
Tok tok tok….. terdengar suara ketukan pintu yang mampu mengagetkan Naz dan Arfin.
“Dek,,, Bunda pinjam pengering rambut, punya enggak?”, teriak Bunda dari balik pintu.
“Hah,,,?? Bunda,,,,”, Naz terkejut mengetahui si pengetuk pintu adalah Bunda nya, kemudian ia turun dari atas tubuh suaminya dan langsung memakai dasternya kembali.
”Iya Bunda,,, sebentar ya, aku ambil dulu”, Naz menyahuti Bundanya, ia beranjak dari tempat tidur menuju kaci twalet nya untuk mengambil hairdyer.
Arfin akhirnya bisa bernafas lega, karena kedatangan Bunda mampu menghentikan kegilaan istrinya yang hampir membuatnya khilaf. Saat Arfin melihat Naz berjalan menuju pintu keluar, Ia segera bangkit dan langsung ngacir ke kamar mandi, karena takut istrinya akan menerkamnya lagi jika urusannya dengan Bunda sudah selesai.
Entah karena takut bertemu dengan istrinya entah karena apa, Arfin yang biasanya tidak pernah lama mandinya, kali ini nampak berbeda. Saat ia masuk ia melihat ada lulur, tiba- tiba ia ingin memakainya, dan jadilah ia luluran dulu sebelum mandi. Ia keluar dari kamar mandi 30 menit kemudian, dan beruntung saat ia keluar, ternyata istrinya sudah tertidur lelap.
“Slamet,, slamet,,, untung dia tidur,,, “, gumamnya pelan yang kemudian melangkah perlahan menuju lemari pakaian. Ia membuka pintu lemari dengan sangat hati- hati agar tidak menimbulkan suara yang bisa mengusik tidur istrinya.
Setelah selesai berpakaian, ia menghampiri istrinya yang masih tertidur pulas sekedar untuk menyelimutinya dan mencium keningnya, ia pun beranjak keluar. Bertepatan dengan itu, ia melihat Mami nya yang sedang berjalan menuju kamar sambil memijat kepalanya, ia segera menghampiri Maminya.
“Mami, kenapa? Apa masih pusing?”, tanya Arfin saat Mami nya baru saja membuka pintu kamar.
“Iya,, sedikit Al,, “, Wajahnya nampak lesu.
“Mami kok pucat gitu,,? “.
“Tadi setelah masuk kamar dan berbaring sebentar eh malah mual muntah lagi,, Mami pikir setelah diistirahatkan akan baik- baik aja,,, dan barusan Mami abis dari dapur udah minum teh jahe hangat dibikinin sama Mbak Jumin,, nanti juga baikan kok”.
“Kita ke dokter ya, Mi”, Arfin merasa khawatir melihat kondisi Mami nya.
“Gak usah Al,,, Mami gak apa- apa kok”, Bu Hinda lalu masuk ke dalam kamar di ikuti Arfin tanpa menutup rapat pintunya, “Yang ada nanti Mami diketawain sama dokternya”, Bu Hinda duduk di tempat tidur.
“Emangnya kenapa?”, Arfin merasa heran.
“Kayaknya benar deh kalau Mami nalangin istrimu ngidam, soalnya biasanya gak sampai separah ini kalau Mami nyium bau durian,,”, Bu Hinda kemudian terkekeh,
"Kalau diperiksa sama dokter dilihat dari gejalanya, dikira Mami yang hamil,,, ”, beliau kembali terkekeh.
“Mana ada Mami hamil,, orang Mami udah pernah operasi pengangkatan rahim, lagian kan Mami udah mau kepala 5 juga umurnya”, Arfin pun ikut duduk di ranjang yang sama.
Bu Hinda malah tertawa, “Lucu kali ya kalo Mami hamil lagi disaat kamu mau punya anak,, jadinya cunak.. cucu seumuran sama anak,,,hahaha”.
Arfin menggelengkan kepalanya, ia merasa tak habis pikir selain memiliki istri yang aneh, ternyata Mami nya lebih aneh.
