Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Ruzaq Bibir


__ADS_3

Naz POV


Bugh,,,, Kak Arfin yang tiba- tiba datang langsung menghajar Mas Lutfi ketika sedang ngobrol dengan ku. Betapa terkejutnya aku melihatnya dan aku menghampiri Kak Arfin mempertanyakan alasannya memukul Mas Lutfi padahal aku tahu pasti, itu karena dia merasa cemburu.


Karena dia terlihat sangat marah, aku pun merasa terpancing hingga aku mengatakan apa yang aku rasakan selama satu tahun jauh darinya. Sesungguhnya aku tak tega mengatakannya, karena itu pasti akan menyakiti hatinya, namun entah apa yang mendorongku melakukannya, agar dia mengakui kebohongannya selama ini. Namun, di masih tetap diam seribu bahasa dan membuatku tak sanggup jika harus menyakitinya lagi.


Aku pun tak menyadari kalau Ruby sedang ada di dalam warung makan sedang membayar dan menunggu pesanan kakaknya. Ternyata dia sudah mendengar semua yang aku ungkapkan pada Kak Arfin sambil menangis, tentunya membuat Ruby sangat marah pada Kak Arfin. Aku segera mengajaknya pulang, namun ia kekeh ingin meluapkan kemarahannya pada Kak Arfin, dan aku pun terus memaksa hingga ia akhirnya mau diajak pulang.


Setelah berjalan beberapa langkah dengan diriku yang masih terisak, aku menoleh pada Kak Arfin dengan berharap ia akan mengejar ku, namun ia masih tak bergeming masih berdiri mematung. Aku pun berlalu bersama Ruby. Aku memesan taksi online untuk pulang ke rumah Kak Arfin.


“Naz,,, kenapa lo gak pernah bilang sama gue dan yang lainnya soal masalah lo ini?? Selama ini kita ngira lo putus karena tidak ada kecocokan,,, tapi ternyata karena Kak Arfin hanya ingin mempermainkan lo saja,,, gue emosi banget tahu gak,,, tadi tuh rasanya pengen menghajar Kak Arfin,, coba kalau ada Kiara,, dia pasti udah menghajar Kak Arfin sampai babak belur bahkan sampai ia bersujud dan bersimpuh di kaki lo”, Ruby terus mengeluarkan uneg- uneg kekesalannya saat kami berjalan menuju rumah mertua kakaknya yang tidak jauh dari tempat proyek perusahaan Kak Arfin.


“By,,, yang lo tahu cuman sebagiannya aja,,, dia ninggalin gue justru karena cintanya yang begitu besar sama gue,,, tapi gue minta maaf karena belum bisa jelasin ini semua sama lo dan yang lainnya,,, gue harap kalian bisa memaklumi hal ini”, ucap ku yang sudah berhenti menangis mencoba meredakan kemarahan Ruby, padahal perasaanku sendiri masih sedih dan tidak karuan, lalu kami pun sampai di rumah mertua kakaknya Ruby.


“Mana pesanan kakak?”, kakaknya Ruby langsung menagih.


Ruby menepok jidatnya, “Yassalam,,, ketinggalan Kak,,, tadi ayam bakarnya belum selesai dibakar,, tapi udah dibayar kok,,, tinggal ambil aja, hehe”, Ruby yang saking marahnya tadi sampai lupa membawa pesanan kakaknya dari warung makan tempat kami makan tadi.


“By,,, gue pulang dulu ya,, kayaknya taksi pesanan gue udah dekat nih dilihat dari aplikasinya”, ucapku sambil melihat layar ponselku.


“Ehh,,, ko pulang,,,? gue ikut ya,,, gak mungkin gue ngebiarin lo pergi sendirian dalam kondisi kayak gini ”, ucapnya.


“Gak apa- apa kok By,, gue bisa pulang sendiri, kan tinggal naik mobil doang ntar sampai deh di rumah”, ucapku menolak karena merasa tidak enak.


"Enggak,,, pokoknya gue musti ikut titik,,, tunggu,, gue ganti baju dulu”, Ruby kemudian masuk ke dalam rumah dan setelah beberapa saat ia datang kembali menghampiriku, dan kami pun berpamitan pada orang rumah.


