bilang sih sayang kalau lagi bocor?”, tanya Arfin.
“Yee kirain Aa tahu kalau jadwal aku bocor tiap awal bulan, kan selama kita pacaran aku suka mengeluh gak enak perut saat lagi bocor,,”, ucapnya tak mau disalahkan, “Emangnya selain kayak tadi, berhubungan intim itu ngapain aja?”, kini Naz yang dibuat penasaran.
“Udah gak usah dibahas ah,, bisa- bisa sakit kepala lagi,,, nanti aja kalau kamu udah selesai bocornya, Aa akan jelaskan sekalian praktek, biar kamu benar- benar paham….. Loh kok Aa baru ngeuh.. kenapa kamu masih belum memakai pakaian mu lagi sayang?”, ucapnya yng melihat Naz berselimut sampai dada.
“Abisnya Aa melemparkan baju sama bra ku ke sembarang tempat, aku malas mengambilnya karena tadi kepalaku pusing sekali, yaudah tidur lagi aja,, anget ini kok pakai selimut juga”.
Arfin kemudian mengambilkan baju tanpa lengan alias lekbong beserta bra milik Naz yang sebelumnya di lempar semaunya ke lantai, lalu memberikannya lagi pada Naz, “Ini sayang,,,”.
“Aku gak mau pakai baju sama bra itu lagi,,, kan kotor abis berserakan di lantai,, tolong ambilkan di koper ya,,, hehehe”, ucapnya sambil nyengir, dan Arfin pun mengambilkannya dari dalam koper milik Naz.
“Nih,,, pakai baju ini saja,, kamu cuman boleh pakai baju terbuka kayak tadi kalau lagi di kamar aja dan cuman boleh depan Aa aja,,, kalau keluar kamar harus pakai baju yang panjang atau ada lengannya,, karena setiap inci tubuh mu hanya Aa yang boleh melihatnya”, ucapnya panjang lebar.
“Sekalian aja suruh aku pakai jubah dan cadar”, Naz seolah menyindir.
“Oh,, tentu saja boleh kalau kamu mau”, Arfin malah mengamini.
“Masukin aja aku ke dalam karung goni biar terbungkus semua”, ucapnya sambil lalu menjulurkan lidah seolah mengejek.
“Hahahaha,,, sayangku, kamu kan bukan kucing yang mau dijual, ampe dikarungin segala“, Arfin semakin meladeni candaan Naz.
“Udah Aa menghadap kesana, aku mau pakai baju dulu”, titahnya.
“Ya ampun sayang,,, memangnya siapa tadi yang membuka baju sama bra mu itu, hem??? Tentu saja Aa sudah melihatnya, bahkan mencicipinya”, ucapnya tersenyum, namun Naz malah mencubit perut suaminya itu, “Awww,,, sakit sayang”, Arfin meringis.
“Biarin,,, udah cepet madep sana iihhh”, Naz terus meminta Arfin membelakanginya, dan ia pun menuruti dari pada harus dicubit lagi.
“Aku akan menagih denda cubitan mu ini ya sayang”, Arfin mengingatkan hukuman yang pernah ia sebutkan sebelumnya,,, tanpa ia ketahui setelah Naz memakai pakaiannya ia langsung berlari ke kamar mandi, dan saat mendengar suara pintu ia langsung membalikan kembali badannya.”Dasar tengil”, ucapnya terkekeh.
__ADS_1
Setelah Naz keluar dari kamar mandi, ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Mama nya, namun ternyata ia mendapat banyak pesan ucapan selamat dari teman- teman dan sanak saudaranya, dan ternyata keluarganya sudah pada pulang sejak tadi pagi, bahkan tak sedikit yang pulang kemarin setelah mengucapkan selamat dan berfoto bersama .
Akhirnya ia dan Arfin memutuskan untuk pulang juga karena tidak ada gunanya mereka terus berdua di hotel sedangkan Naz masih dalam keadaan bocor dan itu hanya akan membuat sakit kepala saja karena Arfin harus terus- terusan menahan diri. Setelah membereskan barang- barang nya, mereka pun segera check out.
