Cahaya Sang ANAS

Cahaya Sang ANAS
Surprise Untuk Bumil


__ADS_3

Arfin merasa bersalah pada istrinya yang sedang merajuk, walau sudah dibujuk rayu tetap tak bergeming. Akhirnya ia pun meminta maaf untuk meluluhkan hati sang bumil yang moodnya suka mendadak berubah- ubah itu.


“Aa minta maaf sayang,, bukannya menyepelekan atau tidak peduli akan pemberian nama untuk anak kita,, tapi memang kemarin- kemarin kan kita nya pada sibuk,,.. Emmm,,, gimana kalau nanti Aa cari nama yang bagus dari Mbah Gugel, kamu juga sekalian cari ya sayang,, terus nama beserta arti hasil dari pencariannya kita ditulis di kertas,,, nanti kita gabung- gabungin,, gimana kamu setuju gak?”,Arfin memberikan ide.


Naz akhirnya bangun dan kembali duduk dengan susah payah, nampaknya ia setuju dengan ide yang diberikan suaminya, “Oke,,, “.


Arfin kemudian tengkurap di atas tempat tidur dengan posisi menghadapkan kepalanya pada perut buncit istrinya,


“Anaking sayang,,, kamu lagi apa,,?”, tanyanya sambil menempelkan telinga ke perut Naz, “Waduhh,, Pagu di tendang sama kamu,,ya “.


Naz yang tadinya merasa kesal kini terus mengulas senyum melihat suaminya yang tengah mengajak bicara bayi dalam kandungannya, karena itu sudah menjadi kebiasaannya ataupun suaminya, setiap hari selalu mengajak bicara si jabang bayi sesuai anjuran dokter. Itu menjadi kebahagian tersendiri bagi mereka, apalagi saat si anaking merespon dengan gerakannya, semakin menambah kebahagiaan mereka dan tentunya itu membuat mereka semakin tidak sabar menantikan kelahiran anaking.


“Sayang,,, kayaknya anaking ngajakin main bola deh?”, ternyta tadi bukan hanya sekedar untuk membujuk istrinya, tapi Arfin memang menginginkannya.


“Maksudnya?”, Naz merasa heran.


“Iya main bola sama si ujang”, Arfin memperjelas maksud dan tujuannya.


“Ih dasar modus… kan tadi siang udah ihh,, orang aku lagi masak malah ditarik ke kamar,,“, cerocos Naz memprotes kelakuan suaminya yang makin kesini malah makin doyan.


“Itu baru pemanasan yank,,, Kan kalau udah hamil besar, harus sering- sering biar jalan lahirnya mulus”, Arfin terus saja mencari alasan.


“Iya ,, tapi kalau udah sembilan bulan dan mendekati HPL,, ini kan baru delapan bulan”, Naz tak mudah dikibuli.


Arfin mendengus pasrah, kemudian ia kembali berbicara pada anaking-nya sambil menempelkan telinga pada perut Naz, “ Anaking sayang,, kamu mau gak ditengokin Pagu?”, tanyanya yang kemudian ia kembali mendapat tendangan,


“Tuh yank,, anaking aja pengen ditengokon sama Aa,, emangnya kamu gak mau membuat anaking senang”, Arfin terus menggunakan segala cara demi mendapatkan jatahnya.


“Yank,,, dosa loh kalau nolak suami”, akhirnya senjata terjitu dikeluarkan.


Kini Naz yang mendengus kesal, karena selalu saja si dosa yang menjadi senjata suaminya, akhirnya ia pun bersedia melayani keinginan sang suami untuk memenuhi hasratnya.


**


Sebulan telah berlalu, kini usia kandungan Naz hampir mencapai 38 minggu. HPL sudah semakin dekat, rasa dag dig dug jerr pun mulai dirasakannya, karena akan segera bertemu dengan anaking-nya yang selama ini selalu digembol di dalam perutnya selama sembilan bulan.


