Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Pokoknya Panggil Mami.... !!


__ADS_3

Ruang tamu di panti asuhan kasih ibu kini nampak menjadi ruang keluarga, dimana keenam orang berkumpul setelah melewati drama pertemuan dua orang yang selama hampir empat tahun telah terpisah oleh jarak dan waktu. Namun sayang drama masih berlanjut karena buah hati dari kedua sejoli itu masih merajuk, giliran Mama nya sudah bersatu dengan Papa nya, sang anak malah menjauh dari Papa nya karena sebuah insiden.


“Nala gak mahu cama Papa,,, Papa jahat,,, Papa nakal,,,”, itu terus yang dikatakan sang anak, yang membuat hati Papa nya itu merasa teriris, padahal selama beberapa hari ini mereka begitu dekat, namun saat mengetahui Nala anak kandungnya, justru anak itu malah menciptakan jarak antara keduanya.


“Bang, memangnya kenapa Abang tadi pagi bisa semarah itu?”, Tanya Naz penasaran karena sebelumnya Nervan tidak pernah membentak Nala.


Nervan menghela nafas sejenak lalu mulai bercerita, “Tadi pagi sebelum Abang ke makam Amih, entah kenapa Abang ingin bertemu dengan Nala dan Abang pun memutuskan memberanikan diri pergi ke panti untuk menemui Nala. Saat mobilku sampai di depan pintu pagar panti, Abang hendak keluar tapi mengurungkan niat Abang karena saat itu melihat Salma sedang duduk di kursi teras. Abang sangat terkejut dan awalnya tidak percaya, tapi setelah diperhatikan dengan saksama ternyata benar itu Salma, dan Abang lebih terkejut lagi saat melihat Nala keluar dan menghampiri Salma lalu naik ke pangkuannya dan Salma memeluk serta mencium Nala. Abang pun menyimpulkan kalau Nala itu anaknya Salma, karena Arfin pernah bilang kalo Nala di panti bersama ibunya. Saat itu Abang merasa terpukul, karena Abang sudah menyayangi Nala dan mengira kalau dia anaknya Salma dari pria itu,, makanya Abang lama di makam Amih”, Nervan menjelaskan alasan kemarahannya pada Nala tadi pagi.


“Pantesan aja Abang marah banget dan gak biasanya bersikap seperti itu padan Nala”, Arfin pun ikut berkomentar.


“Iya,, dan sekarang Abang sangat menyesal,,, “, ucapnya menatap sendu ke arah Nala yang ada di pangkuan ibunya Maira nampak sedang memainkan jilbab Iyang Uti nya yang diperintil- perintil dengan jari tangan mungilnya itu.


Naz yang merasa tidak tega melihat Nervan sedih dan sudah menyesali perbuatannya pun mencoba membujuk Nala yang duduk di kursi yang berdekatan dengan kursi yang Naz duduki, “Nala,,,,, katanya mau ketemu Papa, ini Papa nya sudah di sini kok dari tadi dijauhin terus?”.


“Papa nya jahat,,, Papa nakal,,, Nala gak mau ketemu lagi”, ucap Nala sambil manyun.


Nervan masih menatap sendu pada putrinya itu, ada rasa sakit di ulu hatinya karena putrinya terus menolak.


”Mungkin ini yang dirasakan Nala tadi pagi saat aku menolaknya sampai membentaknya bahkan mendorongnya hinga jatuh,, pasti sangat sakit,, dan ini balasan untukku sehingga merasakan hal yang sama dengannya,, Maafkan Papa nak”, Lirih Nervan dalam hati.


“Kok Nala gitu sih,,, nanti kalo Papa nya pergi lagi gimana,,? nanti kalo ada anak nakal jahatin Nala, Nala nya gak punya pahlawan Sepilipemen si Manusia Bala- bala itu lagi dong”, Naz mecoba membujuk Nala.