Kini mereka telah sampai di kediaman orangtua Naz, mereka turun dengan membawa koper masing- masing dan segera memasuki rumah. Dua orang ART yang menyambut mereka pun membantu membawakan kedua koper pengantin baru itu ke kamar Naz yang ada di lantai dua. Arfin langsung rebahan di atas ranjang dan memainkan ponselnya.
“Bi,, orang rumah pada kemana? Kok sepi?”, tanya Naz.
“Pak Syarief pergi ke kantor ada urusan mendesak katanya, den Hardi sedang tidur, kalau Nyonya ada di kamar non Raline bersama non Elsa, mereka baru aja pulang dari rumah sakit”, jawab salah satu ART.
“Hah,, rumah sakit? Emangnya Raline sakit ? pantesan aja kemarin aku gak melihat Raline di acara pernikahan”.
“Iya non, dari kemarin demam katanya, oh iya non itu kado- kado pernikahannya udah disimpan semua disana”, ucanya menunjuk ke tumpukan kado yang banyak di simpan di dekat jendela kaca yang lebar, karena ukuran kamar Naz cukup besar.
“Iya,, mkaasih ya Bi”, ucapnya tersenyum.
“Aa,, aku ke kamar Raline dulu yaaa”, Naz izin pada suaminya.
“Ayok…”, ucapnya bangkit dari duduknya.
“Aku sendiri aja,, Aa istirahat aja di sini,, lagian kan di kamar Raline perempuan semua”, ucapnya kemudian setelah Arfin menganggukinya ia pun pergi ke kamar Raline yang ada di lantai bawah. Naz masuk setelah ia mengetuk pintu dan dibukakan oleh Elsa.
“Raline,, kamu sakit apa?”, tanya nya menghampiri Raline yang sedang berjalan dipapah oleh Mama nya baru keluar dari kamar mandi, kemudian dibaringkan kembali di tempat tidur dan Naz duduk di kursi meja belajar yang ia ambil dan diletakannya di sebelah tempat tidur Raline.
“Loh sayang,, kapan kamu datang?”, tanya Bu Rahmi yang terkejut dengan keberadaan Naz.
“Beberapa menit yang lalu Ma”, jawab Naz, ”Raline sakit apa?”, tanya Naz lagi.
“Gak apa- apa kok,, dokter bilang aku cuman kecapekan aja, asalkan banyak istrahat sama minum obat juga bakalan cepat sembuh kok,, maaf ya kemarin aku gak menghadiri pernikahanmu”, ucap Raline yang wajahnya terlihat pucat dan matanya sembab.
“Justru aku yang minta maaf,, gara- gara ikut mempersiapkan pernikahanku kamu sampai sakit begini,,, maafin aku ya”, ucap Naz menyesalkan.
“Jangan merasa gak enak gitu,, yang namanya sakit bisa menyerang siapa saja Naz”, ucap Raline memegang punggung tangan Naz sambil tersenyum.
“Terus kenapa kamu tadi jalannya kayak gitu? Bukannya cuman sakit demam? Mata kamu juga sembab,, apa kamu habis menangis?”. Naz melontarkan beberapa pertanyaan.
“Emmm,,, itu,,, emmm,,, kemarin pagi pas abis mandi aku terpeleset, jadinya jalannya agak sakit dan aku merasa sedih karena gak bisa menghadiri pernikahan, makanya aku kemarin manangis,, maaf ya Naz,,”, ucapnya kembali melempar senyum.
“Maaf ya sayang, Mama gak sempat menyambut kalian,, kamu gak ngabarin dulu kalau mau pulang,, terus dimana suami mu?”, Bu Rahmi mempertanyakan keberadaan menantunya.
“Ada di kamar,, dia lagi istirahat,, hehe”, jawabnya tersenyum.
“Sudah sana temani suami mu, kasihan dia di kamar sendirian,,, lagian kan Raline ada Mama sama Elsa yang jagain,,,,”, Titah Bu Rahmi.
