Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Hilang Ditelan Bumi


__ADS_3

Arfin merasa sangat bahagia akhirnya sang istri yang sudah terpisah dengannya selama satu setengah bulan bersedia diajak pulang. Ia membuka maskernya dan tak hentinya mengulas senyum sambil berjalan menuju pintu keluar menunggu istrinya yang sedang bersiap- siap untuk kembali ke rumah bersamanya. Ia menghampiri Lutfi yang sedang duduk di kursi teras depan.


“Kesambet Lo Ar,, ?? senyam - senyum sendiri gitu “, Lutfi senang sekali rupanya mengejek atasannya yang menurutnya orangnya sangat menyebalkan itu.


“Bini gue bersedia pulang ke rumah,, jadi gue gak akan kesepian lagi,, ”, ucapnya tersenyum sumringah.


“Alhamdulillah,, akhirnya hamba gak jadi dipotong gaji”,Lutfi masih saja teringat nasib gajinya.


“Lo kok malah ngurusin gaji,,, bukannya bersyukur atas kebahagiaan gue”, Arfin pun dibuat protes karenanya.


“Tentu saja,, gue juga ikut bahagia,, berarti lo gak jadi gila”, tetep ujung- ujungnya mengejek.


Tiba- tiba datang seorang yang mengendarai motor vespa jadul memasuki pintu gerbang yang terbuka, betapa terkejutnya saat orang itu saat sampai di depan teras rumah melihat keberadaan Arfin dan Lutfi.


Arfin langsung berdiri dan memberi tatapan tajam pada orang itu, “Kurang ajar,,, berani- beraninya dia datang ke sini !!”, ia masih sangat kesal pada sopir baru yang sudah membohonginya.


“Astaga naga,, kenapa si Pak Bos sama Pak Lutfi ada disini?”, gumamnya pelan, kemudian ia hendak memutar arah kendaraanya untuk kembali pergi.


“Heh,, mau kemana kamu??”, teriakan Arfin langsung menghentikan Uje yang hendak melarikan diri.


“Alamak,, cilaka tiga belas ini mah,, aduhh,, emak,, bapak,, kumaha ieu,,, dipecat ieu mah dipecat geura”, Uje mengumpat dengan suara pelan.


“Ujang,,, itu bos lo nanya tuh,,, jawab,, sebelum dia murka, karena lo bilang lagi sakit makanya gak masuk kerja,, dia gak suka dikibulin loh”, Lutfi pun ikut mencerca Uje.


“Jangan sebut nama itu, Lutfi,,!! panggil dia Uje…”, Arfin memberitahu Lutfi yang ternyata belum tahu nama panggilan sopir baru nya.


“Hehehehehe,,,,, aduh ampuun Pak Bos,,, saya ditelpon Neng Bos,, katanya disuruh pinjam motor Vespa jadul milik Pak Beno yang suka jalan- jalan ke taman di depan sana, karena ngidam ingin naik motor ini,, hehehehe”, ucapnya cengengesan.


“Alasan kamu,, “, Afin nampaknya masih kesal pada Uje.


“Beneran,, cius,,, mialloh,,, “, Uje menunjukan salam dua jari.


“Kang Uje,, itu Vespa nya udah dapat?”, Naz tiba- tiba muncul langsung menghampiri Uje, Arfin pun segera memakai masker nya lagi,,


“Wahh,, kok bisa sih,, Pak Beno itu ngasih pinjam motornya? Disewa berapa?”, Naz langsung tertuju pada motor Vespa yang dibawa Uje, seolah ia mengacuhkan suami yang dilewatinya begitu saja.


“Disewanya pakai harga diri atuh Neng Bos? Uje teh jadi tumbal”, ucapnya dengan raut wajah sedih.


“Hah?? Tumbal??”, Naz kaget mendengarnya.


“Iya atuh Neng Bos,,,”, Uje membenarkan.


“Maksudnya,, Kang Uje nanti mau di jadikan tumbal pesugihan Pak Beno itu? kang Uje mati gitu ”, Naz mengira tumbal macam itu.