“Iiiihhh,,,, Sepilipemen itu manucia laba- laba bukan bala- bala”, seru Nala dengan Nada cemprengnya dan membuat semua orang tertawa.


Gedebruk …… tiba- tiba terdengar suara seperti pintu yang di dobrak dan mengagetkan semua orang.


“Suara apa itu?”, Tanya Maira.


“Sepertinya suaranya dari dalam,,,”,Ibunya Maira mengira- ngira.


“Bude,,,,??”, Naz tiba- tiba teringat Bude Hafsah dan nampaknya yang lain juga berpikiran sama, lalu mereka bangkit dari duduknya dan segera menghampiri kamar Bude. Naz membuka pintu kamar Bude secara perlahan, dan saat terbuka,, benar saja Bude sudah tergeletak di depan pintu.


“Bude,,,, !!”, teriak Naz yang kemudian masuk dikuti yang lainnya dan saat masuk mereka pun terkejut melihat bude tergeletak di lantai.


“Astagfirullah, Bude,,,, Bang bantu aku, ayok kita bawa ke rumah sakit”, Arfin langsung bertindak cepat dan Nervan pun membantu menggotong Bude dibawa keluar.


“Naz, tolong ambilkan tas ku,”, ucap Arfin sambil membawa Bude keluar panti menuju mobilnya, “Ambil kunci mobilnya dan tolong bukakan pintunya”, Arfin kembali minta bantuan Naz, dan ia pun segera melaksanakannya.


Semua orang nampak panik, lalu ibunya Maira ikut serta mengantarkan Bude ke rumah sakit, sedangkan Maira dan Nala tetap di panti.


Sesampainya di rumah sakit, Bude langsung dibawa ke UGD dan segera mendapatkan penanganan, dan ternyata setelah dokter jaga memeriksanya Bude kemudian dibawa ke ruang ICU karena harus mendapatkan penanganan khusus.


Setelah Bude diperiksa oleh dokter spesialis dalam, sang dokter pun keluar dan langsung diserbu oleh keempat oang yang sejak tadi hanya bisa menunggu di luar ruangan ICU.


“Bagaimana keadaan adik saya, Dok?’, tanya ibunya Maira.


“Mohon maaf Bu, kondisi pasien tidak begitu baik, dan penyakitnya paru- paru nya sudah kronis Bu, sepertinya selama sebulan ini pasien kurang mendapatkan perawatan yang baik, dan saya tidak tahu pasien sampai kapan bisa bertahan, namun kami akan tetap berusaha semaksimal mungkin”, jawab Dokter tersebut.


“Ya Allah, Hafsah,,, kenapa bisa seperti ini”, ibunya Maira sangat syock mendengar penjelasan dokter.


“Ibu banyak berdoa saja,,, kami akan tetap berusaha.... saya permisi”, Dokter pamit .


“Iya , Dok,, terimakasih”, ucap Naz sambil merangkul ibunya Maira dan mengajaknya duduk.


Tiba- tiba seorang perawat keluar dari ruang ICU dan menghampiri mereka, “ Pasien sudah sadar dan beliau meminta ingin bertemu dengan Bu Dasimah”.


“Saya Dasimah, Sust…”, ucap Ibunya Maira.


“Mari ikut saya kedalam “, Perawat tersebut mengajak Bu Dasimah masuk ke ruang ICU dan tentunya saat akan masuk ke tempat Bude dirawat, beliau diberi pakaian steril dan penutup kepala untuk digunakan.


Sementara Naz, Arfin dan Nervan menunggu di luar duduk di kursi yang tersedia di sana. “Aa,,, gimana kalo Bude gak bisa bertahan? “, tanya Naz terisak.


“SSttttt,,, kamu jangan ngomong yang aneh- aneh… Kita berdo’a saja semoga Bude diberi kesembuhan”, ucap Arfin menenangkan.


“Bude udah seperti keluarga ku sendiri, aku mengenal Bude sejak masih SD,,, aku sayang sama Bude A,,, hiks hiks”, ucap Naz yang merasa sangat sedih.