“Mama apaan sih, orang dari kemaren juga sama dia terus di hotel,, aku kan kangen sama kalian”.
“Iya iya Ma,,,, Raline , Elsa aku pamit dulu ya,,, cepet sembuh ya Raline”, Naz pun pamit dan kembali ke kamarnya.
**
Sore nya Naz membuka semua kado dengan dibantu oleh Mama nya, Elsa, dan ketiga ART yang bekerja di rumah itu, sedangkan Arfin bersama Papa mertua juga Hardi nampak sedang mengobrol di ruang tengah yang ada di depan kamar Naz. Kemudian Naz membereskan barang- barang nya untuk dibawa pindah ke Surabaya.
Malamnya sama seperti malam sebelumnya pasangan pengantin baru itu hanya tidur bersama saja tanpa ada adegan iya- iya, dan sepertinya efek lelah dari pesta pun masih terasa, sehingga mereka berdua tidur dengan pulasnya.
**
Keesokan harinya, pagi- pagi sekali pasangan pengantin baru beserta keluarga kecuali Raline yang masih sakit, sudah berangkat ke rumah orang tua Arfin untuk acara ngunduh mantu, rombongan dari Bunda pun sama menuju ke sana, tak lupa Opa dan Oma nya pun berangkat ke sana. Yang tadinya disepakati hanya acara syukuran kecil- kecilan saja, ternyata di sana diadakan pesta dengan memasang tenda dan dekorasi layaknya pesta pada umumnya, ada backround pelaminan bahkan disertai panggung musik untuk memeriahkan pesta tersebut.
Arfin sempat merasa kesal karena Maminya telah membohonginya, namun akhirnya ia pun bisa menikmati pesta tersebut yang hanya dihadiri oleh para tetangga satu kompleks beserta pegawai pemerintahan setempat yang hanya berjumlah 60 orang dan keluarga dekat saja untuk memperkenalkan Naz sebagai menantu baru di keluarga Akbarsyah. Acaranya pun berakhir sampai jam dua siang, dan ini merupakan pesta penutup setelah semua rangkaian acara dari pernikahan Naz dan Arfin.
Malam ini Naz menginap di rumah mertuanya, karena esok harinya akan berangkat ke Surabaya dan hanya berdua saja bersama suaminya, sedangkan keluarganya akan menyusul hari minggu nanti.
**
Pagi- pagi sekali saat Arfin sedang mandi Naz keluar dari kamar suaminya itu dan berjalan menuju dapur dengan membawa dompet di tangannya. Beruntung orang- orang sepertinya masih di kamar masing- masing.
“Bi,,, boleh minta tolong gak?”, tanya Naz pada Bi Darmih.
“Iya Non,,, ada apa?”, ucapnya kemudian ia tersenyum dan seolah menahan tawa.
“Em,,, tolong belikan pembalut ya merk lulieur yang kemasannya warna hitam, sama beli tisu ,, ini uangnya”, ucapnya sambil memberikan selembar uang berwarna merah muda.
Bi Darmih merasa terkejut mendengarnya, “Iy Iya Non,, Bibi segera berangkat kalau begitu”, ucapnya setelah menerima uang dari Naz dan ia pun kembali ke kama suaminya.
“Kamu dari mana sayang?”, Arfin yang merasa terkejut melihat Naz baru masuk ke kamarnya langsung melempar pertanyaan.
“Dari dapur,,, emangnya kenapa?”.
“Disana ada siapa?”, tanya Arfin seolah merasa was- was.
“Bi Darmih,, kalau ART yang lainnya lagi masak sama bersih- bersih”, jawab Naz lagi.
“Oh,, gitu,,, yaudah kamu mandi dulu gih, nanti kita sarapan”, titahnya.
“Aa mau sarapan apa ? biar aku bikinin”. Naz malah menawarkan diri.