“Al,,, dulu waktu Mami hamil kamu, Mami gak ngerasain yang namanya mual muntah atau ngidam apa- apa,,,,, mungkin kamu yang masih dalam perut Mami sudah memahami Mami yang saat itu harus punya kekuatan extra, karena dalam keadaan hamil harus mengurus Fatma, Atikah juga Abang mu yang masih bayi,, dan sekarang Mami baru tahu rasanya mabuuk orang hamil tu seperti ini,,, hehehe”, Mami sepertinya terpengaruh dengan ucapan Bunda.
“Al pikir yang bisa nalangin istri ngidam itu cuma suaminya aja,, ternyata mertua juga bisa”, Arfin ikutan terkontaminasi.
“Mungkin karena Mami sangat menyayangi istrimu, jadi ikut ketularan,,,”,Bu Hinda dan Arfin malah tertawa,
Bu Hinda menyentuh pundak Arfin yang duduk di sebelahnya yang hanya berjarak 30 cm, “Al,,, Mami sangat bahagia, akhirnya kamu akan segera menjadi seorang ayah,, Mami juga sangat bersyukur karena ketakutan mu selama ini tidak menjadi kenyataan,, akhirnya kamu bisa bahagia, Al,,, “, beliau tersenyum dengan mata yang berkaca- kaca.
Bu Hinda mengusap kepala putranya, lalu tangannya beralih pada pipi dan menatap lekat wajah putranya itu. Bu Hinda memegang tangan Arfin kemudian menghela nafas berat, “Mami minta maaf,,, sejak kamu lahir, Mami kurang memberi mu perhatian, karena terlalu fokus mengurus Abang mu yang saat itu sering sakit- sakitan, sampai Mami membebani mu dengan mengatakan kamu harus selalu menjadi penolong dan pelindung Abang mu,,, dan karena hal itu kamu jadi banyak menderita, Nak,,, Mami minya maaf,,,”, Bu Rahmi tak kuasa menahan air matanya, karena rasa bersalahnya.
“Mami,,,”, lirihnya.
“Bertahun- tahun kamu harus menderita, dan itu semua itu gara- gara Mami,, hiks hiks,,, setiap hari Mami tidak pernah bisa tenang bahkan tidak bisa tidur nyenyak karena terus memikirkan mu, Al, maafkan Mami nak,,,”, Bu Hinda menundukkan kepalanya.
Arfin bangkit dari duduknya, ia berdiri di hadapan Mami nya,kemudian ia bersimpuh di kaki Mami nya, dan membuat Bu Hinda turun dan brjongkok,
“Mi,,, Mami jangan bicara seperti itu,,, Mami selalu melakukan yang terbaik untuk Al,, Mami gak salah,,, bahkan kalau bukan karena Mami,,, Al gak mungkin bisa bersama Naz, Al gak mungkin bisa sembuh,,, justru Al yang harusnya minta maaf karena selalu menyusahkan Mami dan membuat Mami sedih, bahkan dengan teganya Al sudah menyalahkan Mami atas apa yang Felisha lakukan,,, Al minta maaf Mi,,, Al minta maaf “, Arfin pun tak kuasa menahan tangisnya.
“Bangun Al,,, bangun,,,,Jangan seperti ini, nak, ayok bangun,,,”, Bu Hinda memegang bahu Arfin memintanya untuk bangun, keduanya pun perlahan berdiri dan Arfin langsung memeluk Mami nya. Mereka kembali menumpahkan air mata, dengan perasaan bersalah yang dirasakan masing- masing. Namun kasih sayang yang begitu besar mampu membuat keduanya saling memaafkan.
Bu Hinda perlahan melepaskan pelukannya, kedua tangannya memegang kepala Arfin, kemudian beliau berjinjit lalu mengecup kening putra bungsunya itu, “Mami sangat menyayangi mu, Al,,, Mami akan melakukan apa pun demi kebahagiaan mu,, tapi maaf, Mami tidak bisa membantu mengembalikan kaki mu seperti semula,, hiks- hiks ”.