“Iya,,, sudah jangan menangis lagi ya,,, “, Arfin melentangkan tangan kanannya ke arah belakang Naz yang duduk di sebelah kanannya, lalu memeluknya dari samping dan Naz menyenderkan kepalanya ke pundak Arfin.


Setelah beberapa saat, Bu Dasimah keluar dari ruang ICU dengan langkah gontai, dan tiba- tiba beliau menangis sejadi- jadinya dan membuat ketiga orang itu panik.


“Bu, kenapa Ibu menangis, apa terjadi sesuatu dengan Bude?”, tanya Nervan menghampiri Bu Dasimah.


“Bude kenapa Bu?”, tanya Naz khawatir.


“Ibu ayok duduk dulu”, Nervan mengajak Bu Dasimah duduk, setelah Bu Dasimah merasa sedikit tenang, barulah ia berbicara, “Hafsah bilang,, jika dia tidak bisa bertahan dan umurnya gak lama lagi, dia bilang….huhuhuhuhu”, Bu Dasimah tak kuasa melanjutkan perkataannya.


“Bilang apa Bu?”, tanya Naz penasaran dan malah ikut menangis.


“Dia bilang,,,, dia bilang ingin mendonorkan matanya untuk Humaira,,, huhuhuhu”, Bu Dasimah menangis sejadi- jadinya dan Naz pun yang duduk di sampingnya langsung memeluk beliau dengan keterkejutannya. “Hafsah pasti baik- baik saja,,, dia tidak akan meninggal,,, dia pasti sembuh,, dia saudari ku satu- satunya,,, huhuhuhu”, ucap Bu Dasimah disela tangisannya, “Lgi pula Humaira juga pasti tidak akan menerima, Hafsah sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri,,, huhuhuhu,, kenapa Hafsah harus bicara seperti itu,, tidak mungkin bagiku mengambil mata adikku sendiri demi kesembuhan anakku…. huhuhu”.


Nervan dan Arfin pun hanya diam mematung, terkejut mendengar hal itu.

__ADS_1


“Bu, udah Bu,,, Ibu yang tenang,, jangan seperti ini,, kita berdoa saja untuk kesembuhan Bude”, Naz yang merasa sedih mendengarnya pun tetap berusaha menenangkan Bu Dasimah.


Setelah beberapa saat mereka menunggu di luar ruangan ICU, karena di sana tidak diperbolehkan menunggu pasien di dalam dan hanya perawat saja yang bisa stay di sana, tiba- tiba perawat datang menghampiri dan mengabarkan bahwa kondisi Bude sudah menunjukan ada perkembangan dan mulai membaik. Tak lama Mina datang menghampiri mereka dan menanyakan kondisi Bude pada Bu Hafsah, dan beliau pun menjelaskan apa yang dikatakan perawat tadi.


Naz yang sebenarnya ingin tetap menunggui Bude, namun dengan terpaksa mengurungkan niatnya karena perutnya terasa sakit efek datang bulan. Akhirnya mereka bertiga pamit untuk pulang, dan meminta untuk segera menghubungi mereka jika membutuhkan bantuan atau jika ada apa- apa dengan Bude.


Kini mereka bertiga tengah berada di mobil dalam perjalanan mengantarkan Naz pulang, tidak ada percakapan diantara ketiganya, sepertinya sibuk dengan pemikiran masing- masing, apalagi Nervan yang mendengar Bude berniat mendonorkan matanya untuk Maira. Ada rasa senang karena Maira bisa segera melihat, namun rasa sedihnya lebih besar karena Bude selama 11 tahun sudah merawat dan membesarkan Maira dengan penuh kasih sayang saat Maira terpisah dengan orang tuanya akibat tsunami dulu, dan tidak mungkin ia mau menerimanya.


Sesampainya di rumah Naz, Arfin mengantarkan Naz sampai depan pintu rumahnya, dan setelah pintu dibuka oleh Mbak Iyem, Arfin pun langsung pamit.