“Gak usah,,, kamu kan masih capek, kamu diam di kamar aja gak usah kemana- mana,, lagian kan tadi kamu bilang di dapur udah ada yang masak, nanti Aa bawain sarapan dan kita sarapan di kamar aja ya”, ucapnya sambil tersenyum.
“Jangan,,!! biar aku aja yang ambilin sarapannya”, ucap Naz.
__ADS_1
“Kemarin kan di rumah Mama kamu yang melayani Aa,, sekarang giliran Aa,, cuma ngambil sarapan doang,,, nanti disuapin sama kamu ya,,, “, ucapnya lalu tersenyum gemas, lalu mencium pipi istrinya. “Sudah sana mandi,,, kamu bau acem ih”.
“Iya iya deh aku mandi dulu, perut ku juga mules,, hehehe,, ”, Naz lalu pergi ke kamar mandi sedangkan Arfin keluar dari kamarnya.
Setelah dua puluh menit Naz pun selesai dari kamar mandi, dan ia sudah tak melihat keberadaan suaminya. Kemudian ia berganti pakaian lalu mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, dan saat ia hendak berdandan ia merasa terkejut dengan apa yang dilihatnya di cermin.
“Oh,,, ya ampun,, kenapa begini??”, ucapnya kemudian ia beranjak keluar dari kamarnya dan berlari ke ruang makan, di sana sudah ada Pak Latief, Arfin , Nervan, Maira serta Nala duduk di meja makan.
“Mami,,,,,!! “, teriaknya menghampiri Bu Hinda yang sedang menyiapkan makanan di meja.
“Ada apa Naz,,, kamu kenapa teriak gitu?”, tanay Bu Hinda kaget.
“Kemarin kayaknya aku salah makan,,, jadinya aku kena alergi,, nih lihat,, leher aku merah- merah gini”, Naz memperlihatkan bagian leher bawahnya yang terdapat beberapa ruam merah.
Bu Hinda dan semua orang yang ada di meja makan malah tertawa, kecuali Arfin yang baru saja selesai mengisi dua piring dengan makanan untuk sarapan yang akan dibawa ke kamar, ia menepok jidatnya dan menunduk karena merasa malu akan kepolosan istrinya itu.
“Ya ampuun disuruh jangan keluar kamar, malah lari nyamperin ke sini”, gumam Arfin dalam hati.
“Ganas kamu ya Al… hahahaha”, Pak Latief meledek.
“Habis berapa Ronde Al,,? hahaha”, Nervan pun ikut- ikutan meledek.
Naz merasa heran dengan mereka yang malah menertawaknnya.
“Sayang,,, itu bukan karena alergi,, tapi bekas gigitan”, ucap Bu Hinda terkekeh nampak menahan tawa.
“Gigitan? Di gigit nyamuk kan biasanya bentol- bentol,, tapi ini kan ruam, Mi”, ucap Naz yang malah terlihat panik.
“Iya, Naz,,, nyamuk gede kepalanya,, hahaha”, Pak Latief kembali meledek anaknya dan membuat Naz membuka matanya lebar- lebar karena terkejut.
“Itu ulah suami mu Naz,,, hahaha”, Bu Hinda tak kuat menahan tawa saat melihat ekspresi menantunya itu.
Tiba- tiba datang Bi Darmih dengan membawa kantong kresek, “Maaf Nona, ini pesanannya”, ucapnya menyerahkan kantong kresek tersebut pada Naz.
“Makasih ya Bi”, ucap Naz.
“Apa itu Bi?”, tanya Bu Hinda penasaran.
“Anu Nyonya,,, itu pembalut dan tisu pesanan Nona Naz”, ucapan Bi Darmih kembali mengundang tawa orang- orang di meja makan.
“Sayang,, kamu lagi dapet”, tanya Bu Hinda pada Naz, dan ia pun menganggukinya, “sejak kapan?” , beliau kembali bertanya.
“Sebelum acara siraman, Mi”.jawab Naz.
“Hahahaa,,,, sabar Al,,, ini adalah ujian”, Nervan kembali mengejek adiknya.