“Berhenti menyalahkan diri Mami, ini sudah menjadi takdir hidup AL dan Al sudah ikhlas menerimanya, yang penting kan Al masih bisa berjalan juga selalu diberi kesehatan,, Mami jangan memikirkan hal itu lagi,, Al gak mau kalau sampai Mami sakit karena Al juga sangat menyayangi Mami,,, ”, Arfin pun mencium pucuk kepala Mami nya lalu mencium kedua tangan beliau.
Bu Hinda melihat seseorang yang sedang memperhatikan mereka dari pintu yang sedikit terbuka, beliau segera menghapus jejak air matanya, “Sudah,, jangan menangis lagi,,, malu nanti sama anak mu”.
“Heii,,, mau sampai kapan ngintip di balik pintu?,, ayok sini masuk… ”, ucapnya pada si pengintip, Arfin langsung menghapus jejak air matanya dengan kedua tangannya, lalu mengarahkan pandangan pada orang yang baru masuk dengan menundukkan kepalanya, ia berjalan menghampiri Arfin dan Mami nya.
“Sayang,,, kamu____ “, Arfin terkejut melihat istrinya ada di sana, [adahal tadi ia sedang tertidur pulas.
“Emmm,,, maaf ,,, aku gak bermaksud nguping pembicaraan kalian,,, tapi tadi pas keluar kamar, aku lihat pintu kamar ini sedikit terbuka,, , jadi aku berniat melihat keadaan Mami,,,”, Naz merasa tidak enak hati pada mertuanya.
“Gak apa- apa kok, sayang, sini,,, semenjak tahu kehamilan mu, Mami belum kebagian memeluk mu”, Bu Hinda melentangkan kedua tangannnya dan Naz pun langsung memeluk mertuanya itu,
“Selamat ya sayang,,, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu”, Bu Hinda mengusap- usap punggung Naz, kemudian perlahan ia melepaskan pelukannya, “Ayok sini duduk”, keduanya duduk di tepi tempat tidur, Bu Hinda mengusap pipi Naz.
“Terimakasih ya sayang,,, kamu sudah menjadi sumber kebahagiaan untuk anak Mami”, beliau kembali terisak.
“Mami,,, “, lirih Naz.
“Mami gak tahu bagaimana cara membalas semua kebaikan dan pengorbanan mu,, kamu sudah bersedia menerima Arfin dengan segala kekurangannya, kamu bersedia menikah muda dan rela tinggal jauh dari orang tua mu untuk di sini bersamanya, kamu juga begitu sabar membantu kesembuhan Arfin, dan sekarang kamu sedang mengandung anaknya yang membuatnya begitu bahagia,,, bilang sama Mami,,, apa yang harus Mami lakukan untuk membalas semua itu,, hemmm?”.
Naz yang melihat Mami nya menangis, membuatnya ikut meneteskan air mata, Naz menggenngam kedua tangan Mami nya, “Mami,, aku melakukan semua itu karena ketulusan cinta ku, bukan karena pamrih,,, Mami jangan pernah merasa berhutang budi seperti ini, apa yang aku lakukan hanya seujung kuku saja dan tak sebanding dengan hal besar yang sudah Mami berikan pada Kak Arfin,, hanya satu yang aku minta dari Mami,, cukup dengan mendoakan aku dan Kak Arfin serta anak- anak kami kelak selalu bahagia”.
__ADS_1
“Tentu saja,,, setiap hari Mami selalu mendoakan untuk kebahagian kalian dan semua anak- anak Mami,,”, Beliau kembali memeluk menantu yang sangat disayanginya itu. “Mami sangat menyayangi mu, Naz”.
“Aku juga sayang banget sama Mami,,,”, keduanya saling melepaskan pelukannya. “Udah ya,, Mami jangan nangis lagi,, aku sedih banget lihat nya”.
Bu Hinda terkekeh melihat ekspresi wajah menantunya, “Iya,, iya,,”, Beliau pun menghapus air matanya dengan tangannya,
“Mami juga minta maaf soal Felisha yang sempat mengganggu mu, dan Mami sempat berburuk sangka sama kamu gara- gara hasutannya”.