“Eh,, pesanan kakak gimana?”, Makanya Ruby kembali menagih.


“Yaelah Kak,, itu kan deket warungnya,,, ambil sendiri kenapa,, udah dibayarin juga,,, assalamu’alaikum”, ucap Ruby, lalu kami beranjak pergi karena taksi online ku sudah di depan. Kami pun berangkat menuju rumah Kak Arfin.


Setelah menempuh perjalanan beberapa saat , tibalah kami di rumah Kak Arfin, kami pun masuk dengan dibukakan pintu oleh Mbak Retno. Aku langsung mencari keberadaan Mami yang menurut Mbak Retno ada di kamarnya. Ku ketuk pintu kamar Mami, dan setelah beliau membukanya,,,


grepp,,, aku langsung memeluk Mami.


“Huhuhuhuhuhu,,, aku sudah menyakitinya Mami,,, aku sudah menyakitinya,,,, huhuhuhuhu,,, kita sudah gagal Mami,,, kita gagal”, aku langsung kembali menangis di pelukan Mami.


“Kamu kenapa,,,?? Menyakiti siapa?? Arfin?”, Mami bertanya seolah merasa bingung, aku pun mengangguk. “Menyakiti bagaimana maksud kamu?”, Mami kembali bertanya, kemudian aku pun menceritakan apa yan terjadi di warung dekat proyek pembangunan perusahannya Kak Arfin. Mami terus menenangkan ku dan membesarkan hatiku bahwa yang ku lakukan sudah benar, supaya Kak Arfin menyadari dan mengakui kebohongannya.


“Kamu sudah melakukan hal benar untuk menyadarkannya,,, rencana kita tidak gagal,,, dia pasti akan mengakuinya sendiri pada mu,, Mami yakin”.


“Tapi,, tadi jangankan mengejar ku,,, mencegah aku pergi pun tidak dilakukannya,,, hiks hiks,,, dia sudah benar- benar gak peduli sama aku Mami,,, huhuhuhuhu”, ucapku lagi sambil terus menangis.


Mami terdengar menghela nafas sejenak, “Sudah,, sudah sayang,,, tenangkan dirimu ,, semua pasti akan baik- baik saja,,, “, ucap Mami yang terus menenangkan ku. Setelah beberapa saat, tangis ku pun mereda, lalu kami beranjak keluar dari kamar Mami menuju ruang tengah dimana tempat Ruby menunggu. Ruby pun menyalami Mami dan memperkenalkan diri, karena walaupun mereka sudah pernah bertemu, namun belum sempat berkenalan.


Karena jam sudah menunjukkan pukul empat sore, kami pun menunaikan shalat ashar, setelah itu aku mandi dan berganti pakaian. Ruby meminta ingin mengelilingi rumah ini, aku pun mengiya kannya. Kami pun beranjak keluar dari kamar ku untuk mengajak Ruby berkeliling.


“Arfiinnn,,,,!!,”, terdengar suara teriakan Mami dari dalam kamar, kami pun langsung bergegas ke kamar Mami tanpa mengetuk pintu. Betapa terkejutnya kami melihat Mami sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai dengan memegang ponsel di tangannya. Kami pun sangat panik lalu memanggil kedua ART, kemudian kami berempat menggotong Mami dan membaringkannya di tempat tidur.


“Mbak Jum,, tolong panggilkan dokter,,, Mbak Retno tolong ambilkan air minum dan minyak angin”, ucapku memberi perintah pada kedua ART itu. Kemudian aku menghubungi Bunda dan memberitahukan bahwa Mami pingsan.


Baru saja selesai menutup sambungan telpon, tiba- tiba ponsel Mami yang masih tergeletak di lantai berdering, aku pun mengambil ponsel tersebut, dan di layar ponselnya tertera nama Lutfi, pikiran ku langsung tertuju pada Kak Arfin,, mungkin ia ingin memberitahukan keadaan Kak Afin karena sampai sekarang belum pulang ke rumah.