“Bukan atuh Neng Bos,, Uje dikasih pinjam motor ini dengan syarat nanti malam harus kencan sama anaknya Pak Beno yang rada- rada itu”, Uje pun menjelaskan maksud perkataannya.


“Hhaahahahahaha…. “, Naz tertawa dengan renyahnya.


Arfin menghampiri istrinya yang sedang bicara dengan Uje, “Sayang,, kamu beneran mau naik motor ini?”.


“He eum,,, boleh ya?”, Naz meminta izin.


“Enggak “, Arfin langsung menegaskan.


“Aaahhh,,,, aku pengen banget naik motor ini,, keliling komplek aja ya,,”, Naz terus merengek.


“Jangan sayang,,, kamu kan lagi hamil,, jangan naik motor,, bahaya ahh”, Arfin tetap melarang.


“Aaahhh,, tapi kan yang pengennya anaking,,, “,Naz mengusap perutnya.


Arfin menghela nafas berat, jika mendengar itu keinginan anaking-nya, ia tidak bisa melarangnya, namun ia sangat khawatir, ”Yasudah,, tapi yang dekat aja ya,, jangan keliling komplek”.


“Iya,,,, “, Naz mengangguk dan tersenyum gembira.


“Tapi, Aa yang bawa motornya”, ia pun tak rela jika istinya dibonceng orang lain, apalagi kalau dia sampai pegangan pada pria lain.


“Iya,,, tapi ganti baju dulu gih,, ada kaos sama celana pendek Aa kok di lemari”, titah Naz pada sang suami.


“Hah,,,??”, Arfin lalu berbisik pada Naz, “Jangan bilang kamu juga membawa CD Aa dari rumah dan memakainya juga ya?”, tanyanya curiga.


“Ya enggaklah,, aku kan lebih sering pakai dress,, yang ada kalau aku pakai CD Aa pas lagi jalan melorot,, hahahaa”, membayangkannya saja membuat Naz tertawa, “Udah sana gih,, ganti baju dulu,, itu kemejanya udah bau keringet ihh”,


“Iya,,, iya,,”, Arfin mencabut kunci motor Vespa yang dibawa oleh Uje tersebut, karena ia takut istrinya yang super jahil itu nekat pergi dibonceng Uje saat ia ganti baju,,, Ia pun beranjak masuk ke dalam untuk mengganti pakaian.


Tak lama ia kembali dengan mengenakan kaos dan celana pendek serta sandal jepit yang ada di rumah, tentunya ia kembali memakai masker dan mengenakan topi di kepalanya, hanya saja kini ia menggunakan kacamata hitam yang didapatkannya dari laci lemari.


“Aa lama banget ih,, “, Naz sudah tidak sabar, padahal Arfin hanya pergi lima menit saja.


Arfin hanya tersenyum,,, ia pun menaiki motr Vespa tersebut kemudian menyalakannya, “Ayo sayang,,,”, ajaknya.


“Ahh aku udah gak mau,,, Aa aja gih sama boncengan sama Uje, terus nanti foto selfie ya”, Naz tiba- tiba berubah pikiran.


“Enggak enggak ahh,,, ngapain boncengan sama Uje”, Arfin menolak mentah- mentah.

__ADS_1


“Aaaahhh,,, anaking yang minta itu,, cepetan gih,,, biar kita cepet pulang”, Naz menjual nama anaknya agar suaminya memenuhi keinginannya.


Arfin pun tidak bisa menolak jika Naz sudah mengeluarkan jurus terjitunya, dengan terpaksa ia pun mengendarai motor boncengan dengan Uje,,, ia pun melepas maskernya untuk semenrtara.



Sesuai permintaan Naz, ia berkendara keliling komplek sambil berfoto ria.



Setelah Arfin memenuhi keinginan Naz, mereka pun berangkat untuk pulang ke kediaman Arfin. Selama di perjalanan Naz terus menempel pada suaminya yang sama- sama duduk di jok tengah, sedangkan Bu Rahmi duduk di depan bersama Lutfi, si pengemudi, dan Mbak Jum duduk di jok paling belakang bersama koper dan barang Na lainnya.