“Yang kuat ya Al,,, hahahaa”, Pak Latief tak berhenti tertawa.
“Ternyata kamu dapat zonk ya Al,,, sia- sia dong Mami nyimpen tisu magic di kamar pengantin waktu di hotel,,, hahaha”, ucap Bu Hinda mengakui.
“Ayo sayang kita ke kamar mu,, jangan sampai orang- orang di bandara nanti melihat hasil karya anak Mami,,,”, Bu Hinda mengajak Naz pergi ke kamar anaknya meninggalkan Arfin yang nampak terlihat kesal menjadi bahan ejekan semua oran yang ada di meja makan.
Bu Hinda menyuruh Naz untuk mengganti bajunya yang bisa menutupi leher jenjangnya. Kemudian setelah selesai sarapan, kedua pengantin baru itu diantarkan ke bandara oleh kedua orang tua Arfin bersama Nervan.
***
Selama di perjalanan Arfin nampak diam, sesekali hanya bicara jika istrinya bertanya itu pun menjawab seperlunya bahkan hingga sampai rumah di Surabaya pun Arfin tetap seperti itu, mungikin ia masih kesal dengan ulah Naz di ruang makan tadi.
“Aa,,, kenapa sih diam terus?? Aa masih ngambek ya soal tadi,, ? aku minta maaf,,, abisnya aku gak tahu kalau ruam merah di leherku karena ulah Aa”, ucap Naz lalau duduk di sebelah Arfin yang sedang duduk di sofa yang ada di kamarnya.
“Hmmmm,,,”, hanya suara itu yang keluar dari mulut Arfin sambil memainkan ponsel tanpa menoleh sedikit pun pada istrinya.
Naz merasa bingung dan berfikir mencari cara untuk membujuk suaminya yang masih ngambek itu, kemudian ia baru teringat sesuatu. Naz duduk mendekat pada suaminya, lalu ia mnegambil ponsel dari tangan suaminya, grep,,, tiba- tiba Naz memeluk suaminya dan memainkan jemarinya di dada bidang suaminya itu, sedangkan tangan yang satu memegang ponsel, “Sayang..”, ucapnya dengan nada manja.
“Hmmm,,,”, Arfin masih saja cuek.
“Aku sudah selesai menstruasi”, ucapnya yang masih memainkan jemarinya.
Arfin terkesiap mendengar perkataan istrinya, matanya membulat sempurna, ia melepaskan pelukan istrinya dan langsung berdiri lalu merengkuhkan tubuhnya kemudian mengendong Naz dan membawanya ke tempat tidur. Setelah Naz dibaringkan dengan perlahan, ia pun memulai aksinya mulai dari mengecup kening istrinya hingga menjalar kemana- mana, sedangkan Naz hanya pasrah saja dengan apa yang dilakukan oleh suaminya, seperti kata Mama nya ‘kamu pasrah dan nikmati saja biar kan suamimu yang bekerja’.
Baru juga setengah jalan, keduanya yang sudah terbakar gairah yang membara, dengan tiba- tiba Arfin menghentikan kegiatannya. Naz yang sadari tadi memejamkan mata menikmati setiap sentuhan suaminya dengan suara desahan yang sesekali keluar begitu saja pun langsung membuka bola matanya. Ia merintih sakit, entah sakit dari mana, namun ada rasa kekecewaan yang begitu tinggi melandanya saat ini. Ia kebingungan dan hal itu jelas terlihat dari raut wajahnya yang memberenggut.
“Kenapa berhenti?”, rintih Naz yang lemas sekaligus bingung.
-------------- TBC ---------------
****************************
Suami kalau pundung emang cukup dikasih jatah langsung luva sama ngambeknya,,,🤭😂
Happy Reading….😉
Jangan luva tinggalkan jejakmu,, like, komen, rate bintang5, vote, hadiah, subcribe eh,,,,🤭😂😘
Tilimikicih,,, aylapyu oll…. 😘😘
__ADS_1