“Hallo ,,, asssalamu’alaikum, Bu Hinda,,, Apa Bu Hinda baik- baik saja,,?”, tanyanya terdengar panik .


“Wa’alaikumsalam,,, ini Naz ,Mas,,, ada apa ya?”, ucapku lalu bertanya.


“Ini Naz,,, tadi saya mengabari Bu Hinda kalau Arfin mengalami kecelakaan”.


“Apa???”, aku sangat terkejut mendengarnya, jantungku seakan berhenti berdetak, bibirku bergetar, dadaku serasa sesak, rasanya ingin menjerit tapi bibir ini serasa kelu dan membisu, aku benar- benar shock,, yang dipikiran ku adalah dia mengalami kecelakaan dan terluka parah seperti yang pernah dialaminya dulu,, dan tubuhku serasa lemas hingga kedua kaki ku pun tak mampu menopangnya,,,


brukkk,,, aku menjatuhkan diriku hingga duduk di lantai dengan berbagai pikiran buruk yang terus berkecamuk mengenai keadaan dia,,, seolah perkataan Mami dulu terngiang ditelinga ku


‘Arfin menabrakkan dirinya pada mobil Nervan,,, dia terluka parah,,, jantungnya berhenti berdetak ,, dokter menyatakan Arfin sudah meninggal’,,, kedua telapak tanganku menutup telingaku.


“aaaaaaaaaaakkkk,,,,,Tidaakkkk,,, huaaaaaaaaaaa,,,, huaaaaaaaa,,,,”, aku menjerit sejadi jadinya lalu menangis histeris, perkataan itu terus terngiang di telingaku dan bayangan Kak Arfin terus muncul di kepalaku.


“Naz,,, Naz ,,, kamu kenapa”, Ruby memelukku dan terus bertanya,,, aku tak bergeming dan terus menangis hiteris,,, hingga Bunda datang lalu ia pun memelukku dan bertanya hal yang sama, namun aku terus menjerit- jerit hingga aku tak sadarkan diri.


Saat aku tersadar sudah ada dokter duduk di kursi sebelah tempat tidurku, aku membuka mataku perlahan dan mengedarkan pandanganku.


“Sayang,,, kamu sudah sadar, Nak”, terdengar suara Bunda yang duduk di ranjang tepat di sebelahku.


Tubuhku masih terasa lemas, lalu aku bangun dan duduk, saat kesadaran ku kembali sepenuhnya, “Kak Arfin,,,,,, hiks hiks,,, Bunda Kak Afin Bunda,,,,”, Ucapku yang kembali menangis.


“Iya Dek,, Bunda sudah tahu,,, tadi Ruby mendapat kabar dari sepupu kakak iparnya, dan Aji juga mengabari Bunda,, dia sedang menjaga Arfin di rumah sakit dan katanya ......”, Bunda belum selesai bicara aku langsung memotongnya.


“Rumah sakit..?? Bunda aku mau ke rumah sakit,, aku mau lihat dia,, aku mau lihat dia”, ucapku langsung bangkit dan turun dari tempat tidur dan hendak beranjak keluar dari kamarku, namun Bunda mencegahku, tapi aku tetap bersih keras, aku tidak memperdulikan apa pun karena yang aku inginkan segera menemui dia dan melihat keadaannya.


Setelah terjadi drama, akhirnya aku diizinkan pergi ditemani oleh Ruby, karena Bunda harus menjaga Mami yang masih terbaring lemas karena shock sehingga tekanan darahnya naik, dan dokter pun masih stay di rumah. Kami pergi dengan manaiki taksi online menuju rumah sakit yang sudah diberitahukan alamatnya oleh Mas Lutfi pada Ruby.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan aku terus menangis, aku benar- benar takut terjadi sesuatu padanya, aku benar- benar takut jika harus kehilangan ia selamanya, aku benar- benar tidak bisa berpikir jernih.


Setibanya di rumah sakit, aku langsung berlari karena ingin segera menemuinya, aku berdiri di depan pintu lift namun lift nya baru saja naik, dan aku pun akhirnya pergi menaiki tangga dengan berjalan cepat untuk sampai ke lantai empat. Ruby pun terus mengejar ku dengan terengah- engah, hingga kami pun sampai di depan pintu kamar tempat dia dirawat.