“Mami gak usah minta maaf,, aku ngerti kok,, Mami pasti jauh lebih sedih karena dia sudah memanfaatkan kebaikan Mami selama ini,, tapi kan aku udah ngasih dia pelajaran, walau sebenarnya aku belum puas mengerjainya,,, hehee”.
“Kamu tenang saja,, Mami dan Nervan sudah mengatasinya dan Mami jamin dia tidak akan pernah mengganggu mu atau Arfin lagi,,, “, Bu Hinda mengulas senyum,
“Sekarang kan kamu lagi hamil, jangan banyak pikiran ya, harus banyak makan makanan yang bergizi, banyak istirahat, rutin minum vitamin, sama minum susu, tadi di perjalanan saat kamu tidur, Arfin sudah beli susu ibu hamil sampai beberapa box”, Bu Hinda yang masih sesenggukan kemudian mengelus perut Naz. “Jaga baik- baik cucu Mami ini ya”.
Naz mengangguk sambil tersenyum, “Iya Mi,,”.
Bu Hinda mengarahkan pandangan pada Arfin yang duduk di sebelah Naz, “Dan kamu Al, harus menjaga istri dan calon anakmu baik- baik ya, jangan biarkan Naz mengerjakan pekerjaan rumah lagi, pokoknya harus bedrest, dan semua keinginannya harus dipenuhi”.
“Iya, Mi,,, “, Arfin mengangguk.
“Kalau anak itu membuat mu sedih atau menyakitimu atau memarahi mu,, kamu langsung lapor ke Mami ya,,, biar Mami yang akan menghukumnya”, Mami benar- benar sekutu Naz.
Naz terkekeh mendengar nya, “Iya,, Mi,,,”.
“Hmmm,,, kalian itu memang sudah bersekutu semenjak Al sama Naz belum menikah juga”, Arfin menyindir.
“Tentu saja, karena kita ini BFF,, “, Mami tahu bahasa anak zaman now ternyata.
“Tuh dengerin kata Mami,, harus nurutin semua keinginan aku,,,”, Naz merasa di atas angin.
“Iya,, sayang..”, Arfin pun pasrah.
“Berarti fix ya,, Magu- Pagu”, Naz pintar memanfaatkan keadaan.
“Enggak,,,”, Arfin tetap menolak.
“Aaahhh,,, Mami,,, tuh Aa gak mau nurutin keinginan aku”, Naz merengek minta pertolongan.
“Arfin,, apa kurang jelas perkataan Mami tadi?”, Bu Hinda mengingatkan.
Arfin mendengus kesal, “Tapi Mi,, masa iya nanti anak kami manggil Al Pagu dan manggil dia Magu”.
“Apa,,,?? Panggilan macam apa itu”, Bu Hinda merasa aneh dan heran.
“Tuh kan Mami juga merasa aneh,,, Jadi Pagu itu artinya Papi gue dann Magu itu Mami gue”, Arfin menjelaskan.
“Anaking… ”, jawab Naz singkat.
“Woah,,, Sunda banget ya,, kalau anak kalian dipanggil anaking, kirain Mami, kalian mau dipanggil Mamaking dan Papaking”.
“Tuh kan Mami sehati sama Al,,, “, Arfin merasa mendapat angin segar.
“Gak mau ah Mami,, kepanjangan itu manggilnya,, kalau dipendekin jadi Paking sama Making,, kan gak enak didengernya,,, artinya jdi beda,,, Paking barang, making love,,, mending kalau orang ngira kami ini keluarga The King,,, gimana kalau ada yang ngejek nyangkanya kami ini Keluarga King kong,,, kan aneh Mami”, Naz mulai deh mengatakan hal konyol.
“Yasudah, Al,, kamu ngalah aja sama istrimu, lucu kok nama panggilannya,,,”, Mamie tap mendukung menantunya.
Arfin menghela nafas berat, “Baiklah,,, terserah kamu saja,, asal kamu senang”, akhirnya menyerah dan hanya bisa pasrah sebelum nanti Naz minta pertolongan kedua ibunya, bisa- bisa dia dikeroyok berjama’ah, belum lagi ia harus menghadapi Bunda yang suka ceramah panjang kali lebar.