Tiap malam tidurnya sering terganggu, karena merasa tidak nyaman, terlentang terasa engap, miring kiri kadang pegal, miring kanan lama- lama gak enak juga, apalagi kalau tengkurap, tentu itu sangat dilarang. Ditambah akhir- akhir ini Arfin yang selalu nampak sibuk dengan ponselnya dan beberapa kali ia perhatikan, suaminya itu nampak senyam- senyum gak jelas saat sedang berkirim pesan entah dengan siapa.


Jika Naz tak kunjung bisa tidur, maka sang suami akan selalu terjaga untuk menemaninya, dan itu pun sambil asyik memainkan ponselnya. Walaupun resikonya, keesokan harinya saat di kantor ia akan minta waktu agar tidak diganggu, yang ternyata ia tidur sebentar saat jam kerja. Namun ia tak pernah marah atau mengeluh, karena yang dirasakan istrinya justru lebih berat, bahkan setiap hari ia selalu memijat kaki istrinya yang sering merasa pegal dan mulai agak bengkak.


Keduanya kini sedang sarapan bersama, setelah pulang jalan santai berkeliling sekitaran komplek seperti biasanya.


Seusai sarapan Arfin pergi ke kamar untuk mandi, sedangkan Naz membereskan bekas makan mereka, kemudian ia pun ke kamarnya untuk mengambil cucian kotor dan memberikannya pada Mbak Retno untuk di cuci.


Naz mengambil pakaian yang ada di gantungan dan keranjang cucian di kamarnya. Ia memeriksa satu- persatu pakaian kotor tersebut, siapa tahu masih ada barang di saku celana atau pun baju, apalagi jika ada uangnya, beuh itu kalau nemu uang di cucian kan serasa dapat rejeki nomplok.


Betapa terkejutnya Naz saat memeriksa kemeja kerja suaminya, ia melihat ada bekas noda lipstik berwarna merah merona,, dan ia yakin itu bukan lipstik dari bibirnya, karena ia tidak memiliki warna merah seperti itu, ia lebih suka lipstik nude atau yang kalem.


Naz membekap mulutnya, merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Hatinya terasa sakit, pikiran negatifnya mengira suaminya ada main dengan wanita lain.


“Lipstik siapa ini?? Kenapa ada di dekat kerahnya? Apa dia ada main dengan perempuan lain?”, gumamnya dalam hati, Naz berjalan mundur hingga kakinya mentok di depan ranjang, ia mendudukkan dirinya di atas ranjang dengan raut wajah terkejut dan tidak percaya, jika suaminya akan setega itu mengkhianatinya yang dalam keadaan hamil besar.

__ADS_1


“Apa karena sekarang aku gendut dan jelek, dia jadi melirik wanita lain? Pantas saja akhir- akhir ini dia selalu terlihat ceria saat berkirim pesan dengan seseorang”, Naz kembali bergumam dalam hati dengan perasaan sakit yang menusuk ke ulu hatinya, hingga tak terasa air mata pun jatuh membasahi pipinya.


“Kenapa kamu tega A,,, aku ini sedang mengandung anak mu,, tapi kamu malah melakukan ini pada ku,,, hiks hiks hiks,,,”, ucapnya sambil terisak.


“Enggak,, gak mungkin,,, dia gak mungkin selingkuh,,, mungkin saja ada wanita ganjen yang berusaha mendekatinya,,,”, Naz pun mencoba berpikir positif.


“Aku gak boleh lemah,, aku harus menyelidikinya,, tapi,,, kalau aku bertanya padanya dia pasti gak akan ngaku”, Naz kembali bicara dalam hatinya kemudian menghapus air matanya.


Naz mengedarkan pandangannya mencari ponsel milik suaminya, yang ternyata sedang di charger. Ia pun beranjak menuju meja kerjanya tempat ponsel itu di charger. Naz menekan tombol di samping ponsel tersebut untuk menyalakan layarnya, dan ia kembali terkejut ternyata kunci layarnya memakai kode.


Ia mencoba memasukan tanggal lahir suaminya, tidak bisa.. tanggal lahirnya pun tidak bisa,, jika sekali lagi salah bisa bahaya, dan nanti ketahuan kalau dia membuka- buka ponsel suaminya. Akhirnya Naz yang merasa kesal dan penasaran menahan dirinya dan menyimpan ponsel itu kembali. Naz membawa semua pakaian kotor ke belakang untuk dicuci oleh Mbak Retno.