Ceklek ... Kubuka pintunya dan masuk ke dalam ruangan itu dengan melangkah perlahan disertai linangan air mataku yang tak kunjung berhenti dan nafas yang terengah- engah. Ku lihat dia yang tengah duduk di ranjang dan tak nampak terluka parah, hatiku pun merasa lega melihatnya, melihat pria yang sangat ku cintai ternyata dalam keadaan baik- baik saja , tidak seperti dalam bayanganku yang terluka parah. Aku tak melepaskan pandanganku yang terus tertuju padanya, langkahku semakin mendekatinya, ku duduk di atas ranjang tepat disebelah kanan dirinya sehingga aku duduk berhadapan dengannya,,,


Grepp ,,,, aku langsung memeluknya, "Huaaaaa,,,,,, huaaaaa,,,,, Aku minta maaf... hiks hiks...aku minta maaf .... hiks hiks... jangan seperti ini lagi.... jangan melukai dirimu lagi.... hiks hiks... jangan membuatku takut seperti ini.. aku sangat takut kehilangan mu....huhuhuhuhu", ucapku sambil menangis.


"Naz.... ", lirihnya.


"Naz... lepaskan aku,,, jangan seperti ini,,, malu dilihat sama Om Aji dan Ruby".ucapnya pelan berusaha melepaskan pelukanku, namun aku tak bergeming, aku tidak peduli dengan sekelilingku,,, karena aku ingin terus memeluknya dan tak ingin melepaskannya lagi, sampai aku tak menyadari kepergian Ruby dan Om Aji dari ruangan ini.


"Aku gak peduli ,,, aku gak akan lepasin kamu...hiks hiks...aku gak akan membiarkanmu jauh dari ku lagi,,, hiks hiks... aku akan terus bersama mu,, Aa... hiks hiks", ucapku menolak melepaskan pelukannya. Ia pun terdiam mematung, seolah mengizinkan ku untuk tak melapaskannya lagi.


" Naz,,, lepaskan aku... seperti yang kau bilang kita sudah tidak ada hubungan apa- apa lagi ,, dan kau juga sudah tahu aku sudah tidak ada perasaan apa- apa pada mu,, aku juga sudah......",


Namun saat ku dengar ia bicara dan tahu arah pembicaraanya kemana, aku langsung melepaskan pelukanku dan memotong perkataannya, "Bohong.... semua itu bohong... hiks hiks...", ucapku, dan kuraba pipi orang yang sedang menunduk itu lalu aku mengangkat dagunya agar wajahnya terangkat pula sehingga mata kami bisa saling bertatapan,


"Lihat mataku ... lihat mataku lalu kau ulangi lagi kalimatku tadi,, hiks hiks", ucapku sambil menatap matanya, namun ia hanya diam membisu,


"Kenapa diam...? katakan kau tidak mencintaiku lagi ... katakan,,, hiks hiks... ayo katakan !! ", ucapku lagi tanpa melepas tatapan ku dan ia malah meneteskan air mata.


Ia terlihat menghela nafas sejenak, lalu bibirnya yang bergetar seolah dipaksakannya untuk berucap, " Aku sangat mencintai mu,,,, aku masih sangat mencintai mu,, Naz,,, aku melakukan ini karena aku terlalu mencintaimu ,,, tapi aku tidak ingin membuat mu menderita suatu hari nanti", ucapnya dengan terus meneteskan air mata.


Aku pun tersenyum disela isakan tangisku, kemudian aku kembali memeluknya , " Aku juga sangat mencintaimu.. hiks hiks ... aku akan selalu bersama mu,..hiks hiks.... aku sudah tahu semuanya... aku sudah tahu semuanya,, hiks hiks ", ucapku.


Ia menyentuh lenganku dan mendorongku agar melepaskan pelukanku, " Apa maksud mu, Naz ?? Tahu semuanya tentang apa??", ia mempertanyakan pernyataanku dengan raut wajah shock.