**
Malamnya seusai makan malam, Arfin dan Naz mengajak trio kwek- kwek untuk berkumpul di ruang tengah. Ia memberitahukan pada ketiga ibunya tentang Naz yang sempat berbohong soal kehamilannya dengan alasan agar Felisha tidak mengganggu keutuhan rumah tangga mereka lagi, dan Arfin pun membenarkan perkataan Felisha, mengakui bahwa ia memang sempat terkena impoten pasca kecelakaan yang dialaminya dulu dan baru sembuh total bulan lalu.
Arfin dan Naz meminta maaf kepada Bunda dan Bu Rahmi karena telah menyembunyikan penyakit Arfin yang membuat keduanya terkejut dan akhirnya merasa lega karena Arfin sudah sembuh. Mereka bertiga sempat terkejut dan marah soal kebohongan kehamilan Naz, apalagi Bunda yang sudah sempat curiga saat melihat gelagat Naz di rumah sakit, ditambah ketakutan dan keterkejutan mereka saat USG. Namun karena Naz sudah benar- benar hamil, mereka pun memaafkan Naz dan Arfin.
**
Keesokan harinya, Naz yang biasanya setiap pagi memasak sarapan, kini sudah mulai dilarang ke dapur oleh suaminya, ia tak boleh melakukan pekerjaan apa-pun dan hanya disuruh makan, minum susu, minum vitamin, tiduran dan bersantai saja.
Hari minggu ini merupakan harinya Naz sang ibu hamil, ia terus dimanjakan oleh suami dan ketiga ibunya, dibuatkan makanan kesukaannya,cemilan,kue dan lain sebagainya. Bu Hinda yang kemarin sempat lemas pun sudah kembali segar bugar.
Naz sebenarnya merasa sangat bahagia dengan hal itu, namun ia merasa risih karena mereka terlalu over protektif padanya, seolah ia diperlakukan lebih seperti orang sakit bukan orang hamil, yang terus dilarang melakukan segala macam kegiatan apa pun, sehingga ia hanya berdiam diri di kamar yang membuatnya menjadi kesal. Akan tetapi, ia nampak menikmatinya, terbukti saat kepalanya sudah nempel di bantal, maka ia akan tertidur pulas, dan yang ia lakukan hanya makan, nontont TV, tidur, makan, tidur, kalau kata orang Sunda mah hardolin.
Setelah shalat ashar trio kwek- kwek bersiap untuk kembali ke Jakarta, ketiganya pun segera berangkat ke bandara diantarkan oleh Arfin. Mereka tidak berpamitan pada Naz karena menurut Bu Rahmi yang sempat masuk kedalam kamar, Naz sedang tertidur lelap, beliau pun hanya mencium keningnya dan kembali keluar kamar karena tak tega jika harus membangunkannya.
Selama di perjalanan ketiganya memberi wejangan pada Arfin agar ia menjaga Naz dan memenuhi semua keinginannya, harus ini, gak boleh ituh, dan lain sebagainya yang membuat telinga Arfin seolah berasap mendengar perkataan ketiga ibunya itu.
Dan sebelum mereka take off pun kembali memberi pesan pada Arfin,
“Jangan menggauli istrimu dulu sampai dua bulan ke depan, ingat sama anak mu,,, “.
Tentunya itu adalah cobaan terberat bagi seorang lelaki yang sudah menikah, dimana setiap malam istrinya akan tidur di sampingnya, sementara ia tak boleh menyentuhnya. Dan lebih tepatnya si Ujang lah yang menjadi korban dalam situasi ini.. othor hanya bisa berpesan, ‘Sabar Ujang, kamu akan tegang pada waktunya,,, ehh salah,, semua akan indah pada waktunya’.
**
Malam nya seusai makan malam, Naz kembali ke kamar sendirian karena Arfin pergi ke dapur menyeduhkan susu khusus untuk ibu hamil.