Sesampainya di rumah, Arfin menggendong Naz yang tertidur masuk ke kamar kosong yang ada di seberang kamar mereka, ia membaringkan Naz dengan hati- hati. Arfin duduk di pinggiran tempat tidur, dilepaslah masker yang sejak berangkat tadi dipakainya. Ia lalu mencium kening istrinya yang sejak tadi ingin ia lakukan. Arfin memandangi Naz yang nampak tertidur pulas sepuas yang ia mau, seolah ia masih tidak percaya jika istrinya sekarang sudah kembali dan ada di depan matanya. Sementara Mbak Jumi membereskan pakaian Naz dan memasukannya ke dalam lemari.


Arfin kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian, ia kembali ke kamar tempat Naz tidur tadi, dan ternyata orangnya sudah bangun. Beruntung Arfin sebelum masuk sudah menggunakan masker dan kacamata, sehingga Naz tidak bisa melihat jelas wajahnya.


“Kamu sudah bangun, sayang?”, Arfin menghampiri Naz dan ia duduk di pinggiran tempat tidur.


“He eum,,,, aku lapar”, Naz memegang perutnya.


“Sebentar,, Aa ke dapur dulu ya, minta disiapkan makanan”, Arfin hendak bangkit, namun tangannya dipegang Naz seolah melarangnya pergi.


“Gak mau,,, pengen makan di luar”, rengek nya.


“Yasudah,, kamu mandi dulu gih, nanti kita perginya abis magrib, tanggung kalau pergi sekarang udah setengah enam sore,,” ucapnya yang melihat jam jam tangannya, Naz pun langsung bangkit dan pergi ke kamar mandi sesuai titah sang suami.


**


Keduanya berangkat setelah shalat magrib, di perjalanan Naz meminta untuk makan di restoran Jepang, Arfin pun mengikuti keinginan istrinya.




Semenjak itu Arfin selalu mengabulkan keinginan istrinya walau itu hal aneh sekali pun, dan ia tak pernah marah atau membentak Naz lagi, jika istrinya melakukan kesalahan atau menjahilinya dan ulah konyol lainnya.


Naz begitu menikmati masa kehamilannya dengan suami yang selalu memanjakannya. Dan setelah syukuran empat bulanan yang dihadiri para tetangga serta keluarga dari Jakarta, ngidam anehnya pun menghilang, ia tak lagi mual muntah saat melihat wajah suaminya, justru sekarang selau ingin nempel dengan suaminya. Bahkan jika suaminya pulang kerja ia akan menciumi bau tubuhnya, tak jarang ia melarang suaminya mandi karena suka dengan bau tubuhnya. Setiap pagi saat suaminya bersiap untuk pergi kerja pun dilarang menggunakan parfum, maka Arfin akan membawa parfumnya ke kantor dan menggunakannya di sana.


**


Hari berganti hari, Naz yang perutnya semakin membesar seiring bertambahnya usia kehamilannya, masih melakukan aktivitas kesehariannya seperti biasa. Ia menjalankan tugas sebagai seorang istri juga sebagai pelajar yang menimba ilmu di bangku perkuliahan. Arfin pun semakin protektif pada Naz, sehingga kemana pun ia pergi, selain diantar oleh Uje juga harus ditemani oleh Mbak Retno, layaknya anak TK yang diantar pengasuhnya.


Naz yang tidak mau berdebat dengan suaminya pun hanya manut saja dengan segala aturan yang diberikan suaminya, karena ia tahu betul, hal itu demi kebaikannya dan juga bayi dalam kandungannya yang kini sudah berusia 33 minggu. Tentunya kini Naz sudah merasakan ketidak nyamanan, terkadang sakit pinggang, cepat lelah, setiap malam merasa kegerahan, sering buang air kecil dan lain sebagainnya. Namun itu tak membuatnya mengeluh atau menyesali keputusannya untuk segera memiliki anak setelah menikah dulu, karena suaminya sangat memperhatikan segala macamnya, bahkan lebih perhatian dari sebelumnya.