“Mbak,, Mbak Jumin kemana?”, Naz tak melihat keberadaan ART yang satunya lagi.


“Biasa ,,lagi membersihkan rumah Nyonya”, Mbak Retno yang menerima pakaian kotor dari Naz ,langsung memberitakan.


“Oh iya,,, “, Naz kemudian kembali ke kamarnya, ia berjalan sambil berpikir bagaimana ia mencari tahu tentang wanita yang memberikan noda lipstik di kemeja suaminya.


Ceklek ,,,


Naz kembali masuk ke dalam kamarnya, ternyata di sana sang suami sedang bersiap dan sudah memakai pakaian rapi.


“Aa mau kemana? Kok udah rapi gitu? Padahal kan ini hari minggu”, Naz semakin merasa curiga pada suaminya.


“Mau ke pesta ulang tahun teman Aa,,”, jawabnya sambil merapikan rambut yang sudah diberi minyak rambut tersebut.


“Apa?? Ke pesta? Jangan- jangan dia mau ketemu wanita itu? iiihhh nyebelin baget sihh", Naz menggerutu dalam hati .


“Kamu istirahat saja di rumah, kan gak boleh kecapek-an”, ucapnya lalu memasangkan jam tangan di pergelangan tangan kirinya.


“Aa kenapa sih gak mau ngajak aku? apa karena sekarang aku gendut dan jelek ,, jadinya Aa malu untuk mengajakku ke pesta teman Aa,,, hiks hiks”. Naz yang pikirannya sudah kemana- mana, akhirnya menumpahkan air matanya.


Arfin kemudian menghampiri Naz, “ Eh.. kok malah nangis..?? Bukan gitu sayang,, Aa cuman gak mau kalau kamu nanti kecapek-an”. Arfin berusaha memberi pemahaman pada istrinya.


“Tapi aku pengen ikut…”, rengek nya.


Arfin terdiam sejenak, nampak tengah memikirkan sesuatu, ia menghela nafas berat,


“ Yasudah, kalau kamu mau ikut, tapi jangan nangis kayak gini ya,, kasihan anaking nanti ikutan sedih loh”, Arfin menenangkan istrinya.


“Kalau gitu,, kamu sekarang mandi dan ganti pakaian,, masa ke pesta mau pakai daster, kan gak lucu sayang”, Arfin terkekeh melihat ekspresi wajah istrinya, ia pun menuruti perkataan suaminya dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Tak lama Naz keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk kimono, ia melihat ada dress warna putih sudah di siapkan di atas tempat tidur.


“Kamu pakai itu ya sayang,, Aa sudah ambilkan dari lemari”,


Naz yang merasa bingung, kemudian manut saja dan memakai dress itu. Ia pun merias dirinya karena tak mau jika suaminya di pesta nanti melirik wanita lain, walaupun riasannya hanya alakadarnya dan bukan dandanan yang medok.


Setelah Arfin menunggu cukup lama, akhirnya Naz selesai berdandan. Ia pun mengajak istrinya segera berangkat, padahal baru jam setengah sembilan pagi.


Kini keduanya tengah berada di dalam mobil, Arfin pun segera melajukan mobilnya.

__ADS_1


“Aa,, ini dress siapa? Kok aku kayaknya baru lihat”, Tanya Naz yang sejak tadi merasa bingung.


“Ya dress kamu lah sayang,, orang Aa nemuin nya di dalam lemari pakaian mu,,, kok malah nanya gitu sih,,, kamu suka lucu deh”, Arfin terkekeh mendengar pertanyaan konyol istrinya yang tak mengenali barangnya sendiri.


“Kapan aku belinya?”, Naz kembali melontarkan pertanyaan.


Afin mengedikkan bahunya, menandakan ia tak tahu kapan istrinya membeli dress tersebut, “Mungkin kamu lupa sayang,,, atau mungkin kamu beli dress nya waktu beli perlengkapan bayi sama trio emak-emak”, Arfin menebak- nebak.


“Enggak deh kayaknya,,, apa Mama, Mami atau Bunda ya yang membelikannya terus dimasukin ke tas belanjaan aku ya?”, Naz pun bingung sendiri.