Arfin masuk ke kamar dengan membawa segelas susu hangat di tangannya, “Hei,,, jangan tidur dulu, nih minum dulu susu nya, sayang”, Arfin melihat istrinya yang sudah selimutan dan siap untuk tidur langsung menyodorkan susu, Naz pun duduk lalu meminumnya sampai habis. Arfin kembali ke dapur untuk menyimpan gelas bekas susu tadi.
__ADS_1
Setelah kembali ke kamar, ia naik ke tempat tidur dan mendekat pada Naz yang duduk bersila sambil mengelus- elus perutnya. Arfin pun ikut mengelus, kemudian ia mencium perut istrinya yang masih rata itu.
Keduanya lalu berbaring dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang sama. Naz berbaring menyamping menghadap ke suaminya. Ia terus memandangi suaminya sambil tersenyum.
“Biasa aja kali,,, apa Aa semengagumkan itu, hem ?”, Arfin yang merasa terus diperhatikan, akhirnya mengubah posisinya menyamping sehingga keduanya saling berhadapan.
“Entahlah,, akhir- akhir ini aku pengen ngeliatin Aa terus,, mungkin bawaan hamil kali ya?”, keduanya terkekeh. Arfin menggeser agar lebih dekat dengan Naz, kini gentian ia yang memandangi wajah cantik istrinya, lalu ia mencium kening istrinya. Saat ia hendak mendaratkan ciuman di bibir ranum istrinya, Naz langsung menghadangnya dengan menahan bibir suaminya menggunakan telapak tangannya.
“IIhhh,,, jangan ahh,, kan kata dokter harus nahan diri dulu”, Naz mengingatkan suaminya.
“Cium doang sayang,, masa gak boleh?? Dari pagi gak dikasih ciuman ihh,, emang gak kasihan apa,,, udah mah si ujang harus puasa, masa bibir ikutan puasa juga, bisa kekeringan dong bibir sexy Aa ini”, Arfin memperlihatkan wajah memelas dan pikarunyaeun.
“Kekeringan terus pecah- pecah gitu?? Kayak kaki yang rorombeeun donk,,, hahaha,,, “, Naz malah mengejek dan menertawakan suaminya.
“Hufh,,, malah diketawain,,, “, kini sang suami pun merajuk.
“Habisnya Aa tuh ya kalau nyium bukan cuman bibir yang beraksi, tapi tangannya suka menggerayang kemana- mana,, suka bikin si imut kembang kempis tahu gak”, Naz menggerutu.
“Enggak kok kalau sekarang mah,,, mau nyium aja dan tangannya bakalan diem,,,, mau ya,,,?”, Arfin tak menyerah.
“Iya,, iya deh,, nyium aja ya, awas kalau tangannya sampai gak diem, aku bakalan gigit”, ancaman pun keluar.
“Gigit tangannya?”, tanya Arfin polos.
“Gigit si ujang”, Kasihan korban lagi.
“Ya ampun sayang,, kamu kok jadi barbar,,, daripada di gigit mending dijadiin lollipop”, Arfin omes nya mulai keluar.
“Lolipop?? Apa hubungannya si ujang sama Lolipop?", Naz nampak bingung.
“Udah ahh jangan dibahas,, nanti malah pengen lagi”, Arfin kemudian kembali mendekat untuk mencium bibir ranum istrinya itu, Naz kembali menahannya dengan telapak tangannya,
"Kenapa lagi sayang?”, Arfin mulai frustasi.
“Jangan lama- lama ya,, bentar aja”, Syarat terus dikeluarkan.
“Iya,,,”, Arfin kembali melanjutkan aksinya sehingga keduanya berciuman selama beberapa saat hingga Naz melepaskan pagutan mereka.
“Udah ahh,,, yuk kita bobo”, Naz menarik tangan suaminya dan menempelkan ke perutnya, Arfin pun paham dan ia mengusap- usap perut istrinya yang sudah mulai memejamkan matanya.
Awalnya ia hanya mengusap perut sang istri, namun lama kelamaan tangannya malah turun ke bawah perut, sontak Naz langsung membuka matanya, “Aa,,,,, ihhh”, Naz protes.