“Jangan lupa hukuman mu, besok Aa jemput jam 8 pagi ya,, gak ada penolakan,, pulang dulu ya,, asaalamu’alaikum”, Arfin langsung pamit pulang.


“Wa’alaikumsalam”, Naz menjawab dengan nada sedikit kesal kemudian masuk kedalam rumahnya, “Hukuman apa sih,, yasalam,,,, nyesel deh tadi minta tolong beli pembalut, tahu gitu beli sendiri aja tadi tuh,, huft,, dasar menyebalkan”, Naz menggerutu dalam hati sambil berjalan menuju kamarnya dan langsung bergegas ke kamar mandi.


***


Keesokan harinya sesuai dengan apa yang dikatakan Arfin, jam 8 Naz sudah bersiap menunggu Arfin menjemputnya, dan selang beberapa saat yang dinanti pun telah datang, kemudian mereka pun langsung berangkat setelah berpamitan pada Ayah dan Bunda Naz.


“Aa,,, sebenarnya kita mau kemana sih? Aku tuh males banget keluar rumah kalo lagi dapet gini”, tanya Naz yang sejak kemarin penasaran.


“Kita mau ke suatu tempat,,,,, nanti juga kamu suka”, Arfin masih belum menjawab tempat tujuan mereka.


“Loh ini kan hari jum’at,,, emangnya gak kerja? Kemarin siang kan udah bolos kerja gara- gara insiden telenovela”, tanya Naz heran.


“Chayaku sayaang,, apakah di rumah mu tidak ada kalender,,? hari ini tuh tanggal merah, siapa juga yang kerajinan ke kantor di hari libur,,,”, Arfin bicara dengan santainya sambil menyetir.


“Aa jangan ngebut- ngebut ya nyetirnya, nyantei aja “, ucap Naz nampak khawatir.


“Kenapa? Chayaku ini takut ya?”, tanyanya.


“Dari bagun tidur perasaan aku gak enak, gak tahu kenapa,,, tadi juga gak enak makan”, ucap Naz.


“Hah… Kamu sakit ?”, Tanya Arfin khawatir.


“Enggak,, cuman gak enak perut aja,,, “, Naz menjawab sambil selfie.





“Narsis aja Neng.... kok Aa gak difoto?", Arfin bertanya iseng.


"Kurang asem kamu ya", Arfin protes.


cekrek... Naz mengambil foto diam- diam.



" Yahh.. fotonya blur...",keluhnya.


"Dasar curi-curi foto..... haha .... oh iya emang kalo datang bulan itu sakit ya?”, tanya Arfin penasaran.


“Beda- beda sih tiap orangnya, ada yang sakit ada yang enggak, bahkan ada yang suka sampe pingsan kayak temen sekelas ku, Resti dulu gitu,,, kalo lagi datang bulan suka pingsan, makanya sering jadi penghuni rutin UKS tiap lgi datang bulan,,, tapi kalo aku sih paling cuman gak enak perut aja, ada mules atau perut serasa kencang gitu, kadang juga sakit pinggang jadi suka banyak minum air putih,, ihh Aa ngapain sih nanya- nanya soal datang bulan,, hahaha”, Naz menjelaskan tapi malah baru sadar Arfin ternyata kepo.


“Ya nanya aja, soalnya udah beberapa kali kamu datang bulan suka ngeluh gak enak perut dan pastinya suka marah- marah”, ucapnya.


“Yee,, makanya jangan bikin aku emosi kalo lagi datang bulan mah,,, “, Naz mengingatkan.


“Waduhh,,, kok bisa lupa ya,, mudah- mudahan kali ini marahnya gak lama kayak dulu”, Arfin mengumpat dalam hati.


Setelah beberapa saat mereka pun sampai di depan pintu gerbang sebuah rumah berlantai dua yang dikelilingi dengan pemandangan hijau- hijauan, sang penjaga pun langsung membukakan pintu gerbang karena sudah mengenali mobil Arfin.