Naz benar- benar menikmati perannya sebagai bumil yang sangat dimanjakan oleh suaminya. Apalagi saat merasakan setiap gerakan sang bayi di dalam perutnya, membuatnya merasa sangat bahagia tiada tara, karena menurut penuturan dokter, bayi yang aktif di dalam perut menandakan tumbuh kembang yang bagus dan sehat.


Naz yang baru saja selesai menjalankan ujian semester, memutuskan untuk mengambil cuti kuliah, karena tubuhnya yang sudah mulai cepat lelah dan ia ingin fokus mempersiapkan persalinannya yang tinggal beberapa minggu lagi, karena ia bertekad untuk melakukan persalinan normal dan menurut dokter kondisinya pun sangat memungkinkan untuk bisa melahirkan secara normal.


Ia pun mengikuti senam ibu hamil bersama suami yang selalu setia menamaninya, selain itu ia sering memperdengarkan lantunan ayat suci Alqur’an serta musik klasik pada si jabang bayi yang ada dalam kandungannya.


Orang tuanya juga semakin perhatian, mereka sering menghubungi untuk mengingatkan agar Naz selalu menjaga kesehatan dan menyiapan fisik serta mentalnya untuk menghadapi persalinan nanti, begitu pun pada suaminya yang diharuskan menjadi suami Siaga. Bahkan mereka sering datang berkunjung bergantian, kadang minggu ini Bunda dan Ayahnya datang, dua mingu kemudian Mami dan Papi,, dan dua pekannya lagi Mama dan Papa nya.


Naz dan Arfin hanya tinggal menyiapkan nama dan kamar bayi untuk anak mereka nanti, karena setelah acara tujuh bulanan, trio emak- emak sudah membelikan segala macam keperluan bayi. Mulai dari popok, pakaian, kain pernel, tempat tidur, selimut, stroller, baby bouncher, peralatan mandi, mainan, peralatan dot, sampai jemuran popok bayi pun sudah lengkap sesuai keinginan Naz, semuanya berwarna netral alias bisa dipakai bayi laki- laki atau perempuan, kecuali warna pink,, karena mereka benar- benar tidak ada yang mengetahui jenis kelamin bayi dalam kandungan Naz.


Sekarang Naz hanya diam di rumah saja, sesekali pergi jalan ke mall atau ke tempat yang ia inginkan, tentunya ditemani sang suami. Setiap pagi Naz rutin berjalan santai mengelilingi komplek bersama suaminya sesuai saran dokter dan juga trio emaknya, selain untuk menjaga kesehatannya juga agar melancarkan jalan persalinannya kelak. Arfin juga menjaga pola makan istrinya, yang menurut dokter jangan terlalu banyak makan dan ngemil untuk menghindari obesitas juga agar bayinya tidak terlalu besar.


Seusai makan malam, Naz dan Arfin kembali ke kamarnya. Naz duduk sambil bersandar pada sandaran tempat tidur dengan meletakan bantal di belakang tubuhnya, sehingga membuatnya nyaman karena terasa empuk sambil memainkan ponselnya. Sedangkan sang suami yang duduk di sebelahnya nempak sedang serius dengan laptopnya.


Naz pun menyalakan televisi dan memencet- mencet tombol yang ada di remot TV nya untuk mencari chanel tontonan yang menarik baginya, lebih tepatnya hanya meluapkan kekesalan nya karena ia tidak diperbolehkan pergi ke Jakarta, setelah mendapat kabar kalau Raline melahirkan.


Naz melirik pada suaminya,


“Aa lagi apa?”.


“Kerja,,,,”, jawabnya singkat.


“Oh, kerja ya,,, di kantor kerja,, di rumah kerja”, Naz seolah menyindir dengan nada agak ketus.


Arfin menghela nafas panjang, lalu menoleh dan melempar senyum pada istrinya, “Maaf sayang,, sebentar ya,, setelah ngecek beberapa email, kerjaannya selesai”


“Hmmmm….”, Naz nampak kesal.


Arfin yang mendengar hal itu, kemudian menghentikan pekerjaannya, ia mematikan laptopnya lalu bangkit untuk menaruhnya ke atas meja kerjanya. Ia pun duduk kembali, lalu membungkukkan tubuhnya untuk mencium perut buncit istrinya,


“Maaf ya anaking,,, Pagu belum menyapa mu malam ini”, ucapnya yang kemudian mengelus- elus perut istrinya itu.