“Hahahaha,,, iya maaf sayang,, tangannya khilaf”, Arfin kembali mengelus perut istrinya hingga keduanya tertidur pulas.
**
Hari demi hari terlewati dan tak terasa sudah empat minggu semenjak Naz dinyatakan hamil. Selama itu, baik Naz atau pun suaminya tidak mengalami gejala ngidam layaknya wanita hamil muda pada umumnya atau pun ingin makanan tertentu. Hanya saja setiap sebelum tidur Naz selalu meminta suaminya untuk mengelus perutnya.
Arfin semakin protektif pada istrinya, ia benar- benar menjaganya dan tidak membiarkan Naz kemana- mana sendirian, jika tidak ditemani olehnya, maka dua ART nya yang akan menemani. Ia tetap melarang Naz melakukan kegiatan yang bisa membuatnya kecapek-an, jika memasak pun ia hanya diperbolehkan duduk sambil menonton saja, dan yang bergerak hanya dua asisten rumah tangga nya. Ia pun sangat memperhatikan asupan makanan untuk istrinya itu.
Kini tiba saatnya mereka memeriksakan kandungan Naz ke dokter. Keduanya begitu antusias karena akan bertemu dengan si anaking, walaupun hanya sekedar di layar USG saja.
Ada yang berbeda pada pemeriksaan kali ini, dokter memperdengarkan suara detak jantung Anaking yang menambah kebahagiaan mereka, dan mengatakan janin di dalam kandungan Naz tumbuh dan berkembang dengan sehat. Walaupun Naz harus merasakan sakit karena disuntik imunisasi lagi, itu tak mengurangi rasa bahagianya, seolah suara detak jantung anaking- nya itu terus terngiang- ngiang di telinga nya bagaikan nada yang indah dan merdu.
“Aa,, kita ke mall dulu yuk,,, aku dapat pemberitahuan kalau lusa ke kampus harus pakai pakaian hitam putih,,, dan beberapa celana jeans ku udah pada gak muat,,”, Naz yang berat badannya sudah mulai naik membutuhkan pakaian baru dengan ukuran baru pula.
“Iya,,, tapi kamu gak boleh jalan lama- lama ya,,, kita sebentar aja ke sana nya,,”, Arfin memberikan syarat dan Naz pun mengangguki nya.
“Satu lagi,, kamu jangan beli celana jeans, mending celana kain saja yang longgar- longgar gitu sama beli dress biar perutnya gak ketekan,,“, Arfin kemudian melajukan mobilnya menuju sebuah mall.
Dan benar saja, saat di mall Arfin benar- benar membatasi gerak sang istri, ia hannya disuruh duduk dan Arfin yang mengambil beberapa pakaian untuk dipilih oleh Naz. Awalnya sih enjoy tapi lama- kelamaan Naz pun kesal.
Sebelum pulang Naz membeli pakaian yang akan dipersembahkan untuk suaminya dan beberapa aksesories yang membuat Arfin merasa heran karena tak biasanya Naz membeli barang seperti itu.
Mereka pun pulang, dan ternyata di rumah sudah ada Dinda, dan kakaknya, Johan yang menyambut.
“Ehh,,, ada kalian di sini,, “, Naz menyapa ketiganya.
“Iya Kak Nanaz,,, gimana debay nya,, sehat?”, tanya Johan.
“Alhamdulillah,, sehat,, bentar ya,, Kakak ganti baju dulu,, gerah soalnya”, Naz kemudian pergi ke kamar bersama suaminya dan mereka kembali beberapa saat kemudian setelah berganti pakaian dengan wajah Arfin yang nampak sangat kesal dan malu, karena keluar kamar dengan menggunakan pakaian yang dibelikan istrinya.
Arfin diajak ke ruang tengah, sontak itu membuat sepupu Naz dan ART di rumah itu pun tak kuat menahan tawa melihat penampilan Arfin yang langsung duduk di sofa.
"Hahaha... Om Arfin jadi Papa Macan,, ", Dinda yang masih tertawa malah ngatain Arfin.
------------ TBC ------------
************************
__ADS_1
Happy Reading....