Seusai memarkirkan mobilnya, Arfin mengajak turun Naz yang nampak bingung dengan perasaan yang bertanya- tanya, “Hei,, kok malah bengong,, ayok kita turun”, Arfin membukakan pintu dari luar dan menyadarkan Naz dari lamunannya, kemudian ia pun turun dari mobil, namun masih saja bengong berdiam diri seperti patung. “Ayok chayaku sayang kita masuk,, kamu bengong mulu ih, ntar kesambet loh”, ucapnya sambil melengkungkan lengannya seolah meminta Naz menggandeng tangannya, namun orangnya malah melengos begitu saja, gak konek.


“Aa ayo,, ko malah Aa yang bengong sih, aku udah jalan nih”, seru Naz yang sudah sedikit menjauh dari mobil sedangkan Arfin masih berdiri di posisi sebelumnya, dan ia pun menghampiri Naz, kemudian mereka berjalan bersama melintasi halaman rumah yang serba hijau.


“Aa,, ini rumah siapa? Kok aku diajak kesini?”, tanya Naz heran.


“Rumah Pak Ahmad”, Jawab Arfin singkat.


“Pak Ahmad itu siapa”, selain gak konek ternyata Naz mendadak amnesia.


“Ya kalo di kartu keluarga sih statusnya sebagai kepala keluarga”, Arfin menjawab berbelit- belut.


“Aku kan tanya dia siapa, Aa jawabnya gak jelas, malah memberitahukan statusnya segala”, gerutu Naz.


“Hahaha,,, masa kamu gak kenal, udah beberapa kali ketemu juga ih”, Arfin kembali memberi clue.

__ADS_1


“Seriusan aku gak tahu ih,,, gak usah main tebak- tebakan deh,, nanti kalo marah level tingkat kemarahannya bisa lebih dari singa ngamuk”, Naz semakin kesal.


“Hahaha,, uhhh takutt,,, “, Arfin malah menggoda.


“Iiiihh,,, nyebein banget sih”, gerutu Naz sambil mencubit pinggang Arfin.


“Aww,,, aduh sayang kamu kok malah nyubit Aa, sakit tahu,,, iya iya deh, ini tuh rumahnya Pak Ahmad Latief Akbarsyah, alias Papi nya Aa”.


Naz langsung membekap mulutnya dan melotot karena terkejut, ia pun langsung menghentikan langkahnya padahal sedikit lagi sampai depan pintu, “Berarti ini rumah Aa dong?”,tanyanya.


“Bukan,,, ini rumah orang tuaku,, Aa belum punya rumah, masih nabung soalnya gak mau punya utang kalo nyicil- nyicil atau pengajuan ke bank,,, ”, Eitdah Arfin malah jadi curhat.


“Yasalam,,, ternyata dia mau mempertemukan aku dengan emaknya,,,, dasar borokokok keok,, sengaja da dia mah gak bilang dulu biar aku gak mangkir,,, awass ya kau Suranas Basarnas”, Naz menggerutu kesal dalam hati. Naz membalikan badannya dan hendak melangkah, lalu tangannya langsung ditarik oleh Arfin sehingga mereka berdiri saling berhadapan begitu dekat.


“Chayaku sayang,,, mau kemana hem,,,? ini pintu masuk udah dekat tinggal tiga langkah lagi”, Ucap Arfin dengan nada mesra.


“A a aku,,, a aku mau ke toilet”, jawa Naz lalu nyengir yang menampakan barisan giginya yang rapi.


“Memangnya di sini tempat rekreasi yang menyediakan toilet di luar ruangan hem,,,, ? Kalo mau ke toilet, kamu harus masuk dulu ke rumah ini dengan cara melewati pintu itu”, ucap Arfin sambil menunjuk ke arah pintu. “Sudahlah,, ayok kita masuk,, kamu mah alasan aja mau kabur ya kan? ”, Arfin menarik tangan Naz dan mengajaknya berjalan lagi lalu membuka pintu dan mereka pun memasuki rumah tersebut.