Aku menundukkan kepala sejenak, lalu ku tegakan kembali, kedua tanganku menyentuh lembut pipi nya dan ku usap untuk menghapus air mata yang membasahi nya, ku tatap kedua bola matanya,


" Aku sudah tahu semuanya tentang mu,,, aku sudah tahu alasan mu meninggalkanku,,, aku sudah tahu semuanya,,, apapun yang terjadi aku akan selalu bersama mu,, aku janji ... hiks hiks,", Ucapku dengan hati yang tulus tanpa keraguan apa pun.


Dia terlihat masih shock dan hanya diam mematung, walau mata kami saling bertatapan, namun terlihat tatapan kosong yang ada pada matanya, aku pun kembali memeluknya. Dan selama beberapa saat kami hanya berpelukan dan diam tanpa kata, tak ada suara selain isakan tangisku dan suara sesenggukanku.


Setelah merasa tenang, aku pun melepaskan pelukanku dan dia terus menundukkan kepalanya, “Aku lelaki yang tidak berguna,, aku bukan lelaki yang sempurna, aku tidak bisa membahagiakanmu, aku tidak pantas untukmu, aku tidak pantas untuk siapa pun”, ucapnya terisak.


Aku kembali memegang kedua pipinya dan mengangkat wajahnya, “Dengar,,, seperti apa pun dirimu, bagaimana pun dirimu, tidak akan merubah perasaanku padamu,, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini,,, dan lagi itu baru vonis dokter kan,, dokter itu bukan Tuhan dan perkataan dokter bukanlah takdir yang tidak bisa diubah,,, yakinlah,, kamu pasti bisa sembuh,, aku akan terus disampingmu dan terus bersama mu untuk mendukung mu melewati ini semua,,,”, ucapku lalu memberinya senyuman, dia pun langsung memelukku dan menumpahkan air matanya seakan meluapkan kesedihan yang selama ini ia pendam seorang diri.


“Menangislah sepuasmu,,,, jika setelah itu akan membuatmu tenang dan merasa lega,,,”. Aku terus mengusap- usap punggungnya. Baru kali ini aku melihatnya begitu sedih dan melihatnya seperti ini begitu menyayat hatiku.


Betapa tidak peka nya aku selama ini, tidak bisa memahami dia yang begitu memahamiku, tidak bisa merasakan kesedihannya padahal dia selalu merasakan kesedihanku, tidak pernah ada di saat dia membutuhkan rangkulanku, sedangkan dia selalu ada untukku disaat aku sedih dan membutuhkannya. “Maafkan aku,,, maafkan aku,,,, “, kini kata itulah yang ingin terus aku lontarkan padanya.


Kedua tangannya memegang tanganku, “Terimakasih,, terimakasih,,, “, ucapnya lalu menciumi kedua punggung tanganku, lalu ia menatapku dengan senyum bahagia terpancar dari wajahnya, aku pun membalas senyumannya. Namun saat kulihat selang infusannya rasa bahagia berubah menjadi panik.


“Kak,,, selangnya,,, berdarah,,, darahmu “, ucapku terbata- bata karena panik, lalu aku bangun dan hendak beranjak, namun tangannya menarik tanganku sehingga aku kembali duduk.


”Mau kemana?”, tanyanya.


“Manggil suster,,, itu nanti darahnya semakin banyak mengalir di selang infusan,, kayak donor darah nsnti...ihhh”, ucapku lalu bergidik ngeri.


“Gak usah,,, tekan saja tombol di dinding sana”, ucapnya menunjuk pada tombol yang ada di dinding belakang tempat tidurnya, dia pun menekan tombol itu dengan tangan kirinya.


Setelah beberapa saat seorang perawat pun datang, dan aku menunjukan selang infusan yang terisi aliran darah Kak Arfin, perawat itu keluar lagi untuk mengambil alat medisnya, dan tak lama ia pun kembali untuk menggantikan selang infusannya, sedangkan aku pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahku yang sudah semrawut berantakan gak jelas karena kebanyakan nangis bombay.