“Entahlah,, kalau bukan punya kamu kok bisa pas gitu,, terus kan kamu lagi hamil besar,, masa iya itu dress punya Mbak Jumin atau Mbak Retno,, kan gak mungkin,, sayang..", Arfin ikut merasa heran.


“Hmmm,,, gak tau deh,,, iya mungkin aku lupa,,, eh,, Aa,,, kok aku kayak kenal jalan ini”, Naz baru menyadari saat melihat bunderan yang ia kenali.


“Iya,, pasti kamu tahu, sayang,,, ini kan jalan ke rumah persembunyian mu dulu,, hehehe,,, kita ke rumah Mami dulu ya,, tadi kata Mbak Jum ada yang rusak disana jadi lagi ada perbaikan, sama Mami disuruh ngecek,, sekalian aja kan kita lewat”, Arfin ternyata hendak mampir dulu.


Tak lama mobil yang dikendarai Arfin tiba di depan pintu gerbang rumah milik orang tuanya.


“Kamu tunggu di sini aja ya,, sayang,, Aa cuman sebentar kok”, Arfin melepas sabuk pengamannya dan bergegas turun dari mobil. Ia mengambil ponsel dari dalam saku celananya, nampak menghubungi seseorang.


Naz pun menunggunya di dalam mobil, ia memperhatikan gerak- gerik suaminya yang nampak mencurigakan.


“Kenapa dia nelpon orang musti keluar dari mobil segala,, biasanya kalau mau nelpon gak pernah menjauh dariku,,”, Naz kembali bertanya- tanya.


Naz menghela nafas panjang berkali- kali untuk menenangkan dirinya sendiri agar tidak berpikiran buruk pada suaminya.


Naz terus memperhatikan suaminya yang sedang melangkah masuk setelah membuka pintu gerbang yang nampaknya tidak dikunci, dan ia masih anteng dengan ponsel di telinga nya.


Betapa terkejutnya Naz melihat ada seseorang yang keluar dari pintu rumah tersebut dan menyambut suaminya. Dan orang itu bukan Mbak Jumin, walaupun Naz tak melihat jelas wajahnya, namun itu seperti seorang wanita yang masih muda bukan seumuran Mbak Jumin.


Naz membekap mulutnya, dadanya terasa sesak dan tangannya gemetaran,, ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, air matanya mengalir begitu saja. Hatinya semakin sakit saat melihat suaminya masuk ke dalam rumah bersama wanita yang memakai gaun merah tersebut. Air matanya semakin mengalir deras.


“Tega kamu A,,,”, lirihnya.


Selama beberapa saat ia hanya berdiam diri di dalam mobil sembari menumpahkan air matanya. Rasa sakit seolah menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia terus mengusap perut buncitnya, untuk menguatkan dirinya bahwa ia sedang tidak sendirian. Naz kemudian menghapus jejak air matanya, karena suaminya tak kunjung keluar dari rumah itu, pikirannya sudah tidak karuan.


Ia pun turun dari mobil, melangkahkan kakinya berjalan memasuki pintu gerbang, ia terus berjalan dengan langkah berat, namun bukan karena perut buncitnya melainkan karena rasa sakit di hati nya yang bergejolak sehingga membuatnya berpikir yang tidak- tidak.


Naz sampai di depan pintu utama rumah itu, ia mendorong pintu tersebut yang teryata tidak dikunci, ia pun perlahan masuk ke dalam rumah dengan deraian air mata yang terus dihapus dengan jemarinya untuk memergoki apa yang sedang mereka berdua lakukan di dalam sana.


Saat ia berbelok tepat pada tikungan dinding pembatas dari ruang tamu menuju ruang tengah, ia kembali membekap mulutnya dan membuka matanya lebar- lebar karena saking terkejut dengan apa yang dilihatnya.


"Surprise..."


----------------- TBC ------------------


***************************


Happy Reading……


Jangan luva tinggalkan jejak mu,, like, komen, vote, hadiah, rate bintang lima..

__ADS_1


Tilimikicih,,,, aylapyu oll……


__ADS_2