“Alamakk,,,, pantesan dari tadi gak enak perasaan,,, ternyata aku dikibulin sama si kamvret Suranas menyebalkan ini,,, sekarang udah kayak gini atuh musti gimana hamba, Ya Allah… gak bisa kabur ini mah gak bisa“, Naz terus menggerutu dalam hati sambil berjalan dan ia dibawa ke teras samping yang ternyata di sana ada kedua orang tua Arfin sedang bersantai sambil berjemur di kursi depan kolam renang.


“Aa,,, aku deg degan banget”, bisik Naz pada Arfin sambil menghapus keringat di dahinya dengan tisu.


“Tenang aja gak usah takut , Mami orangnya baik kok dan dia gak suka gigit,”, ucap Arfin terkekeh dan mereka pun menghampiri kedua orang tua Arfin.


“Tenang- tenang endasmu,,,, ini keringet terus keluar lagi, tangan ku dingin banget,mana pengen pipis,, hadeuhhh,, yasalam,,, gini amat ya rasanya mau ketemu camer”, Naz terus menggerutu dalam hati.


“Mami,,, AL mau kenalin seseorang nih”, Arfin menyapa Mami nya hendak memperkenalkannya pada Naz yang berdiri di sampingnya yang sedang menundukkan kepala karena merasa malu dan nervous. Mami nya Arfin bangun dari duduknya dan menghampiri mereka, “Naz, perkenalkan ini Mami ku”, ucap Arfin menoleh pada Naz, dan ia pun perlahan kembali mengangkat kepalanya yang menunduk, dan saat pandangannya lurus ke depan, ia langsung beradu pandang dengan Mami nya Arfin.


Betapa terkejutnya Naz melihat wanita yang tengah berdiri di hadapannya itu, “Tante,,,,??”, ucapnya masih dengan raut wajah terkejut.


“Hai,,, Rhea,,,, Rheanazwa”, Maminya Arfin pun sama terkejutnya, ternyata kekasih dari anaknya adalah orang yang tempo hari pernah menolongnya.”Jadi kamu ini Naz ya, pacarnya anak ini ?”, tanyanya sambil menunjuk ke arah Arfin.


Naz tersenyum lalu ia mengulurkan tangannya untuk menyalami beliau, dan ia pun mencium tangan ibu dari kekasihnya itu.


“Loh,, kalian sudah saling kenal ?”, tanya Arfin heran.


“Ini loh,, gadis yang tempo hari pernah Mami ceritakan,, yang nolong Mami saat terkilir dan saat hampir dijambret itu,,, Rheanazwa ini orangnya,,, “, Mami menjelaskan.


“Dan Tante juga yang nolongin saya waktu pingsan di sekolah,,,, “,Naz menambahkan.


“Saat itu Tante baru tahu namamu Rheanazwa dan ternyata kamu salah satu murid di sekolah milik yayasan kami,,,, pacarmu ini unik loh Al,, dia kan berani tuh melawan dua orang penjambret,, ehh ternyata takut sama jarum suntik,, saat mau dipasang infusan aja sampai dipeluk sama Mami”, ucap Mami terkekeh, sedangkan Naz hanya senyum malu- malu meong.


“Bukan unik lagi Mi,,, tapi antik,,, hahaha”, ucap Arfin mengejek


“Siapa yang antik ? atau cantik?”, Pak Latief menghampiri mereka bertiga yang sedang ngobrol, “Oh,,, ada calon mantu rupanya”, ucapnya terkekeh, lalu Naz pun menyalami beliau dengan mencium tangan beliau.


“Hemm,,, dasar yah sudah tuir juga masih aja tahu sama yang cantik- cantik ya,,, Ayok kita masuk ke dalam, hari sudah mulai panas ini”, Mami pun mengajak ketiga orang tersebut masuk ke dalam rumah dan mereka berkumpul di ruang tengah, dan Mami mengajak Naz duduk di sebelahnya.