Saat aku keluar perawat itu pun selesai menggantikan selang infusannya dan ia mengingatkan Kak Arfin supaya tangan kanannya yang diinfus tidak digerak- gerakan dulu, takutnya darahnya malah naik lagi ke selang infusan.


Perawat itu pun pamit pergi, “Sini,,, duduknya sebelah sini biar nyaman”, ucapnya memintaku duduk di ranjang sebelah kirinya dia, sehingga tidak akan mengganggu infusannya lagi, aku pun menurutinya. Baru saja duduk di langsung memelukku lagi, sebenarnya aku sih senang aja tapi kan malu.


“Kenapa kamu terus memelukku?”, tanyaku dengan polosnya.


“Biarkan seperti ini,,, aku sangat merindukan mu,,,”, jawabnya sambil mengusap- usap kepalaku.


“Tapi kan selama beberapa hari ini kita selalu bertemu, bahkan tinggal serumah,, masa masih merindukanku”, ucapku lagi.


“Hehehe,, kita memang dekat tapi terasa jauh,,, kita tinggal serumah tapi tak pernah seperti ini, memelukmu dengan penuh rasa cinta, melepas kerinduan yang begitu besar”, ucapnya terkekeh.


“Dihh,, gombal,,, “, cicitku.


“Memangnya kamu tidak merindukanku,,, hemmm,,,?? Tidak merindukan gombalanku juga?”, dia pun mempertanyakan perasaanku.


“Enggak,,,, “, jawabku ngasal.


“Oh ya?”,tanyanya sedikit kesal.


“He em,,, aku gak merindukan mu,,, tapi sangat sangat sangat merindukan mu,, hehhee”, aku pun menjawab dengan terkekeh.


“Geleh ih gombal”, ucapnya mencuri bahasaku.


“Hahaha,,, bukan geleh tapi geuleuh,,, hahaha”, aku membenarkan ucapannya sambil tertawa manja.

__ADS_1


“Naz,,,,”.lirihnya.


“Hemm,,,,??”, sahut ku.


“Apa ini artinya kita jadian lagi??”, tanyanya.


“Hahahahahaha,,,,,”, aku pun hanya tertawa.


Dia melepaskan pelukannya, “Kenapa kamu malah tertawa?”, tanyanya dengan tatapan kesal.


“Habisnya kamu men- copypaste kalimat aku ihh,,,hehehe”, jawabku dengan terkekeh lalu tersenyum manis padanya.


“Baiklah,,,, “, ucapnya menghela nafas, lalu kedua tangannya menggenggam kedua telapak tanganku dengan lembut dan matanya terus menatap mataku , “Nona Rheanawa, Nona Eleanoor, Cahayaku yang sangat aku sayangi dan aku cintai lebih dari apa pun bahkan melebihi nyawaku sendiri, maukah kau menerima ku menjadi kekasihmu lagi?”,


Aku terdiam sejenak karena benar- benar merasa terkejut dan tidak menyangka dia akan mengatakan hal ini, dia memintaku untuk menjadi kekasihnya lagi, rasa bahagia dan rasa haru membuncah di dalam dadaku, matanya terus menatapku seolah menunggu jawaban dariku. Entah mengapa bibir ini mendadak membisu dan sulit untuk berucap, sebelum dia menarik kata- katanya lagi karena kesempatan tidak datang lima kali, aku pun mengangguk beberapa kali disertai senyuman bahagia dengan mata yang berkaca- kaca sebagai tanda bahwa aku bersedia aku mau.


Ia pun tersenyum bahagia dan menciumi kedua punggung tanganku berkali- kali, lalu memelukku lagi, “Terimakasih,,, terimaksih sayangku,,, cintaku,,, cahaya hidupku,,, aku janji aku akan berjuang untukmu,,, demi kamu,, demi untuk membahagiakanmu kelak”, ucapannya membuatku kembali menangis, namun kali ini tangis bahagia lah yang aku rasakan. Ia melepsakan pelukannya dan untuk pertama kalinya ia mengecup keningku. Lalu tanpa sengaja aku melihat selang infusannya, darahnya sudah naik lagi, yassalam,,,,


Kami pun memangil perawat lagi, dan kali ini dia mendapatkan peringatan keras agar tidak menggerak- gerakan lagi tangannya yang di infus setelah darah di selangnya dibersihkan, karena kali ini darah yang naik baru sedikit tidak sepanjang tadi.