“Anaking di cium, Magu- nya enggak”, ucap Naz masih dengan nada ketus.


Arfin terkekeh dan kembali menegakkan tubuhnya, lalu menciumi seluruh bagian wajah istrinya. Lalu ia memperhatikan raut wajah Naz.


“Kamu kok cemberut gitu sih sayang,,? kan udah dicium,, atau mau lebih, hem??”, ucapnya yang kemudian mencolek pipi Naz, namun ia masih terlihat kesal. Arfin menghela nafas sejenak,


“Maaf sayang,,, Aa tidak bermaksud membuat mu sedih atau menjauhkan mu dari saudari mu,,, kamu kan lagi hamil besar, tidak disarankan untuk bepergian jauh,, apalagi untuk naik pesawat,, Aa melarang mu pergi juga demi kebaikan mu dan bayi kita,,, lagi pula kan kita bisa video call untuk melihat bayi nya Raline,, dan Aa sudah memesan hadiah untuk dikirim ke sana,,,”, Arfin memberi pemahaman pada istrinya.

__ADS_1


“Tapi kan semenjak hamil aku cuman sekali aja pergi ke Jakarta, dan itu pun dua bulan yang lalu,, karena aku sibuk kuliah,,, giliran udah cuti kuliah,, aku nya yang gak oleh ke sana,, aku kan kangen sama kelurga disana“, Naz mengutarakan kekesalannya.


“Iya sayang, Aa tahu,,, lagi ipula kan orang tua kita sering berkunjung ke sini,, bahkan Oma sama Opa juga udah pernah ke sini kan,, dan kamu juga sering berkomunikasi sama mereka,,, Nanti kalau sudah melahirkan dan bayi kita sudah agak besar dan boleh naik peswat kan kita bisa ke Jakarta,, udah dong jangan cemberut gitu ya,,kala kamu kesal nanti anaking bisa sedih loh,,”, Arfin kembali mencium kening Naz, tangan kirinya merangkul hingga membawa Naz ke pelukannya, sedangkan tangan kanan mengelus- elus perut buncit si bumil cantik itu.


“Aa,,,”, panggilnya.


“Iya,,, “. Arfin menyahut.


“Udah belum nyari nama untuk anak kita nanti?”, Naz baru teringat akan pemberian nama untuk anak mereka kelak.


“Eh iya ya,,, belum sayang,,, gara- garanya kata emak- emak nyari nama baru boleh setelah tujuh bulanan, eh malah kelupaan karena kesibukan kita, Aa yang sibuk dikantor,, dan kamu sibuk mempersiapkan ujian kemaren,,, kasih nama apa ya? apa cari di internet supaya tahu dengan arti nama nya juga”, ucapnya panjang lebar.


“Boleh juga,, ketiga sahabatku pada ngasih referensi nama untuk anak kita,, tapi aneh- aneh nama nya”, Naz teringat pada ketiga sahabatnya yang ingin menyumbang nama.


“Emang mereka ngasih nama apa?”, tanya Arfin penasaran.


“Kiara nih yang pertama, dia bilang karena kita dipertemukan di tepi danau, jadian di sana, bahkan Aa melamarku juga di sana,, dia ngasih nama Lakesha”, Naz memaparkan saran temannya satu persatu.


“Hah,, Lakesha? Itu nama perempuan, kan?”, Arfin merasa heran.


“Iya katanya Lake itu kan danau jadi kalau bayi kita perempuan dinamainya Lake-sha”, Naz menjelaskan.


“Terus kalau untuk nama laki- laki Lake- pret gitu?”, Arfin malah mengajaknya bercanda.


“Hahaha,,, enggak lah,, tapi Lake- boy katanya?”,Naz yang tertawa kembali mengatakan nama yang lainnya.


“Jangan ah yank, kan Lake itu dibacanya Lek,, masa ntar anak kita dipanggil Lek-boy,, kayak nama sabun mandi ih”, Arfin menolak nama tersebut.