“Yasalam,,, kenapa duduk nya deketan gini sih,,, bau- bau nya mau ngintrogasi ini mah,,, haduhhh,,, Bunda tolong aku,,, ini deg-degan gak ilang- ilang lagi”. Naz menjerit dalam hati.


“Naz,,, gak usha tegang gitu, biasa aja kali kayak kita ngobrol di restoran dan di klinik waktu itu loh, tenang aja Mami gak akan gigit orang kok,,, cuma gigit si Om saja,, hahaha,,, “, ucapnya lalu tertawa mencoba mencairkan suasana antara keduanya karena melihat muka tegang nya Naz, sedangkan Naz masih tetap hanya menampakan senyum malu- malu meong nya, Afin pun ikut tertawa karena Naz terlihat tak seperti biasanya.


Kemudian Mami memegang tangan Naz.


“Cantik,,, terimakasih banyak ya, kamu sudah bersedia membantu menyadarkan Nervan si anak keras kepala itu dan membuatnya bisa kembali bersama Humaira lagi, si Om sudah cerita soal kejadian kemarin,,, kami sudah mencoba untuk menjelaskan soal Humaira, tapi dia malah marah saat baru mendengar namanya saja, bahkan dia sampai pergi dan gak datang kesini lagi hingga beberapa hari, tapi kamu hebat bisa membuatnya mendengarkan mu,,, terimakasih banyak,,, Mami tidak tahu dengan cara apa harus berterima kasih sama kamu,,, “, ucap Mami lalu mengela nafas sejenak, “Kamu sudah mengembalikan kedua putraku seperti dulu yang kini sudah berhasil keluar dari keterpurukan mereka, terimakasih,,, “, ucapnya lagi sambil berkaca- kaca.


“Hehe... Tante ini berlebihan,,, aku hanya membantu Kak Arfin dalam misi nya mempersatukan Bang Evan dan Kak Maira kembali, dan membantu Nala agar bisa mempunyai keluarga yang utuh,,, Kak Arfin juga banyak membantu ku terutama keluar dari hal yang selama ini membelengguku,, Maaf ya Tante aku sering merepotkan Kak Arfin”, ucap Naz yang sudah mulai tidak canggung lagi.


“Biarin aja Naz,, yang sering aja ngerepotin Arfin, biar dia gak jadi anak rumahan mulu,, bosen lihat di diam di rumah aja,, hahaha,,, Oh iya Naz,, jangan panggil tante,,, panggil saja Mami ya ”, pintanya dan membuat Naz kembali terkejut.


“Ta,, tapi Tante,,,”, Naz mencoba menolak.


“Eh gak ada tapi- tapian,,, pokoknya panggil Mami…!! ”, Mami pun memaksa.


“Mami,,, jangan dipaksa gitu, kasian itu anaknya terkejut seperti itu,, dikiranya udah mau dinikahkan sama Arfin”, ucap Pak Latief terkekeh sedangkan Arfin yang sedari tadi memainkan ponsel hanya tersenyum sinis.


Mami menatap sendu pada putranya itu sejenak lalu ia membuang muka, dan tanpa beliau sadari Naz memperhatikn perubahan raut wajah beliau.


“Kenapa Mami nampak sedih setelah melihat Kak Arfin yang nampak acuh dan sepertinya tidak suka saat Papi nya membicarakan pernikahan ? apa karena aku memang masih sekolah jadi dia tidak suka membahas itu?”, Naz bertanya- tanya dalam hatinya.


------------------ TBC -----------------


***************************


Akhirnya Naz bisa bertemu juga dengan calon Mami mertuanya,,, cie ile,,, udah diminta manggil Mami aja…..


Happy Reading


Jangan lupa tinggalkan jejakmu,,, Komen, Like, Vote, dan Rate bintang 5…

__ADS_1


Terimakasih…


__ADS_2