Dia masih saja tidak mau melepaskan ku yang duduk di sebelah kirinya sambil dipeluk menyamping sehingga kami sama- sama menghadap ke depan dengan kaki ku yang dinaikan ke atas ranjang, “Sayang,,,, dari mana kamu tahu tentang semua itu? Apa dari Mami atau Bang Evan?”, akhirnya pertanyaan yang ku takutkan itu pun dilontarkan olehnya.


“Emmm,,, aku akan menceritakan semuanya,,, tapi janji,,, kamu jangan marah ya”, ucapku membuat perjanjian, karena aku yakin jika tidak seperti itu, ia pasti akan murka.


“Kamu kamu aja,, Aa,,, sekarang harus panggil Aa lagi… ”, ucapnya menggerutu.


“Iya Maaf,,, aku lupa,,, Aa janji dulu gak akan marah,, baru aku akan cerita semuanya dari awal”, ucapku lagi.


“Apa kau punya rahasia besar yang akan membuat ku marah hah?”, tanya nya curiga.


“Dih,,, janji dulu,,, baru akan cerita”, aku tetap kekeh.


Dia mendengus kesal, sepertinya menyadari bahwa ia tak akan mampu melawan kelicikan ku, “Baiklah,,, aku janji tak akan marah,,”, akhirnya dia menyerah.


“Yess,,,”, ucapku sambil mengangkat kepalan tanganku.


“Dasar licik,,,”, cicitnya.


“Eits,,, cerdik bukan licik ya Aa sayang,,,,”, ucap ku meralat.


“Hemmmm,,, seterah salajah”.


“Dih,,, ngomongnya belepotan gitu,, sini aku lap pakai tisu”, ucapku bergurau.


“Gak mau,,, mau di lap pakai bibir aja”, jawabnya tersenyum.


“Cihhh,,, dasar mesum,,,”, aku mencebikan bibirku sambil berdecih sebal dan mencubit tangannya yang melingkar di pinggang ku.


“Aduhh sayang,,, sakitt,,, baru resmi rujuk udah KDRT ih”,ucapnya mengasuh.


“Hahahaha,, baru dengar aku,, kalo udah putus terus jadian lagi disebut rujuk,,, kirain itu nama makanan macam rujuk buah, rujuk bebeuk, rujuk cingur, rujuk ulek, rujuk cuka”, aku malah semakin meladeni candaannya.


“Itu rujak,,, “, ucapnya ketus, “ada rujak yang paling dahsyat dan gak ada duanya”, ucapnya yang terlihat meyakinkan.


“Rujak apa itu ?”, tanyaku penasaran sambil mengangkat wajahku melihat ke wajahnya.


“Ruzaq Bibir,,, hahahhaa”, ucapnya dengan meng-qolqolah_kan kata rujaknya lalu memonyonkan bibirnya.


“Iiiihh,, dasar otak mesum”, ucapku sambil menabok bibirnya.


"Aduhhh..... sakit sayang....", ucapnya mengusap usap bibirnya.


"Katanya ruzaq bibir,,, anggap saja itu baru diulek...hahaha", ucap ku tetawa bahagia.


-------------- TBC ----------------


****************************


Cie.... jadian lagi sambil ngerujak.... cengekna atuh Aa... biar makin hot jeletot 😂


Habis ceurik terbitlah seuri ( habis nangis terbitlah tawa)


silahkan tertawa setelah kemarin ter-mewek🤭😂


Naz POV sepertinya akan menghiasi beberapa episode ke depan.... kali kali ya si tengil menyeru kan suara hati nya.....


Happy Reading😍


Jangan luva tinggalkan jejak mu,,, like komen rate bintang 5, vote hadiah seikhlasnya ....😉

__ADS_1


terimakasih ..... aylapyu oll...😘


__ADS_2