“Untung gak Asepso juga,,,”, Naz kini yang bercanda.


“Apaan tuh?”, Arfin merasa asing dengan nama yang disebutkan Naz.


“Itu sabun buat gatal- gatal”. jawab Naz nyengir.


“Lebih parah,,,hahaha”, Arfin menertawakan ketengilan istrinya.


“Nah kalau Ruby, dia nyaranin nagsih nama dari singkatan nama kita,, Kan aku Rheanazwa, sedangkan Aa Al arifin, dia bilang nama naak kita Rheal.. kata aku kok kayak nama mata uang Arab,, terus dia bialng tinggal ditambahin aja apa susahnya jadi Rheal Madrid, Rheal good, Rheal Life, atau digabung sama nama dari Kiara jadi Rheal Lake,, udah aja kata aku teh kasih nama Santuy sekalian,,, emang dasar ngaco mereka tuh”, Naz mengerutuki ulah sahabaytnya.


“Hahaha,,, terus Andes gimana?”, Nampaknya Arfin semakin penasaran dengan nama aneh dari para sahabat Naz.


“Dia lebih parah,,, Ngasih nama Bambang, Alexander, Aderald, Byakta, Xavier, Dareen”, Naz menyebutkan satu persatu yang disarankan Andes.


“Bagus itu nama- nama nya,, tapi laki- laki semua ya”, Arfin justru memuji.


“Iya kalau nama untuk laki- laki sih bagus,, giliran perempuan dia ngasih namanya, Bambangwati, Alexanderwati, Aderaldwati, Byaktawati, Xavierwati, Dareenwati,,, kurang aneh apa coba,,,”.


“Hahaha,,, kreatif itu yank,,,”, Arfin malah menertawkan.


“Atau kata Andes cari nama yang unik kayak nama anak artis,, siapa tuh ya namanya,, oh iya,, Dia Sekala Bumi atau Kinasih Menyusuri Bumi,,,”, ucap Naz mengingat- ingat.


“Terus anak kita mau dikasih nama Hilang Ditelan Bumi, gitu? hahahaa”, Arfin malah terus bercanda.


“Sekalian aja Gempa Bumi Skala Richter”, Naz malah menimpali candaan suaminya.


“Atau kalau enggak Bumi Berputar Pada Porosnya”, Arfin semakin ngaco.


“Iya,, terus entar nama panggilannya Rotasi”, Naz tak mau kalah ngaco saking kesalnya.


“Bukan sayang,, tapi panggilannya Pororo”, Ini lagi lebih aneh, bukan ngaco lagi.


“Kok Pororo? Kayak nama tokoh katun ?”, tanya Naz heran.


“Kan Bumi Berputar Pada Porosnya,, jadi Porosnya diplesetkan jadi Pororo,, hahaha”, Arfin menertawakan perkataannya sendiri.


“Iihhhh ,, Aa parah banget sihh,,, ngasih nama tuh yang bagus atuh,,, yang artinya bagus juga,, jadi nama anak kita bisa menjadi doa untuk dia dan kita sebagai orang tuanya,, ini malah nama aneh- aneh,,”, Naz akhirnya jadi ngambek lagi dan langsung berbaring menyamping membelakangi suaminya, lalu menutup dirinya dengan selimut.


Arfin yang merasa bersalah, kemudian kembali membujuk istrinya,


“Yank,,,sayang,, jangan ngambek dong,,,”, bujuknya.


“Au ahh,, ngantuk,,”, Naz tah menghiraukannya.


Ia pun teringat dengan mainan kesukaan sang istri, “Yank,, sayang,, kasihan nih si ujang kangen sama si imut,, katanya”, ucapnya memelas sambil mengusap- usap lengan istrinya.


Naz menolehkan pada sang suami, “Si Imutnya hilang ditelan bumi.. hmhhh”, ucapnya dengan nada jutek.


------------- TBC ----------------


************************


Happy Reding….


Jangan luva tingalkan jejakmu,,,

__ADS_1


Tilimikicih,,, ayapyu oll….


__